
Tak selamanya air mengalir
menuju samudera
Sebagian hanya terhenti di rawa-rawa
dan tak bisa kemana-mana
Hanya langit luas yang mampu
menyatukan mereka
Selama matahari masih setia
menyinari bumi
Langkahnya kian melambat sebelum akhirnya benar-benar berhenti. Guratan ekspresi tak percaya tergambar pada wajahnya. Jalan itu ternyata berujung dinding bebatuan, sama sekali tak menyisakan jalan lain sebagai pilihan. Hanya berdiri terpaku, sejauh perjalanan ternyata hanya berakhir di jalan buntu. Beban di pundaknya kian terasa memberat, seiring sakit hatinya yang seiring waktu semakin bersayap. Dia tidak tahu harus marah atau kecewa. Untuk kesekian kali dia merasa seolah semesta sedang mempermainkannya.
Tak ada jalan melingkar seperti yang ada di benaknya. Tak ada jalan pintas seperti yang tergambar dalam imajinasi visualnya, yang menjadi titik temu antara keinginan dengan ridhaNya. Di depan matanya semua masih terlihat gelap gulita. Sementara di belakangnya mendung masih setia bergantung. Untuk terus melaju dia merasa semakin tertinggal oleh waktu. Sampai detik itu alam pun tiada memberikan sedikit kekuatannya untuk dijadikan sekutu. Bukan untuk menggelar sekian janji-janji manis sebagai pelengkap cerita, melainkan hanya sekedar untuk memberinya sedikit ruang gerak untuk bernafas. Agar dia bisa bermesra-mesra dengan sang jiwa, demi satu cinta yang tersisa dalam dirinya.
Batu karangnya masih jauh dari sempurna. Jubah perangnya pun tak lagi utuh, telah terkoyak-koyak disana sini setelah dihempas sekian prahara. Apakah semesta tidak perduli dengan jeritannya ? Apakah Tuhan tak mendengar keluhannya ? Apakah masih tersisa sekelumit dendam pada masa lalu di setiap nafasnya ?
+ + + + +
Akhirnya dia tertidur di tengah jalan tanpa tahu penyebabnya. Entah karena kelelahan atau kebimbangan, atau mungkin karena keduanya. Nyanyian putus asa pun bukan lagi sesuatu yang baru baginya. Dia hanya ingin mengendurkan syaraf-syarafnya setelah setiap detik sibuk bekerja mengalirkan darahnya. Untuk sekedar menikmati indahnya kematian walau hanya sementara.
Dia sudah tidak perduli dengan tubuhnya yang terbujur di tengah-tengah jalan. Toh jalan itu sepi dan bukan persimpangan, pasti tak bakal ada yang berlalu lalang. Mungkin semua orang sudah tahu kalau jalan itu buntu. Mungkin hanya dia satu-satunya yang tidak tahu. Sesungguhnya jalan itu hanyalah manifestasi dari keyakinannya, wujud nyata dari alam imajinasinya. Atau mungkin bisa juga dikatakan sebagai hasil dari coba-coba. Dia pun tertawa, setidak-tidaknya cita-citanya untuk menjadi berbeda telah terlaksana. Sungguh tipis perbedaan bodoh hidup dengan bodoh dunia. Tapi dia sama sekali tidak keberatan dengan pilihan istilah yang dilekatkan kepadanya. Dia tertawa lagi, kali ini jauh lebih panjang dari sebelumnya. Dia tertawa sepanjang tidurnya.
+ + + + +
Dia terkejut ketika terbangun tidak berada di tempat yang sama. Jalan berujung bebatuan dan awan pekat yang mengikutinya sudah tidak ada. Dia kini berada diantara jutaan orang yang sarat dengan keriuhan. Mereka semua tenggelam dalam sorak sorai penuh kebisingan. Semua mata tertuju pada sebuah panggung besar, menikmati aksi seseorang dengan jantung penuh debar. Tak hanya suaranya, setiap gerak tubuhnya menebar daya pesona yang luar biasa.
Namun dia diam saja, nyaris tak bergeming tanpa suara. Merasakan kesendirian yang mencekam ditengah-tengah keramaian. Entah mengapa dia merasa biasa saja dengan yang dilihatnya. Menurutnya yang memikat bukanlah sang penyanyi, melainkan bakat yang mengalir dalam aliran darahnya. Bakat sebenarnya pun baginya bukanlah menyanyi, tapi menghibur orang lain lewat suara dalam titian nada. Dia justru merasa iba pada sang penyanyi, andai semua tipu daya itu benar-benar menenggelamkan dirinya lewat sanjung puja.
Hanya dia yang terpaku tak bergerak, takjub menikmati keindahan yang sesungguhnya. Panggung besar itu adalah masa lalunya. Puji puja baginya adalah lambang pengakuan, awal dari ujian yang pernah membawanya ke dalam jurang. Ketika tubuhnya terjatuh kedalam kubangan lumpur karena ditinggal cahaya.
Dia menundukkan kepala, mencari sepijar cahaya yang masih tersisa dalam dirinya. Seketika langit berubah warna, saat dia menengadah telah berada di tempat yang berbeda. Masih diantara jutaan orang, namun situasinya tak lagi sama. Dia tenggelam diantara hiruk pikuk jerit makian dan sumpah serapah. Sekumpulan orang yang merasa dirinya kalah, atau mungkin lelah setelah sekian lama harus terus mengalah. Sama-sama mencari sasaran yang bisa dijadikan pengalihan beban. Untuk bertanggung jawab atas segala kesalahan dari semua kejadian. Kali ini dia bersama yang lainnya yang berada di panggung besar. Namun di bawah panggung tak ada satupun yang perduli, apalagi tertarik untuk menikmati. Tak ada satupun keindahan yang bisa di dengar atau disaksikan. Hanya sebuah potret suram dari sekumpulan orang yang menyanyikan tembang kegagalan.
Panggung besar itu adalah masa depannya. Sibuk mencari kambing hitam untuk dipersalahkan adalah awal dari kejatuhan yang sesungguhnya. Dia ingin segera beranjak dari tempat itu. Sebelum dia yang akan dijadikan sasaran caci maki, karena diantara mereka pasti tak ada satupun yang bersedia. Sebelum cahaya diatas cahaya betul-betul meninggalkannya. Sebelum kegelapan melukainya dengan goresan tajam yang melebihi tusukan seribu pedang.
+ + + + +
Semilir angin membangunkannya dari mimpi. Dia tak lagi tertawa seperti awal tidurnya. Alam imajinasi telah memberi pesan kepadanya bahwa kekeliruan penyikapan pada masa lalu bisa membawanya ke masa depan yang menakutkan. Dia masih berada di jalan yang sama, namun dia tak lagi melihat jalan yang buntu. Bahkan kali ini dia tak lagi bisa melihat apa-apa. Mendung yang sebelumnya membayangi telah menutupi seluruh pandangannya. Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah kegelapan. Dia sudah tak lagi berpikir tentang panggung besar, dia pun telah bosan dengan semua pujian. Baginya kehidupan adalah panggung yang sesungguhnya. Yang lebih menuntut tentang makna keberadaan diatas semua pengakuan. Meski berarti tanpa diakui terasa menyakitkan, baginya masih jauh lebih baik dibanding derita panjang. Dia pun tak butuh lagi orang lain untuk dipersalahkan atas segala kegagalannya di masa lalu. Meskipun dia juga tidak tertarik untuk menghakimi dirinya sendiri. Hanya dia lah yang harus bertanggung jawab atas hidupnya sendiri.
Dia melangkahkan kakinya dalam gelap, tak jelas arah di tengah mendung yang kian pekat. Semesta bak memberinya kaca mata kuda, agar dirinya lebih melihat sisi yang ada di depannya. Inkonsistensi bisa jadi bermuara dari multitalenta. Sebuah kebiasaan memaksakan diri di setiap tanah ladang, yang hanya akan berujung pada sedikit biji-bijian yang tertanam. Masa panennya sudah pasti tak bisa diharapkan.
Jalan buntu bukanlah akhir atau ujung kesalahan dari sebuah pilihan. Hanya sebagai bagian dari perjalanan yang harus dilewati. Demi langkah berikutnya yang tak lagi terlihat pasti. Karena kepastian telah menjelma dalam nyanyian keyakinan yang tersimpan rapi di kedalaman hati.
Dia hanya mengikuti panggilan jiwanya, karena semua arah baginya sama saja. Namun sama sekali tidak meraba-raba. Hati telah menjelma dalam wujud sepasang mata dan kedua kakinya. Hanya satu tujuannya, bejana sederhana yang mampu menampung pijar cahaya. Secuil ruang bagi dirinya untuk berkarya, karena dunia terlalu sulit menerima orang-orang yang berbeda. Dia berbisik mesra kepada langit yang kini tak mampu lagi dilihatnya, “Aku ingin pulang”
**********************************************************


No comments:
Post a Comment