
Sekelompok pendaki tengah dalam perjalanan pulang meluncuri gunung. Setengah berlari berpacu dengan waktu, menghindari kabut datang menjemput. Ketika mentari terlihat mulai meninggi, di salah satu lereng langkah-langkah tegap itu terhenti. Adalah tempat favorit para pendaki yang biasa mereka sebut lembah gema. Persinggahan di bawah rimbun pepohonan sembari mengajak alam berbicara.
Setelah cukup menghela nafas, satu persatu dari mereka mulai berteriak-teriak. Yang disuarakan tak jauh-jauh dari kebaikan diri sendiri. Lembah itu membalasnya dengan kata-kata yang sama, terdengar berulang-ulang dan bersahut-sahutan seperti paduan suara. Seperti biasa ritual narsis itu berakhir dengan derai tawa. Perjalanan pulang ke kaki gunung dilanjutkan, sebaris senyum menghiasi wajah-wajah sahabat alam.
Para pemilik mata batin sering melihat yang tak terlihat. Langit tak selalu berarti yang tinggi diatas sana, lebih jelas yang di atas tanah sampai yang persis di depan mata. Setiap detik mereka melihat plasma raksasa yang menyelimuti bumi. Bergerak-gerak seperti permukaan air yang bening, biji-biji yang berkilau diatasnya terlihat seperti jutaan kunang-kunang yang mengambang. Setiap gerakan manusia tergambar jelas di permukaan cermin raksasa. Terlihat seperti adanya, memantul sempurna tanpa rekayasa.
Begitu bersahajanya alam, sepenuhnya membantu manusia mengenali diri lewat setiap pantulan. Begitu jujur merekam setiap ucapan atau perbuatan tanpa satupun yang terhilang.
Masih adakah ruang untuk bersembunyi ? Adakah keinginan untuk memperbaiki kualitas diri ? Mengapa masih banyak dusta yang nyata ?
+ + + + + Masih adakah ruang untuk bersembunyi ? Adakah keinginan untuk memperbaiki kualitas diri ? Mengapa masih banyak dusta yang nyata ?
Tak ada rusa yang berteman sekumpulan macan, hanya tikus bodoh yang mendatangi sarang ular. Kecerdasan insting mereka bekerja setiap waktu, kewaspadaan mereka bak alarm otomatis yang berbunyi setiap datang mara bahaya. Sangat mengenali siapa saja yang tak menghormati cinta damai, yang merusak keindahan surga di dunia. Perilaku pemangsa sangat cepat teridentifikasi, meski tabiat mereka tak pernah tercatat di bank data.
Sementara manusia yang katanya lebih cerdas dari binatang, banyak yang tak bisa membedakan yang mana pemangsa dan yang teman. Meski telah banyak memberi tetap saja dikuras habis-habisan, berkata apa adanya malah diperdayai para pembual. Tak jelas mana penipu atau yang lawan. Akhirnya mereka memilih mewaspadai semua orang, termasuk yang jujur dan semua kawan.
Masih adakah yang merasa nyaman dan tak terancam ?
Betapa takutnya tikus dijadikan sarapan, namun ketakutan mereka menghilang bersama datangnya malam. Saat semua makhluk tertidur mereka bergerilya memangsa apa saja yang bisa dijadikan hidangan. Di satu sisi si tikus adalah lemah, di sisi lain mereka memangsa kelemahan. Hanya si rusa yang setia menjadi vegetarian.
Bukankah hidup itu pilihan ?
+ + + + + Bukankah hidup itu pilihan ?
Nabi Muhammad berpesan pada para khalifah, “Jika ada yang menyebut orang lain adalah kafir, maka orang itulah kafir yang sebenarnya”. Lalu jika ada orang yang menyebutkan keburukkan orang lain, keburukkan siapa sebenarnya yang sedang dia sebutkan ? Bukankah lembah gema ada di mana saja ? Bukankah mereka sedang berdiri di muka cermin ?
Seorang yang sedang terjerembab dalam jurang kehidupan bertanya pada gurunya, “Aku telah berusaha untuk tersenyum, namun mereka meludahiku. Haruskah aku berhenti beramah-tamah ?”
Sang guru tertawa, “Tuhan Yang Maha Bijaksana membuka lebar tanganNya pada siapa saja yang datang kepadaNya, termasuk mereka yang pelarian. Ketika para malaikat menanyakan mengapa Tuhan merangkul mereka yang terdesak, jawab Tuhan karena Aku bukan manusia. Untuk siapa sebenarnya senyummu itu, lalu siapa sebenarnya yang meludahimu ? Tanyakan pada dirimu sendiri, apakah dirimu termasuk sebagian yang mewaspadai senyuman ? Dimana kau sembunyikan bunga ketulusan ?”
Sang guru tertawa, “Tuhan Yang Maha Bijaksana membuka lebar tanganNya pada siapa saja yang datang kepadaNya, termasuk mereka yang pelarian. Ketika para malaikat menanyakan mengapa Tuhan merangkul mereka yang terdesak, jawab Tuhan karena Aku bukan manusia. Untuk siapa sebenarnya senyummu itu, lalu siapa sebenarnya yang meludahimu ? Tanyakan pada dirimu sendiri, apakah dirimu termasuk sebagian yang mewaspadai senyuman ? Dimana kau sembunyikan bunga ketulusan ?”
Lihatlah ketika para pembawa Cahaya Illahi tengah bertemu, yang akan tersaji adalah perang kerendahan hati. Hingga hari berganti mereka akan tetap tiada henti saling memuji. Jika setiap pujian memantul balik pada pengucapnya, siapa yang memantulkannya ? Siapa pemilik lembah gema yang sesungguhnya ?
Hanya jendral tinggi hati yang bangga menerima pujian kopralnya. Saling menghormati kelebihan hanya pantas terjadi diantara sesama jendral bintang lima.
+ + + + +
Bertambah tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan. Semua orang adalah sama dimataNya. Yang membedakan hanyalah kedekatan manusia denganNya, itupun menjadi rahasiaNya. Sungguh konyol mereka yang merasa lebih baik dibanding yang lain, sungguh beruntung mereka yang merasa lebih baik dibanding waktu lalu.
Jika sudah menjadi bahasa alam setiap ucap dan perbuatan akan kembali pada diri sendiri, jika sudah menjadi kehendak Tuhan bahwa semua orang yang ada dihadapan adalah cerminan diri, sudah pasti tak ada gunanya menyebutkan keburukkan orang lain. Sudah pasti karena mereka tak merasa berada di lembah gema.
Tak ada gunanya pula bersikap merugikan orang lain. Karena sang pemilik pantulan kehidupan akan mengembalikannnya pada diri sendiri. Beruntunglah mereka yang memilih menjadi dewasa, yang berusaha berarti bagi yang lain. Namun ketika mereka harus menerima tidak diakui, benih-benih ketulusan sedang ditanam di ladang Tuhan.
+ + + + +
Mengenal orang lain menjadikan seseorang lebih bijaksana, adalah pencerahan ketika mengenal diri sendiri yang sejatinya bercahaya. Jari jemari mereka akan menjadi dua kali lipat lebih banyak, karena ada banyangan yang melingkupinya. Tubuh dan kepala mereka akan berbendar cahaya seperti profil Nabi Isa. Semua berawal dari menjadikan orang lain sebagai cerminan diri. Berusaha untuk tetap dekat di kalangan orang suci adalah mutlak kebutuhan hati. Melalui mereka akan cepat terdeteksi segala kekurangan diri.
Ketika mendengar seseorang memaki orang lain dengan embel-embel nama binatang, sudah pasti bukan manusia yang ikut-ikutan menggonggong. Yang merasa dirinya manusia telah memahami siapa binatang yang sesungguhnya. Yang derajat iman nya lebih tinggi pun merasa tak tergoda memaksakan diri menjelaskan, bahwa di setiap jengkal muka bumi adalah taman marga satwa.
Bukankah binatang juga penghuni lembah gema ? Adakah yang mau bercermin pada mereka demi menemukan kewaspadaan yang sebenarnya ? Siapa sebenarnya yang dilahirkan dengan derajat lebih tinggi ? Bukankah binatang liar mampu jatuh cinta pada sang pawang ?
Mereka yang menghuni lembah kesadaran, yang menemukan muara gema, akan merasakan yang tengah dirasakan. Mampu memikirkan yang tengah dipikirkan. Ketika bertemu ketiadaan, mereka tahu dari mana datangnya cinta dan kebencian. Manusia yang mampu tak merasakan apa-apa, yang tak tersisa sedikitpun di alam pikirannya akan memahami bahasa tersembunyi orang-orang yang disekitarnya. Mereka mengenali yang memusuhinya karena merasakan kebencian yang bukan miliknya. Ketika mereka mengajak sarapan bubur ayam, sudah pasti keinginan itu berasal dari lawan bicaranya.
Mereka hanya mewaspadai zona nyaman, karena dibaliknya tersembunyi jebakan bernama kelengahan. Sedikit saja layar tersingkap,beragam senjata akan bersiap-siap menyerang dengan berbagai cara. Segala kesulitan dan kemudahan berasal dari diri sendiri. Sementara orang lain hanyalah perantara atau pantulanNya.
Di kedalaman alam ketiadaan, setiap perasaan dan pikiran akan terpantul jauh lebih sempurna.
Di kedalaman alam ketiadaan, setiap perasaan dan pikiran akan terpantul jauh lebih sempurna.
+ + + + +
Seorang pawang macan sedang mencoba mendekati seekor macan liar di tengah hutan. Setelah beberapa langkah dia terhenti dalam diam, dalam hatinya mengalun jernih tembang ancaman. Dengan tangannya dia memberi tanda pada yang lain agar melakukan gerakan yang sama. Ketika seseorang yang mulai tak sabar menanyakan mengapa harus berhenti begitu lama, sang pawang berbisik, “Macan itu ada dalam diriku”.
Mereka yang tak terkendali
adalah cermin pengendalian diri
Sepatutnya mewaspadai diri
melalui mereka,
bukan sebaliknya
Andai mampu melakukannya
lihatlah pantulan air,
lalu tersenyumlah bersamaNya
**********************************************************


No comments:
Post a Comment