Monday, February 14, 2011

SANG KHALIFAH


Bersyukurlah mereka yang mengerti,
meyakini dan mengimani sesuatu,
tanpa merasa dirinya yang paling benar


Madinah, 720 Masehi

Malam datang menjelang di tepi kota yastrib, sekumpulan tenda milik kafilah bani quraidzah yang sunyi mengisyaratkan para penghuninya telah menjemput peraduan. Melarut ke dalam mimpi setelah melewati satu hari yang melelahkan. Namun tersisa satu tenda yang terlihat masih menyala. Angin gurun berbisik menerpa permukaan tenda hingga bergerak-gerak. Tiada mengusik sekumpulan orang dengan wajah-wajah serius yang sedang mengadakan pertemuan di dalamnya. Dua laki-laki duduk saling berhadapan, sementara yang lainnya berdiri mengitari. Keheningan terpecahkan ketika salah satu laki-laki yang duduk, yang berumur lebih tua memulai pembicaraan, “Aku akan berdoa, kamu ikuti kata-kataku”
Secepat kilat laki-laki muda yang duduk dihadapan si laki-laki tua memotongnya, “Tidak, aku tidak mau. Kalian tak berhak memaksaku”
Laki-laki tua bersikukuh, “Semua demi kebaikanmu, untuk mengusir setan-setan yang bersemayam dalam dirimu”
Laki-laki muda semakin ngotot, kekhawatiran dan was-was menyebar pada mereka yang berdiri, ”Alasan itu tak cukup bagiku. Untuk berbicara dengan Tuhan tidak harus selalu dengan caramu. Andai kalian beranggapan setan ada dalam diriku maka biarlah aku yang menjadi orang jahat. Aku merelakan kalian yang menjadi sekumpulan orang baik-baik”
Ketegangan kian meruncing, si laki-laki tua berusaha menyelamatkan situasi dengan memaksakan diri berdoa sendiri, sementara yang berdiri mengamini. Si laki-laki muda akhirnya memilih untuk diam, situasi menjadi lebih terkendali. Malam itu pun berlalu dengan kedamaian, atau mungkin lebih tepat disebut mengambang tanpa kepastian. Tak ada lagi perseteruan keyakinan, karena doa yang menjadi pemenangnya. Namun tak seorang pun yang tahu dimana kini keberadaan setan nya, tak ada satupun yang berani memastikannya.
Di sepertiga malam sang ibu menitikkan air mata, dia merasa telah kehilangan anaknya. Disisi lain jiwa anaknya menjerit, keyakinannya terhimpit namun tiada kuasa. Karena hati dan pikirannnya sendiri masih belum sepenuhnya terbuka. Jemarinya terhenti diujung pena, menatap lembar-lembar kertas yang masih kosong dihadapannya. Dia hanya berharap pada langit, agar bermurah hati mempertemukan dirinya dengan cahaya terang para aulia di perjalanan hidupnya.

+ + + + +


Pagi terlihat cerah, matahari bersinar tegar membakar hari. Ustman bin Syueb yang ber-serban putih berkata pada Abu Syam anak laki-lakinya, “Aku akan pergi berdagang menuju suriah. Tak bisa kupastikan seberapa lamanya. Kutitipkan kebun kurma dan hewan-hewan ternak kepadamu. Rawatlah mereka dengan niat dan kesungguhan hati. Jangan lupa membayar upah para pekerja. Sesudah semua urusan selesai aku akan kembali”.
Abu Syam terdiam. Tak berkata apa-apa karena tak ada pilihan lain selain menerima. Pikirannya berkecamuk membayangkan segala kemungkinan yang bakal terjadi. Sedetik yang lalu dia hanyalah seorang anak muda yang tertawa-tawa, kesenangan telah menjadi bagian dari hidupnya. Sedetik kemudian dia harus memikul amanah yang tak terbilang hebatnya. Sejujurnya dia merasa belum mengerti sepenuhnya, segala hal yang diketahui hanya dari yang didengar dan yang dia baca. Mengetahui dan benar-benar mengerti adalah berbeda, memahami dan bisa menjalani jelas-jelas tak sama.
Dahulu gunung itu terlihat begitu jauh, kini nampak jelas di depan mata. Terjal lerengnya telah menanti untuk didaki. Kemilau puncaknya menari-nari menggoda hati. Birunya langit tak mampu memupus mendung dipikirannya. Tak ada pilihan bagi dirinya selain menghadapi dan menelusuri. Kafilah dagang dengan serombongan unta milik Ustman bin Syueb mulai beranjak, perjalanan jati diri Abu Syam pun dimulai.

+ + + + +


Si pekerja kurma berkata, “Tuan muda, sebaiknya waktu memetik kurma dilakukan nanti sore saja, siang ini terlalu panas”
Si pengurus hewan ternak berkata, “Tuan muda, jatah memberi makan ternak semestinya cukup sekali saja dalam sehari, demi penghematan”
Sebagian pekerja mulai sering datang terlambat, sebagian memilih pulang lebih cepat. Diantara mereka mulai lebih sering menuntut dibanding berpikir memberi. Para penjilat mulai berkeliaran, fitnah demi fitnah pun kian bertebaran. Yang baik dan yang buruk mulai tak jelas warna, sikap mereka pada dirinya dan pada ayahnya ternyata tak sama. Semua baru berjalan dalam hitungan hari, namun situasi kian berjalan tanpa terkendali. Satu hal yang mengganggu pikirannya, mengapa sewaktu ada ayahnya semua berjalan baik-baik saja ? Dimana sisi-sisi buruk mereka waktu itu ? Apa yang seharusnya dia lakukan ?

+ + + + +


Hening sunyi mencekam di tengah malam. Kumbang gurun yang biasanya bergemerisik seperti enggan bicara. Desir angin pun mengalun lembut tanpa suara. Sementara bintang di langit bertebaran menerangi padang pasir terhampar. Cahaya nya memantul di setiap pasak-pasak tenda. Menyapa sang lelaki muda yang tengah sesak dadanya.
Malam itu sebenarnya cukup dingin, namun keringat seperti mengintip di ujung dahi. Masalah demi masalah tak henti menghampiri, menyelimuti tubuhnya seperti ingin menelanjangi dan menguliti. Daya dan kekuatannya serasa hilang melayang entah kemana. Dia sudah lupa caranya tertawa. Tanah itu adalah tempatnya, namun keterasingan kian hari kian meraja-raja. Keyakinannya kian jauh dari muara, hatinya meratap hampa bicara.
Setelah cukup lama tertunduk dalam bisu, kepalanya menengadah menatap hitamnya langit. Dipandanginya kemilau cahaya bintang, dipilah-pilahnya satu demi satu, dicarinya yang paling terang untuk menghapus pikirannya yang kelam. Tiba-tiba terbitlah ingatannya tentang seorang legenda mekkah yang hijrah ke madinah, yang dia ketahui lewat cerita-cerita yang didengarnya. Cerita tentang perjalanan hidup seorang pejuang peradaban yang selama ini menghuni alam bawah sadarnya. Seseorang yang kedatangannya telah dijanjikan, yang mampu mengubah tradisi dan kebiasaan lama menjadi sebuah tatanan baru. Seseorang yang mampu mempersatukan umat dari segala bangsa dan menginspirasi dunia.
Perlahan-lahan lidah Abu Syam menari berkata-kata, mengalir jernih menembus udara,
“Wahai Muhammad yang terpilih menjadi kekasihNya. Yang terpilih sebagai pengejawantah cintaNya. Berilah aku inspirasi, agar diriku terhindar dari kebencian. Agar bisa mencintai mereka yang dikuasai permusuhan, agar aku bisa mencintai semua kawan dan lawan. Seperti cintamu pada para sahabat dan pada orang-orang yang menolak ajaranmu”
“Wahai Muhammad yang membawa sifat pengampunNya. Berilah aku inspirasi, agar diriku bisa memaafkan orang-orang yang berbuat salah kepadaku. Seperti yang engkau lakukan terhadap orang-orang qurays yang menghina dan memusuhimu”
“Wahai engkau lelaki yang bersinar terang laksana matahari. Berilah aku inspirasi, agar diriku bisa menjadi seorang khalifah yang bijaksana seperti dirimu. Yang selalu tegar ketika dihempas cobaan dan ujian, dan tak terlena ketika bergelimang kemudahan”
”Wahai engkau lelaki yang senantiasa tersenyum seperti cahaya rembulan. Berilah aku inspirasi agar diriku dapat bersikap sabar, dan berperilaku sederhana tanpa harus selalu mengumbar kecerdasan”
“Wahai engkau lelaki penggenggam hujan, yang mampu menerima wahyu yang berjatuhan. Berilah aku inspirasi, agar diriku bisa menjadi seseorang yang selalu mendapat petunjuk dari Allah tentang segala hal yang harus aku lakukan”
“Wahai engkau yang dijuluki Al Amin. Berilah aku inspirasi, agar aku terhindar dari kata-kata dusta. Agar diriku bisa menjadi seorang yang jujur dalam kata dan perbuatan. Agar dapat berpikir jernih untuk berstrategi tanpa terjebak ber-muslihat atau ber-tipu daya”
“Wahai engkau lelaki yang mengetahui segala kegaiban, yang mampu menyembunyikannnya dengan rapi dibalik logika yang sederhana. Berilah aku inspirasi agar diriku dapat mewujudkan perbuatan yang nyata tanpa tergoda pesona kegaiban yang memabukkan dan menyesatkan”
“Wahai engkau lelaki yang memberi hati dengan hati. Berilah aku inspirasi, agar diriku bisa menyikapi dan menjembatani perbedaan. Seperti yang pernah engkau lakukan pada kaum yahudi, kristiani dan majusi. Seperti yang pernah engkau tunjukkan kepada mereka yang berselimut ketidaktahuan dan ketidaksadaran”
“Wahai engkau lelaki yang memuliakan ibu, dan yang menghormati kaum hawa. Berilah aku inspirasi, agar aku bisa memberikan hatiku pada ibuku, dan mencintai wanita sebagaimana seharusnya. Mengangkat derajat kaum hawa, tanpa tergoda memanfaatkan kelabilan mereka”
“Wahai engkau lelaki yang sedikit sekali tidurnya. Berilah aku inspirasi agar selalu terjaga di setiap waktu. Agar aku terhindar dari nafsu-nafsu jahat yang berusaha menguasai dan mencelakaiku”

Sekejap Abu Syam berhenti berkata-kata, pergerakkan bintang-bintang di langit menghentikan imajinasinya. Wajahnya kini cerah berhias senyuman, sekuntum bunga telah tumbuh di padang gersang.
Keraguan mulai sirna, keyakinan hadir semerbak mewangi berteman cahaya. Dia telah mengerti apa yang harus dilakukan terhadap pena dan lembar-lembar kertas kosong dihadapannya. Adalah mengisinya dengan menulis segala baik dan buruk yang ada di dalam dirinya, melaksanakan segala sesuatu yang menjadi tanggung jawabnya, tanpa harus berpikir seperti apa nanti jadinya.
Yang teratas, yang menjadi tulisan awal sebagai pembuka adalah “Asyhadu An laa Ilaha Illallah, wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasullullah” (Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi Muhammad adalah Rasul Allah).



Semua terdiam,
semua membisu,
seisi mekkah bagai tersihir
ketika kalimat syahadat yang agung
diucapkan oleh ikrimah putra abu jahal
dan abu sofyan sang pemimpin suku qurays



**********************************************************

Tuesday, February 1, 2011

YOU ARE MY DESTINY


Langit tak seberapa cerah, matahari tampak malu-malu menatap hari. Awan yang bergerak cepat dan bergerombol menyampaikan isyarat nanti akan turun hujan. Namun burung camar itu terbang juga. Meninggalkan sarangnya yang masih lantang bercerita. Masih setia menyuarakan senandung kehidupan meski samar namun jelas terdengar. Sejatinya tempat itu sudah terlanjur berjiwa, roh nya meratap seolah enggan ditinggalkan begitu saja. Seakan melambai pada sang camar di ketinggian langit, menggapai-gapai kabut udara dengan segenap isakan tangis.
Saat itulah air mata membasahi wajahnya. Pahit getir perjalanan telah menjelma pada sayap-sayapnya yang kokoh. Tak menyurutkan langkah menembus awan pekat berteman asa mengarungi ketidakpastian. Demi satu tujuan yang masih berselimut keraguan, yang akan selalu menari diatas permadani keyakinan.
Satu yang pasti kini disadari, dia terlahir untuk memberi, untuk berbagi dan untuk terus perduli. Walau tidak seutuhnya panggilan hati, namun lebih banyak melalui proses kematangan diri. Dia sudah tidak mengenal lagi kata terpaksa, karena panggung sandiwara sudah terlalu sering memaksanya berpura-pura. Semakin terbiasa dengan pilihan-pilihan sulit, tetap melangkah pasti walau batin fasih menjerit. Dia akan selalu tersenyum dan berbagi tawa, demi membasuh jiwanya yang senantiasa dahaga bermanja-manja. Cinta yang ada dalam dirinya bukan untuk dirinya, namun untuk mereka yang membutuhkannya. Cinta yang agung yang tak lagi sebatas kata-kata. Cintanya pada kehidupan dalam wujud sikap dan perbuatan. Cintanya Cinta yang sebagian orang lebih sering menyebutnya dengan istilah “tanggung jawab”.

+ + + + +

“Mungkin disana langitnya cerah, tak seperti disini” kataku tak pasti, berpura-pura seperti dirimu.
“Oh, semoga saja. Kemarin malam aku pun telah melihat wajah bulan tak lagi berwarna merah” katamu menghibur diri.
“Segelap apapun langit, jangan sekali-kali berpikir akan turun hujan. Biarkan para malaikat yang sibuk mengusap air matamu. Cinta yang disebutkan cinta akan selalu ada, selama kasih sayang tak pernah kehilangan makna”
“Aku hanya berharap dewi welas asih tetap setia membasuh perih. Karena gelap kelam masih terbentang di depan mata. Selebihnya aku tak mampu lagi berkata-kata, hanya kepadamu air mataku mau bicara”
“Lihatlah ranting jerami yang membasah, dia menangisi kepergianmu. Bumi menjadi saksi kedalaman cintamu pada kehidupan. UdaraNya telah menyatu dalam jiwamu, menjelma energi yang tak akan ada habisnya. Akan kau bawa kemana mereka, dan akan kau kembalikan melalui siapa, semua telah menantimu di tanah yang baru. Meski dirimu kini telah jauh lebih dewasa, biarkan jiwa kekanakanmu yang tetap menjadi raja atas semua keinginan. Katakan padaku, adakah yang disebut kehidupan jika tak ada jiwa di dalamnya ?”
Kamu tersenyum, “Seyakin itu dirimu, bahwa aku akan menemukan sesuatu di kehidupanku yang baru. Jika jiwaku telah menyatu dengan tempat yang kutinggalkan, bagaimana bisa diriku bercengkerama dengan keadaan ? Bagaimana diriku menghadapi kehidupan yang seperti akan memangsaku ?”
“Jiwamu akan mengikuti kemanapun dirimu pergi. Mereka tidak menangisimu, melainkan pada jiwamu dan energi yang menyertainya, yang kau petik dari keberadaan mereka. Dimanapun dirimu selanjutnya berada, kehidupan akan menawarkan warna yang berbeda dengan yang pernah ada sebelumnya”
Kamu tertawa, “Bagaimana aku tahu bahwa dirimu kini sedang tidak berdusta ?”
“Aku akan melakukan segala cara, termasuk berdusta apa saja agar dirimu tak berharu biru diatas kanvas kalbu. Setidaknya dirimu kini bisa tertawa, telah lupa dengan segala cerita tentang air mata”
Kamu sempat terdiam, aku pun turut membisu. Aku tak ingin berkata-kata lagi karena bagimu semua sudah berlalu. Sedikit saja cinta yang terungkap sama artinya dengan menyakitimu.
Setelah itu dirimu kembali ceriwis bicara seperti biasa, “Aku meyakini permainan cahaya jiwa. Semoga saja semuanya akan baik-baik saja. Seperti katamu, biarkan jiwa yang menjadi pemenangnya”

+ + + + +

Dalam kesendirian, ditengah pertapaan berkatalah seorang pujangga kepada awan agar disampaikan kepada hujan. Demi membasahi ladang cintanya yang terkadang dilanda kekeringan. Kegilaan cintanya mendekati si majenun, gemeletar kata-katanya menyerupai sang qais. Namun dirinya yakin bukan seorang kahin.
“Selamanya kita akan dipertemukan dan dipisahkan pada ruang dan waktu yang berbeda. Semua terlihat seperti sebuah kebetulan yang sempurna. Setiap hati mendekat, dunia akan memisahkan raga ribuan depa. Hanya suara magismu yang mampu menyebut namaku hingga jiwaku bergetar. Hanya kelabilanmu yang mampu memaksa alam bawah sadarku untuk terus menunggu dan menjagamu. Telah kubuang jauh segala pemikiranku tentang kelebihanmu agar diriku berhenti mengagumi dan memujamu. Kutelusuri semua kekuranganmu agar cinta menjelma api yang tak pernah padam. Kutelan bulat-bulat semua sikap burukmu kepadaku agar diriku berhenti mencaci maki dan menyumpahi. Karena cinta hadir untuk mengilhami bukan untuk menguasai. Cinta yang kau tinggalkan pada pahatan jejak kaki yang kau lalui membuatku tak yakin benar-benar sanggup melupakanmu hingga akhir nanti. Hidup selamanya adalah misteri. Tak ada seorangpun yang tahu pasti sebelum semua rahasia diungkap sesudah mati. Aku tak ingin mendahuluiNya dengan menyebut dirimu adalah sebenarnya jodohku. Aku pun tak ingin lagi menyebut dirimu sebagai cinta yang tak bisa kumiliki. Aku tak perduli apa arti diriku bagi dirimu. Apalah arti diri dibanding langkah-langkahmu yang kian berani. Manisnya kata-kata tak sebanding dengan lidahmu yang telah terbiasa mengecap rasa pahit. Namun aku meyakini dirimu adalah bagian dari diriku. Satu rasa dalam wujud yang berbeda, adalah satu cahaya dalam jalan hidup yang tak sama. Sama-sama terlahir untuk mencintai bukan dicintai. Kamu adalah takdirku”



Cinta jiwa bukanlah cinta biasa,
adalah cinta yang dunia tak bisa menyatukannya



**********************************************************