Thursday, April 8, 2010

TO BE BETTER

Semak belukar itu sebenarnya cukup luas, namun bagi igo tak ubahnya seperti kandang dengan pagar pembatas. Meskipun kakinya dua, dia tak pernah kemana-mana. Waktunya dihabiskan untuk menemani si uli teman hidupnya. Di masa lalu igo telah melalang buana, menelusuri penjuru dunia dengan semua kenikmatannya. Aneka ragam kesenangan yang berwarna-warni, dimana tak ada satupun yang terlewati. Namun kini igo sepertinya tak tertarik lagi, mungkin karena di luar sana terlalu banyak sakit hati. Kenikmatan semu yang sarat dengan tipu daya dan penghianatan, yang menyesakkan dadanya di setiap sudut ruang. Sementara uli hanya menawarkan kesederhanaan lewat satu warna. Tak butuh waktu lama bagi Igo untuk menjatuhkan pilihannya.

Sehari-hari Igo sibuk mengikuti hasrat si uli. Menuruti semua kemauannya dan mengimbangi semua kebiasaannya. Igo akan ikut mendesis meski sebenarnya dia mampu bernyanyi. Ikut meliuk dan merayap meskipun di punggungnya melekat dua sayap. Mengikuti semua gerakan dan bahasa uli lewat berbagai cara dan upaya. Uli adalah bagian dari hidupnya.

Igo sendiri tak mengenal siapa dirinya, menurutnya bukan menjadi yang utama. Uli sangat memuja kesetiaan, sementara igo telah bosan dengan semua penghianatan. Segala pujian tentang bakat dan pesona yang dimilikinya telah terlupakan. Igo sudah tak ingat lagi bagaimana caranya terbang, semua kenangan masa lalu telah terbakar habis di tungku perapian. Uli adalah satu-satunya teman hidup bersama waktu yang terus berjalan.

+ + + + +

Sejatinya igo tak pernah memahami arti cinta yang hakiki. Perbedaannya dengan rasa kasihan, dan sejauh mana batas pengorbanan. Terkadang terlintas dalam pikirannya, bahwa dia sedang terjebak dalam ruang iba bersemukan cinta. Karena cinta dalam wujud kesetiaan kian tak jelas makna, semakin kaya dengan ribuan amarah dan berjuta prasangka. Namun igo percaya dengan kekuatan angin, yang sampai detik itu tak membawanya kemana-mana. Bumi seperti menjerat sepasang kakinya untuk tak jauh dari uli, sehidup dan semati.

Seiring waktu igo dan uli kian dekat, keseharian menciptakan kebersamaan yang kian tak berjarak. Uli butuh dilindungi, dan igo butuh diakui. Tubuh uli yang panjang mulai melilit igo hingga sulit bernapas. Uli semakin sering mendesis dari kedekatan, menggigit igo jika mencoba keluar dari dekapan. Hingga akhirnya Igo kehilangan hasrat untuk ikut mendesis, karena sekujur tubuhnya telah sarat akan luka gigitan. Hatinya mulai menyanyi tembang ratapan, mencari kebebasan yang bersembunyi di balik awan. Kesetiaan tanpa penghianatan mulai menampakkan wujud berbeda yang tak pernah dia bayangkan. Igo pun bertanya pada angin malam, “Inikah yang disebut pengorbanan?”

+ + + + +

Igo semakin sering menatap langit. Berharap ada cinta yang lain di atas sana. Yang berkenan membasuh kekeringan hatinya, agar dia tak berpura-pura bahagia. Begitu terbatas pemahamannya akan hidup, tak kuasa mempertahankan pelita hati yang kian meredup.

Namun Jeritannya sia-sia, igo kian terbiasa dengan semua luka. Dia hanya bisa meloncat dan meloncat agar tak tersengat. Berusaha menjaga jarak yang sebenarnya telah tak ada. Demi terhindar dari luka yang sebenarnya, yang membuatnya lupa akan arti bahagia.

+ + + + +

Suatu hari langit mendengar jeritan hatinya. Sakit hati dan bahagianya yang tinggal sisa-sisa telah menyempurnakan kedua sayapnya. Igo terbang tinggi meninggalkan uli yang tak mampu lagi menjangkaunya. Igo telah terbebas dari jerat pilihannya sendiri. Melayang jauh meninggalkan taman yang dia ciptakan. Namun dia tak merasakan kemenangan. Karena melihat sepasang mata yang penuh kesedihan. Sisi lain yang tak pernah dia lihat sebelumnya, sisa halaman yang belum pernah dia baca. Ada sepetak tanah yang belum sempat dia pijaki, yang memohon dirinya untuk kembali. Sesuatu yang sangat hakiki, suara jernih nan syahdu dari kedalaman hati.

Namun langit begitu kuat memanggilnya. Memaksa kedua sayapnya untuk terus melaju menatap awan berarak. Meninggalkan ratapan yang tersisa demi mencari cinta yang sebenarnya.

+ + + + +

Igo tengah bertapa di atas mega, tapi sukmanya melayang kemana-mana. Menari-nari diantara bima sakti berteman matahari. Menempuh perjalanan menembus waktu dan menjemput masa lalu. Tak ada lagi luka di hatinya, tubuhnya terasa ringan dan hampa. Melayang bebas tiada batas, melintasi seluruh penjuru jagad raya. Menyaksikan cinta yang bertebaran dari singgasanaNya, dimana semua kejadian bermuara.

Igo menjadi lupa seberapa sering tersakiti, namun teringat jelas siapa saja yang telah dia lukai. Tak ingat lagi seberapa banyak yang menerima uluran tangannya, namun kepada semua yang menemaninya dalam kesulitan terbayang jelas dalam pikirannya. Igo melihat dirinya sendiri dari sisi yang berbeda. Bahwasanya ada satu di atas yang dua, mahligai kesadaran di atas perasaan dan logika. Menyelami arti keberadaan diri setelah melewati semua yang telah terjadi.

Begitu nyata perbedaan impian dengan khayalan. Hingga semua luka mudah beralih menjadi beban, dan sakit hati menjelma kesedihan yang dinyanyikan berlebihan. Yang pada akhirnya berujung pada segala macam pelarian dengan dalih seribu alasan.

Igo melihat cinta yang kehilangan makna, cinta yang telah meninggalkan sarang peraduannya. Semua berawal dari kepedulian hati yang beralih keinginan memiliki dan menguasai. Menghindari sakit hati ternyata hanya akan menjebak igo ke dalam perangkap yang sesungguhnya. Cinta dengan kedua sayapnya tidak akan pernah terbang kemana-mana, selama jiwa masih terperangkap di dalam penjara. Igo sungguh beruntung karena langit begitu kuat memanggilnya. Yang menjelaskan makna kesejatian cinta, karena selama ini dia salah mengartikannya. Cinta yang agung tiada salah dengan permainannya, menempatkan igo diantara ketidaksadaran agar menemukan kesadaran. Membiarkan hatinya terluka agar pikirannya terbuka, membatasi pikirannya agar hatinya bicara. Menjadikan dirinya lebih baik melalui uli, bukan sebaliknya.

Ketika musim penghujan telah berganti musim semi, adalah waktunya bagi igo untuk kembali. Burung-burung pun bernyanyi menyambut datangnya hari, kupu-kupu berterbangan di setiap bunga yang sedang mekar. Igo mengucapkan salam pada delapan penjuru semesta. Sementara para bidadari sibuk menaburi bunga di setiap jejak langkah kepulangannya.

+ + + + +

Tak ada lagi daun-daun kering yang berserakan, semua telah berlalu dihembus angin semesta alam. Kegelapan malam telah memperlihatkan keindahannya, menghiasi kehidupan bermandikan cahaya bintang. Cinta telah usai menjelaskan hikmahnya pada igo. Satu-satunya jalan untuk menjemput keabadian adalah mendaki tangga kesadaran yang berjenjang. Demi satu cahaya yang dilihatnya dari kejauhan, demi meninggalkan kegelapan yang terus mengitari dan mengikutinya. Melalui jalan yang sudah dia mulai bersama uli, dan melanjutkannya dengan cara yang berbeda.

Uli adalah jalan hidupnya. Uli adalah jalan kepulangannya. Adalah kebersamaan untuk menguji keteguhan hati, adalah keberadaan untuk menguji kemampuan bicara tanpa menggurui. Igo tak lagi ikut-ikutan mendesis, dan tak lagi berhasrat mengumbar seribu bahasa. Membiarkan kegelapan yang berjalan sendiri mendatangi cahaya. Karena tiada guna menyalakan lilin di bawah terik matahari. Demi mewujudkan keagungan cinta lewat nyanyian kerendahan hati.

Igo belajar untuk menciptakan ruang diantara kedekatan yang tak berjarak. Mengasah ketajaman pedang kesadaran berteman kesabaran. Menjaga kebebasan yang tampak mata seolah tak ada agar jiwa tetap leluasa. Berusaha untuk tidak terjepit meski uli berhasrat menghimpit. Igo akan mundur teratur ketika merasakan datangnya ancaman. Menyembunyikan hati ketika cinta beralih ingin menguasai. Bukan karena uli adalah seekor ular, namun karena igo merasakan sisi ular dalam dirinya. Uli adalah cermin kegelapan dalam dirinya sendiri.

Igo setia berada di tangga tujuh warna, dan tak pernah berniat meninggalkannya. Membiarkan uli mengikuti jiwanya yang terus mendaki. Sampai batas waktu saat sejati uli terbebas dari segala sesuatu yang melingkupinya, terbebas dari sisi ular yang membelenggunya. Bersama-sama melangkah menuju cahaya di atas cahaya.



Tak ada kabar yang lebih baik

selain diri yang semakin baik

Lewat tekanan dan himpitan

di kedekatan atau sekitaran


Kemilau bintang hanya terlihat indah

di kegelapan malam




**********************************************************

1 comment:

Anonymous said...

nice mas kris gimana kabarnya nanti kl ada waktu aku main ke semarang ya banyak mau di share mas....dari yg punya nomor hokky 100