Sunday, April 15, 2012

MANTRA CINTA SANG PENYIHIR


“En” begitu caramu memanggilku, cukup dengan satu suku kata nama depanku namun bagiku lebih terdengar seperti hanya satu huruf, “Kalau nanti Dino minta persetujuanmu untuk menunda pertunangan, sebaiknya kamu jangan mau”
Aku nggak mengerti arah pembicaraanmu. Sama sekali nggak nyambung dengan masalah bisnis yang sedang dihadapi Dino yang baru saja kuceritakan kepadamu. Seolah masing-masing kita sedang berada di dalam sebuah kereta yang berdampingan karena rel nya sejajar namun tujuannya berbeda, aku menuju ke arah barat kamu ke timur atau bahkan ke utara. Bahkan menurutku kata-katamu sama sekali terdengar nggak masuk akal. Butuh alasan yang sangat rasional untuk membatalkan acara pertunangan yang jadwalnya sudah disepakati orang tua kedua pihak. Dino jelas nggak mungkin melakukannya. Kata-katamu kuanggap angin lalu.
Namun ketika dua hari kemudian Dino datang dari perantauannya di pulau seberang hanya untuk mengutarakan keinginannya yang sangat persis dengan kata-katamu, seketika aku bagai tersentak. Saat itu juga wajahmu yang legam karena sering tersengat terik matahari bagai memenuhi seluruh isi pikiranku. Bagaimana kamu bisa tahu persis kata-kata yang akan diucapkan Dino lebih dulu, seolah kamu paranormal yang bisa meramalkan kejadian masa depan, atau seperti magician yang bisa memprediksi negara mana yang akan menjadi juara pada turnamen sepak bola piala dunia. How come? Tak jelas bagiku, kamu lebih mirip Mama Laurent atau Deddy Corbuzier, atau mungkin gabungan keduanya.
Atau jangan-jangan karena track record-mu di masa lalu yang pernah malang melintang sebagai playboy cap kampak yang doyan berganti-ganti pasangan, sehingga kamu bisa mengendus bau tak wajar dibalik perseteruan bisnis yang dicurhatkan Dino kepadaku lewat telepon. Meski kata-kata Dino cukup mengejutkanku, namun daya kejutnya tak sebanding dengan tebakanmu yang sangat jitu. Selanjutnya aku bagai tersihir olehmu, mengikuti begitu saja saranmu menolak usulan Dino dengan dalih tak ingin mengecewakan kedua orang tuaku di desa yang sudah terlanjur menyebarkan rencana pertunanganku hingga ke pelosok dusun. Bahkan ibuku sudah memesan kebaya berwarna kuning keemasan agar aku tampil bak putri ayu dari keraton Solo.
Seketika Dino melemah dengan penolakanku, dengan ekspresi tak berdaya dia berkata tak mungkin melaksanakan acara pertunangan dengan alasan situasi bisnisnya sedang sulit. Meski pengucapannya dengan nada pelan tapi aku bisa merasakan nada paksaan. Logika sederhanaku tak menemukan korelasi antara masalah bisnisnya dengan jadwal pertunangan. Lebih terdengar seperti alasan yang dibuat-buat. Bau perselingkuhan kian tajam menusuk hidung. Kecurigaanmu kian merasuki alam pikiranku.
“Sebenarnya ada apa sih antara kamu sama Yuanita ?” tanyaku dengan nada datar, pengaruh sihirmu bagai kekuatan ekstra yang membuatku tetap tenang dan menguasai keadaan. Pertanyaan tak terduga-ku sepertinya lebih dari cukup untuk mengkoyak-koyak tabir kebohongan.
Seketika Dino bagai terpojok, ekspresinya sontak berubah seperti terdakwa yang akan divonis bersalah lewat ketukan palu hakim, yang memaksanya seolah tak punya pilihan selain mengungkap bau tak sedap yang mulai menyebar kemana-mana. Aku bagai menuntunnya langsung ke api tanpa harus menelusuri asapnya.
“Aku yang salah, terlalu jauh melibatkan emosi hingga hubungan kami berlanjut lebih pribadi. Tanpa kusadari aku telah memberinya harapan. Tapi aku sungguh tak ingin mengecewakan kamu, please beri aku sedikit waktu untuk memperbaikinya”
Kalimat terakhir justru menggoreskan luka. Pengaruh sihirmu kian kuat meracuni setiap aliran darahku hingga aku tetap teguh dengan pilihan semula. Wajahku yang nyaris tanpa ekspresi bagai isyarat kalau aku yang pegang kendali pada situasi, mungkin hanya langit yang bisa mendengar dengan jelas jeritan pilu dan nyanyian sakit hati.
“Aku tak ingin mengecewakan kedua orang tuaku” kataku untuk kali kedua tetap dengan nada datar. Sebuah pesan penegasan kalau Dino sama sekali nggak punya posisi tawar.
“Sepertinya kamu tak memberiku pilihan” kata-kata Dino memecahkan dinding kebisuan yang sempat menari-nari diantara kami, dia tak berani lagi menatapku, namun kalimat berikut yang meluncur dari bibirnya menggenapi kehancuranku, “Maafkan aku. Kamu berhak mendapatkan yang lebih baik”
Dino memelukku untuk terakhir kali, lalu pergi tanpa berpaling meninggalkan aku yang remuk berkeping-keping. Seolah berlalu begitu saja tanpa beban setelah menuangkan segalon air pada api yang tengah menyala-nyala. Kandas sudah. Musnah.
Namun tak cukup sampai disitu, penderitaanku masih berlanjut seperti sinetron bersambung yang menyelipkan pesan to be continued di akhir tayangan. Dengan sengaja Dino menyampaikan kabar kepada semua orang termasuk kedua orang tuanya kalau aku adalah penyebab pupusnya hubungan kami gara-gara tak memberinya pilihan, seolah aku sama sekali nggak peduli dengan masalah bisnis yang sedang dia hadapi. Dia mengalihkan perasaan bersalahnya kepadaku. Betapa sadisnya.
Anehnya ada satu sisi dalam diriku yang ingin membenarkan ucapannya, seolah memang aku yang salah, seolah aku yang sengaja menghalangi keinginanku untuk mempertahankan hubungan itu. Andai saja aku setuju pertunangan itu ditunda, mungkin sekarang aku tak akan menanggung derita sehebat ini. Mungkin Dino sudah memutuskan hubungannya dengan Yuanita, menjual rumah mungil yang rencananya akan kami tempati untuk menutup kerugian dan kembali seutuhnya kepadaku. Memulai lagi semuanya dari awal, mencari pekerjaan baru, menikah denganku dan tinggal di rumah kontrakan sederhana yang halamannya sempit tapi tetap kutanami bunga-bunga. Membangun lagi prasasti cinta yang sempat jatuh berserakan menjadi puing-puing. Menyusun rencana-rencana baru agar nanti bisa punya rumah sendiri lagi, punya anak kembar dan hidup bahagia selama-lamanya. Aku menyesal mengikuti saranmu.
Tapi ada sisi lain dalam diriku yang menolak pemikiran itu, bahkan terasa seperti menghakimi sisi diriku yang pemimpi. Aku tak mau digantung tanpa kepastian dan dengan jelas tegas menolak penghianatan. Sudah semestinya aku diperjuangkan. Pemikiran ini sedikit melegakanku. Sisi ini pula yang mengantarkan aku pada pelukanmu dengan wajah sembab gara-gara menangis seharian mirip wajah seorang petinju yang baru saja kalah KO. Aku menyerah pada dekapanmu.
Ingin rasanya memukul dadamu berulang-ulang dengan kepalan kedua tangan untuk meluapkan kejengkelan, namun nyala lilin dalam dirimu begitu dahsyat menghangatkan pori-pori di sekujur tubuhku hingga aku tenggelam dalam kepasrahan yang dalam. Aku menangis lagi sampai air mataku mengering, lalu terlelap hingga pagi.
Ketika aku terjaga kamu sudah nggak ada. Perahu kecil nan rapuh itu mengapung sendirian di tengah lautan mencari-cari tambatan. Hari-hari nan hening sepi pun dimulai.

+ + + + +

Tadinya aku satu. Seorang perawan ting-ting asal desa cicaheum di pelosok kota Sukabumi, yang kuliah di Bandung memilih jurusan tehnik informatika pada sebuah universitas swasta. Selalu tampil up to date, komplet dengan koleksi bahasa gaul dan eksis di setiap pergaulan gaya anak kota. Bercita-cita menjadi sarjana lalu mencari kerja dan mengumpulkan banyak uang agar bisa kaya raya. Berharap ketemu pangeran tampan yang punya prospek masa depan, lalu menikah dan tinggal di rumah bergaya minimalis lengkap dengan perabot yang sarat nilai estetika, serta mobil keluaran terbaru di teras garasi beratap kanopi. Satu yang ceria, satu tujuan, satu impian.
Tapi semenjak bertemu kamu tiba-tiba saja aku berubah menjadi dua. Tiba-tiba aku menemui sisi lain diriku yang pemurung, yang sering merasa bodoh dan tak percaya diri dan mulai takut bermimpi.
Waktu itu hari sudah sore, tapi matahari masih bersemangat membakar hari meski merahnya senja mulai mengintip di batas cakrawala. Di sore itu pula pertama kali aku bertemu kamu yang menyambutku dengan senyuman pemecah bisunya langit. Otakmu yang cemerlang mengalir teratur lewat tarian lidahmu yang meliuk indah hingga menembus setiap sisi ruang benakku, seiring kata-kata cerdas yang meluluh lantakkan dinding kegelapan dalam diriku. Aku pun takluk kepadamu.
Dengan suka rela kuserahkan sawah ladangku yang kering pada benih-benih kejeniusanmu, agar suatu saat dapat memanen langkah panjang nan ringan di setiap langkah hidupku. Namun yang terjadi pada musim pertamaku ternyata tidak seperti itu. Aku tak melihat bunga-bunga merekah di musim semi dan tak ada satupun kupu-kupu yang sudi singgah di atas ladang cintaku yang kering meski hujan tiada lelah membasahi bumi. Mengikuti kata-katamu hanya berujung musnahnya mimpi indah yang telah kurajut selama ini.
Ketika akhirnya Dino meninggalkan aku dan berpaling pada wanita lain yang sebelumnya berstatus teman selingkuhannya, seketika itu pula separuh mimpiku hancur berantakan. Rumah mungil yang sudah tersedia, pertunangan yang sudah di depan mata tiba-tiba saja menguap dihempas pahitnya realita. Bak mengakhiri dongeng pengantar tidur yang selama ini telah menjadi bagian dari hidupku sekaligus meninggalkan catatan kelam yang terukir di setiap panjangnya malam. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku merasa telah kehilangan tujuan.
Aku pun kembali menjadi gadis desa yang hidup sebatang kara di tengah peradaban kota yang kejam. Berjalan tertatih-tatih menelusuri jalan yang gelap dan menakutkan, mencari-cari secuil alasan untuk bertahan hidup di atas sepasang kaki yang mudah goyah, yang berpotensi menjadikanku mangsa bagi mereka yang lapar. Sementara diriku terlanjur telah terbelah menjadi dua dan terlalu takut untuk bermimpi lagi. Keceriaanku hilang lenyap tak berbekas berganti wajah hopeless yang lebih suka menunduk dari pada menatap tegak hari esok yang gelap pekat.
Semua gara-gara kamu.
Ironisnya aku tak punya pilihan lain selain memilihmu.

+ + + + +

Sebelum bertemu kamu derai tawaku lepas deras menembus siang dan malam. Bersama segenap teman yang menjadikanku ratu sejagad diantara sekian dayang-dayang. Yang tak pernah berhenti menyanyikan lagu-lagu pengusir sepi yang kusukai. Aku adalah pusat perhatian.
Tapi kedekatanku denganmu bagai menciptakan jarak dengan mereka. Seolah kamu adalah monster berwajah seram yang membuat mereka lari tunggang langgang karena ketakutan. Seolah ada pagar pembatas setinggi langit yang kamu ciptakan sehingga mereka hanya bisa melambaikan tangan dan memanggil-manggil namaku dari kejauhan. Pelukanmu bagai memenjarakan aku.
Tawaku kini tak lagi serenyah dulu, untuk berbicarapun aku harus lebih dulu memilah kata. Mengumbarnya begitu saja tanpa lebih dulu mencerna hanya akan berujung kritik tajam nan pedas yang bakal kuterima, yang menurutku lebih menyerupai cambukan yang menyayat hati. Salah dan salah lalu salah seolah telah menjadi satu-satunya caramu memandangku, seolah tak ada satupun kebenaran yang pantas kumiliki. Andai pun ada sedikit yang tersisa pasti akan dengan begitu mudah kamu habisi. Kecerdasanmu kian menenggelamkan aku.
Diriku kini bagai tak lagi memiliki ruang gerak, sebegitu mudah terkuasai olehmu tapi anehnya aku diam saja. Aku nggak tahu kenapa, mungkin karena dibalik setiap kata-kata yang kamu ucapkan tersembunyi jalinan mantra-mantra.
Aku bagai tercabut dari habitatku ketika kamu memaksaku pindah kos, bagai tanaman yang tercabut hingga akar dari tanah tempatnya hidup, lalu kamu tanamkan di atas lahan penuh hijau rerumputan yang masih asing bagiku. “Seseorang harus hijrah jika ingin membuat hidupnya menjadi lebih baik” itu mantramu.
Kamu masih belum berhenti memaksaku, mengatur segalanya seolah aku anak kecil yang harus menuruti semua titahmu. Mengejar kelulusan dengan segala keterbatasan dan cepat-cepat mencari kerja menjadi topik yang paling sering kamu bicarakan disetiap waktu. Kamu selalu bicara tentang aku, seolah permasalahan hidupku adalah menu makanan sehari-harimu. “Kamu harus bereaksi menghadapi kenyataan sesulit apapun itu, menunda-nunda hanya akan menambah daftar kesulitanmu. Hidup itu penyikapan, bukan tetang seberapa pintar atau seberapa hebatnya kamu. Keterbatasan adalah jalan bukan alasan” itu mantramu berikutnya.
Sebegitu serius kamu memandang kehidupan seolah kata bersenang-senang tak pernah ada dalam kamus hidupmu. Dimataku kamu adalah makhluk yang membosankan.
Sering kali aku berpikir tentang relaksasi namun sepertinya mantra-mantramu tak memberiku sedikitpun celah untuk melarikan diri. Ketika akhirnya aku lulus kuliah dan tak lama berselang mendapatkan pekerjaan, kamu pun tak mengijinkan aku tertawa. “Kamu harus bersyukur pada semua yang kamu dapat, tapi juga jangan cepat merasa puas. Hidup sering kali bersikap kejam pada sebagian orang yang hanya berpikir untuk bersenang-senang. Sedikit saja kamu menghela nafas panjang, masalah baru telah menunggumu kemudian” mantramu terus berlanjut.
Dulu aku adalah penumpang gratisan, siapa saja akan berebut mengantarkan aku kemana saja aku mau. Namun taxi tanpa argo itu tak pernah lagi ada semenjak kamu memaksaku membeli sepeda motor dengan cara mengangsur, dengan menyisihkan gaji bulananku. Semenjak itu pula aku berkendara seorang diri dengan skuter matik menyapa debu-debu jalanan, menyambut sengatan terik matahari dan berpasrah ria pada guyuran air hujan. Lucunya sekarang aku justru memberi tumpangan pada teman sekantor yang kebetulan alamat rumahnya sejalan. “Kamu harus belajar tidak tergantung pada orang lain. Berarti bagi orang lain akan membuat hidupmu jadi lebih indah sesederhana apapun itu” Ini mantramu yang paling membingungkan. Bagaimana dengan ketergantungan yang kamu ciptakan?
Hidupku telah menjadi hidupmu. Aku tak lagi merasa ada atau bahkan tak pernah ada karena pengaruh sihirmu begitu hebat membuatku tunduk pada semua mau mu, seolah aku adalah boneka vodoo yang tak bisa lepas dari cengkeramanmu. Hebatnya pada saat itu pula kamu pergi meninggalkan aku dengan alasan melanjutkan perjalanan hidupmu. Dirimu bagai meletakkan aku begitu saja di atas jalan panjang nan berliku setelah sekian lama menjadi balerina yang menari-nari di atas telapak tanganmu. Kamu bagaikan sedang menancapkan jarum pada boneka vodoo tepat di jantung hati, yang berarti aku harus bersiap menghadapi jerit sepi untuk kedua kali. Menyelami hitam pekat kehidupan seorang diri setelah sebelumnya terlanjur menikmati pijar terang cahayamu.
“Mengapa kamu lakukan semua ini?” kuberanikan diri untuk bertanya sebelum kamu benar-benar pergi. Pertanyaan ini menjadi penting bagiku, siapa tahu setelah mengetahui semua alasanmu aku dapat terbebas dari pengaruh sihirmu.
Cause I do, I loved, I care” jawabmu sambil tersenyum. Jarum itu serasa menikam lebih dalam pada boneka vodoo. Sihirmu terus berlanjut menebar nyala api di setiap sel-sel kulit, bagai mengatur laju adrenalin di setiap gerak langkahku di sepanjang perjalanan hidup.
Betapa sadisnya kamu. Air mata yang berjatuhan selama berhari-hari setelah kamu pergi adalah bukti nyata kekejamanmu. Kamu jahat.

