Wednesday, September 7, 2011

DAMN, I'M SO SCARED


Waduhh… jam empat sore. Berarti tiga jam sudah café resto ku sepi pembeli. Kursi-kursi nya masih kosong melompong, meja-meja sampai ingin tertawa karena saking sepinya. Suasana yang nggak biasa, agak aneh, tapi menurutku sama sekali nggak lucu. Sedikit-sedikit aku melirik pintu, namun nggak ada sama sekali pemandangan baru.
Tiga jam adalah rekor baru.

Malah bisa-bisa bertambah lama kalau melihat gelagatnya. Jalan-jalan sepi melenggang, sedikit sekali yang terlihat berlalu-lalang. Kulihat tetangga kanan kiriku nasibnya juga nggak jauh beda. Situasi ini mulai menekanku, I don’t like it.
Oh my God, apa yang sedang terjadi ?


+ + + + +


Para pelayan seperti sengaja menghindari tatapanku. Mungkin takut dijadikan menu makan siang sebagai ganti kekesalanku. Andai aku berbagi, apalah gunanya jika memang mereka perduli. Tidak mengimbas kursi-kursi cepat terisi. Aku juga sengaja menghindari tukang masakku yang seumur ibuku. Paling-paling nasehat klasik yang akan meluncur dari bibirnya, “Sabar mas, sabar”.
Kalau hanya Tuhan yang berhak menentukan batas kesabaran, tak terbayangkan seberapa lama aku harus tenggelam di dalam penantian. Kalau Tuhan memang gemar menguji, seberapa lama yang Dia butuhkan agar aku dapat bertahan.

God please, don’t.

Permukaan air yang tadinya tenang mulai bergoyang. Rasa cemas yang tadinya terbang entah kemana seolah menemukan sarang nya untuk bersemayam. Ilusi datang merasuki, menawarkan kejadian yang belum tentu terjadi. Kemungkinan buruk merebak dalam bayang-bayang. Rasa takut menghinggapi perjalanan menuju empat jam yang mencekam. Aku mulai panik, sepertinya aku benar-benar akan tenggelam.
Aku bohong kalau tidak takut merugi, aku bohong kalau tidak takut sampai nggak mampu membayar gaji. Jujur aku takut bangkrut, aku akan jadi semakin takut jika tiga jam ini terus berlanjut. Dibalik wajah optimis sejujurnya aku mengidap penyakit pesimis yang mungkin akut. Apa kata mereka jika yang kutakutkan terjadi, secanggih-canggihnya bersilat lidah tak dapat mengubah penilaian mereka pada pencapaianku. Aku takut gagal, apalagi kalau sampai disebut pecundang.
Semangatku dulu yang menggebu seperti pedang tajam yang tiba-tiba tumpul. Keyakinan yang sempat lama berkumandang tiba-tiba menghilang ditelan lagu sepi berdurasi tiga jam. Buku-buku tebal berisi teori bisnis, dan cerita-cerita kesuksesan yang menjadi sumber inspirasi seperti sepakat bersembunyi. Mimpiku untuk menjadi orang sukses tiba-tiba lenyap seperti disulap.

Kuperhatikan setiap sudut ruang, nyaris tak ada sedikitpun celah untuk bersembunyi. Aku juga bukan lagi anak kecil yang bisa melarikan diri dari situasi. Saat ini aku lebih membutuhkan seorang design grafis, yang bisa membuatkan aku topeng wajah optimis. Lagu-lagu top fourty yang mestinya menghidupkan suasana justru membuatku tampak semakin bodoh. Tiba-tiba café restoku yang lumayan luas menjadi kian menyempit. Aku berubah menjadi makhluk kerdil yang terhimpit. Ketika akhirnya empat jam berlalu aku betul-betul ingin menjerit.

Oh my God, kemana semua pembeliku ?

+ + + + +


Beruntung masih ada setitik kesadaran. Aku mulai mengkais-kais mencari ketenangan diri. Mencari sesuatu yang bisa aku pegang atau pijakan untuk bersandar, agar tak kian jatuh ke dalam jurang. Kutarik nafas dalam-dalam, kupejamkan mata, aku melarikan diri ke dalam doa. Aku sungguh berharap Tuhan berbelas kasih, berharap campur tanganNya agar berkenan mengubah situasi dan mengembalikan diriku seperti semula. Kepanikan ini sungguh menyiksa. Aku telah kehilangan konsentrasi, aku telah kehilangan diriku.

Tenang, tenang, kataku.

Seusai berdoa, setelah empat jam berlalu tiba-tiba seisi café berseru. Tuhan menjawab doaku dengan cara yang luar biasa, tiba-tiba lampu padam seketika. Aku sempat berlari keluar untuk memastikan tebakanku sendiri. Listrik memang benar-benar mati. Seisi cafe sibuk menyalakan lilin, sekarang café ku benar-benar hening kelabu. Nggak ada lagi lagu-lagu.
Tuhan belum berhenti melucu.

Si ibu tukang masakku menatapku dalam remang gelap, dia mengulangi kata-kata yang sama, “Sabar ya mas, sabar”. Aku menjawabnya dengan senyum meringis, sengaja sedikit lebih lama kuperlihatkan sederet gigiku, atas dan bawah beradu. Entah mengapa, aku mulai merasa yang terjadi saat ini menurutku memang benar-benar lucu.

+ + + + +


Nyaris dua jam listrik mati, belum juga mau menyala. Berarti enam jam sudah cafe ku tanpa pembeli. Aku seperti orang yang melangkah lunglai menuju tiang gantung, menatap pasrah ayunan kapak sang penjagal yang akan memenggal kepalaku.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Andai lampu menyala saat itupun, berarti tinggal satu jam yang tersisa sebelum kututup café ku seperti biasanya.

Habis sudah, aku menyerah.

Batas kesabaran memang milik Tuhan, aku tak kuasa lagi menanggungnya.
Aku mencoba berpaling dari tiang gantung, sedikit tabungan yang kumiliki kuanggap aku masih beruntung. Masih ada cadangan untuk belanja esok hari, aku tak lagi berharap pada hari ini.

Aku berdiri, mendekati lilin berteman pulpen dan secarik kertas. Aku mulai mencatat segala keperluan untuk belanja esok hari. Si ibu tukang masak memberi masukan tanpa beban, seolah meyakini esok hari bukan hari ini. Seolah hari ini nggak terjadi apa-apa, baik-baik saja seperti biasanya. Kali ini aku agak setuju dengannya. Seusai mencatat semua keperluan belanja, si ibu kembali tersenyum, kali ini kata-katanya berbeda, “Ikhlas kan saja ya mas”. Sambil tersenyum aku mengangguk ringan, sepertinya kepalaku tak lagi berbeban.

Kata-kata si ibu tukang masak bak saklar PLN, lampu tiba-tiba menyala. Seperti ketika lampu padam, seisi cafe berseru bersama. Bedanya raut wajah mereka terlihat ceria. Aku hanya tersenyum biasa, nggak lebih dari itu. Tak berharap banyak pada satu jam tersisa. Paling tidak café resto ku kembali hidup, speaker di setiap sudut mulai menyuarakan lagu-lagu pengusir redup. Aku hanya menunggu sampai jam sembilan café ku tutup.

+ + + + +


Aku sedang santai menikmati sebuah lagu, ketika tiba-tiba sebuah kijang innova berhenti di depan café ku. Penumpangnya tujuh orang, semuanya berkunjung dan bersantap malam. Tak lama berselang ada mobil lagi, enam penumpangnya masuk ke café ku, mereka juga memesan makanan. Setelah sempat mati suri, kehidupan mulai menjangkiti café resto ku.
Belum usai pesanan enam orang itu terlayani, dua sepeda motor juga berhenti di depan café ku. Lalu mobil lagi, mobil lagi, dan motor lagi. Lalu entah apa lagi aku sudah nggak tahu, pintu café ku tiba-tiba sudah ramai dengan lalu lalang pengunjung. Seluruh kursi penuh terisi, pembeli yang datang mengalir tiada henti. Tangan tukang masakku bergerak-gerak cepat di diantara kabut asap. Aku ikut sibuk membantu pelayanku mondar-mandir kesana-kemari, sampai tak sempat bertanya lagi, kemana saja perginya para pembeliku selama ini.

Bahkan aku nggak sempat berkata.. akhirnya.


+ + + + +


Kulirik jam dinding, sudah setengah sepuluh, namun pembeli yang datang masih mengalir seperti air. Kehidupan masih berlanjut, seperti tak ada pertanda curahan hujan akan berakhir setelah usai kemarau panjang. Kupanggil salah satu pelayanku, kusuruh menyampaikan pada yang lain kalau malam ini lembur. Pelayanku menjawabnya dengan sangat antusias, kesiapan tergambar jelas pada kejujuran ekspresi wajahnya. Seolah tanpa perintahku mereka tetap akan menjalaninya.
Astaga, ternyata selama ini mereka ikut memikul bebanku.

Kulirik pelayanku satu persatu, termasuk si ibu tukang masak yang tersenyum mengembang sambil menatapku, ternyata selama ini aku nggak sendiri. Tak terbayangkan leganya hati, susah dan senang selalu ada yang menemani. Aku hidup diantara jiwa yang menari-nari.
Aku jadi malu hati karena sempat berpikir selama ini mereka nggak perduli. Bahkan aku sempat berburuk sangka pada Tuhan.
Ya ampun, betapa dangkalnya aku.

Aku mengingkari Maha Pemurah Nya hanya gara-gara beberapa jam yang sepi pembeli. Aku sempat tak percaya dengan Yang Maha Mendengar setiap doa ketika lampu berhenti menyala. Aku bahkan sempat tak percaya dengan Maha Berkehendak Nya ketika tinggal satu jam yang tersisa. Entah apa yang kurasakan saat ini, seharusnya aku bersyukur karena café ku sudah ramai pembeli. Tapi hatiku rasanya malah jadi nggak karu-karuan. Perasaan senang dan bersalah seperti bergumul dalam satu ruang. Rasa manis dan pahit seperti berebut tempat pada lidahku. Aku mencoba mengurainya di halaman parkir sambil menatap langit dan bintang-bintang. Sekali lagi kupejamkan mata, aku berdoa mengucap syukur dan memohon ampunan.

+ + + + +


Tak terbayangkan andai yang terjadi lebih buruk dari itu. Mungkin aku sudah terjerembab ke jurang putus asa, malah bisa jadi aku menjelma menjadi makhluk yang mengkambing hitamkan Tuhan atas semua kejadian. Seharusnya aku lebih percaya dengan semua rencanaNya, tak harus menghitung-hitung waktu, dan tak juga menebak-nebak bagaimana Dia berkerja. Dalam situasi apapun, terutama ketika keinginanku belum terpenuhi. Mestinya aku hanya fokus dengan tujuan, lalu menjalani sebatas kemampuan dan pasrah dengan semua pengalihan Tuhan. Seharusnya aku tahu dibalik sepi ada ramai, dan aku tak perlu harus menunggu-nunggu kapan datangnya. Yang bakal kuterima pasti pengalihan lainnya, yang sudah pasti lebih berat dibanding sebelumnya. Pasti Tuhan menganggapku lebay, karena berlebihan menyikapi ujian yang sebenarnya pengalihan.
Yahhh…memang baru sebatas ini keteguhan Imanku.

Tak terbayangkan untuk hari-hari berikutnya, ujian apa lagi yang kan melanda. Apalagi jika aku berpikir bagaimana nanti ketika aku akan mati, tak terbayangkan kepanikan macam apa yang akan kualami jika tingkat kepasrahanku masih serendah ini. Mungkin aku akan termasuk yang diingatkan lewat degenerasi, yang perlahan-lahan dihabisi atas nama cintaNya.
Ah, kembali ke pemikiran semula.

Tak perlu menebak-nebak. Yang paling menakutkan dalam hidup adalah rasa takut itu sendiri. Semakin besar rasa takut makin berat pula pengalihanNya. Tuhan Yang Maha Mencintai pasti sudah punya rencana sendiri untuk membuatku menjadi lebih baik, selama itu tetap menjadi tujuan hidupku.
Just try to be better in every day, in every second of my life.


+ + + + +


Hampir pukul sebelas malam ketika aku menutup café ku. Semua pelayan sudah pulang, tinggal si ibu tukang masak yang dijemput suaminya yang pensiunan tentara. Sambil berpamitan dia berkata, “Tuhan itu ada kok mas”, tak lupa sebaris senyum terurai dari bibirnya. Kali ini aku tahu, senyum itu datangnya dari surga.
Aku seperti ingin menangis. Hatiku bergetar menyapa udara namun tak kuasa berkata apa-apa. Sedari tadi Tuhan menyapa dan mengingatkan diriku, namun baru sekarang aku menyadarinya. Ternyata Tuhan sayang sama aku, lebih dari yang aku tahu. Menyentuhku, menggapaiku, menggerakkan seluruh piranti semesta untuk diriku dengan caraNya yang tak terjangkau dengan pikiranku. Aku tak bisa menebaknya, dan selamanya tak akan bisa.
Dear God, I love you.




Harapan adalah kekuatan,

namun berharap-harap

sama artinya dengan

mengatur Tuhan




**********************************************************


No comments: