
Si kecil Anissa tertawa sampai tergelak-gelak melihat aksiku menyanyikan lagu balonku ada lima dalam versi rock, sambil menggunakan sapu sebagai gantinya gitar bergaya seperti pemain band yang sering muncul di acara televisi. Dari balik meja kasir Abah hanya melirik sambil tersenyum kecil sementara jari-jarinya tetap bergerak menghitung uang di dalam laci setoran.
Kejadian ini bagai ritual sore hari, setiap toko kelontong milik Abah yang berlokasi di tengah pasar menjelang tutup. Anissa, anak perempuan Abah selalu minta aku melakukan aksi serupa setiap melihat aku memegang sapu ketika sedang membersihkan bagian dalam dan teras toko.
“Lagi om, lagi om” katanya bersemangat.
“Sudah, sudah, besok lagi, sudah sore, om mau pulang” jawabku setengah membujuk.
Ritual itu diakhiri dengan pemberian uang tansport empat ribu rupiah oleh Abah supaya aku nggak perlu berjalan kaki sampai rumah. Harga pas untuk membayar dua kali angkot, yang biasanya cuma kupakai sekali karena sisanya sengaja jalan kaki, supaya aku bisa membeli dua batang rokok eceran buat menemaniku duduk di belakang rumah di waktu malam sambil melihat bintang-bintang.
Yang pasti sambil memainkan gitar. Tapi yang ini gitar sungguhan.
+ + + + +
Kalau ada orang dari masa laluku yang kebetulan lewat depan toko kelontong milik Abah dan melihat aku sedang beraksi seperti pemain band di depan anak kecil, pasti mereka langsung berpikir kalau aku sedang stress. Mereka pasti mengelus dada sambil menunjukkan tatapan mata kasihan karena tahu impianku tak jadi kenyataan.
Abah dan Anissa sama sekali nggak tahu kalau di masa lalu aku pernah menyandang status sebagai anak band. Aku pernah berkeliaran dari panggung ke panggung sebagai seorang gitaris dan tak jarang meraih penghargaan karena menjadi yang terbaik di beberapa festival. Kiprah bermusik yang kuawali sejak SMP, berlanjut ke SMA yang kemudian kujadikan sebagai impian tentang bayangan masa depan. Bermimpi jadi musisi terkenal yang doa dan harapannnya terus kusampaikan pada bintang-bintang di waktu malam.
Namun seperti yang sudah sering kudengar, katanya kehidupan terkadang bersikap kejam pada sebagian orang. Kenyataan hidup sering kali begitu keji menghabisi setiap mimpi seperti yang kini sedang kualami. Setelah lulus SMA setahun yang lalu, aku tak bisa meneruskan sekolahku ke bangku kuliah karena faktor biaya, akibatnya komunitas band ku yang telah kubangun sejak SMA seolah ikut tenggelam dengan sendirinya. Perlahan-lahan komunikasi ku dengan teman-teman band SMA ku ikut terputus karena mereka lebih sibuk dengan aktivitas baru di dunia kampus. Sementara aku terdampar di tengah pasar sebagai penjaga toko kelontong demi meringankan beban ekonomi kedua orang tuaku yang masih harus membiayai dua adikku yang masih duduk di bangku SD dan SMP.
Aku bagai tercabut dari tempatku hidup, seperti ikan yang sebelumnya hidup di air dan sekarang mau nggak mau dipaksa bertahan hidup di atas daratan. Sering kali aku merasa kesulitan untuk bernapas, seolah sebagian dari diriku masih belum bersepakat dengan rutinitasku yang baru. Setelah setahun menjalani peran sebagai penjaga toko hasratku untuk meneruskan aksiku di atas panggung belum seutuhnya meredup meski pintu demi pintu mulai tertutup. Aku masih berpikir sebagai anak band yang nyasar sebentar ke tengah pasar. Aku masih belum mau berhenti bermimpi.
+ + + + +
Halaman belakang rumahku tak seberapa luas, kalau boleh dibilang sempit karena keberadaan sumur tua dan tiang jemuran nyaris tak lagi menyisakan ruang. Malam itu sambil duduk bersandar pada dinding sumur aku menyanyikan lagu-lagunya Bon Jovi sambil menatap mendung yang sedari tadi sepertinya enggan pergi. Hingga rokok ku habis aku tak dapat juga melihat bintang-bintang.
Jangankan untuk bermimpi, untuk sekedar memiliki harapan pun sepertinya aku tak diijinkan.
+ + + + +
Katanya kakekku dulu seniman hebat yang sangat populer diantara komunitas masyarakat betawi. Tidak seperti teman-temannya yang menggeluti tanjidor, kakekku justru lebih tertarik dengan alat musik berdawai enam dan mengidolakan Jimmy Hendrix sebagai gitaris favoritnya. Namun sepertinya darah seni kakekku tidak menurun pada ayahku. Kesibukkannya sebagai kuli angkut di stasiun kereta Jatinegara menggambarkan ayahku seorang yang lebih mengutamakan kerja keras ketimbang ngejrang-ngejreng tapi nggak menghasilkan uang. Setahuku tuntutan kerja keras itu dimulai sejak kecil karena ayahku hanya tamatan SD. Hingga saat ini uang itu juga yang paling ditunggu-tunggu ibuku setiap ayahku pulang kerja larut malam. Pulang kerja berarti setoran, tanpa uang berarti besok nggak makan.
Bakat seni kakekku lebih menurun pada om ku, adik ayahku yang dulu sempat tinggal serumah bersama kami di kampung melayu. Dia yang mewarisi gitar tua kakekku. Lewat om ku aku belajar tehnik dasar memainkan gitar, sampai ke tehnik-tehnik sulit yang dikuasai Jimmy Hendrix. Dari om ku aku jadi tahu kalau kakekku yang fotonya dipajang di kamar tamu dalam ukuran besar adalah seorang gitaris hebat pada masanya. Setelah om ku pergi merantau ke negeri jiran sebagai TKI, gitar tua itu diwariskan kepadaku.
Gitar tua itu bagai nyawa keduaku. Didalamnya seolah tersimpan energi hebat yang menawariku sebuah impian agar suatu saat dapat terlepas dari jerat kemiskinan.
+ + + + +
Katanya kakekku dulu seorang playboy. Pacarnya banyak. Kemampuannya bermain gitar bagai magnet yang membuatnya didekati cewek-cewek cantik. Meski aku mewarisi bakat bermain gitarnya yang hebat tapi aku tidak tertarik mengikuti jejak langkah kakekku dalam menjalin hubungan dengan makhluk ciptaan Tuhan yang bernama wanita. Aku memilih jatuh cinta pada satu orang saja. Namanya Rohana.
Rohana yang anak saudagar beras pasar Tanah Abang adalah gadis tercantik di kampung sebelah. Rumahnya tak jauh dari rumahku. Rohana tak pernah absen menyaksikan aksiku di setiap panggung. Dia adalah penggemar setiaku. Wajahnya bulat telur seperti bulan purnama yang bersinar terang menghiasi malam. Senyumnya yang lebar membuatku mabuk kepayang sampai terbawa ke alam mimpi. Aku selalu tampil penuh semangat bak seorang superstar setiap Rohana menonton aksi panggungku. Statusku sebagai anak band membuatku percaya diri mendatangi rumahnya untuk meraih sebuah hati. Rohana pun menyambut cintaku dengan bunga asmara yang tumbuh di musim semi. Kisah cinta kami berdua pun mengalun mesra seperti alunan tembang orkestra nan megah, bagai bunga yang semerbak mewangi menghiasi kehidupan kami sehari-hari. Aku nggak mengerti mengapa kakekku dulu harus bergonti-ganti pacar, menurutku seorang Rohana sudah cukup memperindah dunia.
Semua orang tahu kalau Rohana adalah pacarku, pesaingku berguguran satu demi satu setelah tahu kalau Rohana adalah pacarnya anak band. Namun semenjak statusku berubah menjadi penjaga toko di tengah pasar, perlahan-lahan rasa percaya diriku seolah ikut menguap bersama hembusan angin. Ketika berangkat apel malam minggu aku seperti prajurit yang berangkat perang tanpa pedang. Pesaingku yang mulai tahu statusku yang baru mulai kembali berdatangan mengobarkan api persaingan. Bahkan ayah dan ibu Rohana mulai ikut menatapku dengan sorot mata tajam yang menanyakan prospek masa depan.
Namun Rohana memiliki hati malaikat, dengan penuh kesabaran dia tak pernah berhenti memotivasi diriku. Katanya, “Bintang-bintang tak pernah pergi meninggalkan hitamnya langit, mereka akan setia menanti siapa saja yang mempunyai mimpi dan cita-cita, namun kita tetap harus berjuang untuk meraihnya. Di setiap malam aku berdoa, semoga suatu hari Tuhan memberimu dua sayap agar bisa terbang tinggi untuk mencapainya”
Rohana tak hanya berparas cantik, hatinya juga seelok bidadari dari surga. Dia istimewa.
+ + + + +
Sebagian orang menyebut tempat tinggalku di kampung melayu sebagai “Komplek bank”. Kawasan padat berdesakkan yang tinggal menyisakan lengkong-lengkong sempit sebagai pengganti jalan. Siapapun yang melalui lengkong itu dan berpapasan mau tidak mau seolah dipaksa harus saling menyapa, “Pagi bang, siang bang, malam bang”. Penghuninya adalah mayoritas masyarakat betawi yang terdesak oleh kemajuan pesat kota Jakarta.
Kamarku letaknya di bagian depan, bersebelahan dengan ruang tamu yang sempit, yang juga berfungsi sebagai ruang untuk menonton televisi kecil yang dibeli ayahku di pasar loak. Terkadang tidak perlu lewat pintu ruang tamu jika hendak mencariku. Cukup dengan menyibakkan kain korden yang digantungkan pada benang kawat terbentang selebar jendela. Seperti yang dilakukan Bang Soleh si penjaga studio band yang dulu sering aku sewa bersama teman-teman band ku waktu SMA.
“Zul, lagi ngapain lu” katanya sambil menyibakkan kain korden.
“Nggak ngapa-ngapain bang, cuma rebahan aja” kataku tanpa basa-basi. Aku memang biasa memanjakan badanku setiap pulang kerja.
“Lu besok Minggu sore ada acara nggak ?”
“Hmm… nggak ada bang”
“Lu bisa pegang operator sound system kan ?”
“Iya bisa, kenapa bang ?”
“Besok Minggu gua dapat tawaran job pasang instalasi kabel di panggung buat konser musik. Kebetulan operatornya sedang sakit, lu bisa gantiin nggak ? Honornya lumayan, cukup buat beli rokok sebungkus selama satu minggu“
Aku jadi ingat dulu sering mengutak-atik tombol-tombol sound system di studio supaya bisa menghasilkan kombinasi suara yang bagus. Supaya semua suara alat musiknya menyatu dalam satu harmoni dan nggak saling bertabrakan. Bang Soleh yang jaga studio memang jago kalau soal instalasi, tapi soal harmoni suara dia memang benar-benar nggak tahu.
“Bisa bang” jawabku pasti.
“Oke, besok Minggu sore gua jemput”
Yang pertama kali terbayang dalam benakku sepulang konser aku nggak perlu beli rokok eceran.
+ + + + +
Lokasi konsernya di pinggiran kota, di sebuah lapangan bola yang tampak masih becek karena sebelumnya sempat diguyur hujan. Panggungnya tak seberapa besar, namun lebih dari cukup untuk menampung satu set drum, sound system dan speaker untuk gitar, bas dan vokal. Sementara kusimpulkan band ini komposisinya sederhana karena tidak melibatkan banyak alat musik. Namun pemikiranku itu mendadak sirna setelah seorang berkumis tipis dan menggunakan topi warna biru tua datang mendekatiku.
“Kamu operatornya ?” tanyanya.
“Iya bang” jawabku sambil mengangguk.
“Saya Budi, manajernya. Sudah pernah dengar lagu-lagunya ?”
“Maaf bang, belum” jawabku langsung, aku memang belum pernah dengar sebelumnya. Nama band nya saja baru aku tahu dari spanduk besar yang dipajang di tepi lapangan.
“Hmm.....” Si manajer tampak berpikir sebentar, “Begini aja, kamu jangan berpikir kalau kami akan bermain dengan cara sederhana. Konsepnya memang minimalis, tapi tetap mengoptimalkan skil para pemainnya. Semua playernya bisa bermain sebagai melodi, termasuk vokalisnya. Kamu ikuti saja setiap lagu, volumenya kamu sesuaikan dengan siapa yang sedang mengalunkan melodi utamanya, selebihnya berfungsi sebagai rhythm”
“Hmm…“ gantian aku yang berpikir, “Berarti setiap komposisi banyak improvisasinya ?”
“Betul, tapi porsi utama tetap pada suara vokalisnya. Bisa kan ?”
“Iya bang, bisa” jawabku mantap. Kemantapan hatiku sebetulnya lebih didorong oleh rasa penasaran. Seperti apa sih band ini ?
+ + + + +
Tepat pukul setengah delapan malam para penonton telah berjubel memadati lapangan. Ternyata band ini banyak juga penggemarnya, aku jadi makin penasaran. Ketika empat personilnya naik ke atas panggung dan tanpa basa-basi langsung menghajarnya dengan lagu pembuka, para penonton bak kesetanan menyambutnya dengan histeria. Ternyata band ini ngetop juga.
Mungkin karena selama ini aku terlalu sibuk dengan band ku sendiri jadi nggak sempat memperhatikan band-band indi yang bermunculan dan diam-diam telah mencuri perhatian. Tapi sementara waktu aku nggak mau memikirkan hal itu dulu, konsentrasiku lebih terfokus pada tombol-tombol mixer pengatur volume sound system masing-masing instrumen yang ada di depanku.
Ketika intro terlewati dan mulai memasuki materi lagu aku bagai tersihir oleh skill musikalitas empat orang itu, ternyata mereka oke punya. Mereka seolah sibuk main sendiri-sendiri tapi tak lari dari batasan notasi lagu, dan tetap menyatu dalam satu irama. Benar kata si manajer tadi, setiap personil mampu memainkan melodi tanpa merusak keutuhan komposisi lagunya. Meskipun perangkat musiknya hanya sebatas drum, gitar dan bas namun mereka dapat membuat sebuah aransemen yang ramai dan rancak didengar kedua telinga. Chord-chord dinamis mengalir hebat mengiringi alunan lagu, disela-sela lagu mereka tak henti bergonta-ganti ber-improvisasi. Luar biasa !
Ternyata mereka bukanlah tiga musisi yang mengiringi seorang penyanyi, suara sang vokalis adalah bagian dari instrumen itu sendiri. Seusai lagu pembuka dimainkan aku langsung menghela nafas panjang berselimut kekaguman. Keren ! Mereka hebat, dalam satu lagu mereka sering sengaja mengubah tempo hingga melahirkan harmoni yang sanggup mempermainkan emosi. Memaksa jari-jariku harus terus menerus bergerak tiada henti.
Sepanjang konser aku bagai terpaku pada semua komposisi yang mereka mainkan. Setiap tempo berubah, setiap mereka beralih peran, artinya aku nggak boleh ketinggalan. Ketika pukul sebelas malam konser selesai, dan penonton memberi applaus meriah saat empat orang hebat itu memberi salam hormat sebagai tanda perpisahan, aku ikut berdiri bertepuk tangan. Mereka luar biasa. Band ini asyik !
Setelah jeda setengah jam, ketika lapangan itu mulai sepi dan aku sedang menerima honorku di belakang panggung, sang manajer bersama dua orang yang kuketahui sebagai vokalis dan gitaris band itu datang menghampiriku. Dari gerakan tangannya sang manajer sepertinya memberi tahu pada mereka berdua bahwa aku operatornya.
“Katanya kamu belum pernah dengar lagu-lagu kami” kata sang vokalis.
“Iya bang, maaf” jawabku tanpa ragu. Tak ada jawaban lain selain itu.
“Kok bisa pas merubah-rubah sound nya ?” tanya sang gitaris, “Sudah sering main band ya ?”
“Iya bang, lumayan, saya cuma pake feeling aja” aku sedikit tersipu, menurutku itu sebuah pujian.
Sang manajer langsung mengambil alih pembicaraan, “Begini aja, minggu depan kita konser lagi di Tangerang, kamu bisa ikut lagi nggak ?”
“Bisa bang” aku nggak berpikir dua kali.
“Oke, nanti kita hubungi, kita nanti berangkat sama-sama”
“Siap bang”
Aku ingin seminggu ini cepat berlalu. Aku tak sabar menunggu sampai minggu depan. Bukan karena aku tak ingin lagi beli rokok eceran, melainkan karena ada sesuatu yang sangat menggodaku. Mungkin karena band itu, atau mungkin karena panggilan halus dari duniaku yang dulu.
+ + + + +
Keterlibatanku bersama band itu ternyata tak berhenti sampai konser di Tangerang. Ketertarikan band itu pada kemampuanku mengotak-atik mixer yang sebenarnya kuanggap biasa-biasa saja ternyata berlanjut di konser-konser berikutnya. Statusku bukan lagi sebagai operator cabutan melainkan sudah menjadi crew pendukung tetap yang siap mengikuti kemana saja band itu pergi.
Seiring dengan rekaman single mereka yang langsung melejit di anak tangga lagu di berbagai radio, popularitas band itu melesat bagai anak panah. Jadwal konser mereka pun kian padat dan tersebar di kota-kota besar di sepanjang pulau Jawa. Aku nggak mungkin minta ijin terus menerus sama Abah, menurutku telah tiba saatnya untuk memilih.
Di suatu sore, menjelang toko itu tutup aku berpamitan sama Abah sambil minta doa restunya. Sepertinya Abah melepasku dengan berat hati, mungkin karena ikatan emosi yang sempat terjalin selama setahun ini. Setelah kucium tangan Abah, kupeluk si kecil Anissa dengan hangat, “Nanti kalau sudah pulang dari Surabaya om bawakan oleh-oleh”
Sore itu tak ada lagi lagu balonku ada lima, sambil melambaikan tangan aku berlalu meninggalkan mereka berdua dan tak ingin berpaling lagi. Aku tak kuasa melihat Anissa menangis berlinang air mata.
Ternyata selama ini aku nggak kesasar di tengah pasar. Setahun menjalani peran sehari-hari sebagai penjaga toko kelontong adalah bagian dari perjalanan hidupku. Toko itu, Abah dan Anissa, adalah persinggahan hati sebelum aku melanjutkan perjalananku lagi.
Seperti apa hidupku nanti aku juga nggak tahu, seperti kata orang hari esok adalah misteri. Yang pasti aku seperti kembali ke kehidupanku yang dulu, seperti ikan yang meninggalkan daratan dan kembali ke laut lepas. Aku bagai kembali bernafas dengan insang lalu menyapa semua penghuni laut di samudera luas.
Mimpi itu datang lagi, kembali meracuni aliran darah dan merasuki sendi-sendi. Mimpi itu seakan masih begitu kuat memanggilku, meski saat ini aku bukan menjadi seorang superstar yang dielu-elukan penonton, meski aku hanya seorang yang tak terlihat di balik panggung.
Namun setidaknya mimpi itu kini tak jauh dari mataku. Hanya butuh sedikit keajaiban untuk bisa meraihnya. Menurutku itu semua berkat doa dan cinta dengan dua sayap dari Rohana.
+ + + + +
Dari waktu ke waktu hubunganku dengan semua personil band kian dekat seperti sahabat, seolah tak ada batas jarak antara personil band dengan seluruh crew pendukung. Kami semua bagai sebuah keluarga besar yang pergi berpiknik dari kota ke kota. Aku menikmatinya.
Karena sering menyebut panggilan “bang” pada semua orang, aku mendapat panggilan “Si abang”. Rohana ikut tertawa waktu aku bilang itu panggilan sayang.
Gitaris itu namanya Ipul, disela-sela latihan di studio kami berdua kadang-kadang ngobrol bersama. Lewat Ipul aku bisa bercermin kalau ternyata tehnik bermain gitarku masih jauh dari sempurna. Aku jadi tahu kalau nada-nada yang hanya tujuh jumlahnya itu ternyata bagai belantara yang tak terbatas, begitu banyak yang bisa ditelusuri dan diselami. Tak heran Ipul mampu berkreasi menciptakan chord-chord sendiri yang unik dan berkesan progresif. Lewat kreativitasnya, dan kolaborasinya dengan tiga personil yang lain akhirnya bisa tercipta lagu-lagu sederhana yang mudah dinikmati namun sungguh kaya variasi nada.
Tak cuma itu, dimataku Ipul dan ketiga personil lainnya adalah pribadi-pribadi yang rendah hati. Meski mereka sudah menyandang status sebagai band papan atas dan sudah menjadi artis terkenal karena album rekaman mereka laku keras di pasaran, sikap mereka masih membumi seolah popularitas hanya sebuah konsekuensi. Dedikasi mereka hanya kepada musik itu sendiri. Musik yang membesarkan nama mereka, bukan sebaliknya. Dari mereka juga aku bisa memetik banyak pelajaran berharga, bahwa ternyata tujuan mereka adalah berkarya. Sementara popularitas dan materi adalah dampaknya bukan yang utama.
+ + + + +
Aku hanya bisa menyaksikan mereka berlatih di ruang studio dari balik kaca. Jari-jariku terus bergerak mengikuti komposisi lagu yang dimainkan sambil sesekali menjawab pertanyaan, atau memberi usulan pada mereka lewat microphone.
Semestinya mimpi itu sudah tepat di depan mata. Aku tinggal membentuk band sendiri dan melangkah ke dalam ruang studio yang tak ada sejengkal dari posisi dudukku. Namun entah mengapa mimpi itu sekarang seolah tak lagi ada. Aku seperti menemukan kesenangan baru sebagai pendukung sepak terjang band itu. Bahkan si bos, panggilan akrab pak Budi sang manajer kini melibatkan aku dalam proyek peluncuran band-band baru. Sepertinya aku justru semakin bersemangat ketika dipercaya membantu mewujudkan mimpi anak-anak muda itu, menggapai cita-cita menjadi musisi terkenal yang dulu pernah menjadi impianku. Aku kian menikmati pekerjaanku.
Profesiku sebagai sound enginering baik di studio maupun di setiap konser memberiku penghasilan yang lebih dari cukup untuk bertahan hidup. Ibuku bersuka cita dengan setoran bulananku. Aku tak pernah lagi beli rokok eceran. Aku sudah punya sepeda motor sendiri yang biasa kupakai mengantarku kemana saja aku pergi. Aku juga sudah punya cukup tabungan untuk persiapan esok hari.
Menurutku ini adalah saat yang tepat untuk melamar Rohana sebagai istriku. Aku ingin dia menjadi ibu dari anak-anakku.
+ + + + +
Pesta pernikahanku dilangsungkan di rumah orang tua Rohana dalam suasana adat betawi. Suara tanjidor menghiasi speaker-speaker besar yang ditempatkan di setiap sudut jalan, menambah suasana betawi kian kental menyapa mata dan telinga. Keluargaku yang berasal dari kalangan tak mampu terlihat kontras dengan dandanan keluarga dan saudara-saudara Rohana yang sebagian besar berada.
Perasaan minderku seketika musnah ketika empat orang yang sudah kuanggap seperti saudaraku hadir kedalam acara itu lengkap beserta si bos dan seluruh crew. Mereka semua kompak berseragam batik. Kehadiran wajah-wajah yang sering menghiasi layar kaca televisi itu sontak membuat semua undangan bahkan seluruh penghuni kampung menjadi riuh dan heboh. Hatiku berbunga-bunga ketika mereka memberiku ucapan selamat.
Ketika si bos mewakili memberi sambutan dia menyatakan rasa hormatnya karena bisa hadir pada acara itu. Dihadapan semua orang dia menyebut namaku sebagai bagian dari kesuksesan band itu. Dia bilang aku adalah bagian dari mereka, sudah seperti saudara.
Rohana menggenggam erat tanganku saat melihat mataku berkaca-kaca. Aku bangga sama mereka. Mereka adalah orang-orang yang luar biasa. Mereka yang mengangkat harkat martabatku dan juga keluargaku. Mereka rela datang ke kawasan kumuh dan menelusuri lengkong-lengkong sempit untuk menghormati hari paling menakjubkan dalam hidupku.
Mungkin rasa bangga itu juga dirasakan seluruh warga yang mayoritas hidup dalam belenggu kemiskinan, bisa jadi mungkin itu satu-satunya Toyota Alphard yang pernah parkir di jalan sempit kampung melayu.
+ + + + +
Andai Tuhan mengijinkan aku menjadi seorang superstar, mungkin aku sudah gonta-ganti pacar seperti kakekku dulu. Mungkin aku tak pernah menjadi suami Rohana dan hanya menjalani hidup sebagai seorang playboy sampai tua.
Tuhan Maha Tahu yang terbaik untukku. Aku belum pernah merasa sebahagia seperti sekarang ini, tinggal di rumah sendiri di sebuah perumahan di kawasan timur kota Jakarta yang jalannya lebar dan tak sesempit rumahku dulu.. Yang pasti aku nggak tinggal sendiri, Tuhan memberikan warna indah dalam hidupku lewat Rohana dan si kecil Juleha yang baru berumur tiga bulan. Semua terasa sempurna, jauh melebihi dari semua yang pernah kubayangkan.
Halaman belakang rumahku yang cukup luas kuhiasi dengan taman dan hijau rerumputan serta bunga-bunga yang selalu kusirami setiap hari. Malam itu kusampaikan rasa syukurku dengan menyanyikan lagu “Thank you for loving me” nya Bon Jovi dihadapan hitamnya langit yang berhias bintang gemintang. Entah mengapa aku merasa seolah bintang-bintang itu kini berada tepat dekat di depan kedua mataku, seolah aku mampu menjangkaunya hanya dengan sekali gerakan tangan.
Tiba-tiba aku merasa seolah ada yang memaksaku beranjak meninggalkan halaman belakang dan melangkah menuju kamar tidur. Lalu kupandangi dua wanita hadiah Tuhan buat hidupku yang terlihat sedang tertidur pulas dengan tatapan sayang. Aku merasa sedang melihat surga.
Kudekati si mungil Juleha dan kubisikkan sederet kata di telinganya dengan sangat perlahan, “Juleha buah hatiku, aku telah berada di tingginya langit, namun aku tak ingin meraih bintang itu karena aku sudah merasa cukup bahagia dengan pencapaianku. Suatu saat dua sayap cinta ini akan kuberikan kepadamu, akan kutunjukkan bagaimana caranya terbang tinggi. Aku ingin kamu yang meraih bintang itu, agar kamu bisa menjadi cahaya kehidupan bagi siapa saja, menebar inspirasi lewat hati peduli, menerangi jiwa ayah ibumu di surga nanti”
Sesudahnya aku kembali ke halaman belakang dan langsung menyentuh gitar. Untuk pertama kalinya aku mencoba menciptakan laguku sendiri. Lagu itu kuberi judul, “Aku ingin meraih bintang”
Kejadian ini bagai ritual sore hari, setiap toko kelontong milik Abah yang berlokasi di tengah pasar menjelang tutup. Anissa, anak perempuan Abah selalu minta aku melakukan aksi serupa setiap melihat aku memegang sapu ketika sedang membersihkan bagian dalam dan teras toko.
“Lagi om, lagi om” katanya bersemangat.
“Sudah, sudah, besok lagi, sudah sore, om mau pulang” jawabku setengah membujuk.
Ritual itu diakhiri dengan pemberian uang tansport empat ribu rupiah oleh Abah supaya aku nggak perlu berjalan kaki sampai rumah. Harga pas untuk membayar dua kali angkot, yang biasanya cuma kupakai sekali karena sisanya sengaja jalan kaki, supaya aku bisa membeli dua batang rokok eceran buat menemaniku duduk di belakang rumah di waktu malam sambil melihat bintang-bintang.
Yang pasti sambil memainkan gitar. Tapi yang ini gitar sungguhan.
+ + + + +
Kalau ada orang dari masa laluku yang kebetulan lewat depan toko kelontong milik Abah dan melihat aku sedang beraksi seperti pemain band di depan anak kecil, pasti mereka langsung berpikir kalau aku sedang stress. Mereka pasti mengelus dada sambil menunjukkan tatapan mata kasihan karena tahu impianku tak jadi kenyataan.
Abah dan Anissa sama sekali nggak tahu kalau di masa lalu aku pernah menyandang status sebagai anak band. Aku pernah berkeliaran dari panggung ke panggung sebagai seorang gitaris dan tak jarang meraih penghargaan karena menjadi yang terbaik di beberapa festival. Kiprah bermusik yang kuawali sejak SMP, berlanjut ke SMA yang kemudian kujadikan sebagai impian tentang bayangan masa depan. Bermimpi jadi musisi terkenal yang doa dan harapannnya terus kusampaikan pada bintang-bintang di waktu malam.
Namun seperti yang sudah sering kudengar, katanya kehidupan terkadang bersikap kejam pada sebagian orang. Kenyataan hidup sering kali begitu keji menghabisi setiap mimpi seperti yang kini sedang kualami. Setelah lulus SMA setahun yang lalu, aku tak bisa meneruskan sekolahku ke bangku kuliah karena faktor biaya, akibatnya komunitas band ku yang telah kubangun sejak SMA seolah ikut tenggelam dengan sendirinya. Perlahan-lahan komunikasi ku dengan teman-teman band SMA ku ikut terputus karena mereka lebih sibuk dengan aktivitas baru di dunia kampus. Sementara aku terdampar di tengah pasar sebagai penjaga toko kelontong demi meringankan beban ekonomi kedua orang tuaku yang masih harus membiayai dua adikku yang masih duduk di bangku SD dan SMP.
Aku bagai tercabut dari tempatku hidup, seperti ikan yang sebelumnya hidup di air dan sekarang mau nggak mau dipaksa bertahan hidup di atas daratan. Sering kali aku merasa kesulitan untuk bernapas, seolah sebagian dari diriku masih belum bersepakat dengan rutinitasku yang baru. Setelah setahun menjalani peran sebagai penjaga toko hasratku untuk meneruskan aksiku di atas panggung belum seutuhnya meredup meski pintu demi pintu mulai tertutup. Aku masih berpikir sebagai anak band yang nyasar sebentar ke tengah pasar. Aku masih belum mau berhenti bermimpi.
+ + + + +
Halaman belakang rumahku tak seberapa luas, kalau boleh dibilang sempit karena keberadaan sumur tua dan tiang jemuran nyaris tak lagi menyisakan ruang. Malam itu sambil duduk bersandar pada dinding sumur aku menyanyikan lagu-lagunya Bon Jovi sambil menatap mendung yang sedari tadi sepertinya enggan pergi. Hingga rokok ku habis aku tak dapat juga melihat bintang-bintang.
Jangankan untuk bermimpi, untuk sekedar memiliki harapan pun sepertinya aku tak diijinkan.
+ + + + +
Katanya kakekku dulu seniman hebat yang sangat populer diantara komunitas masyarakat betawi. Tidak seperti teman-temannya yang menggeluti tanjidor, kakekku justru lebih tertarik dengan alat musik berdawai enam dan mengidolakan Jimmy Hendrix sebagai gitaris favoritnya. Namun sepertinya darah seni kakekku tidak menurun pada ayahku. Kesibukkannya sebagai kuli angkut di stasiun kereta Jatinegara menggambarkan ayahku seorang yang lebih mengutamakan kerja keras ketimbang ngejrang-ngejreng tapi nggak menghasilkan uang. Setahuku tuntutan kerja keras itu dimulai sejak kecil karena ayahku hanya tamatan SD. Hingga saat ini uang itu juga yang paling ditunggu-tunggu ibuku setiap ayahku pulang kerja larut malam. Pulang kerja berarti setoran, tanpa uang berarti besok nggak makan.
Bakat seni kakekku lebih menurun pada om ku, adik ayahku yang dulu sempat tinggal serumah bersama kami di kampung melayu. Dia yang mewarisi gitar tua kakekku. Lewat om ku aku belajar tehnik dasar memainkan gitar, sampai ke tehnik-tehnik sulit yang dikuasai Jimmy Hendrix. Dari om ku aku jadi tahu kalau kakekku yang fotonya dipajang di kamar tamu dalam ukuran besar adalah seorang gitaris hebat pada masanya. Setelah om ku pergi merantau ke negeri jiran sebagai TKI, gitar tua itu diwariskan kepadaku.
Gitar tua itu bagai nyawa keduaku. Didalamnya seolah tersimpan energi hebat yang menawariku sebuah impian agar suatu saat dapat terlepas dari jerat kemiskinan.
+ + + + +
Katanya kakekku dulu seorang playboy. Pacarnya banyak. Kemampuannya bermain gitar bagai magnet yang membuatnya didekati cewek-cewek cantik. Meski aku mewarisi bakat bermain gitarnya yang hebat tapi aku tidak tertarik mengikuti jejak langkah kakekku dalam menjalin hubungan dengan makhluk ciptaan Tuhan yang bernama wanita. Aku memilih jatuh cinta pada satu orang saja. Namanya Rohana.
Rohana yang anak saudagar beras pasar Tanah Abang adalah gadis tercantik di kampung sebelah. Rumahnya tak jauh dari rumahku. Rohana tak pernah absen menyaksikan aksiku di setiap panggung. Dia adalah penggemar setiaku. Wajahnya bulat telur seperti bulan purnama yang bersinar terang menghiasi malam. Senyumnya yang lebar membuatku mabuk kepayang sampai terbawa ke alam mimpi. Aku selalu tampil penuh semangat bak seorang superstar setiap Rohana menonton aksi panggungku. Statusku sebagai anak band membuatku percaya diri mendatangi rumahnya untuk meraih sebuah hati. Rohana pun menyambut cintaku dengan bunga asmara yang tumbuh di musim semi. Kisah cinta kami berdua pun mengalun mesra seperti alunan tembang orkestra nan megah, bagai bunga yang semerbak mewangi menghiasi kehidupan kami sehari-hari. Aku nggak mengerti mengapa kakekku dulu harus bergonti-ganti pacar, menurutku seorang Rohana sudah cukup memperindah dunia.
Semua orang tahu kalau Rohana adalah pacarku, pesaingku berguguran satu demi satu setelah tahu kalau Rohana adalah pacarnya anak band. Namun semenjak statusku berubah menjadi penjaga toko di tengah pasar, perlahan-lahan rasa percaya diriku seolah ikut menguap bersama hembusan angin. Ketika berangkat apel malam minggu aku seperti prajurit yang berangkat perang tanpa pedang. Pesaingku yang mulai tahu statusku yang baru mulai kembali berdatangan mengobarkan api persaingan. Bahkan ayah dan ibu Rohana mulai ikut menatapku dengan sorot mata tajam yang menanyakan prospek masa depan.
Namun Rohana memiliki hati malaikat, dengan penuh kesabaran dia tak pernah berhenti memotivasi diriku. Katanya, “Bintang-bintang tak pernah pergi meninggalkan hitamnya langit, mereka akan setia menanti siapa saja yang mempunyai mimpi dan cita-cita, namun kita tetap harus berjuang untuk meraihnya. Di setiap malam aku berdoa, semoga suatu hari Tuhan memberimu dua sayap agar bisa terbang tinggi untuk mencapainya”
Rohana tak hanya berparas cantik, hatinya juga seelok bidadari dari surga. Dia istimewa.
+ + + + +
Sebagian orang menyebut tempat tinggalku di kampung melayu sebagai “Komplek bank”. Kawasan padat berdesakkan yang tinggal menyisakan lengkong-lengkong sempit sebagai pengganti jalan. Siapapun yang melalui lengkong itu dan berpapasan mau tidak mau seolah dipaksa harus saling menyapa, “Pagi bang, siang bang, malam bang”. Penghuninya adalah mayoritas masyarakat betawi yang terdesak oleh kemajuan pesat kota Jakarta.
Kamarku letaknya di bagian depan, bersebelahan dengan ruang tamu yang sempit, yang juga berfungsi sebagai ruang untuk menonton televisi kecil yang dibeli ayahku di pasar loak. Terkadang tidak perlu lewat pintu ruang tamu jika hendak mencariku. Cukup dengan menyibakkan kain korden yang digantungkan pada benang kawat terbentang selebar jendela. Seperti yang dilakukan Bang Soleh si penjaga studio band yang dulu sering aku sewa bersama teman-teman band ku waktu SMA.
“Zul, lagi ngapain lu” katanya sambil menyibakkan kain korden.
“Nggak ngapa-ngapain bang, cuma rebahan aja” kataku tanpa basa-basi. Aku memang biasa memanjakan badanku setiap pulang kerja.
“Lu besok Minggu sore ada acara nggak ?”
“Hmm… nggak ada bang”
“Lu bisa pegang operator sound system kan ?”
“Iya bisa, kenapa bang ?”
“Besok Minggu gua dapat tawaran job pasang instalasi kabel di panggung buat konser musik. Kebetulan operatornya sedang sakit, lu bisa gantiin nggak ? Honornya lumayan, cukup buat beli rokok sebungkus selama satu minggu“
Aku jadi ingat dulu sering mengutak-atik tombol-tombol sound system di studio supaya bisa menghasilkan kombinasi suara yang bagus. Supaya semua suara alat musiknya menyatu dalam satu harmoni dan nggak saling bertabrakan. Bang Soleh yang jaga studio memang jago kalau soal instalasi, tapi soal harmoni suara dia memang benar-benar nggak tahu.
“Bisa bang” jawabku pasti.
“Oke, besok Minggu sore gua jemput”
Yang pertama kali terbayang dalam benakku sepulang konser aku nggak perlu beli rokok eceran.
+ + + + +
Lokasi konsernya di pinggiran kota, di sebuah lapangan bola yang tampak masih becek karena sebelumnya sempat diguyur hujan. Panggungnya tak seberapa besar, namun lebih dari cukup untuk menampung satu set drum, sound system dan speaker untuk gitar, bas dan vokal. Sementara kusimpulkan band ini komposisinya sederhana karena tidak melibatkan banyak alat musik. Namun pemikiranku itu mendadak sirna setelah seorang berkumis tipis dan menggunakan topi warna biru tua datang mendekatiku.
“Kamu operatornya ?” tanyanya.
“Iya bang” jawabku sambil mengangguk.
“Saya Budi, manajernya. Sudah pernah dengar lagu-lagunya ?”
“Maaf bang, belum” jawabku langsung, aku memang belum pernah dengar sebelumnya. Nama band nya saja baru aku tahu dari spanduk besar yang dipajang di tepi lapangan.
“Hmm.....” Si manajer tampak berpikir sebentar, “Begini aja, kamu jangan berpikir kalau kami akan bermain dengan cara sederhana. Konsepnya memang minimalis, tapi tetap mengoptimalkan skil para pemainnya. Semua playernya bisa bermain sebagai melodi, termasuk vokalisnya. Kamu ikuti saja setiap lagu, volumenya kamu sesuaikan dengan siapa yang sedang mengalunkan melodi utamanya, selebihnya berfungsi sebagai rhythm”
“Hmm…“ gantian aku yang berpikir, “Berarti setiap komposisi banyak improvisasinya ?”
“Betul, tapi porsi utama tetap pada suara vokalisnya. Bisa kan ?”
“Iya bang, bisa” jawabku mantap. Kemantapan hatiku sebetulnya lebih didorong oleh rasa penasaran. Seperti apa sih band ini ?
+ + + + +
Tepat pukul setengah delapan malam para penonton telah berjubel memadati lapangan. Ternyata band ini banyak juga penggemarnya, aku jadi makin penasaran. Ketika empat personilnya naik ke atas panggung dan tanpa basa-basi langsung menghajarnya dengan lagu pembuka, para penonton bak kesetanan menyambutnya dengan histeria. Ternyata band ini ngetop juga.
Mungkin karena selama ini aku terlalu sibuk dengan band ku sendiri jadi nggak sempat memperhatikan band-band indi yang bermunculan dan diam-diam telah mencuri perhatian. Tapi sementara waktu aku nggak mau memikirkan hal itu dulu, konsentrasiku lebih terfokus pada tombol-tombol mixer pengatur volume sound system masing-masing instrumen yang ada di depanku.
Ketika intro terlewati dan mulai memasuki materi lagu aku bagai tersihir oleh skill musikalitas empat orang itu, ternyata mereka oke punya. Mereka seolah sibuk main sendiri-sendiri tapi tak lari dari batasan notasi lagu, dan tetap menyatu dalam satu irama. Benar kata si manajer tadi, setiap personil mampu memainkan melodi tanpa merusak keutuhan komposisi lagunya. Meskipun perangkat musiknya hanya sebatas drum, gitar dan bas namun mereka dapat membuat sebuah aransemen yang ramai dan rancak didengar kedua telinga. Chord-chord dinamis mengalir hebat mengiringi alunan lagu, disela-sela lagu mereka tak henti bergonta-ganti ber-improvisasi. Luar biasa !
Ternyata mereka bukanlah tiga musisi yang mengiringi seorang penyanyi, suara sang vokalis adalah bagian dari instrumen itu sendiri. Seusai lagu pembuka dimainkan aku langsung menghela nafas panjang berselimut kekaguman. Keren ! Mereka hebat, dalam satu lagu mereka sering sengaja mengubah tempo hingga melahirkan harmoni yang sanggup mempermainkan emosi. Memaksa jari-jariku harus terus menerus bergerak tiada henti.
Sepanjang konser aku bagai terpaku pada semua komposisi yang mereka mainkan. Setiap tempo berubah, setiap mereka beralih peran, artinya aku nggak boleh ketinggalan. Ketika pukul sebelas malam konser selesai, dan penonton memberi applaus meriah saat empat orang hebat itu memberi salam hormat sebagai tanda perpisahan, aku ikut berdiri bertepuk tangan. Mereka luar biasa. Band ini asyik !
Setelah jeda setengah jam, ketika lapangan itu mulai sepi dan aku sedang menerima honorku di belakang panggung, sang manajer bersama dua orang yang kuketahui sebagai vokalis dan gitaris band itu datang menghampiriku. Dari gerakan tangannya sang manajer sepertinya memberi tahu pada mereka berdua bahwa aku operatornya.
“Katanya kamu belum pernah dengar lagu-lagu kami” kata sang vokalis.
“Iya bang, maaf” jawabku tanpa ragu. Tak ada jawaban lain selain itu.
“Kok bisa pas merubah-rubah sound nya ?” tanya sang gitaris, “Sudah sering main band ya ?”
“Iya bang, lumayan, saya cuma pake feeling aja” aku sedikit tersipu, menurutku itu sebuah pujian.
Sang manajer langsung mengambil alih pembicaraan, “Begini aja, minggu depan kita konser lagi di Tangerang, kamu bisa ikut lagi nggak ?”
“Bisa bang” aku nggak berpikir dua kali.
“Oke, nanti kita hubungi, kita nanti berangkat sama-sama”
“Siap bang”
Aku ingin seminggu ini cepat berlalu. Aku tak sabar menunggu sampai minggu depan. Bukan karena aku tak ingin lagi beli rokok eceran, melainkan karena ada sesuatu yang sangat menggodaku. Mungkin karena band itu, atau mungkin karena panggilan halus dari duniaku yang dulu.
+ + + + +
Keterlibatanku bersama band itu ternyata tak berhenti sampai konser di Tangerang. Ketertarikan band itu pada kemampuanku mengotak-atik mixer yang sebenarnya kuanggap biasa-biasa saja ternyata berlanjut di konser-konser berikutnya. Statusku bukan lagi sebagai operator cabutan melainkan sudah menjadi crew pendukung tetap yang siap mengikuti kemana saja band itu pergi.
Seiring dengan rekaman single mereka yang langsung melejit di anak tangga lagu di berbagai radio, popularitas band itu melesat bagai anak panah. Jadwal konser mereka pun kian padat dan tersebar di kota-kota besar di sepanjang pulau Jawa. Aku nggak mungkin minta ijin terus menerus sama Abah, menurutku telah tiba saatnya untuk memilih.
Di suatu sore, menjelang toko itu tutup aku berpamitan sama Abah sambil minta doa restunya. Sepertinya Abah melepasku dengan berat hati, mungkin karena ikatan emosi yang sempat terjalin selama setahun ini. Setelah kucium tangan Abah, kupeluk si kecil Anissa dengan hangat, “Nanti kalau sudah pulang dari Surabaya om bawakan oleh-oleh”
Sore itu tak ada lagi lagu balonku ada lima, sambil melambaikan tangan aku berlalu meninggalkan mereka berdua dan tak ingin berpaling lagi. Aku tak kuasa melihat Anissa menangis berlinang air mata.
Ternyata selama ini aku nggak kesasar di tengah pasar. Setahun menjalani peran sehari-hari sebagai penjaga toko kelontong adalah bagian dari perjalanan hidupku. Toko itu, Abah dan Anissa, adalah persinggahan hati sebelum aku melanjutkan perjalananku lagi.
Seperti apa hidupku nanti aku juga nggak tahu, seperti kata orang hari esok adalah misteri. Yang pasti aku seperti kembali ke kehidupanku yang dulu, seperti ikan yang meninggalkan daratan dan kembali ke laut lepas. Aku bagai kembali bernafas dengan insang lalu menyapa semua penghuni laut di samudera luas.
Mimpi itu datang lagi, kembali meracuni aliran darah dan merasuki sendi-sendi. Mimpi itu seakan masih begitu kuat memanggilku, meski saat ini aku bukan menjadi seorang superstar yang dielu-elukan penonton, meski aku hanya seorang yang tak terlihat di balik panggung.
Namun setidaknya mimpi itu kini tak jauh dari mataku. Hanya butuh sedikit keajaiban untuk bisa meraihnya. Menurutku itu semua berkat doa dan cinta dengan dua sayap dari Rohana.
+ + + + +
Dari waktu ke waktu hubunganku dengan semua personil band kian dekat seperti sahabat, seolah tak ada batas jarak antara personil band dengan seluruh crew pendukung. Kami semua bagai sebuah keluarga besar yang pergi berpiknik dari kota ke kota. Aku menikmatinya.
Karena sering menyebut panggilan “bang” pada semua orang, aku mendapat panggilan “Si abang”. Rohana ikut tertawa waktu aku bilang itu panggilan sayang.
Gitaris itu namanya Ipul, disela-sela latihan di studio kami berdua kadang-kadang ngobrol bersama. Lewat Ipul aku bisa bercermin kalau ternyata tehnik bermain gitarku masih jauh dari sempurna. Aku jadi tahu kalau nada-nada yang hanya tujuh jumlahnya itu ternyata bagai belantara yang tak terbatas, begitu banyak yang bisa ditelusuri dan diselami. Tak heran Ipul mampu berkreasi menciptakan chord-chord sendiri yang unik dan berkesan progresif. Lewat kreativitasnya, dan kolaborasinya dengan tiga personil yang lain akhirnya bisa tercipta lagu-lagu sederhana yang mudah dinikmati namun sungguh kaya variasi nada.
Tak cuma itu, dimataku Ipul dan ketiga personil lainnya adalah pribadi-pribadi yang rendah hati. Meski mereka sudah menyandang status sebagai band papan atas dan sudah menjadi artis terkenal karena album rekaman mereka laku keras di pasaran, sikap mereka masih membumi seolah popularitas hanya sebuah konsekuensi. Dedikasi mereka hanya kepada musik itu sendiri. Musik yang membesarkan nama mereka, bukan sebaliknya. Dari mereka juga aku bisa memetik banyak pelajaran berharga, bahwa ternyata tujuan mereka adalah berkarya. Sementara popularitas dan materi adalah dampaknya bukan yang utama.
+ + + + +
Aku hanya bisa menyaksikan mereka berlatih di ruang studio dari balik kaca. Jari-jariku terus bergerak mengikuti komposisi lagu yang dimainkan sambil sesekali menjawab pertanyaan, atau memberi usulan pada mereka lewat microphone.
Semestinya mimpi itu sudah tepat di depan mata. Aku tinggal membentuk band sendiri dan melangkah ke dalam ruang studio yang tak ada sejengkal dari posisi dudukku. Namun entah mengapa mimpi itu sekarang seolah tak lagi ada. Aku seperti menemukan kesenangan baru sebagai pendukung sepak terjang band itu. Bahkan si bos, panggilan akrab pak Budi sang manajer kini melibatkan aku dalam proyek peluncuran band-band baru. Sepertinya aku justru semakin bersemangat ketika dipercaya membantu mewujudkan mimpi anak-anak muda itu, menggapai cita-cita menjadi musisi terkenal yang dulu pernah menjadi impianku. Aku kian menikmati pekerjaanku.
Profesiku sebagai sound enginering baik di studio maupun di setiap konser memberiku penghasilan yang lebih dari cukup untuk bertahan hidup. Ibuku bersuka cita dengan setoran bulananku. Aku tak pernah lagi beli rokok eceran. Aku sudah punya sepeda motor sendiri yang biasa kupakai mengantarku kemana saja aku pergi. Aku juga sudah punya cukup tabungan untuk persiapan esok hari.
Menurutku ini adalah saat yang tepat untuk melamar Rohana sebagai istriku. Aku ingin dia menjadi ibu dari anak-anakku.
+ + + + +
Pesta pernikahanku dilangsungkan di rumah orang tua Rohana dalam suasana adat betawi. Suara tanjidor menghiasi speaker-speaker besar yang ditempatkan di setiap sudut jalan, menambah suasana betawi kian kental menyapa mata dan telinga. Keluargaku yang berasal dari kalangan tak mampu terlihat kontras dengan dandanan keluarga dan saudara-saudara Rohana yang sebagian besar berada.
Perasaan minderku seketika musnah ketika empat orang yang sudah kuanggap seperti saudaraku hadir kedalam acara itu lengkap beserta si bos dan seluruh crew. Mereka semua kompak berseragam batik. Kehadiran wajah-wajah yang sering menghiasi layar kaca televisi itu sontak membuat semua undangan bahkan seluruh penghuni kampung menjadi riuh dan heboh. Hatiku berbunga-bunga ketika mereka memberiku ucapan selamat.
Ketika si bos mewakili memberi sambutan dia menyatakan rasa hormatnya karena bisa hadir pada acara itu. Dihadapan semua orang dia menyebut namaku sebagai bagian dari kesuksesan band itu. Dia bilang aku adalah bagian dari mereka, sudah seperti saudara.
Rohana menggenggam erat tanganku saat melihat mataku berkaca-kaca. Aku bangga sama mereka. Mereka adalah orang-orang yang luar biasa. Mereka yang mengangkat harkat martabatku dan juga keluargaku. Mereka rela datang ke kawasan kumuh dan menelusuri lengkong-lengkong sempit untuk menghormati hari paling menakjubkan dalam hidupku.
Mungkin rasa bangga itu juga dirasakan seluruh warga yang mayoritas hidup dalam belenggu kemiskinan, bisa jadi mungkin itu satu-satunya Toyota Alphard yang pernah parkir di jalan sempit kampung melayu.
+ + + + +
Andai Tuhan mengijinkan aku menjadi seorang superstar, mungkin aku sudah gonta-ganti pacar seperti kakekku dulu. Mungkin aku tak pernah menjadi suami Rohana dan hanya menjalani hidup sebagai seorang playboy sampai tua.
Tuhan Maha Tahu yang terbaik untukku. Aku belum pernah merasa sebahagia seperti sekarang ini, tinggal di rumah sendiri di sebuah perumahan di kawasan timur kota Jakarta yang jalannya lebar dan tak sesempit rumahku dulu.. Yang pasti aku nggak tinggal sendiri, Tuhan memberikan warna indah dalam hidupku lewat Rohana dan si kecil Juleha yang baru berumur tiga bulan. Semua terasa sempurna, jauh melebihi dari semua yang pernah kubayangkan.
Halaman belakang rumahku yang cukup luas kuhiasi dengan taman dan hijau rerumputan serta bunga-bunga yang selalu kusirami setiap hari. Malam itu kusampaikan rasa syukurku dengan menyanyikan lagu “Thank you for loving me” nya Bon Jovi dihadapan hitamnya langit yang berhias bintang gemintang. Entah mengapa aku merasa seolah bintang-bintang itu kini berada tepat dekat di depan kedua mataku, seolah aku mampu menjangkaunya hanya dengan sekali gerakan tangan.
Tiba-tiba aku merasa seolah ada yang memaksaku beranjak meninggalkan halaman belakang dan melangkah menuju kamar tidur. Lalu kupandangi dua wanita hadiah Tuhan buat hidupku yang terlihat sedang tertidur pulas dengan tatapan sayang. Aku merasa sedang melihat surga.
Kudekati si mungil Juleha dan kubisikkan sederet kata di telinganya dengan sangat perlahan, “Juleha buah hatiku, aku telah berada di tingginya langit, namun aku tak ingin meraih bintang itu karena aku sudah merasa cukup bahagia dengan pencapaianku. Suatu saat dua sayap cinta ini akan kuberikan kepadamu, akan kutunjukkan bagaimana caranya terbang tinggi. Aku ingin kamu yang meraih bintang itu, agar kamu bisa menjadi cahaya kehidupan bagi siapa saja, menebar inspirasi lewat hati peduli, menerangi jiwa ayah ibumu di surga nanti”
Sesudahnya aku kembali ke halaman belakang dan langsung menyentuh gitar. Untuk pertama kalinya aku mencoba menciptakan laguku sendiri. Lagu itu kuberi judul, “Aku ingin meraih bintang”
---***---


No comments:
Post a Comment