Thursday, July 26, 2012

PANAS TERIK DI PROYEK DOUBLE TRACK


Rangkaian besi memanjang itu, biasanya aku lihat dari atas kereta. Andai dekat terlihat di sebuah stasiun, paling kupandang hanya sekilas. Karena memoriku telah merekam penjelasan almarhum papaku, “Itu jalan untuk kereta, namanya rel”. Jadinya aku merasa sudah cukup tahu. Tak perlu seterusnya melihat lagi. Apalagi mengamati.
Tapi kali ini aku seolah dipaksa menatapnya setiap hari, tepat di depan mata. Panjang sekali….. Sejauh mata memandang hanya kaki langit yang jadi batasnya.
Bagai sebuah latar lukisan raksasa, dengan truk-truk berukuran sedang yang jadi ikon-nya, yang tampak hilir mudik datang dan pergi. Silih berganti menumpahkan berkilo-kilo tanah bercampur batu di sepanjang sisi rel. Seolah tak mengenal kata berhenti sebelum jalur panjang Jakarta-Surabaya terhabisi. Sementara buldozer dan back hoe loader meratakan dan memadatkannya, sebelum dianggap cukup kuat untuk ditaburi batu-batu kerikil sebagai alas rel serupa di sisi rel yang lama. Para reporter media televisi atau surat kabar menyebut aktivitas ini sebagai proyek double track atau pemasangan rel ganda.
Yang aku tahu rel sejajar ini bukanlah sesuatu yang baru. Sebelumnya sudah ada tapi berjarak pendek, seperti di stasiun atau di beberapa titik persimpangan tertentu yang sengaja dipasang demi menghindari tabrakan. Agar ada tempat untuk parkir sementara sembari menunggu kereta yang lain lewat.
Seperti yang pernah kualami, ketika sedang menumpang kereta kelas ekonomi menuju Jakarta. Sering kali kereta ekonomi berhenti sebentar di tengah perjalanan, tak hanya untuk menghindari benturan dari kereta yang datang dari arah berlawanan, tapi juga untuk membiarkan kereta yang dibelakang menyalipnya. Yakni kereta bertarif mahal yang sering disebut kereta eksekutif.
Kereta ekonomi nasibnya memang begitu, selalu berangkat duluan tapi sampainya pasti belakangan. Seolah memang ditakdirkan sebagai pembuka jalan. Jika rel ganda ini selesai dipasang, belum tentu kereta ekonomi akan sampai lebih cepat dibanding yang lain. Sesuai hukum bisnis yang berlaku, yang membayar lebih mahal sampainya pasti duluan.

* * *

Sekelompok pekerja memenuhi lokasi itu membentuk habitatnya sendiri. Tempat yang terpisah jauh dari peradaban kota, yang jaraknya dari desa terdekat mencapai lima kilometer, dan hanya bisa dijangkau dengan sepeda motor karena jalannya sangat tak memadai. Tempat yang sangat terbuka, yang menyambut sinar matahari dengan suka cita, tanpa terhalang karena tak ada satupun pohon untuk berlindung. Selain sepatu dan celana panjang, lalu jaket atau kaus berlengan panjang dan tentunya topi. Tanpa itu siapapun dijamin resmi terpanggang pada sore hari.
Seperti sawah kering yang ada di kanan kiri, bagai bukti kekejaman sinar matahari menghabisi mimpi panen para petani.
Orang-orang anti panas yang semuanya berjenis laki-laki itu memiliki beragam fungsi dan profesi. Supir truk, operator alat berat, para checker yang bertugas mengukur kubikasi kiriman tanah, beberapa pelaksana dan seorang pengawas lapangan berwajah garang. Jarang sekali wajah-wajah itu mengumbar senyum, seolah mereka kompak bersepakat senyum itu mahal. Gerundel, gerutu dan sumpah serapah lebih sering hadir sebagai menu utama. Seolah berada di tempat itu berarti pilhan yang bukan pilihan, atau sebagian lagi menyederhanakannya sebagai bagian dari siklus hidup, meski ada juga yang secara diam-diam menyebutnya sebagai nasib buruk. Sejatinya mereka juga memiilih bekerja di dalam kantor yang dilengkapi pendingin ruangan,  kursi empuk, kopi atau teh hangat di atas meja, dan lalu lintas makhluk hawa yang wangi parfumnya tertinggal di ujung hidung.
Sebenarnya itu semua penghuni benakku, tapi aku yakin mereka pasti berpikiran yang sama. Karena aku adalah bagian dari mereka. Sama-sama berada di tempat yang kuanggap sebagai manifestasi neraka kecil, dengan matahari sebagai satu-satunya ciptaanNya yang terpaksa jadi kawan, serta hembusan angin sesekali yang lebih mirip angin surga kesasar, dan debu-debu yang berterbangan dari tanah urugan.
Aku yakin tak ada satupun yang menyebut tempat itu istimewa seperti nama bulannya, Ramadhan.

* * *

“Jam 12” seru salah satu.
Sekejap mereka meninggalkan apa saja. Refleks meletakkan yang sedari tadi mereka genggam begitu saja, seolah jam itu yang sedari tadi mereka tunggu. Seolah jam itu adalah pertanda terbebas dari hipnotis panjang. Terbebas dari belenggu mantra sakti yang berbunyi “Demi menafkahi anak istri”, yang memperdayai mereka sejak pagi. Bebas untuk melakukan apa saja selain bekerja. Meski hanya satu jam.
Aku pun tak ketinggalan. Ikut memacu sepeda motorku menuju desa terdekat. Siap membuat warung kecil yang lebih menyerupai gubug itu jadi penuh sesak. Yang bangkunya terbatas hingga sebagian harus rela berdiri, untuk meneguk es teh segar dan melahap makan siang yang menunya sama dengan kemarin hari, sayur bayam dan lauk gorengan.
Si ibu penjual warung seperti biasa menyambutnya dengan senyuman khas orang desa, sementara pikirannya tetap berkalkulasi, hingga gelas-gelas es teh tersedia di atas meja tanpa diminta.
Aku termasuk sebagian yang berdiri, melihat gelas-gelas es teh itu dari kejauhan. Bukannya mengulurkan tangan untuk meraihnya, malah sibuk berpikir sendiri, “Inikah yang disebut perang?” Seolah yang tersaji di atas meja adalah maklumatnya.
Aku tak melihat pasukan. Tak juga senjata tajam seperti pedang dan perisai, atau artileri modern seperti yang sering kulihat di film-film. Apa yang sebenarnya sedang aku perangi? Sisi diriku sendirikah yang merintih kehausan?, Atau pikirankukah yang menerbitkan rasa lapar? Konon yang kalah katanya tak harus mengibarkan bendera putih. Artinya kalah bisa berarti rahasia alias nggak ada yang tahu. Yang menang juga tak bersorak sorai, malah tenggelam dalam isak tangis. What kind of war ?
Kata “istimewa” bak stigma yang kuat melekat, sampai aku takut berbuat. Satu jam itu pun terlewatkan begitu saja, tanpa es teh segar dan makan siang yang terakhir sempat kulihat mirip virus yang bisa mengotori kesucian kerongkongan dan lambungku, yang penuh dengan kaligrafi pilar-pilar keimanan. Aku takut kehilangan keistimewaan.

* * *

Kembali ke dunia keterasingan. Menatap rangkaian besi memanjang yang kian berkilau karena terik matahari. Berteman peluh yang tak kenal lelah menghiasi wajah. Sementara debu-debu yang berterbangan kian berani mengolesi bibirku yang kering dan lidahku yang terasa pahit. Semesta pasti mendegar jelas perutku menjerit.
Tapi perang itu tak bertahan lama. Ludah yang berkali-kali kutelan tak mampu lagi jadi penawar, setetes enzim kian tak berdaya oleh pesona segelas es teh segar. Diawali lututku yang gemetar, dan langkahku yang kini terhuyung mencari sandaran yang tak pernah ada. Rel panjang itu tiba-tiba terlihat bergelombang, juga orang-orang disekitaran. Aku bahkan sudah lupa dengan perjuangan Siti Hajar.
Ini fatamorgana, pikirku. Tapi ini kan bukan di gurun pasir, kataku lagi. Aku juga sedang tak ber- halusinasi oase dengan pohon kurmanya, sibukku menyadarkan diri.
Tapi aku tak sempat lagi bernegosiasi. Tak cukup waktu untuk berunding lebih jauh. Perang ini sepertinya tak mengenal akhir damai. Yang ada hanya kalah atau menang. Sedetik kemudian sepeda motorku kupacu lagi kembali ke warung tadi.
Warungnya masih buka, mejanya sudah kosong. Kecuali satu gelas es teh.
“Es tehnya lupa diminum nak…..” kata si ibu penjual warung.

* * *

Aku tak ingin menyalahkan pekerjaannya, atau paradigma “susah mencari kerja” yang sudah melegenda. Juga tempatnya yang terlalu berlebihan jika dianggap sebagai medan perang.
Mungkin karena aku terlalu miskin peduli, tak terlibat ber-euforia ketika Sya’ban datang mengawali Ramadhan. Sehingga perintah berpuasa seolah bisa kujalankan tanpa perlu persiapan. Peringatan “beratnya tak terkira” tanpa sadar begitu saja kuremehkan. Akhirnya aku bagai kehilangan kata kunci yang bisa menjaga keutuhan suasana hati. Seolah perang ini berakhir tanpa sempat kumulai.
Kini jiwaku lah yang kering, bukan lagi tempatnya. Kata sia-sia tak cukup lagi untuk mewakilinya.
Begitulah aku. Yang remeh, yang mungkin tak lebih baik dibanding mereka yang lebay Ramadhan. Tak sedetail pikiran Tuhan, yang telah merinci segala sesuatu yang berpotensi merusak keindahan perang.
Es teh itu pasti juga bukan pemberian Tuhan. Bonus hanya untuk mereka yang tampil di atas podium sebagai pemenang. Suatu hari nanti aku akan berpesan pada anak cucuku, “Jangan ikuti aku, aku hanyalah seorang pecundang”.


---***---

No comments: