Sunday, July 31, 2011

REFLECTION


Sekelompok pendaki tengah dalam perjalanan pulang meluncuri gunung. Setengah berlari berpacu dengan waktu, menghindari kabut datang menjemput. Ketika mentari terlihat mulai meninggi, di salah satu lereng langkah-langkah tegap itu terhenti. Adalah tempat favorit para pendaki yang biasa mereka sebut lembah gema. Persinggahan di bawah rimbun pepohonan sembari mengajak alam berbicara.
Setelah cukup menghela nafas, satu persatu dari mereka mulai berteriak-teriak. Yang disuarakan tak jauh-jauh dari kebaikan diri sendiri. Lembah itu membalasnya dengan kata-kata yang sama, terdengar berulang-ulang dan bersahut-sahutan seperti paduan suara. Seperti biasa ritual narsis itu berakhir dengan derai tawa. Perjalanan pulang ke kaki gunung dilanjutkan, sebaris senyum menghiasi wajah-wajah sahabat alam.
Para pemilik mata batin sering melihat yang tak terlihat. Langit tak selalu berarti yang tinggi diatas sana, lebih jelas yang di atas tanah sampai yang persis di depan mata. Setiap detik mereka melihat plasma raksasa yang menyelimuti bumi. Bergerak-gerak seperti permukaan air yang bening, biji-biji yang berkilau diatasnya terlihat seperti jutaan kunang-kunang yang mengambang. Setiap gerakan manusia tergambar jelas di permukaan cermin raksasa. Terlihat seperti adanya, memantul sempurna tanpa rekayasa.
Begitu bersahajanya alam, sepenuhnya membantu manusia mengenali diri lewat setiap pantulan. Begitu jujur merekam setiap ucapan atau perbuatan tanpa satupun yang terhilang.
Masih adakah ruang untuk bersembunyi ? Adakah keinginan untuk memperbaiki kualitas diri ? Mengapa masih banyak dusta yang nyata ?

+ + + + +

Tak ada rusa yang berteman sekumpulan macan, hanya tikus bodoh yang mendatangi sarang ular. Kecerdasan insting mereka bekerja setiap waktu, kewaspadaan mereka bak alarm otomatis yang berbunyi setiap datang mara bahaya. Sangat mengenali siapa saja yang tak menghormati cinta damai, yang merusak keindahan surga di dunia. Perilaku pemangsa sangat cepat teridentifikasi, meski tabiat mereka tak pernah tercatat di bank data.
Sementara manusia yang katanya lebih cerdas dari binatang, banyak yang tak bisa membedakan yang mana pemangsa dan yang teman. Meski telah banyak memberi tetap saja dikuras habis-habisan, berkata apa adanya malah diperdayai para pembual. Tak jelas mana penipu atau yang lawan. Akhirnya mereka memilih mewaspadai semua orang, termasuk yang jujur dan semua kawan.
Masih adakah yang merasa nyaman dan tak terancam ?
Betapa takutnya tikus dijadikan sarapan, namun ketakutan mereka menghilang bersama datangnya malam. Saat semua makhluk tertidur mereka bergerilya memangsa apa saja yang bisa dijadikan hidangan. Di satu sisi si tikus adalah lemah, di sisi lain mereka memangsa kelemahan. Hanya si rusa yang setia menjadi vegetarian.
Bukankah hidup itu pilihan ?

+ + + + +

Nabi Muhammad berpesan pada para khalifah, “Jika ada yang menyebut orang lain adalah kafir, maka orang itulah kafir yang sebenarnya”. Lalu jika ada orang yang menyebutkan keburukkan orang lain, keburukkan siapa sebenarnya yang sedang dia sebutkan ? Bukankah lembah gema ada di mana saja ? Bukankah mereka sedang berdiri di muka cermin ?
Seorang yang sedang terjerembab dalam jurang kehidupan bertanya pada gurunya, “Aku telah berusaha untuk tersenyum, namun mereka meludahiku. Haruskah aku berhenti beramah-tamah ?”
Sang guru tertawa, “Tuhan Yang Maha Bijaksana membuka lebar tanganNya pada siapa saja yang datang kepadaNya, termasuk mereka yang pelarian. Ketika para malaikat menanyakan mengapa Tuhan merangkul mereka yang terdesak, jawab Tuhan karena Aku bukan manusia. Untuk siapa sebenarnya senyummu itu, lalu siapa sebenarnya yang meludahimu ? Tanyakan pada dirimu sendiri, apakah dirimu termasuk sebagian yang mewaspadai senyuman ? Dimana kau sembunyikan bunga ketulusan ?”
Lihatlah ketika para pembawa Cahaya Illahi tengah bertemu, yang akan tersaji adalah perang kerendahan hati. Hingga hari berganti mereka akan tetap tiada henti saling memuji. Jika setiap pujian memantul balik pada pengucapnya, siapa yang memantulkannya ? Siapa pemilik lembah gema yang sesungguhnya ?
Hanya jendral tinggi hati yang bangga menerima pujian kopralnya. Saling menghormati kelebihan hanya pantas terjadi diantara sesama jendral bintang lima.

+ + + + +


Bertambah tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan. Semua orang adalah sama dimataNya. Yang membedakan hanyalah kedekatan manusia denganNya, itupun menjadi rahasiaNya. Sungguh konyol mereka yang merasa lebih baik dibanding yang lain, sungguh beruntung mereka yang merasa lebih baik dibanding waktu lalu.
Jika sudah menjadi bahasa alam setiap ucap dan perbuatan akan kembali pada diri sendiri, jika sudah menjadi kehendak Tuhan bahwa semua orang yang ada dihadapan adalah cerminan diri, sudah pasti tak ada gunanya menyebutkan keburukkan orang lain. Sudah pasti karena mereka tak merasa berada di lembah gema.
Tak ada gunanya pula bersikap merugikan orang lain. Karena sang pemilik pantulan kehidupan akan mengembalikannnya pada diri sendiri. Beruntunglah mereka yang memilih menjadi dewasa, yang berusaha berarti bagi yang lain. Namun ketika mereka harus menerima tidak diakui, benih-benih ketulusan sedang ditanam di ladang Tuhan.

+ + + + +


Mengenal orang lain menjadikan seseorang lebih bijaksana, adalah pencerahan ketika mengenal diri sendiri yang sejatinya bercahaya. Jari jemari mereka akan menjadi dua kali lipat lebih banyak, karena ada banyangan yang melingkupinya. Tubuh dan kepala mereka akan berbendar cahaya seperti profil Nabi Isa. Semua berawal dari menjadikan orang lain sebagai cerminan diri. Berusaha untuk tetap dekat di kalangan orang suci adalah mutlak kebutuhan hati. Melalui mereka akan cepat terdeteksi segala kekurangan diri.
Ketika mendengar seseorang memaki orang lain dengan embel-embel nama binatang, sudah pasti bukan manusia yang ikut-ikutan menggonggong. Yang merasa dirinya manusia telah memahami siapa binatang yang sesungguhnya. Yang derajat iman nya lebih tinggi pun merasa tak tergoda memaksakan diri menjelaskan, bahwa di setiap jengkal muka bumi adalah taman marga satwa.
Bukankah binatang juga penghuni lembah gema ? Adakah yang mau bercermin pada mereka demi menemukan kewaspadaan yang sebenarnya ? Siapa sebenarnya yang dilahirkan dengan derajat lebih tinggi ? Bukankah binatang liar mampu jatuh cinta pada sang pawang ?
Mereka yang menghuni lembah kesadaran, yang menemukan muara gema, akan merasakan yang tengah dirasakan. Mampu memikirkan yang tengah dipikirkan. Ketika bertemu ketiadaan, mereka tahu dari mana datangnya cinta dan kebencian. Manusia yang mampu tak merasakan apa-apa, yang tak tersisa sedikitpun di alam pikirannya akan memahami bahasa tersembunyi orang-orang yang disekitarnya. Mereka mengenali yang memusuhinya karena merasakan kebencian yang bukan miliknya. Ketika mereka mengajak sarapan bubur ayam, sudah pasti keinginan itu berasal dari lawan bicaranya.
Mereka hanya mewaspadai zona nyaman, karena dibaliknya tersembunyi jebakan bernama kelengahan. Sedikit saja layar tersingkap,beragam senjata akan bersiap-siap menyerang dengan berbagai cara. Segala kesulitan dan kemudahan berasal dari diri sendiri. Sementara orang lain hanyalah perantara atau pantulanNya.
Di kedalaman alam ketiadaan, setiap perasaan dan pikiran akan terpantul jauh lebih sempurna.

+ + + + +


Seorang pawang macan sedang mencoba mendekati seekor macan liar di tengah hutan. Setelah beberapa langkah dia terhenti dalam diam, dalam hatinya mengalun jernih tembang ancaman. Dengan tangannya dia memberi tanda pada yang lain agar melakukan gerakan yang sama. Ketika seseorang yang mulai tak sabar menanyakan mengapa harus berhenti begitu lama, sang pawang berbisik, “Macan itu ada dalam diriku”.



Mereka yang tak terkendali

adalah cermin pengendalian diri

Sepatutnya mewaspadai diri

melalui mereka,

bukan sebaliknya


Andai mampu melakukannya

lihatlah pantulan air,

lalu tersenyumlah bersamaNya




**********************************************************


Sunday, July 24, 2011

DULU, KINI DAN NANTI


Laju kereta itu tiba-tiba melambat. Setelah melirik jam tanganku, aku segera merubah posisi dudukku. Agar leluasa mengamati jalan-jalan dan bangunan yang dilalui kereta lewat kaca jendela, hanya untuk memastikan nama tempatnya. Sekelebat aku sempat melihat sebuah papan nama dengan petunjuk kota. Perasaanku tak keliru, aku berkata pada diriku, “Sebentar lagi”. Tak lama berselang petugas kereta masuk ke dalam gerbong, memberi peringatan agar para penumpang bersiap-siap. Karena tak lama lagi kereta akan sampai pada stasiun tujuan. Tiba-tiba jantungku berdegup cepat, saat yang paling kunanti-nanti segera tiba. Kerinduan yang selama ini terpendam akan segera bertemu jujukannya. Setelah terbang sekian jauh hati akan kembali ke perhelatan jiwa.
Namun ketika memikirkan berbagai kemungkinan yang terjadi kecemasan hadir melanda. Sudah pasti banyak yang berubah selama sepuluh tahun. Masih adakah ruang untuk bermesra-mesra ?

+ + + + +


Kupandangi wajah stasiun itu, warna dindingnya masih sama meski ada beberapa bagian yang mengelupas. Struktur bangunannya masih seperti dulu, hanya beberapa ruangannya yang berubah fungsi. Saat turun dari kereta aku mendengar suara-suara percakapan, logat khas kota itu yang tak asing ditelinga. Begitu akrab menyapa, meski mungkin aku sudah tak mampu lagi menirunya. Padahal dulu aku sangat fasih mengucapkannya dikeseharian. Aku tersenyum simpul, kehangatan mulai menyelimuti benakku. Kota itu masih menyambutku dengan tangan terbuka. Aku merasa seperti pulang kampung meski kota itu bukan kampung halamanku. Kecemasanku terkikis perlahan, dialog orang-orang di stasiun membantuku mensirnakan beban. Sambil menggendong anakku dan menggamit lengan istriku, aku memanggil taxi. Lalu aku melaju menuju tempat itu. Tiba-tiba kecemasanku hadir kembali.
Sepuluh tahun telah berlalu, masih bolehkah kujatuhkan hati ini sekali lagi ?

+ + + + +


Seorang prajurit sedang dalam pelukan erat sang istri, yang seperti enggan melepasnya. Anaknya yang masih kecil ikut menangis, memberi isyarat seolah dia mengerti yang sedang terjadi. Panggilan tugas sebagai penjaga perbatasan di pedalaman kalimantan selama satu tahun bukanlah waktu yang sebentar. Mereka berdua sama-sama membayangkan akan terpisah dalam waktu yang cukup lama. Waktu satu tahun sungguh-sungguh ada, menyelimuti alam pikiran mereka berdua. Ketika waktu terkini tiba, sang istri harus melepas pelukannya. Satu tahun berikutnya menjadi waktu yang paling dinanti oleh keduanya.
Andai mereka dipertemukan kembali setelah melewati satu tahun, masih adakah satu tahun itu ?
Di belahan dunia lain, dokter sonia sedang berpelukan dengan masyarakat desa terpencil. Tak ada satupun yang ketinggalan, dari nenek-nenek, ibu-ibu sampai anak-anak kecil. Para petani, guru sekolah sampai aparat desa semua ikut antri bersalaman. Masa tugas sang dokter telah selesai, tiba waktunya untuk kembali ke kota asalnya. Tak terlihat sama sekali raut wajah kegembiraan, setiap jengkal desa itu menyanyikan tembang kesedihan.

Ketika perahu diatas sungai itu mulai jalan merambat, air mata menjadi saksi dua tahun yang terlewati. Kemana perginya dua tahun itu ?

+ + + + +


Disaat seseorang akan melakukan perjalanan panjang, disaat yang sama waktu pun hadir terbentang. Sang waktu pun menyatakan keberadaannya, satu kata yang terungkap adalah betapa lamanya. Namun ketika kesungguhan hati mulai menggerakkan sepasang kaki, berikrar teguh menghadapi apapun yang terjadi, perlahan-lahan waktu mulai mencari tempat untuk sembunyi. Seolah memberi jalan bagi jiwa untuk melangkah pasti menembus setiap batasan. Jarum jam pun selaksa berhenti disetiap lelikuan jalan. Ketika akhirnya mencapai tujuan, waktu yang terlewati pun menghilang tiada bekas. Seberapa pun lamanya serasa tak pernah bicara. Rasa syukur dan serangkaian hikmah dari semua peristiwa yang terjadi menjadi satu-satunya petunjuk bahwa waktu itu pernah ada. Yang terlihat oleh mata hati hanya sederet jejak tapak kaki Tuhan, yang absolut berkuasa atas ada atau tiadanya sang waktu. Hikmah pun bernyanyi tentang keagunganNya, bercerita tentang kejaiban di setiap aral melintang, saat merasakan kekuatan yang berkuasa melewatkan setiap kesulitan.
Tiba-tiba masa lalu yang berat saat dijalani menjadi kenangan indah untuk disyukuri disaat terkini. Esok hari menyisakan misteri yang bersembunyi dibalik keyakinan yang kian terselami.
Andai seseorang meletakkan makna ibadah atau pelayanan sebagai alasan di setiap perbuatan, menilainya sebagai bentuk tanggung jawab bukan sebagai beban, tak akan ada yang melaluinya sendirian. Waktu hanya akan tersingkap sebagian, selebihnya rapat bersembunyi dibalik cadar. Saat melihat matahari terbenam, mereka seakan baru saja melihat terbitnya. Malam yang panjang hanya berlaku bagi mereka yang khusuk memanjatkan doa. Ketika pagi tiba adalah panggilan untuk mensyukurinya.

Hanya seorang pengangguran yang tahu betul lamanya hari. Hanya seorang pecundang yang gemar menghitung-hitung berjalannya waktu, seberapa banyak manfaat yang telah dilakukan ironisnya mereka tak pernah tahu.
Seorang yang tengah dalam perjalanan wisata sangat merasakan keberadaan waktu, karena hasrat sibuk menawarkan fantasi kesenangan yang akan dialami. Ketika pulang kembali ke rumahnya, waktu tiba-tiba saja menjadi tiada. Perjalanan seperti tiba-tiba saja terlewati tanpa terasa. Hasratlah yang mengundang kehadiran sang waktu, tanpa ekspektasi lah yang meniadakannya.
Tuhan sungguh-sungguh ada diantara mereka yang menjadikan ibadah sebagai panggilan hidupnya. Keberadaan waktu dulu, kini dan nanti adalah pertandaNya. Agar manusia hidupnya tak sia-sia. Agar tak menjadi orang yang terkejut ketika senja tiba, namun tak sempat berbuat apa-apa.

+ + + + +


Akhirnya taxi itu tiba dimulut gang. Jantungku berdetak kian kencang. Kulangkahkan kaki bersama istri dan anakku ke tempat itu. Jalan itu sepertinya lebih lebar dibanding dulu, mungkin karena saluran airnya telah tertutup oleh beton semen yang dicetak kotak-kotak. Jalan itupun terlihat lebih tinggi, pasti karena pelapisan berkali-kali. Sejenak kutepiskan pemikiranku tentang masa lalu, karena kini aku telah berdiri tepat di depan tempat itu. Bentuk dan ukurannya kini berbeda, cat warna hijaunya pun tak lagi ada. Namun pilar-pilar nya masih menjadi petunjuk keaslian bangunan awalnya.
Istriku bertanya, “Inikah tempatnya ?”
“Ya, ini tempatnya” jawabku terbata-bata.

Istriku mendekap erat tubuhku, seolah mencoba menghentikan degup jantungku yang bergetar karena rindu.

Istriku telah banyak mendengar ceritaku tentang tempat itu. Cerita yang akan kudongengkan pada anak cucuku. Cerita indah tentang masa lalu yang telah menjadi bagian hidupku. Tempat yang kecil, namun sanggup menampung banyak perbedaan. Tempat yang sederhana namun sungguh kaya akan cinta. Tempat yang lusuh namun begitu jernih untuk melihat pantulan hati. Tempat yang mampu menjadikan siapa saja menjadi diri sendiri.
Tiba-tiba bayangan masa lalu itu hadir perlahan membelai sukmaku. Merasuk ke palung hati hingga jiwaku terbuai meraja-raja. Bangunan itu perlahan-lahan menampakkan bentuk aslinya. Warna dindingnya terlihat hijau kembali seperti semula. Hiasan dinding dan semua perabot terlihat jelas di tempatnya masing-masing. Lantainya yang sebagian plesteran semen, yang tak semuanya keramik memberi kesan permukaannya tak rata. Lamat-lamat mulai kudengar jelas derai tawa disetiap canda, serta percakapan hangat tentang kehidupan dan misterinya. Wajah-wajah itu melintas satu demi satu, seolah menyapa kalbuku yang tengah mahsyuk merindu-rindu. Wajah-wajah lukisan Tuhan, dan nama-nama yang menyerupai bunga mekar di taman-taman. Begitu cepatnya sepuluh tahun berlalu, semua seolah baru terjadi kemarin hari. Betapa indahnya kebersamaan saat itu, sampai hati merekam nya begitu detail, hingga tak ada satupun yang terlewati.
“Dimanakah mereka kini ?” pertanyaan anakku menghentikan perjalanan imajinasiku.
Kugendong anakku, dengan mata berkaca-kaca aku berkata, “Dimanapun kami semua berada akan tetap terikat satu hati selamanya. Tak perduli selebar apapun jarak yang memisahkannya. Setiap permasalahan hidup akan senantiasa dihadapi bersama-sama karena kami sejiwa. Pikiran manusia terkadang lupa karena kesibukan dunia, namun tidak dengan hatinya. Seberat apapun beban itu tak akan ada yang memikulnya sendirian. Sampai akhir hayat kami akan tetap bergandengan tangan”

Kualihkan wajahku pada istriku, dengan sapu tangannya dia mengusap air mataku, “Saat dunia ini terasa begitu keruh, jiwa kami telah menemukan taman yang indah untuk berteduh. Meski wujudnya tak lagi ada, kenangannya akan selalu hidup menjelma pijar lentera. Bekerja, berkarya, ber-rumah tangga dan berketurunan menjadi pilihan kami untuk menelusuri kedalaman makna ibadah. Kami hanya ingin berarti bagi yang lain meski terkadang tak selalu diakui. Sakit hati adalah rahasia pribadi, hanya Tuhan yang tahu. Mungkin begitulah jalan terbaik kami untuk menjaga kerendahan hati dan tak kehilangan chemistry. Kami tetap satu Tuhan, satu rasa selamanya. Karena kami bukan siapa-siapa. Kami bukan kanan juga bukan kiri. Berusaha menjauhi kesalahan, namun juga berusaha tak merasa benar. Seberat apapun beban hidup akan terasa nikmat jikalau kami tetap merasa dekat. Tuhan Maha Ber-rencana, kepadanya kami sandarkan segalanya. Tempat itu menjadi saksi, siapa pun akan merasa terlahir kembali ketika menemukan makna jati diri”
Kuturunkan anakku dari gendonganku. Langit nampak membiru karena tersaput kabut kerinduan. Kuhirup nafas Tuhan sembari memejamkan mata mencumbui gelap. Sesudahnya aku berkata pada diriku sendiri, “Dulu adalah pembelajaran, kini adalah perjuangan, nanti adalah tujuan. Bila saatnya tiba, andai benar alam imajinasi menjanjikan pengulangan waktu, aku ingin kembali ke masa-masa itu”
Tiba-tiba udara seperti berhenti bergerak, angin pun tak lagi meniupi setiap celah kehidupan. Dulu kini dan nanti seakan terhenti dalam satu ruang. Alam selaksa khusuk mendengarkan doa anak manusia yang merindukan surganya. Meski semesta seperti terlihat diam, namun pesan itu langsung diwartakan pada langit oleh ribuan kunang-kunang.



Dikau selalu memanggilku tiada henti,

namun aku selalu sibuk sendiri

dan tiada pernah menanggapiMu

Namun akhirnya kita bertemu jua

di Surabaya,

bersama mengukir pahatan di bebatuan

dengan puisi cinta


Ijinkan aku mengenang pertemuan itu,

meski harus kubayar

dengan kerinduan yang menyiksa

di setiap lagu




**********************************************************

Tuesday, July 12, 2011

BODY LANGUAGE


Wajahnya sering menjumpai pemirsa, di sebuah acara talk show milik salah satu stasiun televisi terkemuka. Wawasannya luas dan otaknya cerdas. Penguasaannya pada topik acara sangat dalam dan aktual. Tak sedikitpun memperlihatkan kesan sedang berpura-pura, seolah tim kreatif pendukungnya di balik layar tak pernah ada. Parasnya cantik dan “menarik”. Kata sebagian orang, daya tarik utamanya adalah kecerdasannya. Namun sebagian lagi berpendapat sorot mata adalah pesona utama dirinya. Yang pasti dia sangat sadar kamera.
Mungkin banyak yang lebih cantik atau lebih menarik dibanding dirinya, namun dia bisa memastikan bahwa acara itu adalah miliknya. Penampilannya sangat percaya diri. Dia mampu menyatukan kecerdasan, wawasan dan segala yang melekat pada tubuhnya dalam satu harmoni. Lepas menyala dan berbendar-bendar menyilaukan mata. Tak hanya dimata pemirsa, semua tamu acara yang hadir untuk diwawancarai pun dibuatnya terpesona. Salah satu tokoh kharismatik yang sangat terkenal mampu dibuatnya tak berkutik. Tokoh itu harus berusaha keras untuk menguasai diri, agar tak kehilangan konsentrasi ketika menjawab pertanyaannya.
Dia sangat sadar akan siapa dirinya, sadar akan sorot matanya, sangat sadar ketika sedang berbicara. Sangat sadar ketika merubah posisi tubuh atau menggerakkan tangan dan kepalanya ketika berbicara. Ekspresi wajahnya mempertegas pijar auranya. Kecerdasannya mengalir sempurna lewat bahasa tubuhnya.
Ketika tokoh kharismatik itu pulang ke rumah dan istrinya menanyakan asal kepergiannya, jawab tokoh itu, “Aku baru saja jalan-jalan ke surga”

+ + + + +

Jono sedang curhat pada sahabatnya. Dia tidak mengerti mengapa bagian tubuhnya yang sensitif dapat bergerak sendiri diluar kendali. Andai obyek yang ada dihadapannya tanpa busana dan berkesan menggoda, dia bisa memahami. Namun saat itu dia sedang berbicara dengan seorang lawan jenis yang santun dan berbaju rapi. Meski wajahnya cantik namun jono sama sekali sedang tidak berfantasi. Obrolan hangat itu menjadi terganggu karena ada yang bereaksi di balik celananya. Dia sampai merasa jijik, bahkan sempat terlintas ingin memotongnya.
Anggota tubuhnya ternyata mampu berbicara sendiri diluar kendali pikirannya. Bereaksi ketika dia sedang sadar situasi. Siapa yang menggerakkannya ? Siapa yang mengajaknya bicara ?

+ + + + +


Telah dua kali mita mengalami pelecehan seksual. Dua-duanya dia alami ketika sedang berseragam sekolah. Dia sangat sadar dan bersikap seperti biasa, kata menggoda tak ada dalam pikirannya. Entah mengapa tiba-tiba seseorang datang dan menyentuh dadanya. Perasaan terkejut bercampur malu menekan diri dan membelenggu jiwa. Pikirannya terguncang hebat hingga wajahnya berurai air mata.
Mita tidak mengerti mengapa bisa terjadi. Teman-teman yang lebih cantik dan sexy ada di sekitarnya. Menurut mita mereka lebih berpotensi sebagai penggoda. Mengapa pada dirinya bukan pada yang lain ? Siapa yang menggerakkan tangan itu ? Mengapa tangan itu memilihnya ?
Pasangan married by accident rudi dan dessy juga memiliki pertanyaan yang sama. Keduanya sama-sama tidak mengerti mengapa tubuh mereka bisa saling berinteraksi tanpa terkendali. Padahal mereka sama-sama dibesarkan oleh lingkungan yang sangat mengenal agama. Menurut mereka semua itu terjadi begitu saja. Kata dosa pun telah melayang entah kemana.
Semenit sebelumnya mereka hanya ngobrol biasa. Semenit kemudian mereka berdua sudah sama-sama tak berbusana. Andai bahasa tubuh lekat dengan istilah isyarat, mereka berdua sama sekali tak merasa berbagi isyarat apa-apa. Selanjutnya tubuh mereka yang berbicara diluar kesadaran mereka. Siapa yang menggerakkannya ?

+ + + + +


Sungguh tak beruntung mereka yang tak mengenal dirinya sendiri. Mereka yang tidak tahu bahwa segala yang ada di dalam diri mampu bergerak sendiri di luar kendali. Kecerdasan yang tak teridentifikasi bisa saja bergerak liar merugikan orang lain maupun diri sendiri. Tangan yang terampil bisa mempengaruhi seseorang menjadi pencuri, kemampuan bicara dapat melahirkan seorang penghasut. Ketika dikemudian hari mereka tersudut, ketika mereka harus menanggung derita atas perbuatannya, situasi selalu menjadi alasannya. Pengaruh buruk dijadikan pemicu, pembelaan dan pembenaran diri menjadi tajuk utama, setan pun menjadi tersangka.
Tidak mengenali potensi diri menjauhkan seseorang dari kesadaran. Anak burung elang yang hidup diantara ayam selamanya tak akan pernah bisa terbang. Insting akan selamanya liar dan tak bersahabat jika tak dijinakkan. Bermakna bagi banyak orang atau diri sendiri sesudahnya adalah pilihan. Paling tidak menjadi orang yang mengerti, bahwa segala potensi di dalam diri membutuhkan taman bermainnya sendiri.

+ + + + +


Lebih buruk lagi mereka yang mengingkari. Yang berpikir ingin makan bukan karena perutnya yang minta diisi. Yang berhasrat ingin tidur bukan karena tubuhnya ingin berelaksasi. Tubuhnya akan bicara sendiri, melaju tanpa menghiraukan batas karena kehilangan koordinasi. Karena pikirannya sibuk sendiri.
Ketika menderita, ketika jatuh sakit, seseorang tiba-tiba saja sibuk menjawab panggilan tubuhnya. Menuruti apa saja yang dikehendakinya. Seberapa mahal biaya pengobatan akan diruruti. Lucunya mereka akan berkata seolah tak ada pilihan lagi. Mereka lebih menyesali waktu yang terbuang atau pekerjaan yang tak bisa terselesaikan. Sesuatu yang besar berawal dari yang kecil. Tak ada sungai yang tak bermuara. Sangat sedikit yang berkenan menelusurinya.
Lebih kasihan lagi mereka yang tertekan jiwanya, yang lebih berpotensi membiarkan tubuhnya bebas berbicara menyampaikan perasaan tertekannya. “Sentuhlah aku” atau “jamahlah aku” bisa meluncur sendiri tanpa disadari. Beruntung jika mereka dipertemukan oleh kehidupan dengan seseorang yang mampu meyalurkan tekanan. Yang dapat diajak berbagi melalui rasa, sembari menulusuri perbedaan menarik dan menggoda.

+ + + + +


“Lihatlah aku”, kata bahasa tubuh mereka yang sedang “menarik”. Panggilan halus yang tak terdengar kepada yang lain agar mereka bisa diterima. Yang menerima panggilan membalasnya dengan jawaban yang tak kalah halusnya. Mereka balik mempertanyakan kemampuan nyata atau kemampuan beradaptasi. Tuntutan sebagai teman bicara, rekan kerja atau keselarasan interaksi dalam banyak hal menjadi jalan bagi mereka untuk ikut menyeleksi atau diseleksi. Jika gagal menjawabnya mereka akan tersisih dari lingkungannya.
Selanjutnya mereka akan pergi, “lihatlah aku” akan terdengar lagi ketika bertemu habitat yang baru.
Setiap orang memiliki daya tariknya sendiri, tak terkecuali bagi mereka yang memilih menyendiri di sudut meja. Atau pada mereka yang memiliki bentuk dan ukuran yang tak biasa. Karena daya tarik sama sekali tak terikat dengan keduanya. Seseorang yang gemuk akan terlihat menarik tanpa harus menguruskannya. Demikian pula sebaliknya. Sesedikit apapun daya tarik selalu melekat dalam diri manusia. Selama manusia dapat bersikap menerima dan apa adanya, tak berlebihan dan tak dibuat-buat. Andai ada sebagian dari mereka yang tekun mengasah potensi diri, hingga rasa percaya diri mulai hadir menari-nari, tak terbayangkan seberapa hebat daya tariknya bicara.
“Lihatlah tubuhku dan sentuhlah” terucap dari tubuh yang menggoda. Pengendalian dengan akal pikiran akan sangat melelahkan dan sia-sia. Bergantung pada sukma atau insting, lebih bisa mendatangkan bahaya. Karena tempatnya berpijak harus benar-benar sempurna, sedikit saja bergeser akan melahirkan penaklukkan tanpa disengaja. Awalnya mungkin mereka menikmatinya, berlanjut di kebiasaan berarti bencana. Mereka akan menjadi orang-orang yang kesepian tanpa cinta. Tak ada pilihan yang lebih baik bagi mereka selain berkarya atas nama jiwa. Mutlak mereka harus menafkahi jiwanya yang tiada pernah lapar materi, namun senantiasa haus akan ekspresi. Yang utama tak mesti mewangi namun berarti bagi yang lain.
Tanyakan pada mereka yang sengaja menggoda dengan bahasa tubuhnya, mereka akan sibuk mencari cinta diantara kubangan lumpur. Tanyakan seberapa dalamnya kesepian, mereka akan berkilah seribu kata. Seolah mereka baik-baik saja. Sejatinya mereka hanya berpura-pura bahagia.
Adapun mereka yang telah mengenali namun ketakutan dengan bahasa tubuhnya yang menggoda, akan bersembunyi rapat dibalik tirai yang sunyi. Diam-diam menanti sambil menyeleksi mereka yang sungguh-sungguh menatapnya dengan mata hati.

+ + + + +


Kesadaran akan segala yang melekat pada diri sendiri melahirkan sikap yang berbeda-beda. Tak sedikit yang bangga akan kecerdasannya, atau bangga akan tubuhnya seperti kaisar narsiscus yang senang berdiri berjam-jam di depan kaca. Sebagian lagi memilih tak perduli atau mengingkarinya. Nasib keduanya sama saja, sering kehilangan kesadaran ketika tubuhnya menuntut berbicara. Mereka sama-sama tidak mengerti bahasa tubuh mampu menerjemahkan tinggi rendahnya hati.
Pengendalian tak akan pernah terjadi sebelum mengenali diri lewat dua sisi konsekuensi. Menarik dan menggoda selalu melahirkan pilihan dicintai atau dinafsui. Keselarasan lebih menghormati batasan dibanding penaklukan. Namun keduanya bermuara dari mata air yang sama, pesona yang terpancar lewat bahasa tubuh manusia.
Sukma harus diberi jalan untuk menemukan ruang. Biarkan jiwa yang memilih kesenangannya bersemayam. Seringkali datangnya lewat jeritan hati yang terdengar di tengah malam. Yang sangat lekat dengan jatuhnya butiran ilham. Banyak sikap atau pengendalian diri yang lahir setelah lembutnya bisikan.
Tak terbayangkan jika seseorang memiliki ketampanan Illahiah nabi yusuf. Sudah pasti tak akan mengalir wajar tanpa pengendalian Tuhan. Tak terbayangkan jika dalam diri seseorang bersemayam kecantikan hera dewi yunani. Keutuhan tiap pasangan bisa hancur berserakkan tanpa campur tangan Tuhan.
Sungguh beruntung mereka yang berkarya menafkahi jiwa, yang fokus mengejar kepuasan batiniah. Yang takwa mengasah kemampuan diri, ikhlas menjalani proses seleksi alam dan pasrah mengikuti skenario Tuhan. Sang presenter wanita sudah pasti telah melewati perjalanan panjang sebelum mengenali potensi diri dan bisa mengendalikannya. Dalamnya jurang sakit hati, keraguan yang menyiksa di setiap persimpangan dan kesepian nan mencekam sudah pasti telah dia alami. Adalah wajar jika kini dia menarik seluruh penjuru negeri. Mengekspresikan talenta di tamannya sendiri, menebar sejuta pesona tanpa mengeksploitasi.
Bahasa tubuhnya mengalir halus tanpa dibuat-buat. Tersaji utuh bagi setiap mata yang memandangnya. Yang terbuai akan melihat kemilau pesona keindahan. Yang masih dipeluk kesadaran akan menyaksikan kecerdasan Tuhan.



Jika kau perdaya aku dengan jasadmu,
aku akan meninggalkanmu
Karena akhirnya pasti sia-sia

Jika kau perdaya aku dengan talenta
dan jiwa kekanakanmu,
aku akan mengajakmu bercinta



**********************************************************