Wednesday, October 12, 2011

DO YOU THINK I'M GREEDY


Selalu gampang nyambung kalau sama Danu. Tentang apa saja.
Pikiranku seperti online dengan pikirannya. Seolah data base pikiran kami terpantul lewat satelit yang sama. Mungkin malaikat sengaja menyambungnya sejak lahir meski kami hidup di planet terpisah. Sebelum bangku kuliah mempertemukan kami untuk berbagi mimpi.
Selalu mudah bagiku untuk bisa tahu yang Danu tahu. Danu juga begitu, selalu tahu yang aku mau. Seperti ada chemistry.
Kata Danu, mungkin di masa lalu leluhur kami sudah pernah bertemu. Mungkin. Mungkin saja.
Jarang sekali kami beda persepsi. Kalau sempat beda paling nggak sampai lama. Cepat sekali nyambung lagi. Seolah koneksinya hanya terputus sebentar gara-gara gangguan frekuensi.
Dimataku Danu lebih dari sekedar teman. Dia sahabatku. We have a lot of something in common. Dalam hal apa saja. Banyak sama nya.
Sama-sama maniac film, sama-sama doyan nge-game dan baca komik. Godfather nya francis coppola sama-sama jadi film favorit kami. Menurut kami film itu sangat layak jadi sumber inspirasi.
Yang pasti, kami sama-sama sipit.
Kami juga sering sharing, sering diskusi. Dari hal-hal biasa sampai ke masalah pribadi. Nggak ada rahasia. Senang sedih ditanggung bersama. Hujan atau panas, kami nggak butuh dua payung. Cukup satu jas hujan.
Sesudah lulus kuliah kami berdua sama-sama memilih ber-wiraswasta. Sama-sama ingin jadi pengusaha sukses. Sama-sama bermimpi profil kami menghiasi cover majalah bisnis.
Nggak ada mimpi yang sekedar mimpi. Kami akan berjuang meraihnya. Ini janji. Sama-sama.
+ + + + +
Tapi Danu lebih beruntung, menurutku. Awalnya begitu.
Aku harus memulai semuanya dari nol. Cari akses, cari pasar, sampai cari modal semuanya kujalani sendiri. Kadang untung kadang rugi. Kadang laku kadang sepi. Kadang lancar kadang pusing.
Nggak ada yang pasti. Serba kadang-kadang. Serba jungkir balik.
Beda sama Danu.
Dia mewarisi usaha papa nya. Perusahaan transportasi yang sudah dua puluh lima tahun beroperasi. Armadanya lima puluh lebih. Lingkup pasarnya satu propinsi. Hebat kan.
Semuanya serba ada.
Danu tinggal pencet tombol, semuanya akan berjalan otomatis. Uang berputar seperti gangsing. Masuk ke rekening nya seperti air mengalir.
Paling-paling masalah Danu cuma tentang adaptasi. Sesudah itu semuanya bukan lagi mimpi. Menjadi cover majalah bisnis sepertinya tinggal soal waktu. Semua syarat sudah ada di Danu. Aku percaya itu.
Danu seperti bayi ajaib. Yang baru lahir langsung lari. Sementara aku harus merangkak, bahkan kadang merayap. Saat aku sudah mulai bisa berdiri kadang malah jatuh lagi. Perlu keseimbangan tingkat tinggi sebelum aku bisa berdiri. Apalagi berlari.
Mungkin kelemahan Danu cuma satu. Dia harus jauh-jauh dari batu kryptonite. Mungkin nama aslinya Kal-el. Bukan Danu.
+ + + + +
Diam-diam aku iri. Aku jealous.
Mungkin karena kesulitanku berbanding terbalik dengan kemudahan Danu. Merasa nggak adil. Mimpinya sama. Tapi start nya beda.
Mulai ada yang nggak sama. Aku nggak terima.
Aku harus bisa seperti dia. Aku harus mengejar ketertinggalanku. Atau sekalian kalau bisa menyalip Danu.
Siapa tahu ?
+ + + + +
Aku kerja keras. Mungkin batu pun kalah keras.
Bangun pagi langsung kerja. Pulang larut malam. Setiap hari.
Nggak cuma sebatas kerja. Makan, tidur, mimpi, semuanya bisnis. Bussiness is my life.
Nggak ada waktu buat istirahat. Kalau ada yang lihat aku sedikit terlena, berarti aku sedang kumat.
Saking seriusnya aku sampai lupa tertawa. Lupa caranya.
Di setiap aliran darahku mengalir mantra-mantra, yang meracuni setiap alur metabolisme, hocus focus, harus bisa, harus berhasil. Nggak perduli gimana caranya.
Tipu sana tipu sini, nggak masalah. Dari pada ditipu.
Sikat sana sikat sini. Oke-oke saja. Capek rugi terus.
Merusak harga, itu biasa. Jadi pemenang, itu keharusan. Bussiness is a war !
Kalau ada yang bilang aku raja tega, aku malah bangga.
Kalau ada karyawanku yang bilang aku sekejam heiho atau romusha, aku malah tertawa.
Aku nggak segan-segan memecat karyawanku demi mengejar omset tinggi. Kalau perlu satu karyawan seratus pekerjaan. Salah sedikit, potong gaji.
Terserah apa kata orang. I don’t even fuckin’ care.
Nggak ada malaikat di bisnis. Yang ada cuma iblis.
+ + + + +
Sepertinya kerja kerasku nggak sia-sia. Pelan-pelan mulai kelihatan hasilnya. Dalam sekejap counter ku sudah ada dimana-mana. Uang mulai cepat berputar. Rekening di bank mulai menggunung. Bank-bank juga sudah mulai mengantri menawari pinjaman.
Aku sudah bisa beli mobil bagus. Baju-bajuku semua ber- merk. Sepatuku juga buatan import.
Tapi jangan keliru, semua hanya bagian dari bisnis. Perputaran uang kian melaju, kepercayaan semakin jadi jaminan. Aku nggak boleh berpenampilan seperti gembel di depan semua mitra bisnis.
Aku juga bukan termasuk yang bangga kalau bag golf ku kelihatan waktu aku buka bagasi. Aku nggak begitu. All about bussiness. Just bussiness.
Semakin banyak yang mengenalku. Nggak sedikit yang memanggilku, “boss”. Lumayan buat modal percaya diri.
Tapi aku nggak bangga.
Aku belum se-sukses itu. Aku belum seperti Danu.
Aku masih belum mau ketemu, walau Danu kadang mencariku.
Aku memang sengaja menghindar, berkilah nggak ada waktu.
Toh Danu juga nggak keberatan. Dia bilang, “It’s okay, never mind”
Dalam hati aku bilang nanti. Tunggu dulu. Tunggu tanggal mainnya.
Tapi Danu tetap sahabatku.
+ + + + +
Sampai sms yang aneh dan mengejutkan itu datang.
“Nyo, kamu ada waktu ? mau kuliah lagi ndak ?”
“Ha, kuliah lagi ? Buat apa ?” tanyaku heran.
“Aku mau ngambil S2, siapa tahu kamu mau ”
“Kamu ngambil S2, buat apa ? Mau jadi profesor ? Mau jadi dosen ?”
Heranku bertambah. Pertanyaan terakhir sengaja buat antisipasi. Siapa tahu Danu bercanda.
“Ya siapa tahu bisa buat modal cari kerja. Usaha ku bangkrut nyo. Sekarang masih jalan, tapi kembang kempis”
“Ojo guyon dan, it’s not funny” aku to the point.
“I swear” jawab Danu.
“Kok bisa ?”
“It’s a long story nyo. Tempo hari waktu aku pengin ketemu sebenarnya aku mau cerita, aku mau share”
Diam. Merenung. Aku kenal Danu. Dia nggak bercanda. Danu memang benar-benar serius.
Kalimat terakhir membuatku merasa bersalah. Tiba-tiba aku merasa ingin langsung membayarnya. Ini saatnya untuk memberikan waktu ku buat Danu. Aku nggak boleh menghindar lagi. Ini panggilan hati. In the name of friendship.
“Tunggu aku dan, aku kesitu”
+ + + + +
Di perjalanan, di belakang stir mercedes, aku mencoba-coba menghubungkan tiga clue. Danu bangkrut-kuliah S2-cari kerja. Susah banget. Puzzle nya terlalu luas. Missing link nya terlalu banyak. Nggak ketemu-ketemu. Nanti saja lah, tanya Danu.
Biasanya perjalanan ke kantor Danu cuma setengah jam. Menurutku ini setengah jam terlama. Rasanya seperti perjalanan ke luar kota. Nggak sampai-sampai. Setiap traffict light, lampunya merah terus. Nggak pernah hijau. Aku merasa terburu-buru. Secepatnya ingin tahu.
Aku ingin secepatnya ketemu Danu.
+ + + + +
Ritual biasa setiap kami ketemu. Salam komando. Pelukan hangat.
“Nice to see you nyo” kata Danu.
“Nice to see you too dan” kataku.
Danu benar-benar menungguku. Aku jadi malu. Rasa bersalah itu masih ada, belum pergi. Its time to pay.
Suasananya persis sama seperti jaman kuliah dulu. Waktu Danu ditinggal selingkuh sama jessica, atau waktu aku putus sama rosita. Yang satu bicara, satunya jadi pendengar. Hanya kasus nya yang beda. Lebih berat. Lebih serius.
Danu cerita panjang lebar. Tentang beratnya persaingan. Perang harga sampai hancur-hancuran. Ditinggal pelanggan. Omset menurun tajam. Menjual armada nya satu demi satu, sampai ke pengurangan karyawan.
Sesudah Danu cerita semuanya, kami berdua sempat terdiam tanpa suara. Agak lama. Setelah itu aku mulai berani bicara.
“Kenapa ndak ikut nurunin harga dan, supaya lebih kompetitif ?”
“Aku nya yang ndak mau nyo. Aku sudah coba sekali, tapi ndak mau terus-terusan. Menurut ku itu ndak logis. Keuntungan yang sedikit ndak mungkin bisa menutupi biaya operasi yang makin besar. Bisanya cuma sementara, ndak bisa seterusnya. Bisa saja menang, tapi ndak bisa lama. Sama aja, kalau diterus-terusin pasarnya yang hancur duluan, habis itu pelakunya. Papa ku dulu juga pernah pesan begitu, jangan ikut-ikutan kalau ada yang rusak harga. Bisnis itu ndak cuma buat satu dua hari. Buat jangka panjang. Bisnis itu eksistensi”
Aku nggak comment sama argumen Danu. Nggak mau mendebat. Apalagi membantah. Karena Danu melibatkan nara sumber nya. Almarhum papa nya. Ya, bagi Danu, papa nya adalah gurunya. Tapi dalam hati ku, masak sih ?
Aku memilih bertanya yang lain, “So, gimana bisnis ini sekarang ?”
Sebetulnya aku ingin tanya “diteruskan atau dijual”, tapi nggak mungkin, takut bikin Danu sakit hati.
Tapi Danu tahu arahku. Dia menjawabnya murni dari kaca mata bisnis. Tetap pakai naluri, bukan hati.
“Sebenarnya bisa saja aku jual nyo, tapi karyawan ku bilang jangan. Katanya sayang. Mereka tinggal lima orang. Mereka orang-orang lama yang dulu ikut papa ku. Mereka orang-orang setia. Aku setuju saja, sambil mengingatkan konsekuensinya. Toh dari omset yang tersisa masih cukup kok buat membayar gaji mereka. Ini masalah history nyo. I can’t handle it for this one”
“Iya, tapi ndak cukup buat bayar bos nya” kataku sambil tersenyum.
“Iya, bener” Danu tertawa. Suasananya berubah. Lebih cair.
Aku baru sadar. Ternyata Danu menanggung beban berat sebagai penerus usaha ayahnya. Benar kata orang, mempertahankan jauh lebih sulit dibanding mencapainya. Lucky me. Poor Danu.
“Terus, kenapa ngambil S2 ?” aku nggak mau berlama-lama, back to topic.
“Buat jaga-jaga aja. Siapa tahu aku memang ndak bakat bisnis”
“Ah, masak genetik bisa salah” potongku cepat.
“Ya ndak gitu juga nyo” Danu mulai santai, bicaranya melambat, “Aku masih berpikir positif kok. Mungkin aku ndak cocok di bisnis jasa, mungkin lebih cocok di produksi atau di sektor jasa yang lain. Anggep aja kuliah ini improvisasi, siapa tahu dapat inspirasi”
Aku manggut-manggut. Semua jadi jernih. Jadi jelas. Danu cuma butuh pendengar. Dia memilih aku. Aku merasa beruntung karena ada di situ. Rasa bersalah ku mulai hilang.
“Tapi mungkin saja kan bisnis mu ini sebenarnya cuma sedang mati suri. Hanya sedang menunggu saat yang tepat untuk bangkit lagi ?” tempoku cepat lagi.
“Betul sekali. Bisa saja nyo. Who knows” Danu sudah tahu kemungkinan itu. Matanya bersinar-sinar. Dia suka. Karena aku tahu yang dia tahu. Dia menikmatinya. Rasa bersalahku benar-benar hilang.
“Buat aku, yang penting kamu ndak patah semangat. Aku suka kamu masih punya planning. Apapun itu. Aku berharap kamu bangkit. Jangan lupa, jadi cover majalah bisnis itu bukan mimpi” aku melambat lagi.
“Itu yang aku suka dari kamu. Kamu memang benar-benar sahabatku” yang ini dari hati. Danu memelukku. Aku terharu.
Padahal menurutku, aku cuma asal bicara. Aku nggak tahu kata-kata itu asalnya dari mana. Aku memang iri, tapi aku nggak rela kalo Danu jatuh. Danu harus bangkit. Danu harus kembali. Walau resikonya aku bisa iri lagi.
Danu tetap sahabatku.
Tapi mungkin, sekarang Danu yang nggak seberuntung aku.
+ + + + +
Aku kembali ke rutinitasku. Back on my track.
Kadang-kadang, iseng aku sms Danu. Sekedar ingin tahu.
“Piye kuliah mu dan ?”
“Oke-oke aja nyo, lancar”
“Bisnis mu ?”
“Oke juga, sedikit ada peningkatan, lumayan”
“Yo wes kalo gitu, tetep semangat dan”
“Okey dokey” jawab Danu. Bahasa gaul waktu kuliah dulu.
Selang beberapa bulan sms ku juga sama. Jawaban Danu sama juga. Aku suka. Bisnisnya kian membaik. Seberapa peningkatannya aku nggak tahu. Aku nggak pernah lagi ketemu Danu. Kali ini aku memang benar-benar nggak ada waktu. Ada sesuatu yang benar-benar menyita waktuku. Juga pikiranku.
Something happened with my bussiness.
+ + + + +
Pelanggan adalah raja. Aku menghamba. Tapi mereka berkhianat juga. Kurang ajar.
Service adalah yang utama. Aku beri fasilitas bayar belakangan. Mereka malah kabur tanpa bayar. Dasar bajingan.
Lama-lama pesan papa nya Danu kian jadi kenyataan. Bedanya Danu memilih mundur teratur, aku nyaris hancur lebur.
Pelan-pelan situasinya mulai balik ke awal lagi, ke masa-masa aku mengawali bisnisku. Kembali ke pola kadang-kadang. Kembali nggak pasti. Kembali jungkir balik.
Bedanya yang sekarang ada setengah-setengah. Setengah hidup, setengah mati.
Omset ku menurun tajam. Aku terpaksa menutup counter ku satu satu. Akhirnya tinggal satu. Mercedes sudah aku jual. Masih ada satu pick up, lumayan buat angkut angkut barang.
Aku sudah di tepi jurang. Sudah setengah kaki.
Hanya tinggal menunggu satu sentuhan.
+ + + + +
Pagi itu aku belum sarapan. Sengaja. Hitung-hitung. Nanti saja. Jadi satu sama makan siang. Separah itu. Aku.
Sepertinya pagi itu aku tetap akan batal sarapan. Gara-gara Danu nyuruh anak buahnya kirim bingkisan. Aku sempat berharap isinya sarapan.
Sepertinya majalah. Memang majalah.
Usai bungkusnya kubuka, aku kaget seperti disambar geledek.
Terloncat dari kursi. Sampai berdiri.
Aku sangat kenal dengan profil majalah bisnis itu.
Antara percaya dan nggak percaya. Tulisan di covernya sampai kubaca pelan-pelan seperti mengeja.
Alexander Danu Atmadja - Raja baru bisnis transportasi.
Sepertinya baru kemarin Danu di tepi jurang, sekarang sudah di puncak gunung. Sepertinya baru saja Danu cerita bangkrut, sekarang sudah jadi raja. Kok bisa ?
Aku mencoba menguasai diri. Kembali duduk di kursi. Kepalaku belum berhenti menggeleng. Seperti boneka yang lehernya dari per.
Lalu diam. Tenang. Kutarik nafas dalam-dalam. Kuhembuskan pelan-pelan. Udara membuat semuanya jadi lebih jernih.
Entah kenapa nggak ada rasa iri. Entah kenapa aku malah bangga. Malah sepertinya aku nggak tertarik dengan prosesnya.
Armada warisan papa nya puluhan. Waktu Danu jatuh tinggal beberapa. Sekarang malah berbalik jadi ratusan. Danu bisa bangkit melewati masa-masa sulit. Sekarang malah melewati pencapaian papa nya. Luar biasa.
Pelan-pelan aku mulai tersenyum. Timbul kagum.
Waktunya kirim sms. Waktunya kirim pujian.
“Hebat kamu dan. Mimpi yang jadi nyata. Aku bangga”
“Berkat kamu nyo. Semua berawal dari kata-katamu. Makanya aku kirim majalah itu. Itu harapanmu waktu aku jatuh dulu. Aku ndak akan pernah lupa”
Kok malah balik memuji. Aku malah sudah lupa kata-kataku dulu.
“Sekarang jadi raja ya ?”
“Ah, jangan terlalu percaya kata-kata wartawan. Sering berlebihan”
Sesudah itu. Jeda. Lumayan lama.
Aku sebetulnya ragu-ragu. Bukan malu.
Ah, Danu kan bukan orang lain. Dia sahabatku. Dia malah bisa jadi marah kalau nggak aku kasih tahu.
“Tahu ndak dan, masalahmu dulu sekarang jadi masalahku. Sekarang aku bangkrut”
“O ya, kok bisa, kenapa ?” sekarang Danu yang terkejut.
“Kayaknya kata-kata papa mu bener. Gara-gara ikut perang harga, sekarang aku hancur-hancuran”
Sms Danu berikutnya singkat padat. Copy paste sms ku dulu.
“Tunggu sebentar nyo, aku kesitu”
+ + + + +
Sama seperti Danu dulu, aku juga cerita panjang lebar. Aku yang cerita, Danu jadi pendengar. Dari awal sampai akhir. Komplet.
Seusai aku cerita semuanya, baru Danu mulai bicara.
“Sama aja kan, sebetulnya kalau kamu paksakan tetap ikut bersaing bisa saja. Tapi kamu bisa lebih hancur dari ini. Kamu betul nyo, lebih baik mundur. Mengalah belum berarti kalah”
Aku nggak jawab. Hanya sedikit mengangguk sebagai isyarat.
Danu bicara lagi, temponya melambat. Dia berhati-hati.
Aku tahu. Takut aku sakit hati. Aku pasrah saja. Dengar saja. Dia yang nggak punya beban. Aku yang sedang jadi pesakitan.
“Aku yakin kamu bisa bangkit nyo. Tapi kamu harus introspeksi diri. Supaya ndak sampai mengulangi kesalahan yang sama”
Sedikit anggukan lagi. It’s okay. It’s your time.
“Setahuku nyo, makin banyak cabang usaha, perputaran uangnya mesti sendiri-sendiri. Kalau ada satu counter yang ndak produktif, mestinya jangan dipaksa disubsidi. Counter mu memang banyak, tapi putaran uangnya cuma satu. Cuma di kamu. Telur mu banyak, tapi kamu taruh semuanya di satu keranjang. Kalau keranjangnya jatuh, telurnya bisa pecah semua”
Aku mengangguk lagi. Kali ini aku tersenyum. Aku sedang menikmati kata-kata seorang raja bisnis transportasi. Kata-katanya bagus. Tepat sasaran. Danu betul.
Teori telur dalam keranjang sebenarnya sudah pernah dengar lama. Tapi baru sekarang aku paham benar maksudnya. Bodohnya aku.
“Tapi ada yang beda nyo sama aku. Aku dulu mengurangi karyawan karena ndak bisa bayar. Tapi kamu mengurangi karyawan demi mengejar omset tinggi. Kalau aku ndak berani ngambil pilihan itu. Takut sugestiku terganggu. Menurutku cara itu nggak selaras dengan hukum alam.”
Senyumku langsung hilang. Berubah serius. Kok bisa ?
“Kamu ingat ndak kata-katanya om tjip dulu”
Ekspresiku menunjukkan kalau aku lupa orangnya. Apalagi kata-katanya.
“Itu lho, om tjip, kontraktor yang bangun jatim park, papanya jonathan”
“Oh” aku ingat. Dia ngomong apa ya ?
“Jangan takut menambah karyawan kalau memang perlu. Rejeki seorang perantara ndak ada habisnya”
Aku ingat kata-kata itu. Jelas sekali. Tiba-tiba aku nggak bisa tersenyum lagi. Kalimat terakhir seperti mesin perontok gigi. Kalau dipaksa tersenyum malah jadi kecut. Wajahku pasti akan cepat jadi keriput.
Sekarang aku jadi tampak semakin bodoh. Bodoh sekali.
“Tapi sudahlah” Danu tetap lambat, “Usahamu masih jalan kan, meski ngos-ngosan. Berarti masih ada telur yang ndak pecah. Berarti masih ada peluang untuk bangkit”
Aku berusaha tersenyum lagi. Masih susah. Masih merasa bodoh.
“Benar kata papa ku dulu. Katanya anak muda sering kurang sabar”
Danu sedikit tertawa. Aku jelas nggak bisa.
Tangan Danu menyentuh pundakku. Ekspresinya sudah ganti. Cepat sekali.
“Kalau aku bisa bangkit, berarti kamu juga bisa. Selalu ada peluang untuk itu. Kalau butuh bantuan, apa saja, jangan sungkan hubungi aku”
Sang raja memang bijaksana. Dia siap mengulurkan tangan demi kesulitan rakyatnya. Aku percaya. Aku bangga. Aku terharu.
Danu memang sahabatku.
+ + + + +
Aku tahu. Danu ingin menyampaikan sesuatu. Lebih dari sekedar kata-kata.
Danu sengaja menelanjangiku tanpa harus membuatku malu. Menunjukkan panu, kudis, kurap di sekujur tubuhku. Dengan cara santun. Dengan penuh rasa hormat. Sebagai seorang sahabat.
Danu ingin bilang aku terburu-buru ingin sukses. Ingin cepat kaya.
Danu ingin bilang nggak ada jalan pintas. Aku mesti bersabar.
Danu ingin bilang aku harus bijaksana memutar uang. Nggak semua orang bisa jadi perantara Tuhan.
Danu ingin bilang aku terlalu bangga sama diriku sendiri. Aku mesti banyak belajar dari orang lain.
Danu ingin bilang aku serakah. Aku menghalalkan segala cara.
Ya. Danu benar. Aku serakah.
+ + + + +
Ternyata nggak mudah untuk bisa rendah hati, apalagi dengan orang terdekatku sendiri. Saat profil Danu menghiasi cover majalah, andai waktu itu aku sedang nggak jatuh, mungkin rasa kagum itu nggak pernah ada. Mungkin aku akan dikuasai rasa iri seumur hidupku.
Mungkin juga rasa iri itu yang memberiku motivasi overdosis. Sampai aku kehilangan separuh intuisi. Sampai aku nyaris terhempas ke dalam jurang.
Mungkin wajar kalau aku iri dengan keberhasilan orang yang kubenci. Tapi betapa bodohnya kalau aku iri dengan kesuksesan sahabatku sendiri.
Danu berhak meraih yang terbaik. Sudah semestinya aku ikut bahagia dengan keberhasilannya. Danu memang hebat.
Waktunya angkat topi. Waktunya toast. Salute.
+ + + + +
Sepertinya ada sesuatu yang baru dalam diri Danu.
Sesuatu yang membuatnya menjadi lebih bijak dibanding dulu.
Satu sisi yang belum aku temukan di dunia bisnis. Aku nggak tahu apa itu. Probably it was the angel side of bussiness. Maybe.
Ya, aku pernah dengar istilah selfish dan unselfish. Sepertinya Danu sudah punya dua-duanya. Mungkin aku masih satu.
Danu sudah bisa membuat uang bekerja untuk dirinya. Aku masih sebaliknya.
Tapi menurutku tetap bukan Danu yang lebih beruntung. Tapi aku.
Aku nggak perlu jauh-jauh cari cermin. Buat introspeksi. Juga buat mengkoreksi kekurangan diri.
Cermin itu ada di dekatku. Dalam diri sahabatku.
Namanya Danu. Bukan Kal-el.



@September-2011

No comments: