Wednesday, June 29, 2011

THE DEVIL'S ADVICE

Hujan yang turun sangat deras terlihat seperti tirai raksasa yang menghalangi pandangan mata. Tak ada pilihan lain selain berlari dan berlari menembusnya. Sekian jarak yang terlewati mengiringi degup jantung yang berpacu menembus waktu. Lelah dan getir sementara tak bersuara karena tenggelam oleh gemuruh hujan.
Setelah berlari cukup jauh akhirnya kutemukan tempat untuk berteduh. Sebuah gubug beratap rumbai-rumbai yang nampaknya bekas warung yang sudah tak terpakai. Namun tubuhku sudah terlanjur basah kuyup. Atap rumbai itu pun tak semuanya utuh. Ada beberapa bagian yang masih membiarkan hujan jatuh menembus hingga permukaan tanah. Namun masih tersisa cukup ruang untuk menghindari kebocoran, dan sebuah bangku panjang yang bisa aku duduki sejenak untuk menghela napas. Memberikan aku kesempatan untuk menghangatkan diri sambil menunggu hujan berhenti. Namun waktu yang terbuang tak bisa aku hindari. Kepada setiap dinding anyaman bambu aku berkata lantang menyesali. Yang jelas tak kupahami, langit sedang menangisi atau menertawai.
Kusulut api di ujung batang rokokku, meluncur lah kepulan asap dari mulutku. Merokok di tengah suasana hujan selalu memberi nuansa yang berbeda. Meski jemariku masih gemetar karena kedinginan, nikmat tembakau berteman nikotin pada saat itu terasa berbeda dari biasanya.
Ketika aku sedang mencoba memahami makna kejadian, tiba-tiba kusadari seseorang telah duduk tepat di sampingku. Dia juga sedang merokok, dari bau asap rokoknya kutahu dia menghisap rokok yang sama. Aku baru akan melirik wajahnya, namun dia buru-buru mencegahku lebih dulu dengan sederet kata-kata.
“Aku iblis, jika belum siap benar jangan paksa dirimu untuk melihat wajahku. Bisa-bisa dirimu kecewa dengan semua realita”
Kata-katanya meluncur datar tanpa terhalang. Sederhana namun sangat bertenaga, hingga ketebalan udara pun tak sanggup membendungnya. Jernih dan kedap suara, tiada terusik oleh riuhnya tangisan langit. Sosoknya begitu kuat dengan aura nan pekat, sampai diriku tak mampu sedikitpun bergerak. Tiba-tiba saja lidahku begitu kelu, tak ada pilihan lain untukku selain membisu. Tak ada kesempatan untuk melarikan diri, sebegitu mudahnya aku terkuasai. Selanjutnya aku hanya menjadi pendengar sejati, komunikasi satu arah pun terjadi. Suara sang iblis seperti penyanyi solo yang mendominasi, sementara gemuruh hujan selaksa musik orkestra yang mengiringi.
“Lihatlah dirimu, yang sibuk membunuh waktu demi orang yang kau cintai. Hari demi hari yang berlaku, selalu kau jalani bersama mereka dengan mesra di atas permadani. Mengurai satu demi satu aral melintang yang menghalangi. Namun ketika waktumu berpaling, dirimu sibuk mencari-cari detik-detik yang menghilang diantara tumpukan jerami. Amarahmu pun seketika menari-nari. Kepentinganmu tenggelam oleh wajah-wajah yang memelas memohon perduli. Adakah kepedulian mereka kepadamu ? Andai beban telah usai kau alihkan, bukankah sesudahnya mereka melupakanmu ? Paling-paling mereka hanya akan menangis di atas pusaramu. Itupun tidak menangisimu, melainkan diri mereka sendiri. Begitukah kehendak Tuhan mu kepadamu ? Sungguhkah dirimu ingin meniadakan waktu ? Mengapa tak kau tanyakan saja pada yoshua caranya menghentikan hari ? Kemana sebenarnya dirimu akan menyertakan aku ?
Lihatlah dirimu, yang selalu berpikir memberi namun begitu angkuh untuk diberi. Memberi kesan menolak setiap kunjungan karena pesan yang tersampaikan dirimu terlihat selalu berpergian. Pintu mu selalu nampak tertutup, namun dirimu malu-malu mengintip lewat sudut jendela menanti-nanti yang datang.
Dirimu yang selalu sibuk menggerakkan kedua tanganmu, bak mengingkari berjuta tangan semesta yang mampu menciptakan keadaan sesuai keinginanmu. Namun ketika sawah ladangmu akhinya mengering, ketika cawan anggurmu tak lagi terisi dirimu justru sibuk meratapi. Ketika alam tengah tak bersahabat dirimu malah lebih suka mengingkari keinginanmu. Semestinya dirimu tahu dimana keberadaanku ketika membutuhkan aku. Mengapa tak kau sesali pilihanmu ?
Lihatlah dirimu, yang lebih suka berbicara namun terlalu sombong untuk mendengar. Bahkan kepada unggas di taman-taman yang tak terpikirkan olehmu bahwa mereka mulai bosan. Kata-katamu meluncur begitu saja tiada kendali, tak terkecuali pada mereka yang sedang ingin sendiri. Semestinya dirimu mengerti bahwa burung bernyanyi sebagai pertanda pagi. Namun mengapa ketika langit membisu dirimu justru bersembunyi ? Telah habis kah khasanah kata-kata ? Bukankah dirimu tak lagi membutuhkan bisikan semesta ? Mengapa tak kau tanyakan kepadaku cara mengembalikannya seperti semula ?
Lihatlah dirimu yang sangat perduli dengan sebab akibat, sampai-sampai di sela-sela bumi kau penuhi dengan letupan hasrat. Bukankah dirimu telah mengerti bahwa kehidupan bukanlah serangkaian kebetulan ? Lalu mengapa tak kau biarkan saja semua terjadi sebagai bukti cerminan diri ? Sungguh aku tak mengerti mengapa dirimu sering memaksaku untuk mengubah pengulangan kejadian. Jika pada akhirnya toh mereka hanya akan menilainya sebagai kebetulan bukan keberuntungan. Siapa sebenarnya dirimu ?
Lihatlah dirimu yang selalu bersembunyi dari rasa takut. Agar orang-orang yang terpedaya oleh mu tak menggelarimu pengecut. Sebegitu luaskah rimba raya hingga ujung rambutmu tak dapat terlihat ? Bukankah perdu di belantara sangat suka berbagi rahasia ? Andaikan dirimu terpojok dan tertangkap basah, andai burung bangau menyadari bahwa paruhnya tak sempurna, siapa yang akan engkau persalahkan ? Sejauh kaki melangkah, sejauh kebersamaan yang terselami, keinginanmu hanyalah pembenaran diri. Mengapa dirimu harus malu kepadaku ?
Lihatlah dirimu yang mengingkari luka karena segala buruk prasangka, yang selalu berpura-pura seolah baik-baik saja. Kepada barisan ilalang dirimu menyanyikan tembang merdeka, namun sambil berbisik dirimu mengucap kata terpaksa. Katakan kepada mereka seperti yang engkau katakan padaku, bahwa dirimu masih haus pengakuan. Di setiap bunga yang sedang mekar dirimu selalu menantikan langgam pujian. Katakan pada mereka bahwa keindahan pohon kesturi hanya terlihat dari kejauhan, melihat luas danau nan cantik dari dekat adalah kesalahan. Katakan bahwa mereka keliru, bahwa wajah langit tak semuanya berwarna biru. Semestinya dirimu tahu keberadaanku ketika mereka memujamu atau menolakmu. Lalu mengapa engkau kembalikan diriku kepada mu ? Siapa sebenarnya dirimu ?"

Kalimat terakhir sang iblis tiba-tiba membangkitkan kesadaranku, seolah temali yang mengikat tubuhku begitu kuat ada sebagian yang mengendur. Meski masih tak mampu bergerak namun aliran darahku telah mengalir lebih teratur. Siapa diriku ? Siapa diriku sebenarnya ? Belum usai aku menulusuri kehampaan diri angin bertiup kencang menerpa wajahku yang sedari tadi membeku. Sukmaku terguncang hebat hingga ragaku tiada sanggup menanggungnya. Pohon bodhi yang kekar seakan terhuyung dan ingin merebahkan diri memeluk tanah. Namun semua keguncangan itu seketika terhenti ketika sang iblis melanjutkan berkata-kata. Namun kini pikiranku lebih terbuka, mataku telah melihat hujan tak lagi sederas sebelumnya. Suara rintik-rintik mengalun jernih menemani perih. Sayup-sayup terdengar di alam bebas menikam pedih. Pertanyaan “siapa diriku” tak mampu ku ungkap. Karena aku sedang menangisi diriku.

+ + + + +

“Mengapa sedemikian tega dirimu menyiksa tubuhmu sendiri demi orang lain ? Padahal dirimu mengerti bahwa mencintai seringkali berbalik dinafsui. Mengapa harus kau ingkari lelah batinmu ? Haruskah aku mendorongmu ke dalam jurang nan gelap agar dirimu menjadi seorang pemberani, agar berhenti mendua, agar tak lagi menjadi seorang peragu ? Aku menyukaimu karena memahami posisi tawarmu untuk tidak menyerah begitu saja menjadi budakku. Namun pilihanmu untuk terus berpura-pura dan bersembunyi di setiap sakit hati sungguh memuakkan aku. Mengingkari keberadaanku sama saja artinya dengan membiarkan aku menyalakan api hasrat pada hal-hal yang tak perlu. Sanggupkah dirimu menolakku ?
Aku tercipta untukmu, aku tak memiliki pilihan sepertimu. Semua yang kulakukan hanyalah untukmu bukan untukku. Agar dirimu dapat menikmati indahnya dunia dengan caraku bukan caramu. Selama dirimu sibuk bermain-main di taman imajinasi aku akan terus menari-nari di ranah fantasi. Bukankah sesungguhnya dirimu menikmati ? Jangan memaksa aku untuk mencintai Tuhan mu.
Jangan kau suruh aku untuk ikut menyalakan lilin di bawah terik matahari. Karena pengetahuanmu bukanlah pengetahuanmu. Untuk apa kau ungkap semua rahasia pada mereka yang tak sungguh-sungguh ingin tahu. Sebenarnya dirimu mengetahui keberadaanku ketika sedang berkata-kata. Aku akan tetap setia meracuni setiap logika dengan makna yang berbeda. Agar mereka tetap buta sampai batas akhir jika memang itu pilihannya. Akhirnya pada ujung cerita mereka juga akan tahu tanpa perlu mereka-reka, bahwa khusnul khotimah bukan diberikan begitu saja, bahwa penebusan dosa pun bukan diberikan secara cuma-cuma.
Kepada mereka yang meninggalkan taman hati, yang memanfaatkan maksud baik mu demi keuntungan pribadi, yang hidupnya hanya untuk diri mereka sendiri, yang tak terhindarkan dari pengulangan kejadian yang telah dirimu peringatkan, akan kubiarkan mereka semua membusuk sebelum mati.
Jika dirimu telah mampu merajut ketenangan sejati, adalah saatnya aku meninggalkanmu. Karena dirimu tak lagi membutuhkan aku. Telah siapkah dirimu ?”

+ + + + +

Panggilan dari seseorang berusia lanjut di depan gubug, yang menanyakan kemana jalan ini menuju membuyarkan lamunanku. Seketika aku bangkit dari bangku panjang menghampirinya. Benakku berputar-putar mencoba mengembalikan kesadaran yang sempat menghilang. Meski belum utuh sepenuhnya diriku mampu memberinya jawaban di luar kepala, karena jalan ini sudah pernah kulalui sebelumnya. Jalan yang selalu kucoba jalani dengan cara yang berbeda.
Cara menjelaskanku pun tak seperti biasanya, terasa seperlunya saja. Meski kedua tanganku ikut bergerak-gerak memberi petunjuk, yang tergambar hanya sebatas permukaan lukisan. Tak kuasa menyentuh kedalaman lelikuan dan persimpangan. Ada yang memang harus dibiarkan terjadi seiring rahasia. Demi menjaga keutuhan dan keindahan cerita. Karena jalan hidup orang itu adalah ceritaNya.
Lilin menyala pada saat yang tepat untuk mengusir gelap. Yang aku tahu pada saat itu tak ada lagi air yang menetesi bumi, hujan sudah sepenuhnya berhenti.
Tubuhku kini terasa hangat. Aku tak lagi merasakan kedinginan, jemariku pun tak lagi gemetaran. Mungkin karena api yang menyelimuti tubuh sang iblis sedari tadi sibuk menjilati tubuhku. Hingga bajuku yang tadinya basah kuyup mengering seketika. Luapan hasrat mampu mencairkan semua kebekuan. Keteguhan hati mulai berani menari-nari diatas tungku perapian. Tak ada lagi mendua, keraguan pun kian sirna, karena dosa dan pahala menyatu bersama nyala apinya.
Begitu mahirnya sang iblis menggoyahkan keyakinanku, sampai egoku tak kutemukan di setiap kantung baju. Di dalam tas kerja yang telah lama tak kugunakan justru kutemukan secarik kertas berisi baris-baris doa. Yang memuat ayat-ayat tentang penyerahan diri dan permohonan ampun kepadaNya. Surga telah hadir dimana-mana, bara api terhampar di pelataran muka jalanan. Siap menyambut setiap ayunan langkah dan menyengat telapak kaki seperti membakar diri menuju matahari. Jasadku semakin erat mendekapi bumi, sukmaku kian mesra mencumbui langit. Jalan pintas ke surga adalah melalui neraka.
Begitu banyak jalan pilihan, betapa rela iblis untuk dipersalahkan, bahkan aku nyaris membuatnya patah hati. Riak pun kian menghilang dari permukaan danau biru.
Yang mana malaikat dan yang iblis, semakin aku tahu semakin pula aku tidak tahu. Tiba-tiba saja aku kini sibuk dengan rencana-rencana baru. Aku tak lagi menanti-nanti kapan senja itu tiba. Aku tak ingin lagi merasa takut terganggu, tak ingin lagi memaksakan diri terbebas dari sesuatu yang diciptakan untuk membantu menemukan kebebasanku. Kesalahan adalah bagian bukan beban. Rasa takut adalah pembatas bukan penghalang. Meniadakan resiko berarti mengamini ketidakmungkinan. Burung elang tak pernah jatuh walau tak sedang mengepakkan sayapnya. Semua karena langit yang menanggungnya.
Ketika sahabatku menanyakan kemana perginya wajah syahdu yang selalu menghiasi birunya langit, jawabku, “Aku menanggalkannya di sebuah gubug beratap rumbai di tepi jalan. Saat langit menangisi sekaligus menertawai diriku”



Lebih baik bercanda bersama Tuhan
dari pada dicandaiNya
Karena Tuhan Maha Bercanda



**********************************************************

Monday, June 13, 2011

NOBODY LOVES ME LIKE YOU DO


Keberuntungan terbesar dalam hidup
adalah dicintai sepenuh hati
Namun adakah sesudahnya yang bersedia
menyerahkan jiwa nya untuk Cinta
setelah Cinta memberikan segalanya ?

Basque-Spanyol, 1932
Perang itu menunjukkan tanda-tanda usai. Debu-debu yang semula berterbangan perlahan-lahan turun kembali menyapa bumi. Dengan pedang dan tombak masih di tangan paulo merida menyaksikan lawan-lawannya yang bertumbangan. Tubuhnya berpeluh keringat dan bersimbah darah, terlihat lelah namun senyumnya memberi arti tanda kepuasan. Untuk kesekian kali dia meraih kemenangan.
Namun kepuasannya tak bertahan lama. Seringai senyumnya seketika menghilang setelah menatap tingginya langit. Paulo merida kembali merasakan kesendirian setelah tak melihat keberadaan sang bulan.
Jeritan burung elmaut yang bersiap menyambut pesta tak lagi terdengar. Riuh kemenangan yang sempat bergema sebelumnya sekejap sirna berganti kesepian.

+ + + + +


Dimata rakyat basque paulo merida adalah lambang kekuatan. Dibawah kepemimpinannya rakyat baque selalu memenangkan pertempuran meski pasukan raja unggul dalam jumlah pasukan dan persenjataan. Dia tidak mengenal ketidakmungkinan, batas logika tak ada dalam pikirannya, keyakinannya meracuni aliran darah segenap rakyat basque yang dicap oleh raja spanyol sebagai pemberontak. Rakyat merasa aman dan terlindungi, kepada paulo merida jiwa-jiwa rakyat basque diserahkan.

Perasaan tertindas adalah kehidupan rakyat sehari-hari karena tekanan monarki mengalir deras tiada henti. Namun dalam menjalani hidup yang sarat akan tekanan, paulo merida selalu berada di depan. Dia bersedia terluka terlebih dahulu, selalu berusaha memahami hakekat perlawanan ketika diserang. Ketika dia sedang bicara semua akan mendengar. Keberadaannya ibarat pohon besar yang rindang, kata-katanya yang tegas dan bijaksana selaksa angin yang berhembus sejuk menerpa wajah. Rakyat basque dengan penuh cinta mengikuti arah hidupnya. Dia adalah pemimpin sejati bagi kaumnya.
Ada suasana yang berbeda seusai perang. Di madrid raja marah besar, sementara sepanjang jalan mestalla hingga catalonia paulo merida disambut arak-arakan. Namun tak ada pesta kemenangan, karena dia tahu esok hari dirinya harus kembali berperang. Pasukan raja pasti akan datang kembali dengan kekuatan yang jauh lebih mengerikan. Kegelisahan pun mengintip diam-diam di sela-sela keyakinan, menawarkan rasa takut nan mencekam berselimut beban.
Ketika malam hadir menjemput keresahan pun datang bergayut. Wajah langit masih sama dengan sebelumnya, tak ada bulan di atas sana. Paulo merida tampak menundukkan kepala berteman kecewa. Jeritan hatinya kian terselami karena sang bulan masih setia bersembunyi. Disaat kesepian membelenggu sukmanya meraja-raja, bulan di langit masih enggan menghibur dirinya dengan nyanyian rindu. Kehangatan cinta di masa lalu pun tak pernah berhenti menjadi hantu. Sementara dalam realita hidupnya yang sekarang, dia tak pernah menemukan cinta diantara sanjung puja.
Diseretnya sepasang kaki menuju jalan-jalan sepanjang kota. Angin malam merasuki jiwanya yang hampa dan haus bermanja-manja. Langkahnya terhenti di sebuah keramaian. Sekerumunan orang tengah asyik mendengarkan celoteh seorang penyair, berjejer rapi mengelilingi api unggun yang nyalanya cukup besar. Paolo merida pun hanyut dalam buaian kata-katanya.
“Dimanakah dirimu ketika aku tengah bermuram durja. Dimanakah aku ketika dirimu membutuhkan aku. Tak akan pernah cukup terwakili walau angin selalu menyampaikan salam ditengah jarak terbentang. Akan selalu ada siksa dibalik bahagia ketika ikatan rasa masih terjaga. Mengapa kehidupan tak sedikitpun berbelas kasih, memberi sedetik waktu untuk sekedar beradu pandang walau kata rindu tak sempat terucapkan. Mengapa semesta begitu kejam menawarkan pilihan yang bukan pilihan, hingga satu lagupun tak sempat aku nyanyikan. Haruskah aku mengingkari cinta yang hadir sesaat namun bergelora. Cinta yang mampu menginspirasiku sepanjang masa. Cinta yang apinya tak mampu aku padamkan, sampai-sampai aku harus berbagi kepedihan pada setiap ilalang. Bagaimana aku akan melupakanmu jika bunga cintamu selalu kusirami. Bagaimana mungkin aku akan meninggalkanmu jika desah nafasmu masih jelas kudengar. Adakah kesungguhanmu untuk melupakan aku jika setiap aku berlalu selalu kau panggil namaku. Begitu lekat dalam ingatan saat baju kita bermesra-mesra di atas lantai sementara kita menyaksikannya dengan mata terpejam. Tak akan terlupakan saat kita menyatu dan melayang dibuai awan sementara resah merajam. Burung dara yang melihatnya sampai malu-malu, bahkan langit biru pun ikut cemburu. Bukankah kita saling mencintai kekurangan dan tak mengingkari keterbatasan. Dosakah aku jika masih memiliki harapan. Bukankah cinta tiada mengenal timbangan. Yang lalu bagaikan kemarin, hari-hari berganti terus menikam diri. Kesenangan yang kuraih tanpa dirimu menjadi tak berarti. Ketika kesedihan datang kesepian pun kian menjadi-jadi. Caramu menyebut namaku tak tertandingi, caramu memandangku tak terpecahkan, caramu menggemasiku tak tergantikan. Tak ada yang mampu menyiksaku sedemikian hebatnya. Biduk cinta telah terlanjur aku sandarkan. Tak ada yang mencintaiku sehebat dirimu”
Sesudahnya semua orang bertepuk tangan. Paulo merida tertunduk dalam diam mencari jawaban, “Kemanakah perginya ruang dan waktu yang berlalu ?”

+ + + + +


Hawa tercipta untuk menemani sang adam, zipora hadir untuk membunuh kesedihan musa karena merasa terbuang. Keberadaan khadijah bagi muhammad di masa awal kenabian yang sangat berat sungguh tak terbandingkan.

Namun paulo merida merasa ditakdirkan kesepian ditengah riuhnya kehidupan. Apakah sejatinya ketiga pendahulunya juga merasakan hal yang sama ? Dia merasa terjebak di kehidupannya di masa kini hingga harus terpisah dengan perjalanan cintanya yang tertinggal di masa lalu. Paulo merida tak bisa mengelak ketika rakyat basque menyerahkan rasa takut dan gelisah kepada dirinya. Ketidakpastian kelangsungan hidup rakyat basque seakan sirna ketika mereka menjadikan paulo merida sebagai cahaya. Sebuah tanggung jawab yang luar biasa hingga memaksa ketakutannya sendiri menghilang ditelan bumi. Namun ketika kegelisahan berselimut beban datang menggoda, kesepian pun menari-nari di alam pikirannya.
Saat itulah cinta dari masa lalunya hadir menghiasi setiap mimpi. Menawarkan harapan lewat kerinduan yang sedemikian menyiksa. Paulo merida seperti dipaksa untuk kembali sekaligus melepaskannya. Untuk menghirup wangi bunga yang sedang mekar namun juga menampiknya. Cinta bak membelenggu dirinya dengan cara yang sempurna, memberinya kekuatan sekaligus membuatnya terperdaya. Saat rakyat basque melihat cahaya, kegelapan yang sesungguhnya bersemayam dalam diri paulo merida. Misteri kehidupan selamanya tetap terjaga dalam dirinya.

+ + + + +


Keesokan harinya paulo merida telah kembali duduk diatas kuda dengan jubah perangnya. Tombak di tangan kiri dan pedang di tangan kanan. Menurutnya yang bakal tersaji di depan mata bukanlah peperangan melainkan pembantaian. Karena lawan hadir dengan kekuatan tiga kali lebih besar. Perang tak seimbang itu pun terjadi. Namun berlangsung sengit dan memakan waktu lama hingga senja, karena rakyat basque tak mau menyerah begitu saja. Paulo merida tampak kian terdesak hingga meninggalkan kudanya. Dengan sedikit terhuyung dia mengambil beberapa langkah mundur untuk sebentar menghela nafas demi mengumpulkan tenaga. Sejenak ditatapnya tingginya langit yang mulai memerah, paulo merida terkesiap. Walau masih malu-malu namun sang bulan mulai menampakkan kehadirannya. Paulo merida kegirangan tersungging senyuman. Dia tak lagi merasa sendiri karena Cinta telah hadir menyapa jiwanya. Paulo merida tahu bahwa yang ada dihadapannya adalah cermin dirinya sendiri. Dia tak ingin angkara murka menghabisinya, dia tak ingin keserakahan membuatnya binasa. Dia tak ingin sisi-sisi buruk dalam dirinya menjadi alasan kematiannya.

Dipandanginya wajah sang bulan dengan mesra. Kata-kata bijak tiba-tiba terngiang-ngiang menyapa kedua telinga, bahwa jiwa-jiwa yang terpisahkan oleh dunia, semua akan dipersatukan di akhirat oleh cintaNya. Akhirnya paulo merida menemukan cara. Jalan terbaik terbebas dari belenggu cinta adalah dengan menyerahkan jiwanya pada cinta itu sendiri. Paulo merida akhirnya menyadari bahwa ketakutan dan kegelisahan yang hadir sesekali bermuara dari kebanggaannya pada diri sendiri. Adapun cinta tiada pernah salah, cinta pun tiada pernah pergi. Keberadaan dirinya adalah karena cinta rakyatnya. Cinta di masa lalu pun tak pernah berhenti menafasi jiwanya. Cinta telah memberikan segalanya.
Paulo merida kembali ke peperangan, melangkah dengan tenang menyambut takdirnya. Angin dingin berdesir menerpa wajahnya yang lusuh dan berdebu. Bibirnya bergetar mengucap sebaris mantra, “Wahai Cinta, bunuhlah aku. Siramilah roh ku dengan wewangian bunga firdaus”
Hari itu senja berlangsung lebih lama. Paulo merida memeluk erat sang bulan dan tak ingin melepasnya.



**********************************************************