
Bukunya cuma satu, nggak ada yang lain.
Buku tulis tanpa sampul, yang covernya bergambar artis dangdut, yang mungkin belinya di emperan pasar bukan di toko buku.
Angin yang berhembus pelan pun dapat menerbangkan tasnya yang ringan, karena isinya cuma satu buku.
Kalau ada satu buku tulis yang bisa dipakai untuk semua mata pelajaran, dari awal tahun ajaran baru sampai ujian kenaikan, mungkin hanya Bagus yang bisa melakukannya. Karena dia memang nggak pernah menulis apa-apa.
Bukunya akan selalu putih polos dan sepi dari tulisan-tulisan, kalau pun ada paling-paling di halaman belakang. Itu pun lirik lagu.
Bagus selalu malas mencatat, lebih suka foto copy catatanku lalu mengembalikannya petang hari.
“Jid, pinjam catatannya”
Langganan, seperti biasa. Kalimat yang nggak asing kudengar setiap akhir mata pelajaran. Seolah Bagus memang sengaja menjaga keaslian buku catatannya dari coretan-coretan layaknya sebuah kitab suci.
Suatu saat buku itu mungkin di musiumkan sebagai memorabilia berharga karena nilai historinya. Bukan karena isinya. Karena memang isinya nggak ada.
Bagus sudah hapal dengan rutinitasku, dia nggak akan pernah datang ke rumah untuk mencariku. Dia sudah tahu tempat yang dituju kalau mau mengembalikan buku catatanku seusai di foto copy.
Setiap sore, sejak maghrib sampai waktu isya, selalu kuhabiskan di mesjid dekat rumahku. Bagus sudah terbiasa dengan pemandangan sarung hijau kotak-kotak dan peci warna hitam yang biasa aku kenakan setiap dia mengembalikan buku catatanku. Setiap hari begitu.
Dari kebiasaan itu Bagus jadi punya ide tentang panggilan khusus untukku. Yang kemudian diikuti teman sekelas, bahkan satu sekolahku.
Mereka semua memanggilku ”Jid”. Anak mesjid.
+ + + + +
Tampangnya nggak seperti namanya, nggak bagus-bagus amat.
Hanya sebatas lumayan. Kalau boleh dibilang pas-pasan.
Badannya kurus kecil kayak orang pesakitan, teman sekelasku berkomentar kulitnya putih seperti perempuan. Sekilas seperti keturunan tionghoa, tapi bukan. Bagus Jawa tulen. Rambutnya yang sedikit pirang juga lebih karena sering kepanasan bukan karena ada darah Indo Belanda yang mengalir dalam tubuhnya.
Dandanannya jauh dari kesan rapi, malah berkesan seperti semaunya sendiri. Seragam sekolahnya yang jarang diseterika baru dirapikan kalau ketahuan guru atau kalau ada razia. Celana panjang abu-abunya ketat menempel di kulit sampai mata kaki. Mungkin karena Bagus bermimpi jadi rock star tapi nggak kesampaian.
Kata teman-teman sekelas Bagus lebih memilih bertahan nggak buang air besar di sekolah dari pada susah-susah melepas celananya.
Bagus yang paling kecil di kelasku, mungkin yang paling kecil se SMA. Tinggalnya di kampung bahari, daerah kumuh di pesisir kota yang sangat dekat dengan pelabuhan. Semua orang tahu itu kampungnya preman.
Pernah, lebih dari sekali Bagus berangkat sekolah diantar teman premannya.
Pulangnya juga dijemput.
Temannya berbadan tinggi besar dan kulitnya hitam. Lengannya penuh tato.
Waktu aku bilang, “Temanmu kok sangar Gus”
Kata Bagus, “Oh, itu Acong tetanggaku, tukang ojek. Motor dia rusak, aku suruh pakai motorku dulu”
Supaya temannya tetap bisa kerja. Lumayan, mulia juga.
“Tadi itu diantar siapa Gus ?”
“Itu Kadir, tukang parkir, anaknya sakit. Dia pinjam motor buat nganter ke dokter”
Selalu ada alasan solidaritas, selalu ada tujuan mulia.
Tapi tetap saja nggak wajar, temannya seorang preman.
+ + + + +
Hampir semua murid di sekolahku tahu siapa Bagus, dimana tempat tinggalnya, juga teman-temannya yang langganan keluar masuk penjara.
Termasuk jagoan-jagoan di SMA ku yang menyandang status preman sekolah, mereka juga tahu.
Mereka semua segan, sering menyapa Bagus kalau berpapasan. Salam hormat.
Bagus juga membalas sapa mereka meski nggak hapal nama. Nggak ada reaksi berlebihan, sebatas salam pertemanan.
Dimataku Bagus sehari-harinya memang begitu, berkesan biasa-biasa saja. Termasuk tipe easy going dan jarang bersuara. Kalau bicara pun lebih sering bercanda daripada serius. Sama sekali nggak ada kesan kalau dia punya teman preman segudang. Aku dan teman sekelasku juga nggak terlalu serius memikirkan latar belakangnya.
Mungkin hanya para preman sekolahku yang peduli dan sangat memperhitungkan komunitas Bagus, mereka semua nggak ada yang berani, walau badannya kurus kecil Bagus ditakuti. Nyenggol Bagus berarti mati.
Sama mereka Bagus dijuluki “The Untouchable”.
+ + + + +
Suatu hari ada razia para guru. Ada preman sekolah yang kedapatan bau alkohol gara-gara pesta miras waktu istirahat. Sebagian ada yang mencoba kabur menghindari razia dan bersembunyi di mushola.
Aku yang jadi pengurus mushola jelas nggak terima. Aku marah.
Aku usir mereka saat itu juga, “Pergi, jangan disini. Ini rumah Tuhan”
Mereka malah balik mengucapkan kata-kata bernada tinggi disertai ancaman fisik. Sikap ngotot dan nggak simpatik itu memaksaku nggak berpikir dua kali, kulaporkan mereka ke guru BP saat itu juga.
Mereka akhirnya dihukum, semuanya di skors dan orang tua mereka dipanggil menghadap ke sekolah. Seolah gantian orang tuanya yang harus mengisi daftar absen karena sementara mereka sedang berstatus tahanan luar.
Buntutnya mereka nggak terima. Jelas, sama aku.
Ekspresi wajah mereka penuh dengan kemarahan. Mereka dendam.
Sorot mata mereka menakutkan, merah seperti iblis.
Berderet kata-kata tajam berbau ancaman serius meluncur dari mulut mereka yang masih bau naga, katanya mereka akan membuat perhitungan dengan aku di jalan sepulang sekolah.
Entah datangnya dari mana, tiba-tiba rasa takut datang mendekat. Seolah memaksa lebih dekat melebihi seorang sahabat.
Mungkin karena mereka terkenal suka main keroyokan. Suka main gebuk rame-rame sampai korbannya masuk rumah sakit. Ngeri.
Tiba-tiba terbayang jelas tubuhku babak belur dan berdarah-darah, tergeletak di tengah jalan lalu diangkut mobil ambulan.
Keberanianku yang tadi muncul waktu mengusir mereka tiba-tiba lenyap ditelan bumi. Aku yang semula gagah berani menjaga rumah Tuhan dari gangguan para penyamun sekarang malah jadi ketakutan.
Aku nggak mau jadi bulan-bulanan. Aku nggak mau masuk rumah sakit.
Nggak mau !
+ + + + +
Semua murid satu sekolah tahu masalahku, tapi mereka sama takutnya. Mereka semua menjauh, seolah mempersilahkan aku melenggang sendirian menjemput tiang gantungan. Nggak ada yang mau ikut-ikut. Semuanya takut.
Hanya Bagus yang nggak menambah jarak, dia malah mendekat.
Dia peduli. Mungkin karena dia tahu rasa takutku.
“Jid, kamu pulang bonceng motorku”
Ini pertolongan Tuhan, pulang jalan kaki jelas nggak aman. Dengan sepeda motornya Bagus, aku bisa melaju kencang menghindari cegatan.
Mungkin jadi pemandangan lucu bagi yang melihat, aku yang berbadan besar membonceng Bagus yang badannya kurus kecil. Persis seperti kombinasi patrick dan sponge bob. Memang lucu, tapi nggak apa-apa, yang penting selamat.
Tapi perhitunganku keliru, ternyata mereka tetap menghadangku. Mereka pasang badan di tengah jalan hingga memaksa sepeda motornya Bagus terpaksa berhenti seolah mereka yang menginjak pedal rem. Mereka banyak sekali. Ngeri.
Yang badannya paling besar, mungkin pemimpinnya, menghadang di depan. Yang lainnya mengerubungi di kanan kiri, jaraknya nggak ada satu senti. Sorot mata mereka seperti orang kelaparan, seolah-olah aku makanan siap saji yang siap mereka habisi dengan sekali telan. Sebentar lagi aku masuk rumah sakit.
Tuhan tolonglah aku. Aku hanya berusaha melindungi rumahMu.
Pemimpinnya menatap mata Bagus. Hebatnya, Bagus malah balik menatap matanya. Tenang sekali, luar biasa. Pasti Bagus sedang berakting.
Pemimpinnya bicara, “Gus, gua ada urusan sama temen elu”
Dia permisi sama Bagus ? Temen elu ? Yang mana ? Pasti bukan aku !
Dengan tenangnya Bagus berkata, “Urusan teman gua juga urusan gua”
Ajaib. Hebat kamu Gus, pasti kamu kerasukan. Tapi percuma, kayaknya kita berdua masuk rumah sakit.
Pemimpinnya nggak bicara lagi, diam. Yang lainnya juga, agak lama. Sepertinya kata-kata Bagus bereaksi. Atau mereka sedang memperlambat waktu menunggu ambulan datang.
Tiba-tiba pemimpinnya melangkah mundur, sebuah isyarat memberi jalan. Sepeda motor pun bergerak perlahan. Bagus masih tetap tenang, seolah tadi berhenti sebentar hanya karena ada razia pemeriksaan. SIM, STNK semua komplet, patrick dan sponge bob boleh melanjutkan perjalanan.
Astaga ! Selamat. Ajaib. Benar-benar ajaib. Bagus memang sakti, nggak percuma punya teman preman segudang. Aku nggak jadi masuk rumah sakit.
Bagus mengantarku sampai ke rumah.
“Jid, besok pagi aku jemput. Selama masalah ini belum clear, kamu tetap bonceng aku”
Aku yang masih takut bercampur takjub mengangguk cepat. Siap komandan !
Clear ? Gimana caranya ?
Oh, aku tahu !
+ + + + +
Aku pernah ke rumah Bagus. Begitu keluar dari jalan besar, begitu pertama kali masuk kampung cukup tanya satu orang, informasi rumah Bagus akan mengalir dari semua orang. Bahkan salah satu dari mereka rela mengantarku seperti pengawal.
Pasti bapaknya Bagus rajanya preman, Bagus pangerannya.
Ternyata bukan, bapaknya Bagus pegawai pelabuhan. Ketua RT.
Si pengawal memberi data komplet tentang eksistensi Bagus di kampungnya. Katanya Bagus sering ikut begadang sama teman-teman premannya. Biasa, pesta miras. Tapi Bagus nggak pernah ikut minum. Pernah mencoba sekali tapi nggak suka, katanya pahit. Para preman menyediakan soft drink khusus buat Bagus.
Bagus harus ikut, pesta alkohol bisa batal kalau Bagus nggak hadir. Ternyata karena Bagus kebagian tugas menyanyi sambil main gitar. Katanya Bagus paling jago kalau memainkan lagu-lagunya Rolling Stones.
Mirip sekali dengan versi aslinya.
Suaranya seperti Mick Jagger.
Keith Richard lewat.
Informasi yang paling mengejutkan, ternyata Bagus ketua remaja gereja di kampungnya. Kalau temanku satu kelas tahu, dijamin mereka semua nggak ada yang percaya. Mungkin malah tertawa.
Sore itu aku membantu Bagus mengajari anak-anak SD di kampungnya mengerjakan PR matematika. Tepatnya aku yang mengajari, Bagus hanya mengawasi. Alasannya Bagus nggak suka matematika, padahal aslinya memang nggak bisa. Dasar Bagus.
Mungkin ini yang membuat Bagus dicintai orang sekampungnya, dia selalu peduli. Ditengah-tengah kampung preman ternyata ada satu anak SMA yang punya hati. Kedengarannya aneh, setahuku Bagus termasuk tipe pemalas dan oportunis. Yang pasti dia bukan missionaris.
Ini juga jadi pengalaman yang tak terlupakan buat aku, jadi guru pengajar bagi anaknya preman-preman. Kalau suatu saat kampungnya Bagus punya SD sendiri, mungkin namanya sekolah dasar kampung preman.
+ + + + +
Bagus biasa berangkat mepet-mepet, aku sebenarnya nggak suka. Lebih suka pagi-pagi., tapi hari ini jadi suka sekali. Daripada masuk rumah sakit.
Kurang lima menit bel sekolah Bagus datang menjemputku. Sendirian.
Kok sendiri ?
Di perjalanan aku toleh kanan toleh kiri, melihat ke belakang sekali-sekali. Benar-benar sendiri, nggak ada siapa-siapa, cuma patrick dan sponge bob.
Tanpa foreider tanpa pengawalan. Gawat.
Tadinya aku berpikir Bagus akan membawa sepasukan preman buat mengawalku ke sekolah, sekaligus meng-clear-kan masalah. Ternyata tidak.
Rasa takutku datang lagi. Menjadi-jadi. Aku berdoa lagi.
+ + + + +
Patrick dan sponge bob selamat sampai sekolah. Aman, nggak ada yang menghadang. Situasi aman dan terkendali bertahan sampai istirahat kedua. Sesudah itu aku deg-degan lagi.
Setelah istirahat kedua Bagus nggak balik kelas, dia menghilang. Aku mulai membayangkan pulang jalan kaki sendirian. Rasa-rasanya aku mulai mendengar sirine ambulan.
Setelah bel sekolah, kakiku terasa berat sekali untuk melangkah. Seperti ada rantai besi yang mengikat sepasang kaki ku dengan meja. Andai benar ada, aku pasti memilih nggak akan melepasnya. Yang pasti siang itu nggak ada pelajaran tambahan. Sayang sekali.
Jarak antara kelasku dengan pintu gerbang nggak sampai satu lapangan basket. Tapi hari itu rasanya aku akan melewati lebar dua lapangan sepak bola. Sambil jalan bibirku nggak pernah berhenti komat-kamit. Aku berdoa.
Ternyata Bagus dengan sepeda motornya sudah menungguku di pintu gerbang. Agak lega, tapi rasa takutku belum hilang.
“Ikut aku Jid” kata Bagus.
“Kemana ?” seolah aku punya pilihan.
“Pokoknya ikut. Tenang aja, aman kok”
+ + + + +
Benar, aman, nggak ada yang menghadang.
Kok nggak langsung pulang ? Kemana ini Gus ?
Sepeda motor butut keluaran tahun 80an yang kutumpangi dengan Bagus berhenti di sebuah warung tepi jalan. Makhluk-makhluk yang kemarin menghadangku semua berkumpul disitu. Warung ini markas besar.
Mereka pasti belum makan. Ini hidangannya datang.
“Tenang aja, nggak apa-apa. Sudah clear” kata Bagus.
Sudah clear ?
Bagus nggak tahu, meski kelihatan tenang sebenarnya jantungku berdebar-debar seperti mau copot.
Bagus menyuruhku bersalaman dengan pemimpinnya yang berbadan besar.
Kata Bagus, “Damai ya Jid, nggak ada lagi permusuhan. Semuanya teman”
Aku mengangguk-angguk, lebih dari sekali. Jantungku masih kencang berdebar.
Si pemimpin menyambut jabat tanganku sambil tersenyum.
Katanya, “Temannya Bagus berarti teman kita juga”
Lalu seisi warung semuanya aku salami satu persatu. Banyak sekali.
Tapi tanganku nggak terasa pegal. Senyumku kubagikan satu demi satu dengan penuh semangat, seolah-olah aku sedang mendapat ucapan selamat.
Perlahan-lahan jantungku tak lagi berdebar. Beban berat yang sedari tadi bersemayam di pundakku seolah telah hilang entah kemana. Mulai terasa lega, seolah sedari tadi tas ranselku isinya penuh batu bata.
Mata mereka semuanya merah, dari nafas mereka tercium bau naga yang sangat tajam menusuk hidung. Mereka sedang mengadakan perjamuan, mereka menawariku satu gelas.
“Sebagai rasa hormat” katanya.
Bagus langsung mencegahnya, “Jangan, dia anak mesjid”
Mereka menarik gelasnya, menuruti larangan Bagus.
Aku baru sadar, Bagus matanya juga merah. Dia ikut perjamuan itu.
Bagus ikut minum, padahal dia nggak suka.
Bagus maju sendiri, sengaja mendatangi mereka seorang diri saat istirahat kedua.
Mengadakan kesepakatan damai lewat perjamuan itu untuk menyelesaikan perselisihan mereka dengan aku. Dia melakukan semua itu demi aku.
Ternyata ini yang dimaksud “clear”.
Perasaan legaku langsung hilang. Berganti ngilu.
Sejak itu aku dijuluki “The Untouchable Number 2”
+ + + + +
Tadinya aku berpikir Bagus berani karena tinggalnya di kampung preman.
Tadinya aku berpikir Bagus akan meng-clear kan masalah lewat dukungan satu pasukan. Ternyata bukan.
Dia menghadapinya seorang diri. Bagus memang punya nyali.
Menyelesaikannya sendirian tanpa bantuan, bahkan akupun tak terlibat di dalamnya. Nasi goreng komplet pakai telor telah siap tersaji diatas meja. Bagus yang memasak, aku tinggal menyantapnya.
Bagus memang peduli.
Selalu punya alasan solidaritas, selalu ada tujuan mulia.
Tuhan mendengar doaku, mengirim seorang malaikat yang aneh untuk melindungiku. Tuhan mengutus seorang sponge bob untuk melindungi patrick.
Tiba-tiba aku merasa sekecil Bagus, tiba-tiba aku merasa Bagus yang sebesar aku.
Biar badannya kurus kecil tapi Bagus berhati singa seperti King Richard.
Aku yang berbadan besar tapi malah penakut seperti tikus celurut. Aku kehilangan nyali ketika mereka yang menodai mushola berbalik menantangku. Duhai Rasul, aku malu.
Aku yang pernah masuk pondok, yang belajar berani karena Tuhan tetap saja jadi pengecut. Tidak sedikitpun punya pikiran untuk melawan, hanya babak belur masuk rumah sakit yang terus terbayang.
Dimataku Bagus seperti crusader yang melindungi rakyat muslim, seperti Balian de Ibelin ketika melindungi prajuritnya Salahuddin.
Bagus hebat, aku nggak ada apa-apanya.
Tanpa disadari selama ini mungkin Bagus benar, aku cuma anak mesjid. Seorang jago kandang yang cuma berani kalau di rumah Tuhan.
Biar kusimpan sendiri rasa malu ku, semoga nggak ada yang tahu.
Biar Tuhan saja yang tahu.
+ + + + +
Bagus pernah bertanya, “Orang-orang yang ngebom gereja itu maksudnya apa sih Jid ?”
Pertanyaan itu sepertinya nggak masuk lewat telinga, langsung menghujam ke ulu hati. Langsung bikin aku sesak nafas.
Mungkin Bagus terusik, tapi nggak mengerti sebabnya. Dia butuh seseorang yang dia anggap bisa menjelaskan alasannya. Menurut dia orang itu adalah aku. Mati aku.
Wajar kalau Bagus nggak terima, seperti aku yang nggak rela ketika ada pemabuk yang bersembunyi di mushola.
Sebenarnya aku juga nggak tahu persis alasan mereka melakukan aksi bom di gereja. Yang aku tahu mereka sulit menerima keyakinan yang berbeda.
Pengalamanku bicara, aku pernah dilindungi seorang Kristiani yang gagah berani ketika aku akan dihabisi sekumpulan orang yang suka main keroyokan. Para pemabuk yang sempat mengotori kesucian tempat ibadah.
Pengalaman itu menempatkan aku pada posisi yang tak berjarak dengan Bagus, aku tak punya alasan sedikitpun untuk membenci apalagi memusuhinya. Aku bahkan terkadang lupa kalau aku dan Bagus memiliki keyakinan yang berbeda.
Tapi aku tahu, aku nggak punya hak untuk menilai perbuatan mereka.
Mereka mempunyai latar belakang yang berbeda, mereka pasti tidak pernah bertemu dengan kejadian seperti yang pernah aku alami.
Itu cara mereka untuk memperjuangkan sebuah keyakinan. Biar saja.
Itu bukan caraku, benar atau salah juga bukan urusanku. Hanya cermin bagi keteguhan keyakinanku sendiri.
Setahuku, merasa lebih baik dibanding orang lain sama artinya melawan hukum kesetaraan Tuhan. Semua adalah sama dimataNya.
Yang membedakan hanyalah kedekatan manusia dengan Tuhan nya. Itupun nggak ada manusia yang tahu, hanya Tuhan sendiri yang tahu.
Menurutku menyampaikan kebenaran sebuah ajaran semestinya melalui sikap yang bersahabat, bukan lewat permusuhan. Apalagi jika ajaran itu berlaku buat semua umat, bukan hanya untuk satu bangsa atau golongan. Semestinya menggunakan cara-cara kreatif yang bisa bermanfaat buat masyarakat luas, bukan malah memberi kesan eksklusifitas.
Rasa-rasanya nggak mungkin Tuhan memerintahkan manusia untuk menjunjung tinggi sebuah ajaran lewat cara-cara yang nggak manusiawi, atau menjunjung setinggi-tingginya sampai melampaui keberadaanNya.
Adakalanya Tuhan menebar rasa takut agar manusia sedikit memiliki rasa hormat, tapi itu tidak berarti Tuhan gila hormat. Tuhan juga nggak butuh manusia, tapi manusia yang butuh Tuhan. Menurutku Tuhan hanya ingin dicintai, sebagaimana cintaNya yang agung pada makhluk ciptaanNya bernama manusia.
Tak ada satu pun manusia yang mau ketika cintanya bertepuk sebelah tangan, begitu pula Tuhan.
Mestinya perbedaan disikapi, bukan dijadikan alasan untuk saling memusuhi. Seperti yang pernah dilakukan Nabi Muhammad ketika menggagas terlahirnya Piagam Medinah. Sebuah peraturan tata tertib yang mengatur keselarasan antar umat agama yang berbeda dalam kehidupan sehari-hari di kota Yastrib.
Namun perbedaan sudut pandang ini sudah berlangsung sejak dahulu. Mungkin memang begitu maunya Tuhan, supaya yang berdampingan dan yang saling memusuhi bisa saling bercermin satu sama lain di sepanjang zaman. Mungkin juga karena Tuhan sudah tahu, bahwa tidak semua manusia bisa tergerak hatinya untuk mencintai perbedaan.
Sepertinya nggak mungkin aku menjelaskannya se-detail itu sama Bagus. Terlalu complicated. Aku nggak ingin perbedaan yang mesra berdampingan selama ini malah jadi terganggu. Aku lebih suka menilai Bagus dari perbuatannya, nggak perduli dengan semua latar belakangnya. Selebihnya biarkan kami saling berbagi inspirasi lewat kehidupan sehari-hari.
Akhirnya aku memilih jawaban yang sederhana.
“Aku juga nggak tahu Gus, mungkin latar belakang mereka yang membentuk pola pikir seperti itu, yang membuat mereka jadi nggak mudah menerima perbedaan. Atau mungkin juga karena awalnya mereka suka main mercon, lama-lama jadi keterusan”
Bagus tertawa.
Sesudah itu dia nggak bertanya lagi.
Semoga Bagus mengerti.
+ + + + +
Setelah lulus SMA, aku dan Bagus kuliah di kampus yang berbeda.
Mulai jarang ketemu, nggak ada lagi ritual pinjam buku.
Sudah lama aku nggak mendengar kabarnya, sampai pada hari itu.
Aku nggak dengar kabar, tapi baca di koran.
Bagus berkelahi. Bertarung melawan sepuluh anggota menwa seorang diri. Alasannya sederhana, Bagus membela pemilik warung kopi langganannya di depan kampus, yang disuruh pindah paksa sama menwa. Bagus nggak terima.
Masih Bagus yang dulu, selalu ada alasan solidaritas, selalu ada tujuan mulia.
Bagus selalu punya nyali.
Tapi Bagus babak belur, kali ini dia tumbang.
Bagus masuk rumah sakit.
Tapi bukan itu yang jadi tajuk berita, melainkan dampak dari pertarungan nggak seimbang itu yang bikin heboh siapa saja yang membaca.
Preman satu kampungnya Bagus datang menyerbu dan mengobrak-abrik kampus, mengirim sepuluh tersangka versi mereka itu ke tempat yang sama buat menemani Bagus.
Akibatnya parah sekali, tiga diantaranya sampai gegar otak, salah satunya koma.
Selama dua minggu kampusnya Bagus dijaga ketat sepasukan tentara.
+ + + + +
“Hallo Gus”
“Hallo Jid”
Dengan wajah yang seluruh permukaannya masih tampak membengkak akibat bekas kena pukulan Bagus membalas senyumku. Bibirnya juga sudah bisa sedikit bergerak untuk bicara meski masih terbatas. Namun kondisi kritisnya sudah lewat.
Aku nggak pernah meragukan keberanian Bagus, dan rasa setia kawannya yang nggak rela jika ada orang yang dia kenal diperlakukan tidak adil.
Tapi menurutku seorang diri melawan sepuluh orang berbadan besar yang pernah mengenyam pendidikkan militer jelas diluar perhitungan. Nggak masuk akal.
Aku kasihan, nggak tega. Aku nggak ingin di kemudian hari terulang peristiwa yang sama.
“Lain kali kira-kira Gus, kalau sepuluh orang jangan langsung dilawan”
Jawab Bagus, “Waktu itu aku lupa berhitung”
Aku lupa, Bagus nggak suka matematika.
+ + + + +
Menurutku Bagus memiliki naluri melindungi yang sangat besar, yang mungkin jauh melebihi ukuran tubuhnya sendiri. Mungkin dalam diriku juga ada, tapi sepertinya nggak sebesar itu.
Mungkin panggilan takdirnya Bagus memang begitu.
Bagus seperti batman yang langsung datang menolong rakyat gotham ketika melihat batsignal menyala.
Mungkin si kecil Bagus yang terlahir untuk melindungiku, bukan sebaliknya. Toh Bagus juga sudah punya malaikat pelindung satu kampung jadi dia nggak butuh aku.
Tapi aku sedih juga melihat Bagus terkapar tiada daya, aku nggak bisa berbuat apa-apa selain berdoa. Aku yakin bukan hanya aku sendiri, suami istri pemilik warung kopi, anak-anak SD di kampung bahari, juga semua orang yang pernah ditolong Bagus pasti semuanya ikut mendoakan kesembuhannya.
Mungkin tidak sepenuhnya cara-cara yang ditempuh Bagus benar. Namun setidaknya, jiwa solidaritasnya mampu mewakili perasaan mereka yang tertindas dan yang diperlakukan tidak adil
Siapapun pasti akan merasa nyaman ketika merasa dirinya terlindungi. Siapapun pasti akan membutuhkan perlindungan orang lain ketika merasa tak mampu melindungi dirinya sendiri. Mereka pasti juga nggak peduli dengan latar belakang pelindungnya, mereka hanya ingin tahu ketulusan yang ada dibaliknya.
Tuhan selalu punya cara sendiri untuk melindungi umatNya. Lewat cara-cara yang nggak akan pernah terjangkau oleh akal manusia.
Cepat sembuh Gus, jangan mati dulu,
di luar sana masih banyak orang jahat.
Buku tulis tanpa sampul, yang covernya bergambar artis dangdut, yang mungkin belinya di emperan pasar bukan di toko buku.
Angin yang berhembus pelan pun dapat menerbangkan tasnya yang ringan, karena isinya cuma satu buku.
Kalau ada satu buku tulis yang bisa dipakai untuk semua mata pelajaran, dari awal tahun ajaran baru sampai ujian kenaikan, mungkin hanya Bagus yang bisa melakukannya. Karena dia memang nggak pernah menulis apa-apa.
Bukunya akan selalu putih polos dan sepi dari tulisan-tulisan, kalau pun ada paling-paling di halaman belakang. Itu pun lirik lagu.
Bagus selalu malas mencatat, lebih suka foto copy catatanku lalu mengembalikannya petang hari.
“Jid, pinjam catatannya”
Langganan, seperti biasa. Kalimat yang nggak asing kudengar setiap akhir mata pelajaran. Seolah Bagus memang sengaja menjaga keaslian buku catatannya dari coretan-coretan layaknya sebuah kitab suci.
Suatu saat buku itu mungkin di musiumkan sebagai memorabilia berharga karena nilai historinya. Bukan karena isinya. Karena memang isinya nggak ada.
Bagus sudah hapal dengan rutinitasku, dia nggak akan pernah datang ke rumah untuk mencariku. Dia sudah tahu tempat yang dituju kalau mau mengembalikan buku catatanku seusai di foto copy.
Setiap sore, sejak maghrib sampai waktu isya, selalu kuhabiskan di mesjid dekat rumahku. Bagus sudah terbiasa dengan pemandangan sarung hijau kotak-kotak dan peci warna hitam yang biasa aku kenakan setiap dia mengembalikan buku catatanku. Setiap hari begitu.
Dari kebiasaan itu Bagus jadi punya ide tentang panggilan khusus untukku. Yang kemudian diikuti teman sekelas, bahkan satu sekolahku.
Mereka semua memanggilku ”Jid”. Anak mesjid.
+ + + + +
Tampangnya nggak seperti namanya, nggak bagus-bagus amat.
Hanya sebatas lumayan. Kalau boleh dibilang pas-pasan.
Badannya kurus kecil kayak orang pesakitan, teman sekelasku berkomentar kulitnya putih seperti perempuan. Sekilas seperti keturunan tionghoa, tapi bukan. Bagus Jawa tulen. Rambutnya yang sedikit pirang juga lebih karena sering kepanasan bukan karena ada darah Indo Belanda yang mengalir dalam tubuhnya.
Dandanannya jauh dari kesan rapi, malah berkesan seperti semaunya sendiri. Seragam sekolahnya yang jarang diseterika baru dirapikan kalau ketahuan guru atau kalau ada razia. Celana panjang abu-abunya ketat menempel di kulit sampai mata kaki. Mungkin karena Bagus bermimpi jadi rock star tapi nggak kesampaian.
Kata teman-teman sekelas Bagus lebih memilih bertahan nggak buang air besar di sekolah dari pada susah-susah melepas celananya.
Bagus yang paling kecil di kelasku, mungkin yang paling kecil se SMA. Tinggalnya di kampung bahari, daerah kumuh di pesisir kota yang sangat dekat dengan pelabuhan. Semua orang tahu itu kampungnya preman.
Pernah, lebih dari sekali Bagus berangkat sekolah diantar teman premannya.
Pulangnya juga dijemput.
Temannya berbadan tinggi besar dan kulitnya hitam. Lengannya penuh tato.
Waktu aku bilang, “Temanmu kok sangar Gus”
Kata Bagus, “Oh, itu Acong tetanggaku, tukang ojek. Motor dia rusak, aku suruh pakai motorku dulu”
Supaya temannya tetap bisa kerja. Lumayan, mulia juga.
“Tadi itu diantar siapa Gus ?”
“Itu Kadir, tukang parkir, anaknya sakit. Dia pinjam motor buat nganter ke dokter”
Selalu ada alasan solidaritas, selalu ada tujuan mulia.
Tapi tetap saja nggak wajar, temannya seorang preman.
+ + + + +
Hampir semua murid di sekolahku tahu siapa Bagus, dimana tempat tinggalnya, juga teman-temannya yang langganan keluar masuk penjara.
Termasuk jagoan-jagoan di SMA ku yang menyandang status preman sekolah, mereka juga tahu.
Mereka semua segan, sering menyapa Bagus kalau berpapasan. Salam hormat.
Bagus juga membalas sapa mereka meski nggak hapal nama. Nggak ada reaksi berlebihan, sebatas salam pertemanan.
Dimataku Bagus sehari-harinya memang begitu, berkesan biasa-biasa saja. Termasuk tipe easy going dan jarang bersuara. Kalau bicara pun lebih sering bercanda daripada serius. Sama sekali nggak ada kesan kalau dia punya teman preman segudang. Aku dan teman sekelasku juga nggak terlalu serius memikirkan latar belakangnya.
Mungkin hanya para preman sekolahku yang peduli dan sangat memperhitungkan komunitas Bagus, mereka semua nggak ada yang berani, walau badannya kurus kecil Bagus ditakuti. Nyenggol Bagus berarti mati.
Sama mereka Bagus dijuluki “The Untouchable”.
+ + + + +
Suatu hari ada razia para guru. Ada preman sekolah yang kedapatan bau alkohol gara-gara pesta miras waktu istirahat. Sebagian ada yang mencoba kabur menghindari razia dan bersembunyi di mushola.
Aku yang jadi pengurus mushola jelas nggak terima. Aku marah.
Aku usir mereka saat itu juga, “Pergi, jangan disini. Ini rumah Tuhan”
Mereka malah balik mengucapkan kata-kata bernada tinggi disertai ancaman fisik. Sikap ngotot dan nggak simpatik itu memaksaku nggak berpikir dua kali, kulaporkan mereka ke guru BP saat itu juga.
Mereka akhirnya dihukum, semuanya di skors dan orang tua mereka dipanggil menghadap ke sekolah. Seolah gantian orang tuanya yang harus mengisi daftar absen karena sementara mereka sedang berstatus tahanan luar.
Buntutnya mereka nggak terima. Jelas, sama aku.
Ekspresi wajah mereka penuh dengan kemarahan. Mereka dendam.
Sorot mata mereka menakutkan, merah seperti iblis.
Berderet kata-kata tajam berbau ancaman serius meluncur dari mulut mereka yang masih bau naga, katanya mereka akan membuat perhitungan dengan aku di jalan sepulang sekolah.
Entah datangnya dari mana, tiba-tiba rasa takut datang mendekat. Seolah memaksa lebih dekat melebihi seorang sahabat.
Mungkin karena mereka terkenal suka main keroyokan. Suka main gebuk rame-rame sampai korbannya masuk rumah sakit. Ngeri.
Tiba-tiba terbayang jelas tubuhku babak belur dan berdarah-darah, tergeletak di tengah jalan lalu diangkut mobil ambulan.
Keberanianku yang tadi muncul waktu mengusir mereka tiba-tiba lenyap ditelan bumi. Aku yang semula gagah berani menjaga rumah Tuhan dari gangguan para penyamun sekarang malah jadi ketakutan.
Aku nggak mau jadi bulan-bulanan. Aku nggak mau masuk rumah sakit.
Nggak mau !
+ + + + +
Semua murid satu sekolah tahu masalahku, tapi mereka sama takutnya. Mereka semua menjauh, seolah mempersilahkan aku melenggang sendirian menjemput tiang gantungan. Nggak ada yang mau ikut-ikut. Semuanya takut.
Hanya Bagus yang nggak menambah jarak, dia malah mendekat.
Dia peduli. Mungkin karena dia tahu rasa takutku.
“Jid, kamu pulang bonceng motorku”
Ini pertolongan Tuhan, pulang jalan kaki jelas nggak aman. Dengan sepeda motornya Bagus, aku bisa melaju kencang menghindari cegatan.
Mungkin jadi pemandangan lucu bagi yang melihat, aku yang berbadan besar membonceng Bagus yang badannya kurus kecil. Persis seperti kombinasi patrick dan sponge bob. Memang lucu, tapi nggak apa-apa, yang penting selamat.
Tapi perhitunganku keliru, ternyata mereka tetap menghadangku. Mereka pasang badan di tengah jalan hingga memaksa sepeda motornya Bagus terpaksa berhenti seolah mereka yang menginjak pedal rem. Mereka banyak sekali. Ngeri.
Yang badannya paling besar, mungkin pemimpinnya, menghadang di depan. Yang lainnya mengerubungi di kanan kiri, jaraknya nggak ada satu senti. Sorot mata mereka seperti orang kelaparan, seolah-olah aku makanan siap saji yang siap mereka habisi dengan sekali telan. Sebentar lagi aku masuk rumah sakit.
Tuhan tolonglah aku. Aku hanya berusaha melindungi rumahMu.
Pemimpinnya menatap mata Bagus. Hebatnya, Bagus malah balik menatap matanya. Tenang sekali, luar biasa. Pasti Bagus sedang berakting.
Pemimpinnya bicara, “Gus, gua ada urusan sama temen elu”
Dia permisi sama Bagus ? Temen elu ? Yang mana ? Pasti bukan aku !
Dengan tenangnya Bagus berkata, “Urusan teman gua juga urusan gua”
Ajaib. Hebat kamu Gus, pasti kamu kerasukan. Tapi percuma, kayaknya kita berdua masuk rumah sakit.
Pemimpinnya nggak bicara lagi, diam. Yang lainnya juga, agak lama. Sepertinya kata-kata Bagus bereaksi. Atau mereka sedang memperlambat waktu menunggu ambulan datang.
Tiba-tiba pemimpinnya melangkah mundur, sebuah isyarat memberi jalan. Sepeda motor pun bergerak perlahan. Bagus masih tetap tenang, seolah tadi berhenti sebentar hanya karena ada razia pemeriksaan. SIM, STNK semua komplet, patrick dan sponge bob boleh melanjutkan perjalanan.
Astaga ! Selamat. Ajaib. Benar-benar ajaib. Bagus memang sakti, nggak percuma punya teman preman segudang. Aku nggak jadi masuk rumah sakit.
Bagus mengantarku sampai ke rumah.
“Jid, besok pagi aku jemput. Selama masalah ini belum clear, kamu tetap bonceng aku”
Aku yang masih takut bercampur takjub mengangguk cepat. Siap komandan !
Clear ? Gimana caranya ?
Oh, aku tahu !
+ + + + +
Aku pernah ke rumah Bagus. Begitu keluar dari jalan besar, begitu pertama kali masuk kampung cukup tanya satu orang, informasi rumah Bagus akan mengalir dari semua orang. Bahkan salah satu dari mereka rela mengantarku seperti pengawal.
Pasti bapaknya Bagus rajanya preman, Bagus pangerannya.
Ternyata bukan, bapaknya Bagus pegawai pelabuhan. Ketua RT.
Si pengawal memberi data komplet tentang eksistensi Bagus di kampungnya. Katanya Bagus sering ikut begadang sama teman-teman premannya. Biasa, pesta miras. Tapi Bagus nggak pernah ikut minum. Pernah mencoba sekali tapi nggak suka, katanya pahit. Para preman menyediakan soft drink khusus buat Bagus.
Bagus harus ikut, pesta alkohol bisa batal kalau Bagus nggak hadir. Ternyata karena Bagus kebagian tugas menyanyi sambil main gitar. Katanya Bagus paling jago kalau memainkan lagu-lagunya Rolling Stones.
Mirip sekali dengan versi aslinya.
Suaranya seperti Mick Jagger.
Keith Richard lewat.
Informasi yang paling mengejutkan, ternyata Bagus ketua remaja gereja di kampungnya. Kalau temanku satu kelas tahu, dijamin mereka semua nggak ada yang percaya. Mungkin malah tertawa.
Sore itu aku membantu Bagus mengajari anak-anak SD di kampungnya mengerjakan PR matematika. Tepatnya aku yang mengajari, Bagus hanya mengawasi. Alasannya Bagus nggak suka matematika, padahal aslinya memang nggak bisa. Dasar Bagus.
Mungkin ini yang membuat Bagus dicintai orang sekampungnya, dia selalu peduli. Ditengah-tengah kampung preman ternyata ada satu anak SMA yang punya hati. Kedengarannya aneh, setahuku Bagus termasuk tipe pemalas dan oportunis. Yang pasti dia bukan missionaris.
Ini juga jadi pengalaman yang tak terlupakan buat aku, jadi guru pengajar bagi anaknya preman-preman. Kalau suatu saat kampungnya Bagus punya SD sendiri, mungkin namanya sekolah dasar kampung preman.
+ + + + +
Bagus biasa berangkat mepet-mepet, aku sebenarnya nggak suka. Lebih suka pagi-pagi., tapi hari ini jadi suka sekali. Daripada masuk rumah sakit.
Kurang lima menit bel sekolah Bagus datang menjemputku. Sendirian.
Kok sendiri ?
Di perjalanan aku toleh kanan toleh kiri, melihat ke belakang sekali-sekali. Benar-benar sendiri, nggak ada siapa-siapa, cuma patrick dan sponge bob.
Tanpa foreider tanpa pengawalan. Gawat.
Tadinya aku berpikir Bagus akan membawa sepasukan preman buat mengawalku ke sekolah, sekaligus meng-clear-kan masalah. Ternyata tidak.
Rasa takutku datang lagi. Menjadi-jadi. Aku berdoa lagi.
+ + + + +
Patrick dan sponge bob selamat sampai sekolah. Aman, nggak ada yang menghadang. Situasi aman dan terkendali bertahan sampai istirahat kedua. Sesudah itu aku deg-degan lagi.
Setelah istirahat kedua Bagus nggak balik kelas, dia menghilang. Aku mulai membayangkan pulang jalan kaki sendirian. Rasa-rasanya aku mulai mendengar sirine ambulan.
Setelah bel sekolah, kakiku terasa berat sekali untuk melangkah. Seperti ada rantai besi yang mengikat sepasang kaki ku dengan meja. Andai benar ada, aku pasti memilih nggak akan melepasnya. Yang pasti siang itu nggak ada pelajaran tambahan. Sayang sekali.
Jarak antara kelasku dengan pintu gerbang nggak sampai satu lapangan basket. Tapi hari itu rasanya aku akan melewati lebar dua lapangan sepak bola. Sambil jalan bibirku nggak pernah berhenti komat-kamit. Aku berdoa.
Ternyata Bagus dengan sepeda motornya sudah menungguku di pintu gerbang. Agak lega, tapi rasa takutku belum hilang.
“Ikut aku Jid” kata Bagus.
“Kemana ?” seolah aku punya pilihan.
“Pokoknya ikut. Tenang aja, aman kok”
+ + + + +
Benar, aman, nggak ada yang menghadang.
Kok nggak langsung pulang ? Kemana ini Gus ?
Sepeda motor butut keluaran tahun 80an yang kutumpangi dengan Bagus berhenti di sebuah warung tepi jalan. Makhluk-makhluk yang kemarin menghadangku semua berkumpul disitu. Warung ini markas besar.
Mereka pasti belum makan. Ini hidangannya datang.
“Tenang aja, nggak apa-apa. Sudah clear” kata Bagus.
Sudah clear ?
Bagus nggak tahu, meski kelihatan tenang sebenarnya jantungku berdebar-debar seperti mau copot.
Bagus menyuruhku bersalaman dengan pemimpinnya yang berbadan besar.
Kata Bagus, “Damai ya Jid, nggak ada lagi permusuhan. Semuanya teman”
Aku mengangguk-angguk, lebih dari sekali. Jantungku masih kencang berdebar.
Si pemimpin menyambut jabat tanganku sambil tersenyum.
Katanya, “Temannya Bagus berarti teman kita juga”
Lalu seisi warung semuanya aku salami satu persatu. Banyak sekali.
Tapi tanganku nggak terasa pegal. Senyumku kubagikan satu demi satu dengan penuh semangat, seolah-olah aku sedang mendapat ucapan selamat.
Perlahan-lahan jantungku tak lagi berdebar. Beban berat yang sedari tadi bersemayam di pundakku seolah telah hilang entah kemana. Mulai terasa lega, seolah sedari tadi tas ranselku isinya penuh batu bata.
Mata mereka semuanya merah, dari nafas mereka tercium bau naga yang sangat tajam menusuk hidung. Mereka sedang mengadakan perjamuan, mereka menawariku satu gelas.
“Sebagai rasa hormat” katanya.
Bagus langsung mencegahnya, “Jangan, dia anak mesjid”
Mereka menarik gelasnya, menuruti larangan Bagus.
Aku baru sadar, Bagus matanya juga merah. Dia ikut perjamuan itu.
Bagus ikut minum, padahal dia nggak suka.
Bagus maju sendiri, sengaja mendatangi mereka seorang diri saat istirahat kedua.
Mengadakan kesepakatan damai lewat perjamuan itu untuk menyelesaikan perselisihan mereka dengan aku. Dia melakukan semua itu demi aku.
Ternyata ini yang dimaksud “clear”.
Perasaan legaku langsung hilang. Berganti ngilu.
Sejak itu aku dijuluki “The Untouchable Number 2”
+ + + + +
Tadinya aku berpikir Bagus berani karena tinggalnya di kampung preman.
Tadinya aku berpikir Bagus akan meng-clear kan masalah lewat dukungan satu pasukan. Ternyata bukan.
Dia menghadapinya seorang diri. Bagus memang punya nyali.
Menyelesaikannya sendirian tanpa bantuan, bahkan akupun tak terlibat di dalamnya. Nasi goreng komplet pakai telor telah siap tersaji diatas meja. Bagus yang memasak, aku tinggal menyantapnya.
Bagus memang peduli.
Selalu punya alasan solidaritas, selalu ada tujuan mulia.
Tuhan mendengar doaku, mengirim seorang malaikat yang aneh untuk melindungiku. Tuhan mengutus seorang sponge bob untuk melindungi patrick.
Tiba-tiba aku merasa sekecil Bagus, tiba-tiba aku merasa Bagus yang sebesar aku.
Biar badannya kurus kecil tapi Bagus berhati singa seperti King Richard.
Aku yang berbadan besar tapi malah penakut seperti tikus celurut. Aku kehilangan nyali ketika mereka yang menodai mushola berbalik menantangku. Duhai Rasul, aku malu.
Aku yang pernah masuk pondok, yang belajar berani karena Tuhan tetap saja jadi pengecut. Tidak sedikitpun punya pikiran untuk melawan, hanya babak belur masuk rumah sakit yang terus terbayang.
Dimataku Bagus seperti crusader yang melindungi rakyat muslim, seperti Balian de Ibelin ketika melindungi prajuritnya Salahuddin.
Bagus hebat, aku nggak ada apa-apanya.
Tanpa disadari selama ini mungkin Bagus benar, aku cuma anak mesjid. Seorang jago kandang yang cuma berani kalau di rumah Tuhan.
Biar kusimpan sendiri rasa malu ku, semoga nggak ada yang tahu.
Biar Tuhan saja yang tahu.
+ + + + +
Bagus pernah bertanya, “Orang-orang yang ngebom gereja itu maksudnya apa sih Jid ?”
Pertanyaan itu sepertinya nggak masuk lewat telinga, langsung menghujam ke ulu hati. Langsung bikin aku sesak nafas.
Mungkin Bagus terusik, tapi nggak mengerti sebabnya. Dia butuh seseorang yang dia anggap bisa menjelaskan alasannya. Menurut dia orang itu adalah aku. Mati aku.
Wajar kalau Bagus nggak terima, seperti aku yang nggak rela ketika ada pemabuk yang bersembunyi di mushola.
Sebenarnya aku juga nggak tahu persis alasan mereka melakukan aksi bom di gereja. Yang aku tahu mereka sulit menerima keyakinan yang berbeda.
Pengalamanku bicara, aku pernah dilindungi seorang Kristiani yang gagah berani ketika aku akan dihabisi sekumpulan orang yang suka main keroyokan. Para pemabuk yang sempat mengotori kesucian tempat ibadah.
Pengalaman itu menempatkan aku pada posisi yang tak berjarak dengan Bagus, aku tak punya alasan sedikitpun untuk membenci apalagi memusuhinya. Aku bahkan terkadang lupa kalau aku dan Bagus memiliki keyakinan yang berbeda.
Tapi aku tahu, aku nggak punya hak untuk menilai perbuatan mereka.
Mereka mempunyai latar belakang yang berbeda, mereka pasti tidak pernah bertemu dengan kejadian seperti yang pernah aku alami.
Itu cara mereka untuk memperjuangkan sebuah keyakinan. Biar saja.
Itu bukan caraku, benar atau salah juga bukan urusanku. Hanya cermin bagi keteguhan keyakinanku sendiri.
Setahuku, merasa lebih baik dibanding orang lain sama artinya melawan hukum kesetaraan Tuhan. Semua adalah sama dimataNya.
Yang membedakan hanyalah kedekatan manusia dengan Tuhan nya. Itupun nggak ada manusia yang tahu, hanya Tuhan sendiri yang tahu.
Menurutku menyampaikan kebenaran sebuah ajaran semestinya melalui sikap yang bersahabat, bukan lewat permusuhan. Apalagi jika ajaran itu berlaku buat semua umat, bukan hanya untuk satu bangsa atau golongan. Semestinya menggunakan cara-cara kreatif yang bisa bermanfaat buat masyarakat luas, bukan malah memberi kesan eksklusifitas.
Rasa-rasanya nggak mungkin Tuhan memerintahkan manusia untuk menjunjung tinggi sebuah ajaran lewat cara-cara yang nggak manusiawi, atau menjunjung setinggi-tingginya sampai melampaui keberadaanNya.
Adakalanya Tuhan menebar rasa takut agar manusia sedikit memiliki rasa hormat, tapi itu tidak berarti Tuhan gila hormat. Tuhan juga nggak butuh manusia, tapi manusia yang butuh Tuhan. Menurutku Tuhan hanya ingin dicintai, sebagaimana cintaNya yang agung pada makhluk ciptaanNya bernama manusia.
Tak ada satu pun manusia yang mau ketika cintanya bertepuk sebelah tangan, begitu pula Tuhan.
Mestinya perbedaan disikapi, bukan dijadikan alasan untuk saling memusuhi. Seperti yang pernah dilakukan Nabi Muhammad ketika menggagas terlahirnya Piagam Medinah. Sebuah peraturan tata tertib yang mengatur keselarasan antar umat agama yang berbeda dalam kehidupan sehari-hari di kota Yastrib.
Namun perbedaan sudut pandang ini sudah berlangsung sejak dahulu. Mungkin memang begitu maunya Tuhan, supaya yang berdampingan dan yang saling memusuhi bisa saling bercermin satu sama lain di sepanjang zaman. Mungkin juga karena Tuhan sudah tahu, bahwa tidak semua manusia bisa tergerak hatinya untuk mencintai perbedaan.
Sepertinya nggak mungkin aku menjelaskannya se-detail itu sama Bagus. Terlalu complicated. Aku nggak ingin perbedaan yang mesra berdampingan selama ini malah jadi terganggu. Aku lebih suka menilai Bagus dari perbuatannya, nggak perduli dengan semua latar belakangnya. Selebihnya biarkan kami saling berbagi inspirasi lewat kehidupan sehari-hari.
Akhirnya aku memilih jawaban yang sederhana.
“Aku juga nggak tahu Gus, mungkin latar belakang mereka yang membentuk pola pikir seperti itu, yang membuat mereka jadi nggak mudah menerima perbedaan. Atau mungkin juga karena awalnya mereka suka main mercon, lama-lama jadi keterusan”
Bagus tertawa.
Sesudah itu dia nggak bertanya lagi.
Semoga Bagus mengerti.
+ + + + +
Setelah lulus SMA, aku dan Bagus kuliah di kampus yang berbeda.
Mulai jarang ketemu, nggak ada lagi ritual pinjam buku.
Sudah lama aku nggak mendengar kabarnya, sampai pada hari itu.
Aku nggak dengar kabar, tapi baca di koran.
Bagus berkelahi. Bertarung melawan sepuluh anggota menwa seorang diri. Alasannya sederhana, Bagus membela pemilik warung kopi langganannya di depan kampus, yang disuruh pindah paksa sama menwa. Bagus nggak terima.
Masih Bagus yang dulu, selalu ada alasan solidaritas, selalu ada tujuan mulia.
Bagus selalu punya nyali.
Tapi Bagus babak belur, kali ini dia tumbang.
Bagus masuk rumah sakit.
Tapi bukan itu yang jadi tajuk berita, melainkan dampak dari pertarungan nggak seimbang itu yang bikin heboh siapa saja yang membaca.
Preman satu kampungnya Bagus datang menyerbu dan mengobrak-abrik kampus, mengirim sepuluh tersangka versi mereka itu ke tempat yang sama buat menemani Bagus.
Akibatnya parah sekali, tiga diantaranya sampai gegar otak, salah satunya koma.
Selama dua minggu kampusnya Bagus dijaga ketat sepasukan tentara.
+ + + + +
“Hallo Gus”
“Hallo Jid”
Dengan wajah yang seluruh permukaannya masih tampak membengkak akibat bekas kena pukulan Bagus membalas senyumku. Bibirnya juga sudah bisa sedikit bergerak untuk bicara meski masih terbatas. Namun kondisi kritisnya sudah lewat.
Aku nggak pernah meragukan keberanian Bagus, dan rasa setia kawannya yang nggak rela jika ada orang yang dia kenal diperlakukan tidak adil.
Tapi menurutku seorang diri melawan sepuluh orang berbadan besar yang pernah mengenyam pendidikkan militer jelas diluar perhitungan. Nggak masuk akal.
Aku kasihan, nggak tega. Aku nggak ingin di kemudian hari terulang peristiwa yang sama.
“Lain kali kira-kira Gus, kalau sepuluh orang jangan langsung dilawan”
Jawab Bagus, “Waktu itu aku lupa berhitung”
Aku lupa, Bagus nggak suka matematika.
+ + + + +
Menurutku Bagus memiliki naluri melindungi yang sangat besar, yang mungkin jauh melebihi ukuran tubuhnya sendiri. Mungkin dalam diriku juga ada, tapi sepertinya nggak sebesar itu.
Mungkin panggilan takdirnya Bagus memang begitu.
Bagus seperti batman yang langsung datang menolong rakyat gotham ketika melihat batsignal menyala.
Mungkin si kecil Bagus yang terlahir untuk melindungiku, bukan sebaliknya. Toh Bagus juga sudah punya malaikat pelindung satu kampung jadi dia nggak butuh aku.
Tapi aku sedih juga melihat Bagus terkapar tiada daya, aku nggak bisa berbuat apa-apa selain berdoa. Aku yakin bukan hanya aku sendiri, suami istri pemilik warung kopi, anak-anak SD di kampung bahari, juga semua orang yang pernah ditolong Bagus pasti semuanya ikut mendoakan kesembuhannya.
Mungkin tidak sepenuhnya cara-cara yang ditempuh Bagus benar. Namun setidaknya, jiwa solidaritasnya mampu mewakili perasaan mereka yang tertindas dan yang diperlakukan tidak adil
Siapapun pasti akan merasa nyaman ketika merasa dirinya terlindungi. Siapapun pasti akan membutuhkan perlindungan orang lain ketika merasa tak mampu melindungi dirinya sendiri. Mereka pasti juga nggak peduli dengan latar belakang pelindungnya, mereka hanya ingin tahu ketulusan yang ada dibaliknya.
Tuhan selalu punya cara sendiri untuk melindungi umatNya. Lewat cara-cara yang nggak akan pernah terjangkau oleh akal manusia.
Cepat sembuh Gus, jangan mati dulu,
di luar sana masih banyak orang jahat.

