
Seorang pedagang kelontong sedang termenung sendiri di ruko kontrakannya. Sepinya pembeli dari waktu ke waktu semakin terasa menyesakkan dada. Seluruh elemen penentu situasi sudah dia pelajari jauh-jauh hari, termasuk segala hal yang mempengaruhi daya beli. Suara jeritan pedagang lain juga sudah dia dengar, cerita-cerita kesuksesan pun masih jelas terngiang-ngiang. Namun itu semua kini tak membantunya, jelajah pikirannya sudah tak tentu arah. Tak ada satupun yang memberinya sedikit ruang untuk sekedar menghela nafas. Tak ada lagi segaris senyum, dahinya tak henti berkerut, semangatnya tinggal sisa-sisa. Asa kian terbenam dalam lautan keluh.
Segala skenario telah dia siapkan untuk menyikapi berbagai kemungkinan yang terjadi sebagai konsekuensi. Namun tidak untuk kali ini. Sewa ruko yang kian meninggi, harga barang yang semakin tak terbeli, kebutuhan rumah tangganya yang tidak sedikit, semua berbalik arah menghantamnya bertubi-tubi. Dia tak kuasa lagi menanggungnya seorang diri. Terhimpit di dinding pembatas, dan berharap dinding itu berubah menjadi ilusi tiga dimensi. Agar dia bisa menembusnya untuk melarikan diri dari situasi.
Di tengah kegelapan malam, setiap usai satu hari yang terlewati, dia selalu bertanya pada diri sendiri, “Bagaimana dengan esok hari ?”
+ + + + +
+ + + + +
Seorang karyawan perusahaan swasta sedang bermuram durja. Hatinya sedih berbalut nelangsa. Rentang manajemen yang sedemikian lebar membuat keberadaannya semakin terasingkan. Rekan-rekan sejawat yang berlomba-lomba mencari muka sang atasan memaksa dirinya semakin terpinggirkan. Sang atasan kian hari kian subyektif, terjerat manis muka tanpa kesungguhan karya. Semua kebijakannya hanya bertumpu pada rasa suka dan tidak suka. Kesalahan para penjilat sangat mudah terampuni, sementara kesalahannya yang sedikit bersambut kemarahan berapi-api. Semangatnya kian memudar, dia hanya berharap malam berjalan lambat tanpa harus cepat-cepat berganti pagi.
Rasa tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga telah beralih menjadi beban. Kewajiban menafkahi dan keinginan melarikan diri dari situasi tiba-tiba menjadi sebuah pilihan. Masa-masa disaat menjalankan semua tanggung jawab tanpa perasaan terbebani telah terlupakan. Pekerjaan dan keluarga menjelma dua dinding tebal yang menghimpit dirinya, kian hari kian sedikit udara yang tersisa. Bayangan buruk tiada henti menyertainya. Menguasai setiap sudut ruang pikirannya dengan pertanyaan yang sama, “Bagaimana dengan esok hari ?”
+ + + + +
+ + + + +
Saat mendung terlihat semakin pekat, siapapun pasti berpikir akan terjadi hujan. Sungguh tak terbayangkan bila disaat itu seseorang sedang berada di sebuah tanah lapang yang luas tanpa satu pun pohon untuk berlindung. Ketika kegelapan datang mendekat, kemana manusia akan berlari jika tak terlihat setitik cahaya ? Dimanakah cahaya di saat-saat yang paling dibutuhkan ? Apakah Tuhan Yang Maha Kasih pernah mengingkari umatnya ?
Di tengah kegelapan para penyambung lidahNya selalu berusaha mengingatkan untuk tetap bersabar, bahwasanya kemenangan sudah dijanjikan. Dan hanya kepada manusia kemuliaan yang sesungguhnya diperuntukkan. Sementara Tuhan di atas sana terkenal sangat gemar menguji kesungguhan iman umatnya.
Namun ketika kegelapan kian menyiksa, tak sedikit yang mengabaikan semua peringatan. Karena merasa telah melakukan segala yang diperintahkan, namun tak kunjung mendapat jawaban. Selanjutnya mereka mulai menanyakan batas kesabaran. Bahkan tak sedikit yang terjerumus menyangsikan kebesaran hikmah dari sebuah kesetiaan akan Tuhan. Seolah-olah bukti-bukti kekuasaanNya yang telah dibuktikan para Nabi masih belum cukup bagi manusia yang hidup di jaman terkini.
Sejatinya seseorang akan terhindar dari hujan atau akan menemukan sebuah pohon rindang untuk berlindung, apabila terus berjalan tanpa sekalipun berpikir kapan hujan akan datang membasahi dirinya. Seseorang akan melihat terang cahaya jika tak melarikan diri dari kegelapan tapi justru menghadapinya. Sebagian yang telah membuktikannya sering dijumpai sebagai pembawa kisah kesaksian. Mereka yang telah menemukan dan membuktikan hikmah kesetiaan setelah melewati setiap cobaan. Mereka yang telah mengerti bahwa sikap sabar sesungguhnya mempercepat pekerjaan Tuhan, dan hanya Tuhan yang maha tahu letak batas kesabaran.
Untuk alasan itulah para Nabi dijadikan sebagai yang terpilih, sebagai saksi akan keagungan kasih sayang Tuhan dibalik serangkaian ujian. Kisah-kisah inspiratif yang tak lekang oleh jaman, karena ujian yang diperuntukkan bagi mereka sungguh maha dahsyat. Jauh melebihi yang dibebankan pada manusia di jaman terkini yang lebih suka mengeluh sebelum dipaksa menerima dan menelusurinya.
Kisah-kisah perjalanan spiritual yang luar biasa, yang abadi hingga mampu melintasi sekian generasi. Yang sejatinya menyampaikan pesan agar manusia tak mudah menyerah, atau tidak mudah berpikir untuk menyerah. Tak hanya menunggu-nunggu hingga kegelapan itu benar-benar datang. Namun dengan gagah berani menghadapinya tanpa rasa takut. Berusaha berpikir tentang sesuatu yang baru, untuk melakukan hal-hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Agar menjadi lebih baik, menjadi manusia yang ber-Tuhan, yang tak pernah takut dengan semua perubahan. Karena sebenarnya kegelapan bukanlah ancaman, melainkan panggilan alam untuk menyikapi perubahan. Sementara manusia sendiri tak pernah menyadari, bahwa tempat lamanya berpijak semakin lusuh dan sarat dengan duri-duri yang berserakan. Ruang dan waktu akan selalu berganti, sudah selayaknya manusia tak mudah berpuas diri. Sekedar bertahan dengan beradaptasi dengan perubahan adalah tidak sama. Berpulang pada pilihan manusia, untuk sekedar mencari sebatang pohon untuk berlindung atau mencari hutan belantara yang sarat dengan pohon rindang dan hijau dedaunan.
Kisah-kisah perjalanan spiritual yang luar biasa, yang abadi hingga mampu melintasi sekian generasi. Yang sejatinya menyampaikan pesan agar manusia tak mudah menyerah, atau tidak mudah berpikir untuk menyerah. Tak hanya menunggu-nunggu hingga kegelapan itu benar-benar datang. Namun dengan gagah berani menghadapinya tanpa rasa takut. Berusaha berpikir tentang sesuatu yang baru, untuk melakukan hal-hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Agar menjadi lebih baik, menjadi manusia yang ber-Tuhan, yang tak pernah takut dengan semua perubahan. Karena sebenarnya kegelapan bukanlah ancaman, melainkan panggilan alam untuk menyikapi perubahan. Sementara manusia sendiri tak pernah menyadari, bahwa tempat lamanya berpijak semakin lusuh dan sarat dengan duri-duri yang berserakan. Ruang dan waktu akan selalu berganti, sudah selayaknya manusia tak mudah berpuas diri. Sekedar bertahan dengan beradaptasi dengan perubahan adalah tidak sama. Berpulang pada pilihan manusia, untuk sekedar mencari sebatang pohon untuk berlindung atau mencari hutan belantara yang sarat dengan pohon rindang dan hijau dedaunan.
Ada sebagian kecil diantara mereka yang lebih suka mencari lahan subur untuk ditanami. Meski dalam penantiannya yang panjang, sebelum tanamannya tumbuh menjadi pohon besar mereka rela bermandi terik matahari dan berhujan-hujan bersama Tuhan.
Keadaan dan perubahannya
adalah permainan Tuhan
Sikapilah,
bermainlah bersama Tuhan,
jangan main sendirian,
dan jangan main-main
adalah permainan Tuhan
Sikapilah,
bermainlah bersama Tuhan,
jangan main sendirian,
dan jangan main-main
**********************************************************


1 comment:
keren! Pak.. ^_^
sangat memotivasi.... ^_*
Post a Comment