
Setiap sore hari, para pekerja sebuah pabrik roti memiliki tradisi pulang kerja berbekal parcel yang terkemas rapi. Selain roti, ada juga yang membawa selai buah, gula atau terigu. Parcel disesuaikan dengan divisi kerja mereka masing-masing. Mungkin lembaran uang adalah parcel bagi mereka yang bekerja di bagian keuangan. Sambutan hangat keluarga telah menanti kedatangan, parcel menjadi penentu utama di setiap penantian berhias senyuman.
Sementara di sore yang sama sang pemilik pabrik sedang pusing tujuh keliling, sebulan terakhir omset penjualan menurun tajam. Lesunya pasar berakibat persediaan menumpuk sesak memenuhi gudang. Disaat bersamaan biaya pengeluaran pribadi juga sedang menuntut perhatian. Pendaftaran anak sekolah, keperluan rumah tangga sampai mobil yang mulai dimakan usia dan menuntut untuk segera diganti datang secara bersamaan. Namun secara ajaib semua permasalahannya dapat teratasi dalam kurun waktu sebulan. Kemudahan demi kemudahan datang silih berganti. Informasi mengalir tiada henti memberi solusi. Secara perlahan penjualan berbalik meningkat tajam, biaya pendaftaran sekolah mudah teratasi karena fasilitas angsuran. Sebuah dealer mobil bersedia membeli mobil lamanya dengan harga pantas, dan menukarnya dengan mobil baru disertai bunga angsuran ringan.
+ + + + +
Langkah kaki seorang karyawan bagian gudang terhenti di pintu gerbang. Pertanyaan sederhana si penjaga pabrik mengusik alam bawah sadarnya, menghujam akal pikirannya hingga aliran darahnya sempat terhenti seketika.
“Sudah berapa banyak gula yang kau curi ? Seberapa kaya dirimu sekarang ?”
Kata-kata itu meluncur datar tanpa sedikitpun intonasi meninggi. Menggelar nada perduli tanpa sama sekali mengisyaratkan unsur interogasi. Mengalir tajam seperti air terjun di pegunungan. Menembus dadanya hingga ke dalam sanubari. Memaksa hatinya serta merta untuk bicara mengurai kata demi kata.
“Sungguh tak ada niat dari diriku untuk memperkaya diri, semua hanyalah upayaku untuk menyikapi biaya hidup rumah tanggaku yang kian hari kian meninggi”
“Sungguh tak ada niat dari diriku untuk memperkaya diri, semua hanyalah upayaku untuk menyikapi biaya hidup rumah tanggaku yang kian hari kian meninggi”
“Apakah pemilihan sikapmu menyelesaikan masalahmu ? Apakah dengan cara itu berarti dirimu telah tercukupi ?”
Sang karyawan mencoba untuk bertahan, meski cadarnya kian terkoyak-koyak pedang tajam berhias lentera.
“Adakah langkah yang pasti dalam situasi seperti ini ? Andai perbuatanku adalah sebuah dosa, mengapa bukan kemiskinan yang dipersalahkan ?”
Si penjaga pabrik memperbaiki posisi duduknya, ibarat seorang raja yang sedang menghadapi rakyatnya yang berselimut kebodohan. Nafasnya sangat teratur, aura kasih nan teduh terpancar di setiap kata-katanya yang meluncur. Meskipun dia memiliki kekuatan untuk memangsa kebodohan dihadapannya, namun dia memilih sikap sebaliknya.
“Aku tak bermaksud mengukur kedalaman imanmu, karena itu bukan hak ku. Tahukah kamu siapa yang berkuasa dan berkehendak atas segala situasi ? Andai situasi yang dipersalahkan, siapa sebenarnya yang kau persalahkan ?”
Sang karyawan terdiam, darah di sekujur tubuhnya semakin mengalir kencang. Hembusan angin menerpa wajahnya yang kuyu dan berdebu, lalu lalang para karyawan yang pulang kerja menjadi terabaikan. Teralihkan oleh percakapan yang kian menghangat karena curahan air hakekat. Kata-kata si penjaga pabrik menyudutkan dirinya di tembok batas keangkuhan, hingga tak kuasa lagi sembunyi di balik tabir pembenaran diri.
“Aku mengerti, aku lah yang bertanggung jawab untuk hidupku sendiri. Hanya aku yang layak dipersalahkan atas segala kemalangan yang aku alami. Namun aku sungguh tak tahu apa yang harus aku lakukan untuk menghentikan tangis anakku dan keluh ibunya. Mengapa Yang Maha Bijaksana tak membekaliku dengan petunjukNya ?”
“Hentikan segala cara yang pernah kau lakukan. Seberapa banyak yang kau curi tidak akan membuat dirimu tercukupi. Biarkan Yang Maha Kaya yang bekerja mencukupimu dengan caranya. Ketidakmudahan dan kemudahan selamanya akan berdampingan, bergantung pada pemilihan sikapmu. Perbuatanmu justru mendatangkan keberuntungan bagi pemilik tempat kerjamu, sebaliknya ketidakberuntungan akan menjadi bagian dari hidupmu. Dirimu akan semakin miskin, sementara dirinya akan semakin kaya. Karena dirimu mengambil sesuatu yang bukan menjadi hak mu”
Sang karyawan memadangi wajah si penjaga pabrik dengan penuh takjub, kilatan cahaya bak menghujani tubuhnya dengan jutaan makna. Semesta telah membasahi hatinya yang kekeringan, menghentikan mimpi buruk yang berkepanjangan. Menyadarkan diri dari sebuah kekeliruan, menawarkan cara pandang yang baru di khasanah pikiran.
“Betapa bahagianya aku andai keberuntungan menjadi bagian dari nafasku. Betapa bahagianya aku andai kemudahan berdetak seiring denyut nadiku. Saat ini aku mulai mencium aroma wewangian, dimanakah sesungguhnya letak kembang setaman ?”
“Yang kau petik adalah yang kau tanam. Andai yang lain bersiasat janganlah kau mengikutinya. Tanpa berkat dan kemudahan, seberapa banyak yang kau miliki tak akan pernah tercukupi. Perhatikan sekelilingmu, dimanapun kau berada. Lihatlah dengan jernih, maka akan engkau temukan orang-orang dengan penghasilan yang lebih sedikit, namun dengan beban yang lebih berat dari padamu. Namun wajah mereka senantiasa berhias senyum, syukur telah menjelma rasa di kedalaman hati. Merekalah orang-orang yang terberkati, yang memaksa para malaikat sibuk bekerja agar mereka tercukupi. Sebaliknya lihatlah mereka yang kaya dan tenggelam dalam kepalsuan dunia. Tidak sedikit diantara mereka yang mengeluh, pikiran mereka tak pernah berhenti mengaduh. Syukur dalam diri mereka hanya sebatas kata-kata, tak sedikitpun melibatkan rasa. Seberapa banyak yang kau terima, tanpa berkat yang menyertainya akan sia-sia”
Sang karyawan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Mencoba menahan air mata, seakan-akan malu andai pada saat itu malaikat tengah melintas dihadapannya. Gema adzan mahgrib mengakhiri percakapan, menyisakan rangkaian hikmah di tengah keheningan. Mereka sama-sama beranjak menyambut panggilan Yang Maha Agung berbekal renungan.
+ + + + +
Media tak henti-hentinya memuat berita tentang konspirasi dan korupsi. Sehebat apapun posisi mereka dalam bisnis atapun pemerintahan, mereka tak lebih dari hanya seorang pencuri. Tak terbayangkan jika mereka berbagi hasil curiannya dengan keluarga. Tak terbayangkan ketidakmudahan seperti apa yang akan menimpa anak-anak mereka, atau keturunan mereka di kehidupan selanjutnya. Mereka adalah orang-orang yang terjebak, sibuk menutupi kebohongan dengan kebohongan lainnya. Memeras kecerdasan dengan menggelar sekian siasat dan skenario untuk menutupi bau busuk. Berdalih sejuta alasan demi pembenaran yang bukan kebenaran, dan telah lupa bahwa hidup sejatinya adalah sebuah pilihan.
Namun sehebat apapun mereka hanyalah manusia biasa, yang lupa bahwa Tuhan diatas sana adalah jagonya tipu daya.
Andai manusia meyakini
yang dipetik adalah yang ditanam,
semestinya mereka memahami
bahwa kebetulan yang tidak menyenangkan
adalah bentuk kesengajaan Tuhan
**********************************************************

