Sunday, July 24, 2011

DULU, KINI DAN NANTI


Laju kereta itu tiba-tiba melambat. Setelah melirik jam tanganku, aku segera merubah posisi dudukku. Agar leluasa mengamati jalan-jalan dan bangunan yang dilalui kereta lewat kaca jendela, hanya untuk memastikan nama tempatnya. Sekelebat aku sempat melihat sebuah papan nama dengan petunjuk kota. Perasaanku tak keliru, aku berkata pada diriku, “Sebentar lagi”. Tak lama berselang petugas kereta masuk ke dalam gerbong, memberi peringatan agar para penumpang bersiap-siap. Karena tak lama lagi kereta akan sampai pada stasiun tujuan. Tiba-tiba jantungku berdegup cepat, saat yang paling kunanti-nanti segera tiba. Kerinduan yang selama ini terpendam akan segera bertemu jujukannya. Setelah terbang sekian jauh hati akan kembali ke perhelatan jiwa.
Namun ketika memikirkan berbagai kemungkinan yang terjadi kecemasan hadir melanda. Sudah pasti banyak yang berubah selama sepuluh tahun. Masih adakah ruang untuk bermesra-mesra ?

+ + + + +


Kupandangi wajah stasiun itu, warna dindingnya masih sama meski ada beberapa bagian yang mengelupas. Struktur bangunannya masih seperti dulu, hanya beberapa ruangannya yang berubah fungsi. Saat turun dari kereta aku mendengar suara-suara percakapan, logat khas kota itu yang tak asing ditelinga. Begitu akrab menyapa, meski mungkin aku sudah tak mampu lagi menirunya. Padahal dulu aku sangat fasih mengucapkannya dikeseharian. Aku tersenyum simpul, kehangatan mulai menyelimuti benakku. Kota itu masih menyambutku dengan tangan terbuka. Aku merasa seperti pulang kampung meski kota itu bukan kampung halamanku. Kecemasanku terkikis perlahan, dialog orang-orang di stasiun membantuku mensirnakan beban. Sambil menggendong anakku dan menggamit lengan istriku, aku memanggil taxi. Lalu aku melaju menuju tempat itu. Tiba-tiba kecemasanku hadir kembali.
Sepuluh tahun telah berlalu, masih bolehkah kujatuhkan hati ini sekali lagi ?

+ + + + +


Seorang prajurit sedang dalam pelukan erat sang istri, yang seperti enggan melepasnya. Anaknya yang masih kecil ikut menangis, memberi isyarat seolah dia mengerti yang sedang terjadi. Panggilan tugas sebagai penjaga perbatasan di pedalaman kalimantan selama satu tahun bukanlah waktu yang sebentar. Mereka berdua sama-sama membayangkan akan terpisah dalam waktu yang cukup lama. Waktu satu tahun sungguh-sungguh ada, menyelimuti alam pikiran mereka berdua. Ketika waktu terkini tiba, sang istri harus melepas pelukannya. Satu tahun berikutnya menjadi waktu yang paling dinanti oleh keduanya.
Andai mereka dipertemukan kembali setelah melewati satu tahun, masih adakah satu tahun itu ?
Di belahan dunia lain, dokter sonia sedang berpelukan dengan masyarakat desa terpencil. Tak ada satupun yang ketinggalan, dari nenek-nenek, ibu-ibu sampai anak-anak kecil. Para petani, guru sekolah sampai aparat desa semua ikut antri bersalaman. Masa tugas sang dokter telah selesai, tiba waktunya untuk kembali ke kota asalnya. Tak terlihat sama sekali raut wajah kegembiraan, setiap jengkal desa itu menyanyikan tembang kesedihan.

Ketika perahu diatas sungai itu mulai jalan merambat, air mata menjadi saksi dua tahun yang terlewati. Kemana perginya dua tahun itu ?

+ + + + +


Disaat seseorang akan melakukan perjalanan panjang, disaat yang sama waktu pun hadir terbentang. Sang waktu pun menyatakan keberadaannya, satu kata yang terungkap adalah betapa lamanya. Namun ketika kesungguhan hati mulai menggerakkan sepasang kaki, berikrar teguh menghadapi apapun yang terjadi, perlahan-lahan waktu mulai mencari tempat untuk sembunyi. Seolah memberi jalan bagi jiwa untuk melangkah pasti menembus setiap batasan. Jarum jam pun selaksa berhenti disetiap lelikuan jalan. Ketika akhirnya mencapai tujuan, waktu yang terlewati pun menghilang tiada bekas. Seberapa pun lamanya serasa tak pernah bicara. Rasa syukur dan serangkaian hikmah dari semua peristiwa yang terjadi menjadi satu-satunya petunjuk bahwa waktu itu pernah ada. Yang terlihat oleh mata hati hanya sederet jejak tapak kaki Tuhan, yang absolut berkuasa atas ada atau tiadanya sang waktu. Hikmah pun bernyanyi tentang keagunganNya, bercerita tentang kejaiban di setiap aral melintang, saat merasakan kekuatan yang berkuasa melewatkan setiap kesulitan.
Tiba-tiba masa lalu yang berat saat dijalani menjadi kenangan indah untuk disyukuri disaat terkini. Esok hari menyisakan misteri yang bersembunyi dibalik keyakinan yang kian terselami.
Andai seseorang meletakkan makna ibadah atau pelayanan sebagai alasan di setiap perbuatan, menilainya sebagai bentuk tanggung jawab bukan sebagai beban, tak akan ada yang melaluinya sendirian. Waktu hanya akan tersingkap sebagian, selebihnya rapat bersembunyi dibalik cadar. Saat melihat matahari terbenam, mereka seakan baru saja melihat terbitnya. Malam yang panjang hanya berlaku bagi mereka yang khusuk memanjatkan doa. Ketika pagi tiba adalah panggilan untuk mensyukurinya.

Hanya seorang pengangguran yang tahu betul lamanya hari. Hanya seorang pecundang yang gemar menghitung-hitung berjalannya waktu, seberapa banyak manfaat yang telah dilakukan ironisnya mereka tak pernah tahu.
Seorang yang tengah dalam perjalanan wisata sangat merasakan keberadaan waktu, karena hasrat sibuk menawarkan fantasi kesenangan yang akan dialami. Ketika pulang kembali ke rumahnya, waktu tiba-tiba saja menjadi tiada. Perjalanan seperti tiba-tiba saja terlewati tanpa terasa. Hasratlah yang mengundang kehadiran sang waktu, tanpa ekspektasi lah yang meniadakannya.
Tuhan sungguh-sungguh ada diantara mereka yang menjadikan ibadah sebagai panggilan hidupnya. Keberadaan waktu dulu, kini dan nanti adalah pertandaNya. Agar manusia hidupnya tak sia-sia. Agar tak menjadi orang yang terkejut ketika senja tiba, namun tak sempat berbuat apa-apa.

+ + + + +


Akhirnya taxi itu tiba dimulut gang. Jantungku berdetak kian kencang. Kulangkahkan kaki bersama istri dan anakku ke tempat itu. Jalan itu sepertinya lebih lebar dibanding dulu, mungkin karena saluran airnya telah tertutup oleh beton semen yang dicetak kotak-kotak. Jalan itupun terlihat lebih tinggi, pasti karena pelapisan berkali-kali. Sejenak kutepiskan pemikiranku tentang masa lalu, karena kini aku telah berdiri tepat di depan tempat itu. Bentuk dan ukurannya kini berbeda, cat warna hijaunya pun tak lagi ada. Namun pilar-pilar nya masih menjadi petunjuk keaslian bangunan awalnya.
Istriku bertanya, “Inikah tempatnya ?”
“Ya, ini tempatnya” jawabku terbata-bata.

Istriku mendekap erat tubuhku, seolah mencoba menghentikan degup jantungku yang bergetar karena rindu.

Istriku telah banyak mendengar ceritaku tentang tempat itu. Cerita yang akan kudongengkan pada anak cucuku. Cerita indah tentang masa lalu yang telah menjadi bagian hidupku. Tempat yang kecil, namun sanggup menampung banyak perbedaan. Tempat yang sederhana namun sungguh kaya akan cinta. Tempat yang lusuh namun begitu jernih untuk melihat pantulan hati. Tempat yang mampu menjadikan siapa saja menjadi diri sendiri.
Tiba-tiba bayangan masa lalu itu hadir perlahan membelai sukmaku. Merasuk ke palung hati hingga jiwaku terbuai meraja-raja. Bangunan itu perlahan-lahan menampakkan bentuk aslinya. Warna dindingnya terlihat hijau kembali seperti semula. Hiasan dinding dan semua perabot terlihat jelas di tempatnya masing-masing. Lantainya yang sebagian plesteran semen, yang tak semuanya keramik memberi kesan permukaannya tak rata. Lamat-lamat mulai kudengar jelas derai tawa disetiap canda, serta percakapan hangat tentang kehidupan dan misterinya. Wajah-wajah itu melintas satu demi satu, seolah menyapa kalbuku yang tengah mahsyuk merindu-rindu. Wajah-wajah lukisan Tuhan, dan nama-nama yang menyerupai bunga mekar di taman-taman. Begitu cepatnya sepuluh tahun berlalu, semua seolah baru terjadi kemarin hari. Betapa indahnya kebersamaan saat itu, sampai hati merekam nya begitu detail, hingga tak ada satupun yang terlewati.
“Dimanakah mereka kini ?” pertanyaan anakku menghentikan perjalanan imajinasiku.
Kugendong anakku, dengan mata berkaca-kaca aku berkata, “Dimanapun kami semua berada akan tetap terikat satu hati selamanya. Tak perduli selebar apapun jarak yang memisahkannya. Setiap permasalahan hidup akan senantiasa dihadapi bersama-sama karena kami sejiwa. Pikiran manusia terkadang lupa karena kesibukan dunia, namun tidak dengan hatinya. Seberat apapun beban itu tak akan ada yang memikulnya sendirian. Sampai akhir hayat kami akan tetap bergandengan tangan”

Kualihkan wajahku pada istriku, dengan sapu tangannya dia mengusap air mataku, “Saat dunia ini terasa begitu keruh, jiwa kami telah menemukan taman yang indah untuk berteduh. Meski wujudnya tak lagi ada, kenangannya akan selalu hidup menjelma pijar lentera. Bekerja, berkarya, ber-rumah tangga dan berketurunan menjadi pilihan kami untuk menelusuri kedalaman makna ibadah. Kami hanya ingin berarti bagi yang lain meski terkadang tak selalu diakui. Sakit hati adalah rahasia pribadi, hanya Tuhan yang tahu. Mungkin begitulah jalan terbaik kami untuk menjaga kerendahan hati dan tak kehilangan chemistry. Kami tetap satu Tuhan, satu rasa selamanya. Karena kami bukan siapa-siapa. Kami bukan kanan juga bukan kiri. Berusaha menjauhi kesalahan, namun juga berusaha tak merasa benar. Seberat apapun beban hidup akan terasa nikmat jikalau kami tetap merasa dekat. Tuhan Maha Ber-rencana, kepadanya kami sandarkan segalanya. Tempat itu menjadi saksi, siapa pun akan merasa terlahir kembali ketika menemukan makna jati diri”
Kuturunkan anakku dari gendonganku. Langit nampak membiru karena tersaput kabut kerinduan. Kuhirup nafas Tuhan sembari memejamkan mata mencumbui gelap. Sesudahnya aku berkata pada diriku sendiri, “Dulu adalah pembelajaran, kini adalah perjuangan, nanti adalah tujuan. Bila saatnya tiba, andai benar alam imajinasi menjanjikan pengulangan waktu, aku ingin kembali ke masa-masa itu”
Tiba-tiba udara seperti berhenti bergerak, angin pun tak lagi meniupi setiap celah kehidupan. Dulu kini dan nanti seakan terhenti dalam satu ruang. Alam selaksa khusuk mendengarkan doa anak manusia yang merindukan surganya. Meski semesta seperti terlihat diam, namun pesan itu langsung diwartakan pada langit oleh ribuan kunang-kunang.



Dikau selalu memanggilku tiada henti,

namun aku selalu sibuk sendiri

dan tiada pernah menanggapiMu

Namun akhirnya kita bertemu jua

di Surabaya,

bersama mengukir pahatan di bebatuan

dengan puisi cinta


Ijinkan aku mengenang pertemuan itu,

meski harus kubayar

dengan kerinduan yang menyiksa

di setiap lagu




**********************************************************

No comments: