Friday, August 19, 2011

LEBARAN TAHUN INI KITA NGGAK SAMA-SAMA


Ramadhan telah berjalan dua puluh hari, konon sepuluh hari tersisa adalah waktu jatuhnya malam seribu bulan. Sudah pasti bukan lagi mitologi karena penjelasan di Al Qur’an adalah kebenaran Tuhan. Dulu kita sama-sama menyebutnya masa-masa rawan. Di malam ganjil kita berdua selalu bersama menjaga malam, berharap bisa menyaksikan keajaiban ketika berkah disebar. Walau mungkin Tuhan tak akan menunjukkannya begitu saja kepada mata telanjang, namun kita tak perduli. Malam sudah terlanjur bagai siang, mata ini sudah terlanjur enggan terpejam. Sambil bercanda kamu bilang tak mungkin ada razia dari para malaikat. Kamu malah seakan balik bertanya, kalau puasa bisa dijalani dengan tidur, bagaimana dengan mata yang terjaga ? Meski berbau pembenaran namun aku tertawa juga mendengarnya. Kamu berani melucu di wilayah Tuhan. Menurutku mungkin justru malaikat yang akan cemburu melihat kita bermesra-mesra secara spiritual mencumbui gelapnya malam.
Ah, itu dulu. Kini aku menjalaninya sendirian. Rahasia-rahasia alam tak lagi semenarik dulu tanpa dirimu disisiku. Toh rahasia selamanya akan tetap menjadi rahasia. Tuhan hanya akan menyingkap tabir jika ada perlunya. Bukannya aku menyangsikan kemurahan Tuhan, namun keberadaanmu menjadi satu-satunya alasanku menelusuri indahnya kegaiban. Tak mungkin aku berbagi rasa takjub dengan Tuhan, pasti Dia menganggapku rendah Iman karena terlalu gampang heran. Bersamamu lah tampilan tiga dimensi ini begitu mengasyikkan untuk ditelusuri. Karena sejatinya ekspresimu lah yang paling aku rindukan. Menurutku, kamu adalah satu-satunya makhluk di muka bumi yang aku kenal, yang mencintai Tuhan dengan cara yang unik.
Tak sedikit hikmah yang terangkai melalui obrolan-obrolan hangat. Meski tak sedikit debat, namun selalu berujung sepakat demi sepakat. Menurut kita bedua, indahnya ramadhan tak akan lekang oleh zaman, ramadhan lah keajaiban yang sebenarnya. Adalah muara dari cerita-cerita, sampai disebut sebagai bulan turunnya Al Qur’an.
Lucunya di lain waktu akhirnya kita sama-sama tertawa, pemahaman inti yang meresap di hati adalah sebagian caraNya berbagi rahasia. Begitu halus merasuki kalbu, walau mata kita berdua sedang terjaga. Begitu hebatnya Tuhan mengelabui kesadaran, absolut berkuasa di setiap relung alam bawah sadar. Kita tetap bukan siapa-siapa, dengan caraNya yang agung kita terpedaya. Paling tidak cinta kita berdua tak bertepuk sebelah tangan, tak ada malam yang sia-sia. Tuhan Maha Pemurah, Maha Pengasih dan Penyayang.

+ + + + +


Katamu dulu, berbuka dengan tiga buah kurma yang dijalani Rasulullah adalah simbol kesederhanaan. Diakhiri minum air putih sudah cukup mewakili panggilan perut. Sayangnya buah kurma asli yang diimport dari tanah arab tidak cukup murah harganya. Akhirnya dengan bercanda kamu menggantinya dengan dua gorengan dan segelas air putih. Menurutmu sama artinya, tidak mengurangi makna kesederhanaan yang diajarkan Sang Nabi. Sebenarnya aku tertawa, namun penjelasanmu bisa aku terima. Perut tak menuntut lebih banyak dari itu. Akupun ikut menjalaninya. Namun kepada mereka yang tetap berbuka dengan kurma sebagai sunnah rasul, itu sah-sah saja. Semua orang berhak mencintai Muhammad Sang Kekasih Allah dengan caranya sendiri-sendiri.
Kini dalam sendiri aku mengenangmu. Dua gorengan dan segelas air putih menemaniku ketika adzan mahgrib terdengar. Terlihat sederhana bagi kedua mataku yang melihatnya, terasa mewah bagi jiwaku yang meresapinya. Dalam imajinasiku saat ini, aku sedang berbuka denganmu. Bayangmu seketika hadir menyaputkan cahaya, namun tatap matamu kini sebening kaca.

+ + + + +


Katamu dulu, ramadhan adalah bukti bahwa Tuhan tak membeda-bedakan hambaNya. Hanya dalam ramadhan Tuhan serentak memanggil semua jiwa tanpa memandang kasta. Semua di atur lewat tata cara yang sempurna, tak ada celah sedikitpun yang tersisa. Tak terbayangkan, bagaimana mungkin semua orang bisa merasakan hal yang sama. Tidak perduli kaya atau miskin, pejabat atau bukan, semuanya merasakan haus dan lapar pada waktu yang sama pula. Fenomena yang tak mungkin terjadi pada bulan-bulan yang lain. Ramadhan memang istimewa.
Aku sedikit terkejut dengan pemikiranmu, namun tak menyangkalnya. Sejauh ini aku hanya menjalaninya, tanpa pernah berpikir mengapa Tuhan menetapkan satu bulan menjadi special dibanding lainnya. Kalau memang kembali kepadaNya adalah jalan terakhir yang terbaik bagi manusia, menurutku sudah seharusnya manusia berusaha. Tuhan nggak perlu capek-capek harus mengguggah semua jiwa agar menemukan kesadaran diri ditengah carut-marutnya kehidupan dunia. Bukankah hidup itu pilihan ?
Kamu tidak menjawab pertanyaanku tentang makna pilihan, namun menguraikannya dengan kata-kata yang mengagumkan. Sampai-sampai seluruh bulu kuduk ku ikut bergetar. Seolah-olah kata-kata mu bersenyawa dengan seluruh kekuatan alam. Sampai membuat ku tertunduk, merasa takluk dan tak berdaya apa-apa. Katamu, disitulah letak Keagungan Tuhan. CintaNya pada manusia sungguh tak terbatas, Tuhan akan melakukan segala cara agar manusia tidak tersesat. Agar menemukan kesadaran jiwa, tahu cara terbaik untuk menjalani hidup dan kembali kepadaNya.
Kata-katamu serasa membuatku meringkuk dalam gelap, memaksaku menelusuri ketakutan yang tak bersayap. Menyadari kenaifanku sendiri, bahwa Tuhan tak bisa dibandingkan dengan manusia. Sesuatu yang melebihi, sampai-sampai kata “Maha” melekat di setiap sifatNya. Tuhan punya pemikiran sendiri yang tak mungkin disamai manusia. Semuanya atas nama cinta, dan demi kebaikan manusia. Tuhan tak pernah merasa capek, tiada pernah merasa susah melakukan yang terbaik demi manusia yang dicintaiNya. Aku jadi malu hati, karena kepada yang aku cintai sikapku terkadang masih setengah hati. Sementara Tuhan yang cintaNya luar biasa pada manusia, selama ini cuma aku sapa ketika aku butuh sesuatu, bahkan terkadang aku jadikan pelarian ketika aku butuh sandaran. Hebatnya Tuhan selalu menerimaku kapan saja aku mau. Sungguh kontras dengan diriku yang masih kesal pada mereka yang mencariku hanya kalau ada maunya. Tiba-tiba aku merasa hina di depan Tuhan Yang Mulia. Ah, aku masih harus banyak belajar mencintaiNya.
Aku bahkan tak mampu menjawab ketika dirimu balik bertanya, seberapa banyak manusia yang telah bertemu dengan jiwanya sendiri. Aku dan kamu sesudah itu terdiam cukup lama, sama-sama tenggelam dalam renungan yang menghanyutkan. Angin pun tiba-tiba berdesir tanpa suara. Bintang di langit berkerlap-kerlip menyapa mega-mega.
Ketika aku bertanya, apakah semua yang menjalani ramadhan akan mendengar panggilan halus dalam dirinya. Kamu bilang itu rahasia, atau yang tahu hanya individu manusia dengan Tuhannya. Kembali pada hukum pilihan yang tadi aku pertanyakan. Mendekat adalah keharusan karena manusia butuh Tuhan, sementara Tuhan nggak butuh manusia. Seberapa dekat itu rahasia, itu pilihan. Hanya yang memilih yang akan terpilih.
Terkuak lagi satu tabir rahasia, betapa mulia nya makna ramadhan.

+ + + + +


Entah kenapa, aku tiba-tiba teringat kasih sayang yang pernah aku terima dari orang-orang yang sudah mati, kamu bilang aku beruntung. Menurutmu Itu adalah salah satu bentuk panggilan Tuhan pada jiwa manusia. Terutama cinta dari orang tua, karena selama hidup mereka adalah perantara cinta Tuhan buat anaknya. Kamu berharap aku mau menelusurinya.
Katamu yang beruntung adalah yang “merasa” beruntung. Yang menjadi lebih ingat segala kebaikan orang lain pada diri sendiri dibanding kebaikan diri sendiri pada orang lain. Yang menjadi lebih ingat dengan kesalahan diri sendiri pada orang lain dibanding kesalahan orang lain pada diri sendiri. Mereka lah yang menemukan kesalahan diri namun juga sekaligus merasa dicintai.
Mereka yang hatinya bergetar ketika hari kemenangan tiba. Yang mengucapkan takbir dengan terbata-bata. Yang bertemu kefitrian diri, merasa hampa karena jiwanya meraja-raja. Tak sedikit yang menangis karena teringat dosa-dosa. Dan menyadari bahwa hidup dan mati hanya terpisah oleh tabir tipis sebening plasma.

+ + + + +


Paling-paling lebaran nanti aku hanya bisa menghadiahi mawar dan melati kesukaanmu. Dan sepenggal doa yang sudah menjadi kewajibanku. Namun pusaramu pasti akan tetap diam membisu, tak bergeming dengan gelimang air mataku. Mungkin bunga perlambang cinta dan ketulusan Tuhan itu tak lagi berarti bagimu. Mungkin wewangian nya telah cukup menjadi penghantarmu menuju arasyNya. Katamu, manusia hanya seonggok debu yang menjadi berdaya karena kekuatan Tuhan. Itu pun bukan untuk diri sendiri, namun bagi yang lain. Semua yang dibuat dari tanah akan dikembalikan ke tanah. Begitu pula aku nantinya.
Aku kini menjalaninya seorang diri. Menatap gelapnya malam yang kadang tak ber bintang. Menjadi saksi bulan yang sesekali warnanya merah, karena gerah melihat tingkah laku manusia yang kian serakah. Aku sendirian menyaksikan jiwa-jiwa yang ingin terbebaskan, sementara dunia kian menghimpit mereka tanpa belas kasihan. Jiwa-jiwa yang merasakan kesepian di tengah keramaian. Katamu, aku ada untuk mereka, begitu juga sebaliknya. Cinta Tuhan bukan untuk diobral, namun juga bukan barang mainan.
Bagiku kamu tak pernah mati, karena kematian bukanlah akhir melainkan awal. Kamu akan selalu hidup di setiap aliran darahku seiring nafas Tuhan. Aku dan kamu akan selalu seiring bersama di setiap sebelas bulan. Mendampingiku di setiap perang batin yang tiada akhir. Menelusuri pekatnya resah gelisah yang tak beralasan, yang aku tak pernah tahu penyebabnya. Meski dalam keseharian kamu sering terlupakan. Maafkan aku yang terkadang masih menghamba gemerlap dunia, yang terkadang masih angin-anginan, yang masih terikat dengan daging dan tulang. Aku malah kadang sampai lupa, kalau Muhammad Sang Nabi sungguh kaya akan ilmu bukan materi.
Aku dan kamu hanya berbeda posisi, tabir tipis ini bukan penghalang. I’m in this side, you’re on the other side.
Satu lagi makna yang kutemu, ramadhan adalah pelepas rindu bagi jiwa di setiap masa yang berlalu.



Ijinkan aku cengeng sebentar,
bukan karena sedih tertusuk duri
juga bukan karena sedang mabuk Tuhan
Aku hanya sedang merindu
pada anak kecil yang memainkan gitar
dendang kasmaran sufi jalanan



**********************************************************

Monday, August 8, 2011

UNTUK SIAPA PUASAKU


Pagi dini hari, jarum jam bergerak ke angka tiga, cahaya lampu rumah itu hampir semuanya menyala. Seluruh penghuninya terjaga, bersatu mengelilingi meja makan yang menu nya tampak biasa saja. Sepertinya tak dipaksakan harus mengundang selera. Harum nya teh hangat menyapa mata-mata yang masih mengantuk. Hidangan yang tersentuh perlahan menerjemahkan tidur yang terganggu. Namun tak ada yang sampai menggerutu, air dingin telah membasuh wajah-wajah itu lebih dulu. Setan-setan mulai dipaksa membisu.
Semuanya dijalani demi menggenapkan hati. Perang melawan diri sendiri telah dikibarkan sejak dini hari. Bersiap menyambut hari yang panjang dan mungkin melelahkan. Bersiap menatap tegar matahari demi memenjarakan sumpah serapah dan jerit makian. Menelusuri batas kesabaran di setiap jalan demi menjala kemarahan.
Turnamen pengendalian diri telah dimulai di setiap ajang. Kalau Sang Pencipta sendiri yang punya hajat, pertandingan nya pasti bukan sembarangan, wasit-wasitnya jelas pilihan. Awareness nya pasti melebihi olimpiade dan piala dunia. Karena pesertanya mendunia dan tak mengenal kasta. Terbuka bagi siapa saja yang ingin memenanginya. Jiwa-jiwa diundang oleh gemerlap pesona ramadhan, para malaikat sibuk menyebar berjuta-juta selebaran, kebebasan sejati telah dijanjikan.
“Wahai jiwa bangkitlah, duhai yang tak terlihat dalam diriku lahirlah, sehari ini tubuhku akan kubiarkan haus dan lapar”

+ + + + +


“Lahap sekali makan mu nak”
“Supaya nanti aku tidak sampai kelaparan yah”
Sang ayah tertawa, “Suatu hari nanti kamu akan mengerti nak, sahur adalah sarana membangun niat. Kekuatan hati mampu mengalahkan segalanya, seberapa banyak yang kau makan tak menghindarkanmu dari kelaparan”
Sang ibu tersenyum. Selebihnya mereka sama-sama terdiam seribu makna. Satu bulan puasa adalah pesta jiwa, yang sudah pasti milikNya. Yang dititipkan kedalam tubuh manusia, dan suatu saat nanti harus kembali kepadaNya. Jiwa selalu memiliki keinginannya sendiri, namun selalu terhalang keinginan yang menyelubunginya. Keinginan tak terbatas manusia.
Seseorang merasa puas ketika keinginannya memiliki materi terpenuhi. Seiring waktu kepuasan itu menghilang ditelan keinginan yang lain. Yang baru cepat sekali berubah menjadi lama. Sesuatu yang tadinya menyenangkan cepat sekali beralih membosankan. Semula yang berkesan istimewa cepat berganti biasa saja. Terbitlah keinginan yang baru, begitulah seterusnya tak ada habisnya.
Hasrat seksual tak beda cerita. Selalu menggebu-gebu pada awalnya. Ketika terlampiaskan kepuasannya pun tak lama. Hasrat begitu cepat menghilang entah kemana. Apalagi bagi mereka yang melakukannya tanpa rasa cinta, tak sedikit yang menyesali karena uangnya melayang percuma. Namun seiring waktu hasrat itu akan datang lagi, seolah menyeret mangsanya dengan tali temali. Bagai jerat yang datang lagi dan datang lagi tiada henti.
Namun keduanya bukan yang utama. Bukan keinginan yang paling diinginkan raganya. Tak ada yang ingin bercinta ketika sedang kelaparan. Tak ada yang ingin mengejar materi ketika sedang kehausan. Mereka semua akan binasa tanpa keinginan keduanya. Keinginan utama untuk bertahan hidup, keinginan yang mewakili segala keinginan.
Yang lapar dan haus tak akan terbuka pikirannya, yang terikat keduanya sama dengan memenjarakan jiwanya. Iblis berpesta pora pada mereka yang menukar jiwanya dengan makanan dan minuman. Dunia dan akhirat bisa disandingkan, bukan hanya sekedar pilihan. Untuk meraihnya perlu keseimbangan, satu titik kulminasi agar jiwa bisa terbang. Lewat terapi satu bulan demi sebelas bulan berikutnya.

+ + + + +

Sepanjang meeting pagi itu setan berkata, “supervisor ku goblok dan raja tega”. Supervisor yang ber titel sarjana itu cuma bisa mengulang-ulang kata-kata yang sama. Mungkin cuma sebatas itu perbendaharaan katanya. Sama sekali tidak menghiraukan pengaruh bulan puasa, padahal produknya bukan menu sesuai untuk berbuka. Namun dia tidak perduli, di penghujung rapat kata-kata itu kembali diucapkannya, “target tetap target”. Bibirku tersenyum, kepalaku mengangguk. Dibalik tirai setan berkata sebaliknya.
Di tempat parkir belakang kantor, sepeda motor tua ku sudah menunggu, komplet dengan kardus-kardus yang isi nya harus menghilang di sore hari. Harus berganti wujud menjadi lembaran kertas berhias angka-angka. Sepertinya aku lebih membutuhkan tongkat ajaib harry potter dibanding kata “semangat” menjalani beratnya bekerja sambil puasa. Kalau ada yang bilang “nikmat”, aku masih berat untuk berkata sependapat.
Langkahku memberat, namun kata target sudah terlanjur memenuhi seisi benak. Ketika mesin motor ku hidup, setan berkata “percuma”.

+ + + + +

Di jalan-jalan berceceran pengemis jalanan yang belum tentu sehari makan. Ada yang duduk dan ada pula yang tidur-tiduran seperti hiasan trotoar. Ada atau tiada nya ramadhan mereka tetap berpuasa. Namun batinnya merintih seperih isi perutnya. Hanya berharap ada yang sudi mengulurkan tangan demi menafkahi dohirnya. Sejatinya mereka tak pernah jauh dari zona makrifatullah namun sayang sering tak terjamah. Adalah cermin raksasa yang ada atau tiada, tergantung mata hati yang melihatnya.
Sementara yang berlalu di depan mereka wajah-wajah berkecukupan. Yang tiba-tiba acuh pada panggilan perutnya selama sebulan. Mereka yang sehari-harinya dibutakan kemilau pesona dunia, yang mungkin tak menyadari kemiskinan hatinya sendiri. Namun mereka tak mau ketinggalan, ikut berharap-harap meraih berkah melimpah yang dihambur-hamburkan langit pada malam seribu bulan.
Mampukah jiwa meraihnya ?
Untuk siapa mereka berpuasa ?
Yang beruntung adalah yang merasa beruntung. Yang pada hari kemenangan bertemu Sang Causa Prima, penyebab yang tak ada lagi penyebabnya. Saat bersua euforia kesenangan yang tak berdasar, diselimuti tangis haru yang tiba-tiba saja datang tanpa alasan. Hatinya bergetar ketika takbir terdengar, namun dari bibirnya tak mampu terucap kata apa-apa. Saat dosa dan kesalahan luruh bersama linang air mata.
Tidak seperti yang biasa-biasanya, mereka bersuka cita karena naik jabatan. Atau tergopoh-gopoh mengucap rasa syukur karena menang undian.
Bagaimana dengan sebelas bulan berikutnya ?
Masihkah ada rasa yang sama ?

+ + + + +

Aku melirik jam tangan, sudah pukul dua siang. Isi kardus baru sedikit yang terjual, dompet ku pun belum terasa tebal mengganjal. Matahari begitu terik membakar hari. Kerongkonganku serasa panas, seperti kena geliat nyala api. Sudah ratusan kilo yang kulahap, tak terhitung jalan yang telah kuukur dengan rintih kehausan. Semua toko yang kudatangi seperti kompak berkata tidak. Yang menurutku lebih jujur dibanding mereka yang senyum-senyum tapi menolak.
Setan berkata, “nah, benar kan ?”
Aku melihat pohon besar di tepi jalan, yang berfungsi sebagai penghias jalan masuk perumahan. Di bawahnya tergelar rumput hijau yang dipangkas rapi. Aku melihatnya seperti kasur spring bed yang tak pernah mampu aku beli. Setan berkata, “berhenti”.
Aku menuruti. Untuk pertama kalinya sejak pagi, ucapan setan selaras dengan kata hati.
Kuhempaskan tubuhku di atas rerumputan, bumi seperti tak keberatan menyambut diriku yang berbeban. Angin bertiup sejuk membelai tubuhku yang basah berkeringat, menyapa jiwaku yang gerah karena gelisah. Hatiku berkata, “alangkah nikmatnya”.
Sayang nya itu tak berlangsung lama. Mata ku tak jua mampu terpejam, waktu setoran yang tersisa hanya tinggal tiga jam. Otak ku kembali berputar-putar seperti di lintasan F-One. Setan berkata, “sudahlah”
Anehnya sesudah itu aku tak lagi mendengar apa-apa, tak jua merasakan apa-apa. Hening sunyi di kedalaman menyaput semua beban. Tiba-tiba tubuh ku seperti ringan namun bertenaga. Yang kudengar jelas hanya suara sendok yang mencium tepi mangkok milik si penjual es kelapa muda. Semakin lama semakin jelas, sebentar lagi dia akan melintas.
Tiba-tiba tubuhku mampu bergerak otomatis. Seketika aku berdiri tegak pijakkan bumi, ditanganku telah tergenggam sebuah kunci. Dengan tenangnya aku buka kunci gembok, aku geser keluar pintunya memberi jalan. Setan yang sedari tadi telah berancang-ancang dengan sepasang tangan nya memegang jeruji, menyelinap keluar dengan raut muka cengar-cengir. Aku hanya diam ketika jiwaku yang sedari tadi bersembunyi di belakangku, melangkah lunglai mengganti posisi penghuni bui. Bukan setan yang bersalah atas pilihan.
Aku sendiri yang membatalkan puasa ku.
Untuk siapa puasa ku ?



Yang membangun niat

yang meruntuhkan niat

Bukankah esok hari

akan semakin bertambah berat ?




**********************************************************