Wednesday, June 29, 2011

THE DEVIL'S ADVICE

Hujan yang turun sangat deras terlihat seperti tirai raksasa yang menghalangi pandangan mata. Tak ada pilihan lain selain berlari dan berlari menembusnya. Sekian jarak yang terlewati mengiringi degup jantung yang berpacu menembus waktu. Lelah dan getir sementara tak bersuara karena tenggelam oleh gemuruh hujan.
Setelah berlari cukup jauh akhirnya kutemukan tempat untuk berteduh. Sebuah gubug beratap rumbai-rumbai yang nampaknya bekas warung yang sudah tak terpakai. Namun tubuhku sudah terlanjur basah kuyup. Atap rumbai itu pun tak semuanya utuh. Ada beberapa bagian yang masih membiarkan hujan jatuh menembus hingga permukaan tanah. Namun masih tersisa cukup ruang untuk menghindari kebocoran, dan sebuah bangku panjang yang bisa aku duduki sejenak untuk menghela napas. Memberikan aku kesempatan untuk menghangatkan diri sambil menunggu hujan berhenti. Namun waktu yang terbuang tak bisa aku hindari. Kepada setiap dinding anyaman bambu aku berkata lantang menyesali. Yang jelas tak kupahami, langit sedang menangisi atau menertawai.
Kusulut api di ujung batang rokokku, meluncur lah kepulan asap dari mulutku. Merokok di tengah suasana hujan selalu memberi nuansa yang berbeda. Meski jemariku masih gemetar karena kedinginan, nikmat tembakau berteman nikotin pada saat itu terasa berbeda dari biasanya.
Ketika aku sedang mencoba memahami makna kejadian, tiba-tiba kusadari seseorang telah duduk tepat di sampingku. Dia juga sedang merokok, dari bau asap rokoknya kutahu dia menghisap rokok yang sama. Aku baru akan melirik wajahnya, namun dia buru-buru mencegahku lebih dulu dengan sederet kata-kata.
“Aku iblis, jika belum siap benar jangan paksa dirimu untuk melihat wajahku. Bisa-bisa dirimu kecewa dengan semua realita”
Kata-katanya meluncur datar tanpa terhalang. Sederhana namun sangat bertenaga, hingga ketebalan udara pun tak sanggup membendungnya. Jernih dan kedap suara, tiada terusik oleh riuhnya tangisan langit. Sosoknya begitu kuat dengan aura nan pekat, sampai diriku tak mampu sedikitpun bergerak. Tiba-tiba saja lidahku begitu kelu, tak ada pilihan lain untukku selain membisu. Tak ada kesempatan untuk melarikan diri, sebegitu mudahnya aku terkuasai. Selanjutnya aku hanya menjadi pendengar sejati, komunikasi satu arah pun terjadi. Suara sang iblis seperti penyanyi solo yang mendominasi, sementara gemuruh hujan selaksa musik orkestra yang mengiringi.
“Lihatlah dirimu, yang sibuk membunuh waktu demi orang yang kau cintai. Hari demi hari yang berlaku, selalu kau jalani bersama mereka dengan mesra di atas permadani. Mengurai satu demi satu aral melintang yang menghalangi. Namun ketika waktumu berpaling, dirimu sibuk mencari-cari detik-detik yang menghilang diantara tumpukan jerami. Amarahmu pun seketika menari-nari. Kepentinganmu tenggelam oleh wajah-wajah yang memelas memohon perduli. Adakah kepedulian mereka kepadamu ? Andai beban telah usai kau alihkan, bukankah sesudahnya mereka melupakanmu ? Paling-paling mereka hanya akan menangis di atas pusaramu. Itupun tidak menangisimu, melainkan diri mereka sendiri. Begitukah kehendak Tuhan mu kepadamu ? Sungguhkah dirimu ingin meniadakan waktu ? Mengapa tak kau tanyakan saja pada yoshua caranya menghentikan hari ? Kemana sebenarnya dirimu akan menyertakan aku ?
Lihatlah dirimu, yang selalu berpikir memberi namun begitu angkuh untuk diberi. Memberi kesan menolak setiap kunjungan karena pesan yang tersampaikan dirimu terlihat selalu berpergian. Pintu mu selalu nampak tertutup, namun dirimu malu-malu mengintip lewat sudut jendela menanti-nanti yang datang.
Dirimu yang selalu sibuk menggerakkan kedua tanganmu, bak mengingkari berjuta tangan semesta yang mampu menciptakan keadaan sesuai keinginanmu. Namun ketika sawah ladangmu akhinya mengering, ketika cawan anggurmu tak lagi terisi dirimu justru sibuk meratapi. Ketika alam tengah tak bersahabat dirimu malah lebih suka mengingkari keinginanmu. Semestinya dirimu tahu dimana keberadaanku ketika membutuhkan aku. Mengapa tak kau sesali pilihanmu ?
Lihatlah dirimu, yang lebih suka berbicara namun terlalu sombong untuk mendengar. Bahkan kepada unggas di taman-taman yang tak terpikirkan olehmu bahwa mereka mulai bosan. Kata-katamu meluncur begitu saja tiada kendali, tak terkecuali pada mereka yang sedang ingin sendiri. Semestinya dirimu mengerti bahwa burung bernyanyi sebagai pertanda pagi. Namun mengapa ketika langit membisu dirimu justru bersembunyi ? Telah habis kah khasanah kata-kata ? Bukankah dirimu tak lagi membutuhkan bisikan semesta ? Mengapa tak kau tanyakan kepadaku cara mengembalikannya seperti semula ?
Lihatlah dirimu yang sangat perduli dengan sebab akibat, sampai-sampai di sela-sela bumi kau penuhi dengan letupan hasrat. Bukankah dirimu telah mengerti bahwa kehidupan bukanlah serangkaian kebetulan ? Lalu mengapa tak kau biarkan saja semua terjadi sebagai bukti cerminan diri ? Sungguh aku tak mengerti mengapa dirimu sering memaksaku untuk mengubah pengulangan kejadian. Jika pada akhirnya toh mereka hanya akan menilainya sebagai kebetulan bukan keberuntungan. Siapa sebenarnya dirimu ?
Lihatlah dirimu yang selalu bersembunyi dari rasa takut. Agar orang-orang yang terpedaya oleh mu tak menggelarimu pengecut. Sebegitu luaskah rimba raya hingga ujung rambutmu tak dapat terlihat ? Bukankah perdu di belantara sangat suka berbagi rahasia ? Andaikan dirimu terpojok dan tertangkap basah, andai burung bangau menyadari bahwa paruhnya tak sempurna, siapa yang akan engkau persalahkan ? Sejauh kaki melangkah, sejauh kebersamaan yang terselami, keinginanmu hanyalah pembenaran diri. Mengapa dirimu harus malu kepadaku ?
Lihatlah dirimu yang mengingkari luka karena segala buruk prasangka, yang selalu berpura-pura seolah baik-baik saja. Kepada barisan ilalang dirimu menyanyikan tembang merdeka, namun sambil berbisik dirimu mengucap kata terpaksa. Katakan kepada mereka seperti yang engkau katakan padaku, bahwa dirimu masih haus pengakuan. Di setiap bunga yang sedang mekar dirimu selalu menantikan langgam pujian. Katakan pada mereka bahwa keindahan pohon kesturi hanya terlihat dari kejauhan, melihat luas danau nan cantik dari dekat adalah kesalahan. Katakan bahwa mereka keliru, bahwa wajah langit tak semuanya berwarna biru. Semestinya dirimu tahu keberadaanku ketika mereka memujamu atau menolakmu. Lalu mengapa engkau kembalikan diriku kepada mu ? Siapa sebenarnya dirimu ?"

Kalimat terakhir sang iblis tiba-tiba membangkitkan kesadaranku, seolah temali yang mengikat tubuhku begitu kuat ada sebagian yang mengendur. Meski masih tak mampu bergerak namun aliran darahku telah mengalir lebih teratur. Siapa diriku ? Siapa diriku sebenarnya ? Belum usai aku menulusuri kehampaan diri angin bertiup kencang menerpa wajahku yang sedari tadi membeku. Sukmaku terguncang hebat hingga ragaku tiada sanggup menanggungnya. Pohon bodhi yang kekar seakan terhuyung dan ingin merebahkan diri memeluk tanah. Namun semua keguncangan itu seketika terhenti ketika sang iblis melanjutkan berkata-kata. Namun kini pikiranku lebih terbuka, mataku telah melihat hujan tak lagi sederas sebelumnya. Suara rintik-rintik mengalun jernih menemani perih. Sayup-sayup terdengar di alam bebas menikam pedih. Pertanyaan “siapa diriku” tak mampu ku ungkap. Karena aku sedang menangisi diriku.

+ + + + +

“Mengapa sedemikian tega dirimu menyiksa tubuhmu sendiri demi orang lain ? Padahal dirimu mengerti bahwa mencintai seringkali berbalik dinafsui. Mengapa harus kau ingkari lelah batinmu ? Haruskah aku mendorongmu ke dalam jurang nan gelap agar dirimu menjadi seorang pemberani, agar berhenti mendua, agar tak lagi menjadi seorang peragu ? Aku menyukaimu karena memahami posisi tawarmu untuk tidak menyerah begitu saja menjadi budakku. Namun pilihanmu untuk terus berpura-pura dan bersembunyi di setiap sakit hati sungguh memuakkan aku. Mengingkari keberadaanku sama saja artinya dengan membiarkan aku menyalakan api hasrat pada hal-hal yang tak perlu. Sanggupkah dirimu menolakku ?
Aku tercipta untukmu, aku tak memiliki pilihan sepertimu. Semua yang kulakukan hanyalah untukmu bukan untukku. Agar dirimu dapat menikmati indahnya dunia dengan caraku bukan caramu. Selama dirimu sibuk bermain-main di taman imajinasi aku akan terus menari-nari di ranah fantasi. Bukankah sesungguhnya dirimu menikmati ? Jangan memaksa aku untuk mencintai Tuhan mu.
Jangan kau suruh aku untuk ikut menyalakan lilin di bawah terik matahari. Karena pengetahuanmu bukanlah pengetahuanmu. Untuk apa kau ungkap semua rahasia pada mereka yang tak sungguh-sungguh ingin tahu. Sebenarnya dirimu mengetahui keberadaanku ketika sedang berkata-kata. Aku akan tetap setia meracuni setiap logika dengan makna yang berbeda. Agar mereka tetap buta sampai batas akhir jika memang itu pilihannya. Akhirnya pada ujung cerita mereka juga akan tahu tanpa perlu mereka-reka, bahwa khusnul khotimah bukan diberikan begitu saja, bahwa penebusan dosa pun bukan diberikan secara cuma-cuma.
Kepada mereka yang meninggalkan taman hati, yang memanfaatkan maksud baik mu demi keuntungan pribadi, yang hidupnya hanya untuk diri mereka sendiri, yang tak terhindarkan dari pengulangan kejadian yang telah dirimu peringatkan, akan kubiarkan mereka semua membusuk sebelum mati.
Jika dirimu telah mampu merajut ketenangan sejati, adalah saatnya aku meninggalkanmu. Karena dirimu tak lagi membutuhkan aku. Telah siapkah dirimu ?”

+ + + + +

Panggilan dari seseorang berusia lanjut di depan gubug, yang menanyakan kemana jalan ini menuju membuyarkan lamunanku. Seketika aku bangkit dari bangku panjang menghampirinya. Benakku berputar-putar mencoba mengembalikan kesadaran yang sempat menghilang. Meski belum utuh sepenuhnya diriku mampu memberinya jawaban di luar kepala, karena jalan ini sudah pernah kulalui sebelumnya. Jalan yang selalu kucoba jalani dengan cara yang berbeda.
Cara menjelaskanku pun tak seperti biasanya, terasa seperlunya saja. Meski kedua tanganku ikut bergerak-gerak memberi petunjuk, yang tergambar hanya sebatas permukaan lukisan. Tak kuasa menyentuh kedalaman lelikuan dan persimpangan. Ada yang memang harus dibiarkan terjadi seiring rahasia. Demi menjaga keutuhan dan keindahan cerita. Karena jalan hidup orang itu adalah ceritaNya.
Lilin menyala pada saat yang tepat untuk mengusir gelap. Yang aku tahu pada saat itu tak ada lagi air yang menetesi bumi, hujan sudah sepenuhnya berhenti.
Tubuhku kini terasa hangat. Aku tak lagi merasakan kedinginan, jemariku pun tak lagi gemetaran. Mungkin karena api yang menyelimuti tubuh sang iblis sedari tadi sibuk menjilati tubuhku. Hingga bajuku yang tadinya basah kuyup mengering seketika. Luapan hasrat mampu mencairkan semua kebekuan. Keteguhan hati mulai berani menari-nari diatas tungku perapian. Tak ada lagi mendua, keraguan pun kian sirna, karena dosa dan pahala menyatu bersama nyala apinya.
Begitu mahirnya sang iblis menggoyahkan keyakinanku, sampai egoku tak kutemukan di setiap kantung baju. Di dalam tas kerja yang telah lama tak kugunakan justru kutemukan secarik kertas berisi baris-baris doa. Yang memuat ayat-ayat tentang penyerahan diri dan permohonan ampun kepadaNya. Surga telah hadir dimana-mana, bara api terhampar di pelataran muka jalanan. Siap menyambut setiap ayunan langkah dan menyengat telapak kaki seperti membakar diri menuju matahari. Jasadku semakin erat mendekapi bumi, sukmaku kian mesra mencumbui langit. Jalan pintas ke surga adalah melalui neraka.
Begitu banyak jalan pilihan, betapa rela iblis untuk dipersalahkan, bahkan aku nyaris membuatnya patah hati. Riak pun kian menghilang dari permukaan danau biru.
Yang mana malaikat dan yang iblis, semakin aku tahu semakin pula aku tidak tahu. Tiba-tiba saja aku kini sibuk dengan rencana-rencana baru. Aku tak lagi menanti-nanti kapan senja itu tiba. Aku tak ingin lagi merasa takut terganggu, tak ingin lagi memaksakan diri terbebas dari sesuatu yang diciptakan untuk membantu menemukan kebebasanku. Kesalahan adalah bagian bukan beban. Rasa takut adalah pembatas bukan penghalang. Meniadakan resiko berarti mengamini ketidakmungkinan. Burung elang tak pernah jatuh walau tak sedang mengepakkan sayapnya. Semua karena langit yang menanggungnya.
Ketika sahabatku menanyakan kemana perginya wajah syahdu yang selalu menghiasi birunya langit, jawabku, “Aku menanggalkannya di sebuah gubug beratap rumbai di tepi jalan. Saat langit menangisi sekaligus menertawai diriku”



Lebih baik bercanda bersama Tuhan
dari pada dicandaiNya
Karena Tuhan Maha Bercanda



**********************************************************

No comments: