
Angin berhembus kencang di penghujung musim dingin, menyibakkan bulu-bulu di sekujur tubuhnya yang masih perkasa. Sementara hawa dingin terasa menusuk hingga ke tulang-tulang sayapnya yang kian letih. Menembus kedalaman hati menjangkau perih. Namun laju usia bak berbanding terbalik dengan bahasa sukmanya yang terdengar semakin muda. Keberadaan waktu yang ada tapi tiada tak ubahnya berjalan mundur. Menjadi muasal pijar semangatnya yang masih menyala, lantang berseru menyebar pesan kepada seluruh penghuni jagad bahwa dia masih ada. Tak hanya sebatas pada janji-janji, lebih sebagai bukti bahwa dia tetap setia untuk perduli.
Dipandanginya sarang persemaiannya yang masih utuh meski telah sering disiram hujan. Tiada berserakkan meski diterpa sekian badai, dan tetap indah walau daun-daunnya tak lagi hijau karena terik matahari. Kalau ada yang berbeda hanyalah mereka yang singgah tak lagi sebanyak dulu. Paduan suara yang terdengar pun tak lagi semeriah musim-musim sebelumnya. Meski awan masih setia mendengar canda tawa yang didendangkan, meski hujan tiada bosan mengiringi bait-bait puisi kesedihan yang dibacakan. Sebagian telah memiliki kekuatan untuk memilih jalannya sendiri. Menembus pekatnya belantara kehidupan berteman rasa percaya diri yang telah tergali. Yang masih bertahan adalah cinta lewat kedekatan, yang belum sepenuhnya teruji lewat jarak dan perbedaan visi. Mereka yang masih setia menemaninya, yang mungkin lebih memilih untuk ditinggalkan demi keagungan cinta itu sendiri. Mereka yang masih berkenan menikmati celotehannya yang terkadang lebih berlandaskan kekhawatiran ketimbang kecerdasan imajinasi. Bersama-sama meresapi makna kesepian di kedalaman hati, menelusuri hakekat sendiri yang tidak berarti sendiri. Bahwasanya bahagia dan sakit hati akan senantiasa terwakili. Kegelisahan adalah teman paling setia, adalah panggilan suci untuk mengucapkan baris-baris doa. Demi cita-cita sederhana namun mulia yang telah tertanam di lubuk hati yang paling dalam.
+ + + + +
“Andai engkau pergi memenuhi panggilan tugas selanjutnya, bagaimana jadinya dengan tempat ini ? Masihkah ada cinta yang masih dapat kami petik darinya ?”
“Cinta adalah ruang dan waktu, ketika semua telah berlalu cinta tak lagi terikat dengannya. Cinta telah menjelma nyanyian indah di dalam hati, yang akan selalu menyertai kemanapun kamu pergi”
“Sejak dahulu selalu begitu, mengapa kita tidak diperkenankan untuk mengubahnya walau hanya untuk sekali saja. Agar ada yang tersisa untuk menjadi perlambangnya, sekedar sebagai pengingat bahwa cinta itu pernah ada”
“Di dunia tak ada yang abadi, termasuk dengan semua perlambang cinta dan segala wujudnya. Itu sebabnya Sang Maha Cinta tak pernah mengijinkan cintaNya terwakili oleh materi. Keabadian hanya ada di alamNya, saat cinta menjelma selimut abadi bagimu karena tak ada lagi waktu yang menyertai”
“Betapa agung permainan cintaNya. Bagaimana dengan nasib kami sesudahnya ? Masih adakah cinta bagi kami jika kamu sungguh-sungguh akan pergi meninggalkan kami?”
“Cinta tak akan pernah berpaling kecuali kamu meninggalkanNya. Cinta akan selalu menjumpaimu dengan berbagai cara, selama kamu setia perduli dengan perasaan welas asih yang telah kamu tanamkan di dalam hati. Sebagaimana aku, cinta dalam dirimu akan menjadi kekuatan dalam wujud bakat yang akan terbagi pada mereka yang membutuhkan uluran tanganmu. Yang akan menjadi jalan terbaik dalam mewujudkan semua impianmu dengan caraNya. Yang tersisa diantara kita hanyalah sekuntum rindu. Mewanginya akan semerbak lestari menyertai jiwa-jiwa yang akan disatukan di taman surgaNya”
+ + + + +
Dipandanginya langit luas dengan seksama, suara-suara dari kejauhan terdengar begitu kuat memanggilnya. Sejenak dia berpaling mengamati wajah mereka satu demi satu, yang mungkin menjadi kebersamaan terakhir dalam perjalanan hidup mereka. Kebersamaan yang tak akan terlupakan dalam kurun waktu berikutnya. Masa-masa indah yang akan selalu menyertai dalam setiap aliran darah. Goresan kenangan yang suatu saat akan sebenar-benarnya hidup saat jantung usai berdegup.
“Sahabat-sahabat terkasihku, ijinkan aku, lepaskan aku dengan ketulusan cintamu. Segala sesuatu ada batas waktunya, kebersamaan yang dipaksakan hanya akan merusak keindahan yang telah ada. Biarkan segalanya tetap utuh tanpa perlu lagi disentuh. Biarkan mereka memahami dengan sendirinya seiring waktu jalinan cinta kasih kita yang sederhana. Saat-saat terbaik bagiku adalah berada disisimu ketika kesulitan demi kesulitan menguasai seluruh isi pikiranmu. Saat kegelapan perlahan-lahan berlalu, untuk membiarkan cahaya sejati hadir memperlihatkan keindahan kemilaunya”
“Mohon kesediaanmu untuk menerima ucapan terima kasihku, karena untuk sekian waktu yang berlalu telah berkenan untuk menjadi guru bagiku. Karena saat kamu bertanya padaku, sejatinya adalah saat aku berguru padamu. Saat aku harus menggali kerendahan hati, memerangi kesombongan diri demi menyingkap tabir pengetahuanNya Yang Maha Tahu atas segalanya”
Sekejap semesta berhenti bekerja, keheningan dan kesunyian hadir mencekam menguasai setiap sudut ruang. Tak ada lagi dongeng-dongeng untuk di ceritakan, hikmat cinta dengan segala risalahnya telah usai dibagikan. Dia pun mengepakkan sayapnya, terbang tinggi menuju langit luas. Melenggang bebas menjemput jagad raya yang tiada batas. Mencari sarang persemaian baru yang belum jelas wujudnya. Menelusuri misteri demi misteri yang telah menanti, selama Yang Maha Berkehendak masih berkenan menafasi. Selama peradaban masih bergulir di setiap detiknya, lewat kejadian-kejadian yang melahirkan kisah jaman pada wajah bumi yang semakin tua.
Kerendahan hati adalah guru
dari segala guru,
hati adalah muridnya
**********************************************************


No comments:
Post a Comment