Monday, May 30, 2011

KETIKA HAMPA BICARA


Hidup tak selamanya seperti yang diinginkan. Terkadang berpihak lewat sajian sekian jamuan, menawarkan beragam kesenangan yang datang silih berganti. Kemana kaki melangkah seolah tergelar permadani berhias warna-warni. Kemudahan ibarat buah yang berjatuhan tanpa harus dipetik. Namun terkadang berpaling meninggalkan kesedihan yang seolah tiada akhir. Tak sedikit diantara manusia yang tenggelam dalam kebimbangan di tengah penantian panjang. Seperti rumput kering yang merana karena berlama-lama menanti datangnya hujan. Bak mengarungi padang pasir yang maha luas dan tak bertepi.
Bagaimana manusia menyikapi bergantung pada apa yang mereka yakini. Namun tak jarang keyakinan itu berbenturan dengan pemikiran orang-orang terdekat dan sekitaran. Yang berpikir membantu atau mengingatkan, namun yang meyakini justru merasa mendapat perlawanan atau diserang. Terutama bagi mereka yang tak kunjung dapat memberikan pembuktian. Semakin keyakinan itu dipaksakan, seseorang justru akan kian tertekan karena akan semakin sering mendapat penilaian. Segala sesuatu yang dilakukan akan dianggap salah, tak ada satupun yang benar. Salah dan salah lalu salah menjadi tajuk cerita hingga berujung di penghakiman. Setitik noda hitam selaksa menutupi seluruh wajah lukisan.
Upaya membela diri akan sia-sia, argumentasi yang disajikan hari demi hari kian bernuansa pembenaran bukan kebenaran. Sebagian akan sibuk bersembunyi dibalik keramaian dan kesenangan semu, yang sudah pasti tiada guna karena sifatnya hanya sementara. Sebagian lagi akan meratap-ratap, berharu biru dan berlinang air mata. Perlahan-lahan mereka menjelma menjadi makhluk sensitif. Yang berpikir bahwa dimanapun mereka berada adalah bahan pembicaraan atau tertawaan. Hingga pada akhirnya mereka akan terjebak dalam sebuah ruang kosong. Ruang hampa dimana tak ada siapapun didalamnya. Kesunyian nan mencekam yang mampu menghabisi segala macam keriuhan. Resah gelisah tak tertandingi dan tak terobati karena merasakan sesungguhnya arti sendiri. Terdesak oleh apa yang mereka yakini sebagai sebuah kebenaran. Burung camar pun jadi enggan terbang, karena berpikir langit biru tak lagi menganggap dirinya teman. Adakah langit bersikap demikian ?
Sejatinya mereka tak layak dibenci apalagi dimusuhi. Mereka lebih membutuhkan bimbingan atau tuntunan bukan cercaan. Karena mereka tidak sepenuhnya mengerti bahwa perasaan hampa adalah saat manusia menerima panggilan Tuhan. Sebuah situasi yang sangat mencekam namun sebenarnya sungguh menakjubkan. Sebuah isyarat untuk mendekat, berserah diri dan memohon ampunan.
Adakah yang mampu mengusik kedalaman hati seseorang selain Tuhan ?

+ + + + +

Nugraha adalah seorang eksekutif salah satu perusahaan terkemuka. Kehidupannya berjalan seimbang antara karier dan keluarga. Ditengah kesibukannya yang luar biasa dia selalu menyempatkan diri memperhatikan keluarganya. Dan sangat serius mengikuti perkembangan pendidikkan kedua anaknya. Namun keseimbangan itu tak lahir begitu saja. Jalan berliku mengiringi gerak langkahnya di masa lalu. Saat merangkak dan merayap meninggalkan jurang nan gelap lewat tuntunan sebuah titik cahaya.
Pada masa lalu nugraha lebih mengutamakan pekerjaannya. Kelangsungan hidup keluarga menjadi alasannya. Sepintas tak ada yang salah dengan keyakinannya. Demi pekerjaannya dia rela pulang larut malam, bahkan terkadang hingga pagi buta. Dari sanalah pertengkaran dengan istrinya mulai sering terjadi. Hingga memaksa orang tua dan mertuanya untuk ikut perduli. Tak ada satupun yang membelanya, meski mereka tak pernah memperdebatkan tujuannya. Mereka hanya mempermasalahkan cara penyikapan yang sudah menjadi alasan keyakinannya. Pertengkaran kian menjadi-jadi, nugraha pun semakin sering bertahan membela diri. Suatu hari anaknya masuk rumah sakit diantar istri dan mertuanya. Nugraha datang terlambat, namun dari mulut mereka tak sedikitpun keluar sepatah kata. Mulai saat itu nugraha resmi menyandang status terdakwa.
Nugraha mulai kehilangan konsentrasi, dia merasa baik-baik saja namun tidak dimata rekan kerja dan atasannya. Prestasi kerjanya jauh menurun hingga dia dipaksa untuk mundur. Dia semakin sering terlihat berpikir padahal melamun. Ketika diajak bicara kata-katanya tak jarang terdengar melantur. Dia merasa hampa dan tak berdaya apa-apa. Keyakinannya tak lagi mampu menjadi penyangga kedua kakinya.
Hingga suatu malam dia mendatangi sebuah gereja. Di atas altar dia bersujud luruh berlinang air mata. Dia tak lagi merasa memiliki apa-apa bahkan Tuhan nya. Menghiba, mengkais-kais kasih Tuhan yang pernah diacuhkannnya.
Sejak saat itu Tuhan membekalinya dengan sekian pemahaman, tentang sebuah kebenaran yang bukan miliknya. Nugraha pun berniat untuk memulai segalanya kembali dari awal, sebuah pekerjaan baru dengan segala konsekuensinya. Kejutan Tuhan buat dirinya, keluarganya mendukung setiap langkahnya dengan cinta. Keluarga tak lagi menjadi alasan melainkan tujuan. Sepintas serupa tapi tak sama. Lewat bimbingan Tuhan nugraha mampu membedakannya. Pekerjaan, karier dan rejeki menjadi ada karena keluarga, bukan sebaliknya.

+ + + + +

Peringatan orang tuanya untuk segera menikah tak pernah berhenti didengar kedua telinga juleha. Tak kunjung menikah mulai dianggap sebuah kesalahan meski juleha sama sekali tak berniat menjomblo seumur hidup. Kesibukan bekerja dan komunitas pergaulan mulai dianggap sebagai biang kesalahan. Semakin juleha mencoba membantah penilaian, kedua orang tuanya justru semakin sering menghadiahi tekanan. Seolah jodoh mudah ditemukan di pinggir jalan.
Entah mengapa pada saat bersamaan lingkungan kerjanya ikut-ikutan berubah. Suasana bekerja yang selama ini berpihak perlahan-lahan berbalik meninggalkan dirinya tanpa ada satupun yang membela. Segala sikap dan perbuatannya menjadi serba salah dimanapun dia berada. Akibatnya dia menjadi kian sensitif dan selektif dengan siapa akan bicara. Hingga akhirnya tak ada lagi siapa-siapa selain dirinya. Juleha merasakan keterasingan di dunia yang beradab. Perasaan hampa seketika menjadi raja, perlahan-lahan juleha menjadi budaknya.
Pada suatu malam dia bersujud khusuk diatas sajadah. Hantar keluh berteman tangis memohon pertolonganNya. Walau kata-katanya terbatas dan tak jelas namun hatinya tulus murni menyampaikan suara jiwa. Berserah diri sepenuhnya pada kehendakNya Yang Maha Tahu tentang permasalahan hidupnya. Tak lagi memaksakan pekerjaan dan pergaulan atau apapun yang telah dilakukannya sebagai jalan kebenaran yang diyakininya.
Sejak saat itu juleha tak lagi merasa sendiri, di setiap lelikuan jalan dia bermesra-mesra bersama Tuhan nya. Satu hal yang dia yakini, dia akan menikah pada waktu yang telah ditentukanNya, lewat caraNya dan dengan jodoh pilihanNya. Namun dia menyimpannya rapi di dasar hati, tak berhasrat lagi mengungkapkannya pada siapa-siapa. Menurut juleha keyakinan adalah rahasia. Ketika musim semi tiba, kupu-kupu akan hadir berkeliaran menyapa bunga demi bunga.

+ + + + +

Tuhan Maha Sayang pada semua umatNya, termasuk pada mereka yang sepertinya fleksibel tapi sebenarnya keras kepala. Juga pada mereka yang lantang bicara namun sebenarnya rapuh dan manja. Pembenaran bermuara dari keinginan kuat untuk dibenarkan. Mereka menjadi lupa bahwa berkeyakinan tak berarti memiliki kebenaran. Perasaan hampa adalah ruang sempurna bagi mereka untuk memulihkan kekuatan. Bagian dari proses pemulihan rasa percaya diri yang telah menghilang. Tak selamanya sendiri berarti sendiri. Tuhan selalu membuka lebar pintuNya kepada siapapun yang ingin kembali. Mereka layak dibela, diluruskan tanpa harus dibenarkan.
Adakah yang mampu melakukannya selain Tuhan ?



Keyakinan butuh pembuktian
lewat sikap dan perbuatan,
bukan penjelasan atau alasan
Karena kebenaran
selamanya adalah millik Tuhan

Biarkan keyakinan menjadi rahasia,
sampai semua menjadi sempurna
pada waktuNya



**********************************************************

1 comment:

Anonymous said...

Apik soro mas..... :)