Thursday, September 16, 2010

SATU HATI


Ketika waktu menjadi satu-satunya sandaran yang tersisa, tiada lagi dua. Semua satu adanya. Degup jantung berdetak seirama walau jasad terpisah jarak ribuan depa. Terkadang perasaan sedih tanpa alasan hadir begitu saja, menyampaikan kesedihan yang sama di seberang sana. Lautan boleh luas, jagad tetap saja tak bertepi, namun hati tiada lekang menjembatani. Bak benang sutra halus yang tiada putus, memupus jarak berselimut rasa nan tulus. Menyapa mega-mega yang rapat berarak, bersenyawa dengan hembusan angin seiring tarikan nafas. Tak ada yang dibuat-buat, karena sedikit yang terungkap dapat mempersempit jarak. Meski semesta masih pelit berbisik tentang kemana arah tujuan. Pedih perih mengantar jiwa melayang, kaki berpijak tiada henti diterpa cobaan.
Jangan tanyakan seberapa sakitnya, karena bahagia tak lagi menampakkan wujudnya. Rupa keindahan hanyalah tinggal kenangan, terukir rapi di prasasti cinta di tepian telaga. Meski batu-batu itu tak pernah bicara, udara di dalamnya adalah saksi saat-saat bersama. Perjalanan hidup yang penuh likunya, setia merengkuh peluh di batas asa. Jatuh dan jatuh lalu jatuh, katanya. Saat dirinya terkapar dan terhakimi di sudut ruang, sementara tangan mereka menggenggam berlembar-lembar catatan kesalahan. Apakah salah akan tetap dianggap salah, tanya nya. Apakah salah akan menjadi tambahan nama, tangis nya. Nestapa tak lagi mampu bersembuyi dibalik senyum manisnya, isak tangis mengkoyak tabir tawanya, sakit hati meruntuhkan dinding keangkuhannya. Jeritan hatinya membelah langit, membangunkan dewa-dewa dari tidur lelapnya. Para malaikat pun turun merasuki persendian, mengulurkan jemari suci di permukaan sendang. Membasuhi wajahnya yang sarat dengan air mata. Menawarkan cinta dengan kedua sayapnya.

Kini gadis kecil itu tak lagi menggigil, semesta telah menghangatkan tubuh rapuhnya dengan belaian tegur sapa. Seiring bersama menjemput kedewasaan di alam kesendirian, menjangkau birunya langit berteman kesepian di relung hati yang paling dalam. Namun keagungan cinta harus ditebusnya dengan duka lara. Lewat kerinduan yang mengalir lembut di setiap aliran darahnya. Ruang dan waktu semakin menjauh, menanti cinta mencari sendiri jalan keluarnya. Dia hanya berharap pada sang angin untuk menyampaikan kerinduan, dan membalasnya kembali dengan syair-syair cinta nan indah dari tanah seberang. Walau sang waktu tak pernah berpihak, meski ruang tak pernah utuh, dengan nafas cintanya dia tak henti berkayuh. Karena seberapapun yang ada ruang dan waktu tak akan pernah cukup. Dunia terlalu sempit, ladang cinta yang ada terlalu sedikit, tak mampu melingkupi cintanya yang bergelora. Harapannya terungkap pada baris-baris doa, agar semesta sudi memberinya secawan anggur penuh cinta. Agar dirinya bisa mabuk bermesra-mesra di sisa hidupnya. Agar bisa seperti darwis yang membebaskan jiwanya menari-nari di taman hati. Selebihnya adalah rahasia, cinta hati yang tak mampu dijelaskan dengan kata-kata. Kekasihnya adalah cintaNya.



Aku membayangimu namun tak mengganggu,

berpalinglah maka aku tiada
Aku mendorongmu namun tak mencampurimu,
berjalanlah maka cintaku ada
Aku mengangkatmu namun tak merubah takdirmu
karena kamu milikNya

Kamu cintaku sampai mati
karena membawa separuhku
Bawalah untukmu jangan untukku
Terbanglah tinggi sesuka hati
agar kamu dapat menggapai bintang di langit




**********************************************************


No comments: