
Angin dingin yang bertiup kencang di pesisir pantai Balangan tak mampu mengubah ekspresi Stanley yang masih dilanda keheranan. Aku yang datang jauh-jauh menyeberangi selat Bali hanya untuk curhat tentang permasalahan hidupku sudah cukup membuat dahinya berkerut, ditambah semua uneg-uneg yang sengaja kubiarkan mengalir deras tak ayal membuat dia terpancing juga untuk berkomentar.
“Andre my man, bagaimana kamu bisa tahu maunya Tuhan jika kamu sendiri tidak berani mengutarakan keinginan. Setahuku kita semua diperintahkan untuk memilah hasrat bukan meniadakannya” katanya.
Aku tak bergeming, kalimat itu bagai menyatu dengan udara namun tak sedikitpun menyentuh kedua telingaku. Pertemananku dengan Stanley sejak masa-masa kuliah bukanlah sebuah relasi atas dasar satu pemikiran. Stanley dan aku selalu melihat segala sesuatunya dari sudut yang berbeda meski obyeknya adalah sekeping koin yang sama. Anehnya mungkin justru perbedaan itu yang menjadi alasan kami merasa sama-sama saling membutuhkan, seolah kami memang hanya ingin bicara tanpa butuh didengar karena setiap diskusi sudah pasti tak akan pernah melahirkan titik temu. Atau mungkin karena kami berdua secara diam-diam memang bersepakat bahwa sepemikiran bukanlah hal yang seru.
Aku mengilustrasikan hidupku seperti anak kecil yang bergerak aktif kesana kemari sampai naik ke atas meja namun dibiarkan saja oleh ayahnya. Ketika akhirnya aku jatuh dan menangis, sang ayah malah bertanya, “Sakit ya?” Lalu saran berikut bagai terdengar klise, “Makanya lain kali jangan naik meja lagi”
Saran itu tak dapat mengobati luka. Aku berharap mendengar petunjuk aku harus bagaimana, apa yang harus aku lakukan atau jalan mana yang harus aku tempuh agar aku dapat tetap bebas kesana kemari tanpa harus jatuh dan menangis lagi.
“Yah… itu tidak seru. Itu bukan hidup” kata Stanley, “Hidup bagai terpasung tanpa passion dan resiko, hak untuk memilih adalah kebebasan yang diberikan cuma-cuma pada manusia. Kenapa kita harus takut berbuat salah dan menanggungnya jika salah itu adalah bagian dari diri kita, selama kita tidak tertarik dengan pembenaran diri”
“Aku hanya ingin tahu apa yang kehidupan mau dariku, aku tak mungkin melanjutkan keberadaanku di atas panggung jika aku tak pernah tahu peranku” kataku.
“Lho, kita kan hanya bisa meyakini yang menurut kita benar, seberapa benar kita nggak akan pernah tahu. Andai sekarang kamu sedang gagal, tidak berarti pilihanku yang benar”
“Lalu dimana manfaat freewill-nya kalau aku harus terjatuh dari meja?”
“Ah! “ Stanley menggeleng-gelengkan kepalanya, “Selama kamu masih berpikir tentang kebebasan, kebebasan itu justru menjadi tidak ada. Iya kan? Lihat, akan aku tunjukkan seperti apa freewill itu”
Tiba-tiba Stanley meletakkan sekaleng bir dingin yang sedari tadi ia genggam namun belum sempat dibuka, lalu berdiri sambil meraih papan selancarnya dan meninggalkan aku begitu saja melangkah mantap menjemput laut. Angin dingin bulan Oktober kembali berhembus kencang menerpa rambut gondrongnya hingga berkibar, punggungnya yang legam berkilat terkena sinar matahari bak bertuliskan kata-kata, “This is life”
Sesederhana itu ?
+ + + + +
Sebelum ditahbiskan menjadi sarjana, pikiranku sempat dipenuhi dua pilihan yang memaksaku mengkajinya berulang-ulang. Merintis usaha atau mencari lowongan kerja. Anehnya pada saat itu belum ada rasa takut salah memilih jalan, seperti yang kini tengah kurasakan setelah lima tahun berlalu menyisakan beban.
Stanley yang aslinya berdarah campuran Indo-Jerman memilih pulang ke kampung halamannya di pelosok Bali, dengan modal sebagian pinjaman membangun gubug sederhana di tepi pantai desa Balangan yang masih orisinil, menjual bir dingin, light meal dan pernak-pernik surfing. Main core-nya tetap menyewakan papan selancar.
“That’s a pleasure, not life” kataku. Tapi dengan santainya Stanley bilang itu pilihan hidup, “Who wants to live forever” katanya menirukan salah satu judul lagu group musik Queen.
Sebenarnya kami sama-sama memilih ingin menjadi kepala ayam dari pada ekor naga. Namun Stanley tidak pernah menganggap filosofiku sebagai alasan pilihannya. Aku baru menyadari pemikirannya setelah lima tahun berlalu, ternyata Stanley tidak pernah tertarik dengan status sosial. Itu sedikit mengejutkanku.
Aku memilih membuka warnet di dekat bekas kampusku. Tidak harus bangun pagi lalu absen, dan bisa datang kapan saja aku mau menjadi arti kebebasan awal yang aku yakini. Meski belum mencapai level bebas finansial setidaknya aku memiliki kebebasan mutlak untuk berkreasi, aku bebas menentukan akan kujadikan seperti apa warnetku. Semua tergantung keputusanku, tergantung apa mauku, absolutely. Itu arti kebebasan yang kedua.
Desain eksterior dan Interior termasuk perabot sengaja kubuat warna-warni. Sebuah pesan vulgar dari jiwa muda yang dinamis meski belum sepenuhnya oportunis karena profit yang kuterima masih jauh dari harapan. Aku memilih mengumbar teori-teori sebagai dasar keyakinan untuk menentukan visi usahaku. Arti kebebasan berikutnya yang sebenarnya sangat berbahaya karena teori bukanlah pengalaman, yang tak pernah kubayangkan bakal aku pertanggungjawabkan di masa depan lewat proses yang sama sekali tidak menyenangkan.
Tapi aku sudah nggak peduli, aku terlanjur menelan mentah makna kebebasan seperti makanan instan sekali telan tanpa pernah mencernanya lebih dulu. Aku memilih untuk menerjang segala rintangan dengan caraku.
Suatu hari Stanley menyapaku lewat yahoo messenger, “Hallo bos”, disertai logo wajah meringis dengan sederet gigi, sebuah isyarat kalau dia bercanda mengolok-olok statusku.
“Hallo juga bos” balasku, juga dengan logo yang sama.
“Aku bukan bos Ndre, aku hanya instrumen kehidupan” jawab Stanley. Kali ini logonya wajah tersenyum. Namun aku bisa mendengar tawa renyahnya dari kejauhan seiring debur ombak yang lugas menyapa tepian pantai Balangan. Samar-samar.
+ + + + +
Ketika uang berputar kian cepat aku memutuskan membuka cabang baru. Konsepnya sama dengan yang terdahulu, tak jauh dari area kampus. Bedanya sekarang di dekat universitas swasta yang mayoritas mahasiswanya anak-anak orang kaya. Jelas aku mengincar keuntungan yang lebih besar.
Teorinya sederhana, punya dua cabang berarti dua kali lipat keuntungan. Setidaknya setelah dua tahun berlalu keyakinanku terbukti benar karena aku mulai merasakan atmosfer bebas finansial. Aku bebas mengatur uang dengan leluasa termasuk untuk memuaskan ego-ku.
“Aku tunggu cabang berikutnya bos” kata Fathur, marketing bank yang memberiku fasilitas pinjaman ketika datang meninjau cabang baruku. Aku mulai nyaman dengan sebutan bos, cara Fathur mengucapkannya jelas berbeda dengan Stanley. Dari nada yang terdengar sebutan itu lebih sebagai ungkapan rasa hormat bukan sekedar olok-olok. Kami saling menghargai dalam suatu dimensi yang belum tentu semua orang mengalami. Kami sama-sama bernafas di dunia kapitalis yang eksklusif, sementara Stanley sepertinya hidup di belahan dunianya sendiri. Meski sama-sama berstatus kepala ayam, mungkin Stanley adalah ayam yang hidup di hutan belantara sementara aku di tengah peradaban.
Aku sama sekali tak menyadari kalau pemikiranku mulai berjalan terbalik. Ditengah kehidupan kota besar definisi bekerja sama dan saling memangsa nyaris tipis bedanya. Sampai aku nggak tahu lagi yang mana rimba yang mana kota. Mungkin justru Stanley yang sebenarnya hidup di komunitas beradab, bukan aku. Namun ayunan cambuk terlanjur mendarat di hamparan punggung kuda-kudaku yang liat, keretaku terlanjur melaju. Tak ada lagi kesempatan untuk memikirkan segala paradigma karena simbiosis mutualisme ku dengan Fathur telah membuka mataku pada hal-hal baru. Aku kian mantap menatap masa depan. Stanley mulai terlupakan.
Teori-teori baru pun bermunculan, termasuk ketika aku mulai menghadapi masalah persaingan. Namun teori keberuntungan tak pernah terlintas dalam benakku sejak awal, aku menganggap teori itu tak menghargai kerja kerasku. Aku memilih berpikir serius menghadapi kompetitor yang bereaksi keras demi memenangkan persaingan, yang sepertinya menghalalkan segala cara hingga omsetku mulai terganggu. Lambat laun teori-teori mulai tak sejalan dengan praktek di lapangan, pemikiran dua cabang dua keuntungan tidak berarti hanya dua permasalahan. Konsentrasiku mulai terbagi, antara terus melaju atau berperang agar tak ditinggalkan pelanggan. Tapi aku sudah terlanjur keras kepala, di awal tahun keempat aku membuka cabangku yang ketiga.
+ + + + +
Predikat pemilik tiga warnet yang kini melengkapi namaku sudah menjadi status sosialku yang baru. Aku menganggapnya sebagai bentuk penghargaan pada semua eksistensiku. Aku semakin jauh dari diriku. Status sosial diam-diam menjebakku ke dalam situasi tak jelas antara yang mana ilusi atau kenyataan, yang mana fantasi atau imajinasi. Pemikiranku kian bergeser, mulai menganggap pengakuan sebagai pencapaian bukan efek samping. Sementara semua permasalahan yang membuatku pusing kepala justru kuanggap sebagai konsekuensi dari semua pujian. Finansial yang tadinya menjadi bagian dari kebebasanku kini bagai jerat yang memaksaku tiada henti berhitung-hitung hingga aku mulai kehilangan fokus. Seolah bertahan dari semua gempuran menjadi satu-satunya jalan hingga aku lupa dengan pilihan lain yang mungkin lebih sederhana dan lebih menguntungkan. Aku terlanjur merasa sudah cukup berhasil dan kini mulai takut gagal. Aku takut miskin lagi.
Aku semakin butuh pendengar, teori-teori yang kuagungkan seolah semakin memaksaku sering bicara pada siapa saja yang kutemui. Tujuannya bukan lagi sebagai aplikasi keyakinan melainkan sebagai tempat persembunyian sekaligus untuk membuat pendengarnya terkesan. Aku semakin haus pujian. Stanley tak lagi ada dalam kehidupanku.
Murni teori bukan pengalaman bagai bangunan rapuh yang perlahan akan roboh dan siap mengubur aku hidup-hidup. Semakin tinggi tembok yang aku bangun semakin cepat pula aku bersiap diri jadi mangsanya. Aku telah kehilangan pilihan. Jiwaku tak lagi sebebas dulu.
Merenung-renung yang berujung tak bisa tidur menjadi kebiasaan baruku di penghujung malam. Aku sampai hafal dengan jumlah plafon yang menghiasi langit kamarku. Jelajah pikiranku tak lagi seluas dulu, kemanapun aku pergi mencari solusi bagai membentur tembok pembatas yang kubangun sendiri. Aku mulai terjepit.
Bangun pagi atau siang, datang ke salah satu cabang warnetku atau tidak, sudah nggak ada bedanya. Sebenarnya kebebasanku kian tak terbatas namun aku justru merasa seperti terbelenggu, karena ada atau tiadanya aku tak dapat lagi mengubah situasi. Angsuran bank yang mulai tersendat gara-gara cash flow yang memburuk bagai menghantui dimana saja aku berada. Aku terjebak pada situasi tanpa kendali yang kian absolut bertahta atas diriku. Tak ada lagi teori yang bisa kupakai untuk bersembunyi. Semua telah terkuras habis untuk menutupi celah-celah keyakinan yang seiring waktu kian berlubang. Aku bagai kian tak bernyawa dan mulai merasa telah salah memilih jalan.
Pada suatu malam aku terjaga dari tidurku dengan nafas terengah-engah gara-gara bermimpi ada ombak dahsyat yang akan menghampiriku. Sebegitu besar gulungannya hingga terlihat seperti mulut raksasa yang terbuka lebar dan bersiap menelanku hidup-hidup. Meski kesadaranku masih setengah-setengah kedua telingaku masih bisa menangkap suara deburan ombak ketika menghempas tepian pantai. Samar-samar.
+ + + + +
“Kenapa kamu tawarkan sama aku ? Kenapa nggak untuk kamu sendiri saja?” tanyaku.
“Come on Ndre, aku nggak punya pengalaman di bidang itu. Sejak lulus kuliah aku kan cuma sibuk melatih basket. Beda sama kamu yang eksis di bisnis, buktinya om ku langsung tertarik waktu dengar kamu sukses bisnis warnet” jawab Rizal.
Sukses? Seharusnya aku tertawa, namun rasa hausku pada pujian membuat nafasku tiba-tiba bagai tertahan. Rahasiaku telah rapat tersembunyi, di depan Rizal aku nggak perlu susah-susah lagi ber-teori. Namun segala kepalsuan ini sungguh menyiksaku. Aku sungguh berharap ada cara sederhana untuk membuka penyamaranku agar aku bisa mengaku tanpa harus menanggung malu. Meski aku sendiri juga nggak tahu kenapa harus malu, atau kepada siapa sebenarnya kutujukan rasa maluku. Aku terlanjur menjadi tawanan atas semua kebohongan yang kuciptakan sendiri.
Rizal adalah rekan satu tim basket waktu kuliah dulu. Walau bukan termasuk pendulang point yang bisa diandalkan tapi kemampuan defense dan passing-nya oke banget. Peran Rizal sebagai guard mempermudah aksiku mengobrak-abrik pertahanan lawan sekaligus memasukkan bola ke dalam keranjang. Aku butuh Rizal di lapangan. Kami berdua biasa bahu membahu menghabisi setiap lawan di kompetisi liga mahasiswa.
Om nya Rizal yang bekerja di sebuah bank pemerintah merencanakan investasi besar menjelang masa pensiunnya. Dia akan membangun rumah kos dua lantai dengan dua puluh kamar dilengkapi ruko-ruko kecil untuk investasi bisnis jasa lainnya seperti studio band, warnet, rental komputer atau foto copy. Sebuah konsep one stop service dengan target pasar mahasiswa, dan dia butuh seorang partner yang bisa dipercaya untuk mengelola usahanya. Rizal merekomendasikan aku.
Dilihat dari target pasarnya sepintas memang nggak ada yang salah dengan rekomendasi Rizal. Kiprah bisnisku selama empat tahun di sekitar kampus jelas menarik perhatian om nya. Warnetku yang kini bercabang tiga pasti membuatnya lebih gampang percaya. Tapi entah mengapa embel-embel sukses itu justru sangat mengganggu pikiranku, seolah menjadi beban berat yang membuatku ragu pada kemampuanku sendiri. Semampu itukah aku?
Disaat bank mulai mempertanyakan kelancaran angsuran, peluang itu datang menggodaku. Saat aku mulai berpikir bahwa selama ini telah salah memilih jalan muncul jalan alternatif yang mungkin bisa menyelesaikan semua masalahku. Apakah benar begitu?
Mungkin aku memang tak pantas menjadi kepala ayam. Tapi sungguh aku nggak tahu bagaimana cara menyudahi masa laluku. Aku bahkan ragu menilai peluang itu sebagai pilihan karena merasa terlanjur terjebak pada situasi yang tak lagi menyisakan ruang gerak. Peluang itu lebih seperti tas ransel berisi batu-batu berat yang jika dibebankan kepadaku akan membuatku jatuh tersungkur seketika.
Aku mulai menyesali semua pemilihan sikapku di waktu lalu. Semestinya aku beralih ke dahan lain yang rantingnya cukup kuat untuk kupijaki ketika memetik buah yang kusukai. Atau mungkin semestinya buah ketiga tak harus kupetik karena rantingnya terlalu lemah untuk dapat menyangga tubuhku hingga kini aku kesulitan bergerak kembali ke dahan tempat semula aku berpijak. Sedikit saja kehilangan keseimbangan aku harus menanggung resiko jatuh menyapa tanah bersama tiga buah yang telah kupetik berikut ranting-ranting yang patah. Seolah tak ada jalan untuk meraih buah di lain dahan seperti yang Rizal tawarkan. Seolah kejatuhan menjadi satu-satunya jalan agar aku harus memulainya lagi dari awal.
Aku mulai muak dengan semua teori. Aku kini benar-benar butuh solusi.
+ + + + +
“Berapa modal tambahan yang kamu butuhkan buat recovery warnetmu?” tanya Pak Husein.
“Kok menambah modal lagi pak, masak harus hutang lagi?” aku balik bertanya.
“Lho, kamu kan pernah berhasil, kalau sekarang sedang gagal berarti harus kamu telusuri dulu, masih mungkin nggak bisnismu diselamatkan. Kegagalan tidak selalu karena jenis usahanya saja, bisa jadi karena caramu mengelola atau karena kamu belum siap menghadapi persaingan. Banyak faktor kan? Kecuali kalau kamu memang sudah berpikir menyerah, ya mending ditutup saja sekalian” jawab Pak Husein, ringan tanpa beban.
“Hmm..... bagaimana caranya menyelamatkan? Bagaimana juga cara menutupnya tanpa harus menanggung kerugian?” tanyaku.
Kedekatanku dengan Pak Husein di beberapa seminar selama kuliah menciptakan hubungan tanpa jarak, dia lebih dari sekedar dosen pemasaranku. Aku sungguh berharap ada solusi menarik dari seorang yang punya profesi ganda seperti Pak Husein, yang selain mengajar dia juga seorang konsultan manajemen di beberapa perusahaan besar. Sudah pasti dia tak hanya kaya teori tapi juga kenyang pengalaman di lapangan. Konsultasinya jelas gratis.
Pak Husein tertawa, “Nada bicaramu sudah seperti orang menyerah. Jangan bersikap seperti itu sebelum melakukan segala sesuatu. Bisnis itu bagian dari hidup, bisa berhasil juga bisa gagal. Kamu harus bisa menyikapi keduanya. Tentukan dulu tujuanmu, mau terus atau berhenti. Jangan mencari jalan pintas, kalau nggak bisa memetik pelajaran dari pengalaman ini bisa jadi di lain waktu kamu akan mengulangi kesalahan yang sama”
Pak Husein sudah mulai mirip Stanley, mulai menyebut kata “Hidup”. Terdengar bijak tapi justru membuatku kembali serasa berputar-putar. Aku belum mendengar solusi pasti, jalan mana yang benar atau apa yang harus aku lakukan, itu yang ingin aku dengar. Sebenarnya aku mulai malas melanjutkan, tapi cara Pak Husein tertawa cukup ampuh memancing ego-ku yang seolah nggak terima kalau disebut menyerah. Aku mencoba ikut menelusuri, siapa tahu di percakapan berikutnya ada sesuatu yang pasti.
“Oke pak, oke” kataku, nada suaraku sengaja kuucapkan lebih tegas supaya terdengar lebih serius dan tidak memberi kesan menyerah, “Anggap saja bisnis ini mau aku teruskan, apa yang harus aku lakukan?”
Pak Husein merubah posisi duduknya, “Apa yang menyebabkan kamu kalah bersaing, kenapa pelangganmu lebih memilih pesaingmu? Cari tahu tentang itu, lalu hitung berapa investasi ulang yang kamu butuhkan buat memenangkan persaingan. Tapi investasi ulang ini harus bisa dipertanggungjawabkan, kalau malah nggak menguntungkan jangan diteruskan. Coba pakai pendekatan lain, mungkin kamu kewalahan mengelola tiga outlet. Mungkin harus dirampingkan, bisa dua saja atau satu saja. Banyak cara kan?”
Aku manggut-manggut memberi kesan mengerti, sengaja untuk menyenangkan lawan bicaraku. Pak Husein makin mirip Stanley, lebih suka menawarkan alternatif sudut pandang dibanding sesuatu yang benar-benar nyata. Sebenarnya aku masih ingin bertanya, “Bagaimana cara menutupnya?” tapi aku urungkan.
Aku bisa menebak arahnya. Dipastikan aku akan menghabiskan waktu berjam-jam tanpa memperoleh jawaban pasti. Tetap nggak ada solusi.
+ + + + +
Mungkin masalah yang kuhadapi tidak sesederhana seperti yang kupikir, nggak seperti teka-teki silang yang bisa kuselesaikan sambil mengunyah permen karet sehingga tak ada cara sederhana juga buat menyelesaikannya. Atau mungkin cara berpikirku yang terlalu rumit seperti rumus fisika hingga tak bisa mencerna pilihan mudah yang sebenarnya sudah ada di depan mata. Semua jelas mengarah pada satu kesimpulan akulah yang bermasalah, kalau itu aku sudah tahu. Seberapa bermasalah itu yang aku nggak tahu atau memang sengaja menolak untuk tahu.
Aku ingin membuang buku cerita yang baru aku baca setengah jalan, yang ternyata isinya tidak menghibur dan malah membuatku pusing kepala. Aku sudah tahu kalau salah memilih buku atau belum paham benar isinya tapi terlanjur enggan untuk melanjutkan. Dan kini aku butuh referensi buku apa selanjutnya yang harus aku baca, tapi yang kuterima malah penjelasan yang membingungkan. Aku bagai terus melayang di langit luas yang kaya sudut pandang, namun kian jauh dari belahan bumi sebelah mana yang harus aku pijaki. Sungguh langit tiada bertepi, sebegitu luas daratan dan lautan.
Aku butuh satu jalan saja, atau satu cara bukan banyak pilihan, juga bukan penjelasan. Tapi kehidupan sepertinya memang tidak pernah mengenal kata sederhana, tidak akan pernah ada yang instan. Selamanya jalan akan selalu bercabang, dan bisa jadi disetiap pilihan berpotensi membuatku merasa salah memilih jalan. Tapi tetap saja aku-nya yang salah, bukan jalannya. Andai benar jalan yang aku pilih juga tidak berarti aku-nya yang benar. Sungguh melelahkan.
Tiba-tiba aku merasa sangat ingin bicara tanpa harus didengar. Dengan seseorang yang selalu melihat segala sesuatunya dari sudut pandang “Hidup” , seseorang yang melihat hidup dengan caranya sendiri, yang terkadang dari mulutnya akan terdengar kata-kata yang bagiku sama sekali nggak masuk akal. Kalau di toko roti Pak Husein ibarat roti aneka rasa, Stanley adalah adonan biang.
Selain itu aku juga sudah sangat rindu dengan keindahan alami pantai Balangan yang eksotis. Pohon-pohon kelapa yang tumbuh liar di tepi pantainya, dan pasir putihnya yang terhampar bak permadani seolah menawarkan sensasi magis yang menentramkan hati. Siapa tahu berselancar di sana seperti dulu ketika liburan semester dapat membuatku terbebas dari segala kebuntuan.
Tiba-tiba aku merasa seakan mendengar lagi suara debur ombak menyapa tepian pantai. Samar-samar.
+ + + + +
Aku berdiri malas-malasan sambil meraih papan selancar, lalu berjalan ke arah laut mengikuti jejak langkah Stanley yang mulai hilang disapu angin. Ketika sepasang kakiku menginjak hamparan pasir tiba-tiba semua pilihan itu melintas cepat di benakku. Kemana arah yang akan kutuju, jalan mana yang akan kupilih. Melanjutkan usahaku, mencari modal tambahan, merampingkan usahaku, menutupnya lalu memilih menjadi partner om-nya Rizal, atau mencari pekerjaan lain lewat iklan lowongan. Semua berkumpul menjadi satu dalam pikiranku menjelma ribuan beban hingga langkahku memberat.
Namun ketika air laut mulai meresap kedalam pori-pori kakiku sekejap semua bayangan pilihan itu menghilang begitu saja. Seolah ikut melarut ke dalam lautan bersama tubuhku yang hanya menyisakan sebatas kepala. Lalu kurebahkan tubuhku di atas papan selancar dan mulai mengayuh kedua tanganku menuju ke tengah laut. Aku membiarkan tubuhku terapung ketika ombak besar datang silih berganti. Aku nggak tenggelam, aku bahkan melewatinya.
Ketika telah mencapai tengah laut dan melihat gulungan ombak yang sangat besar aku segera berbalik arah menatap pantai yang kini tampak sangat jauh. Tepat ketika ombak datang akan menelanku, aku langsung mengambil posisi berdiri di atas papan selancar lalu meluncur mengikuti gulungan itu searah sejalan menuju daratan. Meliuk-liuk menghindari terkaman ombaknya yang tinggi besar mirip dinding melengkung berwarna biru, yang tepat berada disisiku dan berjarak tak ada sedepa dengan diriku. Aku terus melaju meninggalkan puncak ombaknya yang jatuh terhempas tepat di belakangku, menjelma buih-buih hingga mengubah warna permukaan laut menjadi biru keputih-putihan. Menakjubkan.
Untuk pertama kalinya aku merasa seolah aku dan Stanley sedang melihat sekeping koin dari sisi yang sama. Selama ini aku lebih suka berpikir bagaimana cara mengatasi ombak, tapi Stanley membiarkan dirinya mengapung untuk melewatinya, karena dia tahu perbedaan berat jenis tidak akan membuatnya tenggelam. Tadinya aku takut dengan ombak yang paling besar, Stanley justru mencari dan menyambutnya, karena dia tahu bagaimana cara memanfaatkan sekaligus menikmatinya. Dulu aku memilih menggunakan seluruh kekuatan tenaga dan pikiranku, Stanley memilih berdiri di atas selembar papan untuk mencapai daratan lebih cepat, karena dia tahu keseimbangan hati dan pikiran dapat membebaskan jiwanya.
Selama ini aku lebih suka memusuhi alam ketika tengah tak bersahabat, sementara Stanley setia menjaga pertemanan dengan mereka dalam situasi apapun. Seperti itu cara Stanley mengarungi hidup yang selalu menawarkan banyak pilihan tanpa ada satupun yang pasti, seolah dia telah benar-benar memahami makna ketidakpastian adalah kepastian itu sendiri. Semua terangkai mesra dalam ruang imajinasi seorang Stanley, sehingga dia masih bisa tertawa ketika terjatuh dari papan selancarnya. Dia akan kembali mengapung ke tengah laut mencari lagi ombak yang paling besar. Lagi dan lagi. Begitu seterusnya.
Sesederhana itu.
“Andre my man, bagaimana kamu bisa tahu maunya Tuhan jika kamu sendiri tidak berani mengutarakan keinginan. Setahuku kita semua diperintahkan untuk memilah hasrat bukan meniadakannya” katanya.
Aku tak bergeming, kalimat itu bagai menyatu dengan udara namun tak sedikitpun menyentuh kedua telingaku. Pertemananku dengan Stanley sejak masa-masa kuliah bukanlah sebuah relasi atas dasar satu pemikiran. Stanley dan aku selalu melihat segala sesuatunya dari sudut yang berbeda meski obyeknya adalah sekeping koin yang sama. Anehnya mungkin justru perbedaan itu yang menjadi alasan kami merasa sama-sama saling membutuhkan, seolah kami memang hanya ingin bicara tanpa butuh didengar karena setiap diskusi sudah pasti tak akan pernah melahirkan titik temu. Atau mungkin karena kami berdua secara diam-diam memang bersepakat bahwa sepemikiran bukanlah hal yang seru.
Aku mengilustrasikan hidupku seperti anak kecil yang bergerak aktif kesana kemari sampai naik ke atas meja namun dibiarkan saja oleh ayahnya. Ketika akhirnya aku jatuh dan menangis, sang ayah malah bertanya, “Sakit ya?” Lalu saran berikut bagai terdengar klise, “Makanya lain kali jangan naik meja lagi”
Saran itu tak dapat mengobati luka. Aku berharap mendengar petunjuk aku harus bagaimana, apa yang harus aku lakukan atau jalan mana yang harus aku tempuh agar aku dapat tetap bebas kesana kemari tanpa harus jatuh dan menangis lagi.
“Yah… itu tidak seru. Itu bukan hidup” kata Stanley, “Hidup bagai terpasung tanpa passion dan resiko, hak untuk memilih adalah kebebasan yang diberikan cuma-cuma pada manusia. Kenapa kita harus takut berbuat salah dan menanggungnya jika salah itu adalah bagian dari diri kita, selama kita tidak tertarik dengan pembenaran diri”
“Aku hanya ingin tahu apa yang kehidupan mau dariku, aku tak mungkin melanjutkan keberadaanku di atas panggung jika aku tak pernah tahu peranku” kataku.
“Lho, kita kan hanya bisa meyakini yang menurut kita benar, seberapa benar kita nggak akan pernah tahu. Andai sekarang kamu sedang gagal, tidak berarti pilihanku yang benar”
“Lalu dimana manfaat freewill-nya kalau aku harus terjatuh dari meja?”
“Ah! “ Stanley menggeleng-gelengkan kepalanya, “Selama kamu masih berpikir tentang kebebasan, kebebasan itu justru menjadi tidak ada. Iya kan? Lihat, akan aku tunjukkan seperti apa freewill itu”
Tiba-tiba Stanley meletakkan sekaleng bir dingin yang sedari tadi ia genggam namun belum sempat dibuka, lalu berdiri sambil meraih papan selancarnya dan meninggalkan aku begitu saja melangkah mantap menjemput laut. Angin dingin bulan Oktober kembali berhembus kencang menerpa rambut gondrongnya hingga berkibar, punggungnya yang legam berkilat terkena sinar matahari bak bertuliskan kata-kata, “This is life”
Sesederhana itu ?
+ + + + +
Sebelum ditahbiskan menjadi sarjana, pikiranku sempat dipenuhi dua pilihan yang memaksaku mengkajinya berulang-ulang. Merintis usaha atau mencari lowongan kerja. Anehnya pada saat itu belum ada rasa takut salah memilih jalan, seperti yang kini tengah kurasakan setelah lima tahun berlalu menyisakan beban.
Stanley yang aslinya berdarah campuran Indo-Jerman memilih pulang ke kampung halamannya di pelosok Bali, dengan modal sebagian pinjaman membangun gubug sederhana di tepi pantai desa Balangan yang masih orisinil, menjual bir dingin, light meal dan pernak-pernik surfing. Main core-nya tetap menyewakan papan selancar.
“That’s a pleasure, not life” kataku. Tapi dengan santainya Stanley bilang itu pilihan hidup, “Who wants to live forever” katanya menirukan salah satu judul lagu group musik Queen.
Sebenarnya kami sama-sama memilih ingin menjadi kepala ayam dari pada ekor naga. Namun Stanley tidak pernah menganggap filosofiku sebagai alasan pilihannya. Aku baru menyadari pemikirannya setelah lima tahun berlalu, ternyata Stanley tidak pernah tertarik dengan status sosial. Itu sedikit mengejutkanku.
Aku memilih membuka warnet di dekat bekas kampusku. Tidak harus bangun pagi lalu absen, dan bisa datang kapan saja aku mau menjadi arti kebebasan awal yang aku yakini. Meski belum mencapai level bebas finansial setidaknya aku memiliki kebebasan mutlak untuk berkreasi, aku bebas menentukan akan kujadikan seperti apa warnetku. Semua tergantung keputusanku, tergantung apa mauku, absolutely. Itu arti kebebasan yang kedua.
Desain eksterior dan Interior termasuk perabot sengaja kubuat warna-warni. Sebuah pesan vulgar dari jiwa muda yang dinamis meski belum sepenuhnya oportunis karena profit yang kuterima masih jauh dari harapan. Aku memilih mengumbar teori-teori sebagai dasar keyakinan untuk menentukan visi usahaku. Arti kebebasan berikutnya yang sebenarnya sangat berbahaya karena teori bukanlah pengalaman, yang tak pernah kubayangkan bakal aku pertanggungjawabkan di masa depan lewat proses yang sama sekali tidak menyenangkan.
Tapi aku sudah nggak peduli, aku terlanjur menelan mentah makna kebebasan seperti makanan instan sekali telan tanpa pernah mencernanya lebih dulu. Aku memilih untuk menerjang segala rintangan dengan caraku.
Suatu hari Stanley menyapaku lewat yahoo messenger, “Hallo bos”, disertai logo wajah meringis dengan sederet gigi, sebuah isyarat kalau dia bercanda mengolok-olok statusku.
“Hallo juga bos” balasku, juga dengan logo yang sama.
“Aku bukan bos Ndre, aku hanya instrumen kehidupan” jawab Stanley. Kali ini logonya wajah tersenyum. Namun aku bisa mendengar tawa renyahnya dari kejauhan seiring debur ombak yang lugas menyapa tepian pantai Balangan. Samar-samar.
+ + + + +
Ketika uang berputar kian cepat aku memutuskan membuka cabang baru. Konsepnya sama dengan yang terdahulu, tak jauh dari area kampus. Bedanya sekarang di dekat universitas swasta yang mayoritas mahasiswanya anak-anak orang kaya. Jelas aku mengincar keuntungan yang lebih besar.
Teorinya sederhana, punya dua cabang berarti dua kali lipat keuntungan. Setidaknya setelah dua tahun berlalu keyakinanku terbukti benar karena aku mulai merasakan atmosfer bebas finansial. Aku bebas mengatur uang dengan leluasa termasuk untuk memuaskan ego-ku.
“Aku tunggu cabang berikutnya bos” kata Fathur, marketing bank yang memberiku fasilitas pinjaman ketika datang meninjau cabang baruku. Aku mulai nyaman dengan sebutan bos, cara Fathur mengucapkannya jelas berbeda dengan Stanley. Dari nada yang terdengar sebutan itu lebih sebagai ungkapan rasa hormat bukan sekedar olok-olok. Kami saling menghargai dalam suatu dimensi yang belum tentu semua orang mengalami. Kami sama-sama bernafas di dunia kapitalis yang eksklusif, sementara Stanley sepertinya hidup di belahan dunianya sendiri. Meski sama-sama berstatus kepala ayam, mungkin Stanley adalah ayam yang hidup di hutan belantara sementara aku di tengah peradaban.
Aku sama sekali tak menyadari kalau pemikiranku mulai berjalan terbalik. Ditengah kehidupan kota besar definisi bekerja sama dan saling memangsa nyaris tipis bedanya. Sampai aku nggak tahu lagi yang mana rimba yang mana kota. Mungkin justru Stanley yang sebenarnya hidup di komunitas beradab, bukan aku. Namun ayunan cambuk terlanjur mendarat di hamparan punggung kuda-kudaku yang liat, keretaku terlanjur melaju. Tak ada lagi kesempatan untuk memikirkan segala paradigma karena simbiosis mutualisme ku dengan Fathur telah membuka mataku pada hal-hal baru. Aku kian mantap menatap masa depan. Stanley mulai terlupakan.
Teori-teori baru pun bermunculan, termasuk ketika aku mulai menghadapi masalah persaingan. Namun teori keberuntungan tak pernah terlintas dalam benakku sejak awal, aku menganggap teori itu tak menghargai kerja kerasku. Aku memilih berpikir serius menghadapi kompetitor yang bereaksi keras demi memenangkan persaingan, yang sepertinya menghalalkan segala cara hingga omsetku mulai terganggu. Lambat laun teori-teori mulai tak sejalan dengan praktek di lapangan, pemikiran dua cabang dua keuntungan tidak berarti hanya dua permasalahan. Konsentrasiku mulai terbagi, antara terus melaju atau berperang agar tak ditinggalkan pelanggan. Tapi aku sudah terlanjur keras kepala, di awal tahun keempat aku membuka cabangku yang ketiga.
+ + + + +
Predikat pemilik tiga warnet yang kini melengkapi namaku sudah menjadi status sosialku yang baru. Aku menganggapnya sebagai bentuk penghargaan pada semua eksistensiku. Aku semakin jauh dari diriku. Status sosial diam-diam menjebakku ke dalam situasi tak jelas antara yang mana ilusi atau kenyataan, yang mana fantasi atau imajinasi. Pemikiranku kian bergeser, mulai menganggap pengakuan sebagai pencapaian bukan efek samping. Sementara semua permasalahan yang membuatku pusing kepala justru kuanggap sebagai konsekuensi dari semua pujian. Finansial yang tadinya menjadi bagian dari kebebasanku kini bagai jerat yang memaksaku tiada henti berhitung-hitung hingga aku mulai kehilangan fokus. Seolah bertahan dari semua gempuran menjadi satu-satunya jalan hingga aku lupa dengan pilihan lain yang mungkin lebih sederhana dan lebih menguntungkan. Aku terlanjur merasa sudah cukup berhasil dan kini mulai takut gagal. Aku takut miskin lagi.
Aku semakin butuh pendengar, teori-teori yang kuagungkan seolah semakin memaksaku sering bicara pada siapa saja yang kutemui. Tujuannya bukan lagi sebagai aplikasi keyakinan melainkan sebagai tempat persembunyian sekaligus untuk membuat pendengarnya terkesan. Aku semakin haus pujian. Stanley tak lagi ada dalam kehidupanku.
Murni teori bukan pengalaman bagai bangunan rapuh yang perlahan akan roboh dan siap mengubur aku hidup-hidup. Semakin tinggi tembok yang aku bangun semakin cepat pula aku bersiap diri jadi mangsanya. Aku telah kehilangan pilihan. Jiwaku tak lagi sebebas dulu.
Merenung-renung yang berujung tak bisa tidur menjadi kebiasaan baruku di penghujung malam. Aku sampai hafal dengan jumlah plafon yang menghiasi langit kamarku. Jelajah pikiranku tak lagi seluas dulu, kemanapun aku pergi mencari solusi bagai membentur tembok pembatas yang kubangun sendiri. Aku mulai terjepit.
Bangun pagi atau siang, datang ke salah satu cabang warnetku atau tidak, sudah nggak ada bedanya. Sebenarnya kebebasanku kian tak terbatas namun aku justru merasa seperti terbelenggu, karena ada atau tiadanya aku tak dapat lagi mengubah situasi. Angsuran bank yang mulai tersendat gara-gara cash flow yang memburuk bagai menghantui dimana saja aku berada. Aku terjebak pada situasi tanpa kendali yang kian absolut bertahta atas diriku. Tak ada lagi teori yang bisa kupakai untuk bersembunyi. Semua telah terkuras habis untuk menutupi celah-celah keyakinan yang seiring waktu kian berlubang. Aku bagai kian tak bernyawa dan mulai merasa telah salah memilih jalan.
Pada suatu malam aku terjaga dari tidurku dengan nafas terengah-engah gara-gara bermimpi ada ombak dahsyat yang akan menghampiriku. Sebegitu besar gulungannya hingga terlihat seperti mulut raksasa yang terbuka lebar dan bersiap menelanku hidup-hidup. Meski kesadaranku masih setengah-setengah kedua telingaku masih bisa menangkap suara deburan ombak ketika menghempas tepian pantai. Samar-samar.
+ + + + +
“Kenapa kamu tawarkan sama aku ? Kenapa nggak untuk kamu sendiri saja?” tanyaku.
“Come on Ndre, aku nggak punya pengalaman di bidang itu. Sejak lulus kuliah aku kan cuma sibuk melatih basket. Beda sama kamu yang eksis di bisnis, buktinya om ku langsung tertarik waktu dengar kamu sukses bisnis warnet” jawab Rizal.
Sukses? Seharusnya aku tertawa, namun rasa hausku pada pujian membuat nafasku tiba-tiba bagai tertahan. Rahasiaku telah rapat tersembunyi, di depan Rizal aku nggak perlu susah-susah lagi ber-teori. Namun segala kepalsuan ini sungguh menyiksaku. Aku sungguh berharap ada cara sederhana untuk membuka penyamaranku agar aku bisa mengaku tanpa harus menanggung malu. Meski aku sendiri juga nggak tahu kenapa harus malu, atau kepada siapa sebenarnya kutujukan rasa maluku. Aku terlanjur menjadi tawanan atas semua kebohongan yang kuciptakan sendiri.
Rizal adalah rekan satu tim basket waktu kuliah dulu. Walau bukan termasuk pendulang point yang bisa diandalkan tapi kemampuan defense dan passing-nya oke banget. Peran Rizal sebagai guard mempermudah aksiku mengobrak-abrik pertahanan lawan sekaligus memasukkan bola ke dalam keranjang. Aku butuh Rizal di lapangan. Kami berdua biasa bahu membahu menghabisi setiap lawan di kompetisi liga mahasiswa.
Om nya Rizal yang bekerja di sebuah bank pemerintah merencanakan investasi besar menjelang masa pensiunnya. Dia akan membangun rumah kos dua lantai dengan dua puluh kamar dilengkapi ruko-ruko kecil untuk investasi bisnis jasa lainnya seperti studio band, warnet, rental komputer atau foto copy. Sebuah konsep one stop service dengan target pasar mahasiswa, dan dia butuh seorang partner yang bisa dipercaya untuk mengelola usahanya. Rizal merekomendasikan aku.
Dilihat dari target pasarnya sepintas memang nggak ada yang salah dengan rekomendasi Rizal. Kiprah bisnisku selama empat tahun di sekitar kampus jelas menarik perhatian om nya. Warnetku yang kini bercabang tiga pasti membuatnya lebih gampang percaya. Tapi entah mengapa embel-embel sukses itu justru sangat mengganggu pikiranku, seolah menjadi beban berat yang membuatku ragu pada kemampuanku sendiri. Semampu itukah aku?
Disaat bank mulai mempertanyakan kelancaran angsuran, peluang itu datang menggodaku. Saat aku mulai berpikir bahwa selama ini telah salah memilih jalan muncul jalan alternatif yang mungkin bisa menyelesaikan semua masalahku. Apakah benar begitu?
Mungkin aku memang tak pantas menjadi kepala ayam. Tapi sungguh aku nggak tahu bagaimana cara menyudahi masa laluku. Aku bahkan ragu menilai peluang itu sebagai pilihan karena merasa terlanjur terjebak pada situasi yang tak lagi menyisakan ruang gerak. Peluang itu lebih seperti tas ransel berisi batu-batu berat yang jika dibebankan kepadaku akan membuatku jatuh tersungkur seketika.
Aku mulai menyesali semua pemilihan sikapku di waktu lalu. Semestinya aku beralih ke dahan lain yang rantingnya cukup kuat untuk kupijaki ketika memetik buah yang kusukai. Atau mungkin semestinya buah ketiga tak harus kupetik karena rantingnya terlalu lemah untuk dapat menyangga tubuhku hingga kini aku kesulitan bergerak kembali ke dahan tempat semula aku berpijak. Sedikit saja kehilangan keseimbangan aku harus menanggung resiko jatuh menyapa tanah bersama tiga buah yang telah kupetik berikut ranting-ranting yang patah. Seolah tak ada jalan untuk meraih buah di lain dahan seperti yang Rizal tawarkan. Seolah kejatuhan menjadi satu-satunya jalan agar aku harus memulainya lagi dari awal.
Aku mulai muak dengan semua teori. Aku kini benar-benar butuh solusi.
+ + + + +
“Berapa modal tambahan yang kamu butuhkan buat recovery warnetmu?” tanya Pak Husein.
“Kok menambah modal lagi pak, masak harus hutang lagi?” aku balik bertanya.
“Lho, kamu kan pernah berhasil, kalau sekarang sedang gagal berarti harus kamu telusuri dulu, masih mungkin nggak bisnismu diselamatkan. Kegagalan tidak selalu karena jenis usahanya saja, bisa jadi karena caramu mengelola atau karena kamu belum siap menghadapi persaingan. Banyak faktor kan? Kecuali kalau kamu memang sudah berpikir menyerah, ya mending ditutup saja sekalian” jawab Pak Husein, ringan tanpa beban.
“Hmm..... bagaimana caranya menyelamatkan? Bagaimana juga cara menutupnya tanpa harus menanggung kerugian?” tanyaku.
Kedekatanku dengan Pak Husein di beberapa seminar selama kuliah menciptakan hubungan tanpa jarak, dia lebih dari sekedar dosen pemasaranku. Aku sungguh berharap ada solusi menarik dari seorang yang punya profesi ganda seperti Pak Husein, yang selain mengajar dia juga seorang konsultan manajemen di beberapa perusahaan besar. Sudah pasti dia tak hanya kaya teori tapi juga kenyang pengalaman di lapangan. Konsultasinya jelas gratis.
Pak Husein tertawa, “Nada bicaramu sudah seperti orang menyerah. Jangan bersikap seperti itu sebelum melakukan segala sesuatu. Bisnis itu bagian dari hidup, bisa berhasil juga bisa gagal. Kamu harus bisa menyikapi keduanya. Tentukan dulu tujuanmu, mau terus atau berhenti. Jangan mencari jalan pintas, kalau nggak bisa memetik pelajaran dari pengalaman ini bisa jadi di lain waktu kamu akan mengulangi kesalahan yang sama”
Pak Husein sudah mulai mirip Stanley, mulai menyebut kata “Hidup”. Terdengar bijak tapi justru membuatku kembali serasa berputar-putar. Aku belum mendengar solusi pasti, jalan mana yang benar atau apa yang harus aku lakukan, itu yang ingin aku dengar. Sebenarnya aku mulai malas melanjutkan, tapi cara Pak Husein tertawa cukup ampuh memancing ego-ku yang seolah nggak terima kalau disebut menyerah. Aku mencoba ikut menelusuri, siapa tahu di percakapan berikutnya ada sesuatu yang pasti.
“Oke pak, oke” kataku, nada suaraku sengaja kuucapkan lebih tegas supaya terdengar lebih serius dan tidak memberi kesan menyerah, “Anggap saja bisnis ini mau aku teruskan, apa yang harus aku lakukan?”
Pak Husein merubah posisi duduknya, “Apa yang menyebabkan kamu kalah bersaing, kenapa pelangganmu lebih memilih pesaingmu? Cari tahu tentang itu, lalu hitung berapa investasi ulang yang kamu butuhkan buat memenangkan persaingan. Tapi investasi ulang ini harus bisa dipertanggungjawabkan, kalau malah nggak menguntungkan jangan diteruskan. Coba pakai pendekatan lain, mungkin kamu kewalahan mengelola tiga outlet. Mungkin harus dirampingkan, bisa dua saja atau satu saja. Banyak cara kan?”
Aku manggut-manggut memberi kesan mengerti, sengaja untuk menyenangkan lawan bicaraku. Pak Husein makin mirip Stanley, lebih suka menawarkan alternatif sudut pandang dibanding sesuatu yang benar-benar nyata. Sebenarnya aku masih ingin bertanya, “Bagaimana cara menutupnya?” tapi aku urungkan.
Aku bisa menebak arahnya. Dipastikan aku akan menghabiskan waktu berjam-jam tanpa memperoleh jawaban pasti. Tetap nggak ada solusi.
+ + + + +
Mungkin masalah yang kuhadapi tidak sesederhana seperti yang kupikir, nggak seperti teka-teki silang yang bisa kuselesaikan sambil mengunyah permen karet sehingga tak ada cara sederhana juga buat menyelesaikannya. Atau mungkin cara berpikirku yang terlalu rumit seperti rumus fisika hingga tak bisa mencerna pilihan mudah yang sebenarnya sudah ada di depan mata. Semua jelas mengarah pada satu kesimpulan akulah yang bermasalah, kalau itu aku sudah tahu. Seberapa bermasalah itu yang aku nggak tahu atau memang sengaja menolak untuk tahu.
Aku ingin membuang buku cerita yang baru aku baca setengah jalan, yang ternyata isinya tidak menghibur dan malah membuatku pusing kepala. Aku sudah tahu kalau salah memilih buku atau belum paham benar isinya tapi terlanjur enggan untuk melanjutkan. Dan kini aku butuh referensi buku apa selanjutnya yang harus aku baca, tapi yang kuterima malah penjelasan yang membingungkan. Aku bagai terus melayang di langit luas yang kaya sudut pandang, namun kian jauh dari belahan bumi sebelah mana yang harus aku pijaki. Sungguh langit tiada bertepi, sebegitu luas daratan dan lautan.
Aku butuh satu jalan saja, atau satu cara bukan banyak pilihan, juga bukan penjelasan. Tapi kehidupan sepertinya memang tidak pernah mengenal kata sederhana, tidak akan pernah ada yang instan. Selamanya jalan akan selalu bercabang, dan bisa jadi disetiap pilihan berpotensi membuatku merasa salah memilih jalan. Tapi tetap saja aku-nya yang salah, bukan jalannya. Andai benar jalan yang aku pilih juga tidak berarti aku-nya yang benar. Sungguh melelahkan.
Tiba-tiba aku merasa sangat ingin bicara tanpa harus didengar. Dengan seseorang yang selalu melihat segala sesuatunya dari sudut pandang “Hidup” , seseorang yang melihat hidup dengan caranya sendiri, yang terkadang dari mulutnya akan terdengar kata-kata yang bagiku sama sekali nggak masuk akal. Kalau di toko roti Pak Husein ibarat roti aneka rasa, Stanley adalah adonan biang.
Selain itu aku juga sudah sangat rindu dengan keindahan alami pantai Balangan yang eksotis. Pohon-pohon kelapa yang tumbuh liar di tepi pantainya, dan pasir putihnya yang terhampar bak permadani seolah menawarkan sensasi magis yang menentramkan hati. Siapa tahu berselancar di sana seperti dulu ketika liburan semester dapat membuatku terbebas dari segala kebuntuan.
Tiba-tiba aku merasa seakan mendengar lagi suara debur ombak menyapa tepian pantai. Samar-samar.
+ + + + +
Aku berdiri malas-malasan sambil meraih papan selancar, lalu berjalan ke arah laut mengikuti jejak langkah Stanley yang mulai hilang disapu angin. Ketika sepasang kakiku menginjak hamparan pasir tiba-tiba semua pilihan itu melintas cepat di benakku. Kemana arah yang akan kutuju, jalan mana yang akan kupilih. Melanjutkan usahaku, mencari modal tambahan, merampingkan usahaku, menutupnya lalu memilih menjadi partner om-nya Rizal, atau mencari pekerjaan lain lewat iklan lowongan. Semua berkumpul menjadi satu dalam pikiranku menjelma ribuan beban hingga langkahku memberat.
Namun ketika air laut mulai meresap kedalam pori-pori kakiku sekejap semua bayangan pilihan itu menghilang begitu saja. Seolah ikut melarut ke dalam lautan bersama tubuhku yang hanya menyisakan sebatas kepala. Lalu kurebahkan tubuhku di atas papan selancar dan mulai mengayuh kedua tanganku menuju ke tengah laut. Aku membiarkan tubuhku terapung ketika ombak besar datang silih berganti. Aku nggak tenggelam, aku bahkan melewatinya.
Ketika telah mencapai tengah laut dan melihat gulungan ombak yang sangat besar aku segera berbalik arah menatap pantai yang kini tampak sangat jauh. Tepat ketika ombak datang akan menelanku, aku langsung mengambil posisi berdiri di atas papan selancar lalu meluncur mengikuti gulungan itu searah sejalan menuju daratan. Meliuk-liuk menghindari terkaman ombaknya yang tinggi besar mirip dinding melengkung berwarna biru, yang tepat berada disisiku dan berjarak tak ada sedepa dengan diriku. Aku terus melaju meninggalkan puncak ombaknya yang jatuh terhempas tepat di belakangku, menjelma buih-buih hingga mengubah warna permukaan laut menjadi biru keputih-putihan. Menakjubkan.
Untuk pertama kalinya aku merasa seolah aku dan Stanley sedang melihat sekeping koin dari sisi yang sama. Selama ini aku lebih suka berpikir bagaimana cara mengatasi ombak, tapi Stanley membiarkan dirinya mengapung untuk melewatinya, karena dia tahu perbedaan berat jenis tidak akan membuatnya tenggelam. Tadinya aku takut dengan ombak yang paling besar, Stanley justru mencari dan menyambutnya, karena dia tahu bagaimana cara memanfaatkan sekaligus menikmatinya. Dulu aku memilih menggunakan seluruh kekuatan tenaga dan pikiranku, Stanley memilih berdiri di atas selembar papan untuk mencapai daratan lebih cepat, karena dia tahu keseimbangan hati dan pikiran dapat membebaskan jiwanya.
Selama ini aku lebih suka memusuhi alam ketika tengah tak bersahabat, sementara Stanley setia menjaga pertemanan dengan mereka dalam situasi apapun. Seperti itu cara Stanley mengarungi hidup yang selalu menawarkan banyak pilihan tanpa ada satupun yang pasti, seolah dia telah benar-benar memahami makna ketidakpastian adalah kepastian itu sendiri. Semua terangkai mesra dalam ruang imajinasi seorang Stanley, sehingga dia masih bisa tertawa ketika terjatuh dari papan selancarnya. Dia akan kembali mengapung ke tengah laut mencari lagi ombak yang paling besar. Lagi dan lagi. Begitu seterusnya.
Sesederhana itu.
---***---


No comments:
Post a Comment