Friday, March 19, 2010

HARMONI

Di atas rak berjejer sejumlah piala, dinding penuh foto-foto gambar dirinya. Dari panggung ke panggung, dari lomba ke lomba, dia adalah juara pada masanya. Namun jalan hidup mengubah nasibnya, dia tidak pernah menjadi bintang. Hanya seorang guru di sekolah musik yang tidak terkenal. Menurutnya adalah sebuah kegagalan, adalah luka yang tak bisa disembuhkan. Asa yang tersisa adalah sang putra, satu-satunya harapannya.

+ + + + +

Setiap sore sang ayah menyuruh putranya duduk di depan piano, disiplin keras melebihi semua muridnya. Setiap putranya melantunkan nada, sang ayah selalu berteriak, “Harmoni….harmoni” kata-kata itu sering berulang-ulang diucapkannya, “Harmoni adalah irama kehidupan. Perpaduan antara cepat dan lambat. Keserasian antara kekerasan dan kelembutan. Rahasia itulah yang dipahami sang maestro bethoven, sehingga dia berjaya meskipun mendengar hanya dengan satu telinga”

Namun sang putra tak pernah bisa memahaminya. Kata-kata itu seperti terpisah jauh dari dunianya. Irama masih mengalun baku di setiap lagu. Sebatas partitur, tanpa improvisasi jiwa. Terkadang terlintas bahwa sang putra lebih meniru almarhum ibunya yang tak memahami musik. Yang lebih suka menikmati dengan mendengar tanpa memainkannya. Namun ketika perasaan gagal hadir menyapa, sang ayah segera membuang pikirannya.

+ + + + +

Di suatu malam sang ayah bermimpi kedatangan istrinya dengan wajah tangis dan air mata. Istrinya hanya berkata, “Jangan belenggu jiwa anakmu hanya karena keinginanmu”

Seketika sang ayah terbangun dan menangis, dia memahami pesan istrinya. Kegagalan di masa lalu membuatnya terlalu keras pada dirinya, yang kemudian dia bebankan pada anaknya. Dia memaksakan harapannya hanya karena kesombongannya pada diri sendiri. Dia lupa akan kebebasan jiwa putranya.

Sore itu sang ayah merubah sikapnya, pertemuan lebih dulu diawali dengan sebuah pertanyaan sederhana, “Nak, apakah kamu sungguh-sungguh ingin duduk di kursi itu?”

“Ya ayah, aku sungguh-sungguh menginginkannya. Aku ingin menjadi seorang bintang”

Tubuh sang ayah bergetar, berusaha mengendalikan diri agar air mata tidak keluar. Jemari sang putra menari jauh lebih baik dari sebelumnya, menakjubkan dan luar biasa. Harmoni menggelar simphoni, menemani harapan sang ayah menari-nari.

+ + + + +

Ketika dewasa sang putra beraksi dari satu panggung ke panggung yang lain. Namun belum ada yang menawarinya masuk dapur rekaman, apalagi untuk bermain di panggung besar. Bintang terang tak kunjung datang, impian kian tak menjadi kenyataan. Kekhawatiran akan takdir yang terulang mulai terbayang.

Ketika akhirnya sang putra memilih menjadi pekerja kantoran demi menyambung hidup, dan menjadikan musik hanya sebagai kegiatan selingan, sang ayah meletakkan harapannya. Anaknya tak memperbaiki pencapaiannya. Usahanya sia-sia.

+ + + + +

Suatu hari sang putra mandapat tawaran menjadi operator sound sistem dalam konser sebuah band yang sedang meniti karir. Sang putra menerimanya sebagai tambahan penghasilan, Tapi sang ayah tak menanggapinya, menurutnya itu dunia kelas dua.

Band itu meroket, melejit seperti komet. Sang putra semakin sering mengikuti konsernya dari kota ke kota. Hingga akhirnya band itu masuk dapur rekaman, dan sang putra tetap terlibat sebagai operatornya. Harapan sang ayah menari lagi, mengingatkan anaknya tentang impian lama yang kembali bersemi.

Namun impian itu kembali sirna ketika sang putra memutuskan menikah dengan gadis pujaannya, dan memilih pekerjaan operator sebagai jalan hidupnya. Sang ayah kembali terluka, jauh lebih hebat dibandingkan luka lama.

Malam harinya sang ayah kembali bermimpi kedatangan istrinya. Namun istrinya hanya tersenyum, tak berkata-apa. Dia tak mengerti maknanya, bahkan hingga hari pernikahan anaknya dia tak memahami arti mimpinya. Tapi dia bahagia, karena sang putra telah melepas masa lajangnya.

Band itu kian terkenal, dan akhirnya menjadi nomer satu seiring waktu. Sang putra menjadi bagian yang tak kalah penting dalam pencapaian kesuksesan mereka. Dia memiliki penghasilan yang lebih dari cukup untuk menghidupi anak istrinya. Kini sang ayah mengerti makna senyuman istrinya.

Lewat renungan malam, berteman sejuta bisikan, akhirnya sang ayah memahami semuanya. Jerih payahnya tak sia-sia, dia bahagia sesungguhnya. Tak ada lagi luka di hatinya.

+ + + + +

Perusahaan rekaman menawarkan ide penggantian operator baru, untuk memperkaya variasi suara. Namun band itu tak bergeming, mereka tetap mempertahankan operator lama. Sang putra pun mencoba untuk bertanya, “Demi mempertahankan kesuksesan, bukankah itu ide yang bagus. Mengapa kalian tak mencobanya?”

“Memperkaya nada adalah tugas kami, bukan orang lain. Kamu memiliki sesuatu yang tak ada pada kami. Kamu pandai menyatukan semua suara menjadi satu harmoni. Untuk yang satu itu kami bergantung padamu”

Kata-kata itu membuat mata sang putra berkaca-kaca, dia teringat dengan semua pembelajaran ayahnya. Belum sempat menjadi tangis, hatinya perih teriris. Sang putra mendapat kabar bahwa ayahnya masuk rumah sakit, dan kini sedang mendapat perawatan dokter di ruang gawat darurat.

+ + + + +

Sang ayah tengah terbaring tiada daya. Matanya masih terbuka namun nafasnya tinggal satu dua. Suasana haru menyentuh kedalaman kalbu, menyampaikan isyarat tentang kian dekatnya batas waktu. Sang putra menggenggam erat tangan ayahnya. Dengan berlinang air mata dia berkata, “Ayah maafkan aku. Aku tak bisa menjadi seperti yang ayah mau”

“Anakku, aku bangga padamu. Yang kamu raih melebihi pencapaianku. Panggung besar hanya melahirkan kesombongan, sanjung puja hanya akan membuat kita terlupa. Kamu adalah bintang dibalik layar. Lihatlah dirimu yang jauh lebih rendah hati dibanding diriku. Sungguh aku bahagia karenamu”

Belum sempat sang putra menjawabnya, sang ayah telah menutup mata selama-lamanya. Namun sang putra tetap memaksa berkata dengan lirih berbalut nelangsa, “Itu semua karena harmoni”

Sang putra menangis sambil memeluk ayahnya, mereka berdua sama-sama berada di pintu surga.




Kehidupan senantiasa bergerak

seiring irama semesta

Kecepatannya membuat sebagian terlupa

saat melambat membuat gemas yang menunggunya

Terkadang keras menyebar luka

terkadang lembut membasuh derita

Sebagaimana penghujan yang mengganti kemarau panjang,

semua selalu ada musimnya

Berpulang pada yang menyikapinya


Semua akan sempurna pada waktunya




**********************************************************

Saturday, March 13, 2010

KASIH IBU


Dan-ce adalah beruang betina yang hidup dengan dua anaknya yang masih kecil-kecil. Dalam waktu yang sangat singkat dia kehilangan dua laki-laki dalam kehidupannya, dua yang dia cintai, ayah dan suaminya. Karena peluru para pemburu yang memuja nafsu kebinatangannya. Jangan tanya bagaimana kesedihannya, hujan seharipun tak mampu mewakili tangis dan air matanya. Hatinya lantang menjerit, membangunkan semua makhluk di kolong langit. Perih merintih tiada asa, namun tak ada yang mengetahui keberadaannya. Wajahnya tampak muka, air matanya memenuhi samudera, tapi jiwanya masih terpenjara.

Berteman ketidaktahuan menatap kegelapan, karena pikirannya sibuk menanyakan masa depan. Sementara tatapan dua pasang mata anaknya seolah menghakimi bahwa kini dia sendiri tiada arti. Hanya berharap ada yang berkenan untuk perduli.

+ + + + +

Sejak kecil hingga remaja dan-ce bergelimang perhatian dan kasih sayang, bahkan menginjak dewasa semesta masih bergerak untuknya. Bermanja-manja bukan hanya naluri semata, menjadi yang utama dari cara berpikirnya. Sesuatu yang sederhana mudah beralih luar biasa, terkadang demikian pula sebaliknya.

Dia tak mengenal ketenangan, di setiap aliran darahnya bersemayam senandung kepanikan. Di satu sisi dia menikmati ketergantungannya, namun pada saat bersamaan tanpa disadari dia mengingkari di setiap detiknya. Dan-ce sama sekali tak memahami bagaimana semesta bekerja, tiada pernah terbersit untuk memulai, waktunya habis tersita hanya untuk menanti. Ketika menjejakkan kaki di kedangkalan sungai, ketika kenyataan berbicara tak adanya ikan untuk dimakan, dia memilih meratap ketimbang bermesra-mesra dalam doa. Pegunungan dengan jutaan cemara seolah diam saja, takdir seperti sedang mempermainkannya, atau mungkin salah dalam memilih pemeran utamanya.

Dan-ce memeluk kedua anaknya berteman rasa lapar, air mata deras mengalir membasahi pipinya. Namun kedua anaknya seirama dengan bahasa semesta, mereka diam saja.

Hari-hari pun berlalu, aliran sungai masih melantunkan tembang yang sama, tak ada hidangan diantara kedua kakinya.

+ + + + +

Gua itu sangat gelap dan pengap, satu-satunya cahaya bagi dan-ce adalah jiwa kedua anaknya. Menyentuh sisi paling rahasia dalam dirinya dengan bahasa yang tidak dia mengerti, seperti jeritan mereka di suatu pagi. Kala kesadaran belum utuh menguasai diri, mereka seperti sepakat untuk bersama-sama bernyanyi. Membangunkan dan-ce dari lelah tidurnya lewat satu tangisan minta makan.

Setengah sadar dan langkah tergopoh dan-ce meninggalkan gua, demi terhenti tangisan anaknya. Diantara pohon cemara terlihat seekor rusa, ketika dan-ce mencoba untuk mengejar, sang mangsa berlari secepat bayangannya. Karena memaksa dan-ce terjatuh, tubuhnya terkapar di atas tanah menghampar, kakinya tersandung bebatuan yang tidak terlalu besar. Perlahan dia bangkit, sejauh mata memandang sang mangsa telah menghilang. Dan-ce berputar-putar, matanya hanya tertuju pada langit, yang baru saja memberinya secangkir kopi pahit.

Dengan langkah gontai dan-ce melanjutkan penelusurannya. Hanya satu pilihan yang tersisa, aliran sungai yang sering membohongi harapannya.

Dan-ce mempercepat langkahnya, dari kejauhan terlihat pemandangan yang tak bisa dipercaya. Hidangan terhampar hingga tepian, mudah diraih dengan hanya satu sibakan. Sungai itu tak pelit seperti biasanya, berlimpah ruah melebihi segala prasangka. Sebenarnya dia telah berhenti berharap, bahkan nyaris kehilangan harapan seiring langkahnya yang melambat. Namun sungai itu begitu kuat memanggilnya, senyaring jeritan anaknya.

Sedetik dia tertegun, merasa dirinya tak ada. Semesta mendengar tangisan mereka, bukan tangisannya.

+ + + + +

Musim dingin telah tiba, warna putih menghiasi seluruh wajah pegunungan. Yang terlihat hanya ujung cemara, salju menutupi semua pintu gua. Bagi anaknya yang paling kecil ini adalah masa hibernasi yang pertama, dia nampak terkejut dengan perubahan suhu tubuhnya. Bagi anak yang pertama, ini adalah masa terpanjang dalam pelukan ibunya. Dan-ce menghangatkan mereka dengan naluri keibuan yang telah menjadi kodratnya.

Memasuki bulan keenam, tahap akhir keterpisahan dengan dunia luar, dan-ce tak mendengar desah nafas anak keduanya. Tubuhnya terbujur kaku, tak terlihat adanya tanda-tanda kehidupan. Hipoterma telah bertahta di seluruh aliran darahnya. Teriakan dan-ce hanya menjangkau kedua telinga, tiada menyentuh keberadaan sang jiwa.

Dan-ce berlari meninggalkan gua, menyibakkan tumpukkan salju yang menggunung dihadapannya. Berteman lolongan panjang memanggil semesta alam, perih merintih mengharapkan pertolongan. Jeritannya terhenti dalam dekapan bumi, kedua kakinya tak mampu bergerak lagi. Tubuhnya terjebak salju, bersama air matanya yang jatuh membeku.

Dia terdiam dalam keheningan, satu-satunya suara yang di dengarnya hanya nafasnya. Kepadanya hatinya bicara, udara yang tersisa untuk menggantungkan asa. Kali ini hatinya berdoa, bukan lidahnya, “Jangan ambil nyawanya, ambilah nyawaku sebagai gantinya”

+ + + + +

Samar-samar dan-ce melihat bayangan suami dan ayahnya diantara pepohonan, tak terucap satupun kata ketika dia mencoba memanggil mereka. Dia menyesal karena semasa mereka hidup lebih sering meminta dari pada bertanya. Kini ketika ketidaktahuan menjerit dan beban kian menghimpit petunjuk mereka sangat dia harapkan, namun suaminya hanya memberi sebuah senyuman.

Tubuhnya terasa ringan, namun untuk menjangkau mereka seperti tak ada sedikitpun tenaga. Satu kayuhan terakhir melepaskan dirinya dari sesuatu yang membelenggu. Namun lompatannya sia-sia, suaminya ternyata tak ada. Bayangan yang tadi ada menjadi tiada, semua telah kembali nyata. Salju telah mencair, musim dingin telah berakhir. Dia terjaga dari ketidaksadarannya yang hanya sementara.

Yang langsung terlintas dalam benaknya adalah anaknya. Dan-ce bergegas berlari menuju gua, dihadapannya tersaji pemandangan yang menakjubkan dan luar biasa. Kedua anaknya tengah bercanda tawa seolah tak pernah terjadi apa-apa, mereka baik-baik saja. Lewat binar mata anaknya yang sakit, dan-ce akhirnya memahami arti senyuman suaminya.

Dan-ce memeluk kedua anaknya sambil berlinang air mata. Kedua anaknya tersenyum penuh arti, menyiratkan makna bahwa sesungguhnya dia tak pernah sendiri. Kekejaman dunia lebih mudah tersikapi dengan ketegaran hati yang terselami. Jiwa dan-ce tak lagi sembunyi, tak lagi hanya sebatas naluri, jiwa ibu telah bersemi di taman hati.

+ + + + +

Dan-ce tengah bermain dengan kedua anaknya di tepian sungai. Kehidupan telah mengajarinya, berteman kesabaran ikan-ikan itu akan datang dengan sendirinya pada waktunya.

Harapan adalah kekuatan, memaksakan keinginan sama artinya dengan mengatur alam, yang pada akhirnya hanya akan berbalik mempermainkan pikirannya. Berdoa penuh harapan adalah pilihan yang bijaksana, kekuatan yang sebenarnya hanya akan muncul di batas daya. Saat harapan bertemu keinginan, menciptakan keadaan sesuai kebutuhan.

Dan-ce telah memilih untuk menjadikan harapan anaknya menjadi harapannya, mewujudkan impian mereka menjadi tujuan hidupnya. Selebihnya dia bukanlah siapa-siapa, hanya ruang bagi kasih ibu dalam dirinya, sebagai perantara semesta bagi anak-anaknya.




Ketika dalam pelukan ibu,

dengarkan detak jantungnya

begitulah sejatinya dia berkata-kata

Cinta suci yang tak tertandingi

yang tak akan pernah terganti

meski jasad tenggelam ditelan bumi


Langit setia mendengar doanya

menyanyikan semua harapannya

dan memberi cahaya

pada kedua telapak kakinya


“Happy mother’s day..…in everyday”




*****************************************