Saturday, February 27, 2010

TERATAI DI ATAS AWAN

Tabib itu akhirnya terpojok di sudut ruang, semua dindingnya berwarna jingga kemerah-merahan. Meski nafasnya masih tersengal kata-kata dari mulutnya jelas terdengar.

“Siapa sebenarnya kamu, mengapa terus membututiku”

“Aku adalah kamu, aku adalah bayanganmu. Kegelisahanmu mengusik keberadaanku”

“Kegalauanku adalah keterbatasanku pada yang tak bisa disembuhkan, pada mereka yang menggantungkan padaku sejuta harapan”

Bayangan itu tertawa, “Disanalah tahta persemaianku, tempat aku mendengar semua ratapanmu, ruang bagiku memberdayakanmu. Namun kini dirimu membebaniku dengan semua cerita yang tak mungkin kusatukan dalam satu lagu”

Tabib itu terdiam sejenak, menyadari sesuatu telah mengambil alih kegelisahan yang menghantui pikirannya, “Andai kamu benar, andai kamu seperduli itu, kemana mestinya beban itu kualihkan?”

“Saatnya kamu memperbaiki perspektifmu. Menelusuri perjalanan panjang bunga teratai, singgasana jiwamu menari di taman air”

“Genggamlah tanganku, dan pejamkan matamu”

+ + + + +

Ketika membuka mata, tabib itu berada di atas awan berteman sang bayangan. “Inilah negri asalku, tempat terindah untuk melihat lelikuan kehidupan. Lihatlah masa-masa bahagiamu, agar kamu mengetahui hikayat asal muasal dan memahami makna keteduhan”

Dari balik awan sang tabib melihat bayangan dirinya di kedalaman air, tampil perlahan di permukaan. Muncul mengembang tiada tertahan, keindahan sejati lukisan alam. Menggapai mereka yang menderita demi kesembuhan, dari waktu ke waktu sejak dahulu. Dari generasi ke generasi, abadi lestari hingga kini.

Hukum sebab akibat tergelar pada mereka sebelum dan sesudah kesembuhan, mengiringi perjalanan takdir bunga teratai. Hidup dan mati menjadi bagian keberadaannya, bagian dari rencana Yang Maha Besar.

Bunga teratai menyatu dalam tubuhnya, teduh bersinar di kedua bola mata. Menebar pesona keyakinan dibalik senyuman, sentuhan jemari setia melanggam tembang keajaiban.

+ + + + +

“Kapan terakhir kali dirimu melihat indahnya hujan?”

Awanpun menjatuhkan buih-buihnya, jatuh bergemuruh membuyarkan semua keteduhan. Seketika suka cita beralih nestapa.

Dari balik hujan sang tabib melihat dirinya diantara sekian kesedihan, tenggelam diantara isak tangis berpeluh penyesalan. Nelangsa hati meratap panjang tiada berkesudahan, menggapai perasaan bersalah yang menari-nari di sudut ruang ketidakberdayaan. Bunga teratai tak berkenan hadir di permukaan. Sepi sembunyi di kedalaman air, hanya termanggu menanti datangnya panggilan alam. Tiada beda dengan tariannya di alam terbuka, teman sejatinya hanya udara. Takdir berlaku seiring perjalanan sang bunga.

Perjalanan sebab akibat kembali tergambar di permukaan layar, bahwasanya segala sesuatunya telah digariskan. Semua telah berjalan sempurna sebagaimana kehendakNya. Mengusik atau mengubahnya hanya akan mengganggu keseimbangan alam. Merusak keindahan cerita yang telah direncanakan sejak semula.

Hujan tiba-tiba berhenti, sekejap langit beralih senja. Kehampaan diam-diam meraja, saat perasaan di atas perasaan telah berhenti berbicara. Sang tabib terdiam dalam keheningan berselimut ribuan makna. Kini tak ada lagi kegalauan dan tak ada lagi pertanyaan. Yang tersisa hanya jawaban di atas jawaban.

“Itulah dirimu yang sebenarnya, hampa tiada daya. Jalani hidupmu, terimalah panggilan alam padamu. Jadikan dirimu bagian dari permainan takdirNya, kamu akan baik-baik saja.”

+ + + + +

Sang tabib terbangun dari tidurnya. Suara ketukan pintu dari seorang mantan penderita menghentikan mimpinya. Ucapan terima kasih dia terima sewajarnya, senyum tertahan tergambar untuk setiap pujian. Kini tak ada lagi kebanggaan, hanya rasa syukur yang menari di kedalaman hati. Karena dia telah mengerti kemana sebenarnya pujian dialamatkan.

