Thursday, December 15, 2011

MANUSIA LANGKA DARI SURGA


Aku sedang berdiri di teras lantai dua depan kamarku, sengaja berlama-lama untuk menghabisi senja. Aku ingin langit merah itu segera berlalu berganti malam, berubah warna menjadi hitam pekat bermandikan cahaya bintang.

Lalu sesudahnya aku menghubungi kamu, menanyakan keadaanmu, hanya untuk memastikan kamu masih ada.
Katamu, kamu sekarang sering merasakan udara tiba-tiba seperti tak bergerak. Lalu kamu melihat semua yang ada di depanmu berubah warna jingga kemerah-merahan. Pada saat itu senja seolah berlaku lebih panjang untukmu, bagai tak ada malam buatmu, bahkan kamu seolah tak lagi merasakan keberadaan matahari. Katamu itu seperti tanda-tanda kematian karena kamu melihat alam dibalik alam.
Aku nggak percaya. Aku ngotot bilang itu penyakit. Penyakit mata tiga dimensimu harus diobati. Aku sibuk mencari list dokter spesialis mata di yellow pages supaya kamu mau memeriksakan matamu. Tapi kamu malah tertawa. Katamu, kamu nggak sakit mata. Bahkan kamu bilang sudah siap kalau Tuhan menghendakimu kapan saja.
Kamu nggak tahu, ada air mata yang meleleh di pipiku. Diam-diam aku ikut ter-sugesti dengan penglihatanmu. Aku nggak mau kamu mati. Aku masih ingin belajar mencintaimu, walau sering kali aku merasa hatimu seperti terbagi. Walau dimataku dirimu lebih menyerupai bayang-bayang ilusi.
Aku ingin kamu tetap ada.

+ + + + +

Kalimat pertama yang meluncur dari bibirmu setelah sekian lama kita nggak bicara, setelah kebekuan sempat berkuasa karena kehadiran amarah dan prasangka, “Lho, kamu masih hidup tho ?” katamu sambil senyum-senyum.
“Sialan, senang ya kalau aku mati”
Kamu nggak terpengaruh dengan kata-kataku, seolah tak pernah ragu menguasai situasi, termasuk aku.
“Mungkin malaikatnya ragu-ragu, atau mungkin sekarang di alam sana semua pintu dan jendelanya sedang nggak ada yang rusak”
“Maksudnya ?” tanyaku. Aku terpancing.
“Mereka sedang nggak butuh seorang manusia buat pengganjal pintu”
Kamu tertawa. Aku masuk perangkapmu.
“Jahat, kenapa nggak kamu aja yang dipanggil malaikat buat membetulkan pintu dan jendela yang rusak?”
“Masalahnya aku bukan tukang honey. Lagian nggak mungkin malaikatnya berani nyuruh-nyuruh aku” katamu penuh percaya diri.
“Kenapa nggak berani ?”
“Karena biasanya aku yang nyuruh-nyuruh mereka. Kamu kan tahu aku nggak pernah berada di zona nyaman, aku nggak punya pilihan selain terus mencoba menembus batas kemampuan. Itu sama artinya memaksa mereka terus bekerja untukku. Kalau aku mati, mereka nggak punya pekerjaan lagi”
Kamu tertawa lagi.
Kamu selalu begitu. Selalu mengucapkan kalimat-kalimat aneh yang nggak mudah aku pahami. Seolah kamu memiliki pemikiran yang berbeda, yang nggak lazim, nggak seperti yang dipikirkan kebanyakan orang.
Kalau memang malaikat mau disuruh-suruh olehmu, pasti malaikatnya juga mau kalau kamu suruh buat menolongku. Andai benar begitu, keberuntungan yang kualami selama ini bisa jadi asalnya juga dari kamu.
Ah masak begitu, memangnya kamu ini siapa sih ?

+ + + + +

Today is my birthday.
“Ke restoran Jepang yang baru itu ya say ?”
“Oke” jawabmu pasti.
Kamu nggak pernah keberatan. Nggak pernah bilang tidak. Selalu.
Kamu lebih sering mengikuti ideku, jarang sekali kamu mau mengemukakan gagasan, seolah kamu sengaja menyembunyikan keinginanmu sendiri. Mungkin karena kamu nggak ingin aku kecewa, makanya kamu lebih sering memilih jalur aman.
Terkadang sikapmu itu membosankan, tapi aku lebih sering menikmatinya. Aneh ya ? Tapi disaat-saat tertentu, meski kamu tampak lebih sering mengikuti mauku, tiba-tiba kamu bisa muncul di depanku dan mengambil keputusan ketika aku menemui kebuntuan. Padahal sebelumnya kamu terlihat tidur, atau terkesan nggak memperhatikan segala kejadian. Tapi diam-diam kamu menguasai permasalahan. Itu hebatnya kamu. Kamu unik.
Di restoran itu aku pesan sashimi, sukiyaki dan ginger tea.
Kamu juga. Kamu bahkan nggak melihat daftar menunya. Aku tahu, kamu nggak terbiasa dengan masakan luar negeri. Jenis masakan yang ada di daftar menu pasti asing sekali bagimu. Tapi kamu nggak pernah bilang kalau nggak suka.
Kamu lebih suka dengan nasi goreng pinggir jalan, atau ayam bakar dekat kampus yang asapnya bikin mataku perih karena letak panggangannya terlalu dekat dengan tempat dudukku. Kalau pulang dari restoran pizza kamu juga tetap mampir ke warung buat beli nasi bungkus, kamu belum kenyang. Katamu pizza hanya roti atau sekedar jajanan pengganjal perut, bukan menu makan malam.
Kamu sederhana. Kamu juga nggak pernah keberatan kalau dibilang kuno atau ndeso. Kuakui ada sedikit perasaan bersalah karena mengajakmu ke tempat itu, meski ini hari spesialku. Nggak apa-apa kan say, sekali-sekali.
Aku mencoba mengobati situasi. Aku bilang sama kamu, sukiyaki di restoran itu terkenal rasanya enak, pasti kamu nggak kecewa. Tapi sepertinya sia-sia, caramu makan nggak seperti waktu di warung nasi goreng. Butuh waktu lebih lama dibanding ayam bakar yang bisa kamu habiskan hanya dalam beberapa menit.
Tapi kamu tetap menghabiskannya walau matamu terlihat merah. Makan malam ini buatmu mungkin seperti perjuangan, karena untuk menelan makanannya kamu harus bersusah payah. Kasihan. Mungkin kalau ditambah satu porsi lagi matamu bisa berair dan berjatuhan membasahi meja.
Tapi kamu mengangguk-angguk, kamu bilang rasanya enak. Kamu selalu begitu, selalu berbohong demi menyenangkan aku. Bahkan ketika aku sedang berusaha menyenangkan kamu, kamu justru berbalik mencoba menyenangkan aku. Kamu selalu berusaha mengutamakan aku.
Sering kali aku menikmatinya begitu saja, seolah nggak peduli dengan caramu membahagiakan aku. Namun seiring waktu kebohongan itu semakin menyiksaku. Seolah-olah aku harus ikut menanggung semua kebohonganmu.
Aku nggak tahu kenapa begitu.

+ + + + +

Kamu menyebut mereka semua teman, malah sebagian kamu anggap sebagai sahabat.
Sahabat ?
Aku nggak sependapat.
Menurutku mereka semua memiliki nama depan yang sama. “Masalah”. Kemarin sore kamu bertemu dengan Masalah Joko, hari ini kamu sedang berdua bersama Masalah Rudi. Mungkin esok hari kamu menghabiskan waktumu bersama Masalah Rini, Masalah Riska atau Masalah Shinta. Menurut mereka nama depanmu pasti “Tuan pendengar masalah yang baik hati”.
Namun ketika aku di dekatmu, menghadapi kehidupan sehari-harimu, tiba-tiba aku merasa seperti punya nama belakang “Yang kebagian masalah”.
Bukankah mereka datang dan pergi ? Bukankah sesudahnya kamu terlupakan ?
Tadinya kupikir aku sekedar cemburu, namun ternyata di depan mereka pun kamu sembunyikan lelah batinmu. Kupikir kamu lebih terbuka dengan mereka dibanding diriku, ternyata sama saja. Ternyata dengan siapapun kamu tetap hidup dengan rahasia-rahasiamu. Kamu seolah sengaja menyakiti diri, seperti sengaja berpura-pura, seperti ruang kedap suara ditengah-tengah keramaian alam terbuka.
Aku nggak mengerti mengapa kamu simpan sendiri beban itu, mengapa kamu harus terus peduli sementara jiwamu sendiri merajut sepi.
Sebetulnya aku berharap mereka pejabat, bukan mantan. Sebetulnya aku berharap mereka punya banyak uang, bukan bangkrut. Sebetulnya aku berharap mereka sedang naik jabatan, bukan di PHK. Sebetulnya aku berharap mereka sedang jatuh cinta, bukan terluka. Aku sungguh berharap kamu sedang berada diantara orang-orang yang mempermudah hidupmu, bukan sebaliknya.
Katamu mereka adalah cermin dirimu sendiri, mereka adalah jalan bagimu untuk menjadi lebih baik. Di depan ketidaktahuan kamu menemukan kecerdasan, di depan ketidakmampuan kamu menemukan keberdayaan, semua itu amanah bukan beban. Terakhir kamu bilang, kamu sedang tidak berpura-pura bahagia.
Sejak itu aku tak pernah lagi berhasrat mempertanyakan makna kehidupan kepadamu. Andai kamu menjelaskannya pun pasti aku nggak akan mengerti. Meski kamu pernah bilang nggak akan pernah berhenti menyampaikan kebenaran semesta lewat bahasa yang mudah kupahami, tetap saja aku nggak tahu kamu ngomong apa.
Kamu tetap menjadi misteri yang tak berjarak buat aku. Kamu selalu menjadi “yang sendiri” ditengah kerumunan kehidupan.
So close, so far away, but I can’t stop loving you.
Kamu ini siapa sih ?

+ + + + +

Hari itu adalah hari yang sangat melelahkan di tempat kerjaku. Super menjengkelkan sekaligus menyakitkan. Bosku yang botak jelek itu sepertinya sengaja marah-marah sejak pagi hingga sore hari gara-gara target penjualan tidak terpenuhi. Aku sempat berpikir, mungkin dia termasuk satu-satunya jenis makhluk laki-laki yang mengalami menstruasi.
Aku sudah sering melihatnya marah-marah, tapi belum pernah seganas itu. Seolah-olah dia sedang berusaha menelanku tanpa peduli sama sekali dengan kerja kerasku. Seusai meeting aku sempat bersembunyi di toilet hanya untuk mengusap air mataku. Menurutku kata-kata bosku tadi bukan motivasi, lebih menyerupai sumpah serapah yang menyakitkan hati.
Sedikit-sedikit kulirik jam tanganku karena buru-buru ingin menyudahi hari. Aku sungguh merindukan seseorang untuk berbagi. Aku sangat ingin menyandarkan kepalaku demi melepas semua beban. Aku butuh seseorang yang memiliki bahu selebar samudera. Aku ingin segera bertemu dengan tuan pendengar masalah yang baik hati.
Kalau bukan kamu, siapa lagi ?

+ + + + +

Sepertinya aku keliru. Semula aku berharap bertemu seorang pengacara yang bersedia membela kasusku, ternyata aku malah bertemu seorang jaksa penuntut umum. Semestinya bosku yang dijadikan tersangka, kalau perlu langsung dijadikan terdakwa. Tapi dihadapanmu aku malah menjelma seorang saksi yang memberatkan perbuatanku sendiri.
Aku bicara panjang lebar dengan sesekali nada tinggi, tapi kamu tenang-tenang saja tanpa reaksi. Sepertinya kamu nggak peduli, seolah cerita yang kusampaikan hanya cerita biasa yang sudah sering kamu dengar, terbukti kalimat yang meluncur dari bibirmu selalu terdengar datar tanpa sedikitpun melibatkan perasaan.
“Sabar tho, jangan terbawa emosi” katamu, “Kan targetnya memang nggak tercapai, bosmu berhak marah”
“Kamu kok malah membela bosku sih, berarti kamu nggak peduli dengan jerih payahku selama ini”
Kamu malah tersenyum, “Lho yang membela bosmu itu siapa honey ?”
“Itu tadi, katamu bosku berhak marah”
“Kalau menurutmu bosmu yang salah, ya dibuktikan kalau kamu mampu memenuhi targetnya di lain waktu”
“Kamu tahu nggak sih, targetnya itu nggak masuk akal. Selama ini aku susah payah jungkir balik mencoba untuk mencapainya. Kamu sama saja dengan bosku, nggak bisa menghargai usaha orang lain”
Sekarang kamu malah tertawa, “Kalau kamu merasa target itu mustahil, ya tinggalkan saja. Daripada capek-capek tapi nggak dihargai, lebih baik cari pekerjaan lain yang mungkin lebih bisa menghargai jerih payahmu”
“Enak aja kamu kalau ngomong, memangnya gampang cari kerja. Kamu memang nggak peduli sama aku”
“Kalau begitu sikapmu jangan seperti itu, berarti kamu sama nggak realistisnya seperti bosmu. Kamu malah bisa terperangkap disitu, dan jadi susah cari pekerjaan lain”
Kalimat terakhirmu mempertegas ketidakpedulianmu terhadapku. Aku nggak kuat menanggungnya, aku menangis lagi, tapi nggak mau sembunyi di toilet. Nggak perlu. Biar kamu melihat air mataku yang berjatuhan, mungkin nanti bisa dijadikan sebagai barang bukti di persidangan. Tapi aku mau ganti pengacara. Kamu sama sekali nggak layak jadi pembela. You fired !
“Kamu hanya peduli sama teman-temanmu yang bermasalah itu”
Sambil mengusap air mata yang berurai, aku berlalu.
I hate you. I don’t wanna see you anymore.

+ + + + +

Butuh waktu berhari-hari untuk bisa mengambil keputusan meski sebenarnya pilihannya cuma dua, bertahan atau keluar. Tapi dua pilihan sederhana itu justru membawa alam pikiranku pada banyak kemungkinan yang begitu rumit. Seolah-olah aku sudah di depan pintu tapi aku malah berputar ribuan kali mengelilingi ruangan.
Anehnya, setiap kali aku melibatkan sebuah alasan dan pertimbangan, yang muncul selalu kata-katamu. Kok bisa begitu ?
Mungkin kata-katamu ada benarnya. Atau memang benar semuanya. Semakin aku menerima kebenaran kata-katamu, seolah justru mempermudah penyikapanku pada masalah yang sedang kuhadapi. Kenyataan ini menyiksaku.
Seolah-olah ada energi yang menuntunku untuk memilih jalan termudah. Seolah dengan menelan mentah semua kata-katamu pintu yang ada di depanku terbuka dengan sendirinya.
Akhirnya pilihan itu juga yang kuambil, aku tak bisa kemana-mana lagi. Aku harus menerima kenyataan, kamu benar.

+ + + + +

Hari ini sepertinya hari paling indah, matahari pagi seolah menyapaku lebih bersahabat dibanding hari-hari sebelumnya. Aku seperti baru saja mengambil keputusan terbaik yang pernah aku lakukan sepanjang perjalanan hidupku.
Aku seperti tak lagi menanggung beban, jauh lebih siap menghadapi tantangan yang telah menanti di esok hari. Tak ada lagi kerumitan yang selama ini membebani pikiranku. Tak ada lagi yang mengganggu aliran darah dan nafas di sekujur tubuhku.
Kecuali satu, rasa bersalahku sama kamu. Sudah lama sekali, nyaris sebulan sejak pertemuan itu. Kusandarkan tubuhku pada bantal yang sengaja kuberdirikan pada dinding tepi dipan. Aku BBM-an, mencoba menyapa kamu, berharap kamu juga sedang online.
Jantungku berdetak kencang, seiring message yang kukirimkan, “Hai, apa kabar say”
Sesudahnya mataku terpejam, lama. Baru kubuka setelah nada BBM nya berbunyi. Ah, itu kamu.
“Baik-baik saja honey, kabarmu gimana, baik-baik juga kan ?”
Kuhela nafas panjang, jantungku tak lagi berdebar.
“Yup, aku belum pernah merasa sebaik ini, sorry ya waktu itu”
“Ya, nggak apa-apa, waktu itu memang nggak ketemu”
“Maksudnya ?”
“Waktu itu aku berusaha membantu menyikapi, tapi kamu butuh dibela”
Aku jadi malu.
“Iya sorry, lebay banget, kayak di sinetron ya ?”
“Kalau waktu itu ada Ram Punjabi, mungkin sekarang kamu sudah sering nongol di infotainment”
Aku tertawa, lucu juga. Sialan.
Anyway sekarang aku nggak kerja lagi, sudah keluar”
Yang ini jawabannya agak lama, tapi aku sabar menunggu. Pasti kalimatnya panjang.
“Nggak apa-apa, nggak usah disesali, pekerjaan lain masih banyak kok. Jangan sekali-sekali mikir nggak ada, optimis pasti ada. Setahuku, kalau seseorang merasa nggak dihargai, berarti dilain waktu pasti akan dipertemukan dengan orang lain yang lebih bisa menghargai”
Kata-kata saktimu muncul lagi. Menurutku ini lebih dari sekedar motivasi, jauh lebih dalam dan menyejukkan hati.
“Ya, semoga saja, bantu doa ya say”
Sesudah itu jeda, agak lama. Belum ada tanda-tanda kamu akan mengakhiri percakapan, pasti kamu akan muncul lagi dengan kata-kata yang lebih panjang.
“Kalau seseorang merasa sudah melakukan banyak hal, artinya belum. Sepertinya dia berbagi, padahal sebenarnya mengeluh. Hati-hati, Tuhan nggak pernah bersama orang yang mengeluh. Jangan menyerah, terus berusaha, aku bantu dengan doa, yang terbaik buat kamu”
Aku terdiam, kata-kata itu mengantarkan aku pada alam renungan. Aku sempat merasa terhakimi bagai terkena anak panah yang menghujam tepat ke ulu hati. Kata-kata itu bagai buldozer yang meruntuhkan dinding keangkuhanku hingga hancur berantakan. Kamu bagai menaruh cermin tepat di mukaku yang ternyata berjerawat sambil menunjukkan cara mengobatinya.
Menurutku ini lebih dari sekedar nasehat, tapi hakekat. Soal kata-kata, kamu memang jagonya. Intinya kamu mengingatkan dan menunjukkan kesalahanku di masa lalu, supaya aku tidak mengulanginya dilain waktu.
“Ya, aku akan berusaha. Makasih banyak ya say”
Mungkin kata-kata seperti ini yang selalu dirindukan sama mereka yang bernama depan “masalah”. Bagi mereka mungkin kamu seperti pohon rindang yang bisa dijadikan tempat berteduh bagi hati yang gerah karena gelisah. Kamu seperti burung rajawali di ketinggian langit yang bisa melihat dengan jelas peta kehidupan, jadi penunjuk jalan bagi mereka supaya nggak tersesat, dan nggak sampai terjatuh kedalam jurang.
Mungkin itu yang membuat kamu nggak sekedar didengar, tapi juga dicintai. Mungkin ini juga yang sering bikin aku sakit hati. Aku merasa nggak rela jika hatimu terbagi. Apalagi jika ketulusanmu dimanfaatkan sama mereka yang mengutamakan kepentingannya sendiri.
Mungkin juga karena aku iri, menganggap mereka lebih bisa memahami kata-katamu yang aneh itu. Seolah aku jauh lebih bodoh dibanding mereka yang sepertinya tampak begitu mudah menerima kata-katamu. Namun kejadian yang baru saja aku alami menyadarkan diriku pada sesuatu. Aku mulai sedikit mengerti, bahwa segala sesuatunya tak harus aku pahami ketika kamu sedang berbicara. Seiring waktu yang berjalan, ketika aku telah berhadapan dengan sebuah kejadian, tiba-tiba aku bisa memahami maknanya dengan sendirinya.
Mungkin memang begitu caranya, dengar saja, terima saja, nggak usah ikut bicara, apalagi membantah. Seolah kalimat yang meluncur dari bibirmu adalah obat instan sekali telan, yang tak harus dikunyah atau dirasakan.
Mungkin selama ini aku yang terlalu tinggi hati dihadapan kamu yang berada di depan ruang dan waktu, atau terlalu keras kepala dihadapan kamu yang bisa melihat segala persoalan dunia dari sudut yang berbeda.
Mungkin kata-kata itu asalnya bukan dari pikiranmu, nggak tahu asalnya dari mana. Seolah kalimat aneh itu meluncur sendiri tanpa pernah kamu sadari. Mungkin dengan kata-kata itu kamu bisa menggerakkan malaikat supaya mau menolongku buat mencarikan pekerjaan baru. Siapa tahu.
Kamu kan bisa nyuruh malaikat ?

+ + + + +

Aku tahu kamu nggak akan pernah punya gagasan, karena kamu selalu mengutamakan keinginanku seolah aku yang harus nomor satu sementara kamu nggak keberatan jadi nomor seribu.
Kali ini aku nggak ingin melihat kebohongan, nggak boleh lagi dari ideku. Harus dengan caramu karena ini hari spesialmu. Today is your birthday.
Aku melangkah riang setengah melayang, mirip anak kecil yang baru saja diberi permen coklat. Tempat yang kutuju adalah kos mu yang kumuh, yang cat dan dindingnya separuh mengelupas sampai batu batanya kelihatan. Tempat yang kamu banggakan, yang katamu itu apartemen bukan kos-kos an.
Di tanganku ada tas plasik berisi nasi pecel dan tempe goreng kesukaanmu. Dibenakku tersimpan sebaris kata-kata yang telah siap aku sajikan, “Happy birthyday say”

+ + + + +

Tempat kos mu sepi nggak ada orang, termasuk kamu. Hanya ibu kos yang katamu murah hati karena sering nggak keberatan kalau kamu nggak bayar sampai tiga bulan. Dia menatapku seolah-olah seharusnya aku tahu kamu dimana, atau berkesan seperti ada pesta tapi aku kok nggak diundang.
Katanya kamu pergi berjalan kaki ke restoran steak di pinggir jalan, yang bangunannya seperti gubug besar terbuat dari kayu dan tak berjendela. Kucoba kuikuti petunjuk ibu kos, aku penasaran.
Ternyata ibu kos mu benar, kamu ada di restoran steak itu sambil mengenakan T-shirt warna biru pemberianku. Tapi kamu nggak sendirian, kamu bersama semua teman-temanmu yang bernama depan “masalah”. Dari tempat parkir aku bisa mendengar dengan jelas lagu selamat ulang tahun dinyanyikan.
Ternyata di depan mereka pun kamu berbohong. Kamu berusaha menyenangkan mereka yang sedang berusaha menyenangkan kamu. Pasti kamu juga akan memesan menu yang mereka pesan. Mereka nggak tahu kalau kamu nggak suka steak.
Tiba-tiba aku merasa mendua, aku nggak tahu harus berbuat apa. Sebagian dari diriku ingin melangkah kesitu, mendatangimu sambil berkata, ini lho makanan kesukaanmu, bukan yang itu.
Sebagian yang lain bilang jangan, kehadiranku hanya akan memberimu sebuah pilihan. Kamu pasti akan menyambutku dengan hangat, lalu menikmati nasi pecel yang kuberikan di depan mereka dengan suka cita.
Hasratku untuk nggak melihat kebohonganmu walau hanya sekali tak juga kesampaian. Kuputuskan nggak kesitu. Aku berlalu.

+ + + + +

Di tengah jalan perasaanku campur aduk nggak karuan seolah ada sesuatu yang menganjal dan memaksa ingin keluar. Setiap pasang mata yang berpapasan denganku seperti menghakimiku, seolah aku orang bodoh yang mengganggu ketetapan takdir, seolah aku adalah orang salah di waktu yang salah. Seperti ada sebuah cerita indah yang sudah dirancang jauh-jauh hari dan aku nyaris datang merusaknya. Padahal aku sudah berlari menghindari panggung yang salah, tapi sorot mata mereka tetap menghabisiku lebih dari sekedar melihat orang salah kostum.
Langkahku tak lagi melayang, lebih cepat dan membumi seperti dikejar sesuatu yang tak pasti. Buru-buru sekali.
Tiba-tiba langkahku terhenti, teringat sekelebat bayangan yang baru saja kulalui. Aku menoleh kebelakang. Pengemis tua itu. Nasi pecel ini.
Mungkin nasi pecel ini yang membuatku berlari, mungkin dari sini asal muasal perasaan bersalahku. Ingin rasanya berteriak pada semua orang yang sedang berlalu lalang, bukan aku yang salah, yang salah nasi pecelnya, ini bukan makanan kesukaanku. Andai yang kubawa saat ini satu paket pizza, pasti aku nggak akan menanggung beban seberat ini. Pasti aku tetap bisa melangkah ringan dan melayang sambil bernyanyi-nyanyi.
Pengemis tua itu menyambut pemberianku dengan senyuman dari surga. Seiring ucapan terima kasih dan sebaris doa dari bibirnya. Tatap matanya teduh, welas asih dan menyejukkan hati. Seolah dibaliknya aku bisa bersembunyi dari semua rasa yang tak kusukai. Aku jadi ingat kamu lagi.
Tiba-tiba aku merasa semua orang yang berlalu lalang tak lagi menatapku. Aku merasa kembali menjadi orang normal, permainan takdir telah mengubah semuanya menjadi kembali tampak wajar.
Aku kembali melangkah ringan walau belum seutuhnya melayang. Aku mencoba bernyanyi-nyanyi lagu pelipur hati walau nadanya masih terdengar sumbang. Dalam imajinasiku semua orang yang berpapasan denganku saat itu adalah kamu. Aku tatap mereka dengan senyuman yang aku pinjam dari pengemis tadi. Aku sapa mereka semua dengan bisikan hati, “Happy birthday say”
Lalu aku menangis dengan air mata berurai. Tapi aku nggak sedih. Air mata ini hadiah ulang tahunku buat kamu. Bukan nasi pecel itu.

+ + + + +

Mungkin ini yang dimaksud dari semua kata-katamu. Hidup ini nggak cuma tentang aku sama kamu. Ada pengemis itu, ada bosku di kantor yang botak jelek dan suka marah-marah, ada teman-temanmu yang kuberi gelar yang sama di depan nama mereka, dan juga semua makhluk penghuni jagad raya. Semuanya hidup, semua bukan kebetulan, semua saling berkaitan seperti katamu.
Sungguh tak mudah untuk mencintai kamu, karena untuk membahagiakan kamu aku harus bersaing dengan banyak orang. Karena di dalam ruang hatimu yang luasnya sebentang samudera penghuninya nggak cuma aku.
Tak berjarak denganmu berarti mencintaimu seumur hidup. Mencintaimu berarti berbagi ruang dan waktu dengan yang lain. Aku nggak mungkin harus terus menerus bertanya, kamu sayang nggak sih sama aku, aku sudah tahu jawabanmu. Mungkin itu jadi satu-satunya kejujuranmu. Selebihnya yang tersisa hanya kebohongan demi kebohongan. Kamu nggak akan pernah menolak, nggak akan pernah bilang tidak.
Mungkin karena kamu yang lebih mengenal aku, mungkin menurutmu aku termasuk yang nggak terbiasa dengan penolakan. Atau mungkin aku selalu hanya mau dituruti, seperti orang yang hanya ingin dicintai tapi enggan belajar mencintai Tapi kamu nggak pernah sekalipun mengungkapkannya, karena mungkin kamu juga sudah tahu aku nggak bakal bisa menerimanya.
Kamu ini siapa sih say ?
Waktu kamu bilang dirimu bukan siapa-siapa aku nggak percaya. Mungkin memang benar kalau kamu temannya para malaikat, kamu seolah lebih peduli dengan orang lain dibanding dirimu sendiri. Atau mungkin sebenarnya kamu makhluk luar angkasa yang kebetulan nyasar ke bumi. Seolah perbendaharaan katamu hanya berbagi dan berbagi. Penderitaan dan lelah batinmu lebih suka kamu simpan sendiri.
Andai selama ini aku bisa merasakan penderitaanmu, bagimu mungkin itu kejujuran yang tak terungkap. Mungkin aku yang kamu pilih untuk menjaga rahasia hatimu.
Aku kasihan, nggak tega melihat kamu terus menerus menjalani hidup sebagai curahan hati, meskipun kamu bilang nggak pernah merasa terbebani. Meskipun kamu bahagia jika melihat orang lain bahagia. Seiring waktu aku juga jadi malu jika harus terus menerima semua kebohonganmu, seolah aku semakin tak mampu membahagiakan kamu.
Mungkin penglihatanmu selama ini nggak keliru. Mungkin sebentar lagi kamu memang akan mati. Mungkin tempat terbaikmu memang bukan disini. Mungkin kamu lebih baik menjadi bintang di langit yang bisa menerangi siapa saja yang membutuhkan cahayamu, tanpa kamu harus capek-capek membagi waktu dan seperti menyiksa diri.
Aku nggak akan berdiri di teras depan kamarku lagi. Biarkan senja datang berlama-lama setiap hari, aku harus merelakan kapan saja langit berwarna merah itu menelanmu hidup-hidup. Walau mungkin nanti aku menjadi orang yang menangis paling keras diatas pusaramu.
Namun kamu tak akan pernah terganti. I’m probably not the best for you, but you’ll always be the best for me. I love you as long as I live, forever and ever.
Maafkan aku ya say.


---***---


Thursday, November 17, 2011

MALAIKAT PELINDUNGKU


Bukunya cuma satu, nggak ada yang lain.
Buku tulis tanpa sampul, yang covernya bergambar artis dangdut, yang mungkin belinya di emperan pasar bukan di toko buku.
Angin yang berhembus pelan pun dapat menerbangkan tasnya yang ringan, karena isinya cuma satu buku.
Kalau ada satu buku tulis yang bisa dipakai untuk semua mata pelajaran, dari awal tahun ajaran baru sampai ujian kenaikan, mungkin hanya Bagus yang bisa melakukannya. Karena dia memang nggak pernah menulis apa-apa.
Bukunya akan selalu putih polos dan sepi dari tulisan-tulisan, kalau pun ada paling-paling di halaman belakang. Itu pun lirik lagu.
Bagus selalu malas mencatat, lebih suka foto copy catatanku lalu mengembalikannya petang hari.
“Jid, pinjam catatannya”
Langganan, seperti biasa. Kalimat yang nggak asing kudengar setiap akhir mata pelajaran. Seolah Bagus memang sengaja menjaga keaslian buku catatannya dari coretan-coretan layaknya sebuah kitab suci.
Suatu saat buku itu mungkin di musiumkan sebagai memorabilia berharga karena nilai historinya. Bukan karena isinya. Karena memang isinya nggak ada.
Bagus sudah hapal dengan rutinitasku, dia nggak akan pernah datang ke rumah untuk mencariku. Dia sudah tahu tempat yang dituju kalau mau mengembalikan buku catatanku seusai di foto copy.
Setiap sore, sejak maghrib sampai waktu isya, selalu kuhabiskan di mesjid dekat rumahku. Bagus sudah terbiasa dengan pemandangan sarung hijau kotak-kotak dan peci warna hitam yang biasa aku kenakan setiap dia mengembalikan buku catatanku. Setiap hari begitu.
Dari kebiasaan itu Bagus jadi punya ide tentang panggilan khusus untukku. Yang kemudian diikuti teman sekelas, bahkan satu sekolahku.
Mereka semua memanggilku ”Jid”. Anak mesjid.
+ + + + +
Tampangnya nggak seperti namanya, nggak bagus-bagus amat.
Hanya sebatas lumayan. Kalau boleh dibilang pas-pasan.
Badannya kurus kecil kayak orang pesakitan, teman sekelasku berkomentar kulitnya putih seperti perempuan. Sekilas seperti keturunan tionghoa, tapi bukan. Bagus Jawa tulen. Rambutnya yang sedikit pirang juga lebih karena sering kepanasan bukan karena ada darah Indo Belanda yang mengalir dalam tubuhnya.
Dandanannya jauh dari kesan rapi, malah berkesan seperti semaunya sendiri. Seragam sekolahnya yang jarang diseterika baru dirapikan kalau ketahuan guru atau kalau ada razia. Celana panjang abu-abunya ketat menempel di kulit sampai mata kaki. Mungkin karena Bagus bermimpi jadi rock star tapi nggak kesampaian.
Kata teman-teman sekelas Bagus lebih memilih bertahan nggak buang air besar di sekolah dari pada susah-susah melepas celananya.
Bagus yang paling kecil di kelasku, mungkin yang paling kecil se SMA. Tinggalnya di kampung bahari, daerah kumuh di pesisir kota yang sangat dekat dengan pelabuhan. Semua orang tahu itu kampungnya preman.
Pernah, lebih dari sekali Bagus berangkat sekolah diantar teman premannya.
Pulangnya juga dijemput.
Temannya berbadan tinggi besar dan kulitnya hitam. Lengannya penuh tato.
Waktu aku bilang, “Temanmu kok sangar Gus”
Kata Bagus, “Oh, itu Acong tetanggaku, tukang ojek. Motor dia rusak, aku suruh pakai motorku dulu”
Supaya temannya tetap bisa kerja. Lumayan, mulia juga.
“Tadi itu diantar siapa Gus ?”
“Itu Kadir, tukang parkir, anaknya sakit. Dia pinjam motor buat nganter ke dokter”
Selalu ada alasan solidaritas, selalu ada tujuan mulia.
Tapi tetap saja nggak wajar, temannya seorang preman.
+ + + + +
Hampir semua murid di sekolahku tahu siapa Bagus, dimana tempat tinggalnya, juga teman-temannya yang langganan keluar masuk penjara.
Termasuk jagoan-jagoan di SMA ku yang menyandang status preman sekolah, mereka juga tahu.
Mereka semua segan, sering menyapa Bagus kalau berpapasan. Salam hormat.
Bagus juga membalas sapa mereka meski nggak hapal nama. Nggak ada reaksi berlebihan, sebatas salam pertemanan.
Dimataku Bagus sehari-harinya memang begitu, berkesan biasa-biasa saja. Termasuk tipe easy going dan jarang bersuara. Kalau bicara pun lebih sering bercanda daripada serius. Sama sekali nggak ada kesan kalau dia punya teman preman segudang. Aku dan teman sekelasku juga nggak terlalu serius memikirkan latar belakangnya.
Mungkin hanya para preman sekolahku yang peduli dan sangat memperhitungkan komunitas Bagus, mereka semua nggak ada yang berani, walau badannya kurus kecil Bagus ditakuti. Nyenggol Bagus berarti mati.
Sama mereka Bagus dijuluki “The Untouchable”.
+ + + + +
Suatu hari ada razia para guru. Ada preman sekolah yang kedapatan bau alkohol gara-gara pesta miras waktu istirahat. Sebagian ada yang mencoba kabur menghindari razia dan bersembunyi di mushola.
Aku yang jadi pengurus mushola jelas nggak terima. Aku marah.
Aku usir mereka saat itu juga, “Pergi, jangan disini. Ini rumah Tuhan”
Mereka malah balik mengucapkan kata-kata bernada tinggi disertai ancaman fisik. Sikap ngotot dan nggak simpatik itu memaksaku nggak berpikir dua kali, kulaporkan mereka ke guru BP saat itu juga.
Mereka akhirnya dihukum, semuanya di skors dan orang tua mereka dipanggil menghadap ke sekolah. Seolah gantian orang tuanya yang harus mengisi daftar absen karena sementara mereka sedang berstatus tahanan luar.
Buntutnya mereka nggak terima. Jelas, sama aku.
Ekspresi wajah mereka penuh dengan kemarahan. Mereka dendam.
Sorot mata mereka menakutkan, merah seperti iblis.
Berderet kata-kata tajam berbau ancaman serius meluncur dari mulut mereka yang masih bau naga, katanya mereka akan membuat perhitungan dengan aku di jalan sepulang sekolah.
Entah datangnya dari mana, tiba-tiba rasa takut datang mendekat. Seolah memaksa lebih dekat melebihi seorang sahabat.
Mungkin karena mereka terkenal suka main keroyokan. Suka main gebuk rame-rame sampai korbannya masuk rumah sakit. Ngeri.
Tiba-tiba terbayang jelas tubuhku babak belur dan berdarah-darah, tergeletak di tengah jalan lalu diangkut mobil ambulan.
Keberanianku yang tadi muncul waktu mengusir mereka tiba-tiba lenyap ditelan bumi. Aku yang semula gagah berani menjaga rumah Tuhan dari gangguan para penyamun sekarang malah jadi ketakutan.
Aku nggak mau jadi bulan-bulanan. Aku nggak mau masuk rumah sakit.
Nggak mau !
+ + + + +
Semua murid satu sekolah tahu masalahku, tapi mereka sama takutnya. Mereka semua menjauh, seolah mempersilahkan aku melenggang sendirian menjemput tiang gantungan. Nggak ada yang mau ikut-ikut. Semuanya takut.
Hanya Bagus yang nggak menambah jarak, dia malah mendekat.
Dia peduli. Mungkin karena dia tahu rasa takutku.
“Jid, kamu pulang bonceng motorku”
Ini pertolongan Tuhan, pulang jalan kaki jelas nggak aman. Dengan sepeda motornya Bagus, aku bisa melaju kencang menghindari cegatan.
Mungkin jadi pemandangan lucu bagi yang melihat, aku yang berbadan besar membonceng Bagus yang badannya kurus kecil. Persis seperti kombinasi patrick dan sponge bob. Memang lucu, tapi nggak apa-apa, yang penting selamat.
Tapi perhitunganku keliru, ternyata mereka tetap menghadangku. Mereka pasang badan di tengah jalan hingga memaksa sepeda motornya Bagus terpaksa berhenti seolah mereka yang menginjak pedal rem. Mereka banyak sekali. Ngeri.
Yang badannya paling besar, mungkin pemimpinnya, menghadang di depan. Yang lainnya mengerubungi di kanan kiri, jaraknya nggak ada satu senti. Sorot mata mereka seperti orang kelaparan, seolah-olah aku makanan siap saji yang siap mereka habisi dengan sekali telan. Sebentar lagi aku masuk rumah sakit.
Tuhan tolonglah aku. Aku hanya berusaha melindungi rumahMu.
Pemimpinnya menatap mata Bagus. Hebatnya, Bagus malah balik menatap matanya. Tenang sekali, luar biasa. Pasti Bagus sedang berakting.
Pemimpinnya bicara, “Gus, gua ada urusan sama temen elu”
Dia permisi sama Bagus ? Temen elu ? Yang mana ? Pasti bukan aku !
Dengan tenangnya Bagus berkata, “Urusan teman gua juga urusan gua”
Ajaib. Hebat kamu Gus, pasti kamu kerasukan. Tapi percuma, kayaknya kita berdua masuk rumah sakit.
Pemimpinnya nggak bicara lagi, diam. Yang lainnya juga, agak lama. Sepertinya kata-kata Bagus bereaksi. Atau mereka sedang memperlambat waktu menunggu ambulan datang.
Tiba-tiba pemimpinnya melangkah mundur, sebuah isyarat memberi jalan. Sepeda motor pun bergerak perlahan. Bagus masih tetap tenang, seolah tadi berhenti sebentar hanya karena ada razia pemeriksaan. SIM, STNK semua komplet, patrick dan sponge bob boleh melanjutkan perjalanan.
Astaga ! Selamat. Ajaib. Benar-benar ajaib. Bagus memang sakti, nggak percuma punya teman preman segudang. Aku nggak jadi masuk rumah sakit.
Bagus mengantarku sampai ke rumah.
“Jid, besok pagi aku jemput. Selama masalah ini belum clear, kamu tetap bonceng aku”
Aku yang masih takut bercampur takjub mengangguk cepat. Siap komandan !
Clear ? Gimana caranya ?
Oh, aku tahu !
+ + + + +
Aku pernah ke rumah Bagus. Begitu keluar dari jalan besar, begitu pertama kali masuk kampung cukup tanya satu orang, informasi rumah Bagus akan mengalir dari semua orang. Bahkan salah satu dari mereka rela mengantarku seperti pengawal.
Pasti bapaknya Bagus rajanya preman, Bagus pangerannya.
Ternyata bukan, bapaknya Bagus pegawai pelabuhan. Ketua RT.
Si pengawal memberi data komplet tentang eksistensi Bagus di kampungnya. Katanya Bagus sering ikut begadang sama teman-teman premannya. Biasa, pesta miras. Tapi Bagus nggak pernah ikut minum. Pernah mencoba sekali tapi nggak suka, katanya pahit. Para preman menyediakan soft drink khusus buat Bagus.
Bagus harus ikut, pesta alkohol bisa batal kalau Bagus nggak hadir. Ternyata karena Bagus kebagian tugas menyanyi sambil main gitar. Katanya Bagus paling jago kalau memainkan lagu-lagunya Rolling Stones.
Mirip sekali dengan versi aslinya.
Suaranya seperti Mick Jagger.
Keith Richard lewat.
Informasi yang paling mengejutkan, ternyata Bagus ketua remaja gereja di kampungnya. Kalau temanku satu kelas tahu, dijamin mereka semua nggak ada yang percaya. Mungkin malah tertawa.
Sore itu aku membantu Bagus mengajari anak-anak SD di kampungnya mengerjakan PR matematika. Tepatnya aku yang mengajari, Bagus hanya mengawasi. Alasannya Bagus nggak suka matematika, padahal aslinya memang nggak bisa. Dasar Bagus.
Mungkin ini yang membuat Bagus dicintai orang sekampungnya, dia selalu peduli. Ditengah-tengah kampung preman ternyata ada satu anak SMA yang punya hati. Kedengarannya aneh, setahuku Bagus termasuk tipe pemalas dan oportunis. Yang pasti dia bukan missionaris.
Ini juga jadi pengalaman yang tak terlupakan buat aku, jadi guru pengajar bagi anaknya preman-preman. Kalau suatu saat kampungnya Bagus punya SD sendiri, mungkin namanya sekolah dasar kampung preman.
+ + + + +
Bagus biasa berangkat mepet-mepet, aku sebenarnya nggak suka. Lebih suka pagi-pagi., tapi hari ini jadi suka sekali. Daripada masuk rumah sakit.
Kurang lima menit bel sekolah Bagus datang menjemputku. Sendirian.
Kok sendiri ?
Di perjalanan aku toleh kanan toleh kiri, melihat ke belakang sekali-sekali. Benar-benar sendiri, nggak ada siapa-siapa, cuma patrick dan sponge bob.
Tanpa foreider tanpa pengawalan. Gawat.
Tadinya aku berpikir Bagus akan membawa sepasukan preman buat mengawalku ke sekolah, sekaligus meng-clear-kan masalah. Ternyata tidak.
Rasa takutku datang lagi. Menjadi-jadi. Aku berdoa lagi.
+ + + + +
Patrick dan sponge bob selamat sampai sekolah. Aman, nggak ada yang menghadang. Situasi aman dan terkendali bertahan sampai istirahat kedua. Sesudah itu aku deg-degan lagi.
Setelah istirahat kedua Bagus nggak balik kelas, dia menghilang. Aku mulai membayangkan pulang jalan kaki sendirian. Rasa-rasanya aku mulai mendengar sirine ambulan.
Setelah bel sekolah, kakiku terasa berat sekali untuk melangkah. Seperti ada rantai besi yang mengikat sepasang kaki ku dengan meja. Andai benar ada, aku pasti memilih nggak akan melepasnya. Yang pasti siang itu nggak ada pelajaran tambahan. Sayang sekali.
Jarak antara kelasku dengan pintu gerbang nggak sampai satu lapangan basket. Tapi hari itu rasanya aku akan melewati lebar dua lapangan sepak bola. Sambil jalan bibirku nggak pernah berhenti komat-kamit. Aku berdoa.
Ternyata Bagus dengan sepeda motornya sudah menungguku di pintu gerbang. Agak lega, tapi rasa takutku belum hilang.
“Ikut aku Jid” kata Bagus.
“Kemana ?” seolah aku punya pilihan.
“Pokoknya ikut. Tenang aja, aman kok”
+ + + + +
Benar, aman, nggak ada yang menghadang.
Kok nggak langsung pulang ? Kemana ini Gus ?
Sepeda motor butut keluaran tahun 80an yang kutumpangi dengan Bagus berhenti di sebuah warung tepi jalan. Makhluk-makhluk yang kemarin menghadangku semua berkumpul disitu. Warung ini markas besar.
Mereka pasti belum makan. Ini hidangannya datang.
“Tenang aja, nggak apa-apa. Sudah clear” kata Bagus.
Sudah clear ?
Bagus nggak tahu, meski kelihatan tenang sebenarnya jantungku berdebar-debar seperti mau copot.
Bagus menyuruhku bersalaman dengan pemimpinnya yang berbadan besar.
Kata Bagus, “Damai ya Jid, nggak ada lagi permusuhan. Semuanya teman”
Aku mengangguk-angguk, lebih dari sekali. Jantungku masih kencang berdebar.
Si pemimpin menyambut jabat tanganku sambil tersenyum.
Katanya, “Temannya Bagus berarti teman kita juga”
Lalu seisi warung semuanya aku salami satu persatu. Banyak sekali.
Tapi tanganku nggak terasa pegal. Senyumku kubagikan satu demi satu dengan penuh semangat, seolah-olah aku sedang mendapat ucapan selamat.
Perlahan-lahan jantungku tak lagi berdebar. Beban berat yang sedari tadi bersemayam di pundakku seolah telah hilang entah kemana. Mulai terasa lega, seolah sedari tadi tas ranselku isinya penuh batu bata.
Mata mereka semuanya merah, dari nafas mereka tercium bau naga yang sangat tajam menusuk hidung. Mereka sedang mengadakan perjamuan, mereka menawariku satu gelas.
“Sebagai rasa hormat” katanya.
Bagus langsung mencegahnya, “Jangan, dia anak mesjid”
Mereka menarik gelasnya, menuruti larangan Bagus.
Aku baru sadar, Bagus matanya juga merah. Dia ikut perjamuan itu.
Bagus ikut minum, padahal dia nggak suka.
Bagus maju sendiri, sengaja mendatangi mereka seorang diri saat istirahat kedua.
Mengadakan kesepakatan damai lewat perjamuan itu untuk menyelesaikan perselisihan mereka dengan aku. Dia melakukan semua itu demi aku.
Ternyata ini yang dimaksud “clear”.
Perasaan legaku langsung hilang. Berganti ngilu.
Sejak itu aku dijuluki “The Untouchable Number 2”
+ + + + +
Tadinya aku berpikir Bagus berani karena tinggalnya di kampung preman.
Tadinya aku berpikir Bagus akan meng-clear kan masalah lewat dukungan satu pasukan. Ternyata bukan.
Dia menghadapinya seorang diri. Bagus memang punya nyali.
Menyelesaikannya sendirian tanpa bantuan, bahkan akupun tak terlibat di dalamnya. Nasi goreng komplet pakai telor telah siap tersaji diatas meja. Bagus yang memasak, aku tinggal menyantapnya.
Bagus memang peduli.
Selalu punya alasan solidaritas, selalu ada tujuan mulia.
Tuhan mendengar doaku, mengirim seorang malaikat yang aneh untuk melindungiku. Tuhan mengutus seorang sponge bob untuk melindungi patrick.
Tiba-tiba aku merasa sekecil Bagus, tiba-tiba aku merasa Bagus yang sebesar aku.
Biar badannya kurus kecil tapi Bagus berhati singa seperti King Richard.
Aku yang berbadan besar tapi malah penakut seperti tikus celurut. Aku kehilangan nyali ketika mereka yang menodai mushola berbalik menantangku. Duhai Rasul, aku malu.
Aku yang pernah masuk pondok, yang belajar berani karena Tuhan tetap saja jadi pengecut. Tidak sedikitpun punya pikiran untuk melawan, hanya babak belur masuk rumah sakit yang terus terbayang.
Dimataku Bagus seperti crusader yang melindungi rakyat muslim, seperti Balian de Ibelin ketika melindungi prajuritnya Salahuddin.
Bagus hebat, aku nggak ada apa-apanya.
Tanpa disadari selama ini mungkin Bagus benar, aku cuma anak mesjid. Seorang jago kandang yang cuma berani kalau di rumah Tuhan.
Biar kusimpan sendiri rasa malu ku, semoga nggak ada yang tahu.
Biar Tuhan saja yang tahu.
+ + + + +
Bagus pernah bertanya, “Orang-orang yang ngebom gereja itu maksudnya apa sih Jid ?”
Pertanyaan itu sepertinya nggak masuk lewat telinga, langsung menghujam ke ulu hati. Langsung bikin aku sesak nafas.
Mungkin Bagus terusik, tapi nggak mengerti sebabnya. Dia butuh seseorang yang dia anggap bisa menjelaskan alasannya. Menurut dia orang itu adalah aku. Mati aku.
Wajar kalau Bagus nggak terima, seperti aku yang nggak rela ketika ada pemabuk yang bersembunyi di mushola.
Sebenarnya aku juga nggak tahu persis alasan mereka melakukan aksi bom di gereja. Yang aku tahu mereka sulit menerima keyakinan yang berbeda.
Pengalamanku bicara, aku pernah dilindungi seorang Kristiani yang gagah berani ketika aku akan dihabisi sekumpulan orang yang suka main keroyokan. Para pemabuk yang sempat mengotori kesucian tempat ibadah.
Pengalaman itu menempatkan aku pada posisi yang tak berjarak dengan Bagus, aku tak punya alasan sedikitpun untuk membenci apalagi memusuhinya. Aku bahkan terkadang lupa kalau aku dan Bagus memiliki keyakinan yang berbeda.
Tapi aku tahu, aku nggak punya hak untuk menilai perbuatan mereka.
Mereka mempunyai latar belakang yang berbeda, mereka pasti tidak pernah bertemu dengan kejadian seperti yang pernah aku alami.
Itu cara mereka untuk memperjuangkan sebuah keyakinan. Biar saja.
Itu bukan caraku, benar atau salah juga bukan urusanku. Hanya cermin bagi keteguhan keyakinanku sendiri.
Setahuku, merasa lebih baik dibanding orang lain sama artinya melawan hukum kesetaraan Tuhan. Semua adalah sama dimataNya.
Yang membedakan hanyalah kedekatan manusia dengan Tuhan nya. Itupun nggak ada manusia yang tahu, hanya Tuhan sendiri yang tahu.
Menurutku menyampaikan kebenaran sebuah ajaran semestinya melalui sikap yang bersahabat, bukan lewat permusuhan. Apalagi jika ajaran itu berlaku buat semua umat, bukan hanya untuk satu bangsa atau golongan. Semestinya menggunakan cara-cara kreatif yang bisa bermanfaat buat masyarakat luas, bukan malah memberi kesan eksklusifitas.
Rasa-rasanya nggak mungkin Tuhan memerintahkan manusia untuk menjunjung tinggi sebuah ajaran lewat cara-cara yang nggak manusiawi, atau menjunjung setinggi-tingginya sampai melampaui keberadaanNya.
Adakalanya Tuhan menebar rasa takut agar manusia sedikit memiliki rasa hormat, tapi itu tidak berarti Tuhan gila hormat. Tuhan juga nggak butuh manusia, tapi manusia yang butuh Tuhan. Menurutku Tuhan hanya ingin dicintai, sebagaimana cintaNya yang agung pada makhluk ciptaanNya bernama manusia.
Tak ada satu pun manusia yang mau ketika cintanya bertepuk sebelah tangan, begitu pula Tuhan.
Mestinya perbedaan disikapi, bukan dijadikan alasan untuk saling memusuhi. Seperti yang pernah dilakukan Nabi Muhammad ketika menggagas terlahirnya Piagam Medinah. Sebuah peraturan tata tertib yang mengatur keselarasan antar umat agama yang berbeda dalam kehidupan sehari-hari di kota Yastrib.
Namun perbedaan sudut pandang ini sudah berlangsung sejak dahulu. Mungkin memang begitu maunya Tuhan, supaya yang berdampingan dan yang saling memusuhi bisa saling bercermin satu sama lain di sepanjang zaman. Mungkin juga karena Tuhan sudah tahu, bahwa tidak semua manusia bisa tergerak hatinya untuk mencintai perbedaan.
Sepertinya nggak mungkin aku menjelaskannya se-detail itu sama Bagus. Terlalu complicated. Aku nggak ingin perbedaan yang mesra berdampingan selama ini malah jadi terganggu. Aku lebih suka menilai Bagus dari perbuatannya, nggak perduli dengan semua latar belakangnya. Selebihnya biarkan kami saling berbagi inspirasi lewat kehidupan sehari-hari.
Akhirnya aku memilih jawaban yang sederhana.
“Aku juga nggak tahu Gus, mungkin latar belakang mereka yang membentuk pola pikir seperti itu, yang membuat mereka jadi nggak mudah menerima perbedaan. Atau mungkin juga karena awalnya mereka suka main mercon, lama-lama jadi keterusan”
Bagus tertawa.
Sesudah itu dia nggak bertanya lagi.
Semoga Bagus mengerti.
+ + + + +
Setelah lulus SMA, aku dan Bagus kuliah di kampus yang berbeda.
Mulai jarang ketemu, nggak ada lagi ritual pinjam buku.
Sudah lama aku nggak mendengar kabarnya, sampai pada hari itu.
Aku nggak dengar kabar, tapi baca di koran.
Bagus berkelahi. Bertarung melawan sepuluh anggota menwa seorang diri. Alasannya sederhana, Bagus membela pemilik warung kopi langganannya di depan kampus, yang disuruh pindah paksa sama menwa. Bagus nggak terima.
Masih Bagus yang dulu, selalu ada alasan solidaritas, selalu ada tujuan mulia.
Bagus selalu punya nyali.
Tapi Bagus babak belur, kali ini dia tumbang.
Bagus masuk rumah sakit.
Tapi bukan itu yang jadi tajuk berita, melainkan dampak dari pertarungan nggak seimbang itu yang bikin heboh siapa saja yang membaca.
Preman satu kampungnya Bagus datang menyerbu dan mengobrak-abrik kampus, mengirim sepuluh tersangka versi mereka itu ke tempat yang sama buat menemani Bagus.
Akibatnya parah sekali, tiga diantaranya sampai gegar otak, salah satunya koma.
Selama dua minggu kampusnya Bagus dijaga ketat sepasukan tentara.
+ + + + +
“Hallo Gus”
“Hallo Jid”
Dengan wajah yang seluruh permukaannya masih tampak membengkak akibat bekas kena pukulan Bagus membalas senyumku. Bibirnya juga sudah bisa sedikit bergerak untuk bicara meski masih terbatas. Namun kondisi kritisnya sudah lewat.
Aku nggak pernah meragukan keberanian Bagus, dan rasa setia kawannya yang nggak rela jika ada orang yang dia kenal diperlakukan tidak adil.
Tapi menurutku seorang diri melawan sepuluh orang berbadan besar yang pernah mengenyam pendidikkan militer jelas diluar perhitungan. Nggak masuk akal.
Aku kasihan, nggak tega. Aku nggak ingin di kemudian hari terulang peristiwa yang sama.
“Lain kali kira-kira Gus, kalau sepuluh orang jangan langsung dilawan”
Jawab Bagus, “Waktu itu aku lupa berhitung”
Aku lupa, Bagus nggak suka matematika.
+ + + + +
Menurutku Bagus memiliki naluri melindungi yang sangat besar, yang mungkin jauh melebihi ukuran tubuhnya sendiri. Mungkin dalam diriku juga ada, tapi sepertinya nggak sebesar itu.
Mungkin panggilan takdirnya Bagus memang begitu.
Bagus seperti batman yang langsung datang menolong rakyat gotham ketika melihat batsignal menyala.
Mungkin si kecil Bagus yang terlahir untuk melindungiku, bukan sebaliknya. Toh Bagus juga sudah punya malaikat pelindung satu kampung jadi dia nggak butuh aku.
Tapi aku sedih juga melihat Bagus terkapar tiada daya, aku nggak bisa berbuat apa-apa selain berdoa. Aku yakin bukan hanya aku sendiri, suami istri pemilik warung kopi, anak-anak SD di kampung bahari, juga semua orang yang pernah ditolong Bagus pasti semuanya ikut mendoakan kesembuhannya.
Mungkin tidak sepenuhnya cara-cara yang ditempuh Bagus benar. Namun setidaknya, jiwa solidaritasnya mampu mewakili perasaan mereka yang tertindas dan yang diperlakukan tidak adil
Siapapun pasti akan merasa nyaman ketika merasa dirinya terlindungi. Siapapun pasti akan membutuhkan perlindungan orang lain ketika merasa tak mampu melindungi dirinya sendiri. Mereka pasti juga nggak peduli dengan latar belakang pelindungnya, mereka hanya ingin tahu ketulusan yang ada dibaliknya.
Tuhan selalu punya cara sendiri untuk melindungi umatNya. Lewat cara-cara yang nggak akan pernah terjangkau oleh akal manusia.
Cepat sembuh Gus, jangan mati dulu,
di luar sana masih banyak orang jahat.