Wednesday, September 1, 2010

RASA MERASA


Di sudut pasar yang riuh lalu lalang manusia, seorang nenek penjual buah sedang duduk sembari memangku cucu laki-lakinya. Si kecil budi menikmati hangat dekapan sang nenek, wujud bahasa rasa yang selalu dia rindukan di setiap detik untuk bermanja-manja. Bahasa cinta milik jiwa yang dia belum kenali kata-katanya. Yang suatu saat nanti akan dia telusuri demi mengenali kehidupan dan semua misterinya.

Tiba-tiba si budi menepis tangan sang nenek, beranjak dari pelukan menuju etalase sederhana di hadapannya. Tangannya sibuk menyentuh masing-masing buah sambil menanyakan nama-nama, meski diantara jemarinya masih terselip gula-gula. Dengan penuh kesabaran berhias senyuman sang nenek menyambut pertanyaan cucunya. Tak lama berselang pembeli datang satu demi satu. Keranjang demi keranjang terjual mengiringi sentuhan si budi di setiap buah dengan pertanyaan yang diulang-ulang. Sang nenek tak lagi sempat duduk, tak ada transaksi yang terlewati hingga sore hari.

Menjelang pulang sang nenek mendekap si cucu dengan pelukan erat tak berkesudahan, hikmah yang terjalin terlukis di sepasang binar mata. Mensyukuri nikmat Tuhan lewat keberadaan cucunya. Jiwanya melayang menjangkau langit, setelah sentuhan keajaiban tergambar jelas di depan mata. Namun si kecil budi tak mengerti, dia tak merasakan apa-apa kecuali hangatnya pelukan cinta. Dia kembali mengoceh meminta gula-gula.

+ + + + +

Suaranya serak dan cenderung sengau, tapi tehnik vokalnya bagus. Lagu-lagu yang dinyanyikan terdengar indah dan menyentuh. Sebagian pengamat musik berkata bahwa vokalnya berkarakter, unik, khas dan menjual. Tapi dia tak perduli, bahkan tak mengerti dengan beragam komentar atau pujian yang dialamatkan kepadanya. Dia hanya mengikuti kesukaannya menyanyi yang digelutinya sejak kecil. Sementara tehnik bernyanyi dia dapatkan dari beberapa guru vokal tempat dia belajar, lewat proses perjalanan yang cukup panjang. Selebihnya dia merasa bahwa jenis suaranya biasa-biasa saja, bahkan menurutnya banyak penyanyi lain yang memiliki suara yang lebih bagus dari dirinya.

Dia juga tak mengerti bagaimana dirinya bisa memiliki banyak penggemar, dan heran melihat mereka menjerit histeris ketika mendengar dirinya bernyanyi. Seandainya rongga hidungnya bergeser sedikit lagi mungkin suaranya akan sengau berlebihan. Dia tak hanya akan tak bisa bernyanyi tapi juga cacat dalam bersuara. Menurutnya dia hanyalah orang yang beruntung.

Mungkin dia akan lebih heran lagi jika mengetahui banyak penyanyi-penyanyi lain yang iri dengan jenis suaranya. Terutama para pemula yang merasa dirinya memiliki suara bagus namun divonis vokalnya tidak berkarakter dan tidak komersil. Mereka yang harus mengemis-ngemis di depan pintu dapur rekaman, yang sejauh ini hanya beraksi diatas panggung kelas dua.

+ + + + +

Si konsultan tehnik bangunan juga tidak mengerti mengapa orang-orang berduit lebih mempercayakan rancang bangun kepadanya. Ketika dia menanyakan sebabnya mereka memiliki jawaban yang berbeda-beda. Tak ada jawaban yang pasti, semua lebih mengarah pada kecocokan hati. Yang dia sadari dengan pasti, design nya biasa-biasa saja, banyak arsitek lain yang lebih hebat dari dirinya.

Sama hal nya dengan si pengepul barang rongsokan, dia juga tidak mengerti mengapa para pemulung lebih suka mengantri di depan gudangnya yang sempit dan sederhana. Atau si pemilik warung kopi yang setiap malam selalu dijejali pengunjung yang berebut tempat di bangkunya yang terbatas. Meski di sisi kanan dan kirinya berderet-deret warung kopi yang serupa.

Sang Maha Berkehendak memiliki sekian keajaiban yang sudah dipopulerkan oleh para mesias, agar manusia tahu bahwa Yang Maha Pemurah tak segan-segan meminjamkannya pada manusia di kedalaman alam rasa. Sentuhan rasa yang mengalir bersama aliran darah, yang memancarkan pijar pesona melalui panca indra. Sementara dunia tarik suara, dunia rancang bangun, dunia dagang adalah perantaranya. Namun ketika sentuhan rasa itu berubah menjadi merasa tahu atau merasa bisa oleh pemiliknya, keajaiban akan menghilang menyisakan aksi tanpa pesona. Para pembeli, klien atau penggemar akan pergi mencari perantara keajaiban yang lain.

Seorang juru masak yang terkenal seantero jagad, sejatinya tak pernah bisa merasakan masakannya sendiri. Dia ada untuk yang lain, agar mereka bisa menikmati sentuhan keajaiban Yang Maha Agung lewat tarian jemari di atas dawai harpa. Kecerdasan dan sekian bakat yang berarti hanya untuk diri sendiri adalah sia-sia. Keajaiban ada di dalam diri manusia, terpatri pada mereka yang rendah hati. Sementara yang lain adalah penikmatnya, agar berkenan menelusuri asal cahaya untuk mengenaliNya.

Para penyanyi pemula tidak akan pernah bernyanyi di panggung utama selama dia merasa suaranya bagus. Seorang pedagang tidak akan pernah bertemu dengan banyak pembeli selama dia merasa hebat dalam berdagang. Perasaan adalah ruang bagi Yang Maha Daya untuk meminjamkan pengetahuan dan kemampuanNya, sedangkan merasa tahu atau merasa mampu adalah hawa nafsu yang diterbitkan oleh sang makhluk. Mengenali kemampuan diri dengan merasa mampu adalah berbeda. Yakin karena Tuhan dengan yakin karena bisa adalah tidak sama, yang membedakan adalah keajaiban yang menyertainya.




Ketika terbit merasa tahu,

saat itulah pengetahuan menghilang

Ketika muncul merasa mampu,

saat itulah kemampuan melayang


Ojo rumongso biso,

nanging biso rumongso




**********************************************************

No comments: