
Ramadhan telah berjalan dua puluh hari, konon sepuluh hari tersisa adalah waktu jatuhnya malam seribu bulan. Sudah pasti bukan lagi mitologi karena penjelasan di Al Qur’an adalah kebenaran Tuhan. Dulu kita sama-sama menyebutnya masa-masa rawan. Di malam ganjil kita berdua selalu bersama menjaga malam, berharap bisa menyaksikan keajaiban ketika berkah disebar. Walau mungkin Tuhan tak akan menunjukkannya begitu saja kepada mata telanjang, namun kita tak perduli. Malam sudah terlanjur bagai siang, mata ini sudah terlanjur enggan terpejam. Sambil bercanda kamu bilang tak mungkin ada razia dari para malaikat. Kamu malah seakan balik bertanya, kalau puasa bisa dijalani dengan tidur, bagaimana dengan mata yang terjaga ? Meski berbau pembenaran namun aku tertawa juga mendengarnya. Kamu berani melucu di wilayah Tuhan. Menurutku mungkin justru malaikat yang akan cemburu melihat kita bermesra-mesra secara spiritual mencumbui gelapnya malam.
Ah, itu dulu. Kini aku menjalaninya sendirian. Rahasia-rahasia alam tak lagi semenarik dulu tanpa dirimu disisiku. Toh rahasia selamanya akan tetap menjadi rahasia. Tuhan hanya akan menyingkap tabir jika ada perlunya. Bukannya aku menyangsikan kemurahan Tuhan, namun keberadaanmu menjadi satu-satunya alasanku menelusuri indahnya kegaiban. Tak mungkin aku berbagi rasa takjub dengan Tuhan, pasti Dia menganggapku rendah Iman karena terlalu gampang heran. Bersamamu lah tampilan tiga dimensi ini begitu mengasyikkan untuk ditelusuri. Karena sejatinya ekspresimu lah yang paling aku rindukan. Menurutku, kamu adalah satu-satunya makhluk di muka bumi yang aku kenal, yang mencintai Tuhan dengan cara yang unik.
Tak sedikit hikmah yang terangkai melalui obrolan-obrolan hangat. Meski tak sedikit debat, namun selalu berujung sepakat demi sepakat. Menurut kita bedua, indahnya ramadhan tak akan lekang oleh zaman, ramadhan lah keajaiban yang sebenarnya. Adalah muara dari cerita-cerita, sampai disebut sebagai bulan turunnya Al Qur’an.
Lucunya di lain waktu akhirnya kita sama-sama tertawa, pemahaman inti yang meresap di hati adalah sebagian caraNya berbagi rahasia. Begitu halus merasuki kalbu, walau mata kita berdua sedang terjaga. Begitu hebatnya Tuhan mengelabui kesadaran, absolut berkuasa di setiap relung alam bawah sadar. Kita tetap bukan siapa-siapa, dengan caraNya yang agung kita terpedaya. Paling tidak cinta kita berdua tak bertepuk sebelah tangan, tak ada malam yang sia-sia. Tuhan Maha Pemurah, Maha Pengasih dan Penyayang.
+ + + + +
Katamu dulu, berbuka dengan tiga buah kurma yang dijalani Rasulullah adalah simbol kesederhanaan. Diakhiri minum air putih sudah cukup mewakili panggilan perut. Sayangnya buah kurma asli yang diimport dari tanah arab tidak cukup murah harganya. Akhirnya dengan bercanda kamu menggantinya dengan dua gorengan dan segelas air putih. Menurutmu sama artinya, tidak mengurangi makna kesederhanaan yang diajarkan Sang Nabi. Sebenarnya aku tertawa, namun penjelasanmu bisa aku terima. Perut tak menuntut lebih banyak dari itu. Akupun ikut menjalaninya. Namun kepada mereka yang tetap berbuka dengan kurma sebagai sunnah rasul, itu sah-sah saja. Semua orang berhak mencintai Muhammad Sang Kekasih Allah dengan caranya sendiri-sendiri.
Kini dalam sendiri aku mengenangmu. Dua gorengan dan segelas air putih menemaniku ketika adzan mahgrib terdengar. Terlihat sederhana bagi kedua mataku yang melihatnya, terasa mewah bagi jiwaku yang meresapinya. Dalam imajinasiku saat ini, aku sedang berbuka denganmu. Bayangmu seketika hadir menyaputkan cahaya, namun tatap matamu kini sebening kaca.
Kini dalam sendiri aku mengenangmu. Dua gorengan dan segelas air putih menemaniku ketika adzan mahgrib terdengar. Terlihat sederhana bagi kedua mataku yang melihatnya, terasa mewah bagi jiwaku yang meresapinya. Dalam imajinasiku saat ini, aku sedang berbuka denganmu. Bayangmu seketika hadir menyaputkan cahaya, namun tatap matamu kini sebening kaca.
+ + + + +
Katamu dulu, ramadhan adalah bukti bahwa Tuhan tak membeda-bedakan hambaNya. Hanya dalam ramadhan Tuhan serentak memanggil semua jiwa tanpa memandang kasta. Semua di atur lewat tata cara yang sempurna, tak ada celah sedikitpun yang tersisa. Tak terbayangkan, bagaimana mungkin semua orang bisa merasakan hal yang sama. Tidak perduli kaya atau miskin, pejabat atau bukan, semuanya merasakan haus dan lapar pada waktu yang sama pula. Fenomena yang tak mungkin terjadi pada bulan-bulan yang lain. Ramadhan memang istimewa.
Aku sedikit terkejut dengan pemikiranmu, namun tak menyangkalnya. Sejauh ini aku hanya menjalaninya, tanpa pernah berpikir mengapa Tuhan menetapkan satu bulan menjadi special dibanding lainnya. Kalau memang kembali kepadaNya adalah jalan terakhir yang terbaik bagi manusia, menurutku sudah seharusnya manusia berusaha. Tuhan nggak perlu capek-capek harus mengguggah semua jiwa agar menemukan kesadaran diri ditengah carut-marutnya kehidupan dunia. Bukankah hidup itu pilihan ?
Kamu tidak menjawab pertanyaanku tentang makna pilihan, namun menguraikannya dengan kata-kata yang mengagumkan. Sampai-sampai seluruh bulu kuduk ku ikut bergetar. Seolah-olah kata-kata mu bersenyawa dengan seluruh kekuatan alam. Sampai membuat ku tertunduk, merasa takluk dan tak berdaya apa-apa. Katamu, disitulah letak Keagungan Tuhan. CintaNya pada manusia sungguh tak terbatas, Tuhan akan melakukan segala cara agar manusia tidak tersesat. Agar menemukan kesadaran jiwa, tahu cara terbaik untuk menjalani hidup dan kembali kepadaNya.
Kata-katamu serasa membuatku meringkuk dalam gelap, memaksaku menelusuri ketakutan yang tak bersayap. Menyadari kenaifanku sendiri, bahwa Tuhan tak bisa dibandingkan dengan manusia. Sesuatu yang melebihi, sampai-sampai kata “Maha” melekat di setiap sifatNya. Tuhan punya pemikiran sendiri yang tak mungkin disamai manusia. Semuanya atas nama cinta, dan demi kebaikan manusia. Tuhan tak pernah merasa capek, tiada pernah merasa susah melakukan yang terbaik demi manusia yang dicintaiNya. Aku jadi malu hati, karena kepada yang aku cintai sikapku terkadang masih setengah hati. Sementara Tuhan yang cintaNya luar biasa pada manusia, selama ini cuma aku sapa ketika aku butuh sesuatu, bahkan terkadang aku jadikan pelarian ketika aku butuh sandaran. Hebatnya Tuhan selalu menerimaku kapan saja aku mau. Sungguh kontras dengan diriku yang masih kesal pada mereka yang mencariku hanya kalau ada maunya. Tiba-tiba aku merasa hina di depan Tuhan Yang Mulia. Ah, aku masih harus banyak belajar mencintaiNya.
Aku bahkan tak mampu menjawab ketika dirimu balik bertanya, seberapa banyak manusia yang telah bertemu dengan jiwanya sendiri. Aku dan kamu sesudah itu terdiam cukup lama, sama-sama tenggelam dalam renungan yang menghanyutkan. Angin pun tiba-tiba berdesir tanpa suara. Bintang di langit berkerlap-kerlip menyapa mega-mega.
Ketika aku bertanya, apakah semua yang menjalani ramadhan akan mendengar panggilan halus dalam dirinya. Kamu bilang itu rahasia, atau yang tahu hanya individu manusia dengan Tuhannya. Kembali pada hukum pilihan yang tadi aku pertanyakan. Mendekat adalah keharusan karena manusia butuh Tuhan, sementara Tuhan nggak butuh manusia. Seberapa dekat itu rahasia, itu pilihan. Hanya yang memilih yang akan terpilih.
Terkuak lagi satu tabir rahasia, betapa mulia nya makna ramadhan.
+ + + + +
Entah kenapa, aku tiba-tiba teringat kasih sayang yang pernah aku terima dari orang-orang yang sudah mati, kamu bilang aku beruntung. Menurutmu Itu adalah salah satu bentuk panggilan Tuhan pada jiwa manusia. Terutama cinta dari orang tua, karena selama hidup mereka adalah perantara cinta Tuhan buat anaknya. Kamu berharap aku mau menelusurinya.
Katamu yang beruntung adalah yang “merasa” beruntung. Yang menjadi lebih ingat segala kebaikan orang lain pada diri sendiri dibanding kebaikan diri sendiri pada orang lain. Yang menjadi lebih ingat dengan kesalahan diri sendiri pada orang lain dibanding kesalahan orang lain pada diri sendiri. Mereka lah yang menemukan kesalahan diri namun juga sekaligus merasa dicintai.
Mereka yang hatinya bergetar ketika hari kemenangan tiba. Yang mengucapkan takbir dengan terbata-bata. Yang bertemu kefitrian diri, merasa hampa karena jiwanya meraja-raja. Tak sedikit yang menangis karena teringat dosa-dosa. Dan menyadari bahwa hidup dan mati hanya terpisah oleh tabir tipis sebening plasma.
+ + + + +
Paling-paling lebaran nanti aku hanya bisa menghadiahi mawar dan melati kesukaanmu. Dan sepenggal doa yang sudah menjadi kewajibanku. Namun pusaramu pasti akan tetap diam membisu, tak bergeming dengan gelimang air mataku. Mungkin bunga perlambang cinta dan ketulusan Tuhan itu tak lagi berarti bagimu. Mungkin wewangian nya telah cukup menjadi penghantarmu menuju arasyNya. Katamu, manusia hanya seonggok debu yang menjadi berdaya karena kekuatan Tuhan. Itu pun bukan untuk diri sendiri, namun bagi yang lain. Semua yang dibuat dari tanah akan dikembalikan ke tanah. Begitu pula aku nantinya.
Aku kini menjalaninya seorang diri. Menatap gelapnya malam yang kadang tak ber bintang. Menjadi saksi bulan yang sesekali warnanya merah, karena gerah melihat tingkah laku manusia yang kian serakah. Aku sendirian menyaksikan jiwa-jiwa yang ingin terbebaskan, sementara dunia kian menghimpit mereka tanpa belas kasihan. Jiwa-jiwa yang merasakan kesepian di tengah keramaian. Katamu, aku ada untuk mereka, begitu juga sebaliknya. Cinta Tuhan bukan untuk diobral, namun juga bukan barang mainan.
Bagiku kamu tak pernah mati, karena kematian bukanlah akhir melainkan awal. Kamu akan selalu hidup di setiap aliran darahku seiring nafas Tuhan. Aku dan kamu akan selalu seiring bersama di setiap sebelas bulan. Mendampingiku di setiap perang batin yang tiada akhir. Menelusuri pekatnya resah gelisah yang tak beralasan, yang aku tak pernah tahu penyebabnya. Meski dalam keseharian kamu sering terlupakan. Maafkan aku yang terkadang masih menghamba gemerlap dunia, yang terkadang masih angin-anginan, yang masih terikat dengan daging dan tulang. Aku malah kadang sampai lupa, kalau Muhammad Sang Nabi sungguh kaya akan ilmu bukan materi.
Aku dan kamu hanya berbeda posisi, tabir tipis ini bukan penghalang. I’m in this side, you’re on the other side.
Satu lagi makna yang kutemu, ramadhan adalah pelepas rindu bagi jiwa di setiap masa yang berlalu.
Ijinkan aku cengeng sebentar,
bukan karena sedih tertusuk duri
juga bukan karena sedang mabuk Tuhan
Aku hanya sedang merindu
pada anak kecil yang memainkan gitar
dendang kasmaran sufi jalanan
**********************************************************


