Tuesday, July 20, 2010

MELIHAT LANGIT

Ricardo Kaka adalah seorang balerina lapangan hijau. Ketika sedang beraksi tubuhnya mampu bergerak indah, bersenyawa dengan udara melayang rendah. Laksana penari erotis yang meliuk-liuk menebar daya magis. Membius para penggemarnya yang terpesona karena jerat hipnotis. Posisinya selalu dekat dengan kebetulan, seolah dia tahu lebih dulu kemana bola akan bergulir. Memberi kesan daya jelajahnya menjadi istimewa. Permukaan lapangan yang satu warna baginya tak ubahnya berpeta, dia seolah tahu jalan pintas menuju ke gawang tanpa harus berputar-putar memamerkan keindahan. Karena keindahan telah ada dalam dirinya.

Gemulai tariannya berpadu mesra dengan keelokan wajahnya. Ketampanan yang berdiri diatas tubuhnya yang atletis, yang membuat dirinya dipuja kaum hawa. Namun seorang Ricardo Kaka tak terpengaruh dengan jeritan para pemujanya, dia memilih menikahi wanita yang telah menjadi kekasihnya sejak SMA. Gambaran gaya hidup yang nggak neko-neko, meski jemarinya tak pernah berhenti menari diatas kontrak jutaan dollar. Mungkin karena dia seorang religius, yang memilih untuk setia berada di jalan yang lurus. Tak ingin berpaling meski sisi kanan dan kiri menawarkan jutaan iming-iming. Ekspresinya ketika mencetak gol menggambarkan keyakinannya dari mana semua kebetulan itu berasal. Dia hanya perantara tarian Tuhan untuk menghibur siapa saja yang ingin menyaksikan tanpa paksaan.

Asal-usulnya yang berasal dari keluarga yang berpendidikkan dan sangat berada membuatnya kian sempurna. Ricardo Kaka memiliki segalanya.

Bagaimana dengan rahasia hatinya ? Adakah impian yang tak terwujud ? Adakah cinta yang tak terbalas ? Adakah pertanyaan yang tak terjawab ? Apakah dia meyakini dirinya hanyalah seorang yang sangat terbatas, tak seperti pandangan orang lain ?

Ketika tak berada di panggung sandiwara dia hanyalah seorang manusia biasa. Saat keindahan kehilangan daya hipnotisnya. Saat daya magis lebih suka bersembunyi dan enggan menari.

Segala pertanyaan dari dasar hati hanya terungkap pada baris-baris doa di setiap misa, dan terucap lewat panggilan mesra kepada Yang Maha Mendengar di keheningan malam. Agar berkenan menjadi teman di setiap kegelisahan.

+ + + + +

Sorot mata Robbie William membuat jutaan wanita bertekuk lutut. Mereka bersedia mengantri untuk ditiduri. Saat dia bernyanyi penggemarnya melayang tinggi, berharap agar dia mengembalikan mereka ke bumi. Jerit histeris dan sejuta tangis, mempertegas ketidaksadaran dalam buaian. Mereka semua tenggelam dan menjadikan pesona bakat sebagai alasan.

Mereka jua lah yang menenggelamkan Robbie William dalam kesepian. Puji puja membuatnya merana karena cinta kian kehilangan makna, meski ranjangnya tak pernah sepi dari wanita tanpa busana. Mereka yang tak pernah bisa memahami suasana hatinya yang kering, bahwa tanpa bakat dirinya hanyalah seonggok belulang berselimut daging.

Robbie William adalah rock star yang terhimpit, cinta telah jauh disana. Memanggilnya dari kejauhan lewat lambaian tangan yang terlihat samar-samar, karena mendengar jeritan hatinya yang meratap-ratap. Doa yang terucap lewat karya titian nada, memanggil langit untuk tetap berpaling padanya. Agar Yang Maha Cinta sudi membasuhi jiwanya yang hampa, karena kegelisahan telah bertahta di singgasana.

+ + + + +

Bagaimana dengan kehidupan si konglomerat yang kaya raya ? Intuisinya mampu mendatangkan jutaan dollar. Rekeningnya di bank mencapai digit yang fantastis. Seiring dengan portofolio nya yang setebal tesis. Namun dia begitu miskin dengan waktu, bahkan dia tak pernah menemukan cara untuk membelinya. Dia kian jauh meninggalkan nyanyian cinta yang berkumandang diantara anak istrinya. Yang terakhir dia dengar dengan jelas sewaktu belum terjerat tipu daya kehidupan.

Setiap para malaikat meletakkan jari di permukaan hatinya, dia menggelontorkan uangnya. Namun kesenangan semu itu berlalu begitu saja. Tak pernah sanggup mengusir kegelisahan yang kian bersemayam di dasar hatinya. Jiwanya kian meronta.

+ + + + +

Kesempurnaan bukan milik Ricardo Kaka, puji puja tak seharusnya ditempatkan pada Robbie William, kekayaan harta tak akan mampu dibebankan pada si konglomerat. Simbol-simbol dunia hanya membuat mereka kesepian. Pesona bakat dalam wujud olah tubuh, ketajaman mata dan keindahan suara, serta intuisi, tak hanya mampu mengangkat derajat manusia di dunia. Namun juga berpotensi menghancurkan diri manusia sendiri.

Mereka sungguh beruntung selama kegelisahan itu tak pernah pergi. Mereka sungguh beruntung merasakan panggilan langit yang tak ada satu jari dari kedua bola mata. Kepada langitlah semua kegelisahan itu layak disandarkan. Kepada langitlah mereka semua akan kembali.

Sungguh beruntung mereka yang miskin, sungguh beruntung mereka yang menderita, sungguh beruntung mereka yang tertekan jiwanya, sungguh beruntung mereka yang diberi kearifan. Karena kegelisahan bagi mereka adalah penjaga paling setia. Adalah penggugah kesadaran, bahwa pemilik langit dan bumi yang paling layak dipuja. Adalah asal muasal semua bakat yang penuh pesona. Sementara yang bersemayam dalam diri manusia hanyalah percikannya saja.




Bersyukurlah mereka yang mengerti,

bahwa sejatinya burung adalah yang terbang di langit

Sementara yang bergerak dimuka bumi adalah bayangannya

Semua karena bias cahayaNya yang teduh dan penuh kasih




**********************************************************

Monday, July 5, 2010

THE LAST SEASON


Angin berhembus kencang di penghujung musim dingin, menyibakkan bulu-bulu di sekujur tubuhnya yang masih perkasa. Sementara hawa dingin terasa menusuk hingga ke tulang-tulang sayapnya yang kian letih. Menembus kedalaman hati menjangkau perih. Namun laju usia bak berbanding terbalik dengan bahasa sukmanya yang terdengar semakin muda. Keberadaan waktu yang ada tapi tiada tak ubahnya berjalan mundur. Menjadi muasal pijar semangatnya yang masih menyala, lantang berseru menyebar pesan kepada seluruh penghuni jagad bahwa dia masih ada. Tak hanya sebatas pada janji-janji, lebih sebagai bukti bahwa dia tetap setia untuk perduli.

Dipandanginya sarang persemaiannya yang masih utuh meski telah sering disiram hujan. Tiada berserakkan meski diterpa sekian badai, dan tetap indah walau daun-daunnya tak lagi hijau karena terik matahari. Kalau ada yang berbeda hanyalah mereka yang singgah tak lagi sebanyak dulu. Paduan suara yang terdengar pun tak lagi semeriah musim-musim sebelumnya. Meski awan masih setia mendengar canda tawa yang didendangkan, meski hujan tiada bosan mengiringi bait-bait puisi kesedihan yang dibacakan. Sebagian telah memiliki kekuatan untuk memilih jalannya sendiri. Menembus pekatnya belantara kehidupan berteman rasa percaya diri yang telah tergali. Yang masih bertahan adalah cinta lewat kedekatan, yang belum sepenuhnya teruji lewat jarak dan perbedaan visi. Mereka yang masih setia menemaninya, yang mungkin lebih memilih untuk ditinggalkan demi keagungan cinta itu sendiri. Mereka yang masih berkenan menikmati celotehannya yang terkadang lebih berlandaskan kekhawatiran ketimbang kecerdasan imajinasi. Bersama-sama meresapi makna kesepian di kedalaman hati, menelusuri hakekat sendiri yang tidak berarti sendiri. Bahwasanya bahagia dan sakit hati akan senantiasa terwakili. Kegelisahan adalah teman paling setia, adalah panggilan suci untuk mengucapkan baris-baris doa. Demi cita-cita sederhana namun mulia yang telah tertanam di lubuk hati yang paling dalam.

+ + + + +

“Andai engkau pergi memenuhi panggilan tugas selanjutnya, bagaimana jadinya dengan tempat ini ? Masihkah ada cinta yang masih dapat kami petik darinya ?”

“Cinta adalah ruang dan waktu, ketika semua telah berlalu cinta tak lagi terikat dengannya. Cinta telah menjelma nyanyian indah di dalam hati, yang akan selalu menyertai kemanapun kamu pergi”

“Sejak dahulu selalu begitu, mengapa kita tidak diperkenankan untuk mengubahnya walau hanya untuk sekali saja. Agar ada yang tersisa untuk menjadi perlambangnya, sekedar sebagai pengingat bahwa cinta itu pernah ada”

“Di dunia tak ada yang abadi, termasuk dengan semua perlambang cinta dan segala wujudnya. Itu sebabnya Sang Maha Cinta tak pernah mengijinkan cintaNya terwakili oleh materi. Keabadian hanya ada di alamNya, saat cinta menjelma selimut abadi bagimu karena tak ada lagi waktu yang menyertai”

“Betapa agung permainan cintaNya. Bagaimana dengan nasib kami sesudahnya ? Masih adakah cinta bagi kami jika kamu sungguh-sungguh akan pergi meninggalkan kami?”

“Cinta tak akan pernah berpaling kecuali kamu meninggalkanNya. Cinta akan selalu menjumpaimu dengan berbagai cara, selama kamu setia perduli dengan perasaan welas asih yang telah kamu tanamkan di dalam hati. Sebagaimana aku, cinta dalam dirimu akan menjadi kekuatan dalam wujud bakat yang akan terbagi pada mereka yang membutuhkan uluran tanganmu. Yang akan menjadi jalan terbaik dalam mewujudkan semua impianmu dengan caraNya. Yang tersisa diantara kita hanyalah sekuntum rindu. Mewanginya akan semerbak lestari menyertai jiwa-jiwa yang akan disatukan di taman surgaNya”

+ + + + +

Dipandanginya langit luas dengan seksama, suara-suara dari kejauhan terdengar begitu kuat memanggilnya. Sejenak dia berpaling mengamati wajah mereka satu demi satu, yang mungkin menjadi kebersamaan terakhir dalam perjalanan hidup mereka. Kebersamaan yang tak akan terlupakan dalam kurun waktu berikutnya. Masa-masa indah yang akan selalu menyertai dalam setiap aliran darah. Goresan kenangan yang suatu saat akan sebenar-benarnya hidup saat jantung usai berdegup.

“Sahabat-sahabat terkasihku, ijinkan aku, lepaskan aku dengan ketulusan cintamu. Segala sesuatu ada batas waktunya, kebersamaan yang dipaksakan hanya akan merusak keindahan yang telah ada. Biarkan segalanya tetap utuh tanpa perlu lagi disentuh. Biarkan mereka memahami dengan sendirinya seiring waktu jalinan cinta kasih kita yang sederhana. Saat-saat terbaik bagiku adalah berada disisimu ketika kesulitan demi kesulitan menguasai seluruh isi pikiranmu. Saat kegelapan perlahan-lahan berlalu, untuk membiarkan cahaya sejati hadir memperlihatkan keindahan kemilaunya”

“Mohon kesediaanmu untuk menerima ucapan terima kasihku, karena untuk sekian waktu yang berlalu telah berkenan untuk menjadi guru bagiku. Karena saat kamu bertanya padaku, sejatinya adalah saat aku berguru padamu. Saat aku harus menggali kerendahan hati, memerangi kesombongan diri demi menyingkap tabir pengetahuanNya Yang Maha Tahu atas segalanya”

Sekejap semesta berhenti bekerja, keheningan dan kesunyian hadir mencekam menguasai setiap sudut ruang. Tak ada lagi dongeng-dongeng untuk di ceritakan, hikmat cinta dengan segala risalahnya telah usai dibagikan. Dia pun mengepakkan sayapnya, terbang tinggi menuju langit luas. Melenggang bebas menjemput jagad raya yang tiada batas. Mencari sarang persemaian baru yang belum jelas wujudnya. Menelusuri misteri demi misteri yang telah menanti, selama Yang Maha Berkehendak masih berkenan menafasi. Selama peradaban masih bergulir di setiap detiknya, lewat kejadian-kejadian yang melahirkan kisah jaman pada wajah bumi yang semakin tua.




Kerendahan hati adalah guru

dari segala guru,

hati adalah muridnya




**********************************************************