Wednesday, December 15, 2010

PEMUJA KATA-KATA


Romeo tak lagi bisa melihat apa-apa, kegelapan menjadi satu-satunya warna sejak para medis memvonis dirinya menderita glukoma. Mereka banyak bicara tentang harapan, mengisyaratkan kemungkinan terjadinya penyembuhan. Namun sekian waktu yang berjalan sama sekali tidak menghasilkan perubahan. Segala macam usaha termasuk pengobatan alternatif telah dijalani. Dukungan moril dari segala penjuru pun mengalir tiada henti. Namun tak ada satupun yang bisa menjadi solusi. Dia tetap menjadi orang buta, meski matanya tetap sebening kaca.
Seorang sahabat spiritualnya berkata bahwa dirinya sedang diselimuti cahaya, yang sejatinya adalah perantara mata dengan obyek yang dilihatnya. Sedangkan mata sendiri hanyalah jendela dunia. Kini cahaya tengah tak berkenan menjembatani matanya, memeluk rapat dirinya hingga tak dapat melihat apa-apa. Namun dia tak dapat memahami arti kata-kata sahabatnya, bahkan dia tak perduli meski dibalik kata-kata itu tersimpan sarat energi. Baginya kesembuhan adalah yang utama, dia hanya ingin bisa melihat seperti sediakala. Dia tak butuh kata-kata.
Bahkan kata-kata bijak yang dia puja, yang selalu menemaninya di setiap lelikuan jalan, satu demi satu menjauh tinggalkan bumi. Meninggalkan dirinya sendiri di tengah kegelapan, membiarkan dirinya terombang-ambing ombak ketidakpastian. Berjingkat-jingkat di tepi jurang keputusasaan, meratap pada langit dengan sejuta pertanyaan.
Andai benar Cahaya Ilahi datang merasuki diri menyapa jiwa, mengapa harus membutakan kedua matanya ? Apa yang sesungguhnya sedang terjadi ? Mengapa buah yang dipetik semuanya pahit ? Mengapa musim kekeringan kali ini sedemikian panjang ? Sampai kapankah mentari berkenan menampakkan diri dan tak lagi sembunyi ?

TAHUN TAHUN SEBELUMNYA
Dikala tidur sang macan terdengar mendengkur. Siapapun yang didekatnya akan tidak merasa nyaman, karena suara dengkurannya mengisyaratkan tembang ancaman. Ketika terbuka mata dia seperti akan menelan dunia. Ketika menggeliat aumannya memekakkan telinga, sebuah penegasan bagi siapa saja yang mendengar bahwa dia adalah raja. Kata-katanya menjelma pada kuku-kukunya yang tajam. Satu goresan sama artinya dengan sabetan seribu pedang. Nada suaranya adalah bahasa sepasang mata. Ketika nada meninggi berarti mata tajam menghujam, mampu menenggelamkan dunia dengan luas lautan. Menundukkan kepala-kepala yang ada dihadapannya, mempersilahkan dirinya melenggang tanpa mereka berani melirik kukunya. Yang tidak bersedia menjadi mangsa berarti budaknya. Yang butuh pertolongannya akan menjadi pengikut setianya. Dirinya menjelma jagoan sakti tiada tanding dengan ratusan pengikut yang semuanya pengecut. Mereka semua sepakat mengatasnamakan persahabatan dan persaudaraan, bersembunyi dibalik pembenaran yang bukan kebenaran. Sama-sama mengingkari realita sesungguhnya bahwa yang terjadi hanyalah saling memanfaatkan.
Namun seketika kabut tebal datang, menyelimuti tubuhnya dengan bisa yang mematikan. Meracuni aliran darah dan memaksa dirinya mengamuk, menancapkan kukunya ke segala penjuru hingga ia terhenti karena kelelahan. Tubuhnya pun semakin lemah karena berdarah-darah. Dalam kegelapan dia tak melukai siapa-siapa melainkan hanya tubuhya sendiri. Kabut itu tak pernah menepi, sejak itu kegelapan menjadi bagian dari hidupnya.
Ketika terdengar suara kehadiran di sebuah batang pohon sang macan hanya terdiam, dia sudah tak perduli andai yang datang adalah sebuah ancaman. Keterbatasan ini sedemikian menyiksa, andai yang datang elmaut sekalipun dia akan dengan suka rela menyerahkan nyawanya.
Dari batang pohon itu sang rajawali menyapanya dengan tatap mata iba berbalut nelangsa. Kata-kata yang terucap menyentuh jiwa di kedalaman rasa. Menikam dalam tiada terbilang, menyentuh ruang cinta yang telah sekian lama menghilang.
“Aku tak menangisi penderitaanmu, tapi aku mengasihani ketidaktahuanmu tentang apa yang sedang terjadi“
Sang macan merasakan nada keperdulian, bukan ancaman.
“Seberapa tinggi keangkuhanku, andai aku tak menangisi perasaanku sendiri ?”
“Menangislah demi kejujuranmu pada perasaanmu, segala beban karena kesalahan di masa lalu akan terurai bersama air mata yang berjatuhan”
“Sekian pertanyaan berkecamuk dalam diriku, kata mengapa dan apa yang harus dilakukan menjadi satu-satunya warna di permukaan lukisan. Mengapa kata-kata bijak yang selama ini menjadi kekuatanku meninggalkan aku dan berbalik menghakimiku. Andai dirimu adalah perantara semua bisikan, andai dirimu adalah sang pembawa lentera, sinarilah jiwaku agar aku dapat kembali menikmati terangnya dunia”
Sang rajawali tersenyum, menyambut kata-kata sang macan dengan hati terbentang. Gambaran masa lalu perlahan hadir seiring hembusan angin. Mengurai satu demi satu cerita suram di setiap lelikuan, mengalir sesegera sebelum senja tiba mencari mangsa.
“Tahukah dirimu siapa sebenarnya pemilik kata-kata bijak ? Tahukah dirimu kekuatan yang ada dibaliknya ? Kata-kata bijak ibarat pedang bermata dua. Pada saat semesta sedang berpihak, dikala jiwamu sedang bermesra-mesra dalam buaianNya, kata-kata yang mengalir lembut seiring tarian lidahmu akan menawarkan rasa nyaman pada mereka dan juga pada dirimu sendiri. Namun andai dirimu lupa dimana meletakkan sarungnya, kata-kata akan menjelma pedang terhunus yang menebar ancaman. Andai dirimu tak mampu mengendalikannya kata-kata akan memperdaya jiwa mereka sekaligus jiwamu sendiri”
“Andai Sang Pemilik Kata-kata menghendaki aku mengerti bahwa kata-kata bijak adalah permainan jiwa, mengapa aku diijinkan membutakan kedua mataku sendiri ?”
Sang rajawali tertawa, “Bukankah dirimu telah menyadari pesona agung dibalik kata-kata ? Bukankah segala pesona yang kau tebar di sepanjang jalan kehidupan adalah demi keuntunganmu sendiri ? Bukankah sekian siasat dan tipu daya juga tak lepas dari kata-kata ? Seberapa banyak yang terluka ? Seberapa banyak air mata yang berjatuhan menjelma telaga ? Bukankah sewajarnya andai dikemudian hari dirimu menuai ketidakberuntungan darinya ?”
Wajah sang macan memerah, darah dalam tubuhnya mengalir kencang diselimuti amarah. Namun bahasa tubuhnya terlalu lemah, kuku-kukunya pun seperti sembunyi karena malu. Rajawali kian tertawa, menyadari perasaan sang macan yang seperti dipermainkan takdir kehidupan. Sang macan kian tak berdaya, akhirnya dia menyerah ditikam gelisah.
“Sudahilah tertawamu, aku mengerti dirimu menertawakan kebodohanku bukan penderitaanku. Ketidaktahuanku akan makna sejati dibalik kata-kata dan kedangkalan pemahamanku akan permainan takdir telah menyesatkan aku. Kepada dirimu yang diijinkanNya bermain-main di taman hakekat, yang diberi olehNya kedua sayap, bimbinglah aku dari ketinggian langit agar dapat keluar dari belantara kegelapan ini“
Sang rajawali tak lagi tertawa, pijar kemilau biji sesawi terpancar di setiap kata-katanya, “Serahkanlah dirimu pada takdirmu, tak ada seorangpun yang mampu mengubah ketetapan takdir. Aku akan terbang meninggalkan dirimu, namun sepasang mataku akan selalu mengawasimu dari kejauhan. Akan kubiarkan dirimu terbentur dan terhempas, karena itu semua adalah jalan keluarmu dari belenggu keinginan dan keangkuhan diri. Agar dirimu menyerahkan tubuh dan pikiranmu pada jiwamu, dan membersihkan setiap sudut ruang alam bawah sadarmu. Demi penelusuran sebab akibat, demi mengulangi segala yang pernah terjadi dengan cara yang berbeda”

+ + + + +

Romeo kembali melangkah menelusuri takdirnya, berteman cahaya yang meracuni aliran darah dan merasuki jiwanya. Membiarkan jiwa mengubah sepasang kaki dan tangan, hidung dan telinganya menjadi sepasang mata. Membiarkan jiwa secara perlahan berkuasa atas segala hasrat dan keinginannya.
Tak lagi terpaku pada kata-kata bijak yang pernah didengarnya. Setia menanti hingga hakekat bersemayam dalam dirinya, hingga jati diri berkata-kata indah lewat mulut dan lidahnya dengan caraNya sendiri.



Wahai para kekasih,
duhai para perantara kata-kata
Jadikan dirimu menjadi lebih baik

melalui mereka
Jangan sebaliknya



**********************************************************

1 comment:

Unknown said...

Phoenix flying deeply in Hell and
Phoenix burn everything in Heaven
although...
Phoenix must die on Earth

Two Tumbs Up 4 kris Gong