Sunday, October 31, 2010

IF YOU LEAVE ME NOW


Sendiri di tepi dermaga, menatap laut luas hingga batas cakrawala. Birunya langit sama seperti birunya hati, menyekap kerinduan yang selamanya tak pernah berhenti. Sementara burung-burung camar tersenyum menyeringai, mengusik kepedihan yang tak akan pernah terwakili. Sungguh tawar wujud kearifan, semua terasa datar di permukaan. Meski semerbak angin laut kian menusuk hidung, bahagia dan sakit hati mesra bersanding di tahta keseimbangan.
Kini tak ada lagi yang tersisa, semuanya telah jelas makna. Karena cinta telah menemukan jalannya. Bukan untuk siapa-siapa, melainkan untuk cinta itu sendiri. Cinta telah utuh tanpa harus terus disentuh. Tiba waktunya untuk mengembalikan cinta pada pemiliknya, melalui mereka yang membutuhkanNya.
+ + + + +
“Wahai bulan di atas sana, dua kali dirimu meninggalkan aku. Mengapa harus dua, bukannya satu ? Adakah yang berikutnya ? Masih adakah hikmat cinta yang belum dibagikan untukku melaluimu ? Sungguh tega dirimu, betapa beruntungnya aku. Kekejamanmu membangunkan setiap sisi alam bawah sadarku. Membuka pintu hatiku untuk pertama kali, sebelum mempertemukanku dengan cinta-cinta lain yang juga tak pernah bisa aku miliki. Hingga akhirnya aku bisa bermain-main dengan malaikatNya di taman hati. Demi menyelami kedalaman para pemilik jiwa yang terberkati. Lewat semua bunga liar di tepi jalan, yang semoga telah usai kurapikan untuk mempercantik kehidupan.
Mungkin akan berbeda jika aku diijinkan bermesra-mesra di atas awan dengan dirimu lebih lama, membelai wajah eksotismu bersambut hangat pelukan. Menyanyikan lagu-lagu cinta yang tak ada habisnya, seiring jemariku menari-nari di atas dawai gitar tua. Sementara dirimu sibuk sendiri membaca bait-bait puisi, berdesah lembut menyentuh setiap jengkal belahan bumi. Mengurai keajaiban cinta lewat makna demi makna, membasuh kemurnian jiwa dalam buaian semesta. Namun selanjutnya tetap sama juga, takdir tak pernah menawarkan kisah yang berbeda. Akhirnya gerimis hadir juga mengawali tangis. Mengairi sungai-sungai hingga ke samudera cinta, menebar kepedihan hingga ke ujung dunia. Meratap-ratap pada sinar mentari, menunggu panggilan langit untuk kembali ke dekapanNya.

Yang Maha Cinta tak akan pernah mengijinkan para hamba mabuk cintaNya, bahwa sakit hati tak perlu di tebar di setiap pelataran jingga. Cukup kita berdua yang mewakilinya, agar yang lain bahagia sewajarnya. Tanpa mereka harus tahu darimana asalnya wangi bunga.
Oh bulan di atas sana, kini aku tak lagi memiliki kata mengapa. Karena sekelumit kehadiranmu telah memperjelas segalanya. Meski dirimu tak sepenuhnya menyadari arti keberadaan diri, namun keindahan senyum mu sudah cukup bagiku untuk melihat indahnya kehidupan. Binar matamu sudah menjawab atas semua pertanyaan. Kehidupan adalah kehidupan. Ada arti dibalik arti, ada makna di atas makna. Ada hidup namun ada sejatiNya hidup. Betapa naifnya aku jika masih mempermasalahkan segala kesombongan dan kepura-puraan, selama kerapuhan dapat tersimpan rapi di kedalaman. Betapa bodohnya aku jika masih memuji dirimu setinggi langit, selama makna perantara masih dekap erat pijakan bumi. Biarlah semuanya tetap menjadi rahasia, aku akan setia menyambut semua kata-kata bersayapmu dengan degup jantung dan segaris senyuman. Aku hanya berusaha meletakkan cinta pada tempatnya, di relung hatimu yang paling dalam. Cinta yang pernah memporak-porandakan semua logika agar aku bisa melihat kehidupan dari sisi yang berbeda. Cinta yang pernah menjembatani semua perbedaan agar aku tidak mengingkari namun menyikapinya. Cinta yang aku ingin sekali dirimu bagikan sebagai jalan berkat bagi mereka yang membutuhkan. Hatiku sungguh seluas samudera dan seluas jagad raya, bawalah dan bagilah sesukamu. Dirimu akan menyaksikan keajaiban demi keajaiban yang mereka sebut serangkaian kebetulan. Karena keajaiban telah ada dalam dirimu. Selama Yang Maha Hidup masih berkenan menafasimu.

Cinta tiada pergi, kupu-kupu selalu setia menyambangi bunga demi bunga. Sebagaimana harapanku ketika langit mengembalikan dirimu dengan caranya sendiri. Kini untuk yang kedua, ijinkan aku melepasmu dengan cara yang berbeda. Aku tak akan memaksa hatimu untuk selalu berpaling padaku. Karena hatimu milik Yang Maha Agung, yang suatu saat nanti akan mempersatukannya dengan hatiku di depan altarNya. Tak seperti dulu ketika bunga-bunga melayu melihatmu berlalu, kini langit bercahaya dengan pijar warna-warna. Cinta telah melengkapi dirimu dengan dua sayapnya, bahagia dan sakit hati. Biarkan semuanya mengalir dengan lebih sederhana. Tanpa harus menggores luka baru di kanvas kalbu. Untuk mengurai satu demi satu sisa-sisa keangkuhan diri di perjalanan waktu. Terbanglah tinggi sesuka hati, semoga sayapmu telah sempurna.

Bulan oh bulan, wujud seperempatmu menyungging senyuman. Biarkan cinta selamanya hidup, mencintaimu sampai mati lewat jalan mendaki anak-anak tangga biji sesawi. Agar suatu saat nanti bisa menjadi bintang gemintang, bersanding denganmu di tingginya langit. Bersama berbias cahaya di kegelapan malam, menghiasi kehidupan di alam keabadian”

+ + + + +

Dermaga itu tak lagi sepi, mentari perlahan-lahan mulai meninggi. Lalu lalang manusia kian riuh di hadapan, namun rasa sendiri masih bergayut menari-nari. Kehidupan telah kembali berjalan seperti biasa, menggelar permainan takdir di atas panggung sandiwara. Nyanyian cinta di padang rumput tak lagi terdengar, namun Sang Gembala Agung akan selalu meminjamkan telingaNya di kejernihan hati. Untuk mendengarkan denyut nadi kita sendiri, yang akan selalu merindukan cinta sejati.


Selamat jalan cinta





**********************************************************

Friday, October 22, 2010

JANGAN TAKUT GELAP


Seorang pedagang kelontong sedang termenung sendiri di ruko kontrakannya. Sepinya pembeli dari waktu ke waktu semakin terasa menyesakkan dada. Seluruh elemen penentu situasi sudah dia pelajari jauh-jauh hari, termasuk segala hal yang mempengaruhi daya beli. Suara jeritan pedagang lain juga sudah dia dengar, cerita-cerita kesuksesan pun masih jelas terngiang-ngiang. Namun itu semua kini tak membantunya, jelajah pikirannya sudah tak tentu arah. Tak ada satupun yang memberinya sedikit ruang untuk sekedar menghela nafas. Tak ada lagi segaris senyum, dahinya tak henti berkerut, semangatnya tinggal sisa-sisa. Asa kian terbenam dalam lautan keluh.
Segala skenario telah dia siapkan untuk menyikapi berbagai kemungkinan yang terjadi sebagai konsekuensi. Namun tidak untuk kali ini. Sewa ruko yang kian meninggi, harga barang yang semakin tak terbeli, kebutuhan rumah tangganya yang tidak sedikit, semua berbalik arah menghantamnya bertubi-tubi. Dia tak kuasa lagi menanggungnya seorang diri. Terhimpit di dinding pembatas, dan berharap dinding itu berubah menjadi ilusi tiga dimensi. Agar dia bisa menembusnya untuk melarikan diri dari situasi.
Di tengah kegelapan malam, setiap usai satu hari yang terlewati, dia selalu bertanya pada diri sendiri, “Bagaimana dengan esok hari ?”
+ + + + +

Seorang karyawan perusahaan swasta sedang bermuram durja. Hatinya sedih berbalut nelangsa. Rentang manajemen yang sedemikian lebar membuat keberadaannya semakin terasingkan. Rekan-rekan sejawat yang berlomba-lomba mencari muka sang atasan memaksa dirinya semakin terpinggirkan. Sang atasan kian hari kian subyektif, terjerat manis muka tanpa kesungguhan karya. Semua kebijakannya hanya bertumpu pada rasa suka dan tidak suka. Kesalahan para penjilat sangat mudah terampuni, sementara kesalahannya yang sedikit bersambut kemarahan berapi-api. Semangatnya kian memudar, dia hanya berharap malam berjalan lambat tanpa harus cepat-cepat berganti pagi.
Rasa tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga telah beralih menjadi beban. Kewajiban menafkahi dan keinginan melarikan diri dari situasi tiba-tiba menjadi sebuah pilihan. Masa-masa disaat menjalankan semua tanggung jawab tanpa perasaan terbebani telah terlupakan. Pekerjaan dan keluarga menjelma dua dinding tebal yang menghimpit dirinya, kian hari kian sedikit udara yang tersisa. Bayangan buruk tiada henti menyertainya. Menguasai setiap sudut ruang pikirannya dengan pertanyaan yang sama, “Bagaimana dengan esok hari ?”
+ + + + +
Saat mendung terlihat semakin pekat, siapapun pasti berpikir akan terjadi hujan. Sungguh tak terbayangkan bila disaat itu seseorang sedang berada di sebuah tanah lapang yang luas tanpa satu pun pohon untuk berlindung. Ketika kegelapan datang mendekat, kemana manusia akan berlari jika tak terlihat setitik cahaya ? Dimanakah cahaya di saat-saat yang paling dibutuhkan ? Apakah Tuhan Yang Maha Kasih pernah mengingkari umatnya ?
Di tengah kegelapan para penyambung lidahNya selalu berusaha mengingatkan untuk tetap bersabar, bahwasanya kemenangan sudah dijanjikan. Dan hanya kepada manusia kemuliaan yang sesungguhnya diperuntukkan. Sementara Tuhan di atas sana terkenal sangat gemar menguji kesungguhan iman umatnya.
Namun ketika kegelapan kian menyiksa, tak sedikit yang mengabaikan semua peringatan. Karena merasa telah melakukan segala yang diperintahkan, namun tak kunjung mendapat jawaban. Selanjutnya mereka mulai menanyakan batas kesabaran. Bahkan tak sedikit yang terjerumus menyangsikan kebesaran hikmah dari sebuah kesetiaan akan Tuhan. Seolah-olah bukti-bukti kekuasaanNya yang telah dibuktikan para Nabi masih belum cukup bagi manusia yang hidup di jaman terkini.
Sejatinya seseorang akan terhindar dari hujan atau akan menemukan sebuah pohon rindang untuk berlindung, apabila terus berjalan tanpa sekalipun berpikir kapan hujan akan datang membasahi dirinya. Seseorang akan melihat terang cahaya jika tak melarikan diri dari kegelapan tapi justru menghadapinya. Sebagian yang telah membuktikannya sering dijumpai sebagai pembawa kisah kesaksian. Mereka yang telah menemukan dan membuktikan hikmah kesetiaan setelah melewati setiap cobaan. Mereka yang telah mengerti bahwa sikap sabar sesungguhnya mempercepat pekerjaan Tuhan, dan hanya Tuhan yang maha tahu letak batas kesabaran.
Untuk alasan itulah para Nabi dijadikan sebagai yang terpilih, sebagai saksi akan keagungan kasih sayang Tuhan dibalik serangkaian ujian. Kisah-kisah inspiratif yang tak lekang oleh jaman, karena ujian yang diperuntukkan bagi mereka sungguh maha dahsyat. Jauh melebihi yang dibebankan pada manusia di jaman terkini yang lebih suka mengeluh sebelum dipaksa menerima dan menelusurinya.
Kisah-kisah perjalanan spiritual yang luar biasa, yang abadi hingga mampu melintasi sekian generasi. Yang sejatinya menyampaikan pesan agar manusia tak mudah menyerah, atau tidak mudah berpikir untuk menyerah. Tak hanya menunggu-nunggu hingga kegelapan itu benar-benar datang. Namun dengan gagah berani menghadapinya tanpa rasa takut. Berusaha berpikir tentang sesuatu yang baru, untuk melakukan hal-hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Agar menjadi lebih baik, menjadi manusia yang ber-Tuhan, yang tak pernah takut dengan semua perubahan. Karena sebenarnya kegelapan bukanlah ancaman, melainkan panggilan alam untuk menyikapi perubahan. Sementara manusia sendiri tak pernah menyadari, bahwa tempat lamanya berpijak semakin lusuh dan sarat dengan duri-duri yang berserakan. Ruang dan waktu akan selalu berganti, sudah selayaknya manusia tak mudah berpuas diri. Sekedar bertahan dengan beradaptasi dengan perubahan adalah tidak sama. Berpulang pada pilihan manusia, untuk sekedar mencari sebatang pohon untuk berlindung atau mencari hutan belantara yang sarat dengan pohon rindang dan hijau dedaunan.
Ada sebagian kecil diantara mereka yang lebih suka mencari lahan subur untuk ditanami. Meski dalam penantiannya yang panjang, sebelum tanamannya tumbuh menjadi pohon besar mereka rela bermandi terik matahari dan berhujan-hujan bersama Tuhan.



Keadaan dan perubahannya
adalah permainan Tuhan
Sikapilah,
bermainlah bersama Tuhan,
jangan main sendirian,
dan jangan main-main



**********************************************************