Friday, January 29, 2010

AWAL DAN AKHIR

Anak kecil itu bergerak tanpa berpikir, dia hanya menggunakan rasa, mengolah rasa, atau berpikir menggunakan rasa yang ada dalam dirinya. Permukaan rasa melahirkan naluri yang menggerakkan seluruh anggota tubuhnya. Kedalaman rasa menyuarakan tawa dan tangis yang menjadi bahasa utamanya.

Dia adalah pemenang sejati, karena semua ungkapan rasanya menjadi perhatian semua yang memandangnya. Rasa yang menguasai dirinya adalah bahagia, karena dia menjadi pusatnya, dia berselimut cahaya.

Namun dia tidak tahu, kemenangan ini mungkin hanya sekali saja terjadi dalam kehidupannya. Selanjutnya dia harus berjuang untuk memperolehnya.

+ + + + +

Si remaja mulai mengenal akal dalam dirinya, akal mampu berbicara dengan seluruh anggota tubuhnya. Akal juga yang melahirkan segala keinginan atas masukan dari panca indranya. Ketika mata melihat sesuatu yang indah, akal menghadiahinya keinginan untuk meraihnya. Namun ketika sang akal membisikkan keinginan jatuh cinta, akal mulai tertinggal entah dimana. Ketika cinta datang menyapa, si remaja lebih mengutamakan rasa ketimbang akalnya. Cara berpikirnya melahirkan sikap yang tak bisa dimengerti sekitarnya, karena rasa telah menguasai dirinya. Kesulitan hadir mendera, kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai makhluk hidup tak berjalan sebagaimana mestinya.

Satu hal yang belum dia ketahui, sebenarnya sang rasa mampu menemaninya berpikir andai dia mampu menyikapi rasanya. Namun pasti dia tidak akan perduli meski kebuntuan kian membayangi. Tapi paling tidak dia bertemu bahagia, meskipun tidak bertahan lama.

+ + + + +

Setelah melewati proses yang menyakitkan di masa remaja, si dewasa lebih sering melakukan tawar menawar antara rasa dan akalnya. Dia telah mengerti segala kesulitan berawal dari rasa yang tak terkendali, dan peran sang akal adalah untuk mengimbangi, bahkan kalau perlu mengambil alih kendali.

Dia juga memahami bahwa bahagia bersemayam pada sang rasa, sang akal akan memantik hasrat si dewasa untuk mencapainya. Namun ketika beban hidup kian menghimpit pikirannya, si dewasa mulai meninggalkan rasa nya. Dia semakin sulit bertemu bahagia, makin sering bergumul dengan kesenangan semu yang tak pernah ada habisnya, demi mengimbangi kesulitannya. Bahkan sang akal melengkapi dirinya dengan senjata berupa alasan dalam wujud pembelaan hingga pembenaran diri.

Dia semakin tidak tahu bahwa sang rasa mampu menjangkau akalnya, tidak sebaliknya. Ketika sang akal yang terbatas terbentur pada kekuatan yang jauh lebih besar, si dewasa akan terjatuh, mencari, merengek-rengek, hingga mengkais-kais, melakukan segala cara untuk menemukan rasanya. Karena hanya rasa yang mampu menolongnya, yang masih menyimpan senjata rahasia berupa harapan dan keyakinan.

Sesudahnya, sebagian akan memilih jalan yang sulit, yaitu mencoba menyatukan keduanya. Sedikit yang memilihnya.

Sebagian lain akan membiarkan sang akal kembali menjadi raja atas dirinya, tergoda akan jaring kesenangan yang ditebar sang akal, yang pada akhirnya akan berujung pada kesalahan yang sama. Pilihan kedua adalah yang paling diminati.

+ + + + +

Si tua tak punya pilihan lain, selain kembali berjuang mencari sang rasa karena sang akal mulai menjauhinya. Hasrat tak mampu lagi menggerakkan sekujur tubuhnya. Namun rasa seperti enggan menemuinya lagi, bahkan mengusiknya dengan ketakutan akan kematian dan panasnya api neraka.

Akhirnya hukum alam menjatuhkan vonisnya pada si tua, sang akal mulai sering meninggalkannya, dan hanya sesekali menghampiri untuk sekedar memulihkan ingatan dunianya. Bahkan terkadang si tua telah lupa dengan anak cucunya, apalagi namanya.

Seluruh anggota tubuh kian bergerak semaunya tanpa terkendali, termasuk segala sesuatu yang keluar darinya.

Tiba-tiba sang rasa hadir menghujam dirinya, menikam dalam hingga ke jantung hati. Mengambil alih seluruh daya ingatannya sejak masa kecil hingga dewasa. Semua yang telah direkam oleh rasa tersaji utuh dan jernih dalam ingatannya hingga seluruh kejadian di masa lalu menjelma kemarin hari. Sering kali air mata mengalir membasahi pipi, saat teringat akan segala kesalahan yang pernah dilakukannya. Tak jarang pula dia tersenyum ketika teringat masa-masa bahagia, masa-masa terindah dalam hidupnya. Anak cucunya bersedih karena berpikir si tua sudah gila.

Rasa dalam dirinya ingin berbagi pada mereka, bahwa surga dan neraka sejatinya ada. Namun lidah seperti hantar kelu dan bersembunyi di ruangnya sendiri. Mungkin karena itulah semuanya disebut rahasia, karena surga hanya bagi mereka yang sungguh-sungguh menginginkannya.

Yang bisa dia lakukan hanya menunggu waktunya tiba. Menunggu cahaya yang sering dilihatnya sewaktu kecil menjemputnya.




Kepada yang waktunya berjalan lambat,

dengan siapa pertemanannya ?

Kepada yang waktunya berjalan cepat,

siapa yang melewatkannya ?

Melaju tanpa terasa,

hingga terhenti di depan titik cahaya

saat langit berubah tujuh warna




**********************************************************


Tuesday, January 26, 2010

AKU BAIK-BAIK SAJA

Wajah kota itu masih sama, meski terlihat ada beberapa perubahan namun tak sampai merubah karakter aslinya. Termasuk dialek percakapan orang-orang yang dia dengar sejak menjejakkan kaki di stasiun kereta. Jalan-jalan yang masih basah karena baru saja disiram hujan juga mengisyaratkan bau yang sama. Semua tak ada yang berbeda, tak ada satupun yang asing baginya.

Sesuatu yang dia rasakan berbeda adalah cara kota itu menyambutnya, dia tak lagi merasakan adanya chemistry yang unik seperti kepulangannya beberapa waktu lalu. Jalan-jalan dan bangunan cagar budaya yang dilalui tak lagi memberi salam hangat, mereka semua diam seribu basa. Mungkin karena sepuluh tahun yang dilaluinya di perantauan, kota itu tak lagi menganggapnya sebagai bagian darinya. Dia tidak lagi menemukan kata pulang.

+ + + + +

Rumah itu pun tak ada yang berubah, masih sama seperti setahun yang lalu. Warna temboknya yang mulai kusam, gentingnya yang kuno dan ketinggalan jaman, serta kursi kayu di teras yang mulai rusak dimakan rayap. Semuanya masih gambaran masa lalu yang berjalan mengikuti sang waktu.

Namun rumah itu tak lagi menyambutnya dengan mesra. Tak ada lagi belai sapa yang tersisa, segala kenangan bersama rumah itu telah tersimpan rapi di relung hatinya. Adalah masa-masa indah bersama ayahnya, dan saat-saat terakhir sang ayah menjemput ajalnya di rumah itu. Perasaan sedih, getir dan sekaligus sakral seperti menyatu dalam satu kalbu. Sepertinya kehidupan berusaha menyampaikan kedalaman makna tentang kematian dan segala misterinya.

Sang ayah telah membekalinya dengan pembelajaran yang telah tertanam di kedalaman hati hingga akhir hayat. Kata-kata bijak sang ayah telah menjadi bayangan yang menyertai setiap langkahnya. Semua telah hidup dan bersemayam dalam jiwa. Tak menyisakan sedikit ruang bagi rumah itu untuk menjadi perlambangnya.

Mungkin karena rumah itu tak lagi berpenghuni, mungkin karena rumah itu tak terawat lagi seperti dulu sehingga tak lagi menawarkan kesan kehidupan bagi yang melihatnya. Setiap kamar, semua perabot yang ada sampai foto-foto di dinding tak lagi berbicara. Semuanya diam dan membisu. Membiarkannya sendiri mencari sesuatu yang bisa menemaninya bercengkerama. Namun tak ada satupun yang mengajaknya tersenyum, untuk sekedar mengusik isi hati bahwa kerinduan sejatinya masih ada.

Seperti halnya kota itu, dia tidak menemukan kata pulang.

+ + + + +

Acara selamatan adalah manifestasi keyakinan. Sebuah proses ritual untuk menghantarkan doa, serta bentuk rasa hormat kepada mendiang ayahnya. Dia mengamini pandangan itu, tak ada penolakan sama sekali. Karena untuk itulah tujuan kedatangannya. Dia tak berani lagi bilang kepulangannya.

Pikirannya tak tertuju pada acara yang akan dimulai satu jam lagi. Dia lebih khusuk bersiap menyambut kedatangan saudara-saudaranya. Bersiap menyambut semua pertanyaan sesudah sapa sebagai salam pembuka. Karena mereka semua sudah pasti akan melihat dirinya dari sudut masa lalu. Masa-masa yang sarat dengan sekian kenakalan dan pemberontakan. Ketajaman kata-katanya sebagai usaha pembenaran bertajuk pembelaan diri waktu itu pasti tak ada yang terlepas dari ingatan. Akan ada penilaian serta perbandingan dengan yang lain dibalik pertanyaan. Karena mereka menganggap dirinya pulang, bukan datang.

Tiba-tiba bayangan ayahnya hadir menyapa. Hanya ayahnya yang melihat kebodohannya di masa lalu dari sudut yang berbeda. Dia mengambil nafas panjang. Berusaha untuk tidak menangis.

+ + + + +

Satu persatu mereka datang, sebagian datang rombongan. Demi menjaga tradisi dan kerendahan hati, dia menciumi tangan mereka yang sudah lanjut usia.

“Kapan datang?”

“Tadi pagi pakde”

“Naik apa?”

“Naik kereta” (nggak naik pesawat)

“Sekarang kerja dimana?”

“Di PT Megah Jaya, pabrik sepatu” (sepatunya diekspor lho)

“Di sana tinggal di mana?”

“Kost, sama temen-temen” ( belum punya rumah sendiri)

“Kalo berangkat kerja naik apa?”

“Naik angkot” (belum punya motor, apalagi mobil)

“Sudah ketemu jodoh?” (ini dia)

“Belum bude, mohon doanya” (sudah ada yang ndeketin, tapi suaminya orang) (tapi sekarang sudah nggak gonta-ganti lagi lho)

Dia sempat menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi ayahnya tidak ada.

+ + + + +

Acara itu berlangsung lancar dan khidmat. Sesudahnya mereka semua pulang, namun menyisakan satu pertanyaan.

“Nggak ada rencana pulang dan kerja disini?”

“Sementara belum” (kenapa?)

Sebetulnya ini adalah pertanyaan ayahnya sewaktu masih hidup. Namun sang ayah tak pernah mengutarakannya, tersimpan di dalam hatinya yang sedalam samudera. Dia kembali mengambil napas panjang, lebih panjang dari sebelumnya.

+ + + + +

Dia sudah berada di dalam kereta, pikiranya melayang mengingat-ingat pertemuan tadi. Ada sesuatu yang menakjubkan yang mengendalikan dirinya sendiri. Yang membuatnya tak lagi tergoda untuk menggelar pembelaan dan pembenaran. Dia mampu bertahan karena kata-kata ajaib yang dengan sederhana meluncur halus dan lembut menembus udara. Perahu kecilnya tiada berguncang meskipun dia sama sekali tidak menyentuh dayungnya. Dia sungguh menikmatinya. Sedetik kemudian dia tertawa.

Tak ada lagi hasrat untuk berteriak agar terdengar sampai kolong langit tentang siapa dirinya, tentang sejauh mana pencapaian dan keberadaannya diantara laju semesta. Perasaan terabaikan dan berbeda dengan yang ada justru membuat ketumpulan pedang menjadi berguna. Menyamarkan ketajaman pikirannya untuk makin digdaya. Tak merasa menang, namun tak jua merasa kalah. Dia baru saja memenangkan dirinya sendiri. Sekali lagi dia tersenyum sambil tertawa. Semua menjadi lebih sederhana.

Dia tak lagi tersiksa dengan citranya di masa lalu. Dia juga tak keberatan jika citra baik dan segala tolok ukur kesuksesannya diserahkan pada yang lain tanpa terpaksa. Andai sang sutradara kehidupan berkenan memberinya secuil ruang untuk berimprovisasi, mungkin dia akan berkata, “Aku baik-baik saja beginilah adanya” Kata-kata tak terungkap yang telah menjelma sebuah mantra, yang membuatnya mampu berdiri tegak meski badai menerpa. Dia telah mencoba untuk bersikap jujur pada hatinya. Hatinya yang satu namun melingkupi keseluruhannya, sisi baik dan sisi buruknya.

Lampu kereta telah dipadamkan, dia tertidur dengan segaris senyum dibibirnya.

+ + + + +

Warna merah masih tersisa sedikit melukis langit, matahari masih malu-malu menampakkan dirinya. Kali ini kereta tiba lebih awal, tidak seperti biasanya.

Kata orang kota itu kejam. Tempat sekumpulan hewan bukan manusia, yang akan memangsa siapa saja yang terpedaya. Mungkin kekejamannya itulah yang membuatnya dewasa, yang menjadikannya lebih baik. Senantiasa membuatnya terjaga dari terkaman kelemahan dan ketidakmandirian yang ada di dalam dirinya.

Namun kota itu justru menyapanya dengan rasa. Jalan-jalan dan gedung-gedung pencakar langit seperti menyambut kedatangannya. Dia merasa telah menjadi bagian darinya, bukan sekedar menumpang untuk berkarya.

Bayangan ayahnya hadir kembali. Pesan sang ayah untuk menjunjung langit dimana kakinya berpijak mengusik kedalaman hatinya. Kata-kata itu mungkin sudah sering dia dengar sebelumnya. Namun lewat bisikan syahdu ayahnya kata-kata itu mampu mengalir lembut bersama aliran darah, hingga menggeletarkan sukmanya. Menjangkau keberadaan saat bumi menyapa langit lewat dirinya, menuntun hatinya untuk bertegur sapa dengan sisi maya dari kota itu.

Matanya berkaca-kaca. Kali ini dia menangis sambil mencoba untuk berkata meski terbata-bata, “ibu kota aku pulang”




Untuk mereka,

yang hidup dan bertahan di tanah perantauan

Untuk mereka,

yang sejatinya merindukan kampung halaman




**********************************************************