Tuesday, February 1, 2011

YOU ARE MY DESTINY


Langit tak seberapa cerah, matahari tampak malu-malu menatap hari. Awan yang bergerak cepat dan bergerombol menyampaikan isyarat nanti akan turun hujan. Namun burung camar itu terbang juga. Meninggalkan sarangnya yang masih lantang bercerita. Masih setia menyuarakan senandung kehidupan meski samar namun jelas terdengar. Sejatinya tempat itu sudah terlanjur berjiwa, roh nya meratap seolah enggan ditinggalkan begitu saja. Seakan melambai pada sang camar di ketinggian langit, menggapai-gapai kabut udara dengan segenap isakan tangis.
Saat itulah air mata membasahi wajahnya. Pahit getir perjalanan telah menjelma pada sayap-sayapnya yang kokoh. Tak menyurutkan langkah menembus awan pekat berteman asa mengarungi ketidakpastian. Demi satu tujuan yang masih berselimut keraguan, yang akan selalu menari diatas permadani keyakinan.
Satu yang pasti kini disadari, dia terlahir untuk memberi, untuk berbagi dan untuk terus perduli. Walau tidak seutuhnya panggilan hati, namun lebih banyak melalui proses kematangan diri. Dia sudah tidak mengenal lagi kata terpaksa, karena panggung sandiwara sudah terlalu sering memaksanya berpura-pura. Semakin terbiasa dengan pilihan-pilihan sulit, tetap melangkah pasti walau batin fasih menjerit. Dia akan selalu tersenyum dan berbagi tawa, demi membasuh jiwanya yang senantiasa dahaga bermanja-manja. Cinta yang ada dalam dirinya bukan untuk dirinya, namun untuk mereka yang membutuhkannya. Cinta yang agung yang tak lagi sebatas kata-kata. Cintanya pada kehidupan dalam wujud sikap dan perbuatan. Cintanya Cinta yang sebagian orang lebih sering menyebutnya dengan istilah “tanggung jawab”.

+ + + + +

“Mungkin disana langitnya cerah, tak seperti disini” kataku tak pasti, berpura-pura seperti dirimu.
“Oh, semoga saja. Kemarin malam aku pun telah melihat wajah bulan tak lagi berwarna merah” katamu menghibur diri.
“Segelap apapun langit, jangan sekali-kali berpikir akan turun hujan. Biarkan para malaikat yang sibuk mengusap air matamu. Cinta yang disebutkan cinta akan selalu ada, selama kasih sayang tak pernah kehilangan makna”
“Aku hanya berharap dewi welas asih tetap setia membasuh perih. Karena gelap kelam masih terbentang di depan mata. Selebihnya aku tak mampu lagi berkata-kata, hanya kepadamu air mataku mau bicara”
“Lihatlah ranting jerami yang membasah, dia menangisi kepergianmu. Bumi menjadi saksi kedalaman cintamu pada kehidupan. UdaraNya telah menyatu dalam jiwamu, menjelma energi yang tak akan ada habisnya. Akan kau bawa kemana mereka, dan akan kau kembalikan melalui siapa, semua telah menantimu di tanah yang baru. Meski dirimu kini telah jauh lebih dewasa, biarkan jiwa kekanakanmu yang tetap menjadi raja atas semua keinginan. Katakan padaku, adakah yang disebut kehidupan jika tak ada jiwa di dalamnya ?”
Kamu tersenyum, “Seyakin itu dirimu, bahwa aku akan menemukan sesuatu di kehidupanku yang baru. Jika jiwaku telah menyatu dengan tempat yang kutinggalkan, bagaimana bisa diriku bercengkerama dengan keadaan ? Bagaimana diriku menghadapi kehidupan yang seperti akan memangsaku ?”
“Jiwamu akan mengikuti kemanapun dirimu pergi. Mereka tidak menangisimu, melainkan pada jiwamu dan energi yang menyertainya, yang kau petik dari keberadaan mereka. Dimanapun dirimu selanjutnya berada, kehidupan akan menawarkan warna yang berbeda dengan yang pernah ada sebelumnya”
Kamu tertawa, “Bagaimana aku tahu bahwa dirimu kini sedang tidak berdusta ?”
“Aku akan melakukan segala cara, termasuk berdusta apa saja agar dirimu tak berharu biru diatas kanvas kalbu. Setidaknya dirimu kini bisa tertawa, telah lupa dengan segala cerita tentang air mata”
Kamu sempat terdiam, aku pun turut membisu. Aku tak ingin berkata-kata lagi karena bagimu semua sudah berlalu. Sedikit saja cinta yang terungkap sama artinya dengan menyakitimu.
Setelah itu dirimu kembali ceriwis bicara seperti biasa, “Aku meyakini permainan cahaya jiwa. Semoga saja semuanya akan baik-baik saja. Seperti katamu, biarkan jiwa yang menjadi pemenangnya”

+ + + + +

Dalam kesendirian, ditengah pertapaan berkatalah seorang pujangga kepada awan agar disampaikan kepada hujan. Demi membasahi ladang cintanya yang terkadang dilanda kekeringan. Kegilaan cintanya mendekati si majenun, gemeletar kata-katanya menyerupai sang qais. Namun dirinya yakin bukan seorang kahin.
“Selamanya kita akan dipertemukan dan dipisahkan pada ruang dan waktu yang berbeda. Semua terlihat seperti sebuah kebetulan yang sempurna. Setiap hati mendekat, dunia akan memisahkan raga ribuan depa. Hanya suara magismu yang mampu menyebut namaku hingga jiwaku bergetar. Hanya kelabilanmu yang mampu memaksa alam bawah sadarku untuk terus menunggu dan menjagamu. Telah kubuang jauh segala pemikiranku tentang kelebihanmu agar diriku berhenti mengagumi dan memujamu. Kutelusuri semua kekuranganmu agar cinta menjelma api yang tak pernah padam. Kutelan bulat-bulat semua sikap burukmu kepadaku agar diriku berhenti mencaci maki dan menyumpahi. Karena cinta hadir untuk mengilhami bukan untuk menguasai. Cinta yang kau tinggalkan pada pahatan jejak kaki yang kau lalui membuatku tak yakin benar-benar sanggup melupakanmu hingga akhir nanti. Hidup selamanya adalah misteri. Tak ada seorangpun yang tahu pasti sebelum semua rahasia diungkap sesudah mati. Aku tak ingin mendahuluiNya dengan menyebut dirimu adalah sebenarnya jodohku. Aku pun tak ingin lagi menyebut dirimu sebagai cinta yang tak bisa kumiliki. Aku tak perduli apa arti diriku bagi dirimu. Apalah arti diri dibanding langkah-langkahmu yang kian berani. Manisnya kata-kata tak sebanding dengan lidahmu yang telah terbiasa mengecap rasa pahit. Namun aku meyakini dirimu adalah bagian dari diriku. Satu rasa dalam wujud yang berbeda, adalah satu cahaya dalam jalan hidup yang tak sama. Sama-sama terlahir untuk mencintai bukan dicintai. Kamu adalah takdirku”



Cinta jiwa bukanlah cinta biasa,
adalah cinta yang dunia tak bisa menyatukannya



**********************************************************

No comments: