Thursday, June 24, 2010

CINTA SEPANJANG JAMAN


Kedai milik mei hwa tidak selalu ramai. Hanya pada jam-jam tertentu mejanya dipenuhi manusia-manusia yang mendengar jelas panggilan perutnya. Mungkin karena di waktu lain para malaikat sedang tidur atau sibuk berpesiar, atau sedang meratapi takdirnya yang tak ber-free will. Tapi di siang dan malam hari mereka bekerja keras mengusik para pemilik alam bawah sadar untuk memenuhi bangku-bangku kedai milik mei hwa. Dan juga meracuni pikiran untuk bersabar, serta memberi kekuatan pada sepasang kaki untuk bersedia berdiri sambil mengantri.

Hanya si kecil cupid yang sudah bekerja di pagi hari, memanah hati seorang prajurit bhayangkara bernama aryamukti. Yang setia mengunjungi kedai mei hwa untuk sekedar minum teh, sebelum berangkat bertugas menuju istana kerajaan majapahit. Obrolan ringan yang kian menghangat, sehangat secangkir teh yang disajikan menjadi pendorong semangat bagi aryamukti sebelum menjalankan tugasnya sebagai abdi kerajaan. Adalah teman setia bagi mei hwa di pagi hari yang selalu sepi, melupakan sejenak beban hidup yang tak bisa diurai dalam hitungan hari.

Sudah setahun lebih suami mei hwa belum kembali dari perjalanannya ke tiongkok untuk berdagang. Ketidakpastian di dalam masa penantian menjadikan aryamukti sebagai satu-satunya teman untuk berbagi beban. Berawal dari sekedar mengusir kebosanan lewat sekian percakapan, yang tanpa terasa seiring waktu kian membuka tabir dalamnya rasa kesepian. Bergayung sambut dengan kegundahan hati aryamukti, kejenuhannya dalam mengabdi pada kerajaan yang kian hari semakin menjadi-jadi. Meski telah sekian kali mendampingi patih gajah mada dalam sekian peperangan dan penaklukan, kenaikan pangkat dan jabatan tak segera kunjung datang. Masing-masing bersedia menjalani perannya sebagai pendengar, merubah pemandangan diatas meja yang tak lagi seperti sebelumnya. Cangkir berisi teh telah menjadi dua, percakapan diantara mereka secara perlahan mulai melibatkan rasa. Mereka sama-sama mulai memiliki alasan untuk menghadapi hari, sama-sama berharap agar setiap malam segera berganti pagi.

+ + + + +

Mei hwa sangat mengagumi aryamukti, guratan wajah yang keras dan tubuh tegap memberi kesan tentang gambaran seorang laki-laki sejati. Wawasan dan pandangannya yang luas membuat sebuah topik sederhana mampu menjangkau kedalaman makna. Retorika dan pengalamannya mendampingi patih gajah mada hingga ke pelosok nusantara membuat cerita-ceritanya berselimut keindahan. Mei hwa tak pernah bosan mendengarnya, kekaguman secara perlahan menikam dalam ke jantung hatinya. Mungkin karena rasa kesepian dan ketidakpastian, mengaburkan pandangannya tentang sosok teman bicaranya di waktu pagi. Aryamukti bak seorang pangeran tampan yang datang dari negeri kahyangan, yang hadir untuk memberinya wangi bunga di taman hati. Wajah mei hwa kini tak lagi memelas, lebih sering mengumbar senyum sumringah dan berseri-seri. Yang membuatnya tak hanya lupa akan beban hidupnya, namun juga akan statusnya yang telah terikat dengan norma-norma. Karenanya mei hwa memilih bersikap berhati-hati, naluri wanitanya mampu menyikapi rasa kagumnya hingga tersimpan rapi. Tanpa harus mengingkari, bahwa dia jauh lebih bahagia dibanding hari-hari sebelumnya.

Namun mei hwa tak berdaya pada panah asmara, sesuatu dalam hatinya membuat jantungnya berdebar-debar. Menari-nari bersama tarian kupu-kupu, menyambangi bunga demi bunga walau tak terucap dalam kata-kata. Semua seperti nampak wajar-wajar saja, meski birunya langit selaksa tepat berada di depan kedua bola matanya.

+ + + + +

Aryamukti dikenal sebagai seorang prajurit yang cakap, namanya cukup harum di kalangan istana. Tak jarang patih gajah mada mengajaknya berdiskusi untuk membahas masalah-masalah negara. Namun ketika dia bertemu dengan tantangan konsistensi yang mengusiknya lewat nyanyian kejenuhan, aryamukti harus mengakui bahwa pemahaman hidupnya masih terbatas. Dia harus banyak belajar tentang hal-hal diluar logika, yang sangat dipahami oleh seorang wanita pemilik kedai berdarah cina bernama mei hwa.

Lewat percakapan ringan berteman secangkir teh, aryamukti dibuat terpesona oleh cerita perjuangan seorang wanita yang datang dari negeri yang sangat jauh. Perjuangan yang tak kenal lelah, yang lebih menjunjung nilai kesabaran diatas semua penderitaan. Mei hwa telah memberinya sebuah pelajaran berharga, bahwa menaklukkan musuh di medan perang jauh lebih mudah dibanding menaklukkan dirinya sendiri.

Perlahan-lahan hadir perasaan berbeda yang tidak dia ketahui dari mana asalnya. Mei hwa tak lagi sekedar teman minum teh di waktu pagi, menjelma bak bidadari yang turun dari taman surgawi. Kematangan berpikir mei hwa telah membuat aryamukti jatuh hati. Segaris senyum dan mata sipit itu telah membuat suka citanya meraja-raja, membuang jauh gundah gulana yang selama ini menguasai pikirannya.

Sama halnya dengan mei hwa, semua tak terungkap dalam kata-kata. Hanya jiwanya yang menari-nari di kedalaman hati. Norma peradatan, dan statusnya sebagai seorang prajurit bhayangkara memaksa aryamukti untuk bersusah payah memendam rasa dengan berbagai cara. Semakin dia menyimpannya dia semakin tersiksa. Hanya angan-angan yang menjadi pelipurnya di waktu malam. Berharap dan berandai-andai semesta memberinya sebuah kekuatan untuk menjembatani jurang perbedaan yang membentang. Aryamukti kian tenggelam dalam rasa yang tak tersampaikan.

+ + + + +

Pagi itu matahari bersinar cerah seperti biasanya. Mata mei hwa tak henti-hentinya menatap meja dengan cangkir dua. Namun hingga siang hari meja itu tak jua terisi. Meski salah satu bangku telah dia duduki, sosok aryamukti tak beranjak dari hanya sebuah imaji. Mei hwa kecewa hari itu bukan miliknya, dia menyandarkan harapannya pada esok hari berharap matahari berkenan bersinar kembali.

Hari-hari berikutnya terjadi peristiwa yang sama, mei hwa menggerakkan jemarinya untuk menyeka air mata. Firasatnya berkata semesta telah merubah kembali jalan cerita untuknya, dia harus bersiap-siap untuk kembali tidak bahagia. Bahkan sepertinya jauh lebih menderita dibanding sebelumnya. Kehidupan terlalu pelit kepadanya, walau hanya untuk sesuatu yang dia yakini tak bisa dimiliki. Dia tak pernah meminta sepenuh hari, hanya sekelumit pagi yang sangat berarti. Yang mampu mengganti siang dan malam, memupus kesendirian dan semua beban.

