
Lapangan bolanya nggak rata. Ada yang tinggi ada yang rendah.
Nggak semuanya rumput, sebagian cuma tanah.
Tapi nggak ada yang mengeluh. Bagi teman-temanku dan juga aku itu bukan masalah. Tetap seru. Tetap asyik.
Serasa di senayan. Serasa di old trafford. Serasa di santiago bernabeu.
Kami semua have fun. Lepas bebas tanpa beban. Bermain bola serasa pemain idola. Seperti di pertandingan piala dunia.
Kalau juventus punya stadion delle alpi, kami juga punya lapangan jejer kali. Karena lapangan nya berdampingan dengan sungai kecil, yang biasa kami pakai mandi seusai bermain bola. Tanpa ruang ganti, tanpa shower, tanpa handuk, yang penting cebar-cebur.
Serasa di kolam renang. Padahal aku juga nggak tahu kolam renang itu apa. Cuma dengar-dengar.
Setiap hari begitu. Setiap waktu berlalu.
Andai ada yang bertanya, apa aku punya masalah ?
Pasti kujawab, “Enggak”
Karena memang nggak ada. Masalah itu apa sih ?
Andai ada yang bertanya, apa aku bahagia ?
Pasti kujawab, “Ya”
Padahal aku juga nggak tahu maksudnya.
+ + + + +
Sudah lima belas menit bermain, tapi aku belum juga mencetak gol. Nggak biasanya begitu. Aku nggak mau.
Tiba-tiba ada yang berteriak, “Lutfi nyetel tv, Lutfi nyetel tv”
Kata-kata itu seperti isyarat time out. Semuanya berhamburan meninggalkan lapangan. Aku juga.
Kami semua berlari menuju rumah Lutfi. Kami biasa menyebutnya Lutfi orang kaya. Saking seringnya sampai lupa kalau nama aslinya Lutfi Mahmudi. Karena dia satu-satunya yang punya tv.
Kami semua asyik nonton tv. Nggak peduli acaranya apa.
Bukan di karpet. Bukan di sofa. Tapi di jendela.
Jendela ukuran satu kali dua untuk sepuluh kepala. Berdesak-desakan itu biasa. Kalau ada yang menarik dari belakang itu pertanda minta gantian. Kalau diperhatikan formasinya mirip permainan bola. Empat tiga tiga.
Kakaknya Lutfi yang perempuan orangnya baik. Tapi dia menderita alergi cahaya. Kasihan. Dengan wajah bersungut menatap wajah-wajah penonton gratisan dia menutup kain korden. Dan penonton pun kecewa.
Tapi kami nggak marah. Lutfi juga nggak salah. Lutfi tetap teman kami.
Hanya pertanda kalau waktu nonton tv nya sudah selesai. Waktunya kembali ke lapangan. Waktunya kembali berebut kemenangan.
+ + + + +
Andai aku diberi lagi pertanyaan yang sama. Pasti jawabanku sama juga.
Nggak tahu apa-apa bukan berarti nggak tahu cara menikmatinya..
Sebesar apapun keterbatasan, aku tetap merasa bahagia. Semuanya terasa mudah. Nggak ada yang susah.
Itu kehidupan masa kecilku. Dulu.
+ + + + +
Sesampai di sekolah, semua temanku langsung menuju ke kelas. Ngerjain PR, nggosip, atau bahas-bahas yang nggak jelas.
Aku nggak begitu. Mesti absen dulu ke kantin.
Bukan buat sarapan tapi menitipkan jajanan buatan mama ku.
Jajanan bulat lonjong terbuat dari ketan berisi daging, yang terbungkus rapi daun pisang. Yang bagian tepinya sengaja digunting bergerigi demi mempercantik penampilan.
Lemper buatan mama ku memang juara.
Aku melakukannya diam-diam. Sengaja selinap-selinap.
Biar nggak ada yang lihat.
Kalau siang, seusai bel sekolah semua temanku menuju jemputan. Langsung pulang. Aku absen lagi di kantin. Hitung-hitung. Total-an. Ambil setoran.
Aku punya ritual yang berbeda dengan teman sekolahku.
Aku mulai mengenal rasa malu. Mulai ada beban.
Aku mulai merasa berbeda. Mulai ada yang nggak mudah.
Tapi aku masih tetap senang. Karena dapat bagian uang jajan.
Lumayan buat beli bakso di pinggir jalan.
Ini kehidupan awal masa remajaku.
+ + + + +
Aku menjuluki rumahku “The house never sleep”, persis kayak kota New York. Sejak mamaku bisnis catering, kehidupan di rumahku berjalan dua puluh empat jam. Mungkin karena itu rumahku nggak ada nyamuknya. Mungkin nyamuknya bosan menunggu penghuni rumahku nggak tidur-tidur. Nggak ada lengahnya.
Kalau siang papa ku kerja kantoran. Kalau malam tangannya nggak pernah jauh dari kertas manila, penggaris dan pensil. Aku kebagian pegang gunting, cutter dan staples.
Kami berdua bikin kotak kecil atau besar, buat tempat jajan atau makanan. Kami biasa begadang sampai malam. Malah kadang sampai pagi kalau banyak pesanan.
Mama ku yang bagian memasak. Dibantu satu pembantuku yang umurnya sudah tua. Yu’ rah namanya. Mereka berdua membuat rumah ku yang kecil jadi penuh asap. Membuat mata ku perih sampai ngantuk ku jadi hilang. Mengantuk haram hukumnya. Tidur barang mahal.
Kata mamaku, bisnis catering buat mencukupi kebutuhan. Berarti selama ini nggak cukup. Tapi mereka nggak pernah bilang. Sengaja.
Walau separuh mengantuk, aku menjalaninya dengan senang hati. Karena mamaku berjanji membelikan aku sepatu nike.
Itu lho, kayak yang dipakai teman-teman.
Sepertinya hidup yang kujalani nggak mudah.
Tapi kalau dipikir-pikir, susah juga. Berat. Lumayan.
+ + + + +
Papa dan mamaku pernah bertengkar di dalam kamar. Walau pintunya ditutup aku sempat mendengar kata “hutang”. Samar-samar.
Tapi adu mulut itu nggak lama. Cuma sebentar.
Berhenti seiring suara tangis mamaku. Lalu tinggal suara satu arah yang terdengar. Suara papa ku. Samar-samar.
Aku pilih nggak dengar. Ngilu.
Tambah nggak mudah. Ini pedih.
Aku memilih mengelus-elus sepatu baruku.
Bukan nike. Modelnya mirip. Tapi aku suka.
Tapi bukan nike.
+ + + + +
Tapi nggak selalu begitu. Nggak selamanya seperti itu. Ada juga periode yang berbeda di kehidupanku. Nggak semuanya sebatas mimpi.
Akhirnya di rumahku juga ada tv. Akhirnya aku juga punya sepatu nike. Akhirnya.
Aku nggak tahu bagaimana cara papa mama ku bisa membelinya. Mungkin lewat “hutang” itu. Mungkin. Aku nggak tahu.
Saat benda-benda itu jadi penghuni baru di rumahku, aku selalu susah tidur. Sedikit-sedikit aku bangun. Hanya untuk memandangi tv ku. Hanya untuk memandangi sepatuku. Aku selalu begitu. Tapi nggak ada yang tahu.
Sepertinya sepatu nike ku membuat ayunan langkahku menjadi lebih ringan. Berangkat ke sekolah selalu berteman siulan. Lihat aku teman-teman.
Kalau pulang sekolah aku ingin cepat-cepat sampai rumah. Hanya untuk memandangi tv ku. Selalu begitu. Sampai takjub ku hilang ditelan waktu.
Aku punya yang mereka punya. Aku nggak beda.
+ + + + +
Waktu aku menyebut nya sebagai masa-masa sulit, papa ku nggak terima. Malah marah.
Katanya, nggak ada masa-masa sulit. Semua itu masa-masa indah.
Papa ku mengutip sebuah judul film jadul untuk melukiskan masa-masa itu. “The best years of our lives” katanya.
Ya sudah. Aku nggak mau membantah. Takut Papa ku tambah marah.
Setahuku ada suka dan duka. Tapi papa ku melihatnya satu. Indah.
Kok bisa ?
+ + + + +
Waktu mama ku masuk rumah sakit, petugasnya menyodorkan selembar kertas untuk kutandatangani. Surat pernyataan kesanggupan membayar. Biayanya mahal. Sekali suntik harganya jutaan.
Aku langsung tanda tangan. Gimana caranya membayar dipikir nanti. Belakangan. Aku cuma ingin mama ku sembuh.
Mama ku koma. Sama sekali nggak sadar. Tapi ada temanku yang bilang kalau alam bawah sadar mama ku masih bisa dengar.
Pada hari ketiga, larut malam, suster memberi tahu aku. Mama ku kritis. Aku terjaga disisi tempat tidur mama ku. Aku berdoa sebisanya.
Entah kenapa aku merasa sepertinya mama ku menahan sakit yang luar biasa. Kasihan. Aku nggak tega.
Aku merapat ke telinganya, berbisik, “Ma, kalau mama sudah capek, mama istirahat saja”
Entah kenapa sesudah itu semuanya berjalan dalam hitungan menit. Pagi-pagi sekali mama ku dipanggil Tuhan.
Aku sedih. Tapi nggak larut. Penderitaan mama ku sudah berakhir.
Aku nggak menangis. Langit yang menangis.
Seusai pemakaman hujan turun deras sekali.
Deras sekali.
+ + + + +
Biaya rumah sakit dibayar saudaraku. Aku bilang sama mereka, aku pinjam, nanti aku bayar. Gimana caranya ?.
Sudah seminggu seusai pemakaman. Aku sampai lupa membuka kotak amal. Selama itu kubiarkan saja benda kotak kecil itu tergeletak di ruang tamu. Baru ingat setelah kotak amalnya mau diambil pertugas RT. Aku bilang sama petugas itu, mau aku buka dulu, belum sempat, lupa, nanti aku kembalikan.
Begitu kotak itu kubuka, segepok uang yang berdesakkan keluar berhamburan. Saking penuhnya sampai seperti berebut mencari jalan keluar. Banyak sekali.
Setelah kuhitung, ternyata kotak kecil itu berisi uang jutaan. Lebih dari cukup untuk membayar biaya pengobatan dan pemakaman.
Meski sudah nggak ada, meski sudah berwujud roh, mama ku masih bisa memberikan yang terbaik buat aku, anaknya. Luar biasa.
Menurutku itu sebuah pesan. Ada atau tiada, mama ku akan selalu ada untuk membantuku. Akhirnya aku menangis.
Mama ku orang hebat.
I love you mom.....always.
+ + + + +
Papa ku tidur mendengkur. Keras sekali.
Kesehatannya memburuk. Sudah berhari-hari.
Sebelumnya sempat masuk rumah sakit. Dua kali.
Tiba-tiba papa ku terbangun. Menoleh ke arahku. Menatapku. Redup.
Tapi kata-katanya jelas sekali. Jernih.
“Ternyata seperti ini rasanya kalau mau mati”
Aku nggak bisa ngomong apa-apa. Diam. Beku. Seperti apa ?
Ternyata kata-kata itu menjadi kata-kata terakhirnya. Dalam perjalanan pulang ke rumah Tuhan dia masih sempat menyampaikan kata-kata yang nggak bakal aku lupakan seumur hidup.
Sepertinya dia tertidur. Tapi dia sadar kalau waktunya akan berakhir.
Papa ku adalah orang yang mampu terjaga di alam bawah sadarnya. Luar biasa.
Lalu papa ku tidur lagi. Nggak bangun lagi. Selamanya.
Tapi aku menangkap pesannya. Dia akan selalu ada. Buat aku.
Dia akan selalu terjaga dalam tidur panjangnya. Buat aku.
Papa ku orang hebat.
Papa ku adalah guruku.
Papa ku adalah Tuhan keduaku.
Goodbye pap, I’m gonna miss you.
I love you.....always.
+ + + + +
Nggak ada mall yang cukup besar buat anakku.
Dia bisa mengitarinya lima kali hanya untuk satu baju.
Dia bisa menghabisi tujuh lantai demi satu sepatu.
Aku tahu yang dia cari. Seperti yang dipakai teman-temannya. Seperti aku dulu.
Nggak apa-apa. Yang penting dia bahagia. Nggak merasa berbeda.
Aku tahu yang dia mau. Seperti papa mama ku dulu tahu yang aku mau. Diam-diam aku berusaha memenuhinya. Entah bagaimana caranya. Seperti papa mama ku dulu.
Anakku juga nggak perlu tahu credit card itu apa. Nggak penting.
Menurut aku ini bukan pilihan. Hanya sebuah cara.
Akhirnya aku jadi tahu rasanya ingin membahagiakan anak dengan segala keterbatasan yang ada. Benar atau salah cara yang kupilih, nyaris nggak jelas batasannya. Aku nggak berhak atas pembenaran. Tapi kalau salah, aku harus siap menanggungnya.
Jelas nggak mudah. Kalau dipikir-pikir, sulit juga.
Tapi nggak apa-apa. Yang penting anakku bahagia.
Berarti papa mama ku dulu juga begitu.
Mereka rela bersulit-sulit demi aku. Jalan yang mereka tempuh nggak ada yang salah. Semua atas nama cinta. Aku merasakan cinta mereka yang luar biasa.
Dad, mom.....I really miss you.
+ + + + +
Akhirnya aku harus menanggung konsekuensinya. Tagihan ku menggunung. Lalu menggelinding seperti bola salju. Menggiringku sampai ke batas tepi jurang. Seiring bisnisku yang juga tengah kian menurun.
Tidak sedikit yang harus aku tanggung. Nyaris tak ada celah jalan keluar. Aku terjepit. Harus secepatnya mengambil keputusan. Harus ada yang dikorbankan.
Rumah aku jual. Pindah ke rumah kontrakan. Hanya itu satu-satunya jalan. Aku menyebutnya pilihan yang bukan pilihan.
Tapi aku tetap berusaha agar anakku nggak tahu. Aku tetap cari alasan yang tepat supaya dia nggak mengerti apa yang terjadi.
Aku hanya ingin dia nggak ikut menanggungnya. Anakku berhak untuk tetap bahagia. Aku ingin dia tetap bernyanyi lagu-lagu kesukaannya.
Walau mungkin cara yang kutempuh nggak beda dengan papa mama ku dulu. Mungkin karena aku nggak tahu cara lainnya. Mungkin karena memang seharusnya begitu. Mungkin.
Tapi aku tahu. Diam-diam anakku pasti tahu. Seperti aku dulu.
+ + + + +
Di rumah kontrakan nggak semuanya lancar. Tidak berarti semuanya berubah menjadi lebih mudah. Cobaan masih belum berhenti, kemudahan yang kucari masih sembunyi dibalik mimpi.
Kalau hujan turun cukup deras, seisi rumah pasti kebanjiran. Kalau banjirnya malam hari, kami terpaksa begadang. Duduk berjajar menahan kantuk di atas meja sambil memandangi kolam dadakan buatan Tuhan.
Setelah masa kontraknya habis, kami pindah ke rumah kontrakan yang lain. Kami nggak mau terus-terusan kebanjiran. Kasihan anakku. Dia sering terlambat sampai sekolah gara-gara bangun kesiangan.
Andai aku diberi lagi pertanyaan yang sama seperti dulu, apakah aku punya masalah ? apakah aku bahagia ?
Aku nggak bisa lagi langsung menjawabnya. Atau aku nggak tahu cara menjelaskannya. Nggak tahu mulai dari mana.
Kesulitan demi kesulitan masih menjadi selimut hidupku. Nggak mungkin aku mengingkarinya. Aku juga nggak mau pura-pura bahagia. Secangkir kopi tanpa gula jelas nggak ada enaknya.
Sepertinya nggak perlu dipikir-pikir lagi. Ini jelas nggak mudah. Berat. Pasti.
Tapi aku selalu berusaha seolah semua baik-baik saja.
Pedihnya hati, biar kutanggung sendiri.
Aku hanya berjanji pada diriku sendiri semua ini akan kulalui.
Entah bagaimana caranya. Semua “atas nama cinta”
+ + + + +
Sama seperti dulu. Nggak selamanya begitu. Nggak semuanya sebatas mimpi. Ada juga periode yang berbeda dalam kehidupanku.
Ketika akhirnya kami menempati rumah sendiri, suasana hatiku hampir mirip dengan ketika akhirnya aku punya tv, ketika akhirnya aku punya sepatu nike.
Bedanya aku nggak lagi susah tidur, aku juga nggak sedikit-sedikit bangun. Aku nggak lagi setakjub dulu. Biasa saja. Aku juga nggak berkata “akhirnya”.
Pengulangan kejadian seperti sebuah pesan kehidupan. Sebuah pesan agung yang mengingatkan aku tentang cinta kasih papa mama ku, yang berjuang dengan segala keterbatasan untuk membahagiakan aku.
Beruntungnya aku. Punya papa mama yang luar biasa. Mereka juara.
Aku seperti menapaktilasi jejak langkah mereka. Merengkuh momen dan energi yang sama. Sebuah perjalanan yang menyita segenap rasa hingga aku merasa senyawa walau masanya berbeda.
Hingga akhirnya aku jadi tahu yang mereka tahu. Bisa mengerti yang mereka pahami. Bisa merasakan yang mereka rasakan.
Aku harus bisa. Harus tegar. Harus lebih baik. Harus lebih bijaksana. Itu harapan mereka. Itu bahasa mereka dari alam sana. Bahasa kehidupan.
Karena itu aku ada.
+ + + + +
Sekarang aku mengerti mengapa papa ku nggak pernah menyebutnya sebagai masa-masa sulit. Karena yang sulit belum berarti sulit. Dibaliknya selalu ada rahasia-rahasia. Karena papa ku bisa melihat kehidupan dengan kaca mata yang berbeda.
Kalau aku melihat sebuah daun yang layu terlalu dekat, aku nggak akan pernah bisa melihat utuh keindahan pohon melati dengan bunga-bunganya. Mungkin aku hanya bisa mencium harumnya, tapi nggak tahu asalnya dari mana. Sama dengan manusia yang tahu, atau mendengar cerita kebesaran Tuhan tapi nggak tahu Tuhan itu siapa.
Kalau aku melihat setitik noda hitam terlalu lama, aku nggak akan pernah bisa melihat keutuhan lukisan. Setitik noda hitam selalu punya peran besar bagi sebuah lukisan indah penuh warna-warna.
Selama ini aku hanya sibuk mencari daun yang nggak layu, sibuk mencari warna selain hitam, hanya sibuk mencari kemudahan. Sebelum pengulangan kejadian mengguncangku, mendorongku, memaksaku melangkah mundur sampai terhuyung-huyung, supaya bisa melihat indahnya kehidupan lewat perspektif Tuhan.
Pengulangan kejadian membuatku seperti mengapung dalam hidup, mengubah emosiku menjadi lebih datar. Nggak lebay. Nggak mudah takjub. Nggak gampang heran menerima kemudahan. Rasa syukur terjaga utuh di kedalaman.
Sejak dulu sifat dunia memang selalu begitu.
Kalau terlalu dekat, bisa terjerat.
Kalau terlalu lama melihat masa-masa sulit, bisa terperangkap.
Kemudahan bisa-bisa terus bersembunyi dalam gelap.
Keindahan mungkin malah hanya akan jadi ilusi selamanya.
+ + + + +
Tapi aku belum sehebat papaku, yang begitu sempurna berkaca mata tanpa pernah melepasnya. Kadang kaca mataku masih melorot. Malah kadang aku tanggalkan kalau pegal atau bosan.
Dunia juga masih belum bosan menggodaku. Memanggilku dengan bujuk rayu yang penuh tipu-tipu. Agar aku mendekat, agar aku melihat lagi daun yang layu, agar aku mengamati setitik noda hitam, agar aku melihat kehidupan hanya dari sisi ketidakmudahan.
Mungkin karena itu aku jadi sesekali merindukan masa kecilku.
Masa-masa ketika setiap hari aku melihat keindahan pohon melati.
Masa-masa ketika setiap hari aku melihat keindahan lukisan Tuhan.
Saat aku bebas melihat dunia tanpa harus berkaca mata.
Aku ingin sekali kembali ke masa-masa itu.
Kembali ke lapangan jejer kali, bukan delle alpi.
Aku ingin jadi anak kecil lagi.
@September-2011
Nggak semuanya rumput, sebagian cuma tanah.
Tapi nggak ada yang mengeluh. Bagi teman-temanku dan juga aku itu bukan masalah. Tetap seru. Tetap asyik.
Serasa di senayan. Serasa di old trafford. Serasa di santiago bernabeu.
Kami semua have fun. Lepas bebas tanpa beban. Bermain bola serasa pemain idola. Seperti di pertandingan piala dunia.
Kalau juventus punya stadion delle alpi, kami juga punya lapangan jejer kali. Karena lapangan nya berdampingan dengan sungai kecil, yang biasa kami pakai mandi seusai bermain bola. Tanpa ruang ganti, tanpa shower, tanpa handuk, yang penting cebar-cebur.
Serasa di kolam renang. Padahal aku juga nggak tahu kolam renang itu apa. Cuma dengar-dengar.
Setiap hari begitu. Setiap waktu berlalu.
Andai ada yang bertanya, apa aku punya masalah ?
Pasti kujawab, “Enggak”
Karena memang nggak ada. Masalah itu apa sih ?
Andai ada yang bertanya, apa aku bahagia ?
Pasti kujawab, “Ya”
Padahal aku juga nggak tahu maksudnya.
+ + + + +
Sudah lima belas menit bermain, tapi aku belum juga mencetak gol. Nggak biasanya begitu. Aku nggak mau.
Tiba-tiba ada yang berteriak, “Lutfi nyetel tv, Lutfi nyetel tv”
Kata-kata itu seperti isyarat time out. Semuanya berhamburan meninggalkan lapangan. Aku juga.
Kami semua berlari menuju rumah Lutfi. Kami biasa menyebutnya Lutfi orang kaya. Saking seringnya sampai lupa kalau nama aslinya Lutfi Mahmudi. Karena dia satu-satunya yang punya tv.
Kami semua asyik nonton tv. Nggak peduli acaranya apa.
Bukan di karpet. Bukan di sofa. Tapi di jendela.
Jendela ukuran satu kali dua untuk sepuluh kepala. Berdesak-desakan itu biasa. Kalau ada yang menarik dari belakang itu pertanda minta gantian. Kalau diperhatikan formasinya mirip permainan bola. Empat tiga tiga.
Kakaknya Lutfi yang perempuan orangnya baik. Tapi dia menderita alergi cahaya. Kasihan. Dengan wajah bersungut menatap wajah-wajah penonton gratisan dia menutup kain korden. Dan penonton pun kecewa.
Tapi kami nggak marah. Lutfi juga nggak salah. Lutfi tetap teman kami.
Hanya pertanda kalau waktu nonton tv nya sudah selesai. Waktunya kembali ke lapangan. Waktunya kembali berebut kemenangan.
+ + + + +
Andai aku diberi lagi pertanyaan yang sama. Pasti jawabanku sama juga.
Nggak tahu apa-apa bukan berarti nggak tahu cara menikmatinya..
Sebesar apapun keterbatasan, aku tetap merasa bahagia. Semuanya terasa mudah. Nggak ada yang susah.
Itu kehidupan masa kecilku. Dulu.
+ + + + +
Sesampai di sekolah, semua temanku langsung menuju ke kelas. Ngerjain PR, nggosip, atau bahas-bahas yang nggak jelas.
Aku nggak begitu. Mesti absen dulu ke kantin.
Bukan buat sarapan tapi menitipkan jajanan buatan mama ku.
Jajanan bulat lonjong terbuat dari ketan berisi daging, yang terbungkus rapi daun pisang. Yang bagian tepinya sengaja digunting bergerigi demi mempercantik penampilan.
Lemper buatan mama ku memang juara.
Aku melakukannya diam-diam. Sengaja selinap-selinap.
Biar nggak ada yang lihat.
Kalau siang, seusai bel sekolah semua temanku menuju jemputan. Langsung pulang. Aku absen lagi di kantin. Hitung-hitung. Total-an. Ambil setoran.
Aku punya ritual yang berbeda dengan teman sekolahku.
Aku mulai mengenal rasa malu. Mulai ada beban.
Aku mulai merasa berbeda. Mulai ada yang nggak mudah.
Tapi aku masih tetap senang. Karena dapat bagian uang jajan.
Lumayan buat beli bakso di pinggir jalan.
Ini kehidupan awal masa remajaku.
+ + + + +
Aku menjuluki rumahku “The house never sleep”, persis kayak kota New York. Sejak mamaku bisnis catering, kehidupan di rumahku berjalan dua puluh empat jam. Mungkin karena itu rumahku nggak ada nyamuknya. Mungkin nyamuknya bosan menunggu penghuni rumahku nggak tidur-tidur. Nggak ada lengahnya.
Kalau siang papa ku kerja kantoran. Kalau malam tangannya nggak pernah jauh dari kertas manila, penggaris dan pensil. Aku kebagian pegang gunting, cutter dan staples.
Kami berdua bikin kotak kecil atau besar, buat tempat jajan atau makanan. Kami biasa begadang sampai malam. Malah kadang sampai pagi kalau banyak pesanan.
Mama ku yang bagian memasak. Dibantu satu pembantuku yang umurnya sudah tua. Yu’ rah namanya. Mereka berdua membuat rumah ku yang kecil jadi penuh asap. Membuat mata ku perih sampai ngantuk ku jadi hilang. Mengantuk haram hukumnya. Tidur barang mahal.
Kata mamaku, bisnis catering buat mencukupi kebutuhan. Berarti selama ini nggak cukup. Tapi mereka nggak pernah bilang. Sengaja.
Walau separuh mengantuk, aku menjalaninya dengan senang hati. Karena mamaku berjanji membelikan aku sepatu nike.
Itu lho, kayak yang dipakai teman-teman.
Sepertinya hidup yang kujalani nggak mudah.
Tapi kalau dipikir-pikir, susah juga. Berat. Lumayan.
+ + + + +
Papa dan mamaku pernah bertengkar di dalam kamar. Walau pintunya ditutup aku sempat mendengar kata “hutang”. Samar-samar.
Tapi adu mulut itu nggak lama. Cuma sebentar.
Berhenti seiring suara tangis mamaku. Lalu tinggal suara satu arah yang terdengar. Suara papa ku. Samar-samar.
Aku pilih nggak dengar. Ngilu.
Tambah nggak mudah. Ini pedih.
Aku memilih mengelus-elus sepatu baruku.
Bukan nike. Modelnya mirip. Tapi aku suka.
Tapi bukan nike.
+ + + + +
Tapi nggak selalu begitu. Nggak selamanya seperti itu. Ada juga periode yang berbeda di kehidupanku. Nggak semuanya sebatas mimpi.
Akhirnya di rumahku juga ada tv. Akhirnya aku juga punya sepatu nike. Akhirnya.
Aku nggak tahu bagaimana cara papa mama ku bisa membelinya. Mungkin lewat “hutang” itu. Mungkin. Aku nggak tahu.
Saat benda-benda itu jadi penghuni baru di rumahku, aku selalu susah tidur. Sedikit-sedikit aku bangun. Hanya untuk memandangi tv ku. Hanya untuk memandangi sepatuku. Aku selalu begitu. Tapi nggak ada yang tahu.
Sepertinya sepatu nike ku membuat ayunan langkahku menjadi lebih ringan. Berangkat ke sekolah selalu berteman siulan. Lihat aku teman-teman.
Kalau pulang sekolah aku ingin cepat-cepat sampai rumah. Hanya untuk memandangi tv ku. Selalu begitu. Sampai takjub ku hilang ditelan waktu.
Aku punya yang mereka punya. Aku nggak beda.
+ + + + +
Waktu aku menyebut nya sebagai masa-masa sulit, papa ku nggak terima. Malah marah.
Katanya, nggak ada masa-masa sulit. Semua itu masa-masa indah.
Papa ku mengutip sebuah judul film jadul untuk melukiskan masa-masa itu. “The best years of our lives” katanya.
Ya sudah. Aku nggak mau membantah. Takut Papa ku tambah marah.
Setahuku ada suka dan duka. Tapi papa ku melihatnya satu. Indah.
Kok bisa ?
+ + + + +
Waktu mama ku masuk rumah sakit, petugasnya menyodorkan selembar kertas untuk kutandatangani. Surat pernyataan kesanggupan membayar. Biayanya mahal. Sekali suntik harganya jutaan.
Aku langsung tanda tangan. Gimana caranya membayar dipikir nanti. Belakangan. Aku cuma ingin mama ku sembuh.
Mama ku koma. Sama sekali nggak sadar. Tapi ada temanku yang bilang kalau alam bawah sadar mama ku masih bisa dengar.
Pada hari ketiga, larut malam, suster memberi tahu aku. Mama ku kritis. Aku terjaga disisi tempat tidur mama ku. Aku berdoa sebisanya.
Entah kenapa aku merasa sepertinya mama ku menahan sakit yang luar biasa. Kasihan. Aku nggak tega.
Aku merapat ke telinganya, berbisik, “Ma, kalau mama sudah capek, mama istirahat saja”
Entah kenapa sesudah itu semuanya berjalan dalam hitungan menit. Pagi-pagi sekali mama ku dipanggil Tuhan.
Aku sedih. Tapi nggak larut. Penderitaan mama ku sudah berakhir.
Aku nggak menangis. Langit yang menangis.
Seusai pemakaman hujan turun deras sekali.
Deras sekali.
+ + + + +
Biaya rumah sakit dibayar saudaraku. Aku bilang sama mereka, aku pinjam, nanti aku bayar. Gimana caranya ?.
Sudah seminggu seusai pemakaman. Aku sampai lupa membuka kotak amal. Selama itu kubiarkan saja benda kotak kecil itu tergeletak di ruang tamu. Baru ingat setelah kotak amalnya mau diambil pertugas RT. Aku bilang sama petugas itu, mau aku buka dulu, belum sempat, lupa, nanti aku kembalikan.
Begitu kotak itu kubuka, segepok uang yang berdesakkan keluar berhamburan. Saking penuhnya sampai seperti berebut mencari jalan keluar. Banyak sekali.
Setelah kuhitung, ternyata kotak kecil itu berisi uang jutaan. Lebih dari cukup untuk membayar biaya pengobatan dan pemakaman.
Meski sudah nggak ada, meski sudah berwujud roh, mama ku masih bisa memberikan yang terbaik buat aku, anaknya. Luar biasa.
Menurutku itu sebuah pesan. Ada atau tiada, mama ku akan selalu ada untuk membantuku. Akhirnya aku menangis.
Mama ku orang hebat.
I love you mom.....always.
+ + + + +
Papa ku tidur mendengkur. Keras sekali.
Kesehatannya memburuk. Sudah berhari-hari.
Sebelumnya sempat masuk rumah sakit. Dua kali.
Tiba-tiba papa ku terbangun. Menoleh ke arahku. Menatapku. Redup.
Tapi kata-katanya jelas sekali. Jernih.
“Ternyata seperti ini rasanya kalau mau mati”
Aku nggak bisa ngomong apa-apa. Diam. Beku. Seperti apa ?
Ternyata kata-kata itu menjadi kata-kata terakhirnya. Dalam perjalanan pulang ke rumah Tuhan dia masih sempat menyampaikan kata-kata yang nggak bakal aku lupakan seumur hidup.
Sepertinya dia tertidur. Tapi dia sadar kalau waktunya akan berakhir.
Papa ku adalah orang yang mampu terjaga di alam bawah sadarnya. Luar biasa.
Lalu papa ku tidur lagi. Nggak bangun lagi. Selamanya.
Tapi aku menangkap pesannya. Dia akan selalu ada. Buat aku.
Dia akan selalu terjaga dalam tidur panjangnya. Buat aku.
Papa ku orang hebat.
Papa ku adalah guruku.
Papa ku adalah Tuhan keduaku.
Goodbye pap, I’m gonna miss you.
I love you.....always.
+ + + + +
Nggak ada mall yang cukup besar buat anakku.
Dia bisa mengitarinya lima kali hanya untuk satu baju.
Dia bisa menghabisi tujuh lantai demi satu sepatu.
Aku tahu yang dia cari. Seperti yang dipakai teman-temannya. Seperti aku dulu.
Nggak apa-apa. Yang penting dia bahagia. Nggak merasa berbeda.
Aku tahu yang dia mau. Seperti papa mama ku dulu tahu yang aku mau. Diam-diam aku berusaha memenuhinya. Entah bagaimana caranya. Seperti papa mama ku dulu.
Anakku juga nggak perlu tahu credit card itu apa. Nggak penting.
Menurut aku ini bukan pilihan. Hanya sebuah cara.
Akhirnya aku jadi tahu rasanya ingin membahagiakan anak dengan segala keterbatasan yang ada. Benar atau salah cara yang kupilih, nyaris nggak jelas batasannya. Aku nggak berhak atas pembenaran. Tapi kalau salah, aku harus siap menanggungnya.
Jelas nggak mudah. Kalau dipikir-pikir, sulit juga.
Tapi nggak apa-apa. Yang penting anakku bahagia.
Berarti papa mama ku dulu juga begitu.
Mereka rela bersulit-sulit demi aku. Jalan yang mereka tempuh nggak ada yang salah. Semua atas nama cinta. Aku merasakan cinta mereka yang luar biasa.
Dad, mom.....I really miss you.
+ + + + +
Akhirnya aku harus menanggung konsekuensinya. Tagihan ku menggunung. Lalu menggelinding seperti bola salju. Menggiringku sampai ke batas tepi jurang. Seiring bisnisku yang juga tengah kian menurun.
Tidak sedikit yang harus aku tanggung. Nyaris tak ada celah jalan keluar. Aku terjepit. Harus secepatnya mengambil keputusan. Harus ada yang dikorbankan.
Rumah aku jual. Pindah ke rumah kontrakan. Hanya itu satu-satunya jalan. Aku menyebutnya pilihan yang bukan pilihan.
Tapi aku tetap berusaha agar anakku nggak tahu. Aku tetap cari alasan yang tepat supaya dia nggak mengerti apa yang terjadi.
Aku hanya ingin dia nggak ikut menanggungnya. Anakku berhak untuk tetap bahagia. Aku ingin dia tetap bernyanyi lagu-lagu kesukaannya.
Walau mungkin cara yang kutempuh nggak beda dengan papa mama ku dulu. Mungkin karena aku nggak tahu cara lainnya. Mungkin karena memang seharusnya begitu. Mungkin.
Tapi aku tahu. Diam-diam anakku pasti tahu. Seperti aku dulu.
+ + + + +
Di rumah kontrakan nggak semuanya lancar. Tidak berarti semuanya berubah menjadi lebih mudah. Cobaan masih belum berhenti, kemudahan yang kucari masih sembunyi dibalik mimpi.
Kalau hujan turun cukup deras, seisi rumah pasti kebanjiran. Kalau banjirnya malam hari, kami terpaksa begadang. Duduk berjajar menahan kantuk di atas meja sambil memandangi kolam dadakan buatan Tuhan.
Setelah masa kontraknya habis, kami pindah ke rumah kontrakan yang lain. Kami nggak mau terus-terusan kebanjiran. Kasihan anakku. Dia sering terlambat sampai sekolah gara-gara bangun kesiangan.
Andai aku diberi lagi pertanyaan yang sama seperti dulu, apakah aku punya masalah ? apakah aku bahagia ?
Aku nggak bisa lagi langsung menjawabnya. Atau aku nggak tahu cara menjelaskannya. Nggak tahu mulai dari mana.
Kesulitan demi kesulitan masih menjadi selimut hidupku. Nggak mungkin aku mengingkarinya. Aku juga nggak mau pura-pura bahagia. Secangkir kopi tanpa gula jelas nggak ada enaknya.
Sepertinya nggak perlu dipikir-pikir lagi. Ini jelas nggak mudah. Berat. Pasti.
Tapi aku selalu berusaha seolah semua baik-baik saja.
Pedihnya hati, biar kutanggung sendiri.
Aku hanya berjanji pada diriku sendiri semua ini akan kulalui.
Entah bagaimana caranya. Semua “atas nama cinta”
+ + + + +
Sama seperti dulu. Nggak selamanya begitu. Nggak semuanya sebatas mimpi. Ada juga periode yang berbeda dalam kehidupanku.
Ketika akhirnya kami menempati rumah sendiri, suasana hatiku hampir mirip dengan ketika akhirnya aku punya tv, ketika akhirnya aku punya sepatu nike.
Bedanya aku nggak lagi susah tidur, aku juga nggak sedikit-sedikit bangun. Aku nggak lagi setakjub dulu. Biasa saja. Aku juga nggak berkata “akhirnya”.
Pengulangan kejadian seperti sebuah pesan kehidupan. Sebuah pesan agung yang mengingatkan aku tentang cinta kasih papa mama ku, yang berjuang dengan segala keterbatasan untuk membahagiakan aku.
Beruntungnya aku. Punya papa mama yang luar biasa. Mereka juara.
Aku seperti menapaktilasi jejak langkah mereka. Merengkuh momen dan energi yang sama. Sebuah perjalanan yang menyita segenap rasa hingga aku merasa senyawa walau masanya berbeda.
Hingga akhirnya aku jadi tahu yang mereka tahu. Bisa mengerti yang mereka pahami. Bisa merasakan yang mereka rasakan.
Aku harus bisa. Harus tegar. Harus lebih baik. Harus lebih bijaksana. Itu harapan mereka. Itu bahasa mereka dari alam sana. Bahasa kehidupan.
Karena itu aku ada.
+ + + + +
Sekarang aku mengerti mengapa papa ku nggak pernah menyebutnya sebagai masa-masa sulit. Karena yang sulit belum berarti sulit. Dibaliknya selalu ada rahasia-rahasia. Karena papa ku bisa melihat kehidupan dengan kaca mata yang berbeda.
Kalau aku melihat sebuah daun yang layu terlalu dekat, aku nggak akan pernah bisa melihat utuh keindahan pohon melati dengan bunga-bunganya. Mungkin aku hanya bisa mencium harumnya, tapi nggak tahu asalnya dari mana. Sama dengan manusia yang tahu, atau mendengar cerita kebesaran Tuhan tapi nggak tahu Tuhan itu siapa.
Kalau aku melihat setitik noda hitam terlalu lama, aku nggak akan pernah bisa melihat keutuhan lukisan. Setitik noda hitam selalu punya peran besar bagi sebuah lukisan indah penuh warna-warna.
Selama ini aku hanya sibuk mencari daun yang nggak layu, sibuk mencari warna selain hitam, hanya sibuk mencari kemudahan. Sebelum pengulangan kejadian mengguncangku, mendorongku, memaksaku melangkah mundur sampai terhuyung-huyung, supaya bisa melihat indahnya kehidupan lewat perspektif Tuhan.
Pengulangan kejadian membuatku seperti mengapung dalam hidup, mengubah emosiku menjadi lebih datar. Nggak lebay. Nggak mudah takjub. Nggak gampang heran menerima kemudahan. Rasa syukur terjaga utuh di kedalaman.
Sejak dulu sifat dunia memang selalu begitu.
Kalau terlalu dekat, bisa terjerat.
Kalau terlalu lama melihat masa-masa sulit, bisa terperangkap.
Kemudahan bisa-bisa terus bersembunyi dalam gelap.
Keindahan mungkin malah hanya akan jadi ilusi selamanya.
+ + + + +
Tapi aku belum sehebat papaku, yang begitu sempurna berkaca mata tanpa pernah melepasnya. Kadang kaca mataku masih melorot. Malah kadang aku tanggalkan kalau pegal atau bosan.
Dunia juga masih belum bosan menggodaku. Memanggilku dengan bujuk rayu yang penuh tipu-tipu. Agar aku mendekat, agar aku melihat lagi daun yang layu, agar aku mengamati setitik noda hitam, agar aku melihat kehidupan hanya dari sisi ketidakmudahan.
Mungkin karena itu aku jadi sesekali merindukan masa kecilku.
Masa-masa ketika setiap hari aku melihat keindahan pohon melati.
Masa-masa ketika setiap hari aku melihat keindahan lukisan Tuhan.
Saat aku bebas melihat dunia tanpa harus berkaca mata.
Aku ingin sekali kembali ke masa-masa itu.
Kembali ke lapangan jejer kali, bukan delle alpi.
Aku ingin jadi anak kecil lagi.
@September-2011


No comments:
Post a Comment