Tuesday, May 11, 2010

TRALALA-TRILILI

Di sebelah utara propinsi bengkulu terdapat sebuah hutan alami bernama baganti. Letaknya tepat berdampingan dengan desa sibayang. Hutan itu tak ubahnya taman bermain bagi warga desa, sebuah potret kebersamaan yang telah berjalan sekian lama. Perpaduan yang tak terpisahkan mengingat hasil alam dan keindahannya yang sangat menjanjikan.
Selain segala sesuatu yang dapat dipetik, keberadaan primata di hutan itu sudah menjadi bagian dalam menjalani kehidupan. Suara-suara yang muncul dari dalam hutan sudah akrab didengar, dari kicauan burung di pagi hari hingga auman harimau yang menggelegar. Salah satu yang paling disukai warga desa adalah kicauan burung kutilang sutra yang konon termasuk kategori satwa langka.
Dibanding yang lain kutilang adalah yang paling nyaring bunyinya dan paling sering mendominasi suara. Kutilang adalah penyanyi utama, sedangkan burung-burung lain adalah paduan suara sebagai latar belakangnya. Meski burung-burung lain juga suka bernyanyi, namun ketika kutilang mulai bersuara mereka semua akan terdiam seribu bahasa. Dimata mereka kutilang sutra dikagumi sekaligus dibenci. Karena sering kali mereka terpaksa harus diam untuk memberinya cukup ruang.
Suatu hari si kutilang sutra tengah bernyanyi di atas dahan, di tepi hutan yang berbatasan langsung dengan desa sibayang. Semua warga desa ikut berdendang bersama si kutilang, tak ketinggalan si rupawan. Bukan karena wajahnya namun karena demikianlah dia oleh orang tuanya dinamakan. Rupawan sama sekali tak memiliki teman, dia lebih suka menyendiri di dalam gubuknya yang sederhana. Karena teman-temannya lebih suka mengolok-olok dirinya dengan panggilan si buruk rupa. Entah mengapa satu desa juga lebih suka memanggilnya dengan sebutan yang sama. Mungkin karena matanya yang besar sebelah dan tulang hidungnya yang bengkok tidak sempurna, atau mungkin juga karena bibirnya yang sumbing seperti buah belimbing. Namun dia sudah tidak perduli dengan kata orang, kesedihannya sudah tersimpan rapi di relung hati yang paling dalam. Takdir telah berkata tegas pada dirinya bahwa dia adalah tetap si rupawan.

Si rupawan sangat mengagumi keindahan suara si kutilang sutra. Setiap mendengar kicauannya, keindahan dan kemolekan si kutilang telah terbayang di alam khayalannya. Ketika hari itu dia mendengar kicauan begitu dekat, dia segera beranjak menelusuri asal suara. Setelah akhirnya dia menemukan si kutilang sutra yang sedang bertengger di atas dahan, si rupawan termanggu berjam-jam menikmati keindahan yang ternyata melebihi seluruh fantasinya.

Ketika si kutilang sutra berhenti berkicau sejenak mengambil jeda, si rupawan memberanikan diri untuk menyapa, “Hai cantik, sudah lama aku mendengar keindahan suaramu namun baru kali ini aku bisa menikmati kemolekanmu”

Si kutilang sutra tersenyum tersipu-sipu. Dia berusaha keras agar tidak terjatuh dari dahan karena pujian itu, “Siapakah dirimu, mengapa memujiku setinggi itu ?”

“Aku adalah rupawan, kamu sungguh layak dipuji karena keindahanmu semerdu suaramu”

Pujian dari makhluk bernama manusia membuat si kutilang kian mabuk kepayang. Namun dia tidak tahu bahwa rupawan hanyalah sekedar nama atau perlambang.

“Jika setiap pagi kamu bertengger disitu, aku akan selalu berdiri disini mendengar kicauanmu”

Si kutilang mengepakkan sayapnya yang berwarna kuning keemasan. Dia tak sabar untuk memamerkan setiap kata pujian dari manusia rupawan kepada seluruh penghuni hutan, “Esok pagi aku akan kembali”

Si kutilang beranjak terbang, diiringi senyum mengembang dan lambaian tangan.

+ + + + +

Setiap pagi si kutilang selalu berada di dahan yang sama. Si rupawan selalu setia mendengar kicauannya. Seiring waktu mereka kian dekat, hingga nyaris tak ada jarak. Kata-kata yang terucap pun semakin mempersempit semua ruang gerak.

“Aku akan sungguh-sungguh berbahagia jika kamu bersedia tinggal di pondokku. Aku akan selalu menyediakan waktu untuk mendengarkan semua nyanyianmu. Suasana persemaianku akan semakin syahdu jika kamu sudi berkicau sepanjang waktu”

Hari itu adalah hari paling indah bagi si kutilang. Dengan suka cita dia turun dari dahan dan hinggap di lengan si rupawan. Sesampai di rumah, si rupawan membuatkannya sebuah sangkar besar berwarna keemasan. Si rupawan memenuhi janjinya, dia merawat si kutilang dengan penuh kasih sayang. Tak pernah lupa memberinya minum dan makan, dan selalu setia mendengarkan semua tembang yang disuarakan si kutilang. Kapanpun si kutilang mau, si rupawan selalu menyediakan waktu. Setiap hari, tak perduli siang atau malam. Sepanjang waktu yang berlalu.

Untuk pertama kalinya si rupawan memiliki sesuatu yang bisa mewakili keberadaanya. Dengan bangga dia memamerkan si kutilang pada semua warga desa. Namun dia tak mengijinkan siapapun menyentuhnya.

Burung-burung di tengah hutan sedikit keheranan karena suara kutilang tak lagi terdengar. Sebenarnya mereka juga merasa kehilangan, namun ruang kebebasan yang kini ada membuat si kutilang kian terlupakan. Mereka bisa berkicau kapan saja dan dimana saja, tanpa harus terganggu kehadiran si penyanyi utama.

+ + + + +

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, tanpa terasa sekian lama waktu telah berjalan. Entah mengapa si kutilang merasa sangkarnya tak sebesar di waktu silam.

“Bolehkah aku sesekali jalan-jalan di luar?”

Si rupawan tersenyum, “Jangan, di luar sana berbahaya. Terik matahari dan tetes air hujan bisa merusak warna bulumu yang indah”

Beberapa bulan kemudian si kutilang mengajukan pertanyaan yang sama, jauh lebih memelas dibanding sebelumnya.

“Mohon ijinkan aku jalan-jalan sebentar hanya untuk sekedar membuang rasa bosan. Aku berjanji akan kembali sesudahnya”

Si rupawan melirik tajam, “Jangan. Di luar sana banyak tangan-tangan jahat yang bisa merusak keindahanmu. Bukankah aku tak pernah bosan mendengarkan nyanyianmu”

Si kutilang mulai kehilangan kesabaran, amarah dan caci maki mengalir lepas tanpa tertahan. Kali ini si rupawan tak lagi melirik tajam, dia memandang si kutilang dengan senyum mengembang, “Kicauanmu adalah yang terindah di dunia”

+ + + + +

Hari demi hari berlalu begitu saja, tanpa ada satupun perubahan yang nyata. Benih-benih kebencian mulai tertanam dalam diri si kutilang. Permintaannya untuk keluar sangkar selalu diabaikan, semua amarahnya hanya berbalas senyuman si rupawan. Kebosanan bercampur kejengkelan menyatu dalam setiap kicauannya. Ketika nyanyiannya berubah menjadi jeritan tangis, asa yang tersisa kian tenggelam dalam genangan air mata. Burung-burung di hutan yang mendengar jeritannya bersatu menyambutnya lewat harmoni paduan suara tangis dan tawa.

Di suatu malam ketika si rupawan tengah tertidur, si kutilang kedatangan tamu. Seekor jalak putih bertengger di pagar pembatas, memandang si kutilang di dalam sangkar dengan wajah welas.

“Mengapa engkau begitu bersedih” tanya si jalak, “Mengapa hatimu menjerit hingga membangunkan setiap makhluk di kolong langit”

“Lihatlah diriku yang terbatas. Yang harus mengemis untuk sebuah kebebasan tanpa pernah terbalas”

“Bagaimana mereka bisa menangkapmu, tipu daya macam apa yang mereka lakukan sehingga kamu terperangkap disitu”

“Aku sendiri yang mendatangi sangkar ini, karena dia sungguh-sungguh menyukai kicauanku. Namun dia tak pernah mau lagi melepasku walau hanya untuk sesekali”

Jalak itu tertawa, “Nasibmu tak jauh beda denganku. Aku mendatangi sangkar majikanku karena dia memuja suaraku. Tak cukup sampai di situ, majikanku juga membawaku ke berbagai arena hingga meraih banyak piala. Namun sama seperti yang kamu alami, majikanku pun tak pernah mau melepasku”

“Mengapa mereka sejahat itu?”

“Menurutku mereka tidak sepenuhnya jahat. Mereka hanya dikuasai perasaan takut kehilangan. Selama di tempat itu aku juga diperlakukan dengan baik. Semua berawal dari keinginanku sendiri yang ingin selalu di dengar dan ingin selalu menjadi pusat perhatian. Hingga tanpa sadar aku harus membayarnya dengan kehilangan kebebasan”

“Lalu bagaimana akhirnya dirimu bisa membebaskan diri?”

“Majikanku sudah sangat percaya kepadaku, sehingga dia sering membuka pintu sangkarnya begitu saja waktu memberiku makan. Suatu hari kesempatan itu aku pergunakan untuk meloloskan diri demi kebebasan yang telah lama aku tinggalkan”

Si kutilang mendengarkan cerita jalak putih dengan seksama, namun sepertinya dia tidak tertarik dengan penjelasan yang pertama. Bagaimana si jalak putih itu bisa melarikan diri lebih menginspirasinya. Jalak putih berpamitan dan terbang menuju ke hutan untuk menjemput impian. Meninggalkan si kutilang yang kembali sendiri dalam renungan, karena pertemuan itu memberinya secercah harapan.

+ + + + +

Di suatu pagi si rupawan tengah bersiap-siap memberi makan. Di dalam sangkar si kutilang tengah menunggu saat-saat pintu sangkarnya dibuka, saat dia akan memanfaatkan sedikit apapun celah untuk bisa membebaskan dirinya. Ketika akhirnya pintu terbuka dan si rupawan sedang memasukkan makanan dengan tangan kirinya, si kutilang langsung melesat menerobos sedikit celah yang ada. Sepersekian detik si kutilang telah berada di luar pintu sangkar, alam kebebasan telah terlihat jelas di depan mata. Namun keberuntungan si kutilang tak bertahan lama, tangan kanan si rupawan bereaksi cepat dengan menangkap sebagian tubuhnya. Si kutilang meronta-ronta mencoba untuk melepaskan diri, namun si rupawan semakin kuat mencengkeramnya dan melemparkan tubuhnya kembali ke dalam sangkar. Pintu tertutup seketika seperti semula, usahanya hanya berakhir sia-sia.

Si rupawan memandangnya dengan wajah sedih dan berlinang air mata, “Mengapa engkau hendak meninggalkan aku, bukankah aku telah memberikan semua hidupku untukmu ?”

Ketika kemudian si rupawan beranjak dari sangkar, si kutilang masih dikuasai kejengkelan karena usahanya melarikan diri telah gagal. Kesedihan dan air mata si rupawan tak berhasil menaklukkan hatinya yang masih dikuasai rasa kecewa. Ketika si rupawan datang kembali dengan sebuah gunting di tangan, ekspresi kutilang mendadak berubah menjadi ketakutan. Sesuatu yang buruk akan menimpanya, jauh lebih mengerikan dibanding sebelumnya.

Si rupawan mencengkeram tubuh si kutilang, dan memotong kedua sayapnya dengan gunting ditangannya. Tubuhnya bersimbah darah, bulu-bulu jatuh berserakan mengiringi rasa sakit yang tak terbayangkan.

Si rupawan menangis dan bercucuran air mata, “Aku tidak menghukummu, aku hanya mengingatkan agar kamu tidak mengulangi perbuatan bodoh itu lagi. Kamu tidak perlu kemana-mana, hidupmu hanya untukku. Karena aku ada untuk dirimu”

Mata si kutilang tak mampu lagi terpejam, memandang langit dengan tatapan tajam. Semula yang berwarna biru seketika beralih kelabu. Tak ada lagi anak tangga baginya untuk mendaki, singgasana langit selamanya tak akan pernah terjangkau lagi.

+ + + + +

Tak ada lagi kicauan indah di pagi hari, musnahnya harapan sama artinya dengan berakhirnya kehidupan bagi si kutilang. Si rupawan menangis meraung-raung mengharapkan nyanyian, namun si kutilang hanya terdiam tak mengabaikan. Namun ketika si rupawan mulai marah dan mengamuk, si kutilang menjerit-jerit penuh ketakutan.

Wajah si rupawan sekejap berubah tersenyum, “Kicauanmu adalah yang terindah di dunia”
Semenjak itu si rupawan tak lagi menempatkannya di dalam sangkar. Si kutilang dibebaskan untuk berjalan-jalan sebatas di dalam halaman. Namun si kutilang tak lagi merasakan perbedaannya, karena langit tak sudi lagi mendengar jeritannya.
+ + + + +

Di suatu siang si rupawan tampak tidur terlelap. Mata si kutilang tertuju ke pintu pagar, meski tak lagi memilki harapan namun dia tergoda untuk melihat dunia luar. Dengan sepasang kakinya dia mulai melangkah menjauh meninggalkan si rupawan. Meski hutan itu belum sedikitpun terlihat namun jalan terbentang dihadapannya mulai menawarkan sebersit harapan.

Mendadak angin berhenti berhembus, rerumputan yang dia pijaki tak lagi hijau seperti sebelumnya. Dari kejauhan terdengar derap kaki serta jerit suara orang yang sangat dikenalnya. Dia mencoba terus berlari meski panasnya permukaaan tanah berubah menjadi geliat tarian api. Menerjang terjang menembus udara hingga dia tak lagi melihat setitikpun cahaya. Kegelapan telah datang kembali menguasainya.

Si kutilang telah berada di genggaman tangan si rupawan. Melemparkan tubuhnya ke dinding kamar dengan sumpah serapah dan jerit makian. Ketakutan si kutilang semakin menjadi-jadi ketika si rupawan kembali mengambil guntingnya. Tak lama kemudian dia memotong kedua kakinya sambil berlinang air mata. Anehnya si kutilang kali ini sama sekali tak merasakan apa-apa. Dia telah mati dalam hidupnya.

+ + + + +

Malam itu terasa dingin dalam buaian, menghantar sebagian orang menjemput eloknya peraduan. Namun mata si kutilang tak jua terpejam, dia berada di sisi rupawan yang telah terlelap setelah mendengar sekian nyanyian.

Dia hanya bisa melihat langit-langit kamar, tak lagi ada kemilau bintang dan cahaya bulan. Hanya lagu-lagu sedih yang bisa dia nyanyikan, sebagai pengusir waktu menunggu datangnya kematian. Selebihnya si kutilang tenggelam dalam kebisuan, tak lagi berdendang memperindah kehidupan. Hanya mereka yang memiliki kejernihan hati yang bisa mendengar jiwanya yang masih setia bernyanyi. Karena untuk alasan itulah dia diciptakan. Trilili, lililililili……




Dawai-dawai terdengar lembut menyuarakan nada

karena letaknya terpisah walau berada di satu harpa

Ketika mereka berhimpitan dan tak menyisakan ruang

tak ada lagi nada-nada kehidupan

Hanya suara tanpa jiwa
yang tak berarti apa-apa



**********************************************************