Thursday, July 26, 2012

PANAS TERIK DI PROYEK DOUBLE TRACK


Rangkaian besi memanjang itu, biasanya aku lihat dari atas kereta. Andai dekat terlihat di sebuah stasiun, paling kupandang hanya sekilas. Karena memoriku telah merekam penjelasan almarhum papaku, “Itu jalan untuk kereta, namanya rel”. Jadinya aku merasa sudah cukup tahu. Tak perlu seterusnya melihat lagi. Apalagi mengamati.
Tapi kali ini aku seolah dipaksa menatapnya setiap hari, tepat di depan mata. Panjang sekali….. Sejauh mata memandang hanya kaki langit yang jadi batasnya.
Bagai sebuah latar lukisan raksasa, dengan truk-truk berukuran sedang yang jadi ikon-nya, yang tampak hilir mudik datang dan pergi. Silih berganti menumpahkan berkilo-kilo tanah bercampur batu di sepanjang sisi rel. Seolah tak mengenal kata berhenti sebelum jalur panjang Jakarta-Surabaya terhabisi. Sementara buldozer dan back hoe loader meratakan dan memadatkannya, sebelum dianggap cukup kuat untuk ditaburi batu-batu kerikil sebagai alas rel serupa di sisi rel yang lama. Para reporter media televisi atau surat kabar menyebut aktivitas ini sebagai proyek double track atau pemasangan rel ganda.
Yang aku tahu rel sejajar ini bukanlah sesuatu yang baru. Sebelumnya sudah ada tapi berjarak pendek, seperti di stasiun atau di beberapa titik persimpangan tertentu yang sengaja dipasang demi menghindari tabrakan. Agar ada tempat untuk parkir sementara sembari menunggu kereta yang lain lewat.
Seperti yang pernah kualami, ketika sedang menumpang kereta kelas ekonomi menuju Jakarta. Sering kali kereta ekonomi berhenti sebentar di tengah perjalanan, tak hanya untuk menghindari benturan dari kereta yang datang dari arah berlawanan, tapi juga untuk membiarkan kereta yang dibelakang menyalipnya. Yakni kereta bertarif mahal yang sering disebut kereta eksekutif.
Kereta ekonomi nasibnya memang begitu, selalu berangkat duluan tapi sampainya pasti belakangan. Seolah memang ditakdirkan sebagai pembuka jalan. Jika rel ganda ini selesai dipasang, belum tentu kereta ekonomi akan sampai lebih cepat dibanding yang lain. Sesuai hukum bisnis yang berlaku, yang membayar lebih mahal sampainya pasti duluan.

* * *

Sekelompok pekerja memenuhi lokasi itu membentuk habitatnya sendiri. Tempat yang terpisah jauh dari peradaban kota, yang jaraknya dari desa terdekat mencapai lima kilometer, dan hanya bisa dijangkau dengan sepeda motor karena jalannya sangat tak memadai. Tempat yang sangat terbuka, yang menyambut sinar matahari dengan suka cita, tanpa terhalang karena tak ada satupun pohon untuk berlindung. Selain sepatu dan celana panjang, lalu jaket atau kaus berlengan panjang dan tentunya topi. Tanpa itu siapapun dijamin resmi terpanggang pada sore hari.
Seperti sawah kering yang ada di kanan kiri, bagai bukti kekejaman sinar matahari menghabisi mimpi panen para petani.
Orang-orang anti panas yang semuanya berjenis laki-laki itu memiliki beragam fungsi dan profesi. Supir truk, operator alat berat, para checker yang bertugas mengukur kubikasi kiriman tanah, beberapa pelaksana dan seorang pengawas lapangan berwajah garang. Jarang sekali wajah-wajah itu mengumbar senyum, seolah mereka kompak bersepakat senyum itu mahal. Gerundel, gerutu dan sumpah serapah lebih sering hadir sebagai menu utama. Seolah berada di tempat itu berarti pilhan yang bukan pilihan, atau sebagian lagi menyederhanakannya sebagai bagian dari siklus hidup, meski ada juga yang secara diam-diam menyebutnya sebagai nasib buruk. Sejatinya mereka juga memiilih bekerja di dalam kantor yang dilengkapi pendingin ruangan,  kursi empuk, kopi atau teh hangat di atas meja, dan lalu lintas makhluk hawa yang wangi parfumnya tertinggal di ujung hidung.
Sebenarnya itu semua penghuni benakku, tapi aku yakin mereka pasti berpikiran yang sama. Karena aku adalah bagian dari mereka. Sama-sama berada di tempat yang kuanggap sebagai manifestasi neraka kecil, dengan matahari sebagai satu-satunya ciptaanNya yang terpaksa jadi kawan, serta hembusan angin sesekali yang lebih mirip angin surga kesasar, dan debu-debu yang berterbangan dari tanah urugan.
Aku yakin tak ada satupun yang menyebut tempat itu istimewa seperti nama bulannya, Ramadhan.

* * *

“Jam 12” seru salah satu.
Sekejap mereka meninggalkan apa saja. Refleks meletakkan yang sedari tadi mereka genggam begitu saja, seolah jam itu yang sedari tadi mereka tunggu. Seolah jam itu adalah pertanda terbebas dari hipnotis panjang. Terbebas dari belenggu mantra sakti yang berbunyi “Demi menafkahi anak istri”, yang memperdayai mereka sejak pagi. Bebas untuk melakukan apa saja selain bekerja. Meski hanya satu jam.
Aku pun tak ketinggalan. Ikut memacu sepeda motorku menuju desa terdekat. Siap membuat warung kecil yang lebih menyerupai gubug itu jadi penuh sesak. Yang bangkunya terbatas hingga sebagian harus rela berdiri, untuk meneguk es teh segar dan melahap makan siang yang menunya sama dengan kemarin hari, sayur bayam dan lauk gorengan.
Si ibu penjual warung seperti biasa menyambutnya dengan senyuman khas orang desa, sementara pikirannya tetap berkalkulasi, hingga gelas-gelas es teh tersedia di atas meja tanpa diminta.
Aku termasuk sebagian yang berdiri, melihat gelas-gelas es teh itu dari kejauhan. Bukannya mengulurkan tangan untuk meraihnya, malah sibuk berpikir sendiri, “Inikah yang disebut perang?” Seolah yang tersaji di atas meja adalah maklumatnya.
Aku tak melihat pasukan. Tak juga senjata tajam seperti pedang dan perisai, atau artileri modern seperti yang sering kulihat di film-film. Apa yang sebenarnya sedang aku perangi? Sisi diriku sendirikah yang merintih kehausan?, Atau pikirankukah yang menerbitkan rasa lapar? Konon yang kalah katanya tak harus mengibarkan bendera putih. Artinya kalah bisa berarti rahasia alias nggak ada yang tahu. Yang menang juga tak bersorak sorai, malah tenggelam dalam isak tangis. What kind of war ?
Kata “istimewa” bak stigma yang kuat melekat, sampai aku takut berbuat. Satu jam itu pun terlewatkan begitu saja, tanpa es teh segar dan makan siang yang terakhir sempat kulihat mirip virus yang bisa mengotori kesucian kerongkongan dan lambungku, yang penuh dengan kaligrafi pilar-pilar keimanan. Aku takut kehilangan keistimewaan.

* * *

Kembali ke dunia keterasingan. Menatap rangkaian besi memanjang yang kian berkilau karena terik matahari. Berteman peluh yang tak kenal lelah menghiasi wajah. Sementara debu-debu yang berterbangan kian berani mengolesi bibirku yang kering dan lidahku yang terasa pahit. Semesta pasti mendegar jelas perutku menjerit.
Tapi perang itu tak bertahan lama. Ludah yang berkali-kali kutelan tak mampu lagi jadi penawar, setetes enzim kian tak berdaya oleh pesona segelas es teh segar. Diawali lututku yang gemetar, dan langkahku yang kini terhuyung mencari sandaran yang tak pernah ada. Rel panjang itu tiba-tiba terlihat bergelombang, juga orang-orang disekitaran. Aku bahkan sudah lupa dengan perjuangan Siti Hajar.
Ini fatamorgana, pikirku. Tapi ini kan bukan di gurun pasir, kataku lagi. Aku juga sedang tak ber- halusinasi oase dengan pohon kurmanya, sibukku menyadarkan diri.
Tapi aku tak sempat lagi bernegosiasi. Tak cukup waktu untuk berunding lebih jauh. Perang ini sepertinya tak mengenal akhir damai. Yang ada hanya kalah atau menang. Sedetik kemudian sepeda motorku kupacu lagi kembali ke warung tadi.
Warungnya masih buka, mejanya sudah kosong. Kecuali satu gelas es teh.
“Es tehnya lupa diminum nak…..” kata si ibu penjual warung.

* * *

Aku tak ingin menyalahkan pekerjaannya, atau paradigma “susah mencari kerja” yang sudah melegenda. Juga tempatnya yang terlalu berlebihan jika dianggap sebagai medan perang.
Mungkin karena aku terlalu miskin peduli, tak terlibat ber-euforia ketika Sya’ban datang mengawali Ramadhan. Sehingga perintah berpuasa seolah bisa kujalankan tanpa perlu persiapan. Peringatan “beratnya tak terkira” tanpa sadar begitu saja kuremehkan. Akhirnya aku bagai kehilangan kata kunci yang bisa menjaga keutuhan suasana hati. Seolah perang ini berakhir tanpa sempat kumulai.
Kini jiwaku lah yang kering, bukan lagi tempatnya. Kata sia-sia tak cukup lagi untuk mewakilinya.
Begitulah aku. Yang remeh, yang mungkin tak lebih baik dibanding mereka yang lebay Ramadhan. Tak sedetail pikiran Tuhan, yang telah merinci segala sesuatu yang berpotensi merusak keindahan perang.
Es teh itu pasti juga bukan pemberian Tuhan. Bonus hanya untuk mereka yang tampil di atas podium sebagai pemenang. Suatu hari nanti aku akan berpesan pada anak cucuku, “Jangan ikuti aku, aku hanyalah seorang pecundang”.


---***---

Saturday, May 19, 2012

Sunday, April 15, 2012

MANTRA CINTA SANG PENYIHIR


“En” begitu caramu memanggilku, cukup dengan satu suku kata nama depanku namun bagiku lebih terdengar seperti hanya satu huruf, “Kalau nanti Dino minta persetujuanmu untuk menunda pertunangan, sebaiknya kamu jangan mau”
Aku nggak mengerti arah pembicaraanmu. Sama sekali nggak nyambung dengan masalah bisnis yang sedang dihadapi Dino yang baru saja kuceritakan kepadamu. Seolah masing-masing kita sedang berada di dalam sebuah kereta yang berdampingan karena rel nya sejajar namun tujuannya berbeda, aku menuju ke arah barat kamu ke timur atau bahkan ke utara. Bahkan menurutku kata-katamu sama sekali terdengar nggak masuk akal. Butuh alasan yang sangat rasional untuk membatalkan acara pertunangan yang jadwalnya sudah disepakati orang tua kedua pihak. Dino jelas nggak mungkin melakukannya. Kata-katamu kuanggap angin lalu.
Namun ketika dua hari kemudian Dino datang dari perantauannya di pulau seberang hanya untuk mengutarakan keinginannya yang sangat persis dengan kata-katamu, seketika aku bagai tersentak. Saat itu juga wajahmu yang legam karena sering tersengat terik matahari bagai memenuhi seluruh isi pikiranku. Bagaimana kamu bisa tahu persis kata-kata yang akan diucapkan Dino lebih dulu, seolah kamu paranormal yang bisa meramalkan kejadian masa depan, atau seperti magician yang bisa memprediksi negara mana yang akan menjadi juara pada turnamen sepak bola piala dunia. How come? Tak jelas bagiku, kamu lebih mirip Mama Laurent atau Deddy Corbuzier, atau mungkin gabungan keduanya.
Atau jangan-jangan karena track record-mu di masa lalu yang pernah malang melintang sebagai playboy cap kampak yang doyan berganti-ganti pasangan, sehingga kamu bisa mengendus bau tak wajar dibalik perseteruan bisnis yang dicurhatkan Dino kepadaku lewat telepon. Meski kata-kata Dino cukup mengejutkanku, namun daya kejutnya tak sebanding dengan tebakanmu yang sangat jitu. Selanjutnya aku bagai tersihir olehmu, mengikuti begitu saja saranmu menolak usulan Dino dengan dalih tak ingin mengecewakan kedua orang tuaku di desa yang sudah terlanjur menyebarkan rencana pertunanganku hingga ke pelosok dusun. Bahkan ibuku sudah memesan kebaya berwarna kuning keemasan agar aku tampil bak putri ayu dari keraton Solo.
Seketika Dino melemah dengan penolakanku, dengan ekspresi tak berdaya dia berkata tak mungkin melaksanakan acara pertunangan dengan alasan situasi bisnisnya sedang sulit. Meski pengucapannya dengan nada pelan tapi aku bisa merasakan nada paksaan. Logika sederhanaku tak menemukan korelasi antara masalah bisnisnya dengan jadwal pertunangan. Lebih terdengar seperti alasan yang dibuat-buat. Bau perselingkuhan kian tajam menusuk hidung. Kecurigaanmu kian merasuki alam pikiranku.
“Sebenarnya ada apa sih antara kamu sama Yuanita ?” tanyaku dengan nada datar, pengaruh sihirmu bagai kekuatan ekstra yang membuatku tetap tenang dan menguasai keadaan. Pertanyaan tak terduga-ku sepertinya lebih dari cukup untuk mengkoyak-koyak tabir kebohongan.
Seketika Dino bagai terpojok, ekspresinya sontak berubah seperti terdakwa yang akan divonis bersalah lewat ketukan palu hakim, yang memaksanya seolah tak punya pilihan selain mengungkap bau tak sedap yang mulai menyebar kemana-mana. Aku bagai menuntunnya langsung ke api tanpa harus menelusuri asapnya.
“Aku yang salah, terlalu jauh melibatkan emosi hingga hubungan kami berlanjut lebih pribadi. Tanpa kusadari aku telah memberinya harapan. Tapi aku sungguh tak ingin mengecewakan kamu, please beri aku sedikit waktu untuk memperbaikinya”
Kalimat terakhir justru menggoreskan luka. Pengaruh sihirmu kian kuat meracuni setiap aliran darahku hingga aku tetap teguh dengan pilihan semula. Wajahku yang nyaris tanpa ekspresi bagai isyarat kalau aku yang pegang kendali pada situasi, mungkin hanya langit yang bisa mendengar dengan jelas jeritan pilu dan nyanyian sakit hati.
“Aku tak ingin mengecewakan kedua orang tuaku” kataku untuk kali kedua tetap dengan nada datar. Sebuah pesan penegasan kalau Dino sama sekali nggak punya posisi tawar.
“Sepertinya kamu tak memberiku pilihan” kata-kata Dino memecahkan dinding kebisuan yang sempat menari-nari diantara kami, dia tak berani lagi menatapku, namun kalimat berikut yang meluncur dari bibirnya menggenapi kehancuranku, “Maafkan aku. Kamu berhak mendapatkan yang lebih baik”
Dino memelukku untuk terakhir kali, lalu pergi tanpa berpaling meninggalkan aku yang remuk berkeping-keping. Seolah berlalu begitu saja tanpa beban setelah menuangkan segalon air pada api yang tengah menyala-nyala. Kandas sudah. Musnah.
Namun tak cukup sampai disitu, penderitaanku masih berlanjut seperti sinetron bersambung yang menyelipkan pesan to be continued di akhir tayangan. Dengan sengaja Dino menyampaikan kabar kepada semua orang termasuk kedua orang tuanya kalau aku adalah penyebab pupusnya hubungan kami gara-gara tak memberinya pilihan, seolah aku sama sekali nggak peduli dengan masalah bisnis yang sedang dia hadapi. Dia mengalihkan perasaan bersalahnya kepadaku. Betapa sadisnya.
Anehnya ada satu sisi dalam diriku yang ingin membenarkan ucapannya, seolah memang aku yang salah, seolah aku yang sengaja menghalangi keinginanku untuk mempertahankan hubungan itu. Andai saja aku setuju pertunangan itu ditunda, mungkin sekarang aku tak akan menanggung derita sehebat ini. Mungkin Dino sudah memutuskan hubungannya dengan Yuanita, menjual rumah mungil yang rencananya akan kami tempati untuk menutup kerugian dan kembali seutuhnya kepadaku. Memulai lagi semuanya dari awal, mencari pekerjaan baru, menikah denganku dan tinggal di rumah kontrakan sederhana yang halamannya sempit tapi tetap kutanami bunga-bunga. Membangun lagi prasasti cinta yang sempat jatuh berserakan menjadi puing-puing. Menyusun rencana-rencana baru agar nanti bisa punya rumah sendiri lagi, punya anak kembar dan hidup bahagia selama-lamanya. Aku menyesal mengikuti saranmu.
Tapi ada sisi lain dalam diriku yang menolak pemikiran itu, bahkan terasa seperti menghakimi sisi diriku yang pemimpi. Aku tak mau digantung tanpa kepastian dan dengan jelas tegas menolak penghianatan. Sudah semestinya aku diperjuangkan. Pemikiran ini sedikit melegakanku. Sisi ini pula yang mengantarkan aku pada pelukanmu dengan wajah sembab gara-gara menangis seharian mirip wajah seorang petinju yang baru saja kalah KO. Aku menyerah pada dekapanmu.
Ingin rasanya memukul dadamu berulang-ulang dengan kepalan kedua tangan untuk meluapkan kejengkelan, namun nyala lilin dalam dirimu begitu dahsyat menghangatkan pori-pori di sekujur tubuhku hingga aku tenggelam dalam kepasrahan yang dalam. Aku menangis lagi sampai air mataku mengering, lalu terlelap hingga pagi.
Ketika aku terjaga kamu sudah nggak ada. Perahu kecil nan rapuh itu mengapung sendirian di tengah lautan mencari-cari tambatan. Hari-hari nan hening sepi pun dimulai.

+ + + + +

Tadinya aku satu. Seorang perawan ting-ting asal desa cicaheum di pelosok kota Sukabumi, yang kuliah di Bandung memilih jurusan tehnik informatika pada sebuah universitas swasta. Selalu tampil up to date, komplet dengan koleksi bahasa gaul dan eksis di setiap pergaulan gaya anak kota. Bercita-cita menjadi sarjana lalu mencari kerja dan mengumpulkan banyak uang agar bisa kaya raya. Berharap ketemu pangeran tampan yang punya prospek masa depan, lalu menikah dan tinggal di rumah bergaya minimalis lengkap dengan perabot yang sarat nilai estetika, serta mobil keluaran terbaru di teras garasi beratap kanopi. Satu yang ceria, satu tujuan, satu impian.
Tapi semenjak bertemu kamu tiba-tiba saja aku berubah menjadi dua. Tiba-tiba aku menemui sisi lain diriku yang pemurung, yang sering merasa bodoh dan tak percaya diri dan mulai takut bermimpi.
Waktu itu hari sudah sore, tapi matahari masih bersemangat membakar hari meski merahnya senja mulai mengintip di batas cakrawala. Di sore itu pula pertama kali aku bertemu kamu yang menyambutku dengan senyuman pemecah bisunya langit. Otakmu yang cemerlang mengalir teratur lewat tarian lidahmu yang meliuk indah hingga menembus setiap sisi ruang benakku, seiring kata-kata cerdas yang meluluh lantakkan dinding kegelapan dalam diriku. Aku pun takluk kepadamu.
Dengan suka rela kuserahkan sawah ladangku yang kering pada benih-benih kejeniusanmu, agar suatu saat dapat memanen langkah panjang nan ringan di setiap langkah hidupku. Namun yang terjadi pada musim pertamaku ternyata tidak seperti itu. Aku tak melihat bunga-bunga merekah di musim semi dan tak ada satupun kupu-kupu yang sudi singgah di atas ladang cintaku yang kering meski hujan tiada lelah membasahi bumi. Mengikuti kata-katamu hanya berujung musnahnya mimpi indah yang telah kurajut selama ini.
Ketika akhirnya Dino meninggalkan aku dan berpaling pada wanita lain yang sebelumnya berstatus teman selingkuhannya, seketika itu pula separuh mimpiku hancur berantakan. Rumah mungil yang sudah tersedia, pertunangan yang sudah di depan mata tiba-tiba saja menguap dihempas pahitnya realita. Bak mengakhiri dongeng pengantar tidur yang selama ini telah menjadi bagian dari hidupku sekaligus meninggalkan catatan kelam yang terukir di setiap panjangnya malam. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku merasa telah kehilangan tujuan.
Aku pun kembali menjadi gadis desa yang hidup sebatang kara di tengah peradaban kota yang kejam. Berjalan tertatih-tatih menelusuri jalan yang gelap dan menakutkan, mencari-cari secuil alasan untuk bertahan hidup di atas sepasang kaki yang mudah goyah, yang berpotensi menjadikanku mangsa bagi mereka yang lapar. Sementara diriku terlanjur telah terbelah menjadi dua dan terlalu takut untuk bermimpi lagi. Keceriaanku hilang lenyap tak berbekas berganti wajah hopeless yang lebih suka menunduk dari pada menatap tegak hari esok yang gelap pekat.
Semua gara-gara kamu.
Ironisnya aku tak punya pilihan lain selain memilihmu.

+ + + + +

Sebelum bertemu kamu derai tawaku lepas deras menembus siang dan malam. Bersama segenap teman yang menjadikanku ratu sejagad diantara sekian dayang-dayang. Yang tak pernah berhenti menyanyikan lagu-lagu pengusir sepi yang kusukai. Aku adalah pusat perhatian.
Tapi kedekatanku denganmu bagai menciptakan jarak dengan mereka. Seolah kamu adalah monster berwajah seram yang membuat mereka lari tunggang langgang karena ketakutan. Seolah ada pagar pembatas setinggi langit yang kamu ciptakan sehingga mereka hanya bisa melambaikan tangan dan memanggil-manggil namaku dari kejauhan. Pelukanmu bagai memenjarakan aku.
Tawaku kini tak lagi serenyah dulu, untuk berbicarapun aku harus lebih dulu memilah kata. Mengumbarnya begitu saja tanpa lebih dulu mencerna hanya akan berujung kritik tajam nan pedas yang bakal kuterima, yang menurutku lebih menyerupai cambukan yang menyayat hati. Salah dan salah lalu salah seolah telah menjadi satu-satunya caramu memandangku, seolah tak ada satupun kebenaran yang pantas kumiliki. Andai pun ada sedikit yang tersisa pasti akan dengan begitu mudah kamu habisi. Kecerdasanmu kian menenggelamkan aku.
Diriku kini bagai tak lagi memiliki ruang gerak, sebegitu mudah terkuasai olehmu tapi anehnya aku diam saja. Aku nggak tahu kenapa, mungkin karena dibalik setiap kata-kata yang kamu ucapkan tersembunyi jalinan mantra-mantra.
Aku bagai tercabut dari habitatku ketika kamu memaksaku pindah kos, bagai tanaman yang tercabut hingga akar dari tanah tempatnya hidup, lalu kamu tanamkan di atas lahan penuh hijau rerumputan yang masih asing bagiku. “Seseorang harus hijrah jika ingin membuat hidupnya menjadi lebih baik” itu mantramu.
Kamu masih belum berhenti memaksaku, mengatur segalanya seolah aku anak kecil yang harus menuruti semua titahmu. Mengejar kelulusan dengan segala keterbatasan dan cepat-cepat mencari kerja menjadi topik yang paling sering kamu bicarakan disetiap waktu. Kamu selalu bicara tentang aku, seolah permasalahan hidupku adalah menu makanan sehari-harimu. “Kamu harus bereaksi menghadapi kenyataan sesulit apapun itu, menunda-nunda hanya akan menambah daftar kesulitanmu. Hidup itu penyikapan, bukan tetang seberapa pintar atau seberapa hebatnya kamu. Keterbatasan adalah jalan bukan alasan” itu mantramu berikutnya.
Sebegitu serius kamu memandang kehidupan seolah kata bersenang-senang tak pernah ada dalam kamus hidupmu. Dimataku kamu adalah makhluk yang membosankan.
Sering kali aku berpikir tentang relaksasi namun sepertinya mantra-mantramu tak memberiku sedikitpun celah untuk melarikan diri. Ketika akhirnya aku lulus kuliah dan tak lama berselang mendapatkan pekerjaan, kamu pun tak mengijinkan aku tertawa. “Kamu harus bersyukur pada semua yang kamu dapat, tapi juga jangan cepat merasa puas. Hidup sering kali bersikap kejam pada sebagian orang yang hanya berpikir untuk bersenang-senang. Sedikit saja kamu menghela nafas panjang, masalah baru telah menunggumu kemudian” mantramu terus berlanjut.
Dulu aku adalah penumpang gratisan, siapa saja akan berebut mengantarkan aku kemana saja aku mau. Namun taxi tanpa argo itu tak pernah lagi ada semenjak kamu memaksaku membeli sepeda motor dengan cara mengangsur, dengan menyisihkan gaji bulananku. Semenjak itu pula aku berkendara seorang diri dengan skuter matik menyapa debu-debu jalanan, menyambut sengatan terik matahari dan berpasrah ria pada guyuran air hujan. Lucunya sekarang aku justru memberi tumpangan pada teman sekantor yang kebetulan alamat rumahnya sejalan. “Kamu harus belajar tidak tergantung pada orang lain. Berarti bagi orang lain akan membuat hidupmu jadi lebih indah sesederhana apapun itu” Ini mantramu yang paling membingungkan. Bagaimana dengan ketergantungan yang kamu ciptakan?
Hidupku telah menjadi hidupmu. Aku tak lagi merasa ada atau bahkan tak pernah ada karena pengaruh sihirmu begitu hebat membuatku tunduk pada semua mau mu, seolah aku adalah boneka vodoo yang tak bisa lepas dari cengkeramanmu. Hebatnya pada saat itu pula kamu pergi meninggalkan aku dengan alasan melanjutkan perjalanan hidupmu. Dirimu bagai meletakkan aku begitu saja di atas jalan panjang nan berliku setelah sekian lama menjadi balerina yang menari-nari di atas telapak tanganmu. Kamu bagaikan sedang menancapkan jarum pada boneka vodoo tepat di jantung hati, yang berarti aku harus bersiap menghadapi jerit sepi untuk kedua kali. Menyelami hitam pekat kehidupan seorang diri setelah sebelumnya terlanjur menikmati pijar terang cahayamu.
“Mengapa kamu lakukan semua ini?” kuberanikan diri untuk bertanya sebelum kamu benar-benar pergi. Pertanyaan ini menjadi penting bagiku, siapa tahu setelah mengetahui semua alasanmu aku dapat terbebas dari pengaruh sihirmu.
Cause I do, I loved, I care” jawabmu sambil tersenyum. Jarum itu serasa menikam lebih dalam pada boneka vodoo. Sihirmu terus berlanjut menebar nyala api di setiap sel-sel kulit, bagai mengatur laju adrenalin di setiap gerak langkahku di sepanjang perjalanan hidup.
Betapa sadisnya kamu. Air mata yang berjatuhan selama berhari-hari setelah kamu pergi adalah bukti nyata kekejamanmu. Kamu jahat.

+ + + + +

“Sebenarnya aku berharap ketemu Dian Sastro” katamu.
“Tadinya aku juga berharap ketemu Nicolas Saputra” balasku tak mau kalah.
Seolah kami berdua sama-sama meyakini adanya kebetulan, seolah dipertemukan diantara rumitnya traffict semesta bagi kami sama-sama bukan bagian dari impian. Kami sama-sama mengingkari takdir dan bersembunyi dari ketertarikan alami yang tak dapat dijelaskan dengan bahasa yang sederhana. Tapi kenyataan lebih suka bicara kalau kamu nggak butuh aku. Aku yang lamban berpikir alias lemot jelas bukan tipemu yang mengidolakan sosok cerdas seperti Dian Sastro. Situasi yang memaksaku untuk membutuhkan kamu meski kamu bukan Nicolas Saputra. Seolah aku yang ditakdirkan bertemu kamu bukan sebaliknya.
Yang terjadi berikutnya pun lebih seperti komunikasi satu arah. Aku dan kamu seakan sedang berada di atas panggung dalam sebuah pentas drama monolog. Skrip naskah dalam skenario hanya berisi kata-kata buat kamu, bukan buat aku. Meski berada di atas panggung yang sama namun keberadaanku tak lebih dari sekedar pajangan atau obat pengusir nyamuk. Mereka yang menonton pun hanya memandangmu, menikmati kata-kata teduhmu tanpa sedikitpun menghiraukan aku seolah aku tak pernah ada.
“Mengapa kamu memilih aku?” tanyaku sambil berbisik.
“Karena kamu bisa menerima mereka yang cemburu, kamu terlalu malu meluapkan hasrat untuk menguasaiku” jawabmu.
Pertanyaanku menjadi satu-satunya kalimat yang kuucapkan di atas panggung. Selebihnya kamu yang terus menerus bicara mengumbar mantra sampai pentas drama berakhir seiring tertutupnya kain tabir.

+ + + + +

Dulu layang-layang itu terbang melayang kesana kemari dipermainkan angin setelah benangnya putus, lalu kembali terbang tinggi menembus awan karena benangnya kamu raih. Anehnya kini layang-layang itu tetap mengudara meski kamu sudah nggak ada. Sebenarnya aku penasaran ingin tahu siapa yang mengambil alih benangnya, tapi kesibukanku sebagai asisten manajer pada sebuah bank swasta membuat aku tak memiliki sedikit pun waktu untuk meliriknya. Bos ku yang suka mengalihkan tanggung jawabnya kepadaku bagai menghabisi ruang kesenanganku. Konfik internal gara-gara persaingan terselubung lewat isu dan gosip-gosip yang tak jelas sumbernya memaksaku untuk mewaspadai situasi yang berkembang setiap waktu. Aku melarut dalam kehidupanku yang baru.
“Ikuti saja jalan itu, suatu saat pasti akan ketemu juga ujungnya. Kamu tak perlu takut lagi menghadapi cobaan selama kamu nggak lupa diri. Kesepian, rindu dan sakit hati tanpa kamu sadari menjadi penyangga yang kokoh bagi dirimu yang rapuh untuk bertahan hidup. Kamu tak perlu memaksa merubah dirimu menjadi pintar untuk membuat yang lain terpedaya, biarkan kekuranganmu menjadi pesona alami untuk meraih semua mimpi.” itu mantramu yang terakhir.
Aku tak selalu berhasil menerjemahkan bahasa mantramu, lebih suka mengikuti reaksinya seiring waktu hingga aku tak lagi merasa dua. Tanpa kusadari sisi pemurungku kini menjadi ruang sederhana untuk instrospeksi diri, sementara rasa takut dan tak percaya diri yang datang sesekali lebih menyerupai peringatan untuk berhati-hati. Perlahan-lahan aku mulai berani bermimpi lagi. Berteman harapan kembali melukis asa pada langit-langit kamar di penghujung malam sebelum menjemput peraduan.
Perahu kecil itu tetap mengapung sendirian di tengah lautan, masih setia mencari tambatan untuk bersandar jika waktunya tiba. Benar katamu, aku terlalu malu untuk merayumu agar berkenan datang ke perahuku disaat bulan purnama, dan mengajakmu bercinta di atasnya. Sihirmu terus melaju tanpa dapat lagi terhenti. Mungkin bakal abadi sampai aku mati. Kekejamanmu sempurna.


---***---

Wednesday, March 14, 2012

JANGAN TAKUT JATUH NDRE


Angin dingin yang bertiup kencang di pesisir pantai Balangan tak mampu mengubah ekspresi Stanley yang masih dilanda keheranan. Aku yang datang jauh-jauh menyeberangi selat Bali hanya untuk curhat tentang permasalahan hidupku sudah cukup membuat dahinya berkerut, ditambah semua uneg-uneg yang sengaja kubiarkan mengalir deras tak ayal membuat dia terpancing juga untuk berkomentar.
“Andre my man, bagaimana kamu bisa tahu maunya Tuhan jika kamu sendiri tidak berani mengutarakan keinginan. Setahuku kita semua diperintahkan untuk memilah hasrat bukan meniadakannya” katanya.
Aku tak bergeming, kalimat itu bagai menyatu dengan udara namun tak sedikitpun menyentuh kedua telingaku. Pertemananku dengan Stanley sejak masa-masa kuliah bukanlah sebuah relasi atas dasar satu pemikiran. Stanley dan aku selalu melihat segala sesuatunya dari sudut yang berbeda meski obyeknya adalah sekeping koin yang sama. Anehnya mungkin justru perbedaan itu yang menjadi alasan kami merasa sama-sama saling membutuhkan, seolah kami memang hanya ingin bicara tanpa butuh didengar karena setiap diskusi sudah pasti tak akan pernah melahirkan titik temu. Atau mungkin karena kami berdua secara diam-diam memang bersepakat bahwa sepemikiran bukanlah hal yang seru.
Aku mengilustrasikan hidupku seperti anak kecil yang bergerak aktif kesana kemari sampai naik ke atas meja namun dibiarkan saja oleh ayahnya. Ketika akhirnya aku jatuh dan menangis, sang ayah malah bertanya, “Sakit ya?” Lalu saran berikut bagai terdengar klise, “Makanya lain kali jangan naik meja lagi”
Saran itu tak dapat mengobati luka. Aku berharap mendengar petunjuk aku harus bagaimana, apa yang harus aku lakukan atau jalan mana yang harus aku tempuh agar aku dapat tetap bebas kesana kemari tanpa harus jatuh dan menangis lagi.
“Yah… itu tidak seru. Itu bukan hidup” kata Stanley, “Hidup bagai terpasung tanpa passion dan resiko, hak untuk memilih adalah kebebasan yang diberikan cuma-cuma pada manusia. Kenapa kita harus takut berbuat salah dan menanggungnya jika salah itu adalah bagian dari diri kita, selama kita tidak tertarik dengan pembenaran diri”
“Aku hanya ingin tahu apa yang kehidupan mau dariku, aku tak mungkin melanjutkan keberadaanku di atas panggung jika aku tak pernah tahu peranku” kataku.
“Lho, kita kan hanya bisa meyakini yang menurut kita benar, seberapa benar kita nggak akan pernah tahu. Andai sekarang kamu sedang gagal, tidak berarti pilihanku yang benar”
“Lalu dimana manfaat freewill-nya kalau aku harus terjatuh dari meja?”
“Ah! “ Stanley menggeleng-gelengkan kepalanya, “Selama kamu masih berpikir tentang kebebasan, kebebasan itu justru menjadi tidak ada. Iya kan? Lihat, akan aku tunjukkan seperti apa freewill itu”
Tiba-tiba Stanley meletakkan sekaleng bir dingin yang sedari tadi ia genggam namun belum sempat dibuka, lalu berdiri sambil meraih papan selancarnya dan meninggalkan aku begitu saja melangkah mantap menjemput laut. Angin dingin bulan Oktober kembali berhembus kencang menerpa rambut gondrongnya hingga berkibar, punggungnya yang legam berkilat terkena sinar matahari bak bertuliskan kata-kata, “This is life
Sesederhana itu ?

+ + + + +

Sebelum ditahbiskan menjadi sarjana, pikiranku sempat dipenuhi dua pilihan yang memaksaku mengkajinya berulang-ulang. Merintis usaha atau mencari lowongan kerja. Anehnya pada saat itu belum ada rasa takut salah memilih jalan, seperti yang kini tengah kurasakan setelah lima tahun berlalu menyisakan beban.
Stanley yang aslinya berdarah campuran Indo-Jerman memilih pulang ke kampung halamannya di pelosok Bali, dengan modal sebagian pinjaman membangun gubug sederhana di tepi pantai desa Balangan yang masih orisinil, menjual bir dingin, light meal dan pernak-pernik surfing. Main core-nya tetap menyewakan papan selancar.
That’s a pleasure, not life” kataku. Tapi dengan santainya Stanley bilang itu pilihan hidup, “Who wants to live forever” katanya menirukan salah satu judul lagu group musik Queen.
Sebenarnya kami sama-sama memilih ingin menjadi kepala ayam dari pada ekor naga. Namun Stanley tidak pernah menganggap filosofiku sebagai alasan pilihannya. Aku baru menyadari pemikirannya setelah lima tahun berlalu, ternyata Stanley tidak pernah tertarik dengan status sosial. Itu sedikit mengejutkanku.
Aku memilih membuka warnet di dekat bekas kampusku. Tidak harus bangun pagi lalu absen, dan bisa datang kapan saja aku mau menjadi arti kebebasan awal yang aku yakini. Meski belum mencapai level bebas finansial setidaknya aku memiliki kebebasan mutlak untuk berkreasi, aku bebas menentukan akan kujadikan seperti apa warnetku. Semua tergantung keputusanku, tergantung apa mauku, absolutely. Itu arti kebebasan yang kedua.
Desain eksterior dan Interior termasuk perabot sengaja kubuat warna-warni. Sebuah pesan vulgar dari jiwa muda yang dinamis meski belum sepenuhnya oportunis karena profit yang kuterima masih jauh dari harapan. Aku memilih mengumbar teori-teori sebagai dasar keyakinan untuk menentukan visi usahaku. Arti kebebasan berikutnya yang sebenarnya sangat berbahaya karena teori bukanlah pengalaman, yang tak pernah kubayangkan bakal aku pertanggungjawabkan di masa depan lewat proses yang sama sekali tidak menyenangkan.
Tapi aku sudah nggak peduli, aku terlanjur menelan mentah makna kebebasan seperti makanan instan sekali telan tanpa pernah mencernanya lebih dulu. Aku memilih untuk menerjang segala rintangan dengan caraku.
Suatu hari Stanley menyapaku lewat yahoo messenger, “Hallo bos”, disertai logo wajah meringis dengan sederet gigi, sebuah isyarat kalau dia bercanda mengolok-olok statusku.
“Hallo juga bos” balasku, juga dengan logo yang sama.
“Aku bukan bos Ndre, aku hanya instrumen kehidupan” jawab Stanley. Kali ini logonya wajah tersenyum. Namun aku bisa mendengar tawa renyahnya dari kejauhan seiring debur ombak yang lugas menyapa tepian pantai Balangan. Samar-samar.

+ + + + +

Ketika uang berputar kian cepat aku memutuskan membuka cabang baru. Konsepnya sama dengan yang terdahulu, tak jauh dari area kampus. Bedanya sekarang di dekat universitas swasta yang mayoritas mahasiswanya anak-anak orang kaya. Jelas aku mengincar keuntungan yang lebih besar.
Teorinya sederhana, punya dua cabang berarti dua kali lipat keuntungan. Setidaknya setelah dua tahun berlalu keyakinanku terbukti benar karena aku mulai merasakan atmosfer bebas finansial. Aku bebas mengatur uang dengan leluasa termasuk untuk memuaskan ego-ku.
“Aku tunggu cabang berikutnya bos” kata Fathur, marketing bank yang memberiku fasilitas pinjaman ketika datang meninjau cabang baruku. Aku mulai nyaman dengan sebutan bos, cara Fathur mengucapkannya jelas berbeda dengan Stanley. Dari nada yang terdengar sebutan itu lebih sebagai ungkapan rasa hormat bukan sekedar olok-olok. Kami saling menghargai dalam suatu dimensi yang belum tentu semua orang mengalami. Kami sama-sama bernafas di dunia kapitalis yang eksklusif, sementara Stanley sepertinya hidup di belahan dunianya sendiri. Meski sama-sama berstatus kepala ayam, mungkin Stanley adalah ayam yang hidup di hutan belantara sementara aku di tengah peradaban.
Aku sama sekali tak menyadari kalau pemikiranku mulai berjalan terbalik. Ditengah kehidupan kota besar definisi bekerja sama dan saling memangsa nyaris tipis bedanya. Sampai aku nggak tahu lagi yang mana rimba yang mana kota. Mungkin justru Stanley yang sebenarnya hidup di komunitas beradab, bukan aku. Namun ayunan cambuk terlanjur mendarat di hamparan punggung kuda-kudaku yang liat, keretaku terlanjur melaju. Tak ada lagi kesempatan untuk memikirkan segala paradigma karena simbiosis mutualisme ku dengan Fathur telah membuka mataku pada hal-hal baru. Aku kian mantap menatap masa depan. Stanley mulai terlupakan.
Teori-teori baru pun bermunculan, termasuk ketika aku mulai menghadapi masalah persaingan. Namun teori keberuntungan tak pernah terlintas dalam benakku sejak awal, aku menganggap teori itu tak menghargai kerja kerasku. Aku memilih berpikir serius menghadapi kompetitor yang bereaksi keras demi memenangkan persaingan, yang sepertinya menghalalkan segala cara hingga omsetku mulai terganggu. Lambat laun teori-teori mulai tak sejalan dengan praktek di lapangan, pemikiran dua cabang dua keuntungan tidak berarti hanya dua permasalahan. Konsentrasiku mulai terbagi, antara terus melaju atau berperang agar tak ditinggalkan pelanggan. Tapi aku sudah terlanjur keras kepala, di awal tahun keempat aku membuka cabangku yang ketiga.

+ + + + +

Predikat pemilik tiga warnet yang kini melengkapi namaku sudah menjadi status sosialku yang baru. Aku menganggapnya sebagai bentuk penghargaan pada semua eksistensiku. Aku semakin jauh dari diriku. Status sosial diam-diam menjebakku ke dalam situasi tak jelas antara yang mana ilusi atau kenyataan, yang mana fantasi atau imajinasi. Pemikiranku kian bergeser, mulai menganggap pengakuan sebagai pencapaian bukan efek samping. Sementara semua permasalahan yang membuatku pusing kepala justru kuanggap sebagai konsekuensi dari semua pujian. Finansial yang tadinya menjadi bagian dari kebebasanku kini bagai jerat yang memaksaku tiada henti berhitung-hitung hingga aku mulai kehilangan fokus. Seolah bertahan dari semua gempuran menjadi satu-satunya jalan hingga aku lupa dengan pilihan lain yang mungkin lebih sederhana dan lebih menguntungkan. Aku terlanjur merasa sudah cukup berhasil dan kini mulai takut gagal. Aku takut miskin lagi.
Aku semakin butuh pendengar, teori-teori yang kuagungkan seolah semakin memaksaku sering bicara pada siapa saja yang kutemui. Tujuannya bukan lagi sebagai aplikasi keyakinan melainkan sebagai tempat persembunyian sekaligus untuk membuat pendengarnya terkesan. Aku semakin haus pujian. Stanley tak lagi ada dalam kehidupanku.
Murni teori bukan pengalaman bagai bangunan rapuh yang perlahan akan roboh dan siap mengubur aku hidup-hidup. Semakin tinggi tembok yang aku bangun semakin cepat pula aku bersiap diri jadi mangsanya. Aku telah kehilangan pilihan. Jiwaku tak lagi sebebas dulu.
Merenung-renung yang berujung tak bisa tidur menjadi kebiasaan baruku di penghujung malam. Aku sampai hafal dengan jumlah plafon yang menghiasi langit kamarku. Jelajah pikiranku tak lagi seluas dulu, kemanapun aku pergi mencari solusi bagai membentur tembok pembatas yang kubangun sendiri. Aku mulai terjepit.
Bangun pagi atau siang, datang ke salah satu cabang warnetku atau tidak, sudah nggak ada bedanya. Sebenarnya kebebasanku kian tak terbatas namun aku justru merasa seperti terbelenggu, karena ada atau tiadanya aku tak dapat lagi mengubah situasi. Angsuran bank yang mulai tersendat gara-gara cash flow yang memburuk bagai menghantui dimana saja aku berada. Aku terjebak pada situasi tanpa kendali yang kian absolut bertahta atas diriku. Tak ada lagi teori yang bisa kupakai untuk bersembunyi. Semua telah terkuras habis untuk menutupi celah-celah keyakinan yang seiring waktu kian berlubang. Aku bagai kian tak bernyawa dan mulai merasa telah salah memilih jalan.
Pada suatu malam aku terjaga dari tidurku dengan nafas terengah-engah gara-gara bermimpi ada ombak dahsyat yang akan menghampiriku. Sebegitu besar gulungannya hingga terlihat seperti mulut raksasa yang terbuka lebar dan bersiap menelanku hidup-hidup. Meski kesadaranku masih setengah-setengah kedua telingaku masih bisa menangkap suara deburan ombak ketika menghempas tepian pantai. Samar-samar.

+ + + + +

“Kenapa kamu tawarkan sama aku ? Kenapa nggak untuk kamu sendiri saja?” tanyaku.
Come on Ndre, aku nggak punya pengalaman di bidang itu. Sejak lulus kuliah aku kan cuma sibuk melatih basket. Beda sama kamu yang eksis di bisnis, buktinya om ku langsung tertarik waktu dengar kamu sukses bisnis warnet” jawab Rizal.
Sukses? Seharusnya aku tertawa, namun rasa hausku pada pujian membuat nafasku tiba-tiba bagai tertahan. Rahasiaku telah rapat tersembunyi, di depan Rizal aku nggak perlu susah-susah lagi ber-teori. Namun segala kepalsuan ini sungguh menyiksaku. Aku sungguh berharap ada cara sederhana untuk membuka penyamaranku agar aku bisa mengaku tanpa harus menanggung malu. Meski aku sendiri juga nggak tahu kenapa harus malu, atau kepada siapa sebenarnya kutujukan rasa maluku. Aku terlanjur menjadi tawanan atas semua kebohongan yang kuciptakan sendiri.
Rizal adalah rekan satu tim basket waktu kuliah dulu. Walau bukan termasuk pendulang point yang bisa diandalkan tapi kemampuan defense dan passing-nya oke banget. Peran Rizal sebagai guard mempermudah aksiku mengobrak-abrik pertahanan lawan sekaligus memasukkan bola ke dalam keranjang. Aku butuh Rizal di lapangan. Kami berdua biasa bahu membahu menghabisi setiap lawan di kompetisi liga mahasiswa.
Om nya Rizal yang bekerja di sebuah bank pemerintah merencanakan investasi besar menjelang masa pensiunnya. Dia akan membangun rumah kos dua lantai dengan dua puluh kamar dilengkapi ruko-ruko kecil untuk investasi bisnis jasa lainnya seperti studio band, warnet, rental komputer atau foto copy. Sebuah konsep one stop service dengan target pasar mahasiswa, dan dia butuh seorang partner yang bisa dipercaya untuk mengelola usahanya. Rizal merekomendasikan aku.
Dilihat dari target pasarnya sepintas memang nggak ada yang salah dengan rekomendasi Rizal. Kiprah bisnisku selama empat tahun di sekitar kampus jelas menarik perhatian om nya. Warnetku yang kini bercabang tiga pasti membuatnya lebih gampang percaya. Tapi entah mengapa embel-embel sukses itu justru sangat mengganggu pikiranku, seolah menjadi beban berat yang membuatku ragu pada kemampuanku sendiri. Semampu itukah aku?
Disaat bank mulai mempertanyakan kelancaran angsuran, peluang itu datang menggodaku. Saat aku mulai berpikir bahwa selama ini telah salah memilih jalan muncul jalan alternatif yang mungkin bisa menyelesaikan semua masalahku. Apakah benar begitu?
Mungkin aku memang tak pantas menjadi kepala ayam. Tapi sungguh aku nggak tahu bagaimana cara menyudahi masa laluku. Aku bahkan ragu menilai peluang itu sebagai pilihan karena merasa terlanjur terjebak pada situasi yang tak lagi menyisakan ruang gerak. Peluang itu lebih seperti tas ransel berisi batu-batu berat yang jika dibebankan kepadaku akan membuatku jatuh tersungkur seketika.
Aku mulai menyesali semua pemilihan sikapku di waktu lalu. Semestinya aku beralih ke dahan lain yang rantingnya cukup kuat untuk kupijaki ketika memetik buah yang kusukai. Atau mungkin semestinya buah ketiga tak harus kupetik karena rantingnya terlalu lemah untuk dapat menyangga tubuhku hingga kini aku kesulitan bergerak kembali ke dahan tempat semula aku berpijak. Sedikit saja kehilangan keseimbangan aku harus menanggung resiko jatuh menyapa tanah bersama tiga buah yang telah kupetik berikut ranting-ranting yang patah. Seolah tak ada jalan untuk meraih buah di lain dahan seperti yang Rizal tawarkan. Seolah kejatuhan menjadi satu-satunya jalan agar aku harus memulainya lagi dari awal.
Aku mulai muak dengan semua teori. Aku kini benar-benar butuh solusi.

+ + + + +

“Berapa modal tambahan yang kamu butuhkan buat recovery warnetmu?” tanya Pak Husein.
“Kok menambah modal lagi pak, masak harus hutang lagi?” aku balik bertanya.
“Lho, kamu kan pernah berhasil, kalau sekarang sedang gagal berarti harus kamu telusuri dulu, masih mungkin nggak bisnismu diselamatkan. Kegagalan tidak selalu karena jenis usahanya saja, bisa jadi karena caramu mengelola atau karena kamu belum siap menghadapi persaingan. Banyak faktor kan? Kecuali kalau kamu memang sudah berpikir menyerah, ya mending ditutup saja sekalian” jawab Pak Husein, ringan tanpa beban.
“Hmm..... bagaimana caranya menyelamatkan? Bagaimana juga cara menutupnya tanpa harus menanggung kerugian?” tanyaku.
Kedekatanku dengan Pak Husein di beberapa seminar selama kuliah menciptakan hubungan tanpa jarak, dia lebih dari sekedar dosen pemasaranku. Aku sungguh berharap ada solusi menarik dari seorang yang punya profesi ganda seperti Pak Husein, yang selain mengajar dia juga seorang konsultan manajemen di beberapa perusahaan besar. Sudah pasti dia tak hanya kaya teori tapi juga kenyang pengalaman di lapangan. Konsultasinya jelas gratis.
Pak Husein tertawa, “Nada bicaramu sudah seperti orang menyerah. Jangan bersikap seperti itu sebelum melakukan segala sesuatu. Bisnis itu bagian dari hidup, bisa berhasil juga bisa gagal. Kamu harus bisa menyikapi keduanya. Tentukan dulu tujuanmu, mau terus atau berhenti. Jangan mencari jalan pintas, kalau nggak bisa memetik pelajaran dari pengalaman ini bisa jadi di lain waktu kamu akan mengulangi kesalahan yang sama”
Pak Husein sudah mulai mirip Stanley, mulai menyebut kata “Hidup”. Terdengar bijak tapi justru membuatku kembali serasa berputar-putar. Aku belum mendengar solusi pasti, jalan mana yang benar atau apa yang harus aku lakukan, itu yang ingin aku dengar. Sebenarnya aku mulai malas melanjutkan, tapi cara Pak Husein tertawa cukup ampuh memancing ego-ku yang seolah nggak terima kalau disebut menyerah. Aku mencoba ikut menelusuri, siapa tahu di percakapan berikutnya ada sesuatu yang pasti.
“Oke pak, oke” kataku, nada suaraku sengaja kuucapkan lebih tegas supaya terdengar lebih serius dan tidak memberi kesan menyerah, “Anggap saja bisnis ini mau aku teruskan, apa yang harus aku lakukan?”
Pak Husein merubah posisi duduknya, “Apa yang menyebabkan kamu kalah bersaing, kenapa pelangganmu lebih memilih pesaingmu? Cari tahu tentang itu, lalu hitung berapa investasi ulang yang kamu butuhkan buat memenangkan persaingan. Tapi investasi ulang ini harus bisa dipertanggungjawabkan, kalau malah nggak menguntungkan jangan diteruskan. Coba pakai pendekatan lain, mungkin kamu kewalahan mengelola tiga outlet. Mungkin harus dirampingkan, bisa dua saja atau satu saja. Banyak cara kan?”
Aku manggut-manggut memberi kesan mengerti, sengaja untuk menyenangkan lawan bicaraku. Pak Husein makin mirip Stanley, lebih suka menawarkan alternatif sudut pandang dibanding sesuatu yang benar-benar nyata. Sebenarnya aku masih ingin bertanya, “Bagaimana cara menutupnya?” tapi aku urungkan.
Aku bisa menebak arahnya. Dipastikan aku akan menghabiskan waktu berjam-jam tanpa memperoleh jawaban pasti. Tetap nggak ada solusi.

+ + + + +

Mungkin masalah yang kuhadapi tidak sesederhana seperti yang kupikir, nggak seperti teka-teki silang yang bisa kuselesaikan sambil mengunyah permen karet sehingga tak ada cara sederhana juga buat menyelesaikannya. Atau mungkin cara berpikirku yang terlalu rumit seperti rumus fisika hingga tak bisa mencerna pilihan mudah yang sebenarnya sudah ada di depan mata. Semua jelas mengarah pada satu kesimpulan akulah yang bermasalah, kalau itu aku sudah tahu. Seberapa bermasalah itu yang aku nggak tahu atau memang sengaja menolak untuk tahu.
Aku ingin membuang buku cerita yang baru aku baca setengah jalan, yang ternyata isinya tidak menghibur dan malah membuatku pusing kepala. Aku sudah tahu kalau salah memilih buku atau belum paham benar isinya tapi terlanjur enggan untuk melanjutkan. Dan kini aku butuh referensi buku apa selanjutnya yang harus aku baca, tapi yang kuterima malah penjelasan yang membingungkan. Aku bagai terus melayang di langit luas yang kaya sudut pandang, namun kian jauh dari belahan bumi sebelah mana yang harus aku pijaki. Sungguh langit tiada bertepi, sebegitu luas daratan dan lautan.
Aku butuh satu jalan saja, atau satu cara bukan banyak pilihan, juga bukan penjelasan. Tapi kehidupan sepertinya memang tidak pernah mengenal kata sederhana, tidak akan pernah ada yang instan. Selamanya jalan akan selalu bercabang, dan bisa jadi disetiap pilihan berpotensi membuatku merasa salah memilih jalan. Tapi tetap saja aku-nya yang salah, bukan jalannya. Andai benar jalan yang aku pilih juga tidak berarti aku-nya yang benar. Sungguh melelahkan.
Tiba-tiba aku merasa sangat ingin bicara tanpa harus didengar. Dengan seseorang yang selalu melihat segala sesuatunya dari sudut pandang “Hidup” , seseorang yang melihat hidup dengan caranya sendiri, yang terkadang dari mulutnya akan terdengar kata-kata yang bagiku sama sekali nggak masuk akal. Kalau di toko roti Pak Husein ibarat roti aneka rasa, Stanley adalah adonan biang.
Selain itu aku juga sudah sangat rindu dengan keindahan alami pantai Balangan yang eksotis. Pohon-pohon kelapa yang tumbuh liar di tepi pantainya, dan pasir putihnya yang terhampar bak permadani seolah menawarkan sensasi magis yang menentramkan hati. Siapa tahu berselancar di sana seperti dulu ketika liburan semester dapat membuatku terbebas dari segala kebuntuan.
Tiba-tiba aku merasa seakan mendengar lagi suara debur ombak menyapa tepian pantai. Samar-samar.

+ + + + +

Aku berdiri malas-malasan sambil meraih papan selancar, lalu berjalan ke arah laut mengikuti jejak langkah Stanley yang mulai hilang disapu angin. Ketika sepasang kakiku menginjak hamparan pasir tiba-tiba semua pilihan itu melintas cepat di benakku. Kemana arah yang akan kutuju, jalan mana yang akan kupilih. Melanjutkan usahaku, mencari modal tambahan, merampingkan usahaku, menutupnya lalu memilih menjadi partner om-nya Rizal, atau mencari pekerjaan lain lewat iklan lowongan. Semua berkumpul menjadi satu dalam pikiranku menjelma ribuan beban hingga langkahku memberat.
Namun ketika air laut mulai meresap kedalam pori-pori kakiku sekejap semua bayangan pilihan itu menghilang begitu saja. Seolah ikut melarut ke dalam lautan bersama tubuhku yang hanya menyisakan sebatas kepala. Lalu kurebahkan tubuhku di atas papan selancar dan mulai mengayuh kedua tanganku menuju ke tengah laut. Aku membiarkan tubuhku terapung ketika ombak besar datang silih berganti. Aku nggak tenggelam, aku bahkan melewatinya.
Ketika telah mencapai tengah laut dan melihat gulungan ombak yang sangat besar aku segera berbalik arah menatap pantai yang kini tampak sangat jauh. Tepat ketika ombak datang akan menelanku, aku langsung mengambil posisi berdiri di atas papan selancar lalu meluncur mengikuti gulungan itu searah sejalan menuju daratan. Meliuk-liuk menghindari terkaman ombaknya yang tinggi besar mirip dinding melengkung berwarna biru, yang tepat berada disisiku dan berjarak tak ada sedepa dengan diriku. Aku terus melaju meninggalkan puncak ombaknya yang jatuh terhempas tepat di belakangku, menjelma buih-buih hingga mengubah warna permukaan laut menjadi biru keputih-putihan. Menakjubkan.
Untuk pertama kalinya aku merasa seolah aku dan Stanley sedang melihat sekeping koin dari sisi yang sama. Selama ini aku lebih suka berpikir bagaimana cara mengatasi ombak, tapi Stanley membiarkan dirinya mengapung untuk melewatinya, karena dia tahu perbedaan berat jenis tidak akan membuatnya tenggelam. Tadinya aku takut dengan ombak yang paling besar, Stanley justru mencari dan menyambutnya, karena dia tahu bagaimana cara memanfaatkan sekaligus menikmatinya. Dulu aku memilih menggunakan seluruh kekuatan tenaga dan pikiranku, Stanley memilih berdiri di atas selembar papan untuk mencapai daratan lebih cepat, karena dia tahu keseimbangan hati dan pikiran dapat membebaskan jiwanya.
Selama ini aku lebih suka memusuhi alam ketika tengah tak bersahabat, sementara Stanley setia menjaga pertemanan dengan mereka dalam situasi apapun. Seperti itu cara Stanley mengarungi hidup yang selalu menawarkan banyak pilihan tanpa ada satupun yang pasti, seolah dia telah benar-benar memahami makna ketidakpastian adalah kepastian itu sendiri. Semua terangkai mesra dalam ruang imajinasi seorang Stanley, sehingga dia masih bisa tertawa ketika terjatuh dari papan selancarnya. Dia akan kembali mengapung ke tengah laut mencari lagi ombak yang paling besar. Lagi dan lagi. Begitu seterusnya.
Sesederhana itu.


---***---