Wednesday, December 15, 2010

PEMUJA KATA-KATA


Romeo tak lagi bisa melihat apa-apa, kegelapan menjadi satu-satunya warna sejak para medis memvonis dirinya menderita glukoma. Mereka banyak bicara tentang harapan, mengisyaratkan kemungkinan terjadinya penyembuhan. Namun sekian waktu yang berjalan sama sekali tidak menghasilkan perubahan. Segala macam usaha termasuk pengobatan alternatif telah dijalani. Dukungan moril dari segala penjuru pun mengalir tiada henti. Namun tak ada satupun yang bisa menjadi solusi. Dia tetap menjadi orang buta, meski matanya tetap sebening kaca.
Seorang sahabat spiritualnya berkata bahwa dirinya sedang diselimuti cahaya, yang sejatinya adalah perantara mata dengan obyek yang dilihatnya. Sedangkan mata sendiri hanyalah jendela dunia. Kini cahaya tengah tak berkenan menjembatani matanya, memeluk rapat dirinya hingga tak dapat melihat apa-apa. Namun dia tak dapat memahami arti kata-kata sahabatnya, bahkan dia tak perduli meski dibalik kata-kata itu tersimpan sarat energi. Baginya kesembuhan adalah yang utama, dia hanya ingin bisa melihat seperti sediakala. Dia tak butuh kata-kata.
Bahkan kata-kata bijak yang dia puja, yang selalu menemaninya di setiap lelikuan jalan, satu demi satu menjauh tinggalkan bumi. Meninggalkan dirinya sendiri di tengah kegelapan, membiarkan dirinya terombang-ambing ombak ketidakpastian. Berjingkat-jingkat di tepi jurang keputusasaan, meratap pada langit dengan sejuta pertanyaan.
Andai benar Cahaya Ilahi datang merasuki diri menyapa jiwa, mengapa harus membutakan kedua matanya ? Apa yang sesungguhnya sedang terjadi ? Mengapa buah yang dipetik semuanya pahit ? Mengapa musim kekeringan kali ini sedemikian panjang ? Sampai kapankah mentari berkenan menampakkan diri dan tak lagi sembunyi ?

TAHUN TAHUN SEBELUMNYA
Dikala tidur sang macan terdengar mendengkur. Siapapun yang didekatnya akan tidak merasa nyaman, karena suara dengkurannya mengisyaratkan tembang ancaman. Ketika terbuka mata dia seperti akan menelan dunia. Ketika menggeliat aumannya memekakkan telinga, sebuah penegasan bagi siapa saja yang mendengar bahwa dia adalah raja. Kata-katanya menjelma pada kuku-kukunya yang tajam. Satu goresan sama artinya dengan sabetan seribu pedang. Nada suaranya adalah bahasa sepasang mata. Ketika nada meninggi berarti mata tajam menghujam, mampu menenggelamkan dunia dengan luas lautan. Menundukkan kepala-kepala yang ada dihadapannya, mempersilahkan dirinya melenggang tanpa mereka berani melirik kukunya. Yang tidak bersedia menjadi mangsa berarti budaknya. Yang butuh pertolongannya akan menjadi pengikut setianya. Dirinya menjelma jagoan sakti tiada tanding dengan ratusan pengikut yang semuanya pengecut. Mereka semua sepakat mengatasnamakan persahabatan dan persaudaraan, bersembunyi dibalik pembenaran yang bukan kebenaran. Sama-sama mengingkari realita sesungguhnya bahwa yang terjadi hanyalah saling memanfaatkan.
Namun seketika kabut tebal datang, menyelimuti tubuhnya dengan bisa yang mematikan. Meracuni aliran darah dan memaksa dirinya mengamuk, menancapkan kukunya ke segala penjuru hingga ia terhenti karena kelelahan. Tubuhnya pun semakin lemah karena berdarah-darah. Dalam kegelapan dia tak melukai siapa-siapa melainkan hanya tubuhya sendiri. Kabut itu tak pernah menepi, sejak itu kegelapan menjadi bagian dari hidupnya.
Ketika terdengar suara kehadiran di sebuah batang pohon sang macan hanya terdiam, dia sudah tak perduli andai yang datang adalah sebuah ancaman. Keterbatasan ini sedemikian menyiksa, andai yang datang elmaut sekalipun dia akan dengan suka rela menyerahkan nyawanya.
Dari batang pohon itu sang rajawali menyapanya dengan tatap mata iba berbalut nelangsa. Kata-kata yang terucap menyentuh jiwa di kedalaman rasa. Menikam dalam tiada terbilang, menyentuh ruang cinta yang telah sekian lama menghilang.
“Aku tak menangisi penderitaanmu, tapi aku mengasihani ketidaktahuanmu tentang apa yang sedang terjadi“
Sang macan merasakan nada keperdulian, bukan ancaman.
“Seberapa tinggi keangkuhanku, andai aku tak menangisi perasaanku sendiri ?”
“Menangislah demi kejujuranmu pada perasaanmu, segala beban karena kesalahan di masa lalu akan terurai bersama air mata yang berjatuhan”
“Sekian pertanyaan berkecamuk dalam diriku, kata mengapa dan apa yang harus dilakukan menjadi satu-satunya warna di permukaan lukisan. Mengapa kata-kata bijak yang selama ini menjadi kekuatanku meninggalkan aku dan berbalik menghakimiku. Andai dirimu adalah perantara semua bisikan, andai dirimu adalah sang pembawa lentera, sinarilah jiwaku agar aku dapat kembali menikmati terangnya dunia”
Sang rajawali tersenyum, menyambut kata-kata sang macan dengan hati terbentang. Gambaran masa lalu perlahan hadir seiring hembusan angin. Mengurai satu demi satu cerita suram di setiap lelikuan, mengalir sesegera sebelum senja tiba mencari mangsa.
“Tahukah dirimu siapa sebenarnya pemilik kata-kata bijak ? Tahukah dirimu kekuatan yang ada dibaliknya ? Kata-kata bijak ibarat pedang bermata dua. Pada saat semesta sedang berpihak, dikala jiwamu sedang bermesra-mesra dalam buaianNya, kata-kata yang mengalir lembut seiring tarian lidahmu akan menawarkan rasa nyaman pada mereka dan juga pada dirimu sendiri. Namun andai dirimu lupa dimana meletakkan sarungnya, kata-kata akan menjelma pedang terhunus yang menebar ancaman. Andai dirimu tak mampu mengendalikannya kata-kata akan memperdaya jiwa mereka sekaligus jiwamu sendiri”
“Andai Sang Pemilik Kata-kata menghendaki aku mengerti bahwa kata-kata bijak adalah permainan jiwa, mengapa aku diijinkan membutakan kedua mataku sendiri ?”
Sang rajawali tertawa, “Bukankah dirimu telah menyadari pesona agung dibalik kata-kata ? Bukankah segala pesona yang kau tebar di sepanjang jalan kehidupan adalah demi keuntunganmu sendiri ? Bukankah sekian siasat dan tipu daya juga tak lepas dari kata-kata ? Seberapa banyak yang terluka ? Seberapa banyak air mata yang berjatuhan menjelma telaga ? Bukankah sewajarnya andai dikemudian hari dirimu menuai ketidakberuntungan darinya ?”
Wajah sang macan memerah, darah dalam tubuhnya mengalir kencang diselimuti amarah. Namun bahasa tubuhnya terlalu lemah, kuku-kukunya pun seperti sembunyi karena malu. Rajawali kian tertawa, menyadari perasaan sang macan yang seperti dipermainkan takdir kehidupan. Sang macan kian tak berdaya, akhirnya dia menyerah ditikam gelisah.
“Sudahilah tertawamu, aku mengerti dirimu menertawakan kebodohanku bukan penderitaanku. Ketidaktahuanku akan makna sejati dibalik kata-kata dan kedangkalan pemahamanku akan permainan takdir telah menyesatkan aku. Kepada dirimu yang diijinkanNya bermain-main di taman hakekat, yang diberi olehNya kedua sayap, bimbinglah aku dari ketinggian langit agar dapat keluar dari belantara kegelapan ini“
Sang rajawali tak lagi tertawa, pijar kemilau biji sesawi terpancar di setiap kata-katanya, “Serahkanlah dirimu pada takdirmu, tak ada seorangpun yang mampu mengubah ketetapan takdir. Aku akan terbang meninggalkan dirimu, namun sepasang mataku akan selalu mengawasimu dari kejauhan. Akan kubiarkan dirimu terbentur dan terhempas, karena itu semua adalah jalan keluarmu dari belenggu keinginan dan keangkuhan diri. Agar dirimu menyerahkan tubuh dan pikiranmu pada jiwamu, dan membersihkan setiap sudut ruang alam bawah sadarmu. Demi penelusuran sebab akibat, demi mengulangi segala yang pernah terjadi dengan cara yang berbeda”

+ + + + +

Romeo kembali melangkah menelusuri takdirnya, berteman cahaya yang meracuni aliran darah dan merasuki jiwanya. Membiarkan jiwa mengubah sepasang kaki dan tangan, hidung dan telinganya menjadi sepasang mata. Membiarkan jiwa secara perlahan berkuasa atas segala hasrat dan keinginannya.
Tak lagi terpaku pada kata-kata bijak yang pernah didengarnya. Setia menanti hingga hakekat bersemayam dalam dirinya, hingga jati diri berkata-kata indah lewat mulut dan lidahnya dengan caraNya sendiri.



Wahai para kekasih,
duhai para perantara kata-kata
Jadikan dirimu menjadi lebih baik

melalui mereka
Jangan sebaliknya



**********************************************************

Thursday, November 25, 2010

IT TAKES A THIEF


Setiap sore hari, para pekerja sebuah pabrik roti memiliki tradisi pulang kerja berbekal parcel yang terkemas rapi. Selain roti, ada juga yang membawa selai buah, gula atau terigu. Parcel disesuaikan dengan divisi kerja mereka masing-masing. Mungkin lembaran uang adalah parcel bagi mereka yang bekerja di bagian keuangan. Sambutan hangat keluarga telah menanti kedatangan, parcel menjadi penentu utama di setiap penantian berhias senyuman.
Sementara di sore yang sama sang pemilik pabrik sedang pusing tujuh keliling, sebulan terakhir omset penjualan menurun tajam. Lesunya pasar berakibat persediaan menumpuk sesak memenuhi gudang. Disaat bersamaan biaya pengeluaran pribadi juga sedang menuntut perhatian. Pendaftaran anak sekolah, keperluan rumah tangga sampai mobil yang mulai dimakan usia dan menuntut untuk segera diganti datang secara bersamaan. Namun secara ajaib semua permasalahannya dapat teratasi dalam kurun waktu sebulan. Kemudahan demi kemudahan datang silih berganti. Informasi mengalir tiada henti memberi solusi. Secara perlahan penjualan berbalik meningkat tajam, biaya pendaftaran sekolah mudah teratasi karena fasilitas angsuran. Sebuah dealer mobil bersedia membeli mobil lamanya dengan harga pantas, dan menukarnya dengan mobil baru disertai bunga angsuran ringan.

+ + + + +


Langkah kaki seorang karyawan bagian gudang terhenti di pintu gerbang. Pertanyaan sederhana si penjaga pabrik mengusik alam bawah sadarnya, menghujam akal pikirannya hingga aliran darahnya sempat terhenti seketika.
“Sudah berapa banyak gula yang kau curi ? Seberapa kaya dirimu sekarang ?”
Kata-kata itu meluncur datar tanpa sedikitpun intonasi meninggi. Menggelar nada perduli tanpa sama sekali mengisyaratkan unsur interogasi. Mengalir tajam seperti air terjun di pegunungan. Menembus dadanya hingga ke dalam sanubari. Memaksa hatinya serta merta untuk bicara mengurai kata demi kata.
“Sungguh tak ada niat dari diriku untuk memperkaya diri, semua hanyalah upayaku untuk menyikapi biaya hidup rumah tanggaku yang kian hari kian meninggi”
“Apakah pemilihan sikapmu menyelesaikan masalahmu ? Apakah dengan cara itu berarti dirimu telah tercukupi ?”
Sang karyawan mencoba untuk bertahan, meski cadarnya kian terkoyak-koyak pedang tajam berhias lentera.
“Adakah langkah yang pasti dalam situasi seperti ini ? Andai perbuatanku adalah sebuah dosa, mengapa bukan kemiskinan yang dipersalahkan ?”
Si penjaga pabrik memperbaiki posisi duduknya, ibarat seorang raja yang sedang menghadapi rakyatnya yang berselimut kebodohan. Nafasnya sangat teratur, aura kasih nan teduh terpancar di setiap kata-katanya yang meluncur. Meskipun dia memiliki kekuatan untuk memangsa kebodohan dihadapannya, namun dia memilih sikap sebaliknya.
“Aku tak bermaksud mengukur kedalaman imanmu, karena itu bukan hak ku. Tahukah kamu siapa yang berkuasa dan berkehendak atas segala situasi ? Andai situasi yang dipersalahkan, siapa sebenarnya yang kau persalahkan ?”
Sang karyawan terdiam, darah di sekujur tubuhnya semakin mengalir kencang. Hembusan angin menerpa wajahnya yang kuyu dan berdebu, lalu lalang para karyawan yang pulang kerja menjadi terabaikan. Teralihkan oleh percakapan yang kian menghangat karena curahan air hakekat. Kata-kata si penjaga pabrik menyudutkan dirinya di tembok batas keangkuhan, hingga tak kuasa lagi sembunyi di balik tabir pembenaran diri.
“Aku mengerti, aku lah yang bertanggung jawab untuk hidupku sendiri. Hanya aku yang layak dipersalahkan atas segala kemalangan yang aku alami. Namun aku sungguh tak tahu apa yang harus aku lakukan untuk menghentikan tangis anakku dan keluh ibunya. Mengapa Yang Maha Bijaksana tak membekaliku dengan petunjukNya ?”
“Hentikan segala cara yang pernah kau lakukan. Seberapa banyak yang kau curi tidak akan membuat dirimu tercukupi. Biarkan Yang Maha Kaya yang bekerja mencukupimu dengan caranya. Ketidakmudahan dan kemudahan selamanya akan berdampingan, bergantung pada pemilihan sikapmu. Perbuatanmu justru mendatangkan keberuntungan bagi pemilik tempat kerjamu, sebaliknya ketidakberuntungan akan menjadi bagian dari hidupmu. Dirimu akan semakin miskin, sementara dirinya akan semakin kaya. Karena dirimu mengambil sesuatu yang bukan menjadi hak mu”
Sang karyawan memadangi wajah si penjaga pabrik dengan penuh takjub, kilatan cahaya bak menghujani tubuhnya dengan jutaan makna. Semesta telah membasahi hatinya yang kekeringan, menghentikan mimpi buruk yang berkepanjangan. Menyadarkan diri dari sebuah kekeliruan, menawarkan cara pandang yang baru di khasanah pikiran.
“Betapa bahagianya aku andai keberuntungan menjadi bagian dari nafasku. Betapa bahagianya aku andai kemudahan berdetak seiring denyut nadiku. Saat ini aku mulai mencium aroma wewangian, dimanakah sesungguhnya letak kembang setaman ?”
“Yang kau petik adalah yang kau tanam. Andai yang lain bersiasat janganlah kau mengikutinya. Tanpa berkat dan kemudahan, seberapa banyak yang kau miliki tak akan pernah tercukupi. Perhatikan sekelilingmu, dimanapun kau berada. Lihatlah dengan jernih, maka akan engkau temukan orang-orang dengan penghasilan yang lebih sedikit, namun dengan beban yang lebih berat dari padamu. Namun wajah mereka senantiasa berhias senyum, syukur telah menjelma rasa di kedalaman hati. Merekalah orang-orang yang terberkati, yang memaksa para malaikat sibuk bekerja agar mereka tercukupi. Sebaliknya lihatlah mereka yang kaya dan tenggelam dalam kepalsuan dunia. Tidak sedikit diantara mereka yang mengeluh, pikiran mereka tak pernah berhenti mengaduh. Syukur dalam diri mereka hanya sebatas kata-kata, tak sedikitpun melibatkan rasa. Seberapa banyak yang kau terima, tanpa berkat yang menyertainya akan sia-sia”
Sang karyawan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Mencoba menahan air mata, seakan-akan malu andai pada saat itu malaikat tengah melintas dihadapannya. Gema adzan mahgrib mengakhiri percakapan, menyisakan rangkaian hikmah di tengah keheningan. Mereka sama-sama beranjak menyambut panggilan Yang Maha Agung berbekal renungan.

+ + + + +


Media tak henti-hentinya memuat berita tentang konspirasi dan korupsi. Sehebat apapun posisi mereka dalam bisnis atapun pemerintahan, mereka tak lebih dari hanya seorang pencuri. Tak terbayangkan jika mereka berbagi hasil curiannya dengan keluarga. Tak terbayangkan ketidakmudahan seperti apa yang akan menimpa anak-anak mereka, atau keturunan mereka di kehidupan selanjutnya. Mereka adalah orang-orang yang terjebak, sibuk menutupi kebohongan dengan kebohongan lainnya. Memeras kecerdasan dengan menggelar sekian siasat dan skenario untuk menutupi bau busuk. Berdalih sejuta alasan demi pembenaran yang bukan kebenaran, dan telah lupa bahwa hidup sejatinya adalah sebuah pilihan.
Namun sehebat apapun mereka hanyalah manusia biasa, yang lupa bahwa Tuhan diatas sana adalah jagonya tipu daya.



Andai manusia meyakini
yang dipetik adalah yang ditanam,
semestinya mereka memahami
bahwa kebetulan yang tidak menyenangkan
adalah bentuk kesengajaan Tuhan



**********************************************************

Sunday, October 31, 2010

IF YOU LEAVE ME NOW


Sendiri di tepi dermaga, menatap laut luas hingga batas cakrawala. Birunya langit sama seperti birunya hati, menyekap kerinduan yang selamanya tak pernah berhenti. Sementara burung-burung camar tersenyum menyeringai, mengusik kepedihan yang tak akan pernah terwakili. Sungguh tawar wujud kearifan, semua terasa datar di permukaan. Meski semerbak angin laut kian menusuk hidung, bahagia dan sakit hati mesra bersanding di tahta keseimbangan.
Kini tak ada lagi yang tersisa, semuanya telah jelas makna. Karena cinta telah menemukan jalannya. Bukan untuk siapa-siapa, melainkan untuk cinta itu sendiri. Cinta telah utuh tanpa harus terus disentuh. Tiba waktunya untuk mengembalikan cinta pada pemiliknya, melalui mereka yang membutuhkanNya.
+ + + + +
“Wahai bulan di atas sana, dua kali dirimu meninggalkan aku. Mengapa harus dua, bukannya satu ? Adakah yang berikutnya ? Masih adakah hikmat cinta yang belum dibagikan untukku melaluimu ? Sungguh tega dirimu, betapa beruntungnya aku. Kekejamanmu membangunkan setiap sisi alam bawah sadarku. Membuka pintu hatiku untuk pertama kali, sebelum mempertemukanku dengan cinta-cinta lain yang juga tak pernah bisa aku miliki. Hingga akhirnya aku bisa bermain-main dengan malaikatNya di taman hati. Demi menyelami kedalaman para pemilik jiwa yang terberkati. Lewat semua bunga liar di tepi jalan, yang semoga telah usai kurapikan untuk mempercantik kehidupan.
Mungkin akan berbeda jika aku diijinkan bermesra-mesra di atas awan dengan dirimu lebih lama, membelai wajah eksotismu bersambut hangat pelukan. Menyanyikan lagu-lagu cinta yang tak ada habisnya, seiring jemariku menari-nari di atas dawai gitar tua. Sementara dirimu sibuk sendiri membaca bait-bait puisi, berdesah lembut menyentuh setiap jengkal belahan bumi. Mengurai keajaiban cinta lewat makna demi makna, membasuh kemurnian jiwa dalam buaian semesta. Namun selanjutnya tetap sama juga, takdir tak pernah menawarkan kisah yang berbeda. Akhirnya gerimis hadir juga mengawali tangis. Mengairi sungai-sungai hingga ke samudera cinta, menebar kepedihan hingga ke ujung dunia. Meratap-ratap pada sinar mentari, menunggu panggilan langit untuk kembali ke dekapanNya.

Yang Maha Cinta tak akan pernah mengijinkan para hamba mabuk cintaNya, bahwa sakit hati tak perlu di tebar di setiap pelataran jingga. Cukup kita berdua yang mewakilinya, agar yang lain bahagia sewajarnya. Tanpa mereka harus tahu darimana asalnya wangi bunga.
Oh bulan di atas sana, kini aku tak lagi memiliki kata mengapa. Karena sekelumit kehadiranmu telah memperjelas segalanya. Meski dirimu tak sepenuhnya menyadari arti keberadaan diri, namun keindahan senyum mu sudah cukup bagiku untuk melihat indahnya kehidupan. Binar matamu sudah menjawab atas semua pertanyaan. Kehidupan adalah kehidupan. Ada arti dibalik arti, ada makna di atas makna. Ada hidup namun ada sejatiNya hidup. Betapa naifnya aku jika masih mempermasalahkan segala kesombongan dan kepura-puraan, selama kerapuhan dapat tersimpan rapi di kedalaman. Betapa bodohnya aku jika masih memuji dirimu setinggi langit, selama makna perantara masih dekap erat pijakan bumi. Biarlah semuanya tetap menjadi rahasia, aku akan setia menyambut semua kata-kata bersayapmu dengan degup jantung dan segaris senyuman. Aku hanya berusaha meletakkan cinta pada tempatnya, di relung hatimu yang paling dalam. Cinta yang pernah memporak-porandakan semua logika agar aku bisa melihat kehidupan dari sisi yang berbeda. Cinta yang pernah menjembatani semua perbedaan agar aku tidak mengingkari namun menyikapinya. Cinta yang aku ingin sekali dirimu bagikan sebagai jalan berkat bagi mereka yang membutuhkan. Hatiku sungguh seluas samudera dan seluas jagad raya, bawalah dan bagilah sesukamu. Dirimu akan menyaksikan keajaiban demi keajaiban yang mereka sebut serangkaian kebetulan. Karena keajaiban telah ada dalam dirimu. Selama Yang Maha Hidup masih berkenan menafasimu.

Cinta tiada pergi, kupu-kupu selalu setia menyambangi bunga demi bunga. Sebagaimana harapanku ketika langit mengembalikan dirimu dengan caranya sendiri. Kini untuk yang kedua, ijinkan aku melepasmu dengan cara yang berbeda. Aku tak akan memaksa hatimu untuk selalu berpaling padaku. Karena hatimu milik Yang Maha Agung, yang suatu saat nanti akan mempersatukannya dengan hatiku di depan altarNya. Tak seperti dulu ketika bunga-bunga melayu melihatmu berlalu, kini langit bercahaya dengan pijar warna-warna. Cinta telah melengkapi dirimu dengan dua sayapnya, bahagia dan sakit hati. Biarkan semuanya mengalir dengan lebih sederhana. Tanpa harus menggores luka baru di kanvas kalbu. Untuk mengurai satu demi satu sisa-sisa keangkuhan diri di perjalanan waktu. Terbanglah tinggi sesuka hati, semoga sayapmu telah sempurna.

Bulan oh bulan, wujud seperempatmu menyungging senyuman. Biarkan cinta selamanya hidup, mencintaimu sampai mati lewat jalan mendaki anak-anak tangga biji sesawi. Agar suatu saat nanti bisa menjadi bintang gemintang, bersanding denganmu di tingginya langit. Bersama berbias cahaya di kegelapan malam, menghiasi kehidupan di alam keabadian”

+ + + + +

Dermaga itu tak lagi sepi, mentari perlahan-lahan mulai meninggi. Lalu lalang manusia kian riuh di hadapan, namun rasa sendiri masih bergayut menari-nari. Kehidupan telah kembali berjalan seperti biasa, menggelar permainan takdir di atas panggung sandiwara. Nyanyian cinta di padang rumput tak lagi terdengar, namun Sang Gembala Agung akan selalu meminjamkan telingaNya di kejernihan hati. Untuk mendengarkan denyut nadi kita sendiri, yang akan selalu merindukan cinta sejati.


Selamat jalan cinta





**********************************************************

Friday, October 22, 2010

JANGAN TAKUT GELAP


Seorang pedagang kelontong sedang termenung sendiri di ruko kontrakannya. Sepinya pembeli dari waktu ke waktu semakin terasa menyesakkan dada. Seluruh elemen penentu situasi sudah dia pelajari jauh-jauh hari, termasuk segala hal yang mempengaruhi daya beli. Suara jeritan pedagang lain juga sudah dia dengar, cerita-cerita kesuksesan pun masih jelas terngiang-ngiang. Namun itu semua kini tak membantunya, jelajah pikirannya sudah tak tentu arah. Tak ada satupun yang memberinya sedikit ruang untuk sekedar menghela nafas. Tak ada lagi segaris senyum, dahinya tak henti berkerut, semangatnya tinggal sisa-sisa. Asa kian terbenam dalam lautan keluh.
Segala skenario telah dia siapkan untuk menyikapi berbagai kemungkinan yang terjadi sebagai konsekuensi. Namun tidak untuk kali ini. Sewa ruko yang kian meninggi, harga barang yang semakin tak terbeli, kebutuhan rumah tangganya yang tidak sedikit, semua berbalik arah menghantamnya bertubi-tubi. Dia tak kuasa lagi menanggungnya seorang diri. Terhimpit di dinding pembatas, dan berharap dinding itu berubah menjadi ilusi tiga dimensi. Agar dia bisa menembusnya untuk melarikan diri dari situasi.
Di tengah kegelapan malam, setiap usai satu hari yang terlewati, dia selalu bertanya pada diri sendiri, “Bagaimana dengan esok hari ?”
+ + + + +

Seorang karyawan perusahaan swasta sedang bermuram durja. Hatinya sedih berbalut nelangsa. Rentang manajemen yang sedemikian lebar membuat keberadaannya semakin terasingkan. Rekan-rekan sejawat yang berlomba-lomba mencari muka sang atasan memaksa dirinya semakin terpinggirkan. Sang atasan kian hari kian subyektif, terjerat manis muka tanpa kesungguhan karya. Semua kebijakannya hanya bertumpu pada rasa suka dan tidak suka. Kesalahan para penjilat sangat mudah terampuni, sementara kesalahannya yang sedikit bersambut kemarahan berapi-api. Semangatnya kian memudar, dia hanya berharap malam berjalan lambat tanpa harus cepat-cepat berganti pagi.
Rasa tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga telah beralih menjadi beban. Kewajiban menafkahi dan keinginan melarikan diri dari situasi tiba-tiba menjadi sebuah pilihan. Masa-masa disaat menjalankan semua tanggung jawab tanpa perasaan terbebani telah terlupakan. Pekerjaan dan keluarga menjelma dua dinding tebal yang menghimpit dirinya, kian hari kian sedikit udara yang tersisa. Bayangan buruk tiada henti menyertainya. Menguasai setiap sudut ruang pikirannya dengan pertanyaan yang sama, “Bagaimana dengan esok hari ?”
+ + + + +
Saat mendung terlihat semakin pekat, siapapun pasti berpikir akan terjadi hujan. Sungguh tak terbayangkan bila disaat itu seseorang sedang berada di sebuah tanah lapang yang luas tanpa satu pun pohon untuk berlindung. Ketika kegelapan datang mendekat, kemana manusia akan berlari jika tak terlihat setitik cahaya ? Dimanakah cahaya di saat-saat yang paling dibutuhkan ? Apakah Tuhan Yang Maha Kasih pernah mengingkari umatnya ?
Di tengah kegelapan para penyambung lidahNya selalu berusaha mengingatkan untuk tetap bersabar, bahwasanya kemenangan sudah dijanjikan. Dan hanya kepada manusia kemuliaan yang sesungguhnya diperuntukkan. Sementara Tuhan di atas sana terkenal sangat gemar menguji kesungguhan iman umatnya.
Namun ketika kegelapan kian menyiksa, tak sedikit yang mengabaikan semua peringatan. Karena merasa telah melakukan segala yang diperintahkan, namun tak kunjung mendapat jawaban. Selanjutnya mereka mulai menanyakan batas kesabaran. Bahkan tak sedikit yang terjerumus menyangsikan kebesaran hikmah dari sebuah kesetiaan akan Tuhan. Seolah-olah bukti-bukti kekuasaanNya yang telah dibuktikan para Nabi masih belum cukup bagi manusia yang hidup di jaman terkini.
Sejatinya seseorang akan terhindar dari hujan atau akan menemukan sebuah pohon rindang untuk berlindung, apabila terus berjalan tanpa sekalipun berpikir kapan hujan akan datang membasahi dirinya. Seseorang akan melihat terang cahaya jika tak melarikan diri dari kegelapan tapi justru menghadapinya. Sebagian yang telah membuktikannya sering dijumpai sebagai pembawa kisah kesaksian. Mereka yang telah menemukan dan membuktikan hikmah kesetiaan setelah melewati setiap cobaan. Mereka yang telah mengerti bahwa sikap sabar sesungguhnya mempercepat pekerjaan Tuhan, dan hanya Tuhan yang maha tahu letak batas kesabaran.
Untuk alasan itulah para Nabi dijadikan sebagai yang terpilih, sebagai saksi akan keagungan kasih sayang Tuhan dibalik serangkaian ujian. Kisah-kisah inspiratif yang tak lekang oleh jaman, karena ujian yang diperuntukkan bagi mereka sungguh maha dahsyat. Jauh melebihi yang dibebankan pada manusia di jaman terkini yang lebih suka mengeluh sebelum dipaksa menerima dan menelusurinya.
Kisah-kisah perjalanan spiritual yang luar biasa, yang abadi hingga mampu melintasi sekian generasi. Yang sejatinya menyampaikan pesan agar manusia tak mudah menyerah, atau tidak mudah berpikir untuk menyerah. Tak hanya menunggu-nunggu hingga kegelapan itu benar-benar datang. Namun dengan gagah berani menghadapinya tanpa rasa takut. Berusaha berpikir tentang sesuatu yang baru, untuk melakukan hal-hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Agar menjadi lebih baik, menjadi manusia yang ber-Tuhan, yang tak pernah takut dengan semua perubahan. Karena sebenarnya kegelapan bukanlah ancaman, melainkan panggilan alam untuk menyikapi perubahan. Sementara manusia sendiri tak pernah menyadari, bahwa tempat lamanya berpijak semakin lusuh dan sarat dengan duri-duri yang berserakan. Ruang dan waktu akan selalu berganti, sudah selayaknya manusia tak mudah berpuas diri. Sekedar bertahan dengan beradaptasi dengan perubahan adalah tidak sama. Berpulang pada pilihan manusia, untuk sekedar mencari sebatang pohon untuk berlindung atau mencari hutan belantara yang sarat dengan pohon rindang dan hijau dedaunan.
Ada sebagian kecil diantara mereka yang lebih suka mencari lahan subur untuk ditanami. Meski dalam penantiannya yang panjang, sebelum tanamannya tumbuh menjadi pohon besar mereka rela bermandi terik matahari dan berhujan-hujan bersama Tuhan.



Keadaan dan perubahannya
adalah permainan Tuhan
Sikapilah,
bermainlah bersama Tuhan,
jangan main sendirian,
dan jangan main-main



**********************************************************

Thursday, September 30, 2010

GOOD AND BAD


Dimata teman-temannya si smith adalah pecundang. Dalam satu ruang divisi pemasaran yang terdiri dari tujuh orang, smith memiliki kriteria yang komplet untuk mewakili sisi buruk setiap orang. Dia dianggap menjengkelkan, terkenal paling tidak disiplin, dan sulit diajak bekerja sama alias semaunya sendiri. Dia juga dinilai tidak memiliki insiatif dan memiliki pola berpikir yang sangat berbeda dengan rekan satu tim nya. Dalam waktu senggang smith sering menjadi topik pembicaraan, obrolan ringan yang berujung penilaian dan penghakiman. Namun di lain waktu smith adalah bahan bercanda dan ejekan. Sering membuat teman kerjanya tertawa dan terhibur karena kebodohannya.
Dimata divisi lain dan top manager, divisi pemasaran adalah tim yang solid dan hebat. Selalu melampaui target penjualan, tak ada persaingan yang tak dimenangkan. Eksistensi produknya di berbagai segmen pasar diakui oleh para kompetitor. Namun tidak seorangpun dari mereka yang tahu, bahwa prestasi tersebut diraih oleh sebuah tim kerja yang terdiri dari enam orang hebat dan satu pecundang. Seandainya tahu pun mereka belum tentu akan mempercayainya.
Suatu hari perilaku buruk si smith dilaporkan oleh salah satu dari rekan kerjanya pada atasan. Tak lama berselang si smith mendapat surat perintah untuk segera angkat kaki alias di phk. Penggantinya adalah seorang yang memiliki sikap disiplin yang tinggi, berinsiatif kuat dan sangat kooperatif. Namun perkembangan selanjutnya sungguh diluar dugaan. Semakin sering terjadi gesekan dan benturan ego yang berujung kesalahpahaman. Kekompakan yang telah terjalin sekian lama semakin memudar. Hasil kerja tim kian hari kian mengecewakan. Target tak pernah lagi tercapai, apalagi terlampaui. Memaksa para top manager untuk melakukan evaluasi besar-besaran.
+ + + + +
Di luar lapangan maradona dikenal berperilaku buruk. Perlu kesabaran tingkat tinggi untuk bisa menerima keberadaannya di ruang ganti, seperti yang dilakukan si pelatih dan sepuluh temannya di piala dunia 1986 mexico.
Namun di atas lapangan sikap individualistisnya berpengaruh besar dalam menentukan hasil akhir. Kebesaran hati sang pelatih dan sepuluh pemain lainnya ikut berperan menciptakan kebersamaan yang menakjubkan. Mereka menjadi jawara, berkuasa di singgasana selama empat tahun. Sebagian yang fanatik menyebut maradona sebagai titisan dewa, para kritikus berebut memujinya setinggi langit. Tak ada satupun dari mereka yang berbicara tentang sisi buruknya. Untuk tahun-tahun berikutnya maradona tak pernah berhenti menghiasi media, namun tidak bagi teman-temannya yang berlapang dada ikut menyebutnya sebagai legenda.
+ + + + +
Seseorang akan kehilangan cita rasa kopi andai gula dituangkan secara berlebihan. Hujan yang turun terus menerus tiada henti akan mengganggu aktivitas manusia, bahkan besar kemungkinan mengakibatkan terjadinya banyak bencana. Manusia akan kehilangan kehidupan andai matahari tak berhenti bersinar selama dua puluh empat jam penuh. Siang dan malam laksana gambaran tentang kebaikan dan keburukan yang merujuk pada takdir semesta bertajuk keseimbangan.
Mengingkari sisi buruk orang lain sama artinya dengan mengingkari sisi buruk diri sendiri. Menilai dan menghakimi sisi hitam pada orang lain hanya menjebak diri pada konstelasi sisi putih yang hanya bersifat simbolis. Yang pada akhirnya menjauhkan diri dari makna kedalaman dan melahirkan sikap fundamentalis.
Enam orang tim pemasaran tak menyadari bahwa sisi buruk mereka terwakili dalam diri si smith. Mereka lebih tertarik memberi penilaian dan penghakiman dibanding bercermin. Ketika smith angkat kaki, sisi buruk muncul dan menyebar dalam ego masing-masing. Tak ada lagi kekompakan, chemistry menghilang karena kebaikan dan keburukan kehilangan keseimbangan.
Maradona adalah manusia biasa, sisi baiknya yang luar biasa sama besar dengan sisi buruknya. Keseimbangan dalam wujud kebersamaan tercipta karena sang pelatih dan teman se-tim nya bisa menyikapi keduanya, bukan sekedar menilai atau menghakimi sisi buruk sang legenda. Andai mereka tak berbesar hati, andai maradona adalah seorang yang biasa-biasa saja, mungkin argentina tak pernah menjadi juara.



Ada kebaikan karena ada keburukan
Ada keburukan karena ada kebaikan
yang terlena dan alpa
Keduanya senantiasa berdampingan
demi keselarasan
demi cerminan diri
demi keseimbangan
dalam kehidupan yang ber-Tuhan




**********************************************************

Thursday, September 16, 2010

SATU HATI


Ketika waktu menjadi satu-satunya sandaran yang tersisa, tiada lagi dua. Semua satu adanya. Degup jantung berdetak seirama walau jasad terpisah jarak ribuan depa. Terkadang perasaan sedih tanpa alasan hadir begitu saja, menyampaikan kesedihan yang sama di seberang sana. Lautan boleh luas, jagad tetap saja tak bertepi, namun hati tiada lekang menjembatani. Bak benang sutra halus yang tiada putus, memupus jarak berselimut rasa nan tulus. Menyapa mega-mega yang rapat berarak, bersenyawa dengan hembusan angin seiring tarikan nafas. Tak ada yang dibuat-buat, karena sedikit yang terungkap dapat mempersempit jarak. Meski semesta masih pelit berbisik tentang kemana arah tujuan. Pedih perih mengantar jiwa melayang, kaki berpijak tiada henti diterpa cobaan.
Jangan tanyakan seberapa sakitnya, karena bahagia tak lagi menampakkan wujudnya. Rupa keindahan hanyalah tinggal kenangan, terukir rapi di prasasti cinta di tepian telaga. Meski batu-batu itu tak pernah bicara, udara di dalamnya adalah saksi saat-saat bersama. Perjalanan hidup yang penuh likunya, setia merengkuh peluh di batas asa. Jatuh dan jatuh lalu jatuh, katanya. Saat dirinya terkapar dan terhakimi di sudut ruang, sementara tangan mereka menggenggam berlembar-lembar catatan kesalahan. Apakah salah akan tetap dianggap salah, tanya nya. Apakah salah akan menjadi tambahan nama, tangis nya. Nestapa tak lagi mampu bersembuyi dibalik senyum manisnya, isak tangis mengkoyak tabir tawanya, sakit hati meruntuhkan dinding keangkuhannya. Jeritan hatinya membelah langit, membangunkan dewa-dewa dari tidur lelapnya. Para malaikat pun turun merasuki persendian, mengulurkan jemari suci di permukaan sendang. Membasuhi wajahnya yang sarat dengan air mata. Menawarkan cinta dengan kedua sayapnya.

Kini gadis kecil itu tak lagi menggigil, semesta telah menghangatkan tubuh rapuhnya dengan belaian tegur sapa. Seiring bersama menjemput kedewasaan di alam kesendirian, menjangkau birunya langit berteman kesepian di relung hati yang paling dalam. Namun keagungan cinta harus ditebusnya dengan duka lara. Lewat kerinduan yang mengalir lembut di setiap aliran darahnya. Ruang dan waktu semakin menjauh, menanti cinta mencari sendiri jalan keluarnya. Dia hanya berharap pada sang angin untuk menyampaikan kerinduan, dan membalasnya kembali dengan syair-syair cinta nan indah dari tanah seberang. Walau sang waktu tak pernah berpihak, meski ruang tak pernah utuh, dengan nafas cintanya dia tak henti berkayuh. Karena seberapapun yang ada ruang dan waktu tak akan pernah cukup. Dunia terlalu sempit, ladang cinta yang ada terlalu sedikit, tak mampu melingkupi cintanya yang bergelora. Harapannya terungkap pada baris-baris doa, agar semesta sudi memberinya secawan anggur penuh cinta. Agar dirinya bisa mabuk bermesra-mesra di sisa hidupnya. Agar bisa seperti darwis yang membebaskan jiwanya menari-nari di taman hati. Selebihnya adalah rahasia, cinta hati yang tak mampu dijelaskan dengan kata-kata. Kekasihnya adalah cintaNya.



Aku membayangimu namun tak mengganggu,

berpalinglah maka aku tiada
Aku mendorongmu namun tak mencampurimu,
berjalanlah maka cintaku ada
Aku mengangkatmu namun tak merubah takdirmu
karena kamu milikNya

Kamu cintaku sampai mati
karena membawa separuhku
Bawalah untukmu jangan untukku
Terbanglah tinggi sesuka hati
agar kamu dapat menggapai bintang di langit




**********************************************************