Thursday, September 30, 2010

GOOD AND BAD


Dimata teman-temannya si smith adalah pecundang. Dalam satu ruang divisi pemasaran yang terdiri dari tujuh orang, smith memiliki kriteria yang komplet untuk mewakili sisi buruk setiap orang. Dia dianggap menjengkelkan, terkenal paling tidak disiplin, dan sulit diajak bekerja sama alias semaunya sendiri. Dia juga dinilai tidak memiliki insiatif dan memiliki pola berpikir yang sangat berbeda dengan rekan satu tim nya. Dalam waktu senggang smith sering menjadi topik pembicaraan, obrolan ringan yang berujung penilaian dan penghakiman. Namun di lain waktu smith adalah bahan bercanda dan ejekan. Sering membuat teman kerjanya tertawa dan terhibur karena kebodohannya.
Dimata divisi lain dan top manager, divisi pemasaran adalah tim yang solid dan hebat. Selalu melampaui target penjualan, tak ada persaingan yang tak dimenangkan. Eksistensi produknya di berbagai segmen pasar diakui oleh para kompetitor. Namun tidak seorangpun dari mereka yang tahu, bahwa prestasi tersebut diraih oleh sebuah tim kerja yang terdiri dari enam orang hebat dan satu pecundang. Seandainya tahu pun mereka belum tentu akan mempercayainya.
Suatu hari perilaku buruk si smith dilaporkan oleh salah satu dari rekan kerjanya pada atasan. Tak lama berselang si smith mendapat surat perintah untuk segera angkat kaki alias di phk. Penggantinya adalah seorang yang memiliki sikap disiplin yang tinggi, berinsiatif kuat dan sangat kooperatif. Namun perkembangan selanjutnya sungguh diluar dugaan. Semakin sering terjadi gesekan dan benturan ego yang berujung kesalahpahaman. Kekompakan yang telah terjalin sekian lama semakin memudar. Hasil kerja tim kian hari kian mengecewakan. Target tak pernah lagi tercapai, apalagi terlampaui. Memaksa para top manager untuk melakukan evaluasi besar-besaran.
+ + + + +
Di luar lapangan maradona dikenal berperilaku buruk. Perlu kesabaran tingkat tinggi untuk bisa menerima keberadaannya di ruang ganti, seperti yang dilakukan si pelatih dan sepuluh temannya di piala dunia 1986 mexico.
Namun di atas lapangan sikap individualistisnya berpengaruh besar dalam menentukan hasil akhir. Kebesaran hati sang pelatih dan sepuluh pemain lainnya ikut berperan menciptakan kebersamaan yang menakjubkan. Mereka menjadi jawara, berkuasa di singgasana selama empat tahun. Sebagian yang fanatik menyebut maradona sebagai titisan dewa, para kritikus berebut memujinya setinggi langit. Tak ada satupun dari mereka yang berbicara tentang sisi buruknya. Untuk tahun-tahun berikutnya maradona tak pernah berhenti menghiasi media, namun tidak bagi teman-temannya yang berlapang dada ikut menyebutnya sebagai legenda.
+ + + + +
Seseorang akan kehilangan cita rasa kopi andai gula dituangkan secara berlebihan. Hujan yang turun terus menerus tiada henti akan mengganggu aktivitas manusia, bahkan besar kemungkinan mengakibatkan terjadinya banyak bencana. Manusia akan kehilangan kehidupan andai matahari tak berhenti bersinar selama dua puluh empat jam penuh. Siang dan malam laksana gambaran tentang kebaikan dan keburukan yang merujuk pada takdir semesta bertajuk keseimbangan.
Mengingkari sisi buruk orang lain sama artinya dengan mengingkari sisi buruk diri sendiri. Menilai dan menghakimi sisi hitam pada orang lain hanya menjebak diri pada konstelasi sisi putih yang hanya bersifat simbolis. Yang pada akhirnya menjauhkan diri dari makna kedalaman dan melahirkan sikap fundamentalis.
Enam orang tim pemasaran tak menyadari bahwa sisi buruk mereka terwakili dalam diri si smith. Mereka lebih tertarik memberi penilaian dan penghakiman dibanding bercermin. Ketika smith angkat kaki, sisi buruk muncul dan menyebar dalam ego masing-masing. Tak ada lagi kekompakan, chemistry menghilang karena kebaikan dan keburukan kehilangan keseimbangan.
Maradona adalah manusia biasa, sisi baiknya yang luar biasa sama besar dengan sisi buruknya. Keseimbangan dalam wujud kebersamaan tercipta karena sang pelatih dan teman se-tim nya bisa menyikapi keduanya, bukan sekedar menilai atau menghakimi sisi buruk sang legenda. Andai mereka tak berbesar hati, andai maradona adalah seorang yang biasa-biasa saja, mungkin argentina tak pernah menjadi juara.



Ada kebaikan karena ada keburukan
Ada keburukan karena ada kebaikan
yang terlena dan alpa
Keduanya senantiasa berdampingan
demi keselarasan
demi cerminan diri
demi keseimbangan
dalam kehidupan yang ber-Tuhan




**********************************************************

Thursday, September 16, 2010

SATU HATI


Ketika waktu menjadi satu-satunya sandaran yang tersisa, tiada lagi dua. Semua satu adanya. Degup jantung berdetak seirama walau jasad terpisah jarak ribuan depa. Terkadang perasaan sedih tanpa alasan hadir begitu saja, menyampaikan kesedihan yang sama di seberang sana. Lautan boleh luas, jagad tetap saja tak bertepi, namun hati tiada lekang menjembatani. Bak benang sutra halus yang tiada putus, memupus jarak berselimut rasa nan tulus. Menyapa mega-mega yang rapat berarak, bersenyawa dengan hembusan angin seiring tarikan nafas. Tak ada yang dibuat-buat, karena sedikit yang terungkap dapat mempersempit jarak. Meski semesta masih pelit berbisik tentang kemana arah tujuan. Pedih perih mengantar jiwa melayang, kaki berpijak tiada henti diterpa cobaan.
Jangan tanyakan seberapa sakitnya, karena bahagia tak lagi menampakkan wujudnya. Rupa keindahan hanyalah tinggal kenangan, terukir rapi di prasasti cinta di tepian telaga. Meski batu-batu itu tak pernah bicara, udara di dalamnya adalah saksi saat-saat bersama. Perjalanan hidup yang penuh likunya, setia merengkuh peluh di batas asa. Jatuh dan jatuh lalu jatuh, katanya. Saat dirinya terkapar dan terhakimi di sudut ruang, sementara tangan mereka menggenggam berlembar-lembar catatan kesalahan. Apakah salah akan tetap dianggap salah, tanya nya. Apakah salah akan menjadi tambahan nama, tangis nya. Nestapa tak lagi mampu bersembuyi dibalik senyum manisnya, isak tangis mengkoyak tabir tawanya, sakit hati meruntuhkan dinding keangkuhannya. Jeritan hatinya membelah langit, membangunkan dewa-dewa dari tidur lelapnya. Para malaikat pun turun merasuki persendian, mengulurkan jemari suci di permukaan sendang. Membasuhi wajahnya yang sarat dengan air mata. Menawarkan cinta dengan kedua sayapnya.

Kini gadis kecil itu tak lagi menggigil, semesta telah menghangatkan tubuh rapuhnya dengan belaian tegur sapa. Seiring bersama menjemput kedewasaan di alam kesendirian, menjangkau birunya langit berteman kesepian di relung hati yang paling dalam. Namun keagungan cinta harus ditebusnya dengan duka lara. Lewat kerinduan yang mengalir lembut di setiap aliran darahnya. Ruang dan waktu semakin menjauh, menanti cinta mencari sendiri jalan keluarnya. Dia hanya berharap pada sang angin untuk menyampaikan kerinduan, dan membalasnya kembali dengan syair-syair cinta nan indah dari tanah seberang. Walau sang waktu tak pernah berpihak, meski ruang tak pernah utuh, dengan nafas cintanya dia tak henti berkayuh. Karena seberapapun yang ada ruang dan waktu tak akan pernah cukup. Dunia terlalu sempit, ladang cinta yang ada terlalu sedikit, tak mampu melingkupi cintanya yang bergelora. Harapannya terungkap pada baris-baris doa, agar semesta sudi memberinya secawan anggur penuh cinta. Agar dirinya bisa mabuk bermesra-mesra di sisa hidupnya. Agar bisa seperti darwis yang membebaskan jiwanya menari-nari di taman hati. Selebihnya adalah rahasia, cinta hati yang tak mampu dijelaskan dengan kata-kata. Kekasihnya adalah cintaNya.



Aku membayangimu namun tak mengganggu,

berpalinglah maka aku tiada
Aku mendorongmu namun tak mencampurimu,
berjalanlah maka cintaku ada
Aku mengangkatmu namun tak merubah takdirmu
karena kamu milikNya

Kamu cintaku sampai mati
karena membawa separuhku
Bawalah untukmu jangan untukku
Terbanglah tinggi sesuka hati
agar kamu dapat menggapai bintang di langit




**********************************************************


Wednesday, September 1, 2010

RASA MERASA


Di sudut pasar yang riuh lalu lalang manusia, seorang nenek penjual buah sedang duduk sembari memangku cucu laki-lakinya. Si kecil budi menikmati hangat dekapan sang nenek, wujud bahasa rasa yang selalu dia rindukan di setiap detik untuk bermanja-manja. Bahasa cinta milik jiwa yang dia belum kenali kata-katanya. Yang suatu saat nanti akan dia telusuri demi mengenali kehidupan dan semua misterinya.

Tiba-tiba si budi menepis tangan sang nenek, beranjak dari pelukan menuju etalase sederhana di hadapannya. Tangannya sibuk menyentuh masing-masing buah sambil menanyakan nama-nama, meski diantara jemarinya masih terselip gula-gula. Dengan penuh kesabaran berhias senyuman sang nenek menyambut pertanyaan cucunya. Tak lama berselang pembeli datang satu demi satu. Keranjang demi keranjang terjual mengiringi sentuhan si budi di setiap buah dengan pertanyaan yang diulang-ulang. Sang nenek tak lagi sempat duduk, tak ada transaksi yang terlewati hingga sore hari.

Menjelang pulang sang nenek mendekap si cucu dengan pelukan erat tak berkesudahan, hikmah yang terjalin terlukis di sepasang binar mata. Mensyukuri nikmat Tuhan lewat keberadaan cucunya. Jiwanya melayang menjangkau langit, setelah sentuhan keajaiban tergambar jelas di depan mata. Namun si kecil budi tak mengerti, dia tak merasakan apa-apa kecuali hangatnya pelukan cinta. Dia kembali mengoceh meminta gula-gula.

+ + + + +

Suaranya serak dan cenderung sengau, tapi tehnik vokalnya bagus. Lagu-lagu yang dinyanyikan terdengar indah dan menyentuh. Sebagian pengamat musik berkata bahwa vokalnya berkarakter, unik, khas dan menjual. Tapi dia tak perduli, bahkan tak mengerti dengan beragam komentar atau pujian yang dialamatkan kepadanya. Dia hanya mengikuti kesukaannya menyanyi yang digelutinya sejak kecil. Sementara tehnik bernyanyi dia dapatkan dari beberapa guru vokal tempat dia belajar, lewat proses perjalanan yang cukup panjang. Selebihnya dia merasa bahwa jenis suaranya biasa-biasa saja, bahkan menurutnya banyak penyanyi lain yang memiliki suara yang lebih bagus dari dirinya.

Dia juga tak mengerti bagaimana dirinya bisa memiliki banyak penggemar, dan heran melihat mereka menjerit histeris ketika mendengar dirinya bernyanyi. Seandainya rongga hidungnya bergeser sedikit lagi mungkin suaranya akan sengau berlebihan. Dia tak hanya akan tak bisa bernyanyi tapi juga cacat dalam bersuara. Menurutnya dia hanyalah orang yang beruntung.

Mungkin dia akan lebih heran lagi jika mengetahui banyak penyanyi-penyanyi lain yang iri dengan jenis suaranya. Terutama para pemula yang merasa dirinya memiliki suara bagus namun divonis vokalnya tidak berkarakter dan tidak komersil. Mereka yang harus mengemis-ngemis di depan pintu dapur rekaman, yang sejauh ini hanya beraksi diatas panggung kelas dua.

+ + + + +

Si konsultan tehnik bangunan juga tidak mengerti mengapa orang-orang berduit lebih mempercayakan rancang bangun kepadanya. Ketika dia menanyakan sebabnya mereka memiliki jawaban yang berbeda-beda. Tak ada jawaban yang pasti, semua lebih mengarah pada kecocokan hati. Yang dia sadari dengan pasti, design nya biasa-biasa saja, banyak arsitek lain yang lebih hebat dari dirinya.

Sama hal nya dengan si pengepul barang rongsokan, dia juga tidak mengerti mengapa para pemulung lebih suka mengantri di depan gudangnya yang sempit dan sederhana. Atau si pemilik warung kopi yang setiap malam selalu dijejali pengunjung yang berebut tempat di bangkunya yang terbatas. Meski di sisi kanan dan kirinya berderet-deret warung kopi yang serupa.

Sang Maha Berkehendak memiliki sekian keajaiban yang sudah dipopulerkan oleh para mesias, agar manusia tahu bahwa Yang Maha Pemurah tak segan-segan meminjamkannya pada manusia di kedalaman alam rasa. Sentuhan rasa yang mengalir bersama aliran darah, yang memancarkan pijar pesona melalui panca indra. Sementara dunia tarik suara, dunia rancang bangun, dunia dagang adalah perantaranya. Namun ketika sentuhan rasa itu berubah menjadi merasa tahu atau merasa bisa oleh pemiliknya, keajaiban akan menghilang menyisakan aksi tanpa pesona. Para pembeli, klien atau penggemar akan pergi mencari perantara keajaiban yang lain.

Seorang juru masak yang terkenal seantero jagad, sejatinya tak pernah bisa merasakan masakannya sendiri. Dia ada untuk yang lain, agar mereka bisa menikmati sentuhan keajaiban Yang Maha Agung lewat tarian jemari di atas dawai harpa. Kecerdasan dan sekian bakat yang berarti hanya untuk diri sendiri adalah sia-sia. Keajaiban ada di dalam diri manusia, terpatri pada mereka yang rendah hati. Sementara yang lain adalah penikmatnya, agar berkenan menelusuri asal cahaya untuk mengenaliNya.

Para penyanyi pemula tidak akan pernah bernyanyi di panggung utama selama dia merasa suaranya bagus. Seorang pedagang tidak akan pernah bertemu dengan banyak pembeli selama dia merasa hebat dalam berdagang. Perasaan adalah ruang bagi Yang Maha Daya untuk meminjamkan pengetahuan dan kemampuanNya, sedangkan merasa tahu atau merasa mampu adalah hawa nafsu yang diterbitkan oleh sang makhluk. Mengenali kemampuan diri dengan merasa mampu adalah berbeda. Yakin karena Tuhan dengan yakin karena bisa adalah tidak sama, yang membedakan adalah keajaiban yang menyertainya.




Ketika terbit merasa tahu,

saat itulah pengetahuan menghilang

Ketika muncul merasa mampu,

saat itulah kemampuan melayang


Ojo rumongso biso,

nanging biso rumongso




**********************************************************