
Bersyukurlah mereka yang mengerti,
meyakini dan mengimani sesuatu,
tanpa merasa dirinya yang paling benar
Madinah, 720 Masehi
Malam datang menjelang di tepi kota yastrib, sekumpulan tenda milik kafilah bani quraidzah yang sunyi mengisyaratkan para penghuninya telah menjemput peraduan. Melarut ke dalam mimpi setelah melewati satu hari yang melelahkan. Namun tersisa satu tenda yang terlihat masih menyala. Angin gurun berbisik menerpa permukaan tenda hingga bergerak-gerak. Tiada mengusik sekumpulan orang dengan wajah-wajah serius yang sedang mengadakan pertemuan di dalamnya. Dua laki-laki duduk saling berhadapan, sementara yang lainnya berdiri mengitari. Keheningan terpecahkan ketika salah satu laki-laki yang duduk, yang berumur lebih tua memulai pembicaraan, “Aku akan berdoa, kamu ikuti kata-kataku”
Secepat kilat laki-laki muda yang duduk dihadapan si laki-laki tua memotongnya, “Tidak, aku tidak mau. Kalian tak berhak memaksaku”
Laki-laki tua bersikukuh, “Semua demi kebaikanmu, untuk mengusir setan-setan yang bersemayam dalam dirimu”
Laki-laki muda semakin ngotot, kekhawatiran dan was-was menyebar pada mereka yang berdiri, ”Alasan itu tak cukup bagiku. Untuk berbicara dengan Tuhan tidak harus selalu dengan caramu. Andai kalian beranggapan setan ada dalam diriku maka biarlah aku yang menjadi orang jahat. Aku merelakan kalian yang menjadi sekumpulan orang baik-baik”
Ketegangan kian meruncing, si laki-laki tua berusaha menyelamatkan situasi dengan memaksakan diri berdoa sendiri, sementara yang berdiri mengamini. Si laki-laki muda akhirnya memilih untuk diam, situasi menjadi lebih terkendali. Malam itu pun berlalu dengan kedamaian, atau mungkin lebih tepat disebut mengambang tanpa kepastian. Tak ada lagi perseteruan keyakinan, karena doa yang menjadi pemenangnya. Namun tak seorang pun yang tahu dimana kini keberadaan setan nya, tak ada satupun yang berani memastikannya.
Di sepertiga malam sang ibu menitikkan air mata, dia merasa telah kehilangan anaknya. Disisi lain jiwa anaknya menjerit, keyakinannya terhimpit namun tiada kuasa. Karena hati dan pikirannnya sendiri masih belum sepenuhnya terbuka. Jemarinya terhenti diujung pena, menatap lembar-lembar kertas yang masih kosong dihadapannya. Dia hanya berharap pada langit, agar bermurah hati mempertemukan dirinya dengan cahaya terang para aulia di perjalanan hidupnya.
+ + + + +
Pagi terlihat cerah, matahari bersinar tegar membakar hari. Ustman bin Syueb yang ber-serban putih berkata pada Abu Syam anak laki-lakinya, “Aku akan pergi berdagang menuju suriah. Tak bisa kupastikan seberapa lamanya. Kutitipkan kebun kurma dan hewan-hewan ternak kepadamu. Rawatlah mereka dengan niat dan kesungguhan hati. Jangan lupa membayar upah para pekerja. Sesudah semua urusan selesai aku akan kembali”.
Abu Syam terdiam. Tak berkata apa-apa karena tak ada pilihan lain selain menerima. Pikirannya berkecamuk membayangkan segala kemungkinan yang bakal terjadi. Sedetik yang lalu dia hanyalah seorang anak muda yang tertawa-tawa, kesenangan telah menjadi bagian dari hidupnya. Sedetik kemudian dia harus memikul amanah yang tak terbilang hebatnya. Sejujurnya dia merasa belum mengerti sepenuhnya, segala hal yang diketahui hanya dari yang didengar dan yang dia baca. Mengetahui dan benar-benar mengerti adalah berbeda, memahami dan bisa menjalani jelas-jelas tak sama.
Dahulu gunung itu terlihat begitu jauh, kini nampak jelas di depan mata. Terjal lerengnya telah menanti untuk didaki. Kemilau puncaknya menari-nari menggoda hati. Birunya langit tak mampu memupus mendung dipikirannya. Tak ada pilihan bagi dirinya selain menghadapi dan menelusuri. Kafilah dagang dengan serombongan unta milik Ustman bin Syueb mulai beranjak, perjalanan jati diri Abu Syam pun dimulai.
+ + + + +
Si pekerja kurma berkata, “Tuan muda, sebaiknya waktu memetik kurma dilakukan nanti sore saja, siang ini terlalu panas”
Si pengurus hewan ternak berkata, “Tuan muda, jatah memberi makan ternak semestinya cukup sekali saja dalam sehari, demi penghematan”
Sebagian pekerja mulai sering datang terlambat, sebagian memilih pulang lebih cepat. Diantara mereka mulai lebih sering menuntut dibanding berpikir memberi. Para penjilat mulai berkeliaran, fitnah demi fitnah pun kian bertebaran. Yang baik dan yang buruk mulai tak jelas warna, sikap mereka pada dirinya dan pada ayahnya ternyata tak sama. Semua baru berjalan dalam hitungan hari, namun situasi kian berjalan tanpa terkendali. Satu hal yang mengganggu pikirannya, mengapa sewaktu ada ayahnya semua berjalan baik-baik saja ? Dimana sisi-sisi buruk mereka waktu itu ? Apa yang seharusnya dia lakukan ?
+ + + + +
Hening sunyi mencekam di tengah malam. Kumbang gurun yang biasanya bergemerisik seperti enggan bicara. Desir angin pun mengalun lembut tanpa suara. Sementara bintang di langit bertebaran menerangi padang pasir terhampar. Cahaya nya memantul di setiap pasak-pasak tenda. Menyapa sang lelaki muda yang tengah sesak dadanya.
Malam itu sebenarnya cukup dingin, namun keringat seperti mengintip di ujung dahi. Masalah demi masalah tak henti menghampiri, menyelimuti tubuhnya seperti ingin menelanjangi dan menguliti. Daya dan kekuatannya serasa hilang melayang entah kemana. Dia sudah lupa caranya tertawa. Tanah itu adalah tempatnya, namun keterasingan kian hari kian meraja-raja. Keyakinannya kian jauh dari muara, hatinya meratap hampa bicara.
Setelah cukup lama tertunduk dalam bisu, kepalanya menengadah menatap hitamnya langit. Dipandanginya kemilau cahaya bintang, dipilah-pilahnya satu demi satu, dicarinya yang paling terang untuk menghapus pikirannya yang kelam. Tiba-tiba terbitlah ingatannya tentang seorang legenda mekkah yang hijrah ke madinah, yang dia ketahui lewat cerita-cerita yang didengarnya. Cerita tentang perjalanan hidup seorang pejuang peradaban yang selama ini menghuni alam bawah sadarnya. Seseorang yang kedatangannya telah dijanjikan, yang mampu mengubah tradisi dan kebiasaan lama menjadi sebuah tatanan baru. Seseorang yang mampu mempersatukan umat dari segala bangsa dan menginspirasi dunia.
Perlahan-lahan lidah Abu Syam menari berkata-kata, mengalir jernih menembus udara,
“Wahai Muhammad yang terpilih menjadi kekasihNya. Yang terpilih sebagai pengejawantah cintaNya. Berilah aku inspirasi, agar diriku terhindar dari kebencian. Agar bisa mencintai mereka yang dikuasai permusuhan, agar aku bisa mencintai semua kawan dan lawan. Seperti cintamu pada para sahabat dan pada orang-orang yang menolak ajaranmu”
“Wahai Muhammad yang membawa sifat pengampunNya. Berilah aku inspirasi, agar diriku bisa memaafkan orang-orang yang berbuat salah kepadaku. Seperti yang engkau lakukan terhadap orang-orang qurays yang menghina dan memusuhimu”
“Wahai engkau lelaki yang bersinar terang laksana matahari. Berilah aku inspirasi, agar diriku bisa menjadi seorang khalifah yang bijaksana seperti dirimu. Yang selalu tegar ketika dihempas cobaan dan ujian, dan tak terlena ketika bergelimang kemudahan”
”Wahai engkau lelaki yang senantiasa tersenyum seperti cahaya rembulan. Berilah aku inspirasi agar diriku dapat bersikap sabar, dan berperilaku sederhana tanpa harus selalu mengumbar kecerdasan”
“Wahai engkau lelaki penggenggam hujan, yang mampu menerima wahyu yang berjatuhan. Berilah aku inspirasi, agar diriku bisa menjadi seseorang yang selalu mendapat petunjuk dari Allah tentang segala hal yang harus aku lakukan”
“Wahai engkau yang dijuluki Al Amin. Berilah aku inspirasi, agar aku terhindar dari kata-kata dusta. Agar diriku bisa menjadi seorang yang jujur dalam kata dan perbuatan. Agar dapat berpikir jernih untuk berstrategi tanpa terjebak ber-muslihat atau ber-tipu daya”
“Wahai engkau lelaki yang mengetahui segala kegaiban, yang mampu menyembunyikannnya dengan rapi dibalik logika yang sederhana. Berilah aku inspirasi agar diriku dapat mewujudkan perbuatan yang nyata tanpa tergoda pesona kegaiban yang memabukkan dan menyesatkan”
“Wahai engkau lelaki yang memberi hati dengan hati. Berilah aku inspirasi, agar diriku bisa menyikapi dan menjembatani perbedaan. Seperti yang pernah engkau lakukan pada kaum yahudi, kristiani dan majusi. Seperti yang pernah engkau tunjukkan kepada mereka yang berselimut ketidaktahuan dan ketidaksadaran”
“Wahai engkau lelaki yang memuliakan ibu, dan yang menghormati kaum hawa. Berilah aku inspirasi, agar aku bisa memberikan hatiku pada ibuku, dan mencintai wanita sebagaimana seharusnya. Mengangkat derajat kaum hawa, tanpa tergoda memanfaatkan kelabilan mereka”
“Wahai engkau lelaki yang sedikit sekali tidurnya. Berilah aku inspirasi agar selalu terjaga di setiap waktu. Agar aku terhindar dari nafsu-nafsu jahat yang berusaha menguasai dan mencelakaiku”
“Wahai engkau lelaki yang sedikit sekali tidurnya. Berilah aku inspirasi agar selalu terjaga di setiap waktu. Agar aku terhindar dari nafsu-nafsu jahat yang berusaha menguasai dan mencelakaiku”
Sekejap Abu Syam berhenti berkata-kata, pergerakkan bintang-bintang di langit menghentikan imajinasinya. Wajahnya kini cerah berhias senyuman, sekuntum bunga telah tumbuh di padang gersang.
Keraguan mulai sirna, keyakinan hadir semerbak mewangi berteman cahaya. Dia telah mengerti apa yang harus dilakukan terhadap pena dan lembar-lembar kertas kosong dihadapannya. Adalah mengisinya dengan menulis segala baik dan buruk yang ada di dalam dirinya, melaksanakan segala sesuatu yang menjadi tanggung jawabnya, tanpa harus berpikir seperti apa nanti jadinya.
Yang teratas, yang menjadi tulisan awal sebagai pembuka adalah “Asyhadu An laa Ilaha Illallah, wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasullullah” (Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi Muhammad adalah Rasul Allah).
Semua terdiam,
semua membisu,
seisi mekkah bagai tersihir
ketika kalimat syahadat yang agung
diucapkan oleh ikrimah putra abu jahal
dan abu sofyan sang pemimpin suku qurays
**********************************************************


