
Prita memandang wajah dokter prayudi dengan senyum khas anak kecil kelas tiga sd. Dari bibir mungilnya meluncur pertanyaan sederhana yang menurut orang dewasa hanyalah celotehan biasa.
“Dokter orangnya baik kan ?”
Dokter prayudi tersenyum sambil berkata, “Iya, dokter orang baik” Sementara kedua tangannya sibuk memeriksa kedua kaki prita. Sebagai seorang ahli fisioterapi dia harus berhati-hati, karena waktu yang dibutuhkan untuk penyembuhan bisa berbeda-beda. Waktu prita jatuh dari sepeda sudah tiga bulan yang lalu, persendian kakinya yang tadinya membengkak karena terkilir kini sudah membaik. Hasil rontgen pun menunjukkan struktur tulang kaki prita telah kembali normal. Namun prita masih belum bisa terlepas sepenuhnya dari kursi roda. Dokter prayudi tak berani memaksa, terlebih pasiennya seorang anak kecil, terburu-buru justru bisa mengganggu proses penyembuhannya. Dia hanya bisa menyarankan pada sang ayah agar bersedia ikut melatih prita untuk berjalan dengan penuh kesabaran. Karena secara medis semua sudah berjalan dengan sempurna.
Ketika ayahnya berpamitan, dari kursi roda prita sempat tersenyum memandang dokter prayudi. Dia berceloteh lagi, “Dokter orangnya baik”
Dokter prayudi hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala.
+ + + + +Setiap pagi dan sore hari prita belajar berjalan dibimbing ayahnya. Meskipun single parent, sang ayah berusaha menyempatkan diri meskipun kesibukannya luar biasa. Dia percaya dengan anjuran dokter bahwa psikologis sang anak sangat tergantung pada ayah atau ibu kandungnya, bukan baby sitter atau saudara. Namun sang ayah menjalaninya dengan sepenuh hati, karena dia menyadari sepeninggal ibunya prita hanya memiliki dirinya. Arti prita sendiri bagi dirinya adalah harta. Dia sangat berharap anaknya bisa berjalan kembali seperti sedia kala.
Ketika usai terapis, sang ayah mencium kedua pipi prita sambil berpamitan berangkat kerja. Di dalam kamarnya prita berjingkat-jingkat meninggalkan kursi roda. Mengintip mobil ayahnya tercinta berlalu dari sudut jendela.
+ + + + +
Burhanudin yang biasa dipanggil burhan adalah pekerja proyek bagian instalasi listrik. Hari itu adalah hari yang sangat melelahkan baginya. Menulusuri instalasi demi menemukan konsleting pada dua lantai gedung sudah pasti sangat menguras tenaga. Namun pengalaman disertai kesabaran sangat membantu burhan dalam menyelesaikan pekerjaannya. Konsleting itu terselesaikan tepat pada jam tujuh malam. Sesudahnya burhan pamit pada pelaksana proyek untuk pulang.
Butuh satu jam perjalanan untuk mencapai rumahnya dengan sepeda motor. Selain karena lokasi rumahnya di pinggiran kota, faktor kemacetan juga mempengaruhi kelancaran perjalanannya. Sesampai di rumah sang istri menjawab salamnya disertai pertanyaan yang tak terduga.
“Mas, capek nggak ?”
Burhan sempat terdiam beberapa detik sebelum menjawab, “Enggak dik, kenapa ?”
“Tolong antarkan aku ke mini market, ada sesuatu yang penting yang harus aku beli”
Burhan pun bergegas pergi mengantar istrinya dengan tenaga yang tinggal sisa-sisa. Menghabiskan waktu sekitar satu jam untuk mengantar istrinya belanja. Sepulangnya kembali ke rumah, burhan langsung merebahkan tubuhnya di atas karpet di depan tv. Dia tak sempat lagi berganti baju atau membasahi diri. Burhan tak butuh lama untuk memejamkan matanya.
Sang istri melirik kearah suaminya yang tengah terbujur sambil mendengkur. Wajahnya tersenyum santun berteman iba. Dia memahami dan menyadari kebohongan suaminya. Saat itu dalam hatinya berkumandang nyanyian cinta.
Sang istri melirik kearah suaminya yang tengah terbujur sambil mendengkur. Wajahnya tersenyum santun berteman iba. Dia memahami dan menyadari kebohongan suaminya. Saat itu dalam hatinya berkumandang nyanyian cinta.
+ + + + +
Ada seorang pengemis buta berdarah yahudi. Sehari-harinya dia bersandar di sebuah dinding lorong diantara rumah-rumah yang menyerupai gerbang, yang menjadi pembatas pemukiman kaum muslim dan yahudi di pinggiran kota madinah. Meski terbatas geraknya, di keseharian dia tak pernah kelaparan, karena setiap hari selalu mendapat jatah makanan.
Hari itu sinar mentari tengah menampakkan teriknya. Tiba-tiba seseorang datang mendekati si pengemis buta. Langkahnya tegap dan teratur, irama derap kakinya sudah sangat dikenali si pengemis buta, dia tahu waktu makan telah tiba. Dengan makanan yang dibawa, orang itu menyuapi si pengemis buta dengan penuh kesabaran. Membutuhkan waktu agak lama bagi si pengemis untuk mengunyah makanannya. Karena giginya telah tanggal beberapa dimakan usia. Namun orang itu tak terlalu menghiraukannya, dengan telaten dan suka cita dia menyuapi si pengemis buta hingga habis makanannya.
Seusai sarapan si pengemis buta menyentuh pundak orang itu seraya menyampaikan pesan yang selalu dia ucapkan setiap orang itu selesai menyuapinya, “Jangan percaya muhammad, dia bukan nabi, dia penyihir. Dia seorang kahin, kata-kata yang dia ucapkan semuanya berasal dari bisikan jin. Ingatlah, hanya yahudi bangsa pilihanNya”
Orang itu hanya tersenyum mendengarnya dan tak berkata apa-apa, selanjutnya dia beranjak dan berlalu meninggalkan si pengemis buta. Esok hari dia akan kembali ke tempat yang sama.
+ + + + +
Menurut prita dokter fisioterapinya adalah orang baik, karena membantu menjaga rahasia kesembuhannya. Andai rahasia itu dibuka, masih samakah perhatian sang ayah kepadanya ? Cukupkah perhatian yang diberikan pada prita di sela-sela kesibukan sang ayah ? Apakah prita layak dipersalahkan karena berbohong demi mendapatkan cinta ayahnya ? Bukanlah prita melakukannya juga atas nama cinta ?
Andai burhan berterus terang kepada istrinya bahwa malam itu dia kelelahan luar biasa, akan samakah sikap sang istri kepadanya ? Cintakah yang diraihnya ?
Andai muhammad yang bergelar sang nabi berterus terang tentang jati dirinya, akankah pengemis buta itu tetap melahap makanannya ? Sang nabi sama sekali tak butuh pengakuan apa-apa. Sedikitpun tak terpengaruh dengan penilaian si pengemis buta terhadap dirinya. Dia melakukannya murni atas nama cinta. Karena Tuhan ada dalam dirinya, dalam hati sang nabi, dalam wujud cinta itu sendiri.
Cinta yang disertai pengorbanan
dan berselimut keikhlasan,
sering bersembunyi dibalik kebohongan
Namun demi yang dicintai,
bukan untuk keuntungan diri sendiri
Cinta bisa menerima kebohongan,
namun menolak penghianatan
**********************************************************


No comments:
Post a Comment