Tuesday, October 25, 2011

THE BEST YEARS OF MY LIFE


Lapangan bolanya nggak rata. Ada yang tinggi ada yang rendah.
Nggak semuanya rumput, sebagian cuma tanah.
Tapi nggak ada yang mengeluh. Bagi teman-temanku dan juga aku itu bukan masalah. Tetap seru. Tetap asyik.
Serasa di senayan. Serasa di old trafford. Serasa di santiago bernabeu.
Kami semua have fun. Lepas bebas tanpa beban. Bermain bola serasa pemain idola. Seperti di pertandingan piala dunia.
Kalau juventus punya stadion delle alpi, kami juga punya lapangan jejer kali. Karena lapangan nya berdampingan dengan sungai kecil, yang biasa kami pakai mandi seusai bermain bola. Tanpa ruang ganti, tanpa shower, tanpa handuk, yang penting cebar-cebur.
Serasa di kolam renang. Padahal aku juga nggak tahu kolam renang itu apa. Cuma dengar-dengar.
Setiap hari begitu. Setiap waktu berlalu.
Andai ada yang bertanya, apa aku punya masalah ?
Pasti kujawab, “Enggak”
Karena memang nggak ada. Masalah itu apa sih ?
Andai ada yang bertanya, apa aku bahagia ?
Pasti kujawab, “Ya”
Padahal aku juga nggak tahu maksudnya.
+ + + + +
Sudah lima belas menit bermain, tapi aku belum juga mencetak gol. Nggak biasanya begitu. Aku nggak mau.
Tiba-tiba ada yang berteriak, “Lutfi nyetel tv, Lutfi nyetel tv”
Kata-kata itu seperti isyarat time out. Semuanya berhamburan meninggalkan lapangan. Aku juga.
Kami semua berlari menuju rumah Lutfi. Kami biasa menyebutnya Lutfi orang kaya. Saking seringnya sampai lupa kalau nama aslinya Lutfi Mahmudi. Karena dia satu-satunya yang punya tv.
Kami semua asyik nonton tv. Nggak peduli acaranya apa.
Bukan di karpet. Bukan di sofa. Tapi di jendela.
Jendela ukuran satu kali dua untuk sepuluh kepala. Berdesak-desakan itu biasa. Kalau ada yang menarik dari belakang itu pertanda minta gantian. Kalau diperhatikan formasinya mirip permainan bola. Empat tiga tiga.
Kakaknya Lutfi yang perempuan orangnya baik. Tapi dia menderita alergi cahaya. Kasihan. Dengan wajah bersungut menatap wajah-wajah penonton gratisan dia menutup kain korden. Dan penonton pun kecewa.
Tapi kami nggak marah. Lutfi juga nggak salah. Lutfi tetap teman kami.
Hanya pertanda kalau waktu nonton tv nya sudah selesai. Waktunya kembali ke lapangan. Waktunya kembali berebut kemenangan.
+ + + + +
Andai aku diberi lagi pertanyaan yang sama. Pasti jawabanku sama juga.
Nggak tahu apa-apa bukan berarti nggak tahu cara menikmatinya..
Sebesar apapun keterbatasan, aku tetap merasa bahagia. Semuanya terasa mudah. Nggak ada yang susah.
Itu kehidupan masa kecilku. Dulu.
+ + + + +
Sesampai di sekolah, semua temanku langsung menuju ke kelas. Ngerjain PR, nggosip, atau bahas-bahas yang nggak jelas.
Aku nggak begitu. Mesti absen dulu ke kantin.
Bukan buat sarapan tapi menitipkan jajanan buatan mama ku.
Jajanan bulat lonjong terbuat dari ketan berisi daging, yang terbungkus rapi daun pisang. Yang bagian tepinya sengaja digunting bergerigi demi mempercantik penampilan.
Lemper buatan mama ku memang juara.
Aku melakukannya diam-diam. Sengaja selinap-selinap.
Biar nggak ada yang lihat
.
Kalau siang, seusai bel sekolah semua temanku menuju jemputan. Langsung pulang. Aku absen lagi di kantin. Hitung-hitung. Total-an. Ambil setoran.
Aku punya ritual yang berbeda dengan teman sekolahku.
Aku mulai mengenal rasa malu. Mulai ada beban.
Aku mulai merasa berbeda. Mulai ada yang nggak mudah.
Tapi aku masih tetap senang. Karena dapat bagian uang jajan.
Lumayan buat beli bakso di pinggir jalan.
Ini kehidupan awal masa remajaku.
+ + + + +
Aku menjuluki rumahku “The house never sleep”, persis kayak kota New York. Sejak mamaku bisnis catering, kehidupan di rumahku berjalan dua puluh empat jam. Mungkin karena itu rumahku nggak ada nyamuknya. Mungkin nyamuknya bosan menunggu penghuni rumahku nggak tidur-tidur. Nggak ada lengahnya.
Kalau siang papa ku kerja kantoran. Kalau malam tangannya nggak pernah jauh dari kertas manila, penggaris dan pensil. Aku kebagian pegang gunting, cutter dan staples.
Kami berdua bikin kotak kecil atau besar, buat tempat jajan atau makanan. Kami biasa begadang sampai malam. Malah kadang sampai pagi kalau banyak pesanan.
Mama ku yang bagian memasak. Dibantu satu pembantuku yang umurnya sudah tua. Yu’ rah namanya. Mereka berdua membuat rumah ku yang kecil jadi penuh asap. Membuat mata ku perih sampai ngantuk ku jadi hilang. Mengantuk haram hukumnya. Tidur barang mahal.
Kata mamaku, bisnis catering buat mencukupi kebutuhan. Berarti selama ini nggak cukup. Tapi mereka nggak pernah bilang. Sengaja.
Walau separuh mengantuk, aku menjalaninya dengan senang hati. Karena mamaku berjanji membelikan aku sepatu nike.
Itu lho, kayak yang dipakai teman-teman.
Sepertinya hidup yang kujalani nggak mudah.
Tapi kalau dipikir-pikir, susah juga. Berat.
Lumayan.
+ + + + +
Papa dan mamaku pernah bertengkar di dalam kamar. Walau pintunya ditutup aku sempat mendengar kata “hutang”. Samar-samar.
Tapi adu mulut itu nggak lama. Cuma sebentar.
Berhenti seiring suara tangis mamaku. Lalu tinggal suara satu arah yang terdengar. Suara papa ku. Samar-samar.
Aku pilih nggak dengar. Ngilu.
Tambah nggak mudah. Ini pedih.
Aku memilih mengelus-elus sepatu baruku.
Bukan nike. Modelnya mirip. Tapi aku suka.
Tapi bukan nike.
+ + + + +
Tapi nggak selalu begitu. Nggak selamanya seperti itu. Ada juga periode yang berbeda di kehidupanku. Nggak semuanya sebatas mimpi.
Akhirnya di rumahku juga ada tv. Akhirnya aku juga punya sepatu nike. Akhirnya.
Aku nggak tahu bagaimana cara papa mama ku bisa membelinya. Mungkin lewat “hutang” itu. Mungkin. Aku nggak tahu.
Saat benda-benda itu jadi penghuni baru di rumahku, aku selalu susah tidur. Sedikit-sedikit aku bangun. Hanya untuk memandangi tv ku. Hanya untuk memandangi sepatuku. Aku selalu begitu. Tapi nggak ada yang tahu.
Sepertinya sepatu nike ku membuat ayunan langkahku menjadi lebih ringan. Berangkat ke sekolah selalu berteman siulan. Lihat aku teman-teman.
Kalau pulang sekolah aku ingin cepat-cepat sampai rumah. Hanya untuk memandangi tv ku. Selalu begitu. Sampai takjub ku hilang ditelan waktu.
Aku punya yang mereka punya. Aku nggak beda.
+ + + + +
Waktu aku menyebut nya sebagai masa-masa sulit, papa ku nggak terima. Malah marah.
Katanya, nggak ada masa-masa sulit. Semua itu masa-masa indah.
Papa ku mengutip sebuah judul film jadul untuk melukiskan masa-masa itu. “The best years of our lives” katanya.
Ya sudah. Aku nggak mau membantah. Takut Papa ku tambah marah.
Setahuku ada suka dan duka. Tapi papa ku melihatnya satu. Indah.
Kok bisa ?

+ + + + +
Waktu mama ku masuk rumah sakit, petugasnya menyodorkan selembar kertas untuk kutandatangani. Surat pernyataan kesanggupan membayar. Biayanya mahal. Sekali suntik harganya jutaan.
Aku langsung tanda tangan. Gimana caranya membayar dipikir nanti. Belakangan. Aku cuma ingin mama ku sembuh.
Mama ku koma. Sama sekali nggak sadar. Tapi ada temanku yang bilang kalau alam bawah sadar mama ku masih bisa dengar.
Pada hari ketiga, larut malam, suster memberi tahu aku. Mama ku kritis. Aku terjaga disisi tempat tidur mama ku. Aku berdoa sebisanya.
Entah kenapa aku merasa sepertinya mama ku menahan sakit yang luar biasa. Kasihan. Aku nggak tega.
Aku merapat ke telinganya, berbisik, “Ma, kalau mama sudah capek, mama istirahat saja”
Entah kenapa sesudah itu semuanya berjalan dalam hitungan menit. Pagi-pagi sekali mama ku dipanggil Tuhan.
Aku sedih. Tapi nggak larut. Penderitaan mama ku sudah berakhir.
Aku nggak menangis. Langit yang menangis.
Seusai pemakaman hujan turun deras sekali.
Deras sekali.
+ + + + +
Biaya rumah sakit dibayar saudaraku. Aku bilang sama mereka, aku pinjam, nanti aku bayar. Gimana caranya ?.
Sudah seminggu seusai pemakaman. Aku sampai lupa membuka kotak amal. Selama itu kubiarkan saja benda kotak kecil itu tergeletak di ruang tamu. Baru ingat setelah kotak amalnya mau diambil pertugas RT. Aku bilang sama petugas itu, mau aku buka dulu, belum sempat, lupa, nanti aku kembalikan.
Begitu kotak itu kubuka, segepok uang yang berdesakkan keluar berhamburan. Saking penuhnya sampai seperti berebut mencari jalan keluar. Banyak sekali.
Setelah kuhitung, ternyata kotak kecil itu berisi uang jutaan. Lebih dari cukup untuk membayar biaya pengobatan dan pemakaman.
Meski sudah nggak ada, meski sudah berwujud roh, mama ku masih bisa memberikan yang terbaik buat aku, anaknya. Luar biasa.
Menurutku itu sebuah pesan. Ada atau tiada, mama ku akan selalu ada untuk membantuku. Akhirnya aku menangis.
Mama ku orang hebat.
I love you mom.....always.
+ + + + +
Papa ku tidur mendengkur. Keras sekali.
Kesehatannya memburuk. Sudah berhari-hari.
Sebelumnya sempat masuk rumah sakit. Dua kali.
Tiba-tiba papa ku terbangun. Menoleh ke arahku. Menatapku. Redup.
Tapi kata-katanya jelas sekali. Jernih.
“Ternyata seperti ini rasanya kalau mau mati”
Aku nggak bisa ngomong apa-apa. Diam. Beku. Seperti apa ?
Ternyata kata-kata itu menjadi kata-kata terakhirnya. Dalam perjalanan pulang ke rumah Tuhan dia masih sempat menyampaikan kata-kata yang nggak bakal aku lupakan seumur hidup.
Sepertinya dia tertidur. Tapi dia sadar kalau waktunya akan berakhir.
Papa ku adalah orang yang mampu terjaga di alam bawah sadarnya. Luar biasa.
Lalu papa ku tidur lagi. Nggak bangun lagi. Selamanya.
Tapi aku menangkap pesannya. Dia akan selalu ada. Buat aku.
Dia akan selalu terjaga dalam tidur panjangnya. Buat aku.
Papa ku orang hebat.
Papa ku adalah guruku.
Papa ku adalah Tuhan keduaku.
Goodbye pap, I’m gonna miss you.
I love you.....always.
+ + + + +
Nggak ada mall yang cukup besar buat anakku.
Dia bisa mengitarinya lima kali hanya untuk satu baju.
Dia bisa menghabisi tujuh lantai demi satu sepatu.
Aku tahu yang dia cari. Seperti yang dipakai teman-temannya. Seperti aku dulu.
Nggak apa-apa. Yang penting dia bahagia. Nggak merasa berbeda.
Aku tahu yang dia mau. Seperti papa mama ku dulu tahu yang aku mau. Diam-diam aku berusaha memenuhinya. Entah bagaimana caranya. Seperti papa mama ku dulu.
Anakku juga nggak perlu tahu credit card itu apa. Nggak penting.
Menurut aku ini bukan pilihan. Hanya sebuah cara.
Akhirnya aku jadi tahu rasanya ingin membahagiakan anak dengan segala keterbatasan yang ada. Benar atau salah cara yang kupilih, nyaris nggak jelas batasannya. Aku nggak berhak atas pembenaran. Tapi kalau salah, aku harus siap menanggungnya.
Jelas nggak mudah. Kalau dipikir-pikir, sulit juga.
Tapi nggak apa-apa. Yang penting anakku bahagia.
Berarti papa mama ku dulu juga begitu.
Mereka rela bersulit-sulit demi aku. Jalan yang mereka tempuh nggak ada yang salah. Semua atas nama cinta. Aku merasakan cinta mereka yang luar biasa.
Dad, mom.....I really miss you.
+ + + + +
Akhirnya aku harus menanggung konsekuensinya. Tagihan ku menggunung. Lalu menggelinding seperti bola salju. Menggiringku sampai ke batas tepi jurang. Seiring bisnisku yang juga tengah kian menurun.
Tidak sedikit yang harus aku tanggung. Nyaris tak ada celah jalan keluar. Aku terjepit. Harus secepatnya mengambil keputusan. Harus ada yang dikorbankan.
Rumah aku jual. Pindah ke rumah kontrakan. Hanya itu satu-satunya jalan. Aku menyebutnya pilihan yang bukan pilihan.
Tapi aku tetap berusaha agar anakku nggak tahu. Aku tetap cari alasan yang tepat supaya dia nggak mengerti apa yang terjadi.
Aku hanya ingin dia nggak ikut menanggungnya. Anakku berhak untuk tetap bahagia. Aku ingin dia tetap bernyanyi lagu-lagu kesukaannya.
Walau mungkin cara yang kutempuh nggak beda dengan papa mama ku dulu. Mungkin karena aku nggak tahu cara lainnya. Mungkin karena memang seharusnya begitu. Mungkin.
Tapi aku tahu. Diam-diam anakku pasti tahu. Seperti aku dulu.
+ + + + +
Di rumah kontrakan nggak semuanya lancar. Tidak berarti semuanya berubah menjadi lebih mudah. Cobaan masih belum berhenti, kemudahan yang kucari masih sembunyi dibalik mimpi.
Kalau hujan turun cukup deras, seisi rumah pasti kebanjiran. Kalau banjirnya malam hari, kami terpaksa begadang. Duduk berjajar menahan kantuk di atas meja sambil memandangi kolam dadakan buatan Tuhan.
Setelah masa kontraknya habis, kami pindah ke rumah kontrakan yang lain. Kami nggak mau terus-terusan kebanjiran. Kasihan anakku. Dia sering terlambat sampai sekolah gara-gara bangun kesiangan.
Andai aku diberi lagi pertanyaan yang sama seperti dulu, apakah aku punya masalah ? apakah aku bahagia ?
Aku nggak bisa lagi langsung menjawabnya. Atau aku nggak tahu cara menjelaskannya. Nggak tahu mulai dari mana.
Kesulitan demi kesulitan masih menjadi selimut hidupku. Nggak mungkin aku mengingkarinya. Aku juga nggak mau pura-pura bahagia. Secangkir kopi tanpa gula jelas nggak ada enaknya.
Sepertinya nggak perlu dipikir-pikir lagi. Ini jelas nggak mudah. Berat. Pasti.
Tapi aku selalu berusaha seolah semua baik-baik saja.
Pedihnya hati, biar kutanggung sendiri.
Aku hanya berjanji pada diriku sendiri semua ini akan kulalui.
Entah bagaimana caranya. Semua “atas nama cinta”
+ + + + +
Sama seperti dulu. Nggak selamanya begitu. Nggak semuanya sebatas mimpi. Ada juga periode yang berbeda dalam kehidupanku.
Ketika akhirnya kami menempati rumah sendiri, suasana hatiku hampir mirip dengan ketika akhirnya aku punya tv, ketika akhirnya aku punya sepatu nike.
Bedanya aku nggak lagi susah tidur, aku juga nggak sedikit-sedikit bangun. Aku nggak lagi setakjub dulu. Biasa saja. Aku juga nggak berkata “akhirnya”.
Pengulangan kejadian seperti sebuah pesan kehidupan. Sebuah pesan agung yang mengingatkan aku tentang cinta kasih papa mama ku, yang berjuang dengan segala keterbatasan untuk membahagiakan aku.
Beruntungnya aku. Punya papa mama yang luar biasa. Mereka juara.
Aku seperti menapaktilasi jejak langkah mereka. Merengkuh momen dan energi yang sama. Sebuah perjalanan yang menyita segenap rasa hingga aku merasa senyawa walau masanya berbeda.
Hingga akhirnya aku jadi tahu yang mereka tahu. Bisa mengerti yang mereka pahami. Bisa merasakan yang mereka rasakan.
Aku harus bisa. Harus tegar. Harus lebih baik. Harus lebih bijaksana. Itu harapan mereka. Itu bahasa mereka dari alam sana. Bahasa kehidupan.
Karena itu aku ada.
+ + + + +
Sekarang aku mengerti mengapa papa ku nggak pernah menyebutnya sebagai masa-masa sulit. Karena yang sulit belum berarti sulit. Dibaliknya selalu ada rahasia-rahasia. Karena papa ku bisa melihat kehidupan dengan kaca mata yang berbeda.
Kalau aku melihat sebuah daun yang layu terlalu dekat, aku nggak akan pernah bisa melihat utuh keindahan pohon melati dengan bunga-bunganya. Mungkin aku hanya bisa mencium harumnya, tapi nggak tahu asalnya dari mana. Sama dengan manusia yang tahu, atau mendengar cerita kebesaran Tuhan tapi nggak tahu Tuhan itu siapa.
Kalau aku melihat setitik noda hitam terlalu lama, aku nggak akan pernah bisa melihat keutuhan lukisan. Setitik noda hitam selalu punya peran besar bagi sebuah lukisan indah penuh warna-warna.
Selama ini aku hanya sibuk mencari daun yang nggak layu, sibuk mencari warna selain hitam, hanya sibuk mencari kemudahan. Sebelum pengulangan kejadian mengguncangku, mendorongku, memaksaku melangkah mundur sampai terhuyung-huyung, supaya bisa melihat indahnya kehidupan lewat perspektif Tuhan.
Pengulangan kejadian membuatku seperti mengapung dalam hidup, mengubah emosiku menjadi lebih datar. Nggak lebay. Nggak mudah takjub. Nggak gampang heran menerima kemudahan. Rasa syukur terjaga utuh di kedalaman.
Sejak dulu sifat dunia memang selalu begitu.
Kalau terlalu dekat, bisa terjerat.
Kalau terlalu lama melihat masa-masa sulit, bisa terperangkap.
Kemudahan bisa-bisa terus bersembunyi dalam gelap.
Keindahan mungkin malah hanya akan jadi ilusi selamanya.
+ + + + +
Tapi aku belum sehebat papaku, yang begitu sempurna berkaca mata tanpa pernah melepasnya. Kadang kaca mataku masih melorot. Malah kadang aku tanggalkan kalau pegal atau bosan.
Dunia juga masih belum bosan menggodaku. Memanggilku dengan bujuk rayu yang penuh tipu-tipu. Agar aku mendekat, agar aku melihat lagi daun yang layu, agar aku mengamati setitik noda hitam, agar aku melihat kehidupan hanya dari sisi ketidakmudahan.
Mungkin karena itu aku jadi sesekali merindukan masa kecilku.
Masa-masa ketika setiap hari aku melihat keindahan pohon melati.
Masa-masa ketika setiap hari aku melihat keindahan lukisan Tuhan.
Saat aku bebas melihat dunia tanpa harus berkaca mata.
Aku ingin sekali kembali ke masa-masa itu.
Kembali ke lapangan jejer kali, bukan delle alpi.
Aku ingin jadi anak kecil lagi.



@September-2011

Wednesday, October 12, 2011

DO YOU THINK I'M GREEDY


Selalu gampang nyambung kalau sama Danu. Tentang apa saja.
Pikiranku seperti online dengan pikirannya. Seolah data base pikiran kami terpantul lewat satelit yang sama. Mungkin malaikat sengaja menyambungnya sejak lahir meski kami hidup di planet terpisah. Sebelum bangku kuliah mempertemukan kami untuk berbagi mimpi.
Selalu mudah bagiku untuk bisa tahu yang Danu tahu. Danu juga begitu, selalu tahu yang aku mau. Seperti ada chemistry.
Kata Danu, mungkin di masa lalu leluhur kami sudah pernah bertemu. Mungkin. Mungkin saja.
Jarang sekali kami beda persepsi. Kalau sempat beda paling nggak sampai lama. Cepat sekali nyambung lagi. Seolah koneksinya hanya terputus sebentar gara-gara gangguan frekuensi.
Dimataku Danu lebih dari sekedar teman. Dia sahabatku. We have a lot of something in common. Dalam hal apa saja. Banyak sama nya.
Sama-sama maniac film, sama-sama doyan nge-game dan baca komik. Godfather nya francis coppola sama-sama jadi film favorit kami. Menurut kami film itu sangat layak jadi sumber inspirasi.
Yang pasti, kami sama-sama sipit.
Kami juga sering sharing, sering diskusi. Dari hal-hal biasa sampai ke masalah pribadi. Nggak ada rahasia. Senang sedih ditanggung bersama. Hujan atau panas, kami nggak butuh dua payung. Cukup satu jas hujan.
Sesudah lulus kuliah kami berdua sama-sama memilih ber-wiraswasta. Sama-sama ingin jadi pengusaha sukses. Sama-sama bermimpi profil kami menghiasi cover majalah bisnis.
Nggak ada mimpi yang sekedar mimpi. Kami akan berjuang meraihnya. Ini janji. Sama-sama.
+ + + + +
Tapi Danu lebih beruntung, menurutku. Awalnya begitu.
Aku harus memulai semuanya dari nol. Cari akses, cari pasar, sampai cari modal semuanya kujalani sendiri. Kadang untung kadang rugi. Kadang laku kadang sepi. Kadang lancar kadang pusing.
Nggak ada yang pasti. Serba kadang-kadang. Serba jungkir balik.
Beda sama Danu.
Dia mewarisi usaha papa nya. Perusahaan transportasi yang sudah dua puluh lima tahun beroperasi. Armadanya lima puluh lebih. Lingkup pasarnya satu propinsi. Hebat kan.
Semuanya serba ada.
Danu tinggal pencet tombol, semuanya akan berjalan otomatis. Uang berputar seperti gangsing. Masuk ke rekening nya seperti air mengalir.
Paling-paling masalah Danu cuma tentang adaptasi. Sesudah itu semuanya bukan lagi mimpi. Menjadi cover majalah bisnis sepertinya tinggal soal waktu. Semua syarat sudah ada di Danu. Aku percaya itu.
Danu seperti bayi ajaib. Yang baru lahir langsung lari. Sementara aku harus merangkak, bahkan kadang merayap. Saat aku sudah mulai bisa berdiri kadang malah jatuh lagi. Perlu keseimbangan tingkat tinggi sebelum aku bisa berdiri. Apalagi berlari.
Mungkin kelemahan Danu cuma satu. Dia harus jauh-jauh dari batu kryptonite. Mungkin nama aslinya Kal-el. Bukan Danu.
+ + + + +
Diam-diam aku iri. Aku jealous.
Mungkin karena kesulitanku berbanding terbalik dengan kemudahan Danu. Merasa nggak adil. Mimpinya sama. Tapi start nya beda.
Mulai ada yang nggak sama. Aku nggak terima.
Aku harus bisa seperti dia. Aku harus mengejar ketertinggalanku. Atau sekalian kalau bisa menyalip Danu.
Siapa tahu ?
+ + + + +
Aku kerja keras. Mungkin batu pun kalah keras.
Bangun pagi langsung kerja. Pulang larut malam. Setiap hari.
Nggak cuma sebatas kerja. Makan, tidur, mimpi, semuanya bisnis. Bussiness is my life.
Nggak ada waktu buat istirahat. Kalau ada yang lihat aku sedikit terlena, berarti aku sedang kumat.
Saking seriusnya aku sampai lupa tertawa. Lupa caranya.
Di setiap aliran darahku mengalir mantra-mantra, yang meracuni setiap alur metabolisme, hocus focus, harus bisa, harus berhasil. Nggak perduli gimana caranya.
Tipu sana tipu sini, nggak masalah. Dari pada ditipu.
Sikat sana sikat sini. Oke-oke saja. Capek rugi terus.
Merusak harga, itu biasa. Jadi pemenang, itu keharusan. Bussiness is a war !
Kalau ada yang bilang aku raja tega, aku malah bangga.
Kalau ada karyawanku yang bilang aku sekejam heiho atau romusha, aku malah tertawa.
Aku nggak segan-segan memecat karyawanku demi mengejar omset tinggi. Kalau perlu satu karyawan seratus pekerjaan. Salah sedikit, potong gaji.
Terserah apa kata orang. I don’t even fuckin’ care.
Nggak ada malaikat di bisnis. Yang ada cuma iblis.
+ + + + +
Sepertinya kerja kerasku nggak sia-sia. Pelan-pelan mulai kelihatan hasilnya. Dalam sekejap counter ku sudah ada dimana-mana. Uang mulai cepat berputar. Rekening di bank mulai menggunung. Bank-bank juga sudah mulai mengantri menawari pinjaman.
Aku sudah bisa beli mobil bagus. Baju-bajuku semua ber- merk. Sepatuku juga buatan import.
Tapi jangan keliru, semua hanya bagian dari bisnis. Perputaran uang kian melaju, kepercayaan semakin jadi jaminan. Aku nggak boleh berpenampilan seperti gembel di depan semua mitra bisnis.
Aku juga bukan termasuk yang bangga kalau bag golf ku kelihatan waktu aku buka bagasi. Aku nggak begitu. All about bussiness. Just bussiness.
Semakin banyak yang mengenalku. Nggak sedikit yang memanggilku, “boss”. Lumayan buat modal percaya diri.
Tapi aku nggak bangga.
Aku belum se-sukses itu. Aku belum seperti Danu.
Aku masih belum mau ketemu, walau Danu kadang mencariku.
Aku memang sengaja menghindar, berkilah nggak ada waktu.
Toh Danu juga nggak keberatan. Dia bilang, “It’s okay, never mind”
Dalam hati aku bilang nanti. Tunggu dulu. Tunggu tanggal mainnya.
Tapi Danu tetap sahabatku.
+ + + + +
Sampai sms yang aneh dan mengejutkan itu datang.
“Nyo, kamu ada waktu ? mau kuliah lagi ndak ?”
“Ha, kuliah lagi ? Buat apa ?” tanyaku heran.
“Aku mau ngambil S2, siapa tahu kamu mau ”
“Kamu ngambil S2, buat apa ? Mau jadi profesor ? Mau jadi dosen ?”
Heranku bertambah. Pertanyaan terakhir sengaja buat antisipasi. Siapa tahu Danu bercanda.
“Ya siapa tahu bisa buat modal cari kerja. Usaha ku bangkrut nyo. Sekarang masih jalan, tapi kembang kempis”
“Ojo guyon dan, it’s not funny” aku to the point.
“I swear” jawab Danu.
“Kok bisa ?”
“It’s a long story nyo. Tempo hari waktu aku pengin ketemu sebenarnya aku mau cerita, aku mau share”
Diam. Merenung. Aku kenal Danu. Dia nggak bercanda. Danu memang benar-benar serius.
Kalimat terakhir membuatku merasa bersalah. Tiba-tiba aku merasa ingin langsung membayarnya. Ini saatnya untuk memberikan waktu ku buat Danu. Aku nggak boleh menghindar lagi. Ini panggilan hati. In the name of friendship.
“Tunggu aku dan, aku kesitu”
+ + + + +
Di perjalanan, di belakang stir mercedes, aku mencoba-coba menghubungkan tiga clue. Danu bangkrut-kuliah S2-cari kerja. Susah banget. Puzzle nya terlalu luas. Missing link nya terlalu banyak. Nggak ketemu-ketemu. Nanti saja lah, tanya Danu.
Biasanya perjalanan ke kantor Danu cuma setengah jam. Menurutku ini setengah jam terlama. Rasanya seperti perjalanan ke luar kota. Nggak sampai-sampai. Setiap traffict light, lampunya merah terus. Nggak pernah hijau. Aku merasa terburu-buru. Secepatnya ingin tahu.
Aku ingin secepatnya ketemu Danu.
+ + + + +
Ritual biasa setiap kami ketemu. Salam komando. Pelukan hangat.
“Nice to see you nyo” kata Danu.
“Nice to see you too dan” kataku.
Danu benar-benar menungguku. Aku jadi malu. Rasa bersalah itu masih ada, belum pergi. Its time to pay.
Suasananya persis sama seperti jaman kuliah dulu. Waktu Danu ditinggal selingkuh sama jessica, atau waktu aku putus sama rosita. Yang satu bicara, satunya jadi pendengar. Hanya kasus nya yang beda. Lebih berat. Lebih serius.
Danu cerita panjang lebar. Tentang beratnya persaingan. Perang harga sampai hancur-hancuran. Ditinggal pelanggan. Omset menurun tajam. Menjual armada nya satu demi satu, sampai ke pengurangan karyawan.
Sesudah Danu cerita semuanya, kami berdua sempat terdiam tanpa suara. Agak lama. Setelah itu aku mulai berani bicara.
“Kenapa ndak ikut nurunin harga dan, supaya lebih kompetitif ?”
“Aku nya yang ndak mau nyo. Aku sudah coba sekali, tapi ndak mau terus-terusan. Menurut ku itu ndak logis. Keuntungan yang sedikit ndak mungkin bisa menutupi biaya operasi yang makin besar. Bisanya cuma sementara, ndak bisa seterusnya. Bisa saja menang, tapi ndak bisa lama. Sama aja, kalau diterus-terusin pasarnya yang hancur duluan, habis itu pelakunya. Papa ku dulu juga pernah pesan begitu, jangan ikut-ikutan kalau ada yang rusak harga. Bisnis itu ndak cuma buat satu dua hari. Buat jangka panjang. Bisnis itu eksistensi”
Aku nggak comment sama argumen Danu. Nggak mau mendebat. Apalagi membantah. Karena Danu melibatkan nara sumber nya. Almarhum papa nya. Ya, bagi Danu, papa nya adalah gurunya. Tapi dalam hati ku, masak sih ?
Aku memilih bertanya yang lain, “So, gimana bisnis ini sekarang ?”
Sebetulnya aku ingin tanya “diteruskan atau dijual”, tapi nggak mungkin, takut bikin Danu sakit hati.
Tapi Danu tahu arahku. Dia menjawabnya murni dari kaca mata bisnis. Tetap pakai naluri, bukan hati.
“Sebenarnya bisa saja aku jual nyo, tapi karyawan ku bilang jangan. Katanya sayang. Mereka tinggal lima orang. Mereka orang-orang lama yang dulu ikut papa ku. Mereka orang-orang setia. Aku setuju saja, sambil mengingatkan konsekuensinya. Toh dari omset yang tersisa masih cukup kok buat membayar gaji mereka. Ini masalah history nyo. I can’t handle it for this one”
“Iya, tapi ndak cukup buat bayar bos nya” kataku sambil tersenyum.
“Iya, bener” Danu tertawa. Suasananya berubah. Lebih cair.
Aku baru sadar. Ternyata Danu menanggung beban berat sebagai penerus usaha ayahnya. Benar kata orang, mempertahankan jauh lebih sulit dibanding mencapainya. Lucky me. Poor Danu.
“Terus, kenapa ngambil S2 ?” aku nggak mau berlama-lama, back to topic.
“Buat jaga-jaga aja. Siapa tahu aku memang ndak bakat bisnis”
“Ah, masak genetik bisa salah” potongku cepat.
“Ya ndak gitu juga nyo” Danu mulai santai, bicaranya melambat, “Aku masih berpikir positif kok. Mungkin aku ndak cocok di bisnis jasa, mungkin lebih cocok di produksi atau di sektor jasa yang lain. Anggep aja kuliah ini improvisasi, siapa tahu dapat inspirasi”
Aku manggut-manggut. Semua jadi jernih. Jadi jelas. Danu cuma butuh pendengar. Dia memilih aku. Aku merasa beruntung karena ada di situ. Rasa bersalah ku mulai hilang.
“Tapi mungkin saja kan bisnis mu ini sebenarnya cuma sedang mati suri. Hanya sedang menunggu saat yang tepat untuk bangkit lagi ?” tempoku cepat lagi.
“Betul sekali. Bisa saja nyo. Who knows” Danu sudah tahu kemungkinan itu. Matanya bersinar-sinar. Dia suka. Karena aku tahu yang dia tahu. Dia menikmatinya. Rasa bersalahku benar-benar hilang.
“Buat aku, yang penting kamu ndak patah semangat. Aku suka kamu masih punya planning. Apapun itu. Aku berharap kamu bangkit. Jangan lupa, jadi cover majalah bisnis itu bukan mimpi” aku melambat lagi.
“Itu yang aku suka dari kamu. Kamu memang benar-benar sahabatku” yang ini dari hati. Danu memelukku. Aku terharu.
Padahal menurutku, aku cuma asal bicara. Aku nggak tahu kata-kata itu asalnya dari mana. Aku memang iri, tapi aku nggak rela kalo Danu jatuh. Danu harus bangkit. Danu harus kembali. Walau resikonya aku bisa iri lagi.
Danu tetap sahabatku.
Tapi mungkin, sekarang Danu yang nggak seberuntung aku.
+ + + + +
Aku kembali ke rutinitasku. Back on my track.
Kadang-kadang, iseng aku sms Danu. Sekedar ingin tahu.
“Piye kuliah mu dan ?”
“Oke-oke aja nyo, lancar”
“Bisnis mu ?”
“Oke juga, sedikit ada peningkatan, lumayan”
“Yo wes kalo gitu, tetep semangat dan”
“Okey dokey” jawab Danu. Bahasa gaul waktu kuliah dulu.
Selang beberapa bulan sms ku juga sama. Jawaban Danu sama juga. Aku suka. Bisnisnya kian membaik. Seberapa peningkatannya aku nggak tahu. Aku nggak pernah lagi ketemu Danu. Kali ini aku memang benar-benar nggak ada waktu. Ada sesuatu yang benar-benar menyita waktuku. Juga pikiranku.
Something happened with my bussiness.
+ + + + +
Pelanggan adalah raja. Aku menghamba. Tapi mereka berkhianat juga. Kurang ajar.
Service adalah yang utama. Aku beri fasilitas bayar belakangan. Mereka malah kabur tanpa bayar. Dasar bajingan.
Lama-lama pesan papa nya Danu kian jadi kenyataan. Bedanya Danu memilih mundur teratur, aku nyaris hancur lebur.
Pelan-pelan situasinya mulai balik ke awal lagi, ke masa-masa aku mengawali bisnisku. Kembali ke pola kadang-kadang. Kembali nggak pasti. Kembali jungkir balik.
Bedanya yang sekarang ada setengah-setengah. Setengah hidup, setengah mati.
Omset ku menurun tajam. Aku terpaksa menutup counter ku satu satu. Akhirnya tinggal satu. Mercedes sudah aku jual. Masih ada satu pick up, lumayan buat angkut angkut barang.
Aku sudah di tepi jurang. Sudah setengah kaki.
Hanya tinggal menunggu satu sentuhan.
+ + + + +
Pagi itu aku belum sarapan. Sengaja. Hitung-hitung. Nanti saja. Jadi satu sama makan siang. Separah itu. Aku.
Sepertinya pagi itu aku tetap akan batal sarapan. Gara-gara Danu nyuruh anak buahnya kirim bingkisan. Aku sempat berharap isinya sarapan.
Sepertinya majalah. Memang majalah.
Usai bungkusnya kubuka, aku kaget seperti disambar geledek.
Terloncat dari kursi. Sampai berdiri.
Aku sangat kenal dengan profil majalah bisnis itu.
Antara percaya dan nggak percaya. Tulisan di covernya sampai kubaca pelan-pelan seperti mengeja.
Alexander Danu Atmadja - Raja baru bisnis transportasi.
Sepertinya baru kemarin Danu di tepi jurang, sekarang sudah di puncak gunung. Sepertinya baru saja Danu cerita bangkrut, sekarang sudah jadi raja. Kok bisa ?
Aku mencoba menguasai diri. Kembali duduk di kursi. Kepalaku belum berhenti menggeleng. Seperti boneka yang lehernya dari per.
Lalu diam. Tenang. Kutarik nafas dalam-dalam. Kuhembuskan pelan-pelan. Udara membuat semuanya jadi lebih jernih.
Entah kenapa nggak ada rasa iri. Entah kenapa aku malah bangga. Malah sepertinya aku nggak tertarik dengan prosesnya.
Armada warisan papa nya puluhan. Waktu Danu jatuh tinggal beberapa. Sekarang malah berbalik jadi ratusan. Danu bisa bangkit melewati masa-masa sulit. Sekarang malah melewati pencapaian papa nya. Luar biasa.
Pelan-pelan aku mulai tersenyum. Timbul kagum.
Waktunya kirim sms. Waktunya kirim pujian.
“Hebat kamu dan. Mimpi yang jadi nyata. Aku bangga”
“Berkat kamu nyo. Semua berawal dari kata-katamu. Makanya aku kirim majalah itu. Itu harapanmu waktu aku jatuh dulu. Aku ndak akan pernah lupa”
Kok malah balik memuji. Aku malah sudah lupa kata-kataku dulu.
“Sekarang jadi raja ya ?”
“Ah, jangan terlalu percaya kata-kata wartawan. Sering berlebihan”
Sesudah itu. Jeda. Lumayan lama.
Aku sebetulnya ragu-ragu. Bukan malu.
Ah, Danu kan bukan orang lain. Dia sahabatku. Dia malah bisa jadi marah kalau nggak aku kasih tahu.
“Tahu ndak dan, masalahmu dulu sekarang jadi masalahku. Sekarang aku bangkrut”
“O ya, kok bisa, kenapa ?” sekarang Danu yang terkejut.
“Kayaknya kata-kata papa mu bener. Gara-gara ikut perang harga, sekarang aku hancur-hancuran”
Sms Danu berikutnya singkat padat. Copy paste sms ku dulu.
“Tunggu sebentar nyo, aku kesitu”
+ + + + +
Sama seperti Danu dulu, aku juga cerita panjang lebar. Aku yang cerita, Danu jadi pendengar. Dari awal sampai akhir. Komplet.
Seusai aku cerita semuanya, baru Danu mulai bicara.
“Sama aja kan, sebetulnya kalau kamu paksakan tetap ikut bersaing bisa saja. Tapi kamu bisa lebih hancur dari ini. Kamu betul nyo, lebih baik mundur. Mengalah belum berarti kalah”
Aku nggak jawab. Hanya sedikit mengangguk sebagai isyarat.
Danu bicara lagi, temponya melambat. Dia berhati-hati.
Aku tahu. Takut aku sakit hati. Aku pasrah saja. Dengar saja. Dia yang nggak punya beban. Aku yang sedang jadi pesakitan.
“Aku yakin kamu bisa bangkit nyo. Tapi kamu harus introspeksi diri. Supaya ndak sampai mengulangi kesalahan yang sama”
Sedikit anggukan lagi. It’s okay. It’s your time.
“Setahuku nyo, makin banyak cabang usaha, perputaran uangnya mesti sendiri-sendiri. Kalau ada satu counter yang ndak produktif, mestinya jangan dipaksa disubsidi. Counter mu memang banyak, tapi putaran uangnya cuma satu. Cuma di kamu. Telur mu banyak, tapi kamu taruh semuanya di satu keranjang. Kalau keranjangnya jatuh, telurnya bisa pecah semua”
Aku mengangguk lagi. Kali ini aku tersenyum. Aku sedang menikmati kata-kata seorang raja bisnis transportasi. Kata-katanya bagus. Tepat sasaran. Danu betul.
Teori telur dalam keranjang sebenarnya sudah pernah dengar lama. Tapi baru sekarang aku paham benar maksudnya. Bodohnya aku.
“Tapi ada yang beda nyo sama aku. Aku dulu mengurangi karyawan karena ndak bisa bayar. Tapi kamu mengurangi karyawan demi mengejar omset tinggi. Kalau aku ndak berani ngambil pilihan itu. Takut sugestiku terganggu. Menurutku cara itu nggak selaras dengan hukum alam.”
Senyumku langsung hilang. Berubah serius. Kok bisa ?
“Kamu ingat ndak kata-katanya om tjip dulu”
Ekspresiku menunjukkan kalau aku lupa orangnya. Apalagi kata-katanya.
“Itu lho, om tjip, kontraktor yang bangun jatim park, papanya jonathan”
“Oh” aku ingat. Dia ngomong apa ya ?
“Jangan takut menambah karyawan kalau memang perlu. Rejeki seorang perantara ndak ada habisnya”
Aku ingat kata-kata itu. Jelas sekali. Tiba-tiba aku nggak bisa tersenyum lagi. Kalimat terakhir seperti mesin perontok gigi. Kalau dipaksa tersenyum malah jadi kecut. Wajahku pasti akan cepat jadi keriput.
Sekarang aku jadi tampak semakin bodoh. Bodoh sekali.
“Tapi sudahlah” Danu tetap lambat, “Usahamu masih jalan kan, meski ngos-ngosan. Berarti masih ada telur yang ndak pecah. Berarti masih ada peluang untuk bangkit”
Aku berusaha tersenyum lagi. Masih susah. Masih merasa bodoh.
“Benar kata papa ku dulu. Katanya anak muda sering kurang sabar”
Danu sedikit tertawa. Aku jelas nggak bisa.
Tangan Danu menyentuh pundakku. Ekspresinya sudah ganti. Cepat sekali.
“Kalau aku bisa bangkit, berarti kamu juga bisa. Selalu ada peluang untuk itu. Kalau butuh bantuan, apa saja, jangan sungkan hubungi aku”
Sang raja memang bijaksana. Dia siap mengulurkan tangan demi kesulitan rakyatnya. Aku percaya. Aku bangga. Aku terharu.
Danu memang sahabatku.
+ + + + +
Aku tahu. Danu ingin menyampaikan sesuatu. Lebih dari sekedar kata-kata.
Danu sengaja menelanjangiku tanpa harus membuatku malu. Menunjukkan panu, kudis, kurap di sekujur tubuhku. Dengan cara santun. Dengan penuh rasa hormat. Sebagai seorang sahabat.
Danu ingin bilang aku terburu-buru ingin sukses. Ingin cepat kaya.
Danu ingin bilang nggak ada jalan pintas. Aku mesti bersabar.
Danu ingin bilang aku harus bijaksana memutar uang. Nggak semua orang bisa jadi perantara Tuhan.
Danu ingin bilang aku terlalu bangga sama diriku sendiri. Aku mesti banyak belajar dari orang lain.
Danu ingin bilang aku serakah. Aku menghalalkan segala cara.
Ya. Danu benar. Aku serakah.
+ + + + +
Ternyata nggak mudah untuk bisa rendah hati, apalagi dengan orang terdekatku sendiri. Saat profil Danu menghiasi cover majalah, andai waktu itu aku sedang nggak jatuh, mungkin rasa kagum itu nggak pernah ada. Mungkin aku akan dikuasai rasa iri seumur hidupku.
Mungkin juga rasa iri itu yang memberiku motivasi overdosis. Sampai aku kehilangan separuh intuisi. Sampai aku nyaris terhempas ke dalam jurang.
Mungkin wajar kalau aku iri dengan keberhasilan orang yang kubenci. Tapi betapa bodohnya kalau aku iri dengan kesuksesan sahabatku sendiri.
Danu berhak meraih yang terbaik. Sudah semestinya aku ikut bahagia dengan keberhasilannya. Danu memang hebat.
Waktunya angkat topi. Waktunya toast. Salute.
+ + + + +
Sepertinya ada sesuatu yang baru dalam diri Danu.
Sesuatu yang membuatnya menjadi lebih bijak dibanding dulu.
Satu sisi yang belum aku temukan di dunia bisnis. Aku nggak tahu apa itu. Probably it was the angel side of bussiness. Maybe.
Ya, aku pernah dengar istilah selfish dan unselfish. Sepertinya Danu sudah punya dua-duanya. Mungkin aku masih satu.
Danu sudah bisa membuat uang bekerja untuk dirinya. Aku masih sebaliknya.
Tapi menurutku tetap bukan Danu yang lebih beruntung. Tapi aku.
Aku nggak perlu jauh-jauh cari cermin. Buat introspeksi. Juga buat mengkoreksi kekurangan diri.
Cermin itu ada di dekatku. Dalam diri sahabatku.
Namanya Danu. Bukan Kal-el.



@September-2011