Mei hwa baru akan menangis ketika derap kaki kuda dan sebuah kereta menghampiri kedainya. Suaminya telah datang dengan membawa sejumlah barang dagangan. Mei hwa membalas pelukan suaminya dengan tangis yang sempat tertunda, meskipun dia tak mengerti sepenuhnya arti tangisnya. Kepada siapa ditujukan air mata yang membasahi pipi. Sesuatu yang telah sangat lama dinanti-nanti telah datang di saat dia tak sepenuhnya mengharapkan lagi. Karena perasaan cintanya telah terbagi. Semesta selalu bekerja dengan caranya sendiri.

Setahun kemudian mei hwa melahirkan seorang anak laki-laki. Anak itu diberinya nama arya. Sebuah nama yang mewakili sesuatu yang telah tertanam di palung hatinya. Namun selebihnya tetap tak akan pernah terungkap dalam kata-kata. Akan selalu menjadi rahasia yang tetap terjaga sepanjang hidupnya.

+ + + + +

Aryamukti tengah bersandar di bale-bale, sambil melukis wajah mei hwa di permukaan cahaya bulan. Kehadiran para prajurit yang menjemputnya ke istana atas perintah raja mengusik jiwanya yang sedang bermesra-mesra.

Raja Brawijaya yang didampingi patih gajah mada memberinya tugas untuk berangkat malam itu juga. Aryamukti tak hanya diangkat sebagai panglima, namun juga sebagai kepanjangan tangan raja untuk memimpin tanah borneo. Raja juga memerintahkan dirinya untuk menikahi seorang gadis setempat demi stabilitas politik. Sesuatu yang telah menjadi cita-citanya sejak lama telah datang melebihi harapannya. Aryamukti memberi salam hormat disertai ucapan terima kasih kepada sang raja, namun tidak kepada hatinya.

Tak lama berselang aryamukti telah berada di atas kapal yang bergerak menjauh meninggalkan tanah jawa. Dilihatnya langit gelap yang bertaburan cahaya bintang. Semuanya membentuk satu garis senyum dan mata sipit mei hwa. Aryamukti menundukkan kepala, mencoba semedi mencari kejernihan bisikan hati. Dia akan merindukan mei hwa sepanjang hidupnya.


**********************************************************


Pada masa itu profesi dokter tidak lah banyak, namun dr. yap sungguh merasa tidak siap dengan pasien sebanyak itu. Semenjak Bung Tomo menyerukan gerakan mengusir pasukan Belanda dari kota Surabaya, prajurit yang terluka semakin banyak memenuhi tenda-tenda. Semuanya membutuhkan perawatan seketika, relawan-relawan sangat bergantung pada keputusan dr. yap. Tuntutan situasi yang membuatnya tertekan, sesuatu yang paling dia takutkan karena akurasi diagnosa sangat bergantung pada ketenangan.

Langit seperti mendengar doa dr. yap, mengabulkan permintaannya dengan cara yang tidak pernah dia duga. Diantara relawan wanita ada yang membuatnya jatuh hati, yang selalu membantunya membangun ketenangan diri di setiap situasi. Kesabaran wulandari menyulap wajah bulat telur dan tubuh tambunnya menjelma bak bidadari. Dr. yap serasa menemukan kenyamanan tiada banding ketika berada di sampingnya. Kemanapun dia melangkah wulandari tak pernah jauh dari sisinya. Diantara jerit kesakitan dan hiruk pikuk dentuman meriam wulandari selalu memberinya kesejukan. Mengganti musim kemarau panjang dengan satu air penghujan.

Dr. yap menyadari banyaknya perbedaan diantara mereka, namun dia memilih untuk tidak menyentuhnya. Wulandari mengambil sikap yang sama, menyadari bahwa situasi yang melibatkan emosi telah menciptakan keterikatan hati. Membicarakan perbedaan hanya akan memupuskan keindahan, kekuatan yang telah terjalin akan menghilang sia-sia ditiup angin. Entah mengapa mereka sama-sama merasa seperti sudah saling mengenal satu sama lain. Begitu mudah menyambung dalam menjalin pengertian. Kebersamaan yang mengalir mesra di setiap percakapan. Mengalun indah dengan latar belakang orkestrasi kobar peperangan.

Perbedaan warna bersanding mesra berteman secangkir teh di pagi hari. Sebuah ritual sederhana yang selalu mereka jalani setiap hari. Merajut kekuatan lewat tatap mata syahdu dan pembicaraan ringan. Sebelum bersama-sama menghadapi hari panjang yang sangat melelahkan.


**********************************************************


Peringatan hari kemerdekaan selalu membuat orang tua di taman kanak-kanak ikut sibuk. Mereka harus pandai membujuk agar anaknya bersedia ikut karnaval dengan pakaian yang diharuskan. Orang tua rio merasa lega karena anaknya antusias bersedia. Walau dengan syarat temannya alicia harus ikut juga. Orang tua rio menyanggupinya karena tahu alicia mengajukan syarat yang serupa.

Orang tua rio dan alicia sama-sama heran, begitu banyak teman tapi kedua anaknya lebih sering memilih bermain berdua. Yang lebih mengherankan lagi rio dan alicia sama-sama lebih suka minum teh di waktu pagi dibandingkan susu seperti teman-temannya.


**********************************************************


Kabut putih nan halus bergayut di sekitar mereka berdua. Tak ada yang berbeda, mereka masih berada di kedai yang sama dengan dua cangkir teh diatas meja. Kali ini tak ada lagi rahasia, tabir senja telah terbuka untuk selama-lamanya. Mei hwa menyadari situasinya seperti di alam mimpi, namun dia tak berminat untuk mengutarakannya. Karena dihadapannya ada aryamukti, yang tak pernah lagi beranjak pergi. Aryamukti juga sangat menikmatinya, keindahan pagi yang sangat panjang yang tak pernah beralih siang. Segalanya berjalan sangat lambat, meski setiap gerakannya bisa mencapai ratusan hingga ribuan tahun di alam dunia.

Hanya para malaikat yang menjadi saksi alam imajinasi yang nyata. Semesta paralel yang berjalan seiring dan bersama-sama. Cinta hati akan selalu terwakili di setiap generasi. Dr. yap dan alicia adalah garis darah mei hwa, aryamukti adalah leluhur rio dan wulandari. Semua merujuk pada keagungan cinta yang membias dalam wujud persahabatan dan persaudaraan di tengah perbedaan. Cinta yang tak pernah tersampaikan. Cinta yang mengalun indah di sepanjang jaman.




Hanya di surga,

bunga-bunga cinta sejati bermekaran

di musim semi yang abadi

Dunia sungguh tiada mampu

menuai keindahannya




**********************************************************

Friday, June 4, 2010

DI PENGHUJUNG JALAN


Tak selamanya air mengalir

menuju samudera

Sebagian hanya terhenti di rawa-rawa

dan tak bisa kemana-mana

Hanya langit luas yang mampu

menyatukan mereka

Selama matahari masih setia

menyinari bumi


Langkahnya kian melambat sebelum akhirnya benar-benar berhenti. Guratan ekspresi tak percaya tergambar pada wajahnya. Jalan itu ternyata berujung dinding bebatuan, sama sekali tak menyisakan jalan lain sebagai pilihan. Hanya berdiri terpaku, sejauh perjalanan ternyata hanya berakhir di jalan buntu. Beban di pundaknya kian terasa memberat, seiring sakit hatinya yang seiring waktu semakin bersayap. Dia tidak tahu harus marah atau kecewa. Untuk kesekian kali dia merasa seolah semesta sedang mempermainkannya.

Tak ada jalan melingkar seperti yang ada di benaknya. Tak ada jalan pintas seperti yang tergambar dalam imajinasi visualnya, yang menjadi titik temu antara keinginan dengan ridhaNya. Di depan matanya semua masih terlihat gelap gulita. Sementara di belakangnya mendung masih setia bergantung. Untuk terus melaju dia merasa semakin tertinggal oleh waktu. Sampai detik itu alam pun tiada memberikan sedikit kekuatannya untuk dijadikan sekutu. Bukan untuk menggelar sekian janji-janji manis sebagai pelengkap cerita, melainkan hanya sekedar untuk memberinya sedikit ruang gerak untuk bernafas. Agar dia bisa bermesra-mesra dengan sang jiwa, demi satu cinta yang tersisa dalam dirinya.

Batu karangnya masih jauh dari sempurna. Jubah perangnya pun tak lagi utuh, telah terkoyak-koyak disana sini setelah dihempas sekian prahara. Apakah semesta tidak perduli dengan jeritannya ? Apakah Tuhan tak mendengar keluhannya ? Apakah masih tersisa sekelumit dendam pada masa lalu di setiap nafasnya ?

+ + + + +

Akhirnya dia tertidur di tengah jalan tanpa tahu penyebabnya. Entah karena kelelahan atau kebimbangan, atau mungkin karena keduanya. Nyanyian putus asa pun bukan lagi sesuatu yang baru baginya. Dia hanya ingin mengendurkan syaraf-syarafnya setelah setiap detik sibuk bekerja mengalirkan darahnya. Untuk sekedar menikmati indahnya kematian walau hanya sementara.

Dia sudah tidak perduli dengan tubuhnya yang terbujur di tengah-tengah jalan. Toh jalan itu sepi dan bukan persimpangan, pasti tak bakal ada yang berlalu lalang. Mungkin semua orang sudah tahu kalau jalan itu buntu. Mungkin hanya dia satu-satunya yang tidak tahu. Sesungguhnya jalan itu hanyalah manifestasi dari keyakinannya, wujud nyata dari alam imajinasinya. Atau mungkin bisa juga dikatakan sebagai hasil dari coba-coba. Dia pun tertawa, setidak-tidaknya cita-citanya untuk menjadi berbeda telah terlaksana. Sungguh tipis perbedaan bodoh hidup dengan bodoh dunia. Tapi dia sama sekali tidak keberatan dengan pilihan istilah yang dilekatkan kepadanya. Dia tertawa lagi, kali ini jauh lebih panjang dari sebelumnya. Dia tertawa sepanjang tidurnya.

+ + + + +

Dia terkejut ketika terbangun tidak berada di tempat yang sama. Jalan berujung bebatuan dan awan pekat yang mengikutinya sudah tidak ada. Dia kini berada diantara jutaan orang yang sarat dengan keriuhan. Mereka semua tenggelam dalam sorak sorai penuh kebisingan. Semua mata tertuju pada sebuah panggung besar, menikmati aksi seseorang dengan jantung penuh debar. Tak hanya suaranya, setiap gerak tubuhnya menebar daya pesona yang luar biasa.

Namun dia diam saja, nyaris tak bergeming tanpa suara. Merasakan kesendirian yang mencekam ditengah-tengah keramaian. Entah mengapa dia merasa biasa saja dengan yang dilihatnya. Menurutnya yang memikat bukanlah sang penyanyi, melainkan bakat yang mengalir dalam aliran darahnya. Bakat sebenarnya pun baginya bukanlah menyanyi, tapi menghibur orang lain lewat suara dalam titian nada. Dia justru merasa iba pada sang penyanyi, andai semua tipu daya itu benar-benar menenggelamkan dirinya lewat sanjung puja.

Hanya dia yang terpaku tak bergerak, takjub menikmati keindahan yang sesungguhnya. Panggung besar itu adalah masa lalunya. Puji puja baginya adalah lambang pengakuan, awal dari ujian yang pernah membawanya ke dalam jurang. Ketika tubuhnya terjatuh kedalam kubangan lumpur karena ditinggal cahaya.

Dia menundukkan kepala, mencari sepijar cahaya yang masih tersisa dalam dirinya. Seketika langit berubah warna, saat dia menengadah telah berada di tempat yang berbeda. Masih diantara jutaan orang, namun situasinya tak lagi sama. Dia tenggelam diantara hiruk pikuk jerit makian dan sumpah serapah. Sekumpulan orang yang merasa dirinya kalah, atau mungkin lelah setelah sekian lama harus terus mengalah. Sama-sama mencari sasaran yang bisa dijadikan pengalihan beban. Untuk bertanggung jawab atas segala kesalahan dari semua kejadian. Kali ini dia bersama yang lainnya yang berada di panggung besar. Namun di bawah panggung tak ada satupun yang perduli, apalagi tertarik untuk menikmati. Tak ada satupun keindahan yang bisa di dengar atau disaksikan. Hanya sebuah potret suram dari sekumpulan orang yang menyanyikan tembang kegagalan.

Panggung besar itu adalah masa depannya. Sibuk mencari kambing hitam untuk dipersalahkan adalah awal dari kejatuhan yang sesungguhnya. Dia ingin segera beranjak dari tempat itu. Sebelum dia yang akan dijadikan sasaran caci maki, karena diantara mereka pasti tak ada satupun yang bersedia. Sebelum cahaya diatas cahaya betul-betul meninggalkannya. Sebelum kegelapan melukainya dengan goresan tajam yang melebihi tusukan seribu pedang.

+ + + + +

Semilir angin membangunkannya dari mimpi. Dia tak lagi tertawa seperti awal tidurnya. Alam imajinasi telah memberi pesan kepadanya bahwa kekeliruan penyikapan pada masa lalu bisa membawanya ke masa depan yang menakutkan. Dia masih berada di jalan yang sama, namun dia tak lagi melihat jalan yang buntu. Bahkan kali ini dia tak lagi bisa melihat apa-apa. Mendung yang sebelumnya membayangi telah menutupi seluruh pandangannya. Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah kegelapan. Dia sudah tak lagi berpikir tentang panggung besar, dia pun telah bosan dengan semua pujian. Baginya kehidupan adalah panggung yang sesungguhnya. Yang lebih menuntut tentang makna keberadaan diatas semua pengakuan. Meski berarti tanpa diakui terasa menyakitkan, baginya masih jauh lebih baik dibanding derita panjang. Dia pun tak butuh lagi orang lain untuk dipersalahkan atas segala kegagalannya di masa lalu. Meskipun dia juga tidak tertarik untuk menghakimi dirinya sendiri. Hanya dia lah yang harus bertanggung jawab atas hidupnya sendiri.

Dia melangkahkan kakinya dalam gelap, tak jelas arah di tengah mendung yang kian pekat. Semesta bak memberinya kaca mata kuda, agar dirinya lebih melihat sisi yang ada di depannya. Inkonsistensi bisa jadi bermuara dari multitalenta. Sebuah kebiasaan memaksakan diri di setiap tanah ladang, yang hanya akan berujung pada sedikit biji-bijian yang tertanam. Masa panennya sudah pasti tak bisa diharapkan.

Jalan buntu bukanlah akhir atau ujung kesalahan dari sebuah pilihan. Hanya sebagai bagian dari perjalanan yang harus dilewati. Demi langkah berikutnya yang tak lagi terlihat pasti. Karena kepastian telah menjelma dalam nyanyian keyakinan yang tersimpan rapi di kedalaman hati.

Dia hanya mengikuti panggilan jiwanya, karena semua arah baginya sama saja. Namun sama sekali tidak meraba-raba. Hati telah menjelma dalam wujud sepasang mata dan kedua kakinya. Hanya satu tujuannya, bejana sederhana yang mampu menampung pijar cahaya. Secuil ruang bagi dirinya untuk berkarya, karena dunia terlalu sulit menerima orang-orang yang berbeda. Dia berbisik mesra kepada langit yang kini tak mampu lagi dilihatnya, “Aku ingin pulang”




**********************************************************