+ + + + +

“Sebenarnya aku berharap ketemu Dian Sastro” katamu.
“Tadinya aku juga berharap ketemu Nicolas Saputra” balasku tak mau kalah.
Seolah kami berdua sama-sama meyakini adanya kebetulan, seolah dipertemukan diantara rumitnya traffict semesta bagi kami sama-sama bukan bagian dari impian. Kami sama-sama mengingkari takdir dan bersembunyi dari ketertarikan alami yang tak dapat dijelaskan dengan bahasa yang sederhana. Tapi kenyataan lebih suka bicara kalau kamu nggak butuh aku. Aku yang lamban berpikir alias lemot jelas bukan tipemu yang mengidolakan sosok cerdas seperti Dian Sastro. Situasi yang memaksaku untuk membutuhkan kamu meski kamu bukan Nicolas Saputra. Seolah aku yang ditakdirkan bertemu kamu bukan sebaliknya.
Yang terjadi berikutnya pun lebih seperti komunikasi satu arah. Aku dan kamu seakan sedang berada di atas panggung dalam sebuah pentas drama monolog. Skrip naskah dalam skenario hanya berisi kata-kata buat kamu, bukan buat aku. Meski berada di atas panggung yang sama namun keberadaanku tak lebih dari sekedar pajangan atau obat pengusir nyamuk. Mereka yang menonton pun hanya memandangmu, menikmati kata-kata teduhmu tanpa sedikitpun menghiraukan aku seolah aku tak pernah ada.
“Mengapa kamu memilih aku?” tanyaku sambil berbisik.
“Karena kamu bisa menerima mereka yang cemburu, kamu terlalu malu meluapkan hasrat untuk menguasaiku” jawabmu.
Pertanyaanku menjadi satu-satunya kalimat yang kuucapkan di atas panggung. Selebihnya kamu yang terus menerus bicara mengumbar mantra sampai pentas drama berakhir seiring tertutupnya kain tabir.

+ + + + +

Dulu layang-layang itu terbang melayang kesana kemari dipermainkan angin setelah benangnya putus, lalu kembali terbang tinggi menembus awan karena benangnya kamu raih. Anehnya kini layang-layang itu tetap mengudara meski kamu sudah nggak ada. Sebenarnya aku penasaran ingin tahu siapa yang mengambil alih benangnya, tapi kesibukanku sebagai asisten manajer pada sebuah bank swasta membuat aku tak memiliki sedikit pun waktu untuk meliriknya. Bos ku yang suka mengalihkan tanggung jawabnya kepadaku bagai menghabisi ruang kesenanganku. Konfik internal gara-gara persaingan terselubung lewat isu dan gosip-gosip yang tak jelas sumbernya memaksaku untuk mewaspadai situasi yang berkembang setiap waktu. Aku melarut dalam kehidupanku yang baru.
“Ikuti saja jalan itu, suatu saat pasti akan ketemu juga ujungnya. Kamu tak perlu takut lagi menghadapi cobaan selama kamu nggak lupa diri. Kesepian, rindu dan sakit hati tanpa kamu sadari menjadi penyangga yang kokoh bagi dirimu yang rapuh untuk bertahan hidup. Kamu tak perlu memaksa merubah dirimu menjadi pintar untuk membuat yang lain terpedaya, biarkan kekuranganmu menjadi pesona alami untuk meraih semua mimpi.” itu mantramu yang terakhir.
Aku tak selalu berhasil menerjemahkan bahasa mantramu, lebih suka mengikuti reaksinya seiring waktu hingga aku tak lagi merasa dua. Tanpa kusadari sisi pemurungku kini menjadi ruang sederhana untuk instrospeksi diri, sementara rasa takut dan tak percaya diri yang datang sesekali lebih menyerupai peringatan untuk berhati-hati. Perlahan-lahan aku mulai berani bermimpi lagi. Berteman harapan kembali melukis asa pada langit-langit kamar di penghujung malam sebelum menjemput peraduan.
Perahu kecil itu tetap mengapung sendirian di tengah lautan, masih setia mencari tambatan untuk bersandar jika waktunya tiba. Benar katamu, aku terlalu malu untuk merayumu agar berkenan datang ke perahuku disaat bulan purnama, dan mengajakmu bercinta di atasnya. Sihirmu terus melaju tanpa dapat lagi terhenti. Mungkin bakal abadi sampai aku mati. Kekejamanmu sempurna.


---***---