Thursday, April 14, 2011

FREE FROM GUILTY


Seorang manusia sedang bersorak-sorai merayakan kemenangan seusai perang keyakinan. Si setan yang melihatnya tampak tidak terima. Pesta pora yang digelar membuat sekujur tubuhnya yang berselimut api kian terang menyala-nyala. Kemarahannya memaksa semesta seketika berhenti berdetak. Keheningan tiba-tiba datang mencekam, menebar aura pekat yang menyeramkan. Si setan hilang kendali dan melanggar perjanjian, suaranya tak lagi hanya sebatas bisikan. Lantang bicara menyingkap tabir rahasia yang tak seharusnya diucapkan olehnya.
“Ketahuilah, kemenanganmu bukanlah kemenanganmu melainkan kemenanganNya. Tak satu pun dari mesiasNya yang berjuluk juru kemenangan, karena yang dijanjikanNya kepadamu adalah keselamatan. Andai dirimu menganggap kemenangan ini adalah kemenanganmu, suatu saat aku akan datang kembali dan mencurinya darimu”

+ + + + +

Seorang petualang kehidupan sedang berdiri di depan pintu gerbang. Tubuhnya lemas tiada daya, babak belur setelah menempuh perjalanan panjang nan mendaki dari jurang yang paling dalam. Seluruh kemampuannya telah menguap bersama tiupan angin. Rohnya merangkak mencari sesuatu untuk dipijak. Merayap dan mengkais-kais sesuatu yang bisa dijadikan pegangan, karena logika tak lagi mampu dijadikan sandaran. Dia setengah tidak percaya, karena harus melalui jalan yang sama untuk ketiga kalinya.
Dua kali perjalanan sebelumnya semua dia sudahi dengan derita. Lelikuan jalan dan persimpangan yang dia temui semuanya berakhir menyakitkan meski pada awalnya bergelimang kemudahan. Pilihan kanan atau kiri hasilnya sama saja, tak ada satupun kemenangan yang diraihnya. Kekalahan menjadi derita panjang tiada berkesudahan. Membayangi hidupnya dengan coretan-coretan kelam berwarna hitam. Andai pada saat itu ada setitik cahaya, sudah pasti disambutnya dengan gelinang air mata.
Dengan satu tarikan nafas sisa-sisa, disentuhnya pintu gerbang dengan sejuta keengganan, dia terkejut melihat seseorang sedang berdiri dibaliknya.
“Siapa dirimu ?”
“Aku di depan ruang dan waktumu, aku adalah penunjuk jalanmu”
“Apa yang akan kau tunjukkan padaku, karena jalan ini beserta pilhannya telah kulalui semuanya”
Sang penunjuk jalan tersenyum, “Disitulah masalahmu, dirimu merasa benar dan lebih tahu. Yang akan aku tunjukkan adalah cara melaluinya tanpa aku merasa lebih tahu darimu. Yang sesungguhnya bicara pada dirimu adalah pengalamanku bukan diriku”
Sang petualang terdiam, pikirannya melayang ke alam renungan. Kata-kata sang penunjuk jalan memaksa dirinya menelusuri perjalanan diri. Mencari makna keberadaan, demi menemukan kesalahan yang mungkin masih ada tapi tersembunyi. Tiba-tiba kegelisahan datang tanpa diundang, menyeruak ke permukaan menyapa udara. Meracuni aliran darah dan mempercepat degup jantung. Seketika pikirannya berhenti bekerja, perasaan gelisah bertahta sendiri di singgasana tanpa bersanding logika.
“Belum cukup waktuku untuk mengembalikan semua daya, kini rasa takut tiba-tiba menjadi raja atas diriku. Katakan padaku wahai sang penunjuk jalan, apa yang sesungguhnya sedang terjadi pada diriku ?”
Sang penunjuk jalan tertawa, ”Tak ada satupun manusia yang terhindar dari kesalahan, membuat sebuah pilihan baru tak berarti kesalahan yang lama begitu saja terbuang. Melupakannya justru akan membuatnya tertanam lebih dalam. Perasaan bersalah muncul ketika seseorang telah merasa dirinya benar. Meyakini sebuah pilihan tidak berarti memiliki kebenaran. Bukankah kebenaran selamanya adalah milik Tuhan ? Terkadang seorang ayah sengaja menanamkan rasa takut, agar anaknya mendekat, lebih patuh dan lebih memiliki rasa hormat. Namun kasih sayang akan mengalir sesudahnya. Bukankah cara termudah menjalani hidup adalah dengan menjalani perintahNya dan menjauhi laranganNya ?”
Kata-kata sang penunjuk jalan bak palu godam yang menghentakkan permukaan altar. Menikam dalam dan menyengat setiap sudut ruang. Sedikit saja dia mencoba berkelit, tubuhnya seperti dicabik-cabik pedang tajam.
“Musnah sudah dayaku, tak ada lagi kebenaran yang tersisa dalam diriku. Mengapa aku harus kembali ke jalan yang sama, tak adakah jalan yang lain ?”
“Dirimu harus bersabar untuk menunggu sentuhan keajaibanNya kembali datang padamu seperti dalam kurun waktu berlalu. Adakah yang lebih indah selain berada dalam pelukan cintaNya ? Bukankah kecerdasan tanpa berpayung keberuntungan akan terasa jauh lebih melelahkan ? Yang kamu lakukan boleh berbeda, namun hanya satu jalan keselamatan, tak ada lagi jalan yang lain. Sepanjang hidupmu akan selalu dikembalikan ke jalan yang sama, untuk memberi kesempatan bagi dirimu untuk mengulanginya kembali dengan cara yang berbeda, dengan caraNya. Demi mempertegas makna keberadaanmu bagi yang lain. Hidup hanya sekali, akan sia-sia jika hanya berarti untuk diri sendiri”
“Lalu bagaimana dengan pilihan-pilihan di tengah perjalanan ? Bagaimana diriku tahu bahwa yang kupilih adalah jalan keselamatan ?”
“Setiap pilihan selalu memiliki sisi baik dan buruk. Akan menjadi lebih mudah jika dirimu bertemu sisi buruknya lebih dulu. Namun jika kemudahan mulai hadir menyelimutimu, memenuhi mejamu dengan cawan demi cawan anggur yang memabukkan, jangan sekali-sekali dirimu merasa telah memilih jalan yang benar. Jangan sekali-sekali merasa telah meraih kemenangan. Karena kita tidak pernah tahu apa yang bakal terjadi dengan pilihan yang lain. Jangan sekali-sekali kau ungkap pada mereka sebagai pengetahuan, seolah-olah dirimu merasa lebih tahu dari yang lain. Sejatinya berita kemenangan Tuhan adalah cerita indah yang mewakili serangkaian hikmah. Kesalahan yang pernah terjadi adalah kesalahan penyikapan, semua itu adalah bagian dari rencanaNya. Agar dirimu tahu penyikapan yang seharusnya”
“Aku melihat dirimu setenang itu, bahkan dirimu masih bisa tertawa diatas deburan ombak. Bagaimana dirimu mampu menepis kegelisahan karena kesalahan di masa lalu ?”
“Aku tak pernah berpikir untuk membuangnya. Kegelisahan adalah bagian dari diriku, adalah pemanduku, adalah pengingatku agar tidak tersesat terlalu jauh. Karena sangat mungkin bagiku untuk kembali berbuat salah, aku tak akan bisa menghindarinya. Itulah sebabnya aku tiada gelisah diatas kegelisahanku sendiri. Semua demi kemudahan disaat diriku terbebas nanti. Saat aku terbang melayang menjemput mimpi di atas mimpi, saat meyakini tanpa tersisa pembenaran diri. Adakah yang lebih menakutkan selain hidup tanpa campur tanganNya ?”

+ + + + +

Sang petualang sedang sibuk menanam tanaman di kanan kiri jalan. Pemandangan yang semula gersang seketika berubah menjadi hijau terbentang. Karena tak mengerti si setan pun bertanya pada si malaikat, “Apa yang sedang dia lakukan ?”
“Dia sedang mengganti tanaman yang dulu mati karena terinjak olehnya. Dia sibuk memberi pertanda di setiap jalan yang dilaluinya, agar orang-orang yang dia cintai tidak tersesat seperti dirinya. Dia sibuk menjaga agar rasa takutnya tetap ada, agar terhindar dari merasa benar dan lebih tahu, dan tak tergoda untuk merayakan kemenangan yang bukan kemenangannya. Dia lebih suka menyerahkan kemenangan itu kepadaNya melauiku, sebagai wujud rasa syukur dan berterima kasih kepadaNya”
Si setan tertawa, tak terpengaruh dengan siasat si malaikat. Tetap setia membayangi setiap langkah sang petualang. Sabar menanti sesempit apa pun celah, menanti sang petualang kembali menemukan kemudahan agar tergoda mengulangi kesalahan.



Tuhan,
jangan biarkan aku tak terjangkau jari-jariMu
jangan biarkan aku tak terlihat kedua mataMu
Berkuasalah atas diriku pada setiap pilihan



**********************************************************