
Sms mu singkat, “Nduk, minggu dpn aku ke srby"
Balasku, “O ya, naik apa”
“Naik kereta, bs jemput nggak”
“Ya, ntar aku jemput”
Balasku, “O ya, naik apa”
“Naik kereta, bs jemput nggak”
“Ya, ntar aku jemput”
Pesan singkat yang datang tiba-tiba, yang sudah lupa kalau selalu aku tunggu. Mungkin karena aku sudah terbiasa dengan kesendirianku. Atau jadi mandiri seperti harapanmu. Aku justru tersadar kalau ternyata selama ini aku menunggu, alam bawah sadarku tak pernah berhenti merindukan pertemuan denganmu. Mungkin karena dalam sendiriku selalu ada kamu.
Yang pertama terbayang rutinitasku bakal terganggu, tapi aku tahu, dibaliknya ada sesuatu yang seru.
Makanya aku nggak keberatan ketika pesan berikutnya mengisyaratkan keterbatasan.
“Tapi cuma sehari, aku mesti segera balik kerja”
Aku menegaskan, “It’s oke, nggak papa”
Karena aku yakin, sehari itu pasti berbeda.
+ + + + +
Makanya aku nggak keberatan ketika pesan berikutnya mengisyaratkan keterbatasan.
“Tapi cuma sehari, aku mesti segera balik kerja”
Aku menegaskan, “It’s oke, nggak papa”
Karena aku yakin, sehari itu pasti berbeda.
+ + + + +
Stasiun itu seperti lokasi shooting. Pemeran utamanya aku dan kamu. Yang lainnya figuran, sutradaranya Tuhan. Begitu melihat kamu turun dari kereta, kedua tanganku seperti otomatis terentang. Siap menyambutmu dengan hangat pelukan.
Kamu masih seperti dulu. Legam dan senyum teduhmu itu, kalau dalam jarak dekat selalu membinasakan aku. Kamu lebih dulu memelukku.
“I miss you” katamu.
“I miss you too” jawabku.
Jemarimu mengusap-usap rambut diatas kepalaku. Itu ciri khas mu.
“I miss you too” jawabku.
Jemarimu mengusap-usap rambut diatas kepalaku. Itu ciri khas mu.
Selanjutnya aku dan kamu melaju berdua di atas roda. Sedikit kata yang terucap, itu pun bercampur teriak. Bising jalanan menenggelamkan suara-suara, aku dan kamu pun bicara seperlunya.
Nggak papa, nggak penting, sebentar lagi aku pasti akan mendengar lagi kata-katamu yang jernih. Kata-kata ajaib yang memperindah hidupku, yang bisa membuatku melayang tanpa beban. Kamu selalu dapat melihat hidup yang rumit ini dengan cara yang sederhana. Itu yang paling aku suka.
Aku bersandar di punggungmu, kedua tanganku melingkar di pinggangmu. Tak perduli dengan lalu lalang kendaraan di sekitarku. Debu-debu jalanan dan terik matahari seperti tak ada entah kemana. I feel so comfort, so extacy. Semua terasa seperti tak biasa.
Aku bersandar di punggungmu, kedua tanganku melingkar di pinggangmu. Tak perduli dengan lalu lalang kendaraan di sekitarku. Debu-debu jalanan dan terik matahari seperti tak ada entah kemana. I feel so comfort, so extacy. Semua terasa seperti tak biasa.
Aku nggak tahu ini apa.
Menurutku ini cinta.
+ + + + +
Menurutku ini cinta.
+ + + + +
Betul kan, semuanya jadi berbeda. Tempe penyet yang membosankan itu tiba-tiba jadi enak. Tahu tek yang biasanya aku makan setengah hati itu tiba-tiba jadi lezat. Warung kopi lesehan di tepi jalan yang kumuh itu tiba-tiba berubah jadi mewah. Kamu pembedanya.
Kamu masih mendominasi, atau aku yang membiarkan terdominasi. Dihadapanmu aku selalu lumpuh meluruh. Aku berubah menjadi anak kecil yang manja, yang merengek-rengek minta ice cream dan gula-gula. Aku menyerah padamu, karena kamu lebih mengenal aku dibanding diriku sendiri. Kupasrahkan diriku meringkuk dalam gelap, dalam telungkup kedua telapak tanganmu. Ketika tanganmu terbuka, aku menjelma kupu-kupu.
