
Si pemimpin sedang mengunjungi daerah yang sedang mengalami bencana. Sebelum tiba di lokasi para penasehat telah lebih dulu mengingatkan tentang ekspresi wajah yang akan ditampilkan, dan sederet kata-kata menyentuh yang akan diucapkan. Demi kesempurnaan penampilan di depan kamera, demi memuaskan pemilihnya sekaligus menjatuhkan peluang pesaingnya.
Si pemimpin tidak menyadari, bahwa alam yang baru saja merajuk sedang menunggu doa dan ratapannya. Sebelum menggerakkan seluruh kekuatan semesta untuk memperbaiki situasi karena telah lelah mendengar sekian jeritan hati. Namun si pemimpin mengabaikan penantian alam. Dia lebih perduli dengan citranya, sibuk membagikan karangan bunga yang harganya mahal kepada mereka yang kelaparan.
Ketika sumbangan dana dibagikan para perantara sibuk belingsatan. Tadah kanan tadah kiri demi keuntungan pribadi. Sementara diantara yang menderita ada pula yang sibuk sendiri melancarkan aksi. Sikut kanan sikut kiri, agar bisa tampil di barisan depan demi mendapatkan bagian yang lebih besar.
+ + + + +
Hukum perundang-undangan dan sekian banyak peraturan telah disusun sedemikian rupa. Tercetak rapi di buku-buku yang tak terbayangkan tebalnya. Perbaikan dan evaluasi selalu dilakukan setiap tahun, demi membatasi ruang gerak siapa saja yang gemar mencari sesempit apapun celah diantaranya. Namun yang terjadi selalu sama saja, karena celah yang sebenarnya adalah peraturan itu sendiri. Peraturan justru menjadi senjata bagi semua para pelaku untuk membenarkan diri demi kepentingan kelompok atau pribadi, lewat kecanggihan skenario dalam membentuk berbagai opini. Mereka yang berbeda kepentingan sama sekali tak merasa terbatasi, justru merasa leluasa bermain di taman peraturan. Mereka sibuk menginjak-injaknya bak pelataran namun mulutnya sibuk bicara penegakkan. Lentera Iman kian menjadi setetes air di taman api.
Sementara rakyat yang menjadi alasan utama terlahirnya perundangan juga tak jauh beda. Disatu sisi mereka menjerit karena merasa tak terlindungi, namun disisi yang lain mereka juga sibuk ria beropini. Omong sana omong sini alih-alih menilai dan menghakimi. Tidak menyadari bahwa opini mereka justru dipergunakan sebagai alat untuk menjerat kaki tangan mereka sendiri.
+ + + + +
Ketika industri kian merasuki dunia seni karya, banyak orang yang kehilangan penglihatan dan pendengaran. Bahkan tak sedikit yang kehilangan keduanya. Para pelaku disana-sini sibuk berbicara sebuah karya, sementara di sakunya segepok uang berjuta-juta. Mengagungkan nilai seni yang tak terbeli, namun sejatinya melacurkan diri demi materi. Sementara para seniman sejati kian terpinggirkan, yang mereka tawarkan justru dianggap sebagai alternatif pilihan. Lucunya ketika mereka tampil mengemuka malah dianggap sebagai pemula, meski kiprahnya sudah sekian lama.
Para penikmatnya sama saja, mereka lebih perduli dengan kehidupan sang selebriti ketimbang ber-apresiasi. Ketika wajah menjadi lebih penting untuk dinikmati mereka menjadi tuli pendengaran. Ketika tertipu oleh kekonyolan diri mereka sudah lupa seni komedi. Ketika tertipu oleh gerak lipsink mereka sudah lupa seni bernyanyi. Ketika industri bertahta di singgasana dunia kemasan mereka pun kehilangan penglihatan. Apapun yang berbau selebriti menjadi mudah dijual, tak perduli seburuk apapun kepalsuan yang ditawarkan. Mereka telah buta mata buta telinga. Sudah jaman nya artis yang menjadi penyanyi, bukan sebaliknya.
+ + + + +
Para pemuka agama kian dekat dengan penguasa, meninggalkan bentengnya yang berisi orang-orang yang dahaga jiwanya. Para pendakwah kian fasih menghadapi cahaya kamera dibanding merasakan keberadaan cahaya sejati yang tepat berada di depan kedua bola matanya. Dalil-dalil disebar tanpa batas, bukan untuk pengingat atau membatasi keegoisan melainkan sebagai senjata pembenaran diri. Serkiler menjamur, semuanya mengaku sebagai pembela agama. Tuntunan untuk mengenali dan mendekat kepada Tuhan kian disanjung-sanjung melebihi Tuhan nya.
Pengikutnya sama saja, lebih suka mengagung-agungkan simbol diatas makna yang sebenarnya. Yang meyakini tidak memahami, yang tidak meyakini ikut memperkeruh kesalahpahaman. Yang tahu baca dan tahu dengar berbicara panjang lebar seolah sudah tahu banyak hal. Semua jadi lebih sibuk berbicara dari pada mendengar. Semakin sedikit yang mau mendengar suara hatinya sendiri.
+ + + + +
Di salah satu sudut kota seseorang sedang merenungkan fenomena penyesatan di segala bidang. Menyaksikan segala ucap dan tingkah laku manusia yang serba terbalik dan berlebihan. Mungkin ini yang disebut bernegara pikirnya, setiap orang harus bersiasat untuk memperoleh kesenangan diri. Untuk menjadi pencuri harus mengenakan jas dan berdasi, untuk dihormati harus ikut-ikutan berkolusi dan korupsi. Ah lebay, sama saja. Dia tidak menyadari bahwa terpinggirkan bermakna diselamatkan, bahwa ruang gerak yang dibatasi berarti dicintai sepenuh hati.
Sementara para pembawa Cahaya Ilahi yang terabaikan hanya bisa mengamati kezaliman yang kian diangkat ke permukaan. Menunggu Yang Maha Agung turun sendiri meluluh-lantakkan sebuah peradaban. Demi kehidupan baru yang lebih seimbang, demi kemenangan yang telah dijanjikan.
Ya Allah,
kuatkan sepasang kakiku
agar bisa melangkah di duniaMu yang kotor dan berdebu
Kuatkan mata dan telingaku
di depan makhlukMu yang tak lagi mengenal malu
Agar aku bisa menyaksikan
kekuasaanMu yang tak terbatas
**********************************************************


