Monday, June 13, 2011

NOBODY LOVES ME LIKE YOU DO


Keberuntungan terbesar dalam hidup
adalah dicintai sepenuh hati
Namun adakah sesudahnya yang bersedia
menyerahkan jiwa nya untuk Cinta
setelah Cinta memberikan segalanya ?

Basque-Spanyol, 1932
Perang itu menunjukkan tanda-tanda usai. Debu-debu yang semula berterbangan perlahan-lahan turun kembali menyapa bumi. Dengan pedang dan tombak masih di tangan paulo merida menyaksikan lawan-lawannya yang bertumbangan. Tubuhnya berpeluh keringat dan bersimbah darah, terlihat lelah namun senyumnya memberi arti tanda kepuasan. Untuk kesekian kali dia meraih kemenangan.
Namun kepuasannya tak bertahan lama. Seringai senyumnya seketika menghilang setelah menatap tingginya langit. Paulo merida kembali merasakan kesendirian setelah tak melihat keberadaan sang bulan.
Jeritan burung elmaut yang bersiap menyambut pesta tak lagi terdengar. Riuh kemenangan yang sempat bergema sebelumnya sekejap sirna berganti kesepian.

+ + + + +


Dimata rakyat basque paulo merida adalah lambang kekuatan. Dibawah kepemimpinannya rakyat baque selalu memenangkan pertempuran meski pasukan raja unggul dalam jumlah pasukan dan persenjataan. Dia tidak mengenal ketidakmungkinan, batas logika tak ada dalam pikirannya, keyakinannya meracuni aliran darah segenap rakyat basque yang dicap oleh raja spanyol sebagai pemberontak. Rakyat merasa aman dan terlindungi, kepada paulo merida jiwa-jiwa rakyat basque diserahkan.

Perasaan tertindas adalah kehidupan rakyat sehari-hari karena tekanan monarki mengalir deras tiada henti. Namun dalam menjalani hidup yang sarat akan tekanan, paulo merida selalu berada di depan. Dia bersedia terluka terlebih dahulu, selalu berusaha memahami hakekat perlawanan ketika diserang. Ketika dia sedang bicara semua akan mendengar. Keberadaannya ibarat pohon besar yang rindang, kata-katanya yang tegas dan bijaksana selaksa angin yang berhembus sejuk menerpa wajah. Rakyat basque dengan penuh cinta mengikuti arah hidupnya. Dia adalah pemimpin sejati bagi kaumnya.
Ada suasana yang berbeda seusai perang. Di madrid raja marah besar, sementara sepanjang jalan mestalla hingga catalonia paulo merida disambut arak-arakan. Namun tak ada pesta kemenangan, karena dia tahu esok hari dirinya harus kembali berperang. Pasukan raja pasti akan datang kembali dengan kekuatan yang jauh lebih mengerikan. Kegelisahan pun mengintip diam-diam di sela-sela keyakinan, menawarkan rasa takut nan mencekam berselimut beban.
Ketika malam hadir menjemput keresahan pun datang bergayut. Wajah langit masih sama dengan sebelumnya, tak ada bulan di atas sana. Paulo merida tampak menundukkan kepala berteman kecewa. Jeritan hatinya kian terselami karena sang bulan masih setia bersembunyi. Disaat kesepian membelenggu sukmanya meraja-raja, bulan di langit masih enggan menghibur dirinya dengan nyanyian rindu. Kehangatan cinta di masa lalu pun tak pernah berhenti menjadi hantu. Sementara dalam realita hidupnya yang sekarang, dia tak pernah menemukan cinta diantara sanjung puja.
Diseretnya sepasang kaki menuju jalan-jalan sepanjang kota. Angin malam merasuki jiwanya yang hampa dan haus bermanja-manja. Langkahnya terhenti di sebuah keramaian. Sekerumunan orang tengah asyik mendengarkan celoteh seorang penyair, berjejer rapi mengelilingi api unggun yang nyalanya cukup besar. Paolo merida pun hanyut dalam buaian kata-katanya.
“Dimanakah dirimu ketika aku tengah bermuram durja. Dimanakah aku ketika dirimu membutuhkan aku. Tak akan pernah cukup terwakili walau angin selalu menyampaikan salam ditengah jarak terbentang. Akan selalu ada siksa dibalik bahagia ketika ikatan rasa masih terjaga. Mengapa kehidupan tak sedikitpun berbelas kasih, memberi sedetik waktu untuk sekedar beradu pandang walau kata rindu tak sempat terucapkan. Mengapa semesta begitu kejam menawarkan pilihan yang bukan pilihan, hingga satu lagupun tak sempat aku nyanyikan. Haruskah aku mengingkari cinta yang hadir sesaat namun bergelora. Cinta yang mampu menginspirasiku sepanjang masa. Cinta yang apinya tak mampu aku padamkan, sampai-sampai aku harus berbagi kepedihan pada setiap ilalang. Bagaimana aku akan melupakanmu jika bunga cintamu selalu kusirami. Bagaimana mungkin aku akan meninggalkanmu jika desah nafasmu masih jelas kudengar. Adakah kesungguhanmu untuk melupakan aku jika setiap aku berlalu selalu kau panggil namaku. Begitu lekat dalam ingatan saat baju kita bermesra-mesra di atas lantai sementara kita menyaksikannya dengan mata terpejam. Tak akan terlupakan saat kita menyatu dan melayang dibuai awan sementara resah merajam. Burung dara yang melihatnya sampai malu-malu, bahkan langit biru pun ikut cemburu. Bukankah kita saling mencintai kekurangan dan tak mengingkari keterbatasan. Dosakah aku jika masih memiliki harapan. Bukankah cinta tiada mengenal timbangan. Yang lalu bagaikan kemarin, hari-hari berganti terus menikam diri. Kesenangan yang kuraih tanpa dirimu menjadi tak berarti. Ketika kesedihan datang kesepian pun kian menjadi-jadi. Caramu menyebut namaku tak tertandingi, caramu memandangku tak terpecahkan, caramu menggemasiku tak tergantikan. Tak ada yang mampu menyiksaku sedemikian hebatnya. Biduk cinta telah terlanjur aku sandarkan. Tak ada yang mencintaiku sehebat dirimu”
Sesudahnya semua orang bertepuk tangan. Paulo merida tertunduk dalam diam mencari jawaban, “Kemanakah perginya ruang dan waktu yang berlalu ?”

+ + + + +


Hawa tercipta untuk menemani sang adam, zipora hadir untuk membunuh kesedihan musa karena merasa terbuang. Keberadaan khadijah bagi muhammad di masa awal kenabian yang sangat berat sungguh tak terbandingkan.

Namun paulo merida merasa ditakdirkan kesepian ditengah riuhnya kehidupan. Apakah sejatinya ketiga pendahulunya juga merasakan hal yang sama ? Dia merasa terjebak di kehidupannya di masa kini hingga harus terpisah dengan perjalanan cintanya yang tertinggal di masa lalu. Paulo merida tak bisa mengelak ketika rakyat basque menyerahkan rasa takut dan gelisah kepada dirinya. Ketidakpastian kelangsungan hidup rakyat basque seakan sirna ketika mereka menjadikan paulo merida sebagai cahaya. Sebuah tanggung jawab yang luar biasa hingga memaksa ketakutannya sendiri menghilang ditelan bumi. Namun ketika kegelisahan berselimut beban datang menggoda, kesepian pun menari-nari di alam pikirannya.
Saat itulah cinta dari masa lalunya hadir menghiasi setiap mimpi. Menawarkan harapan lewat kerinduan yang sedemikian menyiksa. Paulo merida seperti dipaksa untuk kembali sekaligus melepaskannya. Untuk menghirup wangi bunga yang sedang mekar namun juga menampiknya. Cinta bak membelenggu dirinya dengan cara yang sempurna, memberinya kekuatan sekaligus membuatnya terperdaya. Saat rakyat basque melihat cahaya, kegelapan yang sesungguhnya bersemayam dalam diri paulo merida. Misteri kehidupan selamanya tetap terjaga dalam dirinya.

+ + + + +


Keesokan harinya paulo merida telah kembali duduk diatas kuda dengan jubah perangnya. Tombak di tangan kiri dan pedang di tangan kanan. Menurutnya yang bakal tersaji di depan mata bukanlah peperangan melainkan pembantaian. Karena lawan hadir dengan kekuatan tiga kali lebih besar. Perang tak seimbang itu pun terjadi. Namun berlangsung sengit dan memakan waktu lama hingga senja, karena rakyat basque tak mau menyerah begitu saja. Paulo merida tampak kian terdesak hingga meninggalkan kudanya. Dengan sedikit terhuyung dia mengambil beberapa langkah mundur untuk sebentar menghela nafas demi mengumpulkan tenaga. Sejenak ditatapnya tingginya langit yang mulai memerah, paulo merida terkesiap. Walau masih malu-malu namun sang bulan mulai menampakkan kehadirannya. Paulo merida kegirangan tersungging senyuman. Dia tak lagi merasa sendiri karena Cinta telah hadir menyapa jiwanya. Paulo merida tahu bahwa yang ada dihadapannya adalah cermin dirinya sendiri. Dia tak ingin angkara murka menghabisinya, dia tak ingin keserakahan membuatnya binasa. Dia tak ingin sisi-sisi buruk dalam dirinya menjadi alasan kematiannya.

Dipandanginya wajah sang bulan dengan mesra. Kata-kata bijak tiba-tiba terngiang-ngiang menyapa kedua telinga, bahwa jiwa-jiwa yang terpisahkan oleh dunia, semua akan dipersatukan di akhirat oleh cintaNya. Akhirnya paulo merida menemukan cara. Jalan terbaik terbebas dari belenggu cinta adalah dengan menyerahkan jiwanya pada cinta itu sendiri. Paulo merida akhirnya menyadari bahwa ketakutan dan kegelisahan yang hadir sesekali bermuara dari kebanggaannya pada diri sendiri. Adapun cinta tiada pernah salah, cinta pun tiada pernah pergi. Keberadaan dirinya adalah karena cinta rakyatnya. Cinta di masa lalu pun tak pernah berhenti menafasi jiwanya. Cinta telah memberikan segalanya.
Paulo merida kembali ke peperangan, melangkah dengan tenang menyambut takdirnya. Angin dingin berdesir menerpa wajahnya yang lusuh dan berdebu. Bibirnya bergetar mengucap sebaris mantra, “Wahai Cinta, bunuhlah aku. Siramilah roh ku dengan wewangian bunga firdaus”
Hari itu senja berlangsung lebih lama. Paulo merida memeluk erat sang bulan dan tak ingin melepasnya.



**********************************************************

No comments: