
Bunga itu tampak layu, kuncup-kuncupnya enggan merekah dan mulai menelungkup satu demi satu. Tangkainya yang dulu kokoh kini kian lemah dan melengkung ke bawah. Sebentar lagi mungkin akan jatuh menyentuh tanah menyapa daun-daun kering yang berserakkan, lalu menyerah pasrah dihempas kesana kemari oleh hembusan angin hingga hancur tercerai-berai sebelum akhirnya menyatu selamanya dengan tanah.
Begitupun suasana hatiku, kering dan layu. Jerit rintih terdengar jelas menyuarakan lagu sedih nan pilu. Bagai terbuang dari kehidupan dengan nafas yang sisa-sisa, hingga tak kuasa lagi berdiri memikul beban dan tinggal menunggu waktu jatuh terkapar berteman luka.
Dalam benakku berulang kali tersirat kata “mengapa”, namun aku tak tertarik menanyakan penyebab kejadian atau menelusurinya, melainkan mengapa semua tak lagi seindah dulu. Aku lebih meratapi kehilangan suasana indah yang tak lagi menjadi bagian hidupku. Semua yang tersaji di depan mata kini bagai terlihat satu warna. Hitam. Pekat.
Senyata itu.
+ + + + +
Selepas jam sepuluh malam biasanya di rumahku tak lagi terdengar suara-suara. Satu-satunya tanda kehidupan hanya lewat suara televisi di ruang tengah yang remote-nya sering jadi rebutan antara aku dengan kakak pertamaku yang laki-laki. Aku lebih suka menonton live music sementara kakakku memilih film action yang sudah sering ditayangkan berulang-ulang. Kakak keduaku yang perempuan seperti biasa lebih suka mengurung diri dalam kamar, membaca novel-novel penguras air mata sambil mendengarkan radio yang lebih sering menyuarakan obrolan curhat ketimbang memutar lagu-lagu pengantar tidur. Sementara papi dan mamiku sudah terlelap dalam kamar yang pintunya rapat terkunci.
Namun rutinitas itu tidak berlaku untuk malam ini. Papi dan mamiku bertengkar hebat sampai kakakku terpaksa harus mengecilkan volume televisi. Papi menuduh mamiku selama ini terlalu memanjakan aku, sementara mami berbalik menuduh papiku bersikap terlalu keras terhadapku. Mami yang selalu tampil sebagai pembelaku seakan nggak terima ketika papi menyebutku sebagai anak yang bisanya hanya memberi masalah. Sementara aku yang menjadi terdakwa duduk menyendiri di depan meja makan sambil menatap makan malam terlambat yang sedari tadi enggan kusentuh, sepertinya aku lebih berusaha menahan agar air mata tak berjatuhan.
Akhirnya aku memilih berlari ke kamarku, menghempaskan tubuhku ke atas tempat tidur lalu menutup wajahku dengan bantal. Tak lama kemudian aku merasakan ada jari-jari lembut yang mengusap-usap rambutku yang sengaja kupotong pendek model cowok. Kedua telingaku tak lagi menangkap suara pertengkaran. Kedamaian telah kembali hadir menyelimuti suasana rumahku, tapi tidak dengan hatiku. Setelah mamiku beranjak pergi sambil mematikan lampu dan menutup pintu kamar, bantal penutup wajah yang telah membasah itu mulai kubuka. Kegelapannya pasti sama saja.
+ + + + +
Diluar kamar tak lagi terdengar suara-suara, semua sudah tidur menjemput mimpi meninggalkan aku sendiri yang masih belum bisa memejamkan mata. Kuseret sepasang kakiku menuju garasi, lalu kupandangi sepeda motorku yang beberapa jam lalu mogok di tengah jalan ketika hujan deras, yang memaksaku menelpon papiku untuk datang naik mobil bersama kakakku dan menggeretnya dengan tali tambang sampai ke rumah. Kakakku yang mengendarai sepeda motor sambil mengenakan jas hujan, sementara aku yang basah kuyup mendekam di dalam mobil menahan dingin sambil menampung semua omelan.
Sesampai di rumah papiku masih sempat menghajarku dengan kalimat sakti nan bertuah, “Anak kok bisanya cuma merepotkan orang tua” Kakakku tak ketinggalan menghadiahiku dengan pertanyaan yang mematikan, “Kalau kamu sedang susah, kemana semua teman-temanmu yang banyak itu ?”
Mungkin dua kalimat itu yang membuatku sampai sekarang bagai terus terjaga walau badanku telah terasa penat dan mata memberat. Aku memang merepotkan, teman-temanku mungkin semuanya menghilang, tapi sungguh tak ada kesengajaan dibalik semua itu. Aku kan anakmu ? Aku kan adikmu ? Apa yang salah dengan diriku ?
Dalam kebisuan tanpa ujung aku mencoba berdamai dengan pertanyaan-pertanyaan itu demi meredam semua resah gelisah. Langit-langit garasi yang warnanya mulai memudar seakan ikut mengamini jelajah pikiranku. Sampai kapanpun aku tak akan pernah menerima jawabannya. Aku memilih berbisik lirih pada sepeda motorku yang seolah telah menanti amanahku sejak tadi, “Lain kali jangan mogok lagi ya”
+ + + + +
Meja kamar tamu yang terbuat dari kayu itu masih ada. Meja itu bagai saksi bisu masa-masa indahku dulu. Waktu rambutku masih berkepang dua, memakai pita yang warnanya sama dengan bajuku yang merah muda. Papi mamiku dan juga kedua kakakku duduk berjajar di atas sofa menonton aku yang sedang bergaya di atas meja, yang menjadi panggung kecilku sambil menyanyikan lagu bintang kecil. Saat itu perhatian seluruh penghuni rumah hanya tertuju padaku. Walau anak bungsu aku selalu menjadi yang nomor satu.
Namun dongeng indah itu mulai sirna ketika aku menginjak usia remaja, aku mulai menyadari arti sebenarnya posisi anak ketiga, standar nilai sekolahku sudah pasti dibandingkan dengan kedua kakakku yang lahir lebih dulu. Mereka berdua bak ajang percontohan sementara nilaiku yang sering jeblok bagai proyek gagal yang tak diketahui penyebabnya. Aku mulai dinilai berbeda. Aku juga nggak tahu kenapa nggak bisa sama, atau sebenarnya aku ingin balik bertanya lebih detail tapi nggak tahu caranya. Kenapa harus sama ?
Disaat bersamaan aku mulai mengenal makhluk yang bernama teman-teman. Bersama mereka aku bisa tertawa kapan saja, menjalani hidup penuh kesenangan seolah kesedihan tak pernah ada. Andai kesedihan sesekali datang, pertemuan dengan mereka selalu bisa jadi obat penawarnya. Awalnya aku menyebut kehadiran mereka sebagai penyeimbang, namun seiring waktu keberadaan mereka bak zat adiktif yang membuatku kian ketagihan. Aku jadi lupa waktu, mereka pun kian menghabisi waktuku. Perlahan tapi pasti papi dan kakakku berubah menjadi seteru, hanya mamiku yang masih bersedia menjadi teman bagi teman-temanku.
Ketika aku lulus SMA dan tak lolos seleksi penerimaan mahasiswa di universitas negeri, tidak seperti kedua kakakku, hingga terpaksa harus mendaftar ke universitas swasta yang sangat menguras biaya, aku resmi kehilangan nomor satu. Setiap tiba waktu membayar SPP di awal semester, aku kembali menjadi si bungsu di antrian belakang yang tak lagi menarik perhatian dan telah beralih muka menjadi beban. Sepertinya aku memberi warna yang berbeda pada kehidupan di rumahku. Warna yang pasti tidak mereka sukai.
Tapi aku masih bisa bersembunyi dibalik keceriaan teman-temanku. Canda tawa mereka sanggup membuatku lupa akan semua problema. Hanya mereka yang bisa menerima aku apa adanya. Aku tak harus memakai baju dan pita merah muda , dan tak harus menyanyikan lagu bintang kecil di atas meja.
+ + + + +
Dunia kampus laksana surga. Bagai bejana besar berisi aneka pilihan yang membuatku kian melarut dalam kehidupan teman-temanku. Aku seolah menemukan tempat yang selama ini aku cari. Seperti kembali ke sekolah taman kanak-kanak yang menyediakan banyak permainan, yang tinggal kupilih permainannya dan dengan siapa aku bermain. Seperti dulu ketika aku kecil, aku pilih semuanya.
Sebagai anggota senat mahasiswa, aku aktif terlibat di berbagai kegiatan kemahasiswaan dan tak pernah absen menjadi panitia di berbagai seminar. Masih di sekitar kampus, aku juga tergabung dalam event organizer yang sering menggelar acara promo ataupun pentas musik yang menampilkan band-band yang sedang naik daun. Aku bagai memiliki banyak nyawa, dimanapun makhluk bernama teman-teman itu ber-eksistensi aku selalu ada. Kesibukkanku menggila, jadwal padat yang tak jarang berbenturan itu membuatku seakan hidup dalam dunia baru.
Akibatnya aku hanya bertemu dengan penghuni rumahku di waktu pagi. Pulang malam dan makan malam terlambat yang selalu kuhabiskan dengan setengah hati karena dipaksa mami, seolah sudah menjadi ritualku setiap hari. Peran rumah itu tak lebih sebagai tempatku tidur dan tempat mengawali hari sambil menghabiskan sarapan pagi. Selebihnya hanya formalitas semu antara aku sebagai si bungsu dengan kedua kakakku, dan antara aku dengan papi mamiku sebagai orang tuaku. Tugas mereka hanya membiayai kuliahku. Titik. Tugasku adalah menyelesaikan kuliahku. Titik. Sesudah lulus aku akan cari kerja lalu pergi jauh-jauh dari rumah demi kehidupanku sendiri dan tak akan menjadi beban mereka lagi. Titik.
Pemikiran itu memperburuk interaksiku dengan seluruh penghuni rumah, namun sepertinya aku sudah kebal dengan semua omelan papiku. Semua masuk telinga kanan keluar telinga kiri, aku sudah nggak peduli. Toh mengikuti semua peraturan papiku tak lagi dapat mengubah prestasi belajarku. Aku terlanjur apatis, aku hanya si bungsu yang terlahir lebih bodoh dibanding kedua kakakku. Aku adalah proyek gagal. Keberadaanku hanya mengisyaratkan beban.
Mungkin juga pemikiran itu lahir setelah aku menemukan istana yang lebih besar, yang mempertemukan aku dengan orang-orang yang tak melihatku dari sisi yang tak kusukai. Semua mengalir wajar tanpa melibatkan unsur paksaan. Mereka mengijinkan aku hadir memberi arti tanpa harus mengubah diri. Aku merasa lebih dihargai.
Aku mulai menyebut teman-temanku sebagai kehidupan. Kakakku menyebut diriku makhluk asing. Papiku bilang Tuhanku adalah teman-teman.
+ + + + +
Rayhan yang romantis dan jago memainkan gitar bak menyempurnakan hidupku. Aku biasa memanggilnya Ray. Berpostur tinggi besar, kulit putih bersih dan wajah rupawan bagai satu paket dengan darah seni yang mengalir dalam tubuhnya. Dia begitu mahir menyusup di sela-sela ruang hatiku dan membuat jiwaku kian kenyang hingga tak lagi mengenal kata kelaparan. Dia sangat penuh perhatian.
Dari senin sampai sabtu bersama teman-teman, berlanjut malam minggu dan satu hari minggu penuh bersama Ray membuatku serasa hidup tujuh hari di atas awan. Kalau pada saat itu ada yang bertanya siapa makhluk paling berbahagia di dunia, aku sudah tahu jawabannya.
Namun sudah takdirnya kalau langit selamanya harus berdampingan dengan bumi. Aku tak bisa terus berlama-lama bermain di antara kapas-kapas raksasa, bumi pasti akan merengutku untuk kembali menyentuh tanah dengan segala cara. Ray juga yang mengawalinya.
Sabtu dan minggu mulai tak cukup bagi Ray. Dia mulai merengsek ke hari-hari lainnya. Tiba-tiba saja aku seperti dipaksa memilih antara dia dan teman-temanku. Pilihan yang awalnya sempat kuanggap tak akan pernah ada, seolah istana besar itu tak cukup menampung keberadaan mereka semua. Bukankah kita semua satu atap ? Bukankah Tuhan hanya memiliki tujuh hari untuk menciptakan bumi ?
Ray berdalih dua hari bukanlah waktu yang cukup untuk cinta. Selama ini dia merasa hanya sebagai pelengkap bagi diriku yang lebih mengutamakan teman-temanku, mengilustrasikan keberadaannya sebagai bingkai kayu yang kian lapuk sementara aku dan teman-temanku adalah lukisannya. Pemikiran yang menurutku bodoh dan entah datangnya dari mana itu membuatku marah. Aku, teman-temanku dan juga Ray adalah warna-warna natural di atas kanvas lukisan hidupku. Aku jelas nggak terima jika ada satu tokoh dalam suatu cerita yang mengharapkan peran lebih besar dengan cara mengusik keberadaan karakter lain yang telah hadir lebih dulu. Satu warna yang ingin tampil lebih dominan jelas berpotensi merusak keindahan lukisan. Namun Ray tetap bersikukuh dengan pendiriannya. Setelah melalui debat sengit yang tak berujung Ray pergi begitu saja meninggalkan istana. Sekali lagi bantal tidurku menjalankan perannya sebagai pembasuh air mata.
+ + + + +
Kepergian Ray seolah meninggalkan sesuatu yang tertanam dalam, yang tak bisa begitu saja kucabut dan kubuang. Seolah ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiranku bahwa yang terjadi bukan hanya sekedar perpisahan. Pendirian Ray bak tembok tebal yang sulit kurubuhkan, yang memaksaku menatapnya terus menerus hingga aku merasa tersiksa setiap mencoba untuk melupakannya. Walau Ray telah pergi namun roh nya bak menghantui setiap sudut ruang hatiku.
Ketika permukaan telaga mulai terlihat jernih, terbersit pemikiran kalau Ray mungkin tak sepenuhnya bisa dipersalahkan, mungkin justru aku yang selama ini tanpa sadar membiarkan sebuah kesalahan menjadi pola kebiasaan. Ray bukanlah sekedar pelengkap, dia adalah bagian dari kehidupan sehari-hariku. Tapi pola sabtu minggu mungkin tak bisa sepenuhnya diterima sebagai kewajaran, mungkin komposisi warnanya memang tak harus baku agar lukisannya bisa lebih hidup dan tak berkesan kaku. Seangkuh itukah aku ?
Diam-diam keteguhanku mulai memudar, keraguan kian memenuhi setiap sudut ruang, perasaan bersalah tiba-tiba saja menjadi ada. Maafkan aku teman-teman, mungkin waktu buat kalian memang kebanyakan.
Ternyata ruang hatiku tak seluas yang kukira, ternyata istana itu lebih sempit dari yang aku bayangkan. Ketika seseorang ikut hadir menghuni isi hati dan merasa kenyamanannya terusik, ternyata malah membuat ego ku lantang bicara. Tanpa sadar aku lebih takut kehilangan teman-temanku dibanding Ray, segores makna terungkap aku belum seutuhnya siap menerima kehadirannya. Drama singkat satu babak itupun berakhir duka dengan perih tersebar di pelataran jingga.
Namun aku tak bisa berbuat apa-apa. Terpekur dalam dekapan warna ungu sambil meratapi cinta yang kini bagai menjelma puing-puing. Seolah tak ada yang tersisa untuk diselamatkan selain menyimpulkan semua yang terjadi sebagai kegagalan. Dibalik segumpal rasa sesal yang menyiksa terselip pesan sederhana dalam bait puisi, andai ada kesempatan kedua.
+ + + + +
Setelah lulus kuliah aku bekerja di sebuah perusahaan advertising. Frekuensiku bersama teman-teman menurun drastis tapi belum bisa dibilang habis. Satu hari sejak pagi hingga sore di tempat kerja jelas menguras segalanya. Namun aku tak mau menyerah pada sang waktu, sepulang kerja selalu kusempatkan menemui mereka untuk sekedar jalan-jalan di mall, nonton film, atau nongkrong di coffee corner favoritku.
Sudah tak ada lagi Ray, tapi aku masih punya sedikit teman dan satu teman lagi yang selalu menemaniku kemana saja aku pergi, “Uang”. Sesuatu yang dulu datang musiman hanya kalau ada event, kini rutin singgah sebentar di dompetku, sebelum berputar menyapa tempat-tempat mangkal dan semua benda-benda konsumtifku. Kalau tanggal tua credit card selalu jadi andalan, toh akhir bulan juga gajian.
Meski gajiku tak seperti kedua kakakku yang bekerja di perusahaan besar, aku masih bisa menyisakan sedikit uang belanja buat mamiku yang selalu disambut dengan senyum teduhnya. Awalnya mami sempat menolak karena lebih suka aku menyimpan sendiri uangku, namun akhirnya mami mau juga menerima setelah setengah kupaksa. “Terima kasih ya nak” kalimatnya selalu begitu.
+ + + + +
Disuatu sore yang oke Ray datang lagi memecah rutinitasku, katanya dia belum bisa sepenuhnya melupakan aku. Perasaan bersalah yang telah rapat kusimpan tiba-tiba saja menyeruak ke permukaan sambil menyanyikan lagu-lagu kesepian. Seolah menyadarkan aku kalau kesenanganku selama ini tak lebih dari sebuah pelarian. Semenjak temanku pergi satu demi satu menenggelamkan diri dalam aktivitas kerja, yang tersisa seolah hanya menjadi tempatku bersembunyi dari sepinya hati. Ruang dan waktuku bersama makhluk-makhluk ajaib itu sebenarnya kian tak berpihak namun aku masih berusaha memaksakan diri.
Aku masih berpikir kalau aku ada karena mereka “masih ada”. Seolah tanpa mereka aku bakal tak bernyawa. Tanpa kusadari aku sendiri yang memilih menunggu sampai semuanya benar-benar habis, aku bagai penghuni terakhir yang membuka pintu bagi semua temanku menuju kehidupan baru. Seperti orang terakhir di stasiun yang mengantar semua temanku berlalu naik kereta dengan tujuannya sendiri-sendiri. Sepertinya aku sengaja memilih memikul beban itu. But please, jangan bilang aku seangkuh itu.
Katanya kehidupan adalah proses seleksi alam. Sepertinya aku lebih suka menyaksikan semuanya berjalan lancar. Mungkin karena alasan itu aku ada. Mungkin. Atau mungkin selama ini aku hanya sibuk mencari alasan ku sendiri mengapa dihadirkan di muka bumi. Mungkin juga.
+ + + + +
Saling memaafkan ternyata sanggup meruntuhkan dinding keangkuhan sekaligus mencairkan kebekuan. Sedikit ampas kopi yang tertinggal di dasar cangkir itu kini telah resmi kubuang, yang membuat beberapa mili gram serbuk cream selama ini nggak maksimal mengantarkan hulu ledak di permukaan lidahku. Aku kini bebas mengisi cangkir itu dengan minuman yang aku mau. Aku menerima Ray kembali ke dalam kehidupanku.
Sama seperti dulu, Ray yang flamboyan selalu menawarkan sensasi keteduhan. Sisi romantisnya bagai mengantarkan aku terbang ke setiap celah penjuru langit. Kesukaannya bermain gitar sambil menyanyikan lagu-lagunya Glen Fredly bak menafasiku dengan udara segar dari taman surgawi. Semua itu kuimbangi dengan ribuan hasrat yang menggelora demi memperbaiki kesalahan di masa lalu. Kubiarkan hatiku terbuka lebar agar cinta bisa hadir lebih leluasa untuk memusnahkan semua lapisan ego, hingga aku serasa telanjang di alam terbuka menyambut serbuan panah asamara. Aku menyerah pada cinta.
Cinta adalah hidup, aku tak ingin lagi sekedar menjalani seperti sekedar status yang melekat pada rutinitas sehari-hari. Kali ini aku ingin menjadi bagiannya, ini adalah saatnya untuk memberi arti bagi cinta setelah sekian lama hanya jadi pemujanya.
Ternyata aku tak se-siap itu. Aku pun tak setegar yang kukira. Kehidupan selalu memiliki caranya sendiri untuk menyeleksi siapa yang berhak mencintai dan dicintai. Mungkin aku bukan salah satunya. Semua kembali berawal dari Ray. Aku bagai terhempas keras ke bumi setelah sempat terbuai cinta di atas arak-arakan mega. Sepeninggalnya dari istana ternyata Ray sempat menjalin hubungan serius dengan makhluk posesif tingkat akut. Seseorang yang tak mengenal kata main-main, yang akan melakukan segala cara untuk memperbaiki kehidupannya. Dibalik sikap romantis dan flamboyan, terlihat jelas sisi ketidaktegasan, peragu, penakut bahkan pengecut seorang Ray. Jelas dia kembali hadir dalam kehidupanku tak lebih sebagai pelarian meski berdalih sejuta penyesalan.
Aku meradang. Aku tak bisa menerima status sebagai orang ketiga meski Ray berulang kali berkata aku adalah segalanya. Dia memilih aku tapi tak pernah bisa meninggalkan masa lalunya. Sama saja. That’s bull shit ! Ray bukan pujangga, dia tak lebih dari seorang pendusta. Ternyata dia menuang penuh kedalam cangkir se-sachet kopi plus air panas tanpa gula. Setelah pertengkaran hebat yang kedua Ray kuusir dari taman hati yang sudah terlanjur penuh duri.
Disaat aku berharap kesempatan kedua dapat memperbaiki keadaan ternyata aku malah menimbun luka yang lebih dalam. Seolah aku memang ditakdirkan terus terluka berlinang air mata di sepanjang hidupku. Seolah memang sengaja dibiarkan memikul beban yang tidak semestinya aku tanggung hingga akhirnya harus hidup sendirian di dalam istana tanpa cinta.
Sungguh cerita ini bukan rancanganku, awalnya aku hanya mencoba memilih jalan ceritanya saja yang tadinya aku kira akan berujung bahagia. Namun kini aku mulai berpikir kalau cerita ini sepertinya memang sengaja diciptakan untukku. Sebuah kisah sedih nan pilu yang membuatku kian hidup dalam sendiriku. Wahai langit dengarkanlah tangisanku.
+ + + + +
Semula aku mengira yang menjadi penghuni terakhir istana hati akan terpilih sebagai sahabat alam. Namun sepertinya alam tidak berpikir seperti itu. Berpikir peduli tidak berarti serta merta memastikan keberadaanku sebagai bagian darinya. Bahkan sepertinya kehidupan tak pernah sepenuhnya menghendaki kehadiranku. Seolah keberadaanku tak lebih dari ilalang kering yang merusak keindahan hijau rerumputan. Kenyataan hidup seolah lebih suka bicara sendiri walau aku telah jungkir balik mencoba menggali eksistensi diri.
Belum habis air mataku meratapi luka yang ditinggalkan Ray aku masih harus berhadapan dengan derita selanjutnya, sederet problema yang tak pernah aku bayangkan akan menimpaku sebelumnya. Krisis ekonomi yang tengah melanda negeri, yang berujung pemutusan hubungan kerja dalam skala besar-besaran ikut menghantam perusahaan tempatku bekerja. Aku ikut dalam bagiannya. Aku harus menerima kenyataan pahit ikut di-PHK dan beralih status sebagai pengangguran dengan banyak hutang. Tak ada lagi yang bisa aku andalkan untuk membayar tagihan belanjaku di waktu lalu yang sudah terlanjur menjadi gaya hidupku.
Aku terpaksa harus kembali menjadi penghuni rumah dengan segudang masalah. Tapi aku belum mau menyerah. Kirim surat lamaran kerja setiap hari dan telpon sana sini mencari job musiman menjadi pilihanku untuk terus berlari. Namun setelah berjalan sebulan tanpa jawaban aku mulai memberi isyarat akan menyerah. Sepertinya aku harus bersiap-siap untuk kalah. Tak ada lagi sisi kebenaran yang tersisa untuk kutampilkan demi kujadikan pembuktian, aku kian dekat dengan kegelapan. Entah mengapa teman-temanku pun sepertinya sengaja menjauhiku disaat aku benar-benar sedang membutuhkan bantuan. Mungkin bau tak sedap itu berasal dari statusku yang pengangguran tanpa uang dan terjerat hutang. Sikap mereka sungguh sulit untuk kumaafkan. Untuk pertama kalinya aku merasa tak memiliki siapa-siapa. Ternyata sejauh ini mereka hanya mengajakku melupakan semua problema lewat canda tawa bukan menghadapinya.
Tak ada pula uluran tangan malaikat dari langit yang sudi menolongku. Sama sekali tak ada tanda-tanda keajaiban akan datang. Alam bagai mengingkariku.
Setelah tabunganku habis dan debt collector mulai rajin mencariku ke rumah, aku benar-benar menyerah. Mimpi indah yang selama ini menjadi kekuatanku kini lenyap tak berbekas. Kenyataan hidup kini hadir dalam wujud nyata dihadapanku, menebar duri-duri tajam di setiap jalan yang kulalui, mengotori udara yang kuhirup hingga aku sesak nafas, memenuhi meja kehidupanku dengan bergelas-gelas kopi pahit yang setiap saat harus aku minum dikala kehausan.
Kakakku benar, aku makhluk asing bukan penghuni rumah. Papiku juga benar, aku hanya pembawa masalah. Ketika mami datang ke kamarku di malam hari sambil menyerahkan kalung dan gelangnya diam-diam agar aku menjualnya untuk melunasi semua hutang, aku tak menganggapnya sebagai pertolongan. Sedemikian berat beban yang harus ditanggung mamiku untuk menjadi pembelaku. Kasihan mamiku, dia berada di pihak yang salah.
Setelah mami beranjak pergi sambil mematikan lampu kamar dan menyuruhku tidur, mataku tak juga mau terpejam. Kegelapannya sama saja, disaat lampu belum dimatikan pun aku tak merasakan keberadaan cahaya. Aku tak butuh bantal lagi untuk menutupi wajahku karena tak ada lagi yang harus kutangisi. Air mataku terlanjur kering.
Aku jadi teringat dengan kalimat yang diucapkan seorang tokoh dalam film sejarah wajib tonton setiap tahun ketika aku masih SD, “Hidup ini pahit jendral !” Seperti itu arti hidup bagiku, pahit dan hening sepi. Semesta tak pernah mau bicara lagi walau hanya melalui mimpi. Istana itu tak pernah ada, semua itu hanya ilusiku sendiri. Atau aku yang seharusnya tak perlu ada. Mungkin seharusnya aku memang tak perlu dilahirkan. Aku hanyalah sebuah kesalahan.
+ + + + +
Lupita adalah sahabatku waktu SMA. Pertemuan yang tak sengaja lewat facebook itu seolah menjadi selingan ringan yang mengingatkan aku kalau setidaknya masih memiliki teman. Sejak lulus SMA dan masuk kuliah hingga aku bekerja Lupita memang sempat terlupakan.
Penampilannya sekarang jauh berubah, selalu berkerudung dan aktif di kegiatan-kegiatan sosial. Aku yang kuno atau memang nggak pernah peduli sampai nggak mengerti mengapa kain penutup sebagian besar kepalanya, dan hanya menyisakan wajah mungil itu justru membuat Lupita tampak lebih cantik dibanding dulu.
Aku menemuinya sore itu hanya untuk sekedar berbagi bukan lagi mencari pembelaan diri. Karena menurutku aku sudah tak layak untuk dibela. Membela diriku hanya akan berakibat ikut menanggung nasib buruk seperti yang dialami mamiku. Aku hanya sedang merasa malas sendirian dan butuh seseorang untuk mendengar atau mungkin didengar. Siapa tahu Lupita punya sepercik air buat membasahi jiwaku yang sedang kering, sekaligus menepis segala kekalutan yang kini mulai memenuhi isi benakku.
Aku mulai takut kemarau ini terus berlanjut, aku takut terus-terusan jadi pengangguran, aku takut terus-terusan hidup sendirian dan mengakhiri hidup sebagai perawan tua yang seolah sudah menjadi phobia yang mewabah, yang bahkan mungkin sudah terlanjur menjadi mitologi yang ditakuti. Aku takut dengan esok hari.
Aku juga tak berharap Lupita mau jadi sekutuku, karena aku pun telah kehilangan hasrat menjalin persekutuan dengan siapa saja. Menjadi penyendiri menurutku jauh lebih baik dari pada menjadi bagian dari sebuah koloni. Menurutku aku juga tak pantas ikut-ikutan berkerudung seperti Lupita, wajah murung dan pucat pasi ini pasti sangat tak layak untuk dinikmati. Kasihan kerudungnya.
Di relung hati terdalam aku justru iri dengan metamorfosa Lupita. Meski dia tak seceria dan meledak-ledak seperti dulu, namun dalam setiap ucap dan gerakan seolah ada yang menuntunnya. Dia seperti hidup dalam dekapan ribuan malaikat hingga dia terlihat begitu sangat dewasa. Aku tak merasa seberuntung itu, mungkin kehidupan lebih memilih Lupita dibanding aku. Dia begitu bebas meraih kebebasan hati dan tak pernah merasa haus dikala menyapa jiwa-jiwa yang kekeringan, seperti aku salah satunya.
Ketenangannya mengagumkan walau aku bagai menyerbu benaknya dengan ribuan kalimat yang selalu diawali dengan kata “mengapa”, namun dengan penuh santun Lupita berkata, “Ada kalanya kehidupan tak berpihak pada seseorang, seolah semua orang hanya melihat kita dari sisi yang kita sendiri tidak menyukainya. Apa saja yang kita lakukan pada saat itu akan selalu tampak salah dimata mereka. Biarkan saja semua mengalir apa adanya, kita tak perlu memaksakan diri untuk mengubahnya. Selebihnya bersabarlah, biarkan waktu yang mengurai dengan sendirinya”
Lupita sungguh bagaikan mata air yang membasahi sawah ladangku yang tengah merindukan hujan. Ketika kata mengapa yang terakhir meluncur dari bibirku Lupita hanya menjawabnya dengan sebaris kalimat sederhana tapi sarat makna, “Terimalah kenyataan bahwa kita hidup di atas norma. Yang aku tahu hampir semua orang mengagungkannya meski mereka semua mengaku beragama”
+ + + + +
Bicara soal sabar berarti masalah waktu, itu bisa jadi lama sekali. Entah sampai kapan aku harus menunggu mendung ini segera berlalu dan mempersilahkan matahari datang bersinar lagi. Dalam perjalanan pulang aku merenungkan semua kata-kata Lupita.
Aku justru berpikir mencari cara agar bisa terlihat dari sisi yang sebenarnya, sisi yang menyenangkan bagi semua orang. Selama ini mungkin aku salah mengambil posisi atau salah berdiri hingga mereka melihat sisi yang tak seharusnya mereka saksikan. Dan aku tak mau membiarkan mereka terus melihat selama itu. Aku tak mau menunggu. Kalau perlu aku akan pergi ke tukang tato supaya menuliskan kata-kata di punggungku, “Ini bukan wajahku” agar mereka melihat lagi wajah si penyanyi di atas meja yang mengenakan pita dan baju warna merah muda.
Tanpa disadari sedari tadi aku hanya sibuk dengan pikiranku sendiri, mengindahkan mendung pekat yang selama ini menghiasi seluruh wajah langit hingga malam terlihat begitu gelap. Aku terkejut ketika tiba-tiba hujan turun begitu deras menumpahkan bergalon-galon air ke muka bumi, hingga jalan-jalan dipenuhi air meninggi dan memaksa sepeda motorku tak mampu bergerak lagi.
Seketika aku terdiam dan sempat dilanda kebingungan dihinggapi rasa tak percaya. Kutengadahkan kedua telapak tangan mencoba merasakan sentuhan air hujan demi memastikan yang sedang terjadi. Anganku seketika terbang ke masa lalu untuk memastikan bahwa yang terjadi bukanlah déjà vu. Namun apalah artinya itu. Benar tidaknya yang terjadi diwaktu lalu tak dapat mengubah situasi yang sedang kuhadapi. Ini nyata, ini bukan khayalan, aku harus bereaksi menjemput kenyataan sepahit apapun itu. Yang lalu biarlah berlalu.
Semua yang terjadi sesudah itu bagai adegan lambat. Aku turun dari sepeda motor menyapa realita, sepasang kakiku sudah tak tampak karena tertutup genangan air nyaris sebatas lutut. Lalu kutuntun sepeda motorku ke tepi jalan mencari tempat yang layak untuk berteduh. Pilihanku jatuh pada sebuah ruko dengan teras beratap lebar yang tampaknya bekas toko roti yang sudah lama tutup.
Aku tak sendiri, beberapa orang dengan sepeda motor bernasib sama telah lebih dulu sampai disitu. Kami semua tak saling kenal dan tak ada yang mencoba saling bicara, hujan deras sudah cukup menenggelamkan semua suara. Kami semua hanya terdiam menikmati orkestra kehidupan hingga hujan lebat beralih gerimis dan akhirnya berhenti dengan sendirinya setelah dua jam terlewati. Air di permukaan jalan juga sudah menyurut menyisakan sebatas mata kaki.
Sesudah itu semua orang tampak sibuk mencoba menyalakan mesin sepeda motornya. Entah mengapa aku memilih diam saja. Aku juga tak berpikir untuk menelpon ke rumah memohon bala bantuan. Aku justru tampak menikmati pemandangan itu, seolah aku sengaja menunggu mereka semua pergi sebelum aku menuntun kembali sepeda motorku untuk mencari bengkel terdekat yang mungkin masih buka.
Tiba-tiba seseorang mendekatiku, “Sini, mana kuncinya, aku bantu menghidupkan mesin sepeda motornya” Orang itu nyata, senyata suaranya yang bak mengandung kekuatan magis hingga aku menyerahkan kunci motorku begitu saja, seolah aku juga nggak keberatan kalau motorku sekalian dibawa pergi.
Namun yang terjadi tidak seperti itu, orang itu bersungguh-sungguh berusaha menghidupkan mesin sepeda motorku. Sesudah memastikan semuanya baik-baik saja, orang itu menyerahkan kunci dan segera berlalu meninggalkan aku. “Terima kasih” bisikku.
Aku yang terakhir berlalu dari tempat itu. Langit kembali tampak jernih, binar cahaya bintang seolah tersenyum menatapku sambil menyanyikan lagu-lagu cinta yang sudah lama tidak aku dengar. Semua kejadian itu nyata. Semua masalah itu ada. Sepertinya aku sendiri yang sesungguhnya tak pernah ada. Aku hanya ilusi dari semua cerita.
Sesampai di rumah larut malam dan makan malam terlambat seperti biasanya, di rumah juga tidak terjadi apa-apa. Seolah ada atau tiadanya aku semua akan berjalan baik-baik saja. Kulirik meja kayu di kamar tamu, aku juga tak ingin bernyanyi hanya untuk memastikan kalau aku masih ada.
Tak perlu. Biar cerita ini berlaku dengan atau tanpa aku. Semua telah berjalan sempurna tanpa aku harus mengubahnya. Aku lebih suka mencumbui tabir tiga dimensi ini sampai mati. Indah sekali.
+ + + + +
Aku sungguh-sungguh tak mengerti, dari kaca mata logika seharusnya di tempat itu sudah tak lagi ada kehidupan. Mestinya hanya permukaan tanah yang bersih karena daun-daun kering serta bunga yang telah mati telah disapu oleh genangan air hujan. Namun kini yang kulihat justru bunga-bunga segar dengan kelopaknya yang mengembang mesra menatap semesta langit.
Kemana perginya bunga layu yang kulihat dua hari yang lalu ? Jika yang tengah kulihat saat ini adalah bunga yang sama, siapa yang kembali menafasinya ? Bukankah dia hanya bunga liar di tepi jalan yang tak ada pemiliknya ?
Mungkin hujan deras kemarin yang mengubah bunga liar itu kembali hadir mempercantik jalan walau tak ada seorangpun yang meliriknya. Mungkin hujan itu pula yang mengubah sudut pandangku pada semua yang aku lihat dan yang kurasakan. Hidup menuntut cinta absolut dalam wujud pertanggungjawaban, lewat aksi nyata dalam menyikapi semua masalah yang tergelar di berbagai peran. Sebanyak apapun aku bicara tidak akan pernah membuktikan apa-apa. Meniadakan masalah lewat angan-angan hanya akan memperlebar jarak antara diriku dengan cinta kehidupan.
Ada atau tiadanya aku bukan lagi beban bagi pikiranku, aku tak perlu lagi memaksakan keberadaan harus selalu dengan caraku. Semakin aku tahu siapa diriku semakin pula aku tak mengenalinya. Dua sisi dalam diriku akan selalu menyiratkan banyak makna. Aku hanyalah manusia biasa. Siapapun berhak melihatku dari sisi mana saja yang mereka mau. Secangkir kopi akan tetap menjadi minuman favoritku walau hari demi hari komposisi takarannya tak selalu persis sama. Berpulang bagaimana caraku menikmatinya tanpa memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi, sebagaimana cerita pribadiku yang bermuara pada how to survive yang sarat muatan cinta dengan segala pernak-perniknya. Selebihnya biar semesta yang bicara lewat panas matahari atau hujan demi melanjutkan cerita-cerita.
Begitupun suasana hatiku, kering dan layu. Jerit rintih terdengar jelas menyuarakan lagu sedih nan pilu. Bagai terbuang dari kehidupan dengan nafas yang sisa-sisa, hingga tak kuasa lagi berdiri memikul beban dan tinggal menunggu waktu jatuh terkapar berteman luka.
Dalam benakku berulang kali tersirat kata “mengapa”, namun aku tak tertarik menanyakan penyebab kejadian atau menelusurinya, melainkan mengapa semua tak lagi seindah dulu. Aku lebih meratapi kehilangan suasana indah yang tak lagi menjadi bagian hidupku. Semua yang tersaji di depan mata kini bagai terlihat satu warna. Hitam. Pekat.
Senyata itu.
+ + + + +
Selepas jam sepuluh malam biasanya di rumahku tak lagi terdengar suara-suara. Satu-satunya tanda kehidupan hanya lewat suara televisi di ruang tengah yang remote-nya sering jadi rebutan antara aku dengan kakak pertamaku yang laki-laki. Aku lebih suka menonton live music sementara kakakku memilih film action yang sudah sering ditayangkan berulang-ulang. Kakak keduaku yang perempuan seperti biasa lebih suka mengurung diri dalam kamar, membaca novel-novel penguras air mata sambil mendengarkan radio yang lebih sering menyuarakan obrolan curhat ketimbang memutar lagu-lagu pengantar tidur. Sementara papi dan mamiku sudah terlelap dalam kamar yang pintunya rapat terkunci.
Namun rutinitas itu tidak berlaku untuk malam ini. Papi dan mamiku bertengkar hebat sampai kakakku terpaksa harus mengecilkan volume televisi. Papi menuduh mamiku selama ini terlalu memanjakan aku, sementara mami berbalik menuduh papiku bersikap terlalu keras terhadapku. Mami yang selalu tampil sebagai pembelaku seakan nggak terima ketika papi menyebutku sebagai anak yang bisanya hanya memberi masalah. Sementara aku yang menjadi terdakwa duduk menyendiri di depan meja makan sambil menatap makan malam terlambat yang sedari tadi enggan kusentuh, sepertinya aku lebih berusaha menahan agar air mata tak berjatuhan.
Akhirnya aku memilih berlari ke kamarku, menghempaskan tubuhku ke atas tempat tidur lalu menutup wajahku dengan bantal. Tak lama kemudian aku merasakan ada jari-jari lembut yang mengusap-usap rambutku yang sengaja kupotong pendek model cowok. Kedua telingaku tak lagi menangkap suara pertengkaran. Kedamaian telah kembali hadir menyelimuti suasana rumahku, tapi tidak dengan hatiku. Setelah mamiku beranjak pergi sambil mematikan lampu dan menutup pintu kamar, bantal penutup wajah yang telah membasah itu mulai kubuka. Kegelapannya pasti sama saja.
+ + + + +
Diluar kamar tak lagi terdengar suara-suara, semua sudah tidur menjemput mimpi meninggalkan aku sendiri yang masih belum bisa memejamkan mata. Kuseret sepasang kakiku menuju garasi, lalu kupandangi sepeda motorku yang beberapa jam lalu mogok di tengah jalan ketika hujan deras, yang memaksaku menelpon papiku untuk datang naik mobil bersama kakakku dan menggeretnya dengan tali tambang sampai ke rumah. Kakakku yang mengendarai sepeda motor sambil mengenakan jas hujan, sementara aku yang basah kuyup mendekam di dalam mobil menahan dingin sambil menampung semua omelan.
Sesampai di rumah papiku masih sempat menghajarku dengan kalimat sakti nan bertuah, “Anak kok bisanya cuma merepotkan orang tua” Kakakku tak ketinggalan menghadiahiku dengan pertanyaan yang mematikan, “Kalau kamu sedang susah, kemana semua teman-temanmu yang banyak itu ?”
Mungkin dua kalimat itu yang membuatku sampai sekarang bagai terus terjaga walau badanku telah terasa penat dan mata memberat. Aku memang merepotkan, teman-temanku mungkin semuanya menghilang, tapi sungguh tak ada kesengajaan dibalik semua itu. Aku kan anakmu ? Aku kan adikmu ? Apa yang salah dengan diriku ?
Dalam kebisuan tanpa ujung aku mencoba berdamai dengan pertanyaan-pertanyaan itu demi meredam semua resah gelisah. Langit-langit garasi yang warnanya mulai memudar seakan ikut mengamini jelajah pikiranku. Sampai kapanpun aku tak akan pernah menerima jawabannya. Aku memilih berbisik lirih pada sepeda motorku yang seolah telah menanti amanahku sejak tadi, “Lain kali jangan mogok lagi ya”
+ + + + +
Meja kamar tamu yang terbuat dari kayu itu masih ada. Meja itu bagai saksi bisu masa-masa indahku dulu. Waktu rambutku masih berkepang dua, memakai pita yang warnanya sama dengan bajuku yang merah muda. Papi mamiku dan juga kedua kakakku duduk berjajar di atas sofa menonton aku yang sedang bergaya di atas meja, yang menjadi panggung kecilku sambil menyanyikan lagu bintang kecil. Saat itu perhatian seluruh penghuni rumah hanya tertuju padaku. Walau anak bungsu aku selalu menjadi yang nomor satu.
Namun dongeng indah itu mulai sirna ketika aku menginjak usia remaja, aku mulai menyadari arti sebenarnya posisi anak ketiga, standar nilai sekolahku sudah pasti dibandingkan dengan kedua kakakku yang lahir lebih dulu. Mereka berdua bak ajang percontohan sementara nilaiku yang sering jeblok bagai proyek gagal yang tak diketahui penyebabnya. Aku mulai dinilai berbeda. Aku juga nggak tahu kenapa nggak bisa sama, atau sebenarnya aku ingin balik bertanya lebih detail tapi nggak tahu caranya. Kenapa harus sama ?
Disaat bersamaan aku mulai mengenal makhluk yang bernama teman-teman. Bersama mereka aku bisa tertawa kapan saja, menjalani hidup penuh kesenangan seolah kesedihan tak pernah ada. Andai kesedihan sesekali datang, pertemuan dengan mereka selalu bisa jadi obat penawarnya. Awalnya aku menyebut kehadiran mereka sebagai penyeimbang, namun seiring waktu keberadaan mereka bak zat adiktif yang membuatku kian ketagihan. Aku jadi lupa waktu, mereka pun kian menghabisi waktuku. Perlahan tapi pasti papi dan kakakku berubah menjadi seteru, hanya mamiku yang masih bersedia menjadi teman bagi teman-temanku.
Ketika aku lulus SMA dan tak lolos seleksi penerimaan mahasiswa di universitas negeri, tidak seperti kedua kakakku, hingga terpaksa harus mendaftar ke universitas swasta yang sangat menguras biaya, aku resmi kehilangan nomor satu. Setiap tiba waktu membayar SPP di awal semester, aku kembali menjadi si bungsu di antrian belakang yang tak lagi menarik perhatian dan telah beralih muka menjadi beban. Sepertinya aku memberi warna yang berbeda pada kehidupan di rumahku. Warna yang pasti tidak mereka sukai.
Tapi aku masih bisa bersembunyi dibalik keceriaan teman-temanku. Canda tawa mereka sanggup membuatku lupa akan semua problema. Hanya mereka yang bisa menerima aku apa adanya. Aku tak harus memakai baju dan pita merah muda , dan tak harus menyanyikan lagu bintang kecil di atas meja.
+ + + + +
Dunia kampus laksana surga. Bagai bejana besar berisi aneka pilihan yang membuatku kian melarut dalam kehidupan teman-temanku. Aku seolah menemukan tempat yang selama ini aku cari. Seperti kembali ke sekolah taman kanak-kanak yang menyediakan banyak permainan, yang tinggal kupilih permainannya dan dengan siapa aku bermain. Seperti dulu ketika aku kecil, aku pilih semuanya.
Sebagai anggota senat mahasiswa, aku aktif terlibat di berbagai kegiatan kemahasiswaan dan tak pernah absen menjadi panitia di berbagai seminar. Masih di sekitar kampus, aku juga tergabung dalam event organizer yang sering menggelar acara promo ataupun pentas musik yang menampilkan band-band yang sedang naik daun. Aku bagai memiliki banyak nyawa, dimanapun makhluk bernama teman-teman itu ber-eksistensi aku selalu ada. Kesibukkanku menggila, jadwal padat yang tak jarang berbenturan itu membuatku seakan hidup dalam dunia baru.
Akibatnya aku hanya bertemu dengan penghuni rumahku di waktu pagi. Pulang malam dan makan malam terlambat yang selalu kuhabiskan dengan setengah hati karena dipaksa mami, seolah sudah menjadi ritualku setiap hari. Peran rumah itu tak lebih sebagai tempatku tidur dan tempat mengawali hari sambil menghabiskan sarapan pagi. Selebihnya hanya formalitas semu antara aku sebagai si bungsu dengan kedua kakakku, dan antara aku dengan papi mamiku sebagai orang tuaku. Tugas mereka hanya membiayai kuliahku. Titik. Tugasku adalah menyelesaikan kuliahku. Titik. Sesudah lulus aku akan cari kerja lalu pergi jauh-jauh dari rumah demi kehidupanku sendiri dan tak akan menjadi beban mereka lagi. Titik.
Pemikiran itu memperburuk interaksiku dengan seluruh penghuni rumah, namun sepertinya aku sudah kebal dengan semua omelan papiku. Semua masuk telinga kanan keluar telinga kiri, aku sudah nggak peduli. Toh mengikuti semua peraturan papiku tak lagi dapat mengubah prestasi belajarku. Aku terlanjur apatis, aku hanya si bungsu yang terlahir lebih bodoh dibanding kedua kakakku. Aku adalah proyek gagal. Keberadaanku hanya mengisyaratkan beban.
Mungkin juga pemikiran itu lahir setelah aku menemukan istana yang lebih besar, yang mempertemukan aku dengan orang-orang yang tak melihatku dari sisi yang tak kusukai. Semua mengalir wajar tanpa melibatkan unsur paksaan. Mereka mengijinkan aku hadir memberi arti tanpa harus mengubah diri. Aku merasa lebih dihargai.
Aku mulai menyebut teman-temanku sebagai kehidupan. Kakakku menyebut diriku makhluk asing. Papiku bilang Tuhanku adalah teman-teman.
+ + + + +
Rayhan yang romantis dan jago memainkan gitar bak menyempurnakan hidupku. Aku biasa memanggilnya Ray. Berpostur tinggi besar, kulit putih bersih dan wajah rupawan bagai satu paket dengan darah seni yang mengalir dalam tubuhnya. Dia begitu mahir menyusup di sela-sela ruang hatiku dan membuat jiwaku kian kenyang hingga tak lagi mengenal kata kelaparan. Dia sangat penuh perhatian.
Dari senin sampai sabtu bersama teman-teman, berlanjut malam minggu dan satu hari minggu penuh bersama Ray membuatku serasa hidup tujuh hari di atas awan. Kalau pada saat itu ada yang bertanya siapa makhluk paling berbahagia di dunia, aku sudah tahu jawabannya.
Namun sudah takdirnya kalau langit selamanya harus berdampingan dengan bumi. Aku tak bisa terus berlama-lama bermain di antara kapas-kapas raksasa, bumi pasti akan merengutku untuk kembali menyentuh tanah dengan segala cara. Ray juga yang mengawalinya.
Sabtu dan minggu mulai tak cukup bagi Ray. Dia mulai merengsek ke hari-hari lainnya. Tiba-tiba saja aku seperti dipaksa memilih antara dia dan teman-temanku. Pilihan yang awalnya sempat kuanggap tak akan pernah ada, seolah istana besar itu tak cukup menampung keberadaan mereka semua. Bukankah kita semua satu atap ? Bukankah Tuhan hanya memiliki tujuh hari untuk menciptakan bumi ?
Ray berdalih dua hari bukanlah waktu yang cukup untuk cinta. Selama ini dia merasa hanya sebagai pelengkap bagi diriku yang lebih mengutamakan teman-temanku, mengilustrasikan keberadaannya sebagai bingkai kayu yang kian lapuk sementara aku dan teman-temanku adalah lukisannya. Pemikiran yang menurutku bodoh dan entah datangnya dari mana itu membuatku marah. Aku, teman-temanku dan juga Ray adalah warna-warna natural di atas kanvas lukisan hidupku. Aku jelas nggak terima jika ada satu tokoh dalam suatu cerita yang mengharapkan peran lebih besar dengan cara mengusik keberadaan karakter lain yang telah hadir lebih dulu. Satu warna yang ingin tampil lebih dominan jelas berpotensi merusak keindahan lukisan. Namun Ray tetap bersikukuh dengan pendiriannya. Setelah melalui debat sengit yang tak berujung Ray pergi begitu saja meninggalkan istana. Sekali lagi bantal tidurku menjalankan perannya sebagai pembasuh air mata.
+ + + + +
Kepergian Ray seolah meninggalkan sesuatu yang tertanam dalam, yang tak bisa begitu saja kucabut dan kubuang. Seolah ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiranku bahwa yang terjadi bukan hanya sekedar perpisahan. Pendirian Ray bak tembok tebal yang sulit kurubuhkan, yang memaksaku menatapnya terus menerus hingga aku merasa tersiksa setiap mencoba untuk melupakannya. Walau Ray telah pergi namun roh nya bak menghantui setiap sudut ruang hatiku.
Ketika permukaan telaga mulai terlihat jernih, terbersit pemikiran kalau Ray mungkin tak sepenuhnya bisa dipersalahkan, mungkin justru aku yang selama ini tanpa sadar membiarkan sebuah kesalahan menjadi pola kebiasaan. Ray bukanlah sekedar pelengkap, dia adalah bagian dari kehidupan sehari-hariku. Tapi pola sabtu minggu mungkin tak bisa sepenuhnya diterima sebagai kewajaran, mungkin komposisi warnanya memang tak harus baku agar lukisannya bisa lebih hidup dan tak berkesan kaku. Seangkuh itukah aku ?
Diam-diam keteguhanku mulai memudar, keraguan kian memenuhi setiap sudut ruang, perasaan bersalah tiba-tiba saja menjadi ada. Maafkan aku teman-teman, mungkin waktu buat kalian memang kebanyakan.
Ternyata ruang hatiku tak seluas yang kukira, ternyata istana itu lebih sempit dari yang aku bayangkan. Ketika seseorang ikut hadir menghuni isi hati dan merasa kenyamanannya terusik, ternyata malah membuat ego ku lantang bicara. Tanpa sadar aku lebih takut kehilangan teman-temanku dibanding Ray, segores makna terungkap aku belum seutuhnya siap menerima kehadirannya. Drama singkat satu babak itupun berakhir duka dengan perih tersebar di pelataran jingga.
Namun aku tak bisa berbuat apa-apa. Terpekur dalam dekapan warna ungu sambil meratapi cinta yang kini bagai menjelma puing-puing. Seolah tak ada yang tersisa untuk diselamatkan selain menyimpulkan semua yang terjadi sebagai kegagalan. Dibalik segumpal rasa sesal yang menyiksa terselip pesan sederhana dalam bait puisi, andai ada kesempatan kedua.
+ + + + +
Setelah lulus kuliah aku bekerja di sebuah perusahaan advertising. Frekuensiku bersama teman-teman menurun drastis tapi belum bisa dibilang habis. Satu hari sejak pagi hingga sore di tempat kerja jelas menguras segalanya. Namun aku tak mau menyerah pada sang waktu, sepulang kerja selalu kusempatkan menemui mereka untuk sekedar jalan-jalan di mall, nonton film, atau nongkrong di coffee corner favoritku.
Sudah tak ada lagi Ray, tapi aku masih punya sedikit teman dan satu teman lagi yang selalu menemaniku kemana saja aku pergi, “Uang”. Sesuatu yang dulu datang musiman hanya kalau ada event, kini rutin singgah sebentar di dompetku, sebelum berputar menyapa tempat-tempat mangkal dan semua benda-benda konsumtifku. Kalau tanggal tua credit card selalu jadi andalan, toh akhir bulan juga gajian.
Meski gajiku tak seperti kedua kakakku yang bekerja di perusahaan besar, aku masih bisa menyisakan sedikit uang belanja buat mamiku yang selalu disambut dengan senyum teduhnya. Awalnya mami sempat menolak karena lebih suka aku menyimpan sendiri uangku, namun akhirnya mami mau juga menerima setelah setengah kupaksa. “Terima kasih ya nak” kalimatnya selalu begitu.
+ + + + +
Disuatu sore yang oke Ray datang lagi memecah rutinitasku, katanya dia belum bisa sepenuhnya melupakan aku. Perasaan bersalah yang telah rapat kusimpan tiba-tiba saja menyeruak ke permukaan sambil menyanyikan lagu-lagu kesepian. Seolah menyadarkan aku kalau kesenanganku selama ini tak lebih dari sebuah pelarian. Semenjak temanku pergi satu demi satu menenggelamkan diri dalam aktivitas kerja, yang tersisa seolah hanya menjadi tempatku bersembunyi dari sepinya hati. Ruang dan waktuku bersama makhluk-makhluk ajaib itu sebenarnya kian tak berpihak namun aku masih berusaha memaksakan diri.
Aku masih berpikir kalau aku ada karena mereka “masih ada”. Seolah tanpa mereka aku bakal tak bernyawa. Tanpa kusadari aku sendiri yang memilih menunggu sampai semuanya benar-benar habis, aku bagai penghuni terakhir yang membuka pintu bagi semua temanku menuju kehidupan baru. Seperti orang terakhir di stasiun yang mengantar semua temanku berlalu naik kereta dengan tujuannya sendiri-sendiri. Sepertinya aku sengaja memilih memikul beban itu. But please, jangan bilang aku seangkuh itu.
Katanya kehidupan adalah proses seleksi alam. Sepertinya aku lebih suka menyaksikan semuanya berjalan lancar. Mungkin karena alasan itu aku ada. Mungkin. Atau mungkin selama ini aku hanya sibuk mencari alasan ku sendiri mengapa dihadirkan di muka bumi. Mungkin juga.
+ + + + +
Saling memaafkan ternyata sanggup meruntuhkan dinding keangkuhan sekaligus mencairkan kebekuan. Sedikit ampas kopi yang tertinggal di dasar cangkir itu kini telah resmi kubuang, yang membuat beberapa mili gram serbuk cream selama ini nggak maksimal mengantarkan hulu ledak di permukaan lidahku. Aku kini bebas mengisi cangkir itu dengan minuman yang aku mau. Aku menerima Ray kembali ke dalam kehidupanku.
Sama seperti dulu, Ray yang flamboyan selalu menawarkan sensasi keteduhan. Sisi romantisnya bagai mengantarkan aku terbang ke setiap celah penjuru langit. Kesukaannya bermain gitar sambil menyanyikan lagu-lagunya Glen Fredly bak menafasiku dengan udara segar dari taman surgawi. Semua itu kuimbangi dengan ribuan hasrat yang menggelora demi memperbaiki kesalahan di masa lalu. Kubiarkan hatiku terbuka lebar agar cinta bisa hadir lebih leluasa untuk memusnahkan semua lapisan ego, hingga aku serasa telanjang di alam terbuka menyambut serbuan panah asamara. Aku menyerah pada cinta.
Cinta adalah hidup, aku tak ingin lagi sekedar menjalani seperti sekedar status yang melekat pada rutinitas sehari-hari. Kali ini aku ingin menjadi bagiannya, ini adalah saatnya untuk memberi arti bagi cinta setelah sekian lama hanya jadi pemujanya.
Ternyata aku tak se-siap itu. Aku pun tak setegar yang kukira. Kehidupan selalu memiliki caranya sendiri untuk menyeleksi siapa yang berhak mencintai dan dicintai. Mungkin aku bukan salah satunya. Semua kembali berawal dari Ray. Aku bagai terhempas keras ke bumi setelah sempat terbuai cinta di atas arak-arakan mega. Sepeninggalnya dari istana ternyata Ray sempat menjalin hubungan serius dengan makhluk posesif tingkat akut. Seseorang yang tak mengenal kata main-main, yang akan melakukan segala cara untuk memperbaiki kehidupannya. Dibalik sikap romantis dan flamboyan, terlihat jelas sisi ketidaktegasan, peragu, penakut bahkan pengecut seorang Ray. Jelas dia kembali hadir dalam kehidupanku tak lebih sebagai pelarian meski berdalih sejuta penyesalan.
Aku meradang. Aku tak bisa menerima status sebagai orang ketiga meski Ray berulang kali berkata aku adalah segalanya. Dia memilih aku tapi tak pernah bisa meninggalkan masa lalunya. Sama saja. That’s bull shit ! Ray bukan pujangga, dia tak lebih dari seorang pendusta. Ternyata dia menuang penuh kedalam cangkir se-sachet kopi plus air panas tanpa gula. Setelah pertengkaran hebat yang kedua Ray kuusir dari taman hati yang sudah terlanjur penuh duri.
Disaat aku berharap kesempatan kedua dapat memperbaiki keadaan ternyata aku malah menimbun luka yang lebih dalam. Seolah aku memang ditakdirkan terus terluka berlinang air mata di sepanjang hidupku. Seolah memang sengaja dibiarkan memikul beban yang tidak semestinya aku tanggung hingga akhirnya harus hidup sendirian di dalam istana tanpa cinta.
Sungguh cerita ini bukan rancanganku, awalnya aku hanya mencoba memilih jalan ceritanya saja yang tadinya aku kira akan berujung bahagia. Namun kini aku mulai berpikir kalau cerita ini sepertinya memang sengaja diciptakan untukku. Sebuah kisah sedih nan pilu yang membuatku kian hidup dalam sendiriku. Wahai langit dengarkanlah tangisanku.
+ + + + +
Semula aku mengira yang menjadi penghuni terakhir istana hati akan terpilih sebagai sahabat alam. Namun sepertinya alam tidak berpikir seperti itu. Berpikir peduli tidak berarti serta merta memastikan keberadaanku sebagai bagian darinya. Bahkan sepertinya kehidupan tak pernah sepenuhnya menghendaki kehadiranku. Seolah keberadaanku tak lebih dari ilalang kering yang merusak keindahan hijau rerumputan. Kenyataan hidup seolah lebih suka bicara sendiri walau aku telah jungkir balik mencoba menggali eksistensi diri.
Belum habis air mataku meratapi luka yang ditinggalkan Ray aku masih harus berhadapan dengan derita selanjutnya, sederet problema yang tak pernah aku bayangkan akan menimpaku sebelumnya. Krisis ekonomi yang tengah melanda negeri, yang berujung pemutusan hubungan kerja dalam skala besar-besaran ikut menghantam perusahaan tempatku bekerja. Aku ikut dalam bagiannya. Aku harus menerima kenyataan pahit ikut di-PHK dan beralih status sebagai pengangguran dengan banyak hutang. Tak ada lagi yang bisa aku andalkan untuk membayar tagihan belanjaku di waktu lalu yang sudah terlanjur menjadi gaya hidupku.
Aku terpaksa harus kembali menjadi penghuni rumah dengan segudang masalah. Tapi aku belum mau menyerah. Kirim surat lamaran kerja setiap hari dan telpon sana sini mencari job musiman menjadi pilihanku untuk terus berlari. Namun setelah berjalan sebulan tanpa jawaban aku mulai memberi isyarat akan menyerah. Sepertinya aku harus bersiap-siap untuk kalah. Tak ada lagi sisi kebenaran yang tersisa untuk kutampilkan demi kujadikan pembuktian, aku kian dekat dengan kegelapan. Entah mengapa teman-temanku pun sepertinya sengaja menjauhiku disaat aku benar-benar sedang membutuhkan bantuan. Mungkin bau tak sedap itu berasal dari statusku yang pengangguran tanpa uang dan terjerat hutang. Sikap mereka sungguh sulit untuk kumaafkan. Untuk pertama kalinya aku merasa tak memiliki siapa-siapa. Ternyata sejauh ini mereka hanya mengajakku melupakan semua problema lewat canda tawa bukan menghadapinya.
Tak ada pula uluran tangan malaikat dari langit yang sudi menolongku. Sama sekali tak ada tanda-tanda keajaiban akan datang. Alam bagai mengingkariku.
Setelah tabunganku habis dan debt collector mulai rajin mencariku ke rumah, aku benar-benar menyerah. Mimpi indah yang selama ini menjadi kekuatanku kini lenyap tak berbekas. Kenyataan hidup kini hadir dalam wujud nyata dihadapanku, menebar duri-duri tajam di setiap jalan yang kulalui, mengotori udara yang kuhirup hingga aku sesak nafas, memenuhi meja kehidupanku dengan bergelas-gelas kopi pahit yang setiap saat harus aku minum dikala kehausan.
Kakakku benar, aku makhluk asing bukan penghuni rumah. Papiku juga benar, aku hanya pembawa masalah. Ketika mami datang ke kamarku di malam hari sambil menyerahkan kalung dan gelangnya diam-diam agar aku menjualnya untuk melunasi semua hutang, aku tak menganggapnya sebagai pertolongan. Sedemikian berat beban yang harus ditanggung mamiku untuk menjadi pembelaku. Kasihan mamiku, dia berada di pihak yang salah.
Setelah mami beranjak pergi sambil mematikan lampu kamar dan menyuruhku tidur, mataku tak juga mau terpejam. Kegelapannya sama saja, disaat lampu belum dimatikan pun aku tak merasakan keberadaan cahaya. Aku tak butuh bantal lagi untuk menutupi wajahku karena tak ada lagi yang harus kutangisi. Air mataku terlanjur kering.
Aku jadi teringat dengan kalimat yang diucapkan seorang tokoh dalam film sejarah wajib tonton setiap tahun ketika aku masih SD, “Hidup ini pahit jendral !” Seperti itu arti hidup bagiku, pahit dan hening sepi. Semesta tak pernah mau bicara lagi walau hanya melalui mimpi. Istana itu tak pernah ada, semua itu hanya ilusiku sendiri. Atau aku yang seharusnya tak perlu ada. Mungkin seharusnya aku memang tak perlu dilahirkan. Aku hanyalah sebuah kesalahan.
+ + + + +
Lupita adalah sahabatku waktu SMA. Pertemuan yang tak sengaja lewat facebook itu seolah menjadi selingan ringan yang mengingatkan aku kalau setidaknya masih memiliki teman. Sejak lulus SMA dan masuk kuliah hingga aku bekerja Lupita memang sempat terlupakan.
Penampilannya sekarang jauh berubah, selalu berkerudung dan aktif di kegiatan-kegiatan sosial. Aku yang kuno atau memang nggak pernah peduli sampai nggak mengerti mengapa kain penutup sebagian besar kepalanya, dan hanya menyisakan wajah mungil itu justru membuat Lupita tampak lebih cantik dibanding dulu.
Aku menemuinya sore itu hanya untuk sekedar berbagi bukan lagi mencari pembelaan diri. Karena menurutku aku sudah tak layak untuk dibela. Membela diriku hanya akan berakibat ikut menanggung nasib buruk seperti yang dialami mamiku. Aku hanya sedang merasa malas sendirian dan butuh seseorang untuk mendengar atau mungkin didengar. Siapa tahu Lupita punya sepercik air buat membasahi jiwaku yang sedang kering, sekaligus menepis segala kekalutan yang kini mulai memenuhi isi benakku.
Aku mulai takut kemarau ini terus berlanjut, aku takut terus-terusan jadi pengangguran, aku takut terus-terusan hidup sendirian dan mengakhiri hidup sebagai perawan tua yang seolah sudah menjadi phobia yang mewabah, yang bahkan mungkin sudah terlanjur menjadi mitologi yang ditakuti. Aku takut dengan esok hari.
Aku juga tak berharap Lupita mau jadi sekutuku, karena aku pun telah kehilangan hasrat menjalin persekutuan dengan siapa saja. Menjadi penyendiri menurutku jauh lebih baik dari pada menjadi bagian dari sebuah koloni. Menurutku aku juga tak pantas ikut-ikutan berkerudung seperti Lupita, wajah murung dan pucat pasi ini pasti sangat tak layak untuk dinikmati. Kasihan kerudungnya.
Di relung hati terdalam aku justru iri dengan metamorfosa Lupita. Meski dia tak seceria dan meledak-ledak seperti dulu, namun dalam setiap ucap dan gerakan seolah ada yang menuntunnya. Dia seperti hidup dalam dekapan ribuan malaikat hingga dia terlihat begitu sangat dewasa. Aku tak merasa seberuntung itu, mungkin kehidupan lebih memilih Lupita dibanding aku. Dia begitu bebas meraih kebebasan hati dan tak pernah merasa haus dikala menyapa jiwa-jiwa yang kekeringan, seperti aku salah satunya.
Ketenangannya mengagumkan walau aku bagai menyerbu benaknya dengan ribuan kalimat yang selalu diawali dengan kata “mengapa”, namun dengan penuh santun Lupita berkata, “Ada kalanya kehidupan tak berpihak pada seseorang, seolah semua orang hanya melihat kita dari sisi yang kita sendiri tidak menyukainya. Apa saja yang kita lakukan pada saat itu akan selalu tampak salah dimata mereka. Biarkan saja semua mengalir apa adanya, kita tak perlu memaksakan diri untuk mengubahnya. Selebihnya bersabarlah, biarkan waktu yang mengurai dengan sendirinya”
Lupita sungguh bagaikan mata air yang membasahi sawah ladangku yang tengah merindukan hujan. Ketika kata mengapa yang terakhir meluncur dari bibirku Lupita hanya menjawabnya dengan sebaris kalimat sederhana tapi sarat makna, “Terimalah kenyataan bahwa kita hidup di atas norma. Yang aku tahu hampir semua orang mengagungkannya meski mereka semua mengaku beragama”
+ + + + +
Bicara soal sabar berarti masalah waktu, itu bisa jadi lama sekali. Entah sampai kapan aku harus menunggu mendung ini segera berlalu dan mempersilahkan matahari datang bersinar lagi. Dalam perjalanan pulang aku merenungkan semua kata-kata Lupita.
Aku justru berpikir mencari cara agar bisa terlihat dari sisi yang sebenarnya, sisi yang menyenangkan bagi semua orang. Selama ini mungkin aku salah mengambil posisi atau salah berdiri hingga mereka melihat sisi yang tak seharusnya mereka saksikan. Dan aku tak mau membiarkan mereka terus melihat selama itu. Aku tak mau menunggu. Kalau perlu aku akan pergi ke tukang tato supaya menuliskan kata-kata di punggungku, “Ini bukan wajahku” agar mereka melihat lagi wajah si penyanyi di atas meja yang mengenakan pita dan baju warna merah muda.
Tanpa disadari sedari tadi aku hanya sibuk dengan pikiranku sendiri, mengindahkan mendung pekat yang selama ini menghiasi seluruh wajah langit hingga malam terlihat begitu gelap. Aku terkejut ketika tiba-tiba hujan turun begitu deras menumpahkan bergalon-galon air ke muka bumi, hingga jalan-jalan dipenuhi air meninggi dan memaksa sepeda motorku tak mampu bergerak lagi.
Seketika aku terdiam dan sempat dilanda kebingungan dihinggapi rasa tak percaya. Kutengadahkan kedua telapak tangan mencoba merasakan sentuhan air hujan demi memastikan yang sedang terjadi. Anganku seketika terbang ke masa lalu untuk memastikan bahwa yang terjadi bukanlah déjà vu. Namun apalah artinya itu. Benar tidaknya yang terjadi diwaktu lalu tak dapat mengubah situasi yang sedang kuhadapi. Ini nyata, ini bukan khayalan, aku harus bereaksi menjemput kenyataan sepahit apapun itu. Yang lalu biarlah berlalu.
Semua yang terjadi sesudah itu bagai adegan lambat. Aku turun dari sepeda motor menyapa realita, sepasang kakiku sudah tak tampak karena tertutup genangan air nyaris sebatas lutut. Lalu kutuntun sepeda motorku ke tepi jalan mencari tempat yang layak untuk berteduh. Pilihanku jatuh pada sebuah ruko dengan teras beratap lebar yang tampaknya bekas toko roti yang sudah lama tutup.
Aku tak sendiri, beberapa orang dengan sepeda motor bernasib sama telah lebih dulu sampai disitu. Kami semua tak saling kenal dan tak ada yang mencoba saling bicara, hujan deras sudah cukup menenggelamkan semua suara. Kami semua hanya terdiam menikmati orkestra kehidupan hingga hujan lebat beralih gerimis dan akhirnya berhenti dengan sendirinya setelah dua jam terlewati. Air di permukaan jalan juga sudah menyurut menyisakan sebatas mata kaki.
Sesudah itu semua orang tampak sibuk mencoba menyalakan mesin sepeda motornya. Entah mengapa aku memilih diam saja. Aku juga tak berpikir untuk menelpon ke rumah memohon bala bantuan. Aku justru tampak menikmati pemandangan itu, seolah aku sengaja menunggu mereka semua pergi sebelum aku menuntun kembali sepeda motorku untuk mencari bengkel terdekat yang mungkin masih buka.
Tiba-tiba seseorang mendekatiku, “Sini, mana kuncinya, aku bantu menghidupkan mesin sepeda motornya” Orang itu nyata, senyata suaranya yang bak mengandung kekuatan magis hingga aku menyerahkan kunci motorku begitu saja, seolah aku juga nggak keberatan kalau motorku sekalian dibawa pergi.
Namun yang terjadi tidak seperti itu, orang itu bersungguh-sungguh berusaha menghidupkan mesin sepeda motorku. Sesudah memastikan semuanya baik-baik saja, orang itu menyerahkan kunci dan segera berlalu meninggalkan aku. “Terima kasih” bisikku.
Aku yang terakhir berlalu dari tempat itu. Langit kembali tampak jernih, binar cahaya bintang seolah tersenyum menatapku sambil menyanyikan lagu-lagu cinta yang sudah lama tidak aku dengar. Semua kejadian itu nyata. Semua masalah itu ada. Sepertinya aku sendiri yang sesungguhnya tak pernah ada. Aku hanya ilusi dari semua cerita.
Sesampai di rumah larut malam dan makan malam terlambat seperti biasanya, di rumah juga tidak terjadi apa-apa. Seolah ada atau tiadanya aku semua akan berjalan baik-baik saja. Kulirik meja kayu di kamar tamu, aku juga tak ingin bernyanyi hanya untuk memastikan kalau aku masih ada.
Tak perlu. Biar cerita ini berlaku dengan atau tanpa aku. Semua telah berjalan sempurna tanpa aku harus mengubahnya. Aku lebih suka mencumbui tabir tiga dimensi ini sampai mati. Indah sekali.
+ + + + +
Aku sungguh-sungguh tak mengerti, dari kaca mata logika seharusnya di tempat itu sudah tak lagi ada kehidupan. Mestinya hanya permukaan tanah yang bersih karena daun-daun kering serta bunga yang telah mati telah disapu oleh genangan air hujan. Namun kini yang kulihat justru bunga-bunga segar dengan kelopaknya yang mengembang mesra menatap semesta langit.
Kemana perginya bunga layu yang kulihat dua hari yang lalu ? Jika yang tengah kulihat saat ini adalah bunga yang sama, siapa yang kembali menafasinya ? Bukankah dia hanya bunga liar di tepi jalan yang tak ada pemiliknya ?
Mungkin hujan deras kemarin yang mengubah bunga liar itu kembali hadir mempercantik jalan walau tak ada seorangpun yang meliriknya. Mungkin hujan itu pula yang mengubah sudut pandangku pada semua yang aku lihat dan yang kurasakan. Hidup menuntut cinta absolut dalam wujud pertanggungjawaban, lewat aksi nyata dalam menyikapi semua masalah yang tergelar di berbagai peran. Sebanyak apapun aku bicara tidak akan pernah membuktikan apa-apa. Meniadakan masalah lewat angan-angan hanya akan memperlebar jarak antara diriku dengan cinta kehidupan.
Ada atau tiadanya aku bukan lagi beban bagi pikiranku, aku tak perlu lagi memaksakan keberadaan harus selalu dengan caraku. Semakin aku tahu siapa diriku semakin pula aku tak mengenalinya. Dua sisi dalam diriku akan selalu menyiratkan banyak makna. Aku hanyalah manusia biasa. Siapapun berhak melihatku dari sisi mana saja yang mereka mau. Secangkir kopi akan tetap menjadi minuman favoritku walau hari demi hari komposisi takarannya tak selalu persis sama. Berpulang bagaimana caraku menikmatinya tanpa memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi, sebagaimana cerita pribadiku yang bermuara pada how to survive yang sarat muatan cinta dengan segala pernak-perniknya. Selebihnya biar semesta yang bicara lewat panas matahari atau hujan demi melanjutkan cerita-cerita.
---***---


No comments:
Post a Comment