Wednesday, September 28, 2011

PERAHU LAYAR KU


Aku pernah punya perahu layar yang menurutku lumayan besar. Cukup lebar untuk bisa menampung banyak orang. Bentuknya sederhana, biasa, tapi enerjik. Pastinya nggak semewah titanic.
Layarnya kuberi nama kecerdasan. Ya, kecerdasan.
Sengaja. Tapi nggak mengada-ada. Sejak kecil aku memang nggak pernah mengenal rangking dua.
Aku merasa terlahir sebagai juara. Jujur aku bangga.
Waktu itu aku masih belum tahu kalau bangga dan bersyukur itu nggak sama. Yang aku tahu cuma dua pilihan-pilihan. Pahala dan dosa. Surga dan neraka.
Katanya Tuhan ada di surga.
Katanya aku harus memilihNya.
+ + + + +
Semua bermula ketika aku terinspirasi kata-kata bruce lee, “Aku tak pernah menyebut diriku nomor satu, tapi aku juga tak mau disebut nomor dua”
Teman-temanku malah tertawa, kata mereka, “Satu setengah”
Nggak lucu. Terserah. Go to hell.
Layarku tetap kukibarkan tinggi-tinggi. Supaya bisa dilihat siapa saja ketika aku sedang mengarungi samudera.
Kalau melihat layarku ombak pasti takut. Apalagi bajak laut.
Tapi diam-diam ada yang menyebutku sombong. Sombong ?
Yang ngomong pasti yang iri. Aku nggak perduli.
Masuk telinga kanan keluar telinga kiri.
Waktu itu aku juga belum tahu kalau sombong dan yakin hanya terpisah sehelai rambut. So ? Tunggu apa lagi. Pencet tombol start. Tancap gas. Langsung gigi dua.
Begitulah sekelumit awal perjalananku menelusuri takdir. Berteman matahari ketika melewati siang, berteman bintang-bintang ketika mencumbui gelapnya malam.
Perahu layarku mantap melaju menuju laut biru.
Sesuatu yang hebat telah menunggu.
Pertama kalinya aku akan bersua dengan kata, “ternyata”
dan berderet-deret kata “ternyata” berikutnya.
+ + + + +
Awalnya semua baik-baik saja, sesuai dengan rencana. Semua kalkulasi berjalan presisi. Nggak ada yang meleset meski sepersekian mili. Lautnya tenang-tenang saja, ombak sepertinya memang takut, bajak laut juga nggak ada yang berani mendekat.
Sepertinya aku orang hebat yang bisa mengalahkan semua yang jahat. Sepertinya aku orang baik yang siap membasmi yang nggak baik-baik. Sepertinya.
Sampai pada suatu hari.
Sampai pada malam yang menakjubkan itu.
Ombak datang menatapku tajam. Lekat. Berkilat-kilat. Lebih tinggi, lebih hebat. Bergulung-gulung sangat dahsyat. Sementara angin badai bertiup menyeramkan, seperti pemangsa yang sudah lama nggak pernah makan. Petir ikut menyambar bersahut-sahutan. Menggelegar.
Tapi aku nggak takut. Belum.
Perahuku mulai terombang-ambing, terlempar kesana kemari tiada henti. Ketenangan mulai musnah, sementara aku malah sibuk marah-marah. Kecerdasanku masih sempat memaki-maki situasi.
Tapi ketika layarku mulai tercabik-cabik, ketika tiang penyangganya yang angkuh tumbang ke laut, aku nggak bisa berpikir lagi. Mati.
Semua penumpangnya melarikan diri. Cari selamat sendiri-sendiri. Mereka yang semula berikrar setia seakan nggak perduli lagi. Padahal aku menganggap mereka semua teman, bukan penumpang.
Aku berkata, “Ya sudah, terserah”
Tapi hatiku berisi sumpah serapah.
Tinggal aku dan perahuku. Badai masih belum berhenti. Debur ombaknya terus menerjang terjang, menghajar tubuhku kian membasah. Habis sudah.
Wajahku mulai acak adut. Aku mulai kalut. Takut.
Untuk pertama kalinya aku menyebut nama Tuhan di dalam gelap. MemanggilNya meratap-ratap.
Tapi Tuhan diam, nggak ada jawaban.
Mungkin Tuhan nggak lihat. Mungkin Tuhan nggak dengar.
Ombak yang dengar. Ombak datang lagi. Tapi bukan menawarkan bantuan atau ampunan. Wajahnya malah tampak memerah penuh kemarahan. Dia datang lagi dengan satu gulungan yang mematikan.
Satu hempasan membuat perahuku berubah posisi. Bagian depannya tiba-tiba meninggi, seperti mendaki papan skate board. Kian terjal hingga vertikal. Lalu terpelanting dan terbalik.
Sesudahnya tenggelam. Perlahan. Aku juga.
Aku mengikuti perahuku ke dasar laut, karena masih dikuasai rasa tak percaya. Kata “mengapa” terucap berkali-kali, kutanyakan pada semua ikan yang kutemui. Tapi semua diam, semua membisu, semuanya cuek bebek. Padahal mereka bukan bebek.
Lama-lama aku mulai bosan bertanya, akhirnya aku ikut terdiam tanpa suara. Kata “ternyata” meluncur perlahan menembus keheningan.
Penyesalanku berlagu.
Ternyata aku juga bisa tenggelam.
Ternyata kecerdasan bukan jaminan.
Hidup menuntut lebih dari itu.
+ + + + +
Aku nggak mau berlama-lama di dasar laut. Bisa karatan termakan korosi seperti perahuku. Naluri memanggilku untuk terus hidup. Aku masih ingin berlayar, tapi nggak mau lagi sampai tenggelam.
Aku harus kembali ke permukaan. Terus menerus bersembunyi ternyata lebih melelahkan.
Aku siap pasang muka tembok kalau nanti langit menertawakan kegagalanku.
Biar saja. Masa bodoh.
+ + + + +
Badainya sudah reda. Tapi nggak ada siapa-siapa di permukaan laut. Hanya aku sendiri berteman udara dan sesekali kabut. Air laut minumanku, garam makananku. Perahu juga nggak ada, juga layarnya. Aku hanya berenang dan berenang tanpa tujuan.
Punya perahu layar, berlayar lagi, tetap jadi impian.
Temanku matahari, langit biru, bintang-bintang dan sesekali bulan. Hanya kepada mereka aku curhat.
Kepada matahari aku menangis, tapi dia diam saja. Kepada langit biru aku mengeluh, tapi dia acuh. Kepada bintang dan bulan aku bertanya, tapi nggak ada jawaban. Aku benar-benar sendiri. Aku berenang lagi. Tempatku bukan di sini.
Kalau ombak laut datang, aku pilih ikut. Terserah kalau dibilang penakut.
Kalau badai datang, aku turut. Terserah mau dibawa kemana. Mereka yang lebih tahu arahnya.
Lama-lama mereka jadi kawan bukan lawan. Apa saja yang mereka bilang, aku setuju. Mereka yang punya mau, aku nggak mau jadi seteru. Sepertinya mereka mulai menyukaiku, mungkin karena aku penurut, bisanya cuma manggut-manggut.
Aku sudah capek memanggil-manggil Tuhan. Tetap saja nggak ada jawaban. Aku juga sudah malas mencari tahu dimana keberadaanNya. Sepertinya sia-sia.
Mungkin Tuhan marah karena kujadikan pelarian. Karena sebelumnya kecerdasan yang kujadikan Tuhan.
Mungkin Tuhan lebih memilih bermesra-mesra dengan mereka yang rendah hati. Pasti mereka bukan penggemar bruce lee.
Mungkin aku nggak pantas masuk surga, tapi aku juga nggak mau masuk neraka.
Sumpah aku nggak mau.
+ + + + +
Mereka memang benar-benar perduli, tak percuma kujadikan navigasi. Mereka memang benar-benar teman, mereka pertemukan aku dengan daratan.
Aku masih menganggapnya kebetulan.
+ + + + +
Pulau itu kecil. Aku nggak tahu namanya. Setelah kukitari ternyata bentuknya hati.
Penghuninya cuma segelintir manusia. Anak-anak muda dengan warna kulit yang berbeda-beda. Melihat aku datang dari laut, mereka menyambutku dengan ekspresi berbentuk tanda tanya.
Jari telunjuk mereka mengarah ke laut luas, bertanya ada apa disana, bagaimana mengarunginya.
Aku bilang laut adalah hidup mati, pintu masuk pintu keluar. Disana aku berjumpa beragam rasa. Senang, sedih, cemas, takut, semuanya ada. Panas terik dan hujan, ombak, petir dan badai topan, semuanya memang menakutkan. Tapi mereka semua teman.
Mereka bertanya aku yang menjawab. Aku bercerita mereka yang mendengar. Aku tertawa mereka tertawa. Aku menangis mereka menangis. Aku nggak sendiri lagi. Aku bertemu yang melengkapiku, seperti sendok bertemu garpu. Pengalamanku jadi guru, bukan aku. Aku mulai melihat titik temu.
Tapi mereka masih belum berhenti.
Mereka bertanya lagi, Tuhan itu siapa dan dimana. Aku diam. Lama.
Mereka masih menatapku. Mereka menunggu.
Ini bukan pengalamanku. Yang ini aku memang nggak tahu.
Mereka tetap menatapku. Mereka tetap menunggu. Mereka yakin aku tahu. Mereka menyudutkan aku. Mereka sudah terlanjur percaya sama aku. Mati aku.
Otak ku tak mampu berpikir lagi. Sama sekali. Benar-benar mati.
Persis seperti waktu badai mengguncang-guncang perahuku. Saat pertama kali aku merasa sama sekali tak berdaya. Saat pertama kali aku merasa bukan siapa-siapa.
Diam-diam ada sesuatu yang mengambil alih karakterku. Menyusup halus merasuki. Secepat kilat beradaptasi dengan situasi dan pegang kendali. Tiba-tiba bayangan kejadian yang kualami muncul satu demi satu. Aku seperti sedang menyaksikan rekaman diriku sendiri. Begitu jernih. Begitu bening. Begitu nyata.
Aku melihat semua yang kulakukan dan semua sikapku. Semua itu aku.
Tangisanku pada matahari, keluhanku pada langit, dan pertanyaanku pada bintang dan bulan. Semua itu suaraku.
Tiba-tiba pikiranku berubah menjadi sangat jernih. Sejernih bisikan-bisikan yang menjelaskan masing-masing kejadian yang saling berhubungan. Dan keterkaitannya dengan diriku yang semuanya bukan kebetulan.
Lalu perlahan-lahan gambar-gambar itu menghilang.
Lalu suara-suara itu beralih keheningan.
Lalu kesadaranku datang lagi.
Lalu, “Oh”
Ternyata matahari, bintang dan bulan,
ternyata angin dan ombak di laut,
ternyata anak-anak muda ini,
ternyata semua itu,
ternyata selama ini,
semuanya tentang,
+ + + + +
Lalu udara menyatu dalam nafasku. Lalu lidahku bergetar.
Lalu aku bicara panjang lebar tentang semesta alam.
Bahwasanya ada yang menggerakkan matahari, bulan dan ombak di laut. Bahwasanya ada yang menyaksikan dan mendengar setiap ucap dan perbuatan. Bahwasanya semua yang terjadi adalah kesengajaan bukan kebetulan. Ada alasan dibalik semua alasan. Ada jawaban dibalik semua jawaban. Satu yang melebihi. Satu diatas segalanya.
Tapi aku tak berani menyebut namaNya.
Aku malu. Aku terlalu hina atas semua salah dan dosa.
Aku luruh bersimpuh dihadapan tatap mata teduh Sang Maha Pengampun Yang Maha Bijaksana.
Aku kembali merasa tiada daya. Kembali merasa bukan siapa-siapa.
+ + + + +
Sesudah itu semua terdiam. Semua wajah itu tertunduk. Tak lagi menatapku. Semua tenggelam dalam bisu.
Hening dan hening. Lama sekali.
Aku tak lagi bercerita. Aku tak lagi mampu bicara.
Lidahku beku. Kelu. Yang bicara hanya air mataku. Sesuatu Yang Maha Hebat mendekap mesra batinku.
Ini titik temu.
+ + + + +
Nggak ada pertanyaan lagi. Habis.
Anak-anak muda itu kini sibuk membuat perahu layarnya sendiri-sendiri. Mereka semua ingin melaut. Mereka semua punya tujuan. Hidup.
Satu demi satu mereka pergi.
Kupandangi mereka dari jauh.
Juga perahu mereka, juga layarnya.
Semua namanya sama, “Keberuntungan dan ingat Tuhan”
Ada yang say goodbye, ada juga yang tidak. Ada juga yang diam-diam menghilang. Yo wes.
Aku cuma pesan, kalau capek cepat pulang. Selamanya hati adalah rumah untuk kembali.
+ + + + +
Sepi. Yang tersisa hanya rindu dan cinta. Nggak ada lagi kata-kata. Nggak ada lagi cerita-cerita.
Aku kehilangan pelengkapku. Sendok mulai kehilangan garpu. Titik temu ini mulai terasa semu. Sebentar lagi hilang. Aku takut. Aku nggak mau kehilangan rasa rindu dan cinta. Aku ingin keduanya tetap ada.
Aku harus berlayar lagi.
Tempatku nggak lagi disini.
+ + + + +
Ternyata hadir di bumi nggak cuma sekedar basa-basi, sapa sana sapa sini. Bisa-bisa basi sungguhan. Akhirnya bisa tersesat di jalan, dan nggak tahu jalan pulang.
Nggak cuma buat sekedar ada, jadi pajangan atau pantas-pantas. Nggak cuma hadir, absen terus pulang.
Menurutku, arti keberadaan diri nggak jauh-jauh dari seputar pengaruh. Besar atau kecil itu relatif. Tergantung panggilan alam. Baik atau buruk itu yang nanti ditimbang-timbang. Tapi aku nggak mau mikir tentang yang ini, takut malah jadi nggak ikhlas. Aku nggak punya hak untuk menilai eksistensiku sendiri. Biar Itu jadi urusannya Roqib-Atid. Asal bukan upin-ipin.
Seberapa besar, seberapa baik mempengaruhi jalan hidup orang banyak, itu yang mestinya dicari, yang ditelusuri. Ternyata kecerdasan ada juga gunanya, wujudnya inspirasi. Bukan maunya sendiri.
Walau mungkin tak sampai mewabah.
Walau mungkin tak sampai tercatat dalam sejarah.
+ + + + +
Aku harus cepat-cepat, waktunya mendesak, aku harus segera pergi.
Karena nggak sempat, akhirnya aku memilih menumpang perahu layar yang kebetulan lewat. Aku cuma penumpang.
Perahu nya besar dan megah. Keren.
Penumpangnya banyak, kebanyakan anak muda. Pemiliknya juga seorang anak muda berdarah tionghoa. Lagi-lagi anak muda. Sepertinya aku belum berhenti dipaksa jadi tua. Layar nya terbuat dari sutra.
“Lho”
Namanya sama dengan layarku dulu. Mati aku.
Dari pada capek pura-pura nggak ketakutan, aku memilih di buritan. Duduk di atas papan pembatas. Terjaga. Waspada. Was-was.
Waspada memang nggak enak. Tapi kalau kemungkinan buruk itu betul-betul terjadi pasti lebih nggak enak lagi.
Setiap saat kupeluk gulungan ombak, setiap detik kurayu angin berhembus. Kusapa mereka dengan doa. Kita teman. Kita bersahabat.
Si anak muda pemilik perahu pernah mendekatiku.
Dia bertanya, “Kok disini, kenapa nggak di depan ?”
Jawabku, “Aku takut mabuk laut”
Dan langit pun tertawa. Dalam hati aku juga.
Akhirnya semesta ikut tertawa. Ketemu lagi. Titik temu nya.
Tapi jangan keliru. Tuhan bukan garpu.



@Agustus-2011

Tuesday, September 13, 2011

CINTAI AKU WALAU HANYA SEHARI


Sms mu singkat, “Nduk, minggu dpn aku ke srby"
Balasku, “O ya, naik apa”

“Naik kereta, bs jemput nggak”

“Ya, ntar aku jemput”

Pesan singkat yang datang tiba-tiba, yang sudah lupa kalau selalu aku tunggu. Mungkin karena aku sudah terbiasa dengan kesendirianku. Atau jadi mandiri seperti harapanmu. Aku justru tersadar kalau ternyata selama ini aku menunggu, alam bawah sadarku tak pernah berhenti merindukan pertemuan denganmu. Mungkin karena dalam sendiriku selalu ada kamu.
Yang pertama terbayang rutinitasku bakal terganggu, tapi aku tahu, dibaliknya ada sesuatu yang seru.
Makanya aku nggak keberatan ketika pesan berikutnya mengisyaratkan keterbatasan.

“Tapi cuma sehari, aku mesti segera balik kerja”

Aku menegaskan, “It’s oke, nggak papa”

Karena aku yakin, sehari itu pasti berbeda.


+ + + + +


Stasiun itu seperti lokasi shooting. Pemeran utamanya aku dan kamu. Yang lainnya figuran, sutradaranya Tuhan. Begitu melihat kamu turun dari kereta, kedua tanganku seperti otomatis terentang. Siap menyambutmu dengan hangat pelukan.
Kamu masih seperti dulu. Legam dan senyum teduhmu itu, kalau dalam jarak dekat selalu membinasakan aku. Kamu lebih dulu memelukku.
“I miss you” katamu.
“I miss you too” jawabku.

Jemarimu mengusap-usap rambut diatas kepalaku. Itu ciri khas mu.

Selanjutnya aku dan kamu melaju berdua di atas roda. Sedikit kata yang terucap, itu pun bercampur teriak. Bising jalanan menenggelamkan suara-suara, aku dan kamu pun bicara seperlunya.
Nggak papa, nggak penting, sebentar lagi aku pasti akan mendengar lagi kata-katamu yang jernih. Kata-kata ajaib yang memperindah hidupku, yang bisa membuatku melayang tanpa beban. Kamu selalu dapat melihat hidup yang rumit ini dengan cara yang sederhana. Itu yang paling aku suka.
Aku bersandar di punggungmu, kedua tanganku melingkar di pinggangmu. Tak perduli dengan lalu lalang kendaraan di sekitarku. Debu-debu jalanan dan terik matahari seperti tak ada entah kemana. I feel so comfort, so extacy. Semua terasa seperti tak biasa.

Aku nggak tahu ini apa.
Menurutku ini cinta.


+ + + + +


Betul kan, semuanya jadi berbeda. Tempe penyet yang membosankan itu tiba-tiba jadi enak. Tahu tek yang biasanya aku makan setengah hati itu tiba-tiba jadi lezat. Warung kopi lesehan di tepi jalan yang kumuh itu tiba-tiba berubah jadi mewah. Kamu pembedanya.
Kamu masih mendominasi, atau aku yang membiarkan terdominasi. Dihadapanmu aku selalu lumpuh meluruh. Aku berubah menjadi anak kecil yang manja, yang merengek-rengek minta ice cream dan gula-gula. Aku menyerah padamu, karena kamu lebih mengenal aku dibanding diriku sendiri. Kupasrahkan diriku meringkuk dalam gelap, dalam telungkup kedua telapak tanganmu. Ketika tanganmu terbuka, aku menjelma kupu-kupu.
Mungkin karena kuberpikir kesempatan ini seribu satu, bibirku terus menerus mengumbar cerita, yang sebagian besar bertajuk problema. Sepertinya aku yang banyak bicara, tapi tetap kamu yang berkuasa. Caramu mendengar, mencerna dan mengolah masalah tak ada duanya. Kamu selalu menemukan keterkaitan hubungan antar kejadian yang sama sekali bukan kebetulan, dan hubungannya dengan keberadaanku di tengah-tengah rimba semesta. Terakhir, kamu menunjukkan padaku bagaimana cara menyikapinya. Itu dia yang membuatmu istimewa.
You always found the best shortcut for me to do.

Kamu mampu mengubah semua yang susah menjadi lebih mudah.
Kamu jenius.

Waktu aku bilang kamu yang menentukan arah hidupku, kamu nggak mau. Katamu, kamu hanya menunjukkan cara agar aku bisa menentukan arah hidupku sendiri. Agar aku bahagia dengan pilihanku. Agar suatu saat aku bisa menjadi lentera bagi siapa saja yang membutuhkan uluran tanganku. Katamu itu cara terbaik untuk menjadi yang dicintai. Kamu berharap itu menjadi tujuan hidupku.
Aku setuju, tapi jujur aku nggak berpikir sejauh itu. Nggak terbayang bisa menjadi manusia yang dicintai banyak orang kayak kamu. Bagiku dicintai olehmu sudah cukup menjadi keberuntungan bagiku. Tapi katamu bukan itu, yang sedang aku hadapi saat ini hanyalah proses untuk belajar mencintai.
Menurutku kamu terlalu menyanjungku. Lagian aku bukan siapa-siapa. Aku lebih suka dengan sebutan mu untukku, gendut-jelek-kutu kupret, itu lucu. Aku tertawa, aku suka. Aku hanya orang sok tau, keras kepala dan nggak pede dihadapan kamu yang bijaksana. Aku hanya seekor itik kecil buruk rupa dihadapan sang rajawali yang perkasa.
I’m nothing, you are everything.

Tapi katamu aku sexy. Yang ini aku suka, tapi aku tertawa juga. Aku seperti tersengat listrik tegangan tinggi, yang memantik rasa percaya diri luar biasa, yang membuatku seolah-olah siap untuk menaklukkan siapa saja. Katamu sexy maknanya dalam, tak selalu berhubungan dengan bentuk atau ukuran.
Kamu juga mengingatkan aku untuk tidak memujamu. Katamu, aku dan kamu hanya seonggok debu. Kalau tiupan anginNya datang, aku dan kamu akan lenyap tak berbekas.
Kamu hanya ingin dicintai. Aku tahu.

Katamu, terkadang aku terlalu sensitif. Segala persoalan, situasi yang nggak menguntungkan, juga perilaku orang-orang disekitaran yang ganjil, adalah bagian upaya pemaksaan semesta agar logika ku keluar dari sarangnya. Agar aku tetap jernih dan tak mudah terbawa suasana. Tapi katamu, aku sudah jauh lebih baik dibanding dulu.
Tak pernah bosan kamu mengingatkan aku untuk tak mudah jatuh hati, walau tak pernah bisa mengelak kemana jatuhnya. Katamu, iba dan cinta itu nggak sama. Katamu lagi, jangan menaruh cinta di sembarang tempat. Karena fitnah dan kebencian selalu mengintai di setiap kolong jagat. Karena kebanyakan mereka hanya ingin dicintai bukan mencintai, atau berdalih mencintai tapi menguasai.
Sehari-hari aku selalu merasakan kesepian di tengah keramaian. Namun bersama kamu aku menemukan keheningan. Sesuatu yang dalam, yang membuat hidupku terasa lebih berarti, yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Aku nggak tahu itu apa.

Menurutku itu cinta.


+ + + + +


Kamar kos ku cuma dua kali tiga, pengap dan berantakan. Suara kipas angin yang berisik karena faktor usia, lebih menjadi teman untuk menghiasi keheningan. Hembusannya menyapu biji-biji keringat, tapi aku dan kamu tetap lekat merapat. Di atas kasur tanpa dipan yang sprei nya sudah lama nggak aku laundry.
Seperti biasa aku dan kamu cuma saling menatap tanpa bicara seusai bercinta. Tapi itu nggak lama, dalam hitungan detik dari sudut mataku mengalir air mata. Itu bahasa ku.
Lidahmu juga tak berkata-kata, hanya jari-jarimu yang bicara magis. Mengusap-usap rambut diatas kepalaku sambil menatap lekat kedua mataku. Itu bahasa mu.
Ya aku tahu, kamu sedang bilang kalau kamu sayang sama aku.

Cinta kita terlarang, tersembunyi diantara celah sempit batu karang. Kalau nggak hati-hati bisa tergores, sedikit saja terlena bisa terluka. Aku dan kamu hanya berusaha menyikapinya, selama ruang dan waktunya masih ada. Sebegitu bahagia, sebegitu pula sakitnya.
Ini bukan persahabatan.

Kamu bukan sahabat, kamu bukan sekedar tempat berbagi, kamu lebih, kamu mengambil alih. Tak terbayangkan, masa-masa sulit itu bisa terlewati tanpa aku sadari.
Ini bukan cinta biasa.

Kamu bukan kekasih, kamu nggak sekedar mengisi, kamu lebih, kamu mengubah arah. Mereka sampai heran, aku yang seharusnya jatuh berantakan malah sekarang terbang dengan sayap mengembang
Siapa sebenarnya kamu ?.

Bagaimana mungkin bahagia dan luka bisa menyatu dalam dirimu ?

Ternyata ada yang lebih menyakitkan dari patah hati ketika mencintai yang tak bisa dimiliki.
Ternyata ada yang lebih membahagiakan ketika mencintai cinta itu sendiri.

Cintailah cinta, katamu.

Biarkan cinta yang menentukan jalannya sendiri. Tanpa harus dikuasai, tanpa harus dipaksa-paksa. Biarkan aku dan kamu yang terkuasai olehNya tanpa merasa terpaksa.
Waktu kian menipis.

Sebentar lagi habis.

Sebentar lagi kamu pergi.


+ + + + +


Lokasi shootingnya masih sama, di stasiun. Pemeran utamanya masih aku dan kamu. Yang lainnya tetap figuran, sutradaranya selalu Tuhan. Skenarionya yang berbeda, kemarin awal sekarang akhir, kemarin bertemu sekarang berpisah.
Yang pasti berbeda, hari ini langitnya mendung, sebentar lagi kayaknya turun hujan.

Aku sempat lupa kalau kemarin aku berada di tempat yang sama. Berarti kemarin aku juga lupa kalau sehari lagi akan mengalami hal yang berbeda. Sehari yang tak terasa. Sehari seperti selamanya.
Senang dan sedih hanya berselang satu hari. Tapi kamu mengingatkan aku untuk bersyukur, supaya bisa menemukan bahagia di atas keduanya. Jangan sepotong-sepotong, lihat keseluruhan, katamu. Ya, aku coba.
Ketika Tuhan bilang “action”, kamu memelukku.
“Take care” katamu.

“Slamat jalan” kataku.

Saat kereta mulai bergerak, kamu melambaikan tanganmu. Saat itu juga awan yang sedari tadi menggantung tumpah ke bumi. Hujan turun.
Kamu yang pergi.

Aku yang ditinggal pergi.

Langit yang menangisi.

Akhirnya kereta itu menghilang, akhirnya kamu pergi juga. Tapi Tuhan belum bilang “cut”. Shooting nya belum selesai. Tuhan masih ingin aku menikmati keheningan yang kamu berikan.
Tuhan malah bertanya, “Mana ekspresinya ?”

Aku pun menangis.

Tapi kamu tak melihat air mataku.

Ah, paling kamu juga tahu.

Seperti aku tahu, saat ini pasti kamu juga sedang menangis di atas kereta yang melaju.

Baru saja ketemu, aku sudah merindu. Tapi aku tahu, seberapa pun waktu tak akan pernah cukup. Sehari, seminggu, sebulan atau setahun sama saja. Karena aku ingin selamanya. Cinta memang masalah hati, tak pernah mau terikat dengan materi.
Mungkin karena batasan itu semua tumpah ruah dalam sehari. Semua keluh kesahku, semua bebanku, semua angan-anganku dan semua yang nggak kupahami. Tapi kamu hebat, kamu all out.
Kamu berikan semua yang ada padamu buatku.
Kamu berikan semua hitam dan putihmu.

Aku sampai nggak bisa menuntut lebih dari itu.

Cinta mu memang buat aku.

Tapi kamu tetap bukan milikku.

Aku melangkah meninggalkan stasiun. Shooting selesai.

“Cut”


+ + + + +


Aku kembali ke rutinitasku, bangun pagi, matikan alarm setengah hati, berangkat kerja malas-malasan, pulang malam kecapekan. Macetnya jalan, debu-debu dan virus jalanan, konflik di kantor, atasan yang perintahnya kadang nggak jelas, dan gosip-gosip murahan penyedap persaingan. Setiap hari begitu.
Tempe penyet itu kembali membosankan, tahu tek kembali nggak menarik, warung kopi lesehan yang kumuh itu nggak lagi kulirik. Aku kembali belajar mencintai kehidupanku sendiri. Yang tanpa kamu, yang katamu itu jalan kemandirianku.
Sampai kapan aku nggak tahu. Mungkin sampai aku lupa kalau mengharapkanmu. Mungkin sampai sms mu yang singkat itu datang lagi. Yang menyadarkan aku kalau selalu menunggu kedatanganmu yang cuma sehari.
Sehari yang pasti berbeda.

Sehari yang penuh cinta,

yang bisa memporak-porandakan semua logika.

Sehari yang bisa mengubah segalanya.




Andaikan mungkin,
ingin diriku berbalik menjadi cahaya
untuk menerangi hidupmu
dan membahagiakan mu

Walau mungkin aku tak bisa
sebijaksana kamu



**********************************************************

Wednesday, September 7, 2011

DAMN, I'M SO SCARED


Waduhh… jam empat sore. Berarti tiga jam sudah café resto ku sepi pembeli. Kursi-kursi nya masih kosong melompong, meja-meja sampai ingin tertawa karena saking sepinya. Suasana yang nggak biasa, agak aneh, tapi menurutku sama sekali nggak lucu. Sedikit-sedikit aku melirik pintu, namun nggak ada sama sekali pemandangan baru.
Tiga jam adalah rekor baru.

Malah bisa-bisa bertambah lama kalau melihat gelagatnya. Jalan-jalan sepi melenggang, sedikit sekali yang terlihat berlalu-lalang. Kulihat tetangga kanan kiriku nasibnya juga nggak jauh beda. Situasi ini mulai menekanku, I don’t like it.
Oh my God, apa yang sedang terjadi ?


+ + + + +


Para pelayan seperti sengaja menghindari tatapanku. Mungkin takut dijadikan menu makan siang sebagai ganti kekesalanku. Andai aku berbagi, apalah gunanya jika memang mereka perduli. Tidak mengimbas kursi-kursi cepat terisi. Aku juga sengaja menghindari tukang masakku yang seumur ibuku. Paling-paling nasehat klasik yang akan meluncur dari bibirnya, “Sabar mas, sabar”.
Kalau hanya Tuhan yang berhak menentukan batas kesabaran, tak terbayangkan seberapa lama aku harus tenggelam di dalam penantian. Kalau Tuhan memang gemar menguji, seberapa lama yang Dia butuhkan agar aku dapat bertahan.

God please, don’t.

Permukaan air yang tadinya tenang mulai bergoyang. Rasa cemas yang tadinya terbang entah kemana seolah menemukan sarang nya untuk bersemayam. Ilusi datang merasuki, menawarkan kejadian yang belum tentu terjadi. Kemungkinan buruk merebak dalam bayang-bayang. Rasa takut menghinggapi perjalanan menuju empat jam yang mencekam. Aku mulai panik, sepertinya aku benar-benar akan tenggelam.
Aku bohong kalau tidak takut merugi, aku bohong kalau tidak takut sampai nggak mampu membayar gaji. Jujur aku takut bangkrut, aku akan jadi semakin takut jika tiga jam ini terus berlanjut. Dibalik wajah optimis sejujurnya aku mengidap penyakit pesimis yang mungkin akut. Apa kata mereka jika yang kutakutkan terjadi, secanggih-canggihnya bersilat lidah tak dapat mengubah penilaian mereka pada pencapaianku. Aku takut gagal, apalagi kalau sampai disebut pecundang.
Semangatku dulu yang menggebu seperti pedang tajam yang tiba-tiba tumpul. Keyakinan yang sempat lama berkumandang tiba-tiba menghilang ditelan lagu sepi berdurasi tiga jam. Buku-buku tebal berisi teori bisnis, dan cerita-cerita kesuksesan yang menjadi sumber inspirasi seperti sepakat bersembunyi. Mimpiku untuk menjadi orang sukses tiba-tiba lenyap seperti disulap.

Kuperhatikan setiap sudut ruang, nyaris tak ada sedikitpun celah untuk bersembunyi. Aku juga bukan lagi anak kecil yang bisa melarikan diri dari situasi. Saat ini aku lebih membutuhkan seorang design grafis, yang bisa membuatkan aku topeng wajah optimis. Lagu-lagu top fourty yang mestinya menghidupkan suasana justru membuatku tampak semakin bodoh. Tiba-tiba café restoku yang lumayan luas menjadi kian menyempit. Aku berubah menjadi makhluk kerdil yang terhimpit. Ketika akhirnya empat jam berlalu aku betul-betul ingin menjerit.

Oh my God, kemana semua pembeliku ?

+ + + + +


Beruntung masih ada setitik kesadaran. Aku mulai mengkais-kais mencari ketenangan diri. Mencari sesuatu yang bisa aku pegang atau pijakan untuk bersandar, agar tak kian jatuh ke dalam jurang. Kutarik nafas dalam-dalam, kupejamkan mata, aku melarikan diri ke dalam doa. Aku sungguh berharap Tuhan berbelas kasih, berharap campur tanganNya agar berkenan mengubah situasi dan mengembalikan diriku seperti semula. Kepanikan ini sungguh menyiksa. Aku telah kehilangan konsentrasi, aku telah kehilangan diriku.

Tenang, tenang, kataku.

Seusai berdoa, setelah empat jam berlalu tiba-tiba seisi café berseru. Tuhan menjawab doaku dengan cara yang luar biasa, tiba-tiba lampu padam seketika. Aku sempat berlari keluar untuk memastikan tebakanku sendiri. Listrik memang benar-benar mati. Seisi cafe sibuk menyalakan lilin, sekarang café ku benar-benar hening kelabu. Nggak ada lagi lagu-lagu.
Tuhan belum berhenti melucu.

Si ibu tukang masakku menatapku dalam remang gelap, dia mengulangi kata-kata yang sama, “Sabar ya mas, sabar”. Aku menjawabnya dengan senyum meringis, sengaja sedikit lebih lama kuperlihatkan sederet gigiku, atas dan bawah beradu. Entah mengapa, aku mulai merasa yang terjadi saat ini menurutku memang benar-benar lucu.

+ + + + +


Nyaris dua jam listrik mati, belum juga mau menyala. Berarti enam jam sudah cafe ku tanpa pembeli. Aku seperti orang yang melangkah lunglai menuju tiang gantung, menatap pasrah ayunan kapak sang penjagal yang akan memenggal kepalaku.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Andai lampu menyala saat itupun, berarti tinggal satu jam yang tersisa sebelum kututup café ku seperti biasanya.

Habis sudah, aku menyerah.

Batas kesabaran memang milik Tuhan, aku tak kuasa lagi menanggungnya.
Aku mencoba berpaling dari tiang gantung, sedikit tabungan yang kumiliki kuanggap aku masih beruntung. Masih ada cadangan untuk belanja esok hari, aku tak lagi berharap pada hari ini.

Aku berdiri, mendekati lilin berteman pulpen dan secarik kertas. Aku mulai mencatat segala keperluan untuk belanja esok hari. Si ibu tukang masak memberi masukan tanpa beban, seolah meyakini esok hari bukan hari ini. Seolah hari ini nggak terjadi apa-apa, baik-baik saja seperti biasanya. Kali ini aku agak setuju dengannya. Seusai mencatat semua keperluan belanja, si ibu kembali tersenyum, kali ini kata-katanya berbeda, “Ikhlas kan saja ya mas”. Sambil tersenyum aku mengangguk ringan, sepertinya kepalaku tak lagi berbeban.

Kata-kata si ibu tukang masak bak saklar PLN, lampu tiba-tiba menyala. Seperti ketika lampu padam, seisi cafe berseru bersama. Bedanya raut wajah mereka terlihat ceria. Aku hanya tersenyum biasa, nggak lebih dari itu. Tak berharap banyak pada satu jam tersisa. Paling tidak café resto ku kembali hidup, speaker di setiap sudut mulai menyuarakan lagu-lagu pengusir redup. Aku hanya menunggu sampai jam sembilan café ku tutup.

+ + + + +


Aku sedang santai menikmati sebuah lagu, ketika tiba-tiba sebuah kijang innova berhenti di depan café ku. Penumpangnya tujuh orang, semuanya berkunjung dan bersantap malam. Tak lama berselang ada mobil lagi, enam penumpangnya masuk ke café ku, mereka juga memesan makanan. Setelah sempat mati suri, kehidupan mulai menjangkiti café resto ku.
Belum usai pesanan enam orang itu terlayani, dua sepeda motor juga berhenti di depan café ku. Lalu mobil lagi, mobil lagi, dan motor lagi. Lalu entah apa lagi aku sudah nggak tahu, pintu café ku tiba-tiba sudah ramai dengan lalu lalang pengunjung. Seluruh kursi penuh terisi, pembeli yang datang mengalir tiada henti. Tangan tukang masakku bergerak-gerak cepat di diantara kabut asap. Aku ikut sibuk membantu pelayanku mondar-mandir kesana-kemari, sampai tak sempat bertanya lagi, kemana saja perginya para pembeliku selama ini.

Bahkan aku nggak sempat berkata.. akhirnya.


+ + + + +


Kulirik jam dinding, sudah setengah sepuluh, namun pembeli yang datang masih mengalir seperti air. Kehidupan masih berlanjut, seperti tak ada pertanda curahan hujan akan berakhir setelah usai kemarau panjang. Kupanggil salah satu pelayanku, kusuruh menyampaikan pada yang lain kalau malam ini lembur. Pelayanku menjawabnya dengan sangat antusias, kesiapan tergambar jelas pada kejujuran ekspresi wajahnya. Seolah tanpa perintahku mereka tetap akan menjalaninya.
Astaga, ternyata selama ini mereka ikut memikul bebanku.

Kulirik pelayanku satu persatu, termasuk si ibu tukang masak yang tersenyum mengembang sambil menatapku, ternyata selama ini aku nggak sendiri. Tak terbayangkan leganya hati, susah dan senang selalu ada yang menemani. Aku hidup diantara jiwa yang menari-nari.
Aku jadi malu hati karena sempat berpikir selama ini mereka nggak perduli. Bahkan aku sempat berburuk sangka pada Tuhan.
Ya ampun, betapa dangkalnya aku.

Aku mengingkari Maha Pemurah Nya hanya gara-gara beberapa jam yang sepi pembeli. Aku sempat tak percaya dengan Yang Maha Mendengar setiap doa ketika lampu berhenti menyala. Aku bahkan sempat tak percaya dengan Maha Berkehendak Nya ketika tinggal satu jam yang tersisa. Entah apa yang kurasakan saat ini, seharusnya aku bersyukur karena café ku sudah ramai pembeli. Tapi hatiku rasanya malah jadi nggak karu-karuan. Perasaan senang dan bersalah seperti bergumul dalam satu ruang. Rasa manis dan pahit seperti berebut tempat pada lidahku. Aku mencoba mengurainya di halaman parkir sambil menatap langit dan bintang-bintang. Sekali lagi kupejamkan mata, aku berdoa mengucap syukur dan memohon ampunan.

+ + + + +


Tak terbayangkan andai yang terjadi lebih buruk dari itu. Mungkin aku sudah terjerembab ke jurang putus asa, malah bisa jadi aku menjelma menjadi makhluk yang mengkambing hitamkan Tuhan atas semua kejadian. Seharusnya aku lebih percaya dengan semua rencanaNya, tak harus menghitung-hitung waktu, dan tak juga menebak-nebak bagaimana Dia berkerja. Dalam situasi apapun, terutama ketika keinginanku belum terpenuhi. Mestinya aku hanya fokus dengan tujuan, lalu menjalani sebatas kemampuan dan pasrah dengan semua pengalihan Tuhan. Seharusnya aku tahu dibalik sepi ada ramai, dan aku tak perlu harus menunggu-nunggu kapan datangnya. Yang bakal kuterima pasti pengalihan lainnya, yang sudah pasti lebih berat dibanding sebelumnya. Pasti Tuhan menganggapku lebay, karena berlebihan menyikapi ujian yang sebenarnya pengalihan.
Yahhh…memang baru sebatas ini keteguhan Imanku.

Tak terbayangkan untuk hari-hari berikutnya, ujian apa lagi yang kan melanda. Apalagi jika aku berpikir bagaimana nanti ketika aku akan mati, tak terbayangkan kepanikan macam apa yang akan kualami jika tingkat kepasrahanku masih serendah ini. Mungkin aku akan termasuk yang diingatkan lewat degenerasi, yang perlahan-lahan dihabisi atas nama cintaNya.
Ah, kembali ke pemikiran semula.

Tak perlu menebak-nebak. Yang paling menakutkan dalam hidup adalah rasa takut itu sendiri. Semakin besar rasa takut makin berat pula pengalihanNya. Tuhan Yang Maha Mencintai pasti sudah punya rencana sendiri untuk membuatku menjadi lebih baik, selama itu tetap menjadi tujuan hidupku.
Just try to be better in every day, in every second of my life.


+ + + + +


Hampir pukul sebelas malam ketika aku menutup café ku. Semua pelayan sudah pulang, tinggal si ibu tukang masak yang dijemput suaminya yang pensiunan tentara. Sambil berpamitan dia berkata, “Tuhan itu ada kok mas”, tak lupa sebaris senyum terurai dari bibirnya. Kali ini aku tahu, senyum itu datangnya dari surga.
Aku seperti ingin menangis. Hatiku bergetar menyapa udara namun tak kuasa berkata apa-apa. Sedari tadi Tuhan menyapa dan mengingatkan diriku, namun baru sekarang aku menyadarinya. Ternyata Tuhan sayang sama aku, lebih dari yang aku tahu. Menyentuhku, menggapaiku, menggerakkan seluruh piranti semesta untuk diriku dengan caraNya yang tak terjangkau dengan pikiranku. Aku tak bisa menebaknya, dan selamanya tak akan bisa.
Dear God, I love you.




Harapan adalah kekuatan,

namun berharap-harap

sama artinya dengan

mengatur Tuhan




**********************************************************