
Pagi dini hari, jarum jam bergerak ke angka tiga, cahaya lampu rumah itu hampir semuanya menyala. Seluruh penghuninya terjaga, bersatu mengelilingi meja makan yang menu nya tampak biasa saja. Sepertinya tak dipaksakan harus mengundang selera. Harum nya teh hangat menyapa mata-mata yang masih mengantuk. Hidangan yang tersentuh perlahan menerjemahkan tidur yang terganggu. Namun tak ada yang sampai menggerutu, air dingin telah membasuh wajah-wajah itu lebih dulu. Setan-setan mulai dipaksa membisu.
Semuanya dijalani demi menggenapkan hati. Perang melawan diri sendiri telah dikibarkan sejak dini hari. Bersiap menyambut hari yang panjang dan mungkin melelahkan. Bersiap menatap tegar matahari demi memenjarakan sumpah serapah dan jerit makian. Menelusuri batas kesabaran di setiap jalan demi menjala kemarahan.
Turnamen pengendalian diri telah dimulai di setiap ajang. Kalau Sang Pencipta sendiri yang punya hajat, pertandingan nya pasti bukan sembarangan, wasit-wasitnya jelas pilihan. Awareness nya pasti melebihi olimpiade dan piala dunia. Karena pesertanya mendunia dan tak mengenal kasta. Terbuka bagi siapa saja yang ingin memenanginya. Jiwa-jiwa diundang oleh gemerlap pesona ramadhan, para malaikat sibuk menyebar berjuta-juta selebaran, kebebasan sejati telah dijanjikan.
“Wahai jiwa bangkitlah, duhai yang tak terlihat dalam diriku lahirlah, sehari ini tubuhku akan kubiarkan haus dan lapar”
+ + + + +
“Lahap sekali makan mu nak”
“Supaya nanti aku tidak sampai kelaparan yah”
“Supaya nanti aku tidak sampai kelaparan yah”
Sang ayah tertawa, “Suatu hari nanti kamu akan mengerti nak, sahur adalah sarana membangun niat. Kekuatan hati mampu mengalahkan segalanya, seberapa banyak yang kau makan tak menghindarkanmu dari kelaparan”
Sang ibu tersenyum. Selebihnya mereka sama-sama terdiam seribu makna. Satu bulan puasa adalah pesta jiwa, yang sudah pasti milikNya. Yang dititipkan kedalam tubuh manusia, dan suatu saat nanti harus kembali kepadaNya. Jiwa selalu memiliki keinginannya sendiri, namun selalu terhalang keinginan yang menyelubunginya. Keinginan tak terbatas manusia.
Seseorang merasa puas ketika keinginannya memiliki materi terpenuhi. Seiring waktu kepuasan itu menghilang ditelan keinginan yang lain. Yang baru cepat sekali berubah menjadi lama. Sesuatu yang tadinya menyenangkan cepat sekali beralih membosankan. Semula yang berkesan istimewa cepat berganti biasa saja. Terbitlah keinginan yang baru, begitulah seterusnya tak ada habisnya.
Hasrat seksual tak beda cerita. Selalu menggebu-gebu pada awalnya. Ketika terlampiaskan kepuasannya pun tak lama. Hasrat begitu cepat menghilang entah kemana. Apalagi bagi mereka yang melakukannya tanpa rasa cinta, tak sedikit yang menyesali karena uangnya melayang percuma. Namun seiring waktu hasrat itu akan datang lagi, seolah menyeret mangsanya dengan tali temali. Bagai jerat yang datang lagi dan datang lagi tiada henti.
Namun keduanya bukan yang utama. Bukan keinginan yang paling diinginkan raganya. Tak ada yang ingin bercinta ketika sedang kelaparan. Tak ada yang ingin mengejar materi ketika sedang kehausan. Mereka semua akan binasa tanpa keinginan keduanya. Keinginan utama untuk bertahan hidup, keinginan yang mewakili segala keinginan.
Yang lapar dan haus tak akan terbuka pikirannya, yang terikat keduanya sama dengan memenjarakan jiwanya. Iblis berpesta pora pada mereka yang menukar jiwanya dengan makanan dan minuman. Dunia dan akhirat bisa disandingkan, bukan hanya sekedar pilihan. Untuk meraihnya perlu keseimbangan, satu titik kulminasi agar jiwa bisa terbang. Lewat terapi satu bulan demi sebelas bulan berikutnya.
+ + + + + Sepanjang meeting pagi itu setan berkata, “supervisor ku goblok dan raja tega”. Supervisor yang ber titel sarjana itu cuma bisa mengulang-ulang kata-kata yang sama. Mungkin cuma sebatas itu perbendaharaan katanya. Sama sekali tidak menghiraukan pengaruh bulan puasa, padahal produknya bukan menu sesuai untuk berbuka. Namun dia tidak perduli, di penghujung rapat kata-kata itu kembali diucapkannya, “target tetap target”. Bibirku tersenyum, kepalaku mengangguk. Dibalik tirai setan berkata sebaliknya.
Di tempat parkir belakang kantor, sepeda motor tua ku sudah menunggu, komplet dengan kardus-kardus yang isi nya harus menghilang di sore hari. Harus berganti wujud menjadi lembaran kertas berhias angka-angka. Sepertinya aku lebih membutuhkan tongkat ajaib harry potter dibanding kata “semangat” menjalani beratnya bekerja sambil puasa. Kalau ada yang bilang “nikmat”, aku masih berat untuk berkata sependapat.
Langkahku memberat, namun kata target sudah terlanjur memenuhi seisi benak. Ketika mesin motor ku hidup, setan berkata “percuma”.
+ + + + + Di jalan-jalan berceceran pengemis jalanan yang belum tentu sehari makan. Ada yang duduk dan ada pula yang tidur-tiduran seperti hiasan trotoar. Ada atau tiada nya ramadhan mereka tetap berpuasa. Namun batinnya merintih seperih isi perutnya. Hanya berharap ada yang sudi mengulurkan tangan demi menafkahi dohirnya. Sejatinya mereka tak pernah jauh dari zona makrifatullah namun sayang sering tak terjamah. Adalah cermin raksasa yang ada atau tiada, tergantung mata hati yang melihatnya.
Sementara yang berlalu di depan mereka wajah-wajah berkecukupan. Yang tiba-tiba acuh pada panggilan perutnya selama sebulan. Mereka yang sehari-harinya dibutakan kemilau pesona dunia, yang mungkin tak menyadari kemiskinan hatinya sendiri. Namun mereka tak mau ketinggalan, ikut berharap-harap meraih berkah melimpah yang dihambur-hamburkan langit pada malam seribu bulan.
Mampukah jiwa meraihnya ?
Untuk siapa mereka berpuasa ?
Untuk siapa mereka berpuasa ?
Yang beruntung adalah yang merasa beruntung. Yang pada hari kemenangan bertemu Sang Causa Prima, penyebab yang tak ada lagi penyebabnya. Saat bersua euforia kesenangan yang tak berdasar, diselimuti tangis haru yang tiba-tiba saja datang tanpa alasan. Hatinya bergetar ketika takbir terdengar, namun dari bibirnya tak mampu terucap kata apa-apa. Saat dosa dan kesalahan luruh bersama linang air mata.
Tidak seperti yang biasa-biasanya, mereka bersuka cita karena naik jabatan. Atau tergopoh-gopoh mengucap rasa syukur karena menang undian.
Bagaimana dengan sebelas bulan berikutnya ?
Masihkah ada rasa yang sama ?
+ + + + + Bagaimana dengan sebelas bulan berikutnya ?
Masihkah ada rasa yang sama ?
Aku melirik jam tangan, sudah pukul dua siang. Isi kardus baru sedikit yang terjual, dompet ku pun belum terasa tebal mengganjal. Matahari begitu terik membakar hari. Kerongkonganku serasa panas, seperti kena geliat nyala api. Sudah ratusan kilo yang kulahap, tak terhitung jalan yang telah kuukur dengan rintih kehausan. Semua toko yang kudatangi seperti kompak berkata tidak. Yang menurutku lebih jujur dibanding mereka yang senyum-senyum tapi menolak.
Setan berkata, “nah, benar kan ?”
Setan berkata, “nah, benar kan ?”
Aku melihat pohon besar di tepi jalan, yang berfungsi sebagai penghias jalan masuk perumahan. Di bawahnya tergelar rumput hijau yang dipangkas rapi. Aku melihatnya seperti kasur spring bed yang tak pernah mampu aku beli. Setan berkata, “berhenti”.
Aku menuruti. Untuk pertama kalinya sejak pagi, ucapan setan selaras dengan kata hati.
Kuhempaskan tubuhku di atas rerumputan, bumi seperti tak keberatan menyambut diriku yang berbeban. Angin bertiup sejuk membelai tubuhku yang basah berkeringat, menyapa jiwaku yang gerah karena gelisah. Hatiku berkata, “alangkah nikmatnya”.
Sayang nya itu tak berlangsung lama. Mata ku tak jua mampu terpejam, waktu setoran yang tersisa hanya tinggal tiga jam. Otak ku kembali berputar-putar seperti di lintasan F-One. Setan berkata, “sudahlah”
Anehnya sesudah itu aku tak lagi mendengar apa-apa, tak jua merasakan apa-apa. Hening sunyi di kedalaman menyaput semua beban. Tiba-tiba tubuh ku seperti ringan namun bertenaga. Yang kudengar jelas hanya suara sendok yang mencium tepi mangkok milik si penjual es kelapa muda. Semakin lama semakin jelas, sebentar lagi dia akan melintas.
Tiba-tiba tubuhku mampu bergerak otomatis. Seketika aku berdiri tegak pijakkan bumi, ditanganku telah tergenggam sebuah kunci. Dengan tenangnya aku buka kunci gembok, aku geser keluar pintunya memberi jalan. Setan yang sedari tadi telah berancang-ancang dengan sepasang tangan nya memegang jeruji, menyelinap keluar dengan raut muka cengar-cengir. Aku hanya diam ketika jiwaku yang sedari tadi bersembunyi di belakangku, melangkah lunglai mengganti posisi penghuni bui. Bukan setan yang bersalah atas pilihan.
Aku sendiri yang membatalkan puasa ku.
Untuk siapa puasa ku ?
Aku sendiri yang membatalkan puasa ku.
Untuk siapa puasa ku ?
Yang membangun niat
yang meruntuhkan niat
Bukankah esok hari
akan semakin bertambah berat ?
**********************************************************


No comments:
Post a Comment