Monday, August 9, 2010

THE NEW LAND


Saat menyentuh wajah bumi, tanah kering itu langsung mencengkeram kedua kakinya. Aroma wangi dunia menyengat rongga hidung, melekat kuat dan menyebar bisa di seluruh permukaan tubuh. Kedua sayapnya sontak berubah menjadi lengan tangan. Benaknya sibuk menyapa tanah persinggahan dengan segunung pertanyaan. Karena tak terlihat kembang setaman dan tak ada sama sekali hijau pelataran. Kekeringan menjadi satu-satunya warna bagi sepasang matanya. Dimanakah mata air ? Inikah tanah yang dijanjikan ?

Pijar cahaya nampak begitu kecil dan samar-samar, berbias temaram karena terhalang lalu lalang bangkai hidup yang berseliweran. Bau busuk menusuk tajam dari nafas mereka. Menyeruak jauh menghiasi seluruh suasana, memaksa batu-batu kecil seperti enggan bicara. Menawarkan keramahan yang hambar, terurai dalam tegur sapa yang tersaji berlebihan. Sepintas menyejukkan, namun selebihnya yang terungkap hanya kepalsuan. Adalah warisan leluhur yang kian jauh makna, yang mungkin karena sudah terlalu sering disalahgunakan. Dimanakah jiwa ? Dimanakah cinta ?

+ + + + +

Dia mulai melangkah menulusuri lelikuan jalan, menyibakkan prasangka dan fitnah yang sarat bertebaran. Dan alang-alang tajam yang menggores luka nan berdarah-darah. Demi mencari secuil ruang jiwa yang tersisa diantaranya. Oh, yang hebat diagung-agungkan, disanjung melebihi langit. Sementara yang lemah dipaksa tenggelam hingga ke dasar laut. Sudah terlalu sedikit udara di setiap ruang, tergerus asap pembakaran yang menyesakkan dada. Sungguh pekat belantara ketidaksadaran, lebar nian jurang ketidakseimbangan. Memaksa Lentera Agung dalam dekapannya untuk dilindungi sampai mati. Karena kegelapan telah menjadi raja di setiap tanah jajahan. Mengusik ketenangan sukmanya hingga hati bertanya, dimanakah malaikatNya ? Kemanakah perginya Cahaya ? Untuk alasan inikah dia harus meninggalkan bunga-bunga yang bermekaran?

+ + + + +

Jangan tanyakan dalamnya kesepian. Karena nyanyian cinta anak gembala tak lagi terdengar. Tak terlihat lagi tetes embun di atas dahan dan tarian kupu-kupu di atas warna-warni bunga. Tak ada lagi ruang dan waktu untuk berbagi cerita tentang kehidupan dan segala maknanya. Hanya senandung rindu dari kejauhan yang menjadi satu-satunya teman. Adalah siraman doa para kekasih yang kukuh memuja kebebasan jiwa. Dari semua cinta yang dia tinggalkan, yang telah menjadi taman hati dalam buaian. Menjelma kekuatan yang terpatri di sanubari, yang akan dia jaga sampai mati.

Sungguh tinggi puncak kesombongan, begitu terjal jalan kerendahan hati. Duri-duri kian berserakan dalam menelusuri jati diri, laksana membakar diri di perjalanan panjang menjemput matahari. Beruntungnya mereka yang dipaksa diam agar terhindar dari riak, beruntungnya mereka yang direndahkan agar kerendahan hati menari-nari. Demi terbebasnya jiwa sejati, demi para pemuja cinta dan para malaikatNya yang merindukan surga. Sejauh ini berandai-andai hanya melukai diri, hari esok semakin memaksa dirinya menanti-nanti. Betapa indah masa lalu, betapa agung kemenangan yang dijanjikan. Mengejar nikmatNya menjadi satu-satunya tujuan untuk disandarkan. Meski berat tak surut langkah tetap diayun, berkayuh bersama nyanyian semesta bergayut asa. Walau dirinya kini tak lagi sanggup terbang. Karena keangkuhan dunia semakin melucuti kedua sayapnya.

Akhirnya jatuhlah pilihan pada sepetak tanah diantara bebatuan, meski masih terlalu sulit untuk dianggap sebagai pilihan. Benih cinta yang sedari tadi dia genggam mulai ditanamkan. Lalu dia bersujud, menghaturkan doa berteman tangis dan sejuta ratapan. Memandang langit untuk segera mengirimkan hujan. Agar cintaNya tak sia-sia, tumbuh dan berkembang menjadi sebuah pohon besar. Untuk berteduh bagi dirinya, dan bagi siapa saja yang memohon belas kasihNya.




Angin timur lembut berhembus,

menyapa punggungku yang tak lagi bersayap

memaksaku berpaling seperti yang kamu harap

Untuk bernyanyi walau tak utuh satu lagu

demi membasuh rindu di singgasana kalbu


Ijinkan aku menangis,

untuk mengenang kamu-kamu

yang slalu dihatiku

Air mata rindu seutuhnya buatmu




**********************************************************

No comments: