Tuesday, July 12, 2011

BODY LANGUAGE


Wajahnya sering menjumpai pemirsa, di sebuah acara talk show milik salah satu stasiun televisi terkemuka. Wawasannya luas dan otaknya cerdas. Penguasaannya pada topik acara sangat dalam dan aktual. Tak sedikitpun memperlihatkan kesan sedang berpura-pura, seolah tim kreatif pendukungnya di balik layar tak pernah ada. Parasnya cantik dan “menarik”. Kata sebagian orang, daya tarik utamanya adalah kecerdasannya. Namun sebagian lagi berpendapat sorot mata adalah pesona utama dirinya. Yang pasti dia sangat sadar kamera.
Mungkin banyak yang lebih cantik atau lebih menarik dibanding dirinya, namun dia bisa memastikan bahwa acara itu adalah miliknya. Penampilannya sangat percaya diri. Dia mampu menyatukan kecerdasan, wawasan dan segala yang melekat pada tubuhnya dalam satu harmoni. Lepas menyala dan berbendar-bendar menyilaukan mata. Tak hanya dimata pemirsa, semua tamu acara yang hadir untuk diwawancarai pun dibuatnya terpesona. Salah satu tokoh kharismatik yang sangat terkenal mampu dibuatnya tak berkutik. Tokoh itu harus berusaha keras untuk menguasai diri, agar tak kehilangan konsentrasi ketika menjawab pertanyaannya.
Dia sangat sadar akan siapa dirinya, sadar akan sorot matanya, sangat sadar ketika sedang berbicara. Sangat sadar ketika merubah posisi tubuh atau menggerakkan tangan dan kepalanya ketika berbicara. Ekspresi wajahnya mempertegas pijar auranya. Kecerdasannya mengalir sempurna lewat bahasa tubuhnya.
Ketika tokoh kharismatik itu pulang ke rumah dan istrinya menanyakan asal kepergiannya, jawab tokoh itu, “Aku baru saja jalan-jalan ke surga”

+ + + + +

Jono sedang curhat pada sahabatnya. Dia tidak mengerti mengapa bagian tubuhnya yang sensitif dapat bergerak sendiri diluar kendali. Andai obyek yang ada dihadapannya tanpa busana dan berkesan menggoda, dia bisa memahami. Namun saat itu dia sedang berbicara dengan seorang lawan jenis yang santun dan berbaju rapi. Meski wajahnya cantik namun jono sama sekali sedang tidak berfantasi. Obrolan hangat itu menjadi terganggu karena ada yang bereaksi di balik celananya. Dia sampai merasa jijik, bahkan sempat terlintas ingin memotongnya.
Anggota tubuhnya ternyata mampu berbicara sendiri diluar kendali pikirannya. Bereaksi ketika dia sedang sadar situasi. Siapa yang menggerakkannya ? Siapa yang mengajaknya bicara ?

+ + + + +


Telah dua kali mita mengalami pelecehan seksual. Dua-duanya dia alami ketika sedang berseragam sekolah. Dia sangat sadar dan bersikap seperti biasa, kata menggoda tak ada dalam pikirannya. Entah mengapa tiba-tiba seseorang datang dan menyentuh dadanya. Perasaan terkejut bercampur malu menekan diri dan membelenggu jiwa. Pikirannya terguncang hebat hingga wajahnya berurai air mata.
Mita tidak mengerti mengapa bisa terjadi. Teman-teman yang lebih cantik dan sexy ada di sekitarnya. Menurut mita mereka lebih berpotensi sebagai penggoda. Mengapa pada dirinya bukan pada yang lain ? Siapa yang menggerakkan tangan itu ? Mengapa tangan itu memilihnya ?
Pasangan married by accident rudi dan dessy juga memiliki pertanyaan yang sama. Keduanya sama-sama tidak mengerti mengapa tubuh mereka bisa saling berinteraksi tanpa terkendali. Padahal mereka sama-sama dibesarkan oleh lingkungan yang sangat mengenal agama. Menurut mereka semua itu terjadi begitu saja. Kata dosa pun telah melayang entah kemana.
Semenit sebelumnya mereka hanya ngobrol biasa. Semenit kemudian mereka berdua sudah sama-sama tak berbusana. Andai bahasa tubuh lekat dengan istilah isyarat, mereka berdua sama sekali tak merasa berbagi isyarat apa-apa. Selanjutnya tubuh mereka yang berbicara diluar kesadaran mereka. Siapa yang menggerakkannya ?

+ + + + +


Sungguh tak beruntung mereka yang tak mengenal dirinya sendiri. Mereka yang tidak tahu bahwa segala yang ada di dalam diri mampu bergerak sendiri di luar kendali. Kecerdasan yang tak teridentifikasi bisa saja bergerak liar merugikan orang lain maupun diri sendiri. Tangan yang terampil bisa mempengaruhi seseorang menjadi pencuri, kemampuan bicara dapat melahirkan seorang penghasut. Ketika dikemudian hari mereka tersudut, ketika mereka harus menanggung derita atas perbuatannya, situasi selalu menjadi alasannya. Pengaruh buruk dijadikan pemicu, pembelaan dan pembenaran diri menjadi tajuk utama, setan pun menjadi tersangka.
Tidak mengenali potensi diri menjauhkan seseorang dari kesadaran. Anak burung elang yang hidup diantara ayam selamanya tak akan pernah bisa terbang. Insting akan selamanya liar dan tak bersahabat jika tak dijinakkan. Bermakna bagi banyak orang atau diri sendiri sesudahnya adalah pilihan. Paling tidak menjadi orang yang mengerti, bahwa segala potensi di dalam diri membutuhkan taman bermainnya sendiri.

+ + + + +


Lebih buruk lagi mereka yang mengingkari. Yang berpikir ingin makan bukan karena perutnya yang minta diisi. Yang berhasrat ingin tidur bukan karena tubuhnya ingin berelaksasi. Tubuhnya akan bicara sendiri, melaju tanpa menghiraukan batas karena kehilangan koordinasi. Karena pikirannya sibuk sendiri.
Ketika menderita, ketika jatuh sakit, seseorang tiba-tiba saja sibuk menjawab panggilan tubuhnya. Menuruti apa saja yang dikehendakinya. Seberapa mahal biaya pengobatan akan diruruti. Lucunya mereka akan berkata seolah tak ada pilihan lagi. Mereka lebih menyesali waktu yang terbuang atau pekerjaan yang tak bisa terselesaikan. Sesuatu yang besar berawal dari yang kecil. Tak ada sungai yang tak bermuara. Sangat sedikit yang berkenan menelusurinya.
Lebih kasihan lagi mereka yang tertekan jiwanya, yang lebih berpotensi membiarkan tubuhnya bebas berbicara menyampaikan perasaan tertekannya. “Sentuhlah aku” atau “jamahlah aku” bisa meluncur sendiri tanpa disadari. Beruntung jika mereka dipertemukan oleh kehidupan dengan seseorang yang mampu meyalurkan tekanan. Yang dapat diajak berbagi melalui rasa, sembari menulusuri perbedaan menarik dan menggoda.

+ + + + +


“Lihatlah aku”, kata bahasa tubuh mereka yang sedang “menarik”. Panggilan halus yang tak terdengar kepada yang lain agar mereka bisa diterima. Yang menerima panggilan membalasnya dengan jawaban yang tak kalah halusnya. Mereka balik mempertanyakan kemampuan nyata atau kemampuan beradaptasi. Tuntutan sebagai teman bicara, rekan kerja atau keselarasan interaksi dalam banyak hal menjadi jalan bagi mereka untuk ikut menyeleksi atau diseleksi. Jika gagal menjawabnya mereka akan tersisih dari lingkungannya.
Selanjutnya mereka akan pergi, “lihatlah aku” akan terdengar lagi ketika bertemu habitat yang baru.
Setiap orang memiliki daya tariknya sendiri, tak terkecuali bagi mereka yang memilih menyendiri di sudut meja. Atau pada mereka yang memiliki bentuk dan ukuran yang tak biasa. Karena daya tarik sama sekali tak terikat dengan keduanya. Seseorang yang gemuk akan terlihat menarik tanpa harus menguruskannya. Demikian pula sebaliknya. Sesedikit apapun daya tarik selalu melekat dalam diri manusia. Selama manusia dapat bersikap menerima dan apa adanya, tak berlebihan dan tak dibuat-buat. Andai ada sebagian dari mereka yang tekun mengasah potensi diri, hingga rasa percaya diri mulai hadir menari-nari, tak terbayangkan seberapa hebat daya tariknya bicara.
“Lihatlah tubuhku dan sentuhlah” terucap dari tubuh yang menggoda. Pengendalian dengan akal pikiran akan sangat melelahkan dan sia-sia. Bergantung pada sukma atau insting, lebih bisa mendatangkan bahaya. Karena tempatnya berpijak harus benar-benar sempurna, sedikit saja bergeser akan melahirkan penaklukkan tanpa disengaja. Awalnya mungkin mereka menikmatinya, berlanjut di kebiasaan berarti bencana. Mereka akan menjadi orang-orang yang kesepian tanpa cinta. Tak ada pilihan yang lebih baik bagi mereka selain berkarya atas nama jiwa. Mutlak mereka harus menafkahi jiwanya yang tiada pernah lapar materi, namun senantiasa haus akan ekspresi. Yang utama tak mesti mewangi namun berarti bagi yang lain.
Tanyakan pada mereka yang sengaja menggoda dengan bahasa tubuhnya, mereka akan sibuk mencari cinta diantara kubangan lumpur. Tanyakan seberapa dalamnya kesepian, mereka akan berkilah seribu kata. Seolah mereka baik-baik saja. Sejatinya mereka hanya berpura-pura bahagia.
Adapun mereka yang telah mengenali namun ketakutan dengan bahasa tubuhnya yang menggoda, akan bersembunyi rapat dibalik tirai yang sunyi. Diam-diam menanti sambil menyeleksi mereka yang sungguh-sungguh menatapnya dengan mata hati.

+ + + + +


Kesadaran akan segala yang melekat pada diri sendiri melahirkan sikap yang berbeda-beda. Tak sedikit yang bangga akan kecerdasannya, atau bangga akan tubuhnya seperti kaisar narsiscus yang senang berdiri berjam-jam di depan kaca. Sebagian lagi memilih tak perduli atau mengingkarinya. Nasib keduanya sama saja, sering kehilangan kesadaran ketika tubuhnya menuntut berbicara. Mereka sama-sama tidak mengerti bahasa tubuh mampu menerjemahkan tinggi rendahnya hati.
Pengendalian tak akan pernah terjadi sebelum mengenali diri lewat dua sisi konsekuensi. Menarik dan menggoda selalu melahirkan pilihan dicintai atau dinafsui. Keselarasan lebih menghormati batasan dibanding penaklukan. Namun keduanya bermuara dari mata air yang sama, pesona yang terpancar lewat bahasa tubuh manusia.
Sukma harus diberi jalan untuk menemukan ruang. Biarkan jiwa yang memilih kesenangannya bersemayam. Seringkali datangnya lewat jeritan hati yang terdengar di tengah malam. Yang sangat lekat dengan jatuhnya butiran ilham. Banyak sikap atau pengendalian diri yang lahir setelah lembutnya bisikan.
Tak terbayangkan jika seseorang memiliki ketampanan Illahiah nabi yusuf. Sudah pasti tak akan mengalir wajar tanpa pengendalian Tuhan. Tak terbayangkan jika dalam diri seseorang bersemayam kecantikan hera dewi yunani. Keutuhan tiap pasangan bisa hancur berserakkan tanpa campur tangan Tuhan.
Sungguh beruntung mereka yang berkarya menafkahi jiwa, yang fokus mengejar kepuasan batiniah. Yang takwa mengasah kemampuan diri, ikhlas menjalani proses seleksi alam dan pasrah mengikuti skenario Tuhan. Sang presenter wanita sudah pasti telah melewati perjalanan panjang sebelum mengenali potensi diri dan bisa mengendalikannya. Dalamnya jurang sakit hati, keraguan yang menyiksa di setiap persimpangan dan kesepian nan mencekam sudah pasti telah dia alami. Adalah wajar jika kini dia menarik seluruh penjuru negeri. Mengekspresikan talenta di tamannya sendiri, menebar sejuta pesona tanpa mengeksploitasi.
Bahasa tubuhnya mengalir halus tanpa dibuat-buat. Tersaji utuh bagi setiap mata yang memandangnya. Yang terbuai akan melihat kemilau pesona keindahan. Yang masih dipeluk kesadaran akan menyaksikan kecerdasan Tuhan.



Jika kau perdaya aku dengan jasadmu,
aku akan meninggalkanmu
Karena akhirnya pasti sia-sia

Jika kau perdaya aku dengan talenta
dan jiwa kekanakanmu,
aku akan mengajakmu bercinta



**********************************************************

No comments: