Di atas rak berjejer sejumlah piala, dinding penuh foto-foto gambar dirinya. Dari panggung ke panggung, dari lomba ke lomba, dia adalah juara pada masanya. Namun jalan hidup mengubah nasibnya, dia tidak pernah menjadi bintang. Hanya seorang guru di sekolah musik yang tidak terkenal. Menurutnya adalah sebuah kegagalan, adalah luka yang tak bisa disembuhkan. Asa yang tersisa adalah sang putra, satu-satunya harapannya.
+ + + + +
Setiap sore sang ayah menyuruh putranya duduk di depan piano, disiplin keras melebihi semua muridnya. Setiap putranya melantunkan nada, sang ayah selalu berteriak, “Harmoni….harmoni” kata-kata itu sering berulang-ulang diucapkannya, “Harmoni adalah irama kehidupan. Perpaduan antara cepat dan lambat. Keserasian antara kekerasan dan kelembutan. Rahasia itulah yang dipahami sang maestro bethoven, sehingga dia berjaya meskipun mendengar hanya dengan satu telinga”
Namun sang putra tak pernah bisa memahaminya. Kata-kata itu seperti terpisah jauh dari dunianya. Irama masih mengalun baku di setiap lagu. Sebatas partitur, tanpa improvisasi jiwa. Terkadang terlintas bahwa sang putra lebih meniru almarhum ibunya yang tak memahami musik. Yang lebih suka menikmati dengan mendengar tanpa memainkannya. Namun ketika perasaan gagal hadir menyapa, sang ayah segera membuang pikirannya.
+ + + + +
Di suatu malam sang ayah bermimpi kedatangan istrinya dengan wajah tangis dan air mata. Istrinya hanya berkata, “Jangan belenggu jiwa anakmu hanya karena keinginanmu”
Seketika sang ayah terbangun dan menangis, dia memahami pesan istrinya. Kegagalan di masa lalu membuatnya terlalu keras pada dirinya, yang kemudian dia bebankan pada anaknya. Dia memaksakan harapannya hanya karena kesombongannya pada diri sendiri. Dia lupa akan kebebasan jiwa putranya.
Sore itu sang ayah merubah sikapnya, pertemuan lebih dulu diawali dengan sebuah pertanyaan sederhana, “Nak, apakah kamu sungguh-sungguh ingin duduk di kursi itu?”
“Ya ayah, aku sungguh-sungguh menginginkannya. Aku ingin menjadi seorang bintang”
Tubuh sang ayah bergetar, berusaha mengendalikan diri agar air mata tidak keluar. Jemari sang putra menari jauh lebih baik dari sebelumnya, menakjubkan dan luar biasa. Harmoni menggelar simphoni, menemani harapan sang ayah menari-nari.
+ + + + +
Ketika dewasa sang putra beraksi dari satu panggung ke panggung yang lain. Namun belum ada yang menawarinya masuk dapur rekaman, apalagi untuk bermain di panggung besar. Bintang terang tak kunjung datang, impian kian tak menjadi kenyataan. Kekhawatiran akan takdir yang terulang mulai terbayang.
Ketika akhirnya sang putra memilih menjadi pekerja kantoran demi menyambung hidup, dan menjadikan musik hanya sebagai kegiatan selingan, sang ayah meletakkan harapannya. Anaknya tak memperbaiki pencapaiannya. Usahanya sia-sia.
+ + + + +
Suatu hari sang putra mandapat tawaran menjadi operator sound sistem dalam konser sebuah band yang sedang meniti karir. Sang putra menerimanya sebagai tambahan penghasilan, Tapi sang ayah tak menanggapinya, menurutnya itu dunia kelas dua.
Band itu meroket, melejit seperti komet. Sang putra semakin sering mengikuti konsernya dari kota ke kota. Hingga akhirnya band itu masuk dapur rekaman, dan sang putra tetap terlibat sebagai operatornya. Harapan sang ayah menari lagi, mengingatkan anaknya tentang impian lama yang kembali bersemi.
Namun impian itu kembali sirna ketika sang putra memutuskan menikah dengan gadis pujaannya, dan memilih pekerjaan operator sebagai jalan hidupnya. Sang ayah kembali terluka, jauh lebih hebat dibandingkan luka lama.
Malam harinya sang ayah kembali bermimpi kedatangan istrinya. Namun istrinya hanya tersenyum, tak berkata-apa. Dia tak mengerti maknanya, bahkan hingga hari pernikahan anaknya dia tak memahami arti mimpinya. Tapi dia bahagia, karena sang putra telah melepas masa lajangnya.
Band itu kian terkenal, dan akhirnya menjadi nomer satu seiring waktu. Sang putra menjadi bagian yang tak kalah penting dalam pencapaian kesuksesan mereka. Dia memiliki penghasilan yang lebih dari cukup untuk menghidupi anak istrinya. Kini sang ayah mengerti makna senyuman istrinya.
Lewat renungan malam, berteman sejuta bisikan, akhirnya sang ayah memahami semuanya. Jerih payahnya tak sia-sia, dia bahagia sesungguhnya. Tak ada lagi luka di hatinya.
+ + + + +
Perusahaan rekaman menawarkan ide penggantian operator baru, untuk memperkaya variasi suara. Namun band itu tak bergeming, mereka tetap mempertahankan operator lama. Sang putra pun mencoba untuk bertanya, “Demi mempertahankan kesuksesan, bukankah itu ide yang bagus. Mengapa kalian tak mencobanya?”
“Memperkaya nada adalah tugas kami, bukan orang lain. Kamu memiliki sesuatu yang tak ada pada kami. Kamu pandai menyatukan semua suara menjadi satu harmoni. Untuk yang satu itu kami bergantung padamu”
Kata-kata itu membuat mata sang putra berkaca-kaca, dia teringat dengan semua pembelajaran ayahnya. Belum sempat menjadi tangis, hatinya perih teriris. Sang putra mendapat kabar bahwa ayahnya masuk rumah sakit, dan kini sedang mendapat perawatan dokter di ruang gawat darurat.
+ + + + +
Sang ayah tengah terbaring tiada daya. Matanya masih terbuka namun nafasnya tinggal satu dua. Suasana haru menyentuh kedalaman kalbu, menyampaikan isyarat tentang kian dekatnya batas waktu. Sang putra menggenggam erat tangan ayahnya. Dengan berlinang air mata dia berkata, “Ayah maafkan aku. Aku tak bisa menjadi seperti yang ayah mau”
“Anakku, aku bangga padamu. Yang kamu raih melebihi pencapaianku. Panggung besar hanya melahirkan kesombongan, sanjung puja hanya akan membuat kita terlupa. Kamu adalah bintang dibalik layar. Lihatlah dirimu yang jauh lebih rendah hati dibanding diriku. Sungguh aku bahagia karenamu”
Belum sempat sang putra menjawabnya, sang ayah telah menutup mata selama-lamanya. Namun sang putra tetap memaksa berkata dengan lirih berbalut nelangsa, “Itu semua karena harmoni”
Sang putra menangis sambil memeluk ayahnya, mereka berdua sama-sama berada di pintu surga.
Kehidupan senantiasa bergerak
seiring irama semesta
Kecepatannya membuat sebagian terlupa
saat melambat membuat gemas yang menunggunya
Terkadang keras menyebar luka
terkadang lembut membasuh derita
Sebagaimana penghujan yang mengganti kemarau panjang,
semua selalu ada musimnya
Berpulang pada yang menyikapinya
Semua akan sempurna pada waktunya
**********************************************************

