Pada suatu senja yang hening, tersebutlah tiga manusia yang mencoba menjalani sisa hari dengan cara yang berbeda-beda. Tiga manusia itu adalah pendosa, pendusta dan pendoa.
Si pendosa terlihat selalu sibuk berpikir dan bergerak, segala sesuatu yang telah berjalan baginya terlalu sayang untuk dihentikan. Arus keduniawian adalah aliran sungai yang panjang dan tak berujung. Kuantitas adalah raja diraja, sementara makna yang terselip dalam setiap peristiwa bukanlah yang utama. Kesenangan tanpa batas adalah tujuan hidupnya.
Si pendusta lebih suka bersiasat, kata-kata bijak dan semua peringatan yang merujuk pada diri sendiri dan keterbatasannya adalah musuh yang harus diperangi. Demi membentuk sebuah kekuatan yang berasal dari stimulus pikirannya sendiri. Dia harus bebas, harus lebih unggul dibanding yang lain. Tak ada kenyataan pahit, tak ada kegagalan, andai ada dia lebih suka mengingkarinya.
Di sisa hari, ditengah segala keterbatasan yang mulai menampakkan kekuasaannya, merenungkan segala yang telah dijalani adalah hal yang paling disukai si pendoa. Semua yang ada di dunia baginya tak hanya untuk kesenangan atau gaya hidup, namun sebagai sarana untuk mengenali dan menelusuri jalan hidupnya. Semua kejadian dimasa lalu adalah gambaran betapa panjang perjalanannya, betapa keindahan selalu menyertainya. Nafas yang masih menghidupinya hingga kini adalah keberuntungan yang harus disyukuri. Jalan-jalan yang telah dilaluinya telah banyak bercerita tentang sejuta makna, namun itu semua masih belum cukup untuk menjelaskan tentang misteri dirinya sendiri.
+ + + + +
Memasuki malam, ketika darah mulai bergerak meninggalkan ujung jari kaki, ujung jari tangan, dan menarik permukaan bibir hingga aliran darah sampai di satu titik, mereka bertiga sama-sama tertidur. Di alam mimpi mereka bertiga bertemu dalam suatu ruang yang sama, sebuah ruang yang penuh kabut dengan dominasi warna serba putih. Dihadapan mereka masing-masing telah tersedia sebuah meja. Di atasnya terdapat sebuah tatakan puzzle dengan tumpukan kepingan gambar disampingnya.
Si pendosa mengambil tumpukan kepingan itu dan meletakkan diatas tatakannya begitu saja, permainan itu kurang menarik untuknya. Sesudahnya dia berlalu meninggalkan ruang itu, baginya permainan itu tidak penting dan hanya membuang-buang waktu. Tak ada yang lebih menarik selain dunia dan kesenangannya.
Si pendusta mencoba menyusun keping-kepingan itu, dia telah mengerti bahwa nantinya kepingan itu akan membentuk sebuah gambar. Yang ada dalam pikirannya adalah keuntungan apa yang akan dia peroleh dari gambar itu. Setelah separuh jalan dia menyadari bahwa kepingan itu akan membentuk gambar dirinya sendiri, dia segera menghentikannya dan meninggalkan ruang itu. Gambar itu tidak akan berarti apa-apa, karena dia hanya akan melihat keterbatasannya sendiri. Baginya cara terbaik melihat kehidupan adalah melarut dalam kesenangan dengan mengikuti gaya hidup orang lain, sedangkan keterbatasan diri hanyalah penghalang atau tembok besar yang harus diruntuhkan.
Si pendoa hanya mencoba menyusun kepingan gambar itu tanpa berpikir, dia sama sekali tidak tahu akan menjadi seperti apa nantinya. Namun lama kelamaan dia mengerti juga bahwa kepingan itu akan membentuk gambar dirinya. Dia tersenyum ketika melihat gambarnya secara utuh. Perpaduan yang serasi antara kekuatan dan kelemahan, kelebihan dan kekurangan. Kelemahan dan kekurangan adalah jalan terbaik baginya untuk menemukan kekuatan dan kelebihannya sendiri.
+ + + + +
Sepertiga malam mereka bertiga sama-sama terbangun dari tidur, mereka sama-sama terkejut karena dihadapan mereka terdapat sebuah meja dengan sebuah puzzle seperti dalam mimpi mereka. Namun puzzle itu telah membentuk gambar utuh, gambar diri mereka sendiri. Di samping meja itu ada seorang anak kecil yang sangat mirip dengan wajah mereka, ketika anak kecil itu menyentuhkan jarinya kepada gambar itu, secara ajaib gambar itu bergerak. Gambar yang tadinya datar sekejap berubah menjadi tampilan tiga dimensi. Mereka bertiga sama-sama takjub melihat pergerakkan pada gambar itu, mereka melihat diri mereka sendiri di masa lalu, melihat segala sesuatu yang pernah mereka lakukan sepanjang hidup. Langit di sekitar mereka sekejap berganti-ganti warna, badan mereka terasa ringan dan hampa, tak ada lagi kemampuan berpikir, mereka melihatnya hanya dengan perasaan mereka masing-masing. Daya pikir yang tadinya adalah muara pembelaan atau pembenaran diri telah pergi entah kemana, perasaan mereka seperti tertusuk-tusuk melihat segala kesalahan yang pernah mereka lakukan. Tiga manusia itu melihatnya dengan ekspresi yang nyaris serupa.
Tak ada lagi misteri, kebenaran sejati telah diungkap. Si pendosa dan si pendusta merasa seperti tercabik-cabik ketika melihat diri mereka yang sebenarnya, ketidakmampuan mereka mengendalikan kelebihan dan kekurangan telah berujung pada sejumlah kesalahan yang harus mereka pikul dengan perasaan mereka sendiri. Sepanjang perjalanan hidup, segala sesuatu yang mereka lakukan bagi orang lain ternyata hanya untuk kepentingan diri mereka sendiri.
Perasaan menyesal yang sangat dalam dan sangat menyakitkan, begitu beratnya hingga mereka tak sanggup berdiri. Mereka berlutut dan bersimpuh memeluk kaki anak kecil itu dan berharap untuk diberi kesempatan untuk memperbaikinya. Namun anak kecil itu hanya berkata datar, “Semuanya sudah terlambat, susungguhnya kamu tahu bahwa peringatan itu telah datang berkali-kali, namun kamu mengabaikannya. Hadapilah hidup panjangmu dengan perasaan bersalahmu”
Si pendoa jauh lebih beruntung, misteri dirinya dengan kehidupan telah terungkap. Kebenaran dan kesalahan berpadu satu dalam perasaannya. Perasaan sedih dan bahagia menjelma menjadi satu rasa yang tak bisa dia ungkapkan lagi dengan kata-kata karena dia telah kehilangan kemampuan berpikirnya. Perasaan menyesalnya atas segala kesalahan terimbangi oleh keberadaanya bagi orang lain baik melalui kelebihan maupun kekurangannya.
Pun demikian dia masih merasakan beban yang luar biasa sehingga harus berdiri diatas lututnya. Anak kecil itu tersenyum, menghampirinya sambil berkata, “Berdirilah, tak ada lagi yang harus disesali, hadapilah hari panjangmu dengan perasaan bahagiamu, sebagaimana artimu bagi yang lain”
+ + + + +
Pagi harinya mereka terbangun, suasana disekitar mereka masih sama, semuanya serba putih dan berkabut. Perasaan mereka berkata bahwa mereka masih di dalam mimpi yang sama, dan mereka tak pernah lagi terjaga.
Tiada yang lebih indah
selain menelusuri jati diri
Singgasana kekuatan dan kelemahan
muara kebenaran dan kesalahan
Lalu berkarya atas nama jiwa,
atas namaNya
Demi hari ini dan esok hari,
demi keabadian
hingga menjelma wewangian


No comments:
Post a Comment