Mungkin karena kuberpikir kesempatan ini seribu satu, bibirku terus menerus mengumbar cerita, yang sebagian besar bertajuk problema. Sepertinya aku yang banyak bicara, tapi tetap kamu yang berkuasa. Caramu mendengar, mencerna dan mengolah masalah tak ada duanya. Kamu selalu menemukan keterkaitan hubungan antar kejadian yang sama sekali bukan kebetulan, dan hubungannya dengan keberadaanku di tengah-tengah rimba semesta. Terakhir, kamu menunjukkan padaku bagaimana cara menyikapinya. Itu dia yang membuatmu istimewa.
You always found the best shortcut for me to do.
You always found the best shortcut for me to do.
Kamu mampu mengubah semua yang susah menjadi lebih mudah.
Kamu jenius.
Kamu jenius.
Waktu aku bilang kamu yang menentukan arah hidupku, kamu nggak mau. Katamu, kamu hanya menunjukkan cara agar aku bisa menentukan arah hidupku sendiri. Agar aku bahagia dengan pilihanku. Agar suatu saat aku bisa menjadi lentera bagi siapa saja yang membutuhkan uluran tanganku. Katamu itu cara terbaik untuk menjadi yang dicintai. Kamu berharap itu menjadi tujuan hidupku.
Aku setuju, tapi jujur aku nggak berpikir sejauh itu. Nggak terbayang bisa menjadi manusia yang dicintai banyak orang kayak kamu. Bagiku dicintai olehmu sudah cukup menjadi keberuntungan bagiku. Tapi katamu bukan itu, yang sedang aku hadapi saat ini hanyalah proses untuk belajar mencintai.
Menurutku kamu terlalu menyanjungku. Lagian aku bukan siapa-siapa. Aku lebih suka dengan sebutan mu untukku, gendut-jelek-kutu kupret, itu lucu. Aku tertawa, aku suka. Aku hanya orang sok tau, keras kepala dan nggak pede dihadapan kamu yang bijaksana. Aku hanya seekor itik kecil buruk rupa dihadapan sang rajawali yang perkasa.
I’m nothing, you are everything.
I’m nothing, you are everything.
Tapi katamu aku sexy. Yang ini aku suka, tapi aku tertawa juga. Aku seperti tersengat listrik tegangan tinggi, yang memantik rasa percaya diri luar biasa, yang membuatku seolah-olah siap untuk menaklukkan siapa saja. Katamu sexy maknanya dalam, tak selalu berhubungan dengan bentuk atau ukuran.
Kamu juga mengingatkan aku untuk tidak memujamu. Katamu, aku dan kamu hanya seonggok debu. Kalau tiupan anginNya datang, aku dan kamu akan lenyap tak berbekas.
Kamu hanya ingin dicintai. Aku tahu.
Kamu hanya ingin dicintai. Aku tahu.
Katamu, terkadang aku terlalu sensitif. Segala persoalan, situasi yang nggak menguntungkan, juga perilaku orang-orang disekitaran yang ganjil, adalah bagian upaya pemaksaan semesta agar logika ku keluar dari sarangnya. Agar aku tetap jernih dan tak mudah terbawa suasana. Tapi katamu, aku sudah jauh lebih baik dibanding dulu.
Tak pernah bosan kamu mengingatkan aku untuk tak mudah jatuh hati, walau tak pernah bisa mengelak kemana jatuhnya. Katamu, iba dan cinta itu nggak sama. Katamu lagi, jangan menaruh cinta di sembarang tempat. Karena fitnah dan kebencian selalu mengintai di setiap kolong jagat. Karena kebanyakan mereka hanya ingin dicintai bukan mencintai, atau berdalih mencintai tapi menguasai.
Sehari-hari aku selalu merasakan kesepian di tengah keramaian. Namun bersama kamu aku menemukan keheningan. Sesuatu yang dalam, yang membuat hidupku terasa lebih berarti, yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Aku nggak tahu itu apa.
Menurutku itu cinta.
+ + + + +
Aku nggak tahu itu apa.
Menurutku itu cinta.
+ + + + +
Kamar kos ku cuma dua kali tiga, pengap dan berantakan. Suara kipas angin yang berisik karena faktor usia, lebih menjadi teman untuk menghiasi keheningan. Hembusannya menyapu biji-biji keringat, tapi aku dan kamu tetap lekat merapat. Di atas kasur tanpa dipan yang sprei nya sudah lama nggak aku laundry.
Seperti biasa aku dan kamu cuma saling menatap tanpa bicara seusai bercinta. Tapi itu nggak lama, dalam hitungan detik dari sudut mataku mengalir air mata. Itu bahasa ku.
Lidahmu juga tak berkata-kata, hanya jari-jarimu yang bicara magis. Mengusap-usap rambut diatas kepalaku sambil menatap lekat kedua mataku. Itu bahasa mu.
Ya aku tahu, kamu sedang bilang kalau kamu sayang sama aku.
Ya aku tahu, kamu sedang bilang kalau kamu sayang sama aku.
Cinta kita terlarang, tersembunyi diantara celah sempit batu karang. Kalau nggak hati-hati bisa tergores, sedikit saja terlena bisa terluka. Aku dan kamu hanya berusaha menyikapinya, selama ruang dan waktunya masih ada. Sebegitu bahagia, sebegitu pula sakitnya.
Ini bukan persahabatan.
Ini bukan persahabatan.
Kamu bukan sahabat, kamu bukan sekedar tempat berbagi, kamu lebih, kamu mengambil alih. Tak terbayangkan, masa-masa sulit itu bisa terlewati tanpa aku sadari.
Ini bukan cinta biasa.
Ini bukan cinta biasa.
Kamu bukan kekasih, kamu nggak sekedar mengisi, kamu lebih, kamu mengubah arah. Mereka sampai heran, aku yang seharusnya jatuh berantakan malah sekarang terbang dengan sayap mengembang
Siapa sebenarnya kamu ?.
Bagaimana mungkin bahagia dan luka bisa menyatu dalam dirimu ?
Siapa sebenarnya kamu ?.
Bagaimana mungkin bahagia dan luka bisa menyatu dalam dirimu ?
Ternyata ada yang lebih menyakitkan dari patah hati ketika mencintai yang tak bisa dimiliki.
Ternyata ada yang lebih membahagiakan ketika mencintai cinta itu sendiri.
Cintailah cinta, katamu.
Ternyata ada yang lebih membahagiakan ketika mencintai cinta itu sendiri.
Cintailah cinta, katamu.
Biarkan cinta yang menentukan jalannya sendiri. Tanpa harus dikuasai, tanpa harus dipaksa-paksa. Biarkan aku dan kamu yang terkuasai olehNya tanpa merasa terpaksa.
Waktu kian menipis.
Sebentar lagi habis.
Sebentar lagi kamu pergi.
+ + + + +
Waktu kian menipis.
Sebentar lagi habis.
Sebentar lagi kamu pergi.
+ + + + +
Lokasi shootingnya masih sama, di stasiun. Pemeran utamanya masih aku dan kamu. Yang lainnya tetap figuran, sutradaranya selalu Tuhan. Skenarionya yang berbeda, kemarin awal sekarang akhir, kemarin bertemu sekarang berpisah.
Yang pasti berbeda, hari ini langitnya mendung, sebentar lagi kayaknya turun hujan.
Yang pasti berbeda, hari ini langitnya mendung, sebentar lagi kayaknya turun hujan.
Aku sempat lupa kalau kemarin aku berada di tempat yang sama. Berarti kemarin aku juga lupa kalau sehari lagi akan mengalami hal yang berbeda. Sehari yang tak terasa. Sehari seperti selamanya.
Senang dan sedih hanya berselang satu hari. Tapi kamu mengingatkan aku untuk bersyukur, supaya bisa menemukan bahagia di atas keduanya. Jangan sepotong-sepotong, lihat keseluruhan, katamu. Ya, aku coba.
Ketika Tuhan bilang “action”, kamu memelukku.
“Take care” katamu.
“Slamat jalan” kataku.
“Take care” katamu.
“Slamat jalan” kataku.
Saat kereta mulai bergerak, kamu melambaikan tanganmu. Saat itu juga awan yang sedari tadi menggantung tumpah ke bumi. Hujan turun.
Kamu yang pergi.
Aku yang ditinggal pergi.
Langit yang menangisi.
Kamu yang pergi.
Aku yang ditinggal pergi.
Langit yang menangisi.
Akhirnya kereta itu menghilang, akhirnya kamu pergi juga. Tapi Tuhan belum bilang “cut”. Shooting nya belum selesai. Tuhan masih ingin aku menikmati keheningan yang kamu berikan.
Tuhan malah bertanya, “Mana ekspresinya ?”
Aku pun menangis.
Tapi kamu tak melihat air mataku.
Ah, paling kamu juga tahu.
Seperti aku tahu, saat ini pasti kamu juga sedang menangis di atas kereta yang melaju.
Tuhan malah bertanya, “Mana ekspresinya ?”
Aku pun menangis.
Tapi kamu tak melihat air mataku.
Ah, paling kamu juga tahu.
Seperti aku tahu, saat ini pasti kamu juga sedang menangis di atas kereta yang melaju.
Baru saja ketemu, aku sudah merindu. Tapi aku tahu, seberapa pun waktu tak akan pernah cukup. Sehari, seminggu, sebulan atau setahun sama saja. Karena aku ingin selamanya. Cinta memang masalah hati, tak pernah mau terikat dengan materi.
Mungkin karena batasan itu semua tumpah ruah dalam sehari. Semua keluh kesahku, semua bebanku, semua angan-anganku dan semua yang nggak kupahami. Tapi kamu hebat, kamu all out.
Kamu berikan semua yang ada padamu buatku.
Kamu berikan semua hitam dan putihmu.
Aku sampai nggak bisa menuntut lebih dari itu.
Cinta mu memang buat aku.
Tapi kamu tetap bukan milikku.
Aku melangkah meninggalkan stasiun. Shooting selesai.
“Cut”
+ + + + +
Kamu berikan semua hitam dan putihmu.
Aku sampai nggak bisa menuntut lebih dari itu.
Cinta mu memang buat aku.
Tapi kamu tetap bukan milikku.
Aku melangkah meninggalkan stasiun. Shooting selesai.
“Cut”
+ + + + +
Aku kembali ke rutinitasku, bangun pagi, matikan alarm setengah hati, berangkat kerja malas-malasan, pulang malam kecapekan. Macetnya jalan, debu-debu dan virus jalanan, konflik di kantor, atasan yang perintahnya kadang nggak jelas, dan gosip-gosip murahan penyedap persaingan. Setiap hari begitu.
Tempe penyet itu kembali membosankan, tahu tek kembali nggak menarik, warung kopi lesehan yang kumuh itu nggak lagi kulirik. Aku kembali belajar mencintai kehidupanku sendiri. Yang tanpa kamu, yang katamu itu jalan kemandirianku.
Sampai kapan aku nggak tahu. Mungkin sampai aku lupa kalau mengharapkanmu. Mungkin sampai sms mu yang singkat itu datang lagi. Yang menyadarkan aku kalau selalu menunggu kedatanganmu yang cuma sehari.
Sehari yang pasti berbeda.
Sehari yang penuh cinta,
yang bisa memporak-porandakan semua logika.
Sehari yang bisa mengubah segalanya.
Sehari yang pasti berbeda.
Sehari yang penuh cinta,
yang bisa memporak-porandakan semua logika.
Sehari yang bisa mengubah segalanya.
Andaikan mungkin,
ingin diriku berbalik menjadi cahaya
untuk menerangi hidupmu
dan membahagiakan mu
Walau mungkin aku tak bisa
sebijaksana kamu
**********************************************************


15 comments:
Keren Ceritanya!!!!!!! Keep up the great works!
kerennnn ceritanyaaaa!!! bikin yg lain dong ka
Mantulll
Keren orangnya
kereeeen
Nice .That story..
Bagus alur ceritanya smpe gabikin mulut aku berenti baca dan gabosan bosan baca berulang ulang 😁
Sad:(
Wahh
Komen
damn good...
Waah
Bagus bangeet
ceritanya keren banget
Bagusssssss, semangat nulis nya kak
Post a Comment