Monday, August 16, 2010

NEGERI LEBAY


Si pemimpin sedang mengunjungi daerah yang sedang mengalami bencana. Sebelum tiba di lokasi para penasehat telah lebih dulu mengingatkan tentang ekspresi wajah yang akan ditampilkan, dan sederet kata-kata menyentuh yang akan diucapkan. Demi kesempurnaan penampilan di depan kamera, demi memuaskan pemilihnya sekaligus menjatuhkan peluang pesaingnya.

Si pemimpin tidak menyadari, bahwa alam yang baru saja merajuk sedang menunggu doa dan ratapannya. Sebelum menggerakkan seluruh kekuatan semesta untuk memperbaiki situasi karena telah lelah mendengar sekian jeritan hati. Namun si pemimpin mengabaikan penantian alam. Dia lebih perduli dengan citranya, sibuk membagikan karangan bunga yang harganya mahal kepada mereka yang kelaparan.

Ketika sumbangan dana dibagikan para perantara sibuk belingsatan. Tadah kanan tadah kiri demi keuntungan pribadi. Sementara diantara yang menderita ada pula yang sibuk sendiri melancarkan aksi. Sikut kanan sikut kiri, agar bisa tampil di barisan depan demi mendapatkan bagian yang lebih besar.

+ + + + +

Hukum perundang-undangan dan sekian banyak peraturan telah disusun sedemikian rupa. Tercetak rapi di buku-buku yang tak terbayangkan tebalnya. Perbaikan dan evaluasi selalu dilakukan setiap tahun, demi membatasi ruang gerak siapa saja yang gemar mencari sesempit apapun celah diantaranya. Namun yang terjadi selalu sama saja, karena celah yang sebenarnya adalah peraturan itu sendiri. Peraturan justru menjadi senjata bagi semua para pelaku untuk membenarkan diri demi kepentingan kelompok atau pribadi, lewat kecanggihan skenario dalam membentuk berbagai opini. Mereka yang berbeda kepentingan sama sekali tak merasa terbatasi, justru merasa leluasa bermain di taman peraturan. Mereka sibuk menginjak-injaknya bak pelataran namun mulutnya sibuk bicara penegakkan. Lentera Iman kian menjadi setetes air di taman api.

Sementara rakyat yang menjadi alasan utama terlahirnya perundangan juga tak jauh beda. Disatu sisi mereka menjerit karena merasa tak terlindungi, namun disisi yang lain mereka juga sibuk ria beropini. Omong sana omong sini alih-alih menilai dan menghakimi. Tidak menyadari bahwa opini mereka justru dipergunakan sebagai alat untuk menjerat kaki tangan mereka sendiri.

+ + + + +

Ketika industri kian merasuki dunia seni karya, banyak orang yang kehilangan penglihatan dan pendengaran. Bahkan tak sedikit yang kehilangan keduanya. Para pelaku disana-sini sibuk berbicara sebuah karya, sementara di sakunya segepok uang berjuta-juta. Mengagungkan nilai seni yang tak terbeli, namun sejatinya melacurkan diri demi materi. Sementara para seniman sejati kian terpinggirkan, yang mereka tawarkan justru dianggap sebagai alternatif pilihan. Lucunya ketika mereka tampil mengemuka malah dianggap sebagai pemula, meski kiprahnya sudah sekian lama.

Para penikmatnya sama saja, mereka lebih perduli dengan kehidupan sang selebriti ketimbang ber-apresiasi. Ketika wajah menjadi lebih penting untuk dinikmati mereka menjadi tuli pendengaran. Ketika tertipu oleh kekonyolan diri mereka sudah lupa seni komedi. Ketika tertipu oleh gerak lipsink mereka sudah lupa seni bernyanyi. Ketika industri bertahta di singgasana dunia kemasan mereka pun kehilangan penglihatan. Apapun yang berbau selebriti menjadi mudah dijual, tak perduli seburuk apapun kepalsuan yang ditawarkan. Mereka telah buta mata buta telinga. Sudah jaman nya artis yang menjadi penyanyi, bukan sebaliknya.

+ + + + +

Para pemuka agama kian dekat dengan penguasa, meninggalkan bentengnya yang berisi orang-orang yang dahaga jiwanya. Para pendakwah kian fasih menghadapi cahaya kamera dibanding merasakan keberadaan cahaya sejati yang tepat berada di depan kedua bola matanya. Dalil-dalil disebar tanpa batas, bukan untuk pengingat atau membatasi keegoisan melainkan sebagai senjata pembenaran diri. Serkiler menjamur, semuanya mengaku sebagai pembela agama. Tuntunan untuk mengenali dan mendekat kepada Tuhan kian disanjung-sanjung melebihi Tuhan nya.

Pengikutnya sama saja, lebih suka mengagung-agungkan simbol diatas makna yang sebenarnya. Yang meyakini tidak memahami, yang tidak meyakini ikut memperkeruh kesalahpahaman. Yang tahu baca dan tahu dengar berbicara panjang lebar seolah sudah tahu banyak hal. Semua jadi lebih sibuk berbicara dari pada mendengar. Semakin sedikit yang mau mendengar suara hatinya sendiri.

+ + + + +

Di salah satu sudut kota seseorang sedang merenungkan fenomena penyesatan di segala bidang. Menyaksikan segala ucap dan tingkah laku manusia yang serba terbalik dan berlebihan. Mungkin ini yang disebut bernegara pikirnya, setiap orang harus bersiasat untuk memperoleh kesenangan diri. Untuk menjadi pencuri harus mengenakan jas dan berdasi, untuk dihormati harus ikut-ikutan berkolusi dan korupsi. Ah lebay, sama saja. Dia tidak menyadari bahwa terpinggirkan bermakna diselamatkan, bahwa ruang gerak yang dibatasi berarti dicintai sepenuh hati.

Sementara para pembawa Cahaya Ilahi yang terabaikan hanya bisa mengamati kezaliman yang kian diangkat ke permukaan. Menunggu Yang Maha Agung turun sendiri meluluh-lantakkan sebuah peradaban. Demi kehidupan baru yang lebih seimbang, demi kemenangan yang telah dijanjikan.




Ya Allah,

kuatkan sepasang kakiku

agar bisa melangkah di duniaMu yang kotor dan berdebu

Kuatkan mata dan telingaku

di depan makhlukMu yang tak lagi mengenal malu

Agar aku bisa menyaksikan

kekuasaanMu yang tak terbatas




**********************************************************

Monday, August 9, 2010

THE NEW LAND


Saat menyentuh wajah bumi, tanah kering itu langsung mencengkeram kedua kakinya. Aroma wangi dunia menyengat rongga hidung, melekat kuat dan menyebar bisa di seluruh permukaan tubuh. Kedua sayapnya sontak berubah menjadi lengan tangan. Benaknya sibuk menyapa tanah persinggahan dengan segunung pertanyaan. Karena tak terlihat kembang setaman dan tak ada sama sekali hijau pelataran. Kekeringan menjadi satu-satunya warna bagi sepasang matanya. Dimanakah mata air ? Inikah tanah yang dijanjikan ?

Pijar cahaya nampak begitu kecil dan samar-samar, berbias temaram karena terhalang lalu lalang bangkai hidup yang berseliweran. Bau busuk menusuk tajam dari nafas mereka. Menyeruak jauh menghiasi seluruh suasana, memaksa batu-batu kecil seperti enggan bicara. Menawarkan keramahan yang hambar, terurai dalam tegur sapa yang tersaji berlebihan. Sepintas menyejukkan, namun selebihnya yang terungkap hanya kepalsuan. Adalah warisan leluhur yang kian jauh makna, yang mungkin karena sudah terlalu sering disalahgunakan. Dimanakah jiwa ? Dimanakah cinta ?

+ + + + +

Dia mulai melangkah menulusuri lelikuan jalan, menyibakkan prasangka dan fitnah yang sarat bertebaran. Dan alang-alang tajam yang menggores luka nan berdarah-darah. Demi mencari secuil ruang jiwa yang tersisa diantaranya. Oh, yang hebat diagung-agungkan, disanjung melebihi langit. Sementara yang lemah dipaksa tenggelam hingga ke dasar laut. Sudah terlalu sedikit udara di setiap ruang, tergerus asap pembakaran yang menyesakkan dada. Sungguh pekat belantara ketidaksadaran, lebar nian jurang ketidakseimbangan. Memaksa Lentera Agung dalam dekapannya untuk dilindungi sampai mati. Karena kegelapan telah menjadi raja di setiap tanah jajahan. Mengusik ketenangan sukmanya hingga hati bertanya, dimanakah malaikatNya ? Kemanakah perginya Cahaya ? Untuk alasan inikah dia harus meninggalkan bunga-bunga yang bermekaran?

+ + + + +

Jangan tanyakan dalamnya kesepian. Karena nyanyian cinta anak gembala tak lagi terdengar. Tak terlihat lagi tetes embun di atas dahan dan tarian kupu-kupu di atas warna-warni bunga. Tak ada lagi ruang dan waktu untuk berbagi cerita tentang kehidupan dan segala maknanya. Hanya senandung rindu dari kejauhan yang menjadi satu-satunya teman. Adalah siraman doa para kekasih yang kukuh memuja kebebasan jiwa. Dari semua cinta yang dia tinggalkan, yang telah menjadi taman hati dalam buaian. Menjelma kekuatan yang terpatri di sanubari, yang akan dia jaga sampai mati.

Sungguh tinggi puncak kesombongan, begitu terjal jalan kerendahan hati. Duri-duri kian berserakan dalam menelusuri jati diri, laksana membakar diri di perjalanan panjang menjemput matahari. Beruntungnya mereka yang dipaksa diam agar terhindar dari riak, beruntungnya mereka yang direndahkan agar kerendahan hati menari-nari. Demi terbebasnya jiwa sejati, demi para pemuja cinta dan para malaikatNya yang merindukan surga. Sejauh ini berandai-andai hanya melukai diri, hari esok semakin memaksa dirinya menanti-nanti. Betapa indah masa lalu, betapa agung kemenangan yang dijanjikan. Mengejar nikmatNya menjadi satu-satunya tujuan untuk disandarkan. Meski berat tak surut langkah tetap diayun, berkayuh bersama nyanyian semesta bergayut asa. Walau dirinya kini tak lagi sanggup terbang. Karena keangkuhan dunia semakin melucuti kedua sayapnya.

Akhirnya jatuhlah pilihan pada sepetak tanah diantara bebatuan, meski masih terlalu sulit untuk dianggap sebagai pilihan. Benih cinta yang sedari tadi dia genggam mulai ditanamkan. Lalu dia bersujud, menghaturkan doa berteman tangis dan sejuta ratapan. Memandang langit untuk segera mengirimkan hujan. Agar cintaNya tak sia-sia, tumbuh dan berkembang menjadi sebuah pohon besar. Untuk berteduh bagi dirinya, dan bagi siapa saja yang memohon belas kasihNya.




Angin timur lembut berhembus,

menyapa punggungku yang tak lagi bersayap

memaksaku berpaling seperti yang kamu harap

Untuk bernyanyi walau tak utuh satu lagu

demi membasuh rindu di singgasana kalbu


Ijinkan aku menangis,

untuk mengenang kamu-kamu

yang slalu dihatiku

Air mata rindu seutuhnya buatmu




**********************************************************