
Aku pernah punya perahu layar yang menurutku lumayan besar. Cukup lebar untuk bisa menampung banyak orang. Bentuknya sederhana, biasa, tapi enerjik. Pastinya nggak semewah titanic.
Layarnya kuberi nama kecerdasan. Ya, kecerdasan.
Sengaja. Tapi nggak mengada-ada. Sejak kecil aku memang nggak pernah mengenal rangking dua.
Aku merasa terlahir sebagai juara. Jujur aku bangga.
Waktu itu aku masih belum tahu kalau bangga dan bersyukur itu nggak sama. Yang aku tahu cuma dua pilihan-pilihan. Pahala dan dosa. Surga dan neraka.
Katanya Tuhan ada di surga.
Katanya aku harus memilihNya.
+ + + + +
Semua bermula ketika aku terinspirasi kata-kata bruce lee, “Aku tak pernah menyebut diriku nomor satu, tapi aku juga tak mau disebut nomor dua”
Teman-temanku malah tertawa, kata mereka, “Satu setengah”
Nggak lucu. Terserah. Go to hell.
Layarku tetap kukibarkan tinggi-tinggi. Supaya bisa dilihat siapa saja ketika aku sedang mengarungi samudera.
Kalau melihat layarku ombak pasti takut. Apalagi bajak laut.
Tapi diam-diam ada yang menyebutku sombong. Sombong ?
Yang ngomong pasti yang iri. Aku nggak perduli.
Masuk telinga kanan keluar telinga kiri.
Waktu itu aku juga belum tahu kalau sombong dan yakin hanya terpisah sehelai rambut. So ? Tunggu apa lagi. Pencet tombol start. Tancap gas. Langsung gigi dua.
Begitulah sekelumit awal perjalananku menelusuri takdir. Berteman matahari ketika melewati siang, berteman bintang-bintang ketika mencumbui gelapnya malam.
Perahu layarku mantap melaju menuju laut biru.
Sesuatu yang hebat telah menunggu.
Pertama kalinya aku akan bersua dengan kata, “ternyata”
dan berderet-deret kata “ternyata” berikutnya.
+ + + + +
Awalnya semua baik-baik saja, sesuai dengan rencana. Semua kalkulasi berjalan presisi. Nggak ada yang meleset meski sepersekian mili. Lautnya tenang-tenang saja, ombak sepertinya memang takut, bajak laut juga nggak ada yang berani mendekat.
Sepertinya aku orang hebat yang bisa mengalahkan semua yang jahat. Sepertinya aku orang baik yang siap membasmi yang nggak baik-baik. Sepertinya.
Sampai pada suatu hari.
Sampai pada malam yang menakjubkan itu.
Ombak datang menatapku tajam. Lekat. Berkilat-kilat. Lebih tinggi, lebih hebat. Bergulung-gulung sangat dahsyat. Sementara angin badai bertiup menyeramkan, seperti pemangsa yang sudah lama nggak pernah makan. Petir ikut menyambar bersahut-sahutan. Menggelegar.
Tapi aku nggak takut. Belum.
Perahuku mulai terombang-ambing, terlempar kesana kemari tiada henti. Ketenangan mulai musnah, sementara aku malah sibuk marah-marah. Kecerdasanku masih sempat memaki-maki situasi.
Tapi ketika layarku mulai tercabik-cabik, ketika tiang penyangganya yang angkuh tumbang ke laut, aku nggak bisa berpikir lagi. Mati.
Semua penumpangnya melarikan diri. Cari selamat sendiri-sendiri. Mereka yang semula berikrar setia seakan nggak perduli lagi. Padahal aku menganggap mereka semua teman, bukan penumpang.
Aku berkata, “Ya sudah, terserah”
Tapi hatiku berisi sumpah serapah.
Tinggal aku dan perahuku. Badai masih belum berhenti. Debur ombaknya terus menerjang terjang, menghajar tubuhku kian membasah. Habis sudah.
Wajahku mulai acak adut. Aku mulai kalut. Takut.
Untuk pertama kalinya aku menyebut nama Tuhan di dalam gelap. MemanggilNya meratap-ratap.
Tapi Tuhan diam, nggak ada jawaban.
Mungkin Tuhan nggak lihat. Mungkin Tuhan nggak dengar.
Ombak yang dengar. Ombak datang lagi. Tapi bukan menawarkan bantuan atau ampunan. Wajahnya malah tampak memerah penuh kemarahan. Dia datang lagi dengan satu gulungan yang mematikan.
Satu hempasan membuat perahuku berubah posisi. Bagian depannya tiba-tiba meninggi, seperti mendaki papan skate board. Kian terjal hingga vertikal. Lalu terpelanting dan terbalik.
Sesudahnya tenggelam. Perlahan. Aku juga.
Aku mengikuti perahuku ke dasar laut, karena masih dikuasai rasa tak percaya. Kata “mengapa” terucap berkali-kali, kutanyakan pada semua ikan yang kutemui. Tapi semua diam, semua membisu, semuanya cuek bebek. Padahal mereka bukan bebek.
Lama-lama aku mulai bosan bertanya, akhirnya aku ikut terdiam tanpa suara. Kata “ternyata” meluncur perlahan menembus keheningan.
Penyesalanku berlagu.
Ternyata aku juga bisa tenggelam.
Ternyata kecerdasan bukan jaminan.
Hidup menuntut lebih dari itu.
+ + + + +
Aku nggak mau berlama-lama di dasar laut. Bisa karatan termakan korosi seperti perahuku. Naluri memanggilku untuk terus hidup. Aku masih ingin berlayar, tapi nggak mau lagi sampai tenggelam.
Aku harus kembali ke permukaan. Terus menerus bersembunyi ternyata lebih melelahkan.
Aku siap pasang muka tembok kalau nanti langit menertawakan kegagalanku.
Biar saja. Masa bodoh.
+ + + + +
Badainya sudah reda. Tapi nggak ada siapa-siapa di permukaan laut. Hanya aku sendiri berteman udara dan sesekali kabut. Air laut minumanku, garam makananku. Perahu juga nggak ada, juga layarnya. Aku hanya berenang dan berenang tanpa tujuan.
Punya perahu layar, berlayar lagi, tetap jadi impian.
Temanku matahari, langit biru, bintang-bintang dan sesekali bulan. Hanya kepada mereka aku curhat.
Kepada matahari aku menangis, tapi dia diam saja. Kepada langit biru aku mengeluh, tapi dia acuh. Kepada bintang dan bulan aku bertanya, tapi nggak ada jawaban. Aku benar-benar sendiri. Aku berenang lagi. Tempatku bukan di sini.
Kalau ombak laut datang, aku pilih ikut. Terserah kalau dibilang penakut.
Kalau badai datang, aku turut. Terserah mau dibawa kemana. Mereka yang lebih tahu arahnya.
Lama-lama mereka jadi kawan bukan lawan. Apa saja yang mereka bilang, aku setuju. Mereka yang punya mau, aku nggak mau jadi seteru. Sepertinya mereka mulai menyukaiku, mungkin karena aku penurut, bisanya cuma manggut-manggut.
Aku sudah capek memanggil-manggil Tuhan. Tetap saja nggak ada jawaban. Aku juga sudah malas mencari tahu dimana keberadaanNya. Sepertinya sia-sia.
Mungkin Tuhan marah karena kujadikan pelarian. Karena sebelumnya kecerdasan yang kujadikan Tuhan.
Mungkin Tuhan lebih memilih bermesra-mesra dengan mereka yang rendah hati. Pasti mereka bukan penggemar bruce lee.
Mungkin aku nggak pantas masuk surga, tapi aku juga nggak mau masuk neraka.
Sumpah aku nggak mau.
+ + + + +
Mereka memang benar-benar perduli, tak percuma kujadikan navigasi. Mereka memang benar-benar teman, mereka pertemukan aku dengan daratan.
Aku masih menganggapnya kebetulan.
+ + + + +
Pulau itu kecil. Aku nggak tahu namanya. Setelah kukitari ternyata bentuknya hati.
Penghuninya cuma segelintir manusia. Anak-anak muda dengan warna kulit yang berbeda-beda. Melihat aku datang dari laut, mereka menyambutku dengan ekspresi berbentuk tanda tanya.
Jari telunjuk mereka mengarah ke laut luas, bertanya ada apa disana, bagaimana mengarunginya.
Aku bilang laut adalah hidup mati, pintu masuk pintu keluar. Disana aku berjumpa beragam rasa. Senang, sedih, cemas, takut, semuanya ada. Panas terik dan hujan, ombak, petir dan badai topan, semuanya memang menakutkan. Tapi mereka semua teman.
Mereka bertanya aku yang menjawab. Aku bercerita mereka yang mendengar. Aku tertawa mereka tertawa. Aku menangis mereka menangis. Aku nggak sendiri lagi. Aku bertemu yang melengkapiku, seperti sendok bertemu garpu. Pengalamanku jadi guru, bukan aku. Aku mulai melihat titik temu.
Tapi mereka masih belum berhenti.
Mereka bertanya lagi, Tuhan itu siapa dan dimana. Aku diam. Lama.
Mereka masih menatapku. Mereka menunggu.
Ini bukan pengalamanku. Yang ini aku memang nggak tahu.
Mereka tetap menatapku. Mereka tetap menunggu. Mereka yakin aku tahu. Mereka menyudutkan aku. Mereka sudah terlanjur percaya sama aku. Mati aku.
Otak ku tak mampu berpikir lagi. Sama sekali. Benar-benar mati.
Persis seperti waktu badai mengguncang-guncang perahuku. Saat pertama kali aku merasa sama sekali tak berdaya. Saat pertama kali aku merasa bukan siapa-siapa.
Diam-diam ada sesuatu yang mengambil alih karakterku. Menyusup halus merasuki. Secepat kilat beradaptasi dengan situasi dan pegang kendali. Tiba-tiba bayangan kejadian yang kualami muncul satu demi satu. Aku seperti sedang menyaksikan rekaman diriku sendiri. Begitu jernih. Begitu bening. Begitu nyata.
Aku melihat semua yang kulakukan dan semua sikapku. Semua itu aku.
Tangisanku pada matahari, keluhanku pada langit, dan pertanyaanku pada bintang dan bulan. Semua itu suaraku.
Tiba-tiba pikiranku berubah menjadi sangat jernih. Sejernih bisikan-bisikan yang menjelaskan masing-masing kejadian yang saling berhubungan. Dan keterkaitannya dengan diriku yang semuanya bukan kebetulan.
Lalu perlahan-lahan gambar-gambar itu menghilang.
Lalu suara-suara itu beralih keheningan.
Lalu kesadaranku datang lagi.
Lalu, “Oh”
Ternyata matahari, bintang dan bulan,
ternyata angin dan ombak di laut,
ternyata anak-anak muda ini,
ternyata semua itu,
ternyata selama ini,
semuanya tentang,
+ + + + +
Lalu udara menyatu dalam nafasku. Lalu lidahku bergetar.
Lalu aku bicara panjang lebar tentang semesta alam.
Bahwasanya ada yang menggerakkan matahari, bulan dan ombak di laut. Bahwasanya ada yang menyaksikan dan mendengar setiap ucap dan perbuatan. Bahwasanya semua yang terjadi adalah kesengajaan bukan kebetulan. Ada alasan dibalik semua alasan. Ada jawaban dibalik semua jawaban. Satu yang melebihi. Satu diatas segalanya.
Tapi aku tak berani menyebut namaNya.
Aku malu. Aku terlalu hina atas semua salah dan dosa.
Aku luruh bersimpuh dihadapan tatap mata teduh Sang Maha Pengampun Yang Maha Bijaksana.
Aku kembali merasa tiada daya. Kembali merasa bukan siapa-siapa.
+ + + + +
Sesudah itu semua terdiam. Semua wajah itu tertunduk. Tak lagi menatapku. Semua tenggelam dalam bisu.
Hening dan hening. Lama sekali.
Aku tak lagi bercerita. Aku tak lagi mampu bicara.
Lidahku beku. Kelu. Yang bicara hanya air mataku. Sesuatu Yang Maha Hebat mendekap mesra batinku.
Ini titik temu.
+ + + + +
Nggak ada pertanyaan lagi. Habis.
Anak-anak muda itu kini sibuk membuat perahu layarnya sendiri-sendiri. Mereka semua ingin melaut. Mereka semua punya tujuan. Hidup.
Satu demi satu mereka pergi.
Kupandangi mereka dari jauh.
Juga perahu mereka, juga layarnya.
Semua namanya sama, “Keberuntungan dan ingat Tuhan”
Ada yang say goodbye, ada juga yang tidak. Ada juga yang diam-diam menghilang. Yo wes.
Aku cuma pesan, kalau capek cepat pulang. Selamanya hati adalah rumah untuk kembali.
+ + + + +
Sepi. Yang tersisa hanya rindu dan cinta. Nggak ada lagi kata-kata. Nggak ada lagi cerita-cerita.
Aku kehilangan pelengkapku. Sendok mulai kehilangan garpu. Titik temu ini mulai terasa semu. Sebentar lagi hilang. Aku takut. Aku nggak mau kehilangan rasa rindu dan cinta. Aku ingin keduanya tetap ada.
Aku harus berlayar lagi.
Tempatku nggak lagi disini.
+ + + + +
Ternyata hadir di bumi nggak cuma sekedar basa-basi, sapa sana sapa sini. Bisa-bisa basi sungguhan. Akhirnya bisa tersesat di jalan, dan nggak tahu jalan pulang.
Nggak cuma buat sekedar ada, jadi pajangan atau pantas-pantas. Nggak cuma hadir, absen terus pulang.
Menurutku, arti keberadaan diri nggak jauh-jauh dari seputar pengaruh. Besar atau kecil itu relatif. Tergantung panggilan alam. Baik atau buruk itu yang nanti ditimbang-timbang. Tapi aku nggak mau mikir tentang yang ini, takut malah jadi nggak ikhlas. Aku nggak punya hak untuk menilai eksistensiku sendiri. Biar Itu jadi urusannya Roqib-Atid. Asal bukan upin-ipin.
Seberapa besar, seberapa baik mempengaruhi jalan hidup orang banyak, itu yang mestinya dicari, yang ditelusuri. Ternyata kecerdasan ada juga gunanya, wujudnya inspirasi. Bukan maunya sendiri.
Walau mungkin tak sampai mewabah.
Walau mungkin tak sampai tercatat dalam sejarah.
+ + + + +
Aku harus cepat-cepat, waktunya mendesak, aku harus segera pergi.
Karena nggak sempat, akhirnya aku memilih menumpang perahu layar yang kebetulan lewat. Aku cuma penumpang.
Perahu nya besar dan megah. Keren.
Penumpangnya banyak, kebanyakan anak muda. Pemiliknya juga seorang anak muda berdarah tionghoa. Lagi-lagi anak muda. Sepertinya aku belum berhenti dipaksa jadi tua. Layar nya terbuat dari sutra.
“Lho”
Namanya sama dengan layarku dulu. Mati aku.
Dari pada capek pura-pura nggak ketakutan, aku memilih di buritan. Duduk di atas papan pembatas. Terjaga. Waspada. Was-was.
Waspada memang nggak enak. Tapi kalau kemungkinan buruk itu betul-betul terjadi pasti lebih nggak enak lagi.
Setiap saat kupeluk gulungan ombak, setiap detik kurayu angin berhembus. Kusapa mereka dengan doa. Kita teman. Kita bersahabat.
Si anak muda pemilik perahu pernah mendekatiku.
Dia bertanya, “Kok disini, kenapa nggak di depan ?”
Jawabku, “Aku takut mabuk laut”
Dan langit pun tertawa. Dalam hati aku juga.
Akhirnya semesta ikut tertawa. Ketemu lagi. Titik temu nya.
Tapi jangan keliru. Tuhan bukan garpu.
@Agustus-2011
Layarnya kuberi nama kecerdasan. Ya, kecerdasan.
Sengaja. Tapi nggak mengada-ada. Sejak kecil aku memang nggak pernah mengenal rangking dua.
Aku merasa terlahir sebagai juara. Jujur aku bangga.
Waktu itu aku masih belum tahu kalau bangga dan bersyukur itu nggak sama. Yang aku tahu cuma dua pilihan-pilihan. Pahala dan dosa. Surga dan neraka.
Katanya Tuhan ada di surga.
Katanya aku harus memilihNya.
+ + + + +
Semua bermula ketika aku terinspirasi kata-kata bruce lee, “Aku tak pernah menyebut diriku nomor satu, tapi aku juga tak mau disebut nomor dua”
Teman-temanku malah tertawa, kata mereka, “Satu setengah”
Nggak lucu. Terserah. Go to hell.
Layarku tetap kukibarkan tinggi-tinggi. Supaya bisa dilihat siapa saja ketika aku sedang mengarungi samudera.
Kalau melihat layarku ombak pasti takut. Apalagi bajak laut.
Tapi diam-diam ada yang menyebutku sombong. Sombong ?
Yang ngomong pasti yang iri. Aku nggak perduli.
Masuk telinga kanan keluar telinga kiri.
Waktu itu aku juga belum tahu kalau sombong dan yakin hanya terpisah sehelai rambut. So ? Tunggu apa lagi. Pencet tombol start. Tancap gas. Langsung gigi dua.
Begitulah sekelumit awal perjalananku menelusuri takdir. Berteman matahari ketika melewati siang, berteman bintang-bintang ketika mencumbui gelapnya malam.
Perahu layarku mantap melaju menuju laut biru.
Sesuatu yang hebat telah menunggu.
Pertama kalinya aku akan bersua dengan kata, “ternyata”
dan berderet-deret kata “ternyata” berikutnya.
+ + + + +
Awalnya semua baik-baik saja, sesuai dengan rencana. Semua kalkulasi berjalan presisi. Nggak ada yang meleset meski sepersekian mili. Lautnya tenang-tenang saja, ombak sepertinya memang takut, bajak laut juga nggak ada yang berani mendekat.
Sepertinya aku orang hebat yang bisa mengalahkan semua yang jahat. Sepertinya aku orang baik yang siap membasmi yang nggak baik-baik. Sepertinya.
Sampai pada suatu hari.
Sampai pada malam yang menakjubkan itu.
Ombak datang menatapku tajam. Lekat. Berkilat-kilat. Lebih tinggi, lebih hebat. Bergulung-gulung sangat dahsyat. Sementara angin badai bertiup menyeramkan, seperti pemangsa yang sudah lama nggak pernah makan. Petir ikut menyambar bersahut-sahutan. Menggelegar.
Tapi aku nggak takut. Belum.
Perahuku mulai terombang-ambing, terlempar kesana kemari tiada henti. Ketenangan mulai musnah, sementara aku malah sibuk marah-marah. Kecerdasanku masih sempat memaki-maki situasi.
Tapi ketika layarku mulai tercabik-cabik, ketika tiang penyangganya yang angkuh tumbang ke laut, aku nggak bisa berpikir lagi. Mati.
Semua penumpangnya melarikan diri. Cari selamat sendiri-sendiri. Mereka yang semula berikrar setia seakan nggak perduli lagi. Padahal aku menganggap mereka semua teman, bukan penumpang.
Aku berkata, “Ya sudah, terserah”
Tapi hatiku berisi sumpah serapah.
Tinggal aku dan perahuku. Badai masih belum berhenti. Debur ombaknya terus menerjang terjang, menghajar tubuhku kian membasah. Habis sudah.
Wajahku mulai acak adut. Aku mulai kalut. Takut.
Untuk pertama kalinya aku menyebut nama Tuhan di dalam gelap. MemanggilNya meratap-ratap.
Tapi Tuhan diam, nggak ada jawaban.
Mungkin Tuhan nggak lihat. Mungkin Tuhan nggak dengar.
Ombak yang dengar. Ombak datang lagi. Tapi bukan menawarkan bantuan atau ampunan. Wajahnya malah tampak memerah penuh kemarahan. Dia datang lagi dengan satu gulungan yang mematikan.
Satu hempasan membuat perahuku berubah posisi. Bagian depannya tiba-tiba meninggi, seperti mendaki papan skate board. Kian terjal hingga vertikal. Lalu terpelanting dan terbalik.
Sesudahnya tenggelam. Perlahan. Aku juga.
Aku mengikuti perahuku ke dasar laut, karena masih dikuasai rasa tak percaya. Kata “mengapa” terucap berkali-kali, kutanyakan pada semua ikan yang kutemui. Tapi semua diam, semua membisu, semuanya cuek bebek. Padahal mereka bukan bebek.
Lama-lama aku mulai bosan bertanya, akhirnya aku ikut terdiam tanpa suara. Kata “ternyata” meluncur perlahan menembus keheningan.
Penyesalanku berlagu.
Ternyata aku juga bisa tenggelam.
Ternyata kecerdasan bukan jaminan.
Hidup menuntut lebih dari itu.
+ + + + +
Aku nggak mau berlama-lama di dasar laut. Bisa karatan termakan korosi seperti perahuku. Naluri memanggilku untuk terus hidup. Aku masih ingin berlayar, tapi nggak mau lagi sampai tenggelam.
Aku harus kembali ke permukaan. Terus menerus bersembunyi ternyata lebih melelahkan.
Aku siap pasang muka tembok kalau nanti langit menertawakan kegagalanku.
Biar saja. Masa bodoh.
+ + + + +
Badainya sudah reda. Tapi nggak ada siapa-siapa di permukaan laut. Hanya aku sendiri berteman udara dan sesekali kabut. Air laut minumanku, garam makananku. Perahu juga nggak ada, juga layarnya. Aku hanya berenang dan berenang tanpa tujuan.
Punya perahu layar, berlayar lagi, tetap jadi impian.
Temanku matahari, langit biru, bintang-bintang dan sesekali bulan. Hanya kepada mereka aku curhat.
Kepada matahari aku menangis, tapi dia diam saja. Kepada langit biru aku mengeluh, tapi dia acuh. Kepada bintang dan bulan aku bertanya, tapi nggak ada jawaban. Aku benar-benar sendiri. Aku berenang lagi. Tempatku bukan di sini.
Kalau ombak laut datang, aku pilih ikut. Terserah kalau dibilang penakut.
Kalau badai datang, aku turut. Terserah mau dibawa kemana. Mereka yang lebih tahu arahnya.
Lama-lama mereka jadi kawan bukan lawan. Apa saja yang mereka bilang, aku setuju. Mereka yang punya mau, aku nggak mau jadi seteru. Sepertinya mereka mulai menyukaiku, mungkin karena aku penurut, bisanya cuma manggut-manggut.
Aku sudah capek memanggil-manggil Tuhan. Tetap saja nggak ada jawaban. Aku juga sudah malas mencari tahu dimana keberadaanNya. Sepertinya sia-sia.
Mungkin Tuhan marah karena kujadikan pelarian. Karena sebelumnya kecerdasan yang kujadikan Tuhan.
Mungkin Tuhan lebih memilih bermesra-mesra dengan mereka yang rendah hati. Pasti mereka bukan penggemar bruce lee.
Mungkin aku nggak pantas masuk surga, tapi aku juga nggak mau masuk neraka.
Sumpah aku nggak mau.
+ + + + +
Mereka memang benar-benar perduli, tak percuma kujadikan navigasi. Mereka memang benar-benar teman, mereka pertemukan aku dengan daratan.
Aku masih menganggapnya kebetulan.
+ + + + +
Pulau itu kecil. Aku nggak tahu namanya. Setelah kukitari ternyata bentuknya hati.
Penghuninya cuma segelintir manusia. Anak-anak muda dengan warna kulit yang berbeda-beda. Melihat aku datang dari laut, mereka menyambutku dengan ekspresi berbentuk tanda tanya.
Jari telunjuk mereka mengarah ke laut luas, bertanya ada apa disana, bagaimana mengarunginya.
Aku bilang laut adalah hidup mati, pintu masuk pintu keluar. Disana aku berjumpa beragam rasa. Senang, sedih, cemas, takut, semuanya ada. Panas terik dan hujan, ombak, petir dan badai topan, semuanya memang menakutkan. Tapi mereka semua teman.
Mereka bertanya aku yang menjawab. Aku bercerita mereka yang mendengar. Aku tertawa mereka tertawa. Aku menangis mereka menangis. Aku nggak sendiri lagi. Aku bertemu yang melengkapiku, seperti sendok bertemu garpu. Pengalamanku jadi guru, bukan aku. Aku mulai melihat titik temu.
Tapi mereka masih belum berhenti.
Mereka bertanya lagi, Tuhan itu siapa dan dimana. Aku diam. Lama.
Mereka masih menatapku. Mereka menunggu.
Ini bukan pengalamanku. Yang ini aku memang nggak tahu.
Mereka tetap menatapku. Mereka tetap menunggu. Mereka yakin aku tahu. Mereka menyudutkan aku. Mereka sudah terlanjur percaya sama aku. Mati aku.
Otak ku tak mampu berpikir lagi. Sama sekali. Benar-benar mati.
Persis seperti waktu badai mengguncang-guncang perahuku. Saat pertama kali aku merasa sama sekali tak berdaya. Saat pertama kali aku merasa bukan siapa-siapa.
Diam-diam ada sesuatu yang mengambil alih karakterku. Menyusup halus merasuki. Secepat kilat beradaptasi dengan situasi dan pegang kendali. Tiba-tiba bayangan kejadian yang kualami muncul satu demi satu. Aku seperti sedang menyaksikan rekaman diriku sendiri. Begitu jernih. Begitu bening. Begitu nyata.
Aku melihat semua yang kulakukan dan semua sikapku. Semua itu aku.
Tangisanku pada matahari, keluhanku pada langit, dan pertanyaanku pada bintang dan bulan. Semua itu suaraku.
Tiba-tiba pikiranku berubah menjadi sangat jernih. Sejernih bisikan-bisikan yang menjelaskan masing-masing kejadian yang saling berhubungan. Dan keterkaitannya dengan diriku yang semuanya bukan kebetulan.
Lalu perlahan-lahan gambar-gambar itu menghilang.
Lalu suara-suara itu beralih keheningan.
Lalu kesadaranku datang lagi.
Lalu, “Oh”
Ternyata matahari, bintang dan bulan,
ternyata angin dan ombak di laut,
ternyata anak-anak muda ini,
ternyata semua itu,
ternyata selama ini,
semuanya tentang,
+ + + + +
Lalu udara menyatu dalam nafasku. Lalu lidahku bergetar.
Lalu aku bicara panjang lebar tentang semesta alam.
Bahwasanya ada yang menggerakkan matahari, bulan dan ombak di laut. Bahwasanya ada yang menyaksikan dan mendengar setiap ucap dan perbuatan. Bahwasanya semua yang terjadi adalah kesengajaan bukan kebetulan. Ada alasan dibalik semua alasan. Ada jawaban dibalik semua jawaban. Satu yang melebihi. Satu diatas segalanya.
Tapi aku tak berani menyebut namaNya.
Aku malu. Aku terlalu hina atas semua salah dan dosa.
Aku luruh bersimpuh dihadapan tatap mata teduh Sang Maha Pengampun Yang Maha Bijaksana.
Aku kembali merasa tiada daya. Kembali merasa bukan siapa-siapa.
+ + + + +
Sesudah itu semua terdiam. Semua wajah itu tertunduk. Tak lagi menatapku. Semua tenggelam dalam bisu.
Hening dan hening. Lama sekali.
Aku tak lagi bercerita. Aku tak lagi mampu bicara.
Lidahku beku. Kelu. Yang bicara hanya air mataku. Sesuatu Yang Maha Hebat mendekap mesra batinku.
Ini titik temu.
+ + + + +
Nggak ada pertanyaan lagi. Habis.
Anak-anak muda itu kini sibuk membuat perahu layarnya sendiri-sendiri. Mereka semua ingin melaut. Mereka semua punya tujuan. Hidup.
Satu demi satu mereka pergi.
Kupandangi mereka dari jauh.
Juga perahu mereka, juga layarnya.
Semua namanya sama, “Keberuntungan dan ingat Tuhan”
Ada yang say goodbye, ada juga yang tidak. Ada juga yang diam-diam menghilang. Yo wes.
Aku cuma pesan, kalau capek cepat pulang. Selamanya hati adalah rumah untuk kembali.
+ + + + +
Sepi. Yang tersisa hanya rindu dan cinta. Nggak ada lagi kata-kata. Nggak ada lagi cerita-cerita.
Aku kehilangan pelengkapku. Sendok mulai kehilangan garpu. Titik temu ini mulai terasa semu. Sebentar lagi hilang. Aku takut. Aku nggak mau kehilangan rasa rindu dan cinta. Aku ingin keduanya tetap ada.
Aku harus berlayar lagi.
Tempatku nggak lagi disini.
+ + + + +
Ternyata hadir di bumi nggak cuma sekedar basa-basi, sapa sana sapa sini. Bisa-bisa basi sungguhan. Akhirnya bisa tersesat di jalan, dan nggak tahu jalan pulang.
Nggak cuma buat sekedar ada, jadi pajangan atau pantas-pantas. Nggak cuma hadir, absen terus pulang.
Menurutku, arti keberadaan diri nggak jauh-jauh dari seputar pengaruh. Besar atau kecil itu relatif. Tergantung panggilan alam. Baik atau buruk itu yang nanti ditimbang-timbang. Tapi aku nggak mau mikir tentang yang ini, takut malah jadi nggak ikhlas. Aku nggak punya hak untuk menilai eksistensiku sendiri. Biar Itu jadi urusannya Roqib-Atid. Asal bukan upin-ipin.
Seberapa besar, seberapa baik mempengaruhi jalan hidup orang banyak, itu yang mestinya dicari, yang ditelusuri. Ternyata kecerdasan ada juga gunanya, wujudnya inspirasi. Bukan maunya sendiri.
Walau mungkin tak sampai mewabah.
Walau mungkin tak sampai tercatat dalam sejarah.
+ + + + +
Aku harus cepat-cepat, waktunya mendesak, aku harus segera pergi.
Karena nggak sempat, akhirnya aku memilih menumpang perahu layar yang kebetulan lewat. Aku cuma penumpang.
Perahu nya besar dan megah. Keren.
Penumpangnya banyak, kebanyakan anak muda. Pemiliknya juga seorang anak muda berdarah tionghoa. Lagi-lagi anak muda. Sepertinya aku belum berhenti dipaksa jadi tua. Layar nya terbuat dari sutra.
“Lho”
Namanya sama dengan layarku dulu. Mati aku.
Dari pada capek pura-pura nggak ketakutan, aku memilih di buritan. Duduk di atas papan pembatas. Terjaga. Waspada. Was-was.
Waspada memang nggak enak. Tapi kalau kemungkinan buruk itu betul-betul terjadi pasti lebih nggak enak lagi.
Setiap saat kupeluk gulungan ombak, setiap detik kurayu angin berhembus. Kusapa mereka dengan doa. Kita teman. Kita bersahabat.
Si anak muda pemilik perahu pernah mendekatiku.
Dia bertanya, “Kok disini, kenapa nggak di depan ?”
Jawabku, “Aku takut mabuk laut”
Dan langit pun tertawa. Dalam hati aku juga.
Akhirnya semesta ikut tertawa. Ketemu lagi. Titik temu nya.
Tapi jangan keliru. Tuhan bukan garpu.
@Agustus-2011



