“Wahai angin, dengarkanlah keluhanku, jawablah pertanyaanku, kemanakah perginya rumpun bambu yang kuikat ? Dulu aku rela menemani mereka bermandi terik matahari, mengapa kini mereka meninggalkan aku sendirian dibawah siraman hujan ?”
Namun angin tiada bergeming, lebih sibuk menyapa ilalang yang merindu sentuhan langit. Membiarkan anissa sendiri ditikam sepi. Semesta tak memberinya sedikitpun celah untuk berbagi. Walau hanya untuk sedetik meratapi hari.
Semua orang tahu anissa temannya segudang. Dari yang naik angkot sampai yang naik mobil buatan eropa. Yang dompetnya tipis sampai yang berkantung tebal, semua menyandang status sebagai temannya. Jelajah sosialnya luar biasa. Anissa nyaris tak pernah ada di rumah, waktunya habis bersama teman-temannya. Baginya teman adalah segalanya, sampai ayahnya berkata bahwa Tuhannya anissa adalah teman-temannya.
Namun seiring waktu yang berjalan, situasi berkata lain pada anissa. Masalahnya kian hari kian menumpuk. Kuliah yang tak kunjung usai karena skripsinya macet, kesehatan yang tengah merosot sampai motornya yang mogok di jalan mengantarnya pada sebuah renungan. Kemana teman-temannya ketika dia sedang membutuhkan pertolongan ? Mengapa keperduliannya selama ini tak berbalas ? Apa sesungguhnya makna dari pertemanan ? Haruskah dia terus memaksakan diri andai tak ada manfaat yang dipetik ?
Keyakinan anissa mulai goyah diterpa gulungan ombak, tonggaknya kian merapuh. Matanya menari ke kanan dan kiri mencari sandaran diri. Masa depannya mulai dipertanyakan, andai dia terus bergantung pada makhluk bernama teman-teman.
Parijan sering mendapat tekanan. Orang-orang menganggap dirinya bodoh karena memiliki teman yang kaya raya tapi tak bisa memanfaatkannya. Dia berdalih bahwa dirinya tercukupi dan tidak kekurangan. Dilain waktu dia berkata jujur bahwa dirinya betul-betul tidak tahu bagaimana cara melakukannya. Selain alasan tidak sampai hati sampai pada keyakinannya sendiri, bahwa dia bukan termasuk orang yang suka memanfaatkan teman. Menurutnya cara-cara seperti itu hanya akan merusak pertemanan.
Namun desakan orang-orang sering kali menjadi cerminan diri ketika dia sedang sendiri. Benarkah keyakinannya ? Andai dia lebih suka memberi dibanding meminta, mengapa bukan dirinya melainkan teman-temannya yang diperkaya ? Salahkah dirinya jika lebih memilih bersedia diberi tanpa harus meminta ?
Si susi juga tidak mengerti, mengapa teman-temannya datang dan pergi. Dia selalu menyediakan waktu kepada mereka yang ingin berbagi. Setia mendengar dan menampung segala uneg-uneg sampai masalah pribadi. Namun mereka selalu berlalu seiring waktu. Membiarkan susi terabaikan di sudut ruang. Menyampaikan pesan pada dirinya sendiri bahwa selama ini hanya dimanfaatkan. Menjadi seorang penjaga rahasia nyaris sama artinya dengan menimbun luka. Bahagia yang sesaat begitu cepat menghilang berganti derita panjang. Namun susi tetap menjalani dan terus mengulanginya. Baginya hidup hanya memiliki dua pilihan, berteman atau kesepian.
+ + + + +
Seorang sufi jalanan sedang duduk sendiri di tepi jalan ditengah gelapnya malam, sebelum seorang gelandangan datang menghampirinya dengan hangat tegur sapa dan sederet pertanyaan.
“Mengapa dirimu menyendiri, apakah dirimu tak memiliki teman ? Andai betul demikian, bolehkah aku menjadi temanmu ?”
“Pertemanan adalah rizki, banyak teman berarti bertambah kekayaan hati. Andai ada sesuatu yang menggerakkan kedua kakimu menuju ke arahku, haruskah aku menolakmu ?”
Si gelandangan tertawa mendengar jawaban sang sufi jalanan, “Banyak orang yang menolakku, itu berarti mereka lebih memilih miskin hati dibanding diriku yang miskin duniawi”
Sang sufi jalanan ikut-ikutan tertawa, dia merogoh kantungnya dan menawarkan rokok pada teman barunya. Kedua makhluk yang sama-sama memuja pertemanan itu bercakap mesra seiring kepulan asap tembakau dari mulut mereka. Mata mereka sama-sama menatap bulan yang tengah dibuai awan, sementara malam semakin sunyi ditelan sepi. Seakan hanya mereka makhluk yang tersisa di muka bumi.
Sang sufi memulai percakapan, “Aku telah mengarungi pekatnya hutan belantara dan luas lautan. Di setiap lelikuan aku selalu menemukan penghianatan dibalik pertemanan”
Si gelandangan terkejut, “Apakah itu cukup menjadi alasan bagi dirimu untuk membenci mereka ?”
Sang sufi tertawa, “Tentu saja tidak, justru aku merasa beruntung karena menyelami keduanya. Bukankah benci adalah cinta dalam wujud yang berbeda ?”
“Mungkin aku tidak seberuntung dirimu, namun setidaknya aku lebih terhindar dari sakit hati. Jika memang menyakitkan, mengapa pertemanan begitu diagungkan ?”
Sang sufi tersenyum, “Sungguh tak mudah menyikapi kesepian, demikian pula dengan penyikapan pada rasa sakit hati dibalik pertemanan. Andai tak bisa menyikapi keduanya, manusia akan terjebak pada kesepian yang tak ber-Tuhan”
“Dirimu seolah telah melihat keindahan sebuah pertemanan dari dua sisinya, katakan padaku seberapa banyak warna yang terlukis di atasnya ?”
“Pertemanan terikat pada ruang dan waktu, datang dan menghilang. Semua tak lepas dari permainan takdir Tuhan. Lebih baik sedikit tapi banyak dibanding sebaliknya. Namun itu semua bergantung pada pilihan manusia. Seberapa dalam perasaan yang terlibat, sepanjang itu pula masa pertemanan berlaku. Dirimu akan terlupakan dalam kurun waktu yang berlalu, namun hati akan selalu mengenangnya seiring bunga-bunga yang bermekaran di musim semi. Menjadi yang tak terlupakan adalah melalui jalan terlupakan”
“Begitu agung makna sebuah pertemanan, begitu kuat takdir menyatukan dan memisahkannya. Alangkah tersiksanya mereka yang tak bisa menyikapinya”
“Teman yang paling dibutuhkan adalah teman yang ada pada saat dibutuhkan. Karena mereka lah pembawa keberuntungan. Sedetik yang berlalu diriku menikmati kesendirian. Sedetik kemudian diriku diselimuti kesepian. Kemudian kekuatan takdir menggerakkan kedua kakimu menghampiriku. Dirimulah keburuntunganku”
Si gelandangan menggeleng sambil tersenyum, “Dirimu lah keberuntunganku, sesungguhnya diriku tak pernah menyadari seberapa dalam kesepian yang menggayuti ku sebelum bertemu denganmu”
Sang sufi balas tersenyum, “Kita sama-sama beruntung karena saling dipertemukan. Sungguh tidak beruntung apabila yang terjadi adalah sebaliknya jika situasinya sama. Sungguh tidak beruntung mereka yang tidak berada pada ruang dan waktu disaat teman sedang membutuhkan pertolongan. Adalah potret suram yang lebih menyakitkan dibanding kesepian tanpa pertemanan”
Si gelandangan mencoba menarik benang merah, “Sungguh beruntung mereka yang berada disisi temannya yang sedang berada di masa-masa sulit, sungguh beruntung mereka yang dikhianati dan terlupakan. Karena merekalah yang terpilih untuk lebih memahami dan menghargai sebuah pertemanan. Merekalah yang berpotensi menjadi seorang teman sejati, yang mampu membuat kehidupan temannya menjadi lebih baik”
Tiba-tiba angin berhembus kencang menghentikan percakapan. Keduanya terdiam dibuai kehampaan yang meraja-raja. Bulan dan bintang yang sebelumnya bersinar cahaya perlahan-lahan tertutup awan pekat. Langit seketika berubah menjadi gelap, tak lama berselang air berjatuhan membasahi bumi. Memaksa kedua makhluk yang tengah mesra bercengkerama beranjak pergi mencari tempat berteduh. Namun keduanya berlari kearah yang berbeda, hujan menjelma tirai raksasa yang mengaburkan segala arah pandangan. Sejak itu mereka tak pernah lagi bersua dan terpisah selamanya.
Beberapa waktu yang lalu mereka tak saling mengenal, namun tak lama kemudian mereka sama-sama merasa saling membutuhkan. Sejatinya mereka juga kecewa karena masa kebersamaan yang tak berlangsung lama. Namun pada akhirnya keduanya sama-sama bersyukur karena terhindar dari sikap saling menyakiti. Yang berlaku selamanya hanyalah rasa saling menghormati. Mereka tak menyalahkan kekuatan yang menggerakkan sepasang kaki mereka kearah terpisah. Karena pertemanan selamanya adalah bagian permainan takdir, terikat oleh ruang dan waktu, datang dan menghilang. Takdir tiada pernah berkata salah, segala yang telah utuh tak akan pernah diijinkan untuk kembali disentuh, demi keindahan pertemanan itu sendiri. Pertemanan sejati memiliki masanya sendiri, keagungan sebuah pertemanan akan semakin indah jika terlihat dari kejauhan. Selamanya mereka tak akan saling melupakan. Tersimpan rapi di hati, dan tak lekang oleh jaman dan laju peradaban. Sepertinya hanya sebentar mereka melihat keindahan sekuntum bunga, namun wanginya semerbak lestari sepanjang masa.
**********************************************************


2 comments:
hahahahahha, jadi inget. udah 7 bulan ya om gong tutup......
waooow....
Post a Comment