Selebihnya hanyalah keberadaanya sebagai perantara. Cara sederhana menjalani perannya, adalah jalan terindah untuk menikmati permainan takdirNya. Bersama teratai sang bayangan, bergayut mesra mempercantik kehidupan. Sampai pada batas waktu, saat teratai beralih pada yang terpanggil untuk menerimanya. Demikian seterusnya.




Untuk jiwa yang suci,

dalam diri mereka yang terlahir

dan terpanggil untuk mengabdi




**********************************************************


Tuesday, February 23, 2010

THE REQUEST


Raja Langit tengah duduk di singgasana didampingi sepuluh patih yang bijaksana. Dihadapannya berdiri seorang laki-laki paruh baya dengan wajah harap-harap cemas. Kecemasan berselimut ratapan, berhasrat mengungkap kata-kata memohon jawaban.

Setelah membungkuk penuh hormat dia berkata, “Baginda Raja Langit yang bijaksana, aku datang dari tanah yang sangat jauh karena mendengar kemurahanmu yang terkenal di seluruh jagad. Di negriku kecerdasan adalah raja, kebodohan yang menjadi budaknya. Majikan ku sangat kikir, kelebihannya membuat diriku terpedaya. Meskipun aku telah menunaikan kewajibanku, namun dia mengingkari hak ku dengan segala tipu dayanya yang mempesona. Dengan segala kerendahan hati aku mohon perkenanmu untuk hidup di negrimu yang mewakili segala suka cita ini”

Raja Langit tersenyum sambil berkata, “Hiduplah dengan pilihan nasibmu, bernafaslah dengan udaraku, petiklah yang ingin kau petik sewajarnya. Namun jangan lupa untuk menanam benihnya demi kelangsungan hidupmu”

Laki-laki itu membungkukkan tubuhnya sambil mengucapkan kata terima kasih berulang-ulang.

Sang patih pun bertanya, “Paduka Yang Mulia, laki-laki itu baru saja menginjakkan kakinya di tanah ini, mengapa engkau mengabulkan permintaannya?”

“Karena dia datang dengan ketetapan hati, ratapannya nyaring terdengar dari kejauhan. Karena dia bersungguh-sungguh menyebut kemurahanku, andai aku tak mengabulkannya, apa bedanya aku dengan majikannya yang kikir itu?”

+ + + + +

Seorang dengan baju serba hitam dan gerak-gerik laksana pendekar berdiri dihadapan Raja Langit. Dengan nada datar bersamar kesombongan dia berkata, “Baginda Raja Langit, hidupku di negriku bergantung pada patung dan batu hitam yang menjadi sumber kekuatanku. Semua tanamanku tumbuh subur, bertahun-tahun aku hidup dalam kemakmuran. Namun kini istriku sakit dan tak kunjung sembuh, namun patung dan batu hitam itu tiada menunjukkan kesaktiannya kepadaku. Aku mendengar banyak cerita tentang kekuatan dan kedigdayaanmu yang termashur. Dengan segala ketidakberdayaan, aku memohon padamu agar engkau berkenan menyembuhkan istriku. Jika engkau mengabulkan permintaanku, aku akan meninggalkan patung dan batu hitam itu. Aku akan tinggal di negrimu yang maha daya, dan patuh pada semua perintahmu”

Sang patih hendak bereaksi marah mendengar kata-kata tantangan dibalik kesopanan itu, namun Raja Langit mencegahnya sambil berkata, “Bawalah istrimu ke negriku, agar jiwanya bernafas dengan cintaku yang tak terbatas. Istrimu akan sembuh”

Sesudah mengucapkan terima kasih orang itu berlalu, sang patih pun bertanya, “Mengapa Paduka Yang Mulia memenuhi permintaannya, sementara ketinggian hatinya masih mengangkasa”

“Karena dia berada di batas daya, karena dia mencintai istrinya. Andai aku tak menyembuhkan istrinya, apa bedanya aku dengan patung dan batu hitam itu? Biarkan dia belajar sesudahnya untuk mengendalikan kesombongannya lewat pintu keyakinan”

+ + + + +

Tak lama berselang datanglah seorang anak muda dengan penampilan sederhana. Setelah memberi hormat dia berkata, “Baginda Raja yang berkuasa atas semua peristiwa, aku datang hanya ingin bertanya. Banyak sekali kejadian yang tidak aku pahami. Mengapa ada derita jika bahagia tercipta, mengapa ada kematian jika kehidupan terasa menyenangkan. Mengapa orang-orang berduyun-duyun datang padamu dan meminta sesuatu, namun tak seorangpun yang berhasrat menanyakan sebab dari segala sebab? Apa maksud dari semua ini?”

Sang patih hendak bereaksi marah mendengar kelancangan pemuda itu, namun terhenti karena melihat Raja Langit tertawa terbahak-bahak.

“Anak muda, pertanyaanmu sangat sederhana namun tak mudah untuk menjawabnya. Besok aku akan berkeliling negri ini. Ikutlah, duduklah disampingku, akan kujawab semua pertanyaanmu”

+ + + + +

Perjalanan melintas ruang dan waktu telah usai dijalani, tak ada satu sudut negri dan sendi kehidupan yang terlewati. Selama perjalanan tak sekalipun Raja Langit berbicara, namun semua yang diperlihatkannya menaburkan sejuta makna. Semua jawaban telah tersaji dihati si anak muda yang kini telah kembali berdiri di hadapan Raja Langit.

“Anak muda, aku telah memenuhi janjiku. Apalagi yang ingin kau katakan?” tanya Raja Langit.

Sambil mencoba untuk tetap terjaga anak muda itu berkata,”Cinta Baginda Raja sungguh menakjubkan, andai kau tak mencubitku niscaya aku kehilangan kesadaran. Hakekat tentang perjalanan menuju kesempurnaan lewat sekian godaan dan permintaan telah aku pahami. Kini dengan segala kedangkalan yang kumiliki ijinkan aku untuk memohon kesejatian. Aku ingin bahagia diatas suka dan duka, dan aku ingin hidup diatas kehidupan dan kematian”

“Anak muda, engkau telah mengajukan permintaan diatas permintaan, namun sebagaimana yang telah kau ketahui tiada yang tak kukabulkan. Aku berikan padamu sebuah kereta kencana untuk mencapainya”

+ + + + +

Anak muda itu telah duduk di kursi kendali kereta, bersiap memulai perjalanannya.

“Baginda Raja yang penuh cinta, ijinkan aku bertanya untuk terakhir kali. Mengapa kereta ini sedemikian panjang?”

“Penghuni keretamu bukanlah beban, mewujudkan impian mereka tanpa mengetahui keberadaanmu berarti mempermudah tujuanmu. Suka duka mereka adalah penentu keseimbangan, kulminasi tertinggi untuk terbang menggapai harapan. Jangan kau tunjukkan wajahmu, pikiran mereka akan mengingkarimu. Mereka mengikutimu atas panggilan jiwa yang merdeka. Pergilah, berangkatlah, biarkan kereta membawamu ke langit tertinggi bersama nafas kerinduanku”

+ + + + +

Kereta itu pun melaju menembus waktu, merambah awan berarak yang kini tak lagi berjarak. Menguak semesta raya yang tak bertepi, menyingkap tabir menuju mimpi di atas mimpi.

Merangkai imajinasi berteman harapan, mengikis keterbatasan untuk wujudkan impian menjadi kenyataan.




Hanya di tingginya langit,

tempat berpijarnya bintang gemintang

dimana tujuan mulia layak disandarkan

Meski duri sarat berserak di lelikuan

tak selamanya impian hanya impian


Demi menjadi jawara,

pada nantinya




******************************************

Sunday, February 14, 2010

THE SMILING MOON

Di sebuah pemukiman suku indian, hiduplah seorang wanita tua yang dikenal sebagai seorang pendongeng, Dia bernama smiling moon. Konon menurut cerita orang tuanya waktu smiling moon lahir ke dunia, bulan di langit sedang tersenyum menyambut kehadirannya. Setiap malam dia selalu dikelilingi orang-orang, dari kecil hingga dewasa yang mendengar ceritanya dengan penuh seksama. Terkadang mereka tersenyum, terkadang tertawa, dan tak jarang mereka menangis karena mendengar ceritanya yang berkisar tentang makna kehidupan, yang bermuara pada perjalanan hidupnya. Dia melihatnya dari tempatnya kini berpijak, ranah asri yang bijak dimana sejatinya bahagia diatas suka dan duka.

Namun tak ada satupun yang tahu bahwa semua cerita itu adalah tentang dirinya, dan tentang caranya bercerita. Rahasia talenta antara dirinya dengan Tuhan nya.

+ + + + +

Waktu masih muda, smiling moon adalah pusat perhatian. Meskipun tidak terlalu cantik, namun wajah cerianya selalu menarik siapapun yang melihatnya. Dia menaklukan siapa saja, tak seorangpun yang mampu menolak permintaannya. Semua keinginannya terpenuhi, siang dan malam semesta bergerak untuknya.

Hingga suatu hari, ketika sedang bermain di sebuah hutan smiling moon bertemu seorang wanita tua yang dikenal sebagai penyihir. Sosoknya mengerikan, rambutnya panjang dan tak terurus. Dibalik rambut yang menutupi sebagian wajahnya, penyihir itu berteriak dengan suara parau, “Hey wajah pendusta, bercerminlah pada langit. Semua yang ada pada wajahmu memperdayai mereka demi keinginanmu. Penderitaan yang tiada akhir akan menyertaimu seiring waktu. Sampai kamu menemukan makna keberadaanmu bagi yang lain”

Smiling moon berlari ketakutan meninggalkan si penyihir. Semak belukar yang tajam menggores luka tiada terasa. Kata-kata itu hidup menjelma kutukan, dan menguasai semua pikirannya.

Sejak itu semuanya berubah menjadi terbatas, segala keinginannya menjadi sulit terpenuhi. Cinta yang ditebarnya berbalik menyakiti, kasih di sekitarnya berganti membebani.

+ + + + +

Sekuat tenaga tangannya yang angkuh mencoba mengusapi air mata, memaksakan senyuman yang kini tinggal sisa-sisa. Tawanya adalah tangisnya, kata-kata yang lahir dari mulutnya adalah kesepiannya. Hingga akhirnya dia benar-benar sendiri, tersudut tak bergerak dan tak ada lagi ruang untuk menipu diri. Tangisan di kedalaman menjelma jeritan hati.

+ + + + +

Suatu malam smiling moon terjaga dari tidurnya, dilihatnya langit yang berkelap-kelip bermandikan cahaya. Diantara kegelapan malam bulan di langit tengah bersinar menatap dirinya, lekat tegak lurus tepat di di atas wajahnya. Tiba-tiba dia teringat dengan kata-kata si penyihir. Dia melihat wajahnya sendiri di permukaan bulan. Bulan itu tersenyum ketika dia tersenyum, tertawa ketika dia tertawa, dan menangis bersama penderitaan hidupnya. Meratapi kesendiriannya yang mencekam dalam tiada terbilang.

Sejak itu setiap malam smiling moon selalu menanti kedatangan sang bulan, yang telah menjadi satu-satunya teman pengusir kesepian. Yang menjadi guru kehidupan baginya, untuk menelusuri penderitaan di kedalaman hati. Mengurai kesalahan di masa lalu yang menjadi muara segala permasalahan yang terjadi. Mencari jalan keluar untuk kembali, demi memperbaiki kesalahan tanpa harus terhakimi diri sendiri.

Bersama sang bulan perjalanannya berujung di inti rasa. Smiling moon menemukan kesejatian makna bahagia di atas suka dan duka. Dimana tak ada satu katapun yang mampu mewakilinya.

+ + + + +

Semesta kembali bernyanyi untuk smiling moon. Mempertemukan dirinya dengan mereka yang pura-pura bahagia diatas derita. Mereka yang setengah hati mendengarkan kata-katanya. Mereka yang membuang bunga yang dia berikan, yang selalu dipuungutnya kembali untuk dibersihkan dari debu kehidupan. Karena dia percaya, suatu saat pasti mereka akan membutuhkannya.

Bulan telah mengajarkan kepadanya tentang rahasia talenta. Untuk menggerakkan sorot mata dan garis bibirnya. Untuk mengubah-ubah wajahnya seiring suasana. Untuk memperlihatkan wajah kenyang di depan mereka yang masih ingin makan, untuk memperlihatkan wajah segar di depan mereka yang masih kehausan, dan untuk memperlihatkan wajah ketegaran di depan mereka yang tertekan. Semua murni dari hati nurani, panggilan suci dari jiwa yang tersembunyi.

Dia ada untuk mereka, agar mereka bahagia. Meskipun sesudahnya terkadang mereka melupakannya. Karena penderitaan mereka adalah cermin penderitaannya sendiri.

Namun smiling moon tak pernah lagi sendiri, karena bulan di langit selalu menemaninya. Selalu menghiasi parasnya agar tetap elok dan bercahaya di atas panggung sandiwara.




Sejati angat mahir berpura-pura,

namun tak berpura-pura bahagia




**********************************************************