Rangkaian besi
memanjang itu, biasanya aku lihat dari atas kereta. Andai dekat terlihat di sebuah
stasiun, paling kupandang hanya sekilas. Karena memoriku telah merekam
penjelasan almarhum papaku, “Itu jalan untuk kereta, namanya rel”. Jadinya aku
merasa sudah cukup tahu. Tak perlu seterusnya melihat lagi. Apalagi mengamati.
Tapi kali ini aku seolah
dipaksa menatapnya setiap hari, tepat di depan mata. Panjang sekali….. Sejauh
mata memandang hanya kaki langit yang jadi batasnya.
Bagai sebuah latar lukisan
raksasa, dengan truk-truk berukuran sedang yang jadi ikon-nya, yang tampak
hilir mudik datang dan pergi. Silih berganti menumpahkan berkilo-kilo tanah
bercampur batu di sepanjang sisi rel. Seolah tak mengenal kata berhenti sebelum
jalur panjang Jakarta-Surabaya terhabisi. Sementara buldozer dan back hoe loader
meratakan dan memadatkannya, sebelum dianggap cukup kuat untuk ditaburi
batu-batu kerikil sebagai alas rel serupa di sisi rel yang lama. Para reporter
media televisi atau surat kabar menyebut aktivitas ini sebagai proyek double track atau pemasangan rel ganda.
Yang aku tahu rel sejajar
ini bukanlah sesuatu yang baru. Sebelumnya sudah ada tapi berjarak pendek,
seperti di stasiun atau di beberapa titik persimpangan tertentu yang sengaja
dipasang demi menghindari tabrakan. Agar ada tempat untuk parkir sementara
sembari menunggu kereta yang lain lewat.
Seperti yang pernah kualami,
ketika sedang menumpang kereta kelas ekonomi menuju Jakarta. Sering kali kereta
ekonomi berhenti sebentar di tengah perjalanan, tak hanya untuk menghindari
benturan dari kereta yang datang dari arah berlawanan, tapi juga untuk membiarkan
kereta yang dibelakang menyalipnya. Yakni kereta bertarif mahal yang sering
disebut kereta eksekutif.
Kereta ekonomi nasibnya
memang begitu, selalu berangkat duluan tapi sampainya pasti belakangan. Seolah
memang ditakdirkan sebagai pembuka jalan. Jika rel ganda ini selesai dipasang,
belum tentu kereta ekonomi akan sampai lebih cepat dibanding yang lain. Sesuai
hukum bisnis yang berlaku, yang membayar lebih mahal sampainya pasti duluan.
* * *
Sekelompok pekerja memenuhi
lokasi itu membentuk habitatnya sendiri. Tempat yang terpisah jauh dari
peradaban kota, yang jaraknya dari desa terdekat mencapai lima kilometer, dan
hanya bisa dijangkau dengan sepeda motor karena jalannya sangat tak memadai. Tempat
yang sangat terbuka, yang menyambut sinar matahari dengan suka cita, tanpa
terhalang karena tak ada satupun pohon untuk berlindung. Selain sepatu dan
celana panjang, lalu jaket atau kaus berlengan panjang dan tentunya topi. Tanpa
itu siapapun dijamin resmi terpanggang pada sore hari.
Seperti sawah kering
yang ada di kanan kiri, bagai bukti kekejaman sinar matahari menghabisi mimpi
panen para petani.
Orang-orang anti
panas yang semuanya berjenis laki-laki itu memiliki beragam fungsi dan profesi.
Supir truk, operator alat berat, para checker
yang bertugas mengukur kubikasi kiriman tanah, beberapa pelaksana dan seorang pengawas
lapangan berwajah garang. Jarang sekali wajah-wajah itu mengumbar senyum,
seolah mereka kompak bersepakat senyum itu mahal. Gerundel, gerutu dan sumpah
serapah lebih sering hadir sebagai menu utama. Seolah berada di tempat itu
berarti pilhan yang bukan pilihan, atau sebagian lagi menyederhanakannya
sebagai bagian dari siklus hidup, meski ada juga yang secara diam-diam menyebutnya
sebagai nasib buruk. Sejatinya mereka juga memiilih bekerja di dalam kantor
yang dilengkapi pendingin ruangan, kursi
empuk, kopi atau teh hangat di atas meja, dan lalu lintas makhluk hawa yang
wangi parfumnya tertinggal di ujung hidung.
Sebenarnya itu semua penghuni
benakku, tapi aku yakin mereka pasti berpikiran yang sama. Karena aku adalah
bagian dari mereka. Sama-sama berada di tempat yang kuanggap sebagai
manifestasi neraka kecil, dengan matahari sebagai satu-satunya ciptaanNya yang terpaksa
jadi kawan, serta hembusan angin sesekali yang lebih mirip angin surga kesasar,
dan debu-debu yang berterbangan dari tanah urugan.
Aku yakin tak ada
satupun yang menyebut tempat itu istimewa seperti nama bulannya, Ramadhan.
* * *
“Jam 12” seru salah
satu.
Sekejap mereka
meninggalkan apa saja. Refleks meletakkan yang sedari tadi mereka genggam
begitu saja, seolah jam itu yang sedari tadi mereka tunggu. Seolah jam itu
adalah pertanda terbebas dari hipnotis panjang. Terbebas dari belenggu mantra
sakti yang berbunyi “Demi menafkahi anak istri”, yang memperdayai mereka sejak
pagi. Bebas untuk melakukan apa saja selain bekerja. Meski hanya satu jam.
Aku pun tak
ketinggalan. Ikut memacu sepeda motorku menuju desa terdekat. Siap membuat
warung kecil yang lebih menyerupai gubug itu jadi penuh sesak. Yang bangkunya
terbatas hingga sebagian harus rela berdiri, untuk meneguk es teh segar dan
melahap makan siang yang menunya sama dengan kemarin hari, sayur bayam dan lauk
gorengan.
Si ibu penjual warung
seperti biasa menyambutnya dengan senyuman khas orang desa, sementara
pikirannya tetap berkalkulasi, hingga gelas-gelas es teh tersedia di atas meja
tanpa diminta.
Aku termasuk sebagian
yang berdiri, melihat gelas-gelas es teh itu dari kejauhan. Bukannya
mengulurkan tangan untuk meraihnya, malah sibuk berpikir sendiri, “Inikah yang
disebut perang?” Seolah yang tersaji di atas meja adalah maklumatnya.
Aku tak melihat
pasukan. Tak juga senjata tajam seperti pedang dan perisai, atau artileri
modern seperti yang sering kulihat di film-film. Apa yang sebenarnya sedang aku
perangi? Sisi diriku sendirikah yang merintih kehausan?, Atau pikirankukah yang
menerbitkan rasa lapar? Konon yang kalah katanya tak harus mengibarkan bendera
putih. Artinya kalah bisa berarti rahasia alias nggak ada yang tahu. Yang
menang juga tak bersorak sorai, malah tenggelam dalam isak tangis. What kind of war ?
Kata “istimewa” bak
stigma yang kuat melekat, sampai aku takut berbuat. Satu jam itu pun
terlewatkan begitu saja, tanpa es teh segar dan makan siang yang terakhir
sempat kulihat mirip virus yang bisa mengotori kesucian kerongkongan dan
lambungku, yang penuh dengan kaligrafi pilar-pilar keimanan. Aku takut
kehilangan keistimewaan.
* * *
Kembali ke dunia keterasingan.
Menatap rangkaian besi memanjang yang kian berkilau karena terik matahari.
Berteman peluh yang tak kenal lelah menghiasi wajah. Sementara debu-debu yang
berterbangan kian berani mengolesi bibirku yang kering dan lidahku yang terasa
pahit. Semesta pasti mendegar jelas perutku menjerit.
Tapi perang itu tak
bertahan lama. Ludah yang berkali-kali kutelan tak mampu lagi jadi penawar,
setetes enzim kian tak berdaya oleh pesona segelas es teh segar. Diawali
lututku yang gemetar, dan langkahku yang kini terhuyung mencari sandaran yang
tak pernah ada. Rel panjang itu tiba-tiba terlihat bergelombang, juga
orang-orang disekitaran. Aku bahkan sudah lupa dengan perjuangan Siti Hajar.
Ini fatamorgana,
pikirku. Tapi ini kan bukan di gurun pasir, kataku lagi. Aku juga sedang tak
ber- halusinasi oase dengan pohon kurmanya, sibukku menyadarkan diri.
Tapi aku tak sempat
lagi bernegosiasi. Tak cukup waktu untuk berunding lebih jauh. Perang ini
sepertinya tak mengenal akhir damai. Yang ada hanya kalah atau menang. Sedetik
kemudian sepeda motorku kupacu lagi kembali ke warung tadi.
Warungnya masih buka,
mejanya sudah kosong. Kecuali satu gelas es teh.
“Es tehnya lupa
diminum nak…..” kata si ibu penjual warung.
* * *
Aku tak ingin
menyalahkan pekerjaannya, atau paradigma “susah mencari kerja” yang sudah
melegenda. Juga tempatnya yang terlalu berlebihan jika dianggap sebagai medan
perang.
Mungkin karena aku terlalu
miskin peduli, tak terlibat ber-euforia ketika Sya’ban datang mengawali
Ramadhan. Sehingga perintah berpuasa seolah bisa kujalankan tanpa perlu
persiapan. Peringatan “beratnya tak terkira” tanpa sadar begitu saja kuremehkan.
Akhirnya aku bagai kehilangan kata kunci yang bisa menjaga keutuhan suasana
hati. Seolah perang ini berakhir tanpa sempat kumulai.
Kini jiwaku lah yang
kering, bukan lagi tempatnya. Kata sia-sia tak cukup lagi untuk mewakilinya.
Begitulah aku. Yang
remeh, yang mungkin tak lebih baik dibanding mereka yang lebay Ramadhan. Tak sedetail pikiran Tuhan, yang telah merinci
segala sesuatu yang berpotensi merusak keindahan perang.
Es teh itu pasti juga
bukan pemberian Tuhan. Bonus hanya untuk mereka yang tampil di atas podium
sebagai pemenang. Suatu hari nanti aku akan berpesan pada anak cucuku, “Jangan ikuti
aku, aku hanyalah seorang pecundang”.
---***---



No comments:
Post a Comment