Wednesday, April 21, 2010

KETIKA MENDUNG DATANG LAGI

Siang itu terasa sangat terik, panasnya sinar mentari seperti sedang bersemangat membakar hari. Semilir angin yang datang sesekali sudah tak terasa lagi. Pohon-pohon rindang yang bertebaran menawarkan keteduhan sudah tak menggoda hasratnya. Kelelahan telah membuat wajahnya berpeluh keringat, seiring langkah kakinya yang kian memberat. Akhirnya dia tiba di depan sebuah telaga, tempat yang paling dia cari untuk mengobati rasa dahaga. Namun dia terkejut dengan apa yang dilihatnya di permukaan air. Dia mendapati dirinya ada tiga, ada dua lagi yang mirip dengan dirinya. Satu di sisi kanan, satu di sisi kirinya. Siapa mereka ?

+ + + + +

Ketika menoleh ke kanan dan ke kiri mereka tak ada, ketika dia berteriak pada permukaan air mereka diam saja. Dia kembali seorang diri, menekuri perjalanan panjang hidupnya yang sarat lelikuan. Dirinya yang kini letih dan berbeban, yang hanya bisa mengkais sisa-sisa asa dan harapan. Air satu telaga ternyata tak membuat dirinya berhenti kehausan. Jangankan berpikir tentang esok hari, sedetik yang berlalu adalah misteri yang tak mudah untuk diselami. Hela nafas panjang hanya terdengar di waktu malam. Saat doa syukur dipanjatkan setelah satu hari yang terlewati. Selanjutnya kembali tak jelas lagi, masa depan yang menawarkan berjuta kemungkinan kembali menjadi misteri. Dia kembali kehausan di setiap detiknya, kembali mencari setetes hikmah di setiap nafasnya. Merangkainya dengan seuntai benang merah lewat semua peristiwa, yang telah berjalan sejak awal peradaban hingga akhir kejadian. Tak hanya untuk dirinya, melainkan bagi siapa saja yang sudi mendengar tarian lidahnya.

Tiba-tiba dia melihat lagi sisi kirinya yang kini nampak nyata. Belum sempat dia berkata-kata awan pekat telah berkumpul tepat di atasnya. Mendung datang tanpa diundang, menebar kegelapan di setiap permukaan singgasana jiwa.

+ + + + +

Sekejap dia lupa dengan kerongkongannya yang mengering. Dia tak perduli lagi dengan jiwanya yang dahaga. Betapa sedikit buah-buahan yang dapat dipetik, tak sebanding dengan biji-bijian yang dia tanam di setiap tanah lapang. Satu periuk ternyata tak penuh terisi beras, meski benih padi telah dia sebar hingga setiap sudut sawah ladangnya.

Kedua matanya terbuka melihat kekeringan yang terbentang dihadapannya. Semula yang terlihat ada menjadi tiada. Ternyata dia tidak memiliki apa-apa. Dia hanyalah kemiskinan diantara jagad semesta yang kaya raya. Sejauh perjalanan yang ditempuh hanya melahirkan perasaan kecewa. Nyanyian putus asa perlahan-lahan mulai meracuni aliran darahnya. Kata-kata bijak seperti lari sembunyi, namun dia sendiri tak berhasrat untuk mencari. Beban yang semestinya tak sampai penuh sekarung mendadak terasa seperti segunung. Ketenangan diri yang hanya sesekali terhabisi oleh tuntutan berpikir ribuan kali.

Dia mulai bosan untuk berbicara, baginya saat ini adalah waktunya bermanja-manja. Berharap pada siapa saja yang mau mendengar keluh kesahnya. Dia tak ingin lagi berpikir perduli, kemilau bintang di waktu malam sudah tak mampu menghibur diri. Burung bangau sudah enggan terbang, karena kepak sayap indahnya terhalang oleh ribuan ilalang. Setiap tarikan nafasnya kian terkontaminasi nada-nada ancaman. Menjelma kepanikan yang bersemayam di setiap debar jantung.

Dia pun ingin segera berlari meninggalkan dirinya sendiri. Berharap bertemu dengan seorang tukang sihir yang bisa menyulapnya menjadi seorang putri dengan tujuh kurcaci. Tapi ternyata keberanian pun dia tak punya lagi, meski jemarinya telah tertata rapi diantara gigi. Untuk menangis pun dia sudah lupa caranya. Untuk mewujudkan amarah dia juga sudah tak ingat prosesnya.

Hembusan angin telah membawanya ke batas daya. Perasaan kosong dan hampa telah menguasai sekujur tubuhnya. Hampir mirip dengan orang gila, namun dia tidak kehilangan kemampuan berpikirnya. Dia masih bisa membedakan warna. Wangi melati masih mampu terdeteksi hidungnya. Kicau burung di pagi hari masih terdengar jelas di kedua telinga.

Di saat bersamaan sisi kanannya muncul kembali. Datang dengan sendirinya setelah dia tak lagi ingin mencari. Dia kini tak lagi sendiri, dua orang yang serupa telah mengapit dirinya. Anehnya dia kini justru merasa dirinya seolah tak ada. Terkuasai oleh dua bayangan yang berada di kedua sisinya. Hiruk pikuk semesta sekejap berubah menjadi sayup-sayup, menjelma sebuah ruang kedap suara. Hening sepi mencengkeram bumi tanpa menyisakan sedikit distorsi. Kedua bayangan itu seperti telah bersiap menyambut semua pertanyaannya, jeritan suara yang ada di setiap ruang benaknya.

+ + + + +

“Bukankah sudah kulakukan tugasku?”

“Sudah” jawab si kiri

“Belum seutuhnya” jawab si kanan

“Kamu sudah melakukan banyak hal bagi yang lain” kata si kiri

“Sebagian besar hanya untuk dirimu sendiri” kata si kanan

Kata-kata si kiri tidak cukup menghibur diri, kata-kata si kanan bak palu godam yang sedang dijatuhkan.

“Masih panjangkah perjalanan? Mengapa tak segera diakhiri saja, mengingat diriku yang kini sudah tiada daya?”

“Kematian bisa terjadi dengan banyak cara” kata si kiri

“Menginginkan kematian dengan merindukan kematian adalah berbeda” kata si kanan

“Terbitkan keinginanmu” pinta si kiri

“Tetapkan tujuan hidupmu” pinta si kanan

“Akan kuubah semuanya menjadi hutan belantara yang maha kaya, agar kamu bisa bersenang-senang demi kepuasanmu” janji si kiri

“Aku akan tetap memperlihatkan padang pasir, agar kamu tetap kehausan demi tujuan muliamu” janji si kanan

Tiada hentinya dia menoleh ke kiri dan ke kanan, hingga akhirnya terjebak dalam alam kebingungan yang mencekam. Kemanapun dia berpaling akan selalu dihujani kata-kata, seiring pertanyaan yang tak ada habisnya. Kedua bayangan itu saling memaksa berebut ruang dalam dirinya. Ketiadaan diri seiring waktu semakin menyesakkan dada. Dengan susah payah dia mencoba menghirup nafas yang kini sepertinya tak ada. Mencoba menarik udara setelah sekian waktu menjadi bagian darinya. Untuk sekedar membuktikan pada diri sendiri bahwa dirinya masih ada. Seketika kedua bayangan itu menghilang, seiring dia merasakan halus lembut udaraNya.

Kali ini dia melihat langit lebih lama, mencari segala sesuatu yang melebihi kata-kata. Betapa menelusuri diri tanpa campur tanganNya membuat segalanya kian membingungkan sekaligus menakutkan. Betapa ilusi yang berbeda tipis dengan imajinasi bisa sangat menyesatkan. Hingga kewaspadaan mudah berganti kekhawatiran yang berlebihan.

Mereka berdua memang diciptakan untuknya, namun dia tidak ingin memilih salah satu dari mereka. Dia percaya pada kekuatan langit yang mampu menyatukan keduanya, lewat ucapan salam tuntunan Yang Maha Cinta. Hanya semesta yang tahu bayangan mana yang menjadi temannya sesuai ruang dan waktu.

Dia ingin berada di hutan belantara demi kebutuhan sebuah sarana. Dia juga ingin berada di padang pasir untuk tetap terjaga. Agar bisa memilih sarana yang tepat bagi tujuan hidupnya. Adalah tidak mungkin memutuskan tangan kiri, sama artinya dengan melukai diri sendiri. Tanpa saranaNya dia tidak akan sampai kemana-mana. Dia pun akan terjebak pada keinginan yang tak ada habisnya jika mengingkari tangan kanannya. Hidup terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja. Untuk menjalani apa adanya sesuai batas kemampuan tanpa khawatir pada hal-hal yang belum pasti terjadi. Agar rencanaNya yang misteri tetap utuh terjaga. Tangan kiri di saku celana sementara jari tangan kanan menjepit sebatang rokok seperti kata alanis morisette adalah cara sederhana dalam menyikapi keinginan dan tujuan hidupnya.

Tak ada lagi alasan untuk merasa sendiri, Yang Maha Agung akan selalu mempertemukannya dengan seseorang yang lebih mengenal siapa dirinya, selama diri perduli membangun kerendahan hati. Seseorang di kejauhan yang terikat oleh jiwa akan selalu turut serta memikul deritanya lewat kekuatan cinta. Meski mereka tiada tahu dari mana datangnya kesedihan yang tak beralasan.

Dia tak tahu mendung ini akan seberapa lama. Berharap-harap segera pergi hanya akan membuatnya kecewa dan berujung putus asa. Mendung akan selalu datang dan datang lagi agar dirinya sibuk berbenah diri. Untuk bisa menikmati hidup sebagaimana adanya, tanpa harus tertawa dikala suka dan meratap-ratap diatas derita. Seperti duduk beristirahat di kursi seusai berupaya, berteman secangkir kopi sambil menanti sinar matahari datang kembali.




Selama hati bernyanyi

untuk menghibur Sang Raja,

dayang-dayang akan sibuk

menyiapkan hidangan di atas meja


Adakalanya Sang Raja bermuram durja,

namun mendung tak akan berlaku selamanya

Mentari akan selalu datang kembali

walau terkadang hanya sesekali




**********************************************************

